SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 93-104 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TWO STAY TWO STRAY (TSTS) PADA MATERI BENTUK ALJABAR DI KELAS VII D SMP NEGERI 1 SEBERIDA TAHUN PELAJARAN 2019/2020 Jasmin Sipayung SMP Negeri 1 Seberida. Indragiri Hulu. Riau. Indonesia e-mail: jasminsipayung@gmail. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar Matematika siswa kelas VII SMP Negeri 1 Seberida tahun pelajaran 2019/2020 melalui praktek pembelajaran Two Stay Two Stray. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif berbentuk penelitian tindakan kelas (PTK) dengan 2 siklus. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Seberida tahun pelajaran 2019/2020. Subjek dalam penelitian adalah siswa kelas VII D yang berjumlah 32 orang siswa. Data tentang prestasi belajar diperoleh dengan metode tes dan data tentang pelaksanaan pembelajaran Two Stay Two Stray diperoleh dengan metode observasi. Teknik analisis data menggunakan analisis komparatif dengan indikator pencapaian jika 85% siswa sudah mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) maka penelitian dinyatakan sudah berhasil. Nilai KKM mata pelajaran Matematika di SMP Negeri 1 Seberida adalah 75. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan Two Stay Two Stray dapat meningkatkan prestasi belajar Matematika pada siswa kelas VII D SMP Negeri 1 Seberida tahun pelajaran 2019/2020. Nilai ketuntasan klasikal pada prestasi belajar Matematika siswa untuk KD Pengetahuan meningkat dari 50% pada kondisi awal menjadi 76,7% pada siklus 1, kemudian meningkat menjadi 86,7% pada akhir siklus 2, sedangkan untuk KD Keterampilan dari 46,7% pada kondisi awal menjadi 71,7% pada siklus 1, kemudian meningkat menjadi 90% pada akhir siklus 2. Hal ini berarti pelaksanaan pembelajaran Cooperative Two Stay Two Stray dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran Matematika. Kata kunci: Model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS). Bentuk Aljabar. Hasil Belajar Matematika. Abstract The purpose of this study was to improve Mathematics learning achievement of Grade VII students of SMP Negeri 1 Seberida in the academic year 2019/2020 through Two Two Two Stray learning practices. This research is a qualitative research in the form of classroom action research (CAR) with 2 cycles. This research was carried out in SMP Negeri 1 Seberida in the academic year 2019/2020. Subjects in the study were students of class VII D, amounting to 32 students. Data about learning achievement was obtained by the test method and data about the implementation of Two Stay Two Stray learning were obtained by the observation method. Data analysis techniques using comparative analysis with indicators of achievement if 85% of students have reached the Minimum Mastery Criteria (KKM) value, then the study was successful. The KKM value of Mathematics in Seberida 1 Junior High School is 75. The results of the study show that learning with the Two Stay Two Stray approach can improve Mathematics learning achievement in students of class VII D of Seberida 1 Junior High School in 2019/2020. The value of classical completeness in students' Mathematics learning achievement for KD Knowledge increased from 50% in the initial condition to 7% in cycle 1, then increased to 86. 7% at the end of cycle 2, whereas for KD Skills 7% in the condition beginning to 71. 7% in cycle 1, then increased to 90% at the end of cycle 2. This means that the implementation of Cooperative Two Stay Two Stray learning can improve the quality of the Mathematics learning process. Keywords: Two Stay Two Stray learning model (TSTS). Algebraic Form. Mathematics Learning Outcomes Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 93-104 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 PENDAHULUAN Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang menduduki peranan penting dalam pendidikan, hal ini dapat dilihat dari pelaksanaan pelajaran matematika yang diberikan kepada semua jenjang pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Selain itu, tuntutan dari kurikulum 2013 yang tertuang dalam silabus yang diterbitkan kemendikbud 2017 bahwa Pendidikan matematika di sekolah diharapkan memberikan kontribusi dalam mendukung pencapaian kompetensi lulusan pendidikan dasar dan pendidikan menengah melalui pengalaman belajar. Pengembangan kompetensi matematika diarahkan untuk meningkatkan kecakapan hidup . ife skil. , terutama dalam membangun penalaran, komunikasi, dan pemecahan masalah . roblem solvin. Selain itu, pengembangan kompetensi matematika juga menekankan kemahiran atau keterampilan menggunakan perangkat teknologi untuk melakukan perhitungan teknis . dan penyajian dalam bentuk gambar dan grafik . , yang penting untuk mendukung keterampilan lainnya yang bersifat keterampilan lintas disiplin ilmu dan keterampilan yang bersifat nonkognitif serta pengembangan nilai, norma dan etika . oft skil. Meskipun menjadi mata pelajaran yang sangat penting, matematika masih dianggap sebagai mata pelajaran sulit bagi sebagian siswa, bahkan matematika cenderung dijauhi atau dihindari, meskipun jumlah jam mata pelajaran matematika di sekolah lebih banyak dibandingkan mata pelajaran lain. Bagi kebanyakan siswa, matematika mungkin merupakan pelajaran yang sangat sulit dan membosankan, sehingga pelajaran ini tidak begitu digemari dibandingkan pelajaran lainnya. Tentu saja dalam satu kelas, hanya sebagian kecil siswa yang menyukai pelajaran matematika. Ketidakgemaran siswa untuk mendalami pelajaran matematika tentu menjadi masalah dalam proses belajar mengajar, khususnya bagi guru matematika sendiri, padahal matematika adalah pelajaran yang diutamakan negara. Untuk itu perlu untuk diketahui mengapa siswa cukup sulit menyerap materi matematika?. Apalagi saat Sekolah Dasar (SD), satu guru mengajarkan banyak pelajaran, salah satunya matematika. Jika guru tersebut juga kurang suka matematika, bisa dipastikan suasana pembelajaran akan terasa membosankan. Padahal masa-masa SD adalah tahapan dasar untuk membentuk pondasi pola pikir dalam memandang suatu Kondisi-kondisi diatas menyebabkan pelajaran matematika menjadi kurang disenangi oleh sebagian siswa, seperti yang dijumpai di SMP Negeri 1 Seberida, kebanyakan siswa tidak bersemangat dalam belajar dan hasil belajar yang dilihat dari penilaian harian pada KD sebelumnya hanya 46,7% siswa yang tuntas dengan nilai diatas KKM. Jika dikaji lebih lanjut, dari proses kegiatan pembelajaran guru harus bisa menciptakan suasan pembelajaran yang dapat meningkat keaktivan siswa agar dapat meningkatkan hasil belajar matematika. Guru harus bisa memilih model pembelajaran yang tepat sesuai dengan kompetensi yang pada kurikulum, siswa harus lebih aktif. Keaktifan anak disini diartikan keaktifan yang timbul bukan atas dasar paksaan, oleh karena itu materi yang dipelajari harus menarik minat belajar siswa dan menantang sehingga mereka dan terlibat dalam proses pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran matematika dapat diukur dari keberhasilan siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut. Keberhasilan itu dapat dilihat dari tingkat pemahaman, penguasaan materi serta hasil belajar siswa. Semakin tinggi pemahaman dan penguasaan materi serta hasil belajar maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pembelajaran. Namun, dalam kenyataan hasil belajar yang dicapai siswa masih rendah. Berbagai upaya untuk menumbuhkan minat terhadap mata pelajaran Matematika terus menerus diupayakan oleh para guru dan sekolah. Salah satunya dengan menggunakan metode pembelajaran matematika yang lebih Pemilihan metode sangat penting agar prestasi belajar yang diharapkan dapat Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 93-104 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah: Untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan mengajar guru dalam penerapan model Two Stay Two Stray (TSTS) di kelas Kelas VII D SMP Negeri 1 Seberida. Untuk mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar siswa dalam penerapan model Two Stay Two Stray (TSTS) di kelas Kelas VII D SMP Negeri 1 Seberida. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam penerapan model Two Stay Two Stray (TSTS) di kelas Kelas VII D SMP Negeri 1 Seberida. Model Two Stay Two Stray (TSTS) Two Stay Two Stray yaitu salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada kelompok membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu sama lainnya. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Two Stay Two Stray bisa memberikan sedikit gambaran pada siswa mengenai kenyataan kehidupan dimasyarakat, yaitu dalam hidup bermasyarakat diperlukan hubungan ketergantungan dan interaksi sosial antara individu dengan individu lain dan antar individu dengan kelompok. kegiatankegiatan individu. Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal dalam kenyataan hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu sama lainnya. Penggunaan model pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray akan mengarahkan siswa untuk aktif, baik dalam berdiskusi, tanya jawab, mencari jawaban, menjelaskan dan juga menyimak materi yang dijelaskan oleh teman. Selain itu, alasan menggunakan model pembelajaran Two Stay Two Stray ini karena terdapat pembagian kerja kelompok yang jelas tiap anggota kelompok, siswa dapat bekerjasama dengan temannya, dapat mengatasi kondisi siswa yang ramai dan sulit diatur saat proses belajar mengajar. Gambar. Struktur kelompok model pembelajaran kooperatif tipe two stay two Hasil Belajar Matematika Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Setelah suatu proses belajar berakhir, maka siswa memperoleh suatu hasil belajar. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Tujuan utama yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran adalah hasil belajar. Hasil belajar digunakan untuk mengetahui sebatas mana siswa Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 93-104 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 dapat memahami serta mengerti materi tersebut. Menurut Abdurrahman . dalam http://catatanalexandro. id/2013/11/pengertian-dan-hasil-belajarmatematika. html, hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan proses dari seseorang, di mana hasil belajar dipengaruhi oleh inteligensi dan penguasaan anak tentang materi yang akan Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud hasil belajar matematika dalam penelitian ini adalah tingkat keberhasilan atau penguasaan seorang siswa terhadap bidang studi matematika setelah menempuh proses belajar mengajar yang terlihat pada nilai yang diperoleh dari tes hasil Di mana hasil belajar matematika siswa dapat diukur dengan menggunakan alat evaluasi yang biasanya disebut tes hasil belajar. Materi yang dipilih atau objek dari penelitian adalah materi pokok Bentuk Aljabar yang termuat dalam standar isi . ermendikbud no 37 tahun 2. Tabel 1. Sub Materi dan Pembagian Materi Persiklus Kompetensi Dasar Sub Materi Pokok Menjelaskan bentuk Bentuk Aljabar aljabar dan melakukan A. Mengenal Bentuk operasi pada bentuk Aljabar aljabar . Penjumlahan dan pengurangan, perkalian, pengurangan dan pembagia. bentuk aljabar menyelesaikan masalahC. Perkalian Bentuk yang berkaitan dengan Aljabar bentuk aljabar dan Pembagian Bentuk operasi pada bentuk Aljabar Alokas Waktu Pelaksanaa Siklus 1 2 y 45Ao 3 y 45Ao 2 y 45Ao Siklus 2 3 y 45Ao Yang menjadi fokus peneliti dalam penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) pada mata pelajaran Mateamtika dengan materi pokok AuBentuk AljabarAy. METODE Tempat dan Subjek Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Seberida kabupaten Indragiri Hulu. SMP Negeri 1 Seberida dengan jumlah rombongan belajar 22 Rombel terdiri dari kelas VII sebanyak 7 rombel, kelas Vi sebanyak 8 rombel dan kelas 9 sebanyak 7 rombel. Kurikulum yang digunakan Kurikulum 2013 disemua jenjang. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VII D SMP Negeri 1 Seberida tahun pelajaran 2019/2020 berjumlah 30 orang siswa terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan dan peneliti sendiri sebagai guru mata pelajaran Matematika Desain dan Prosedur Perbaikan Pembelajaran Desain penelitian tindakan model siklus menggunakan model Kemmis dan Mc Taggart dengan tahapan perencanaan, tindakan, pengamatan, serta refleksi untuk setiap siklus. Penelitian ini dilaksanakan melalui beberapa siklus yang ditampilkan pada gambar berikut: Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 93-104 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Gambar 2. Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data Metode Observasi Indikator Keaktifan Belajar Lembar aktivitas belajar siswa digunakan untuk memantau aktivitas siswa pada saat proses pembelajaran. Didalam lembar aktivitas belajar siswa terdapat dua jenis aktivitas yang dinilai yakni aktivitas belajar siswa yang positif dan aktivitas belajar siswa yang negatif. Lembar aktivitas belajar siswa diisi oleh dua orang observer yang memantau pelaksanaan penelitian Tabel 2. Indikator keaktifan belajar siswa SKOR NILAI ASPEK YANG NILAI Mendengarkan dengan aktif penjelasan guru enunjukkan respon, misal tersenyum atau tertawa saat mendengar hal-hal lucu yang disampaikan, terkagum-kagum bila mendengar sesuatu yang menakjubkan, ds. Membaca dengan aktif . isal dengan penA di tangan untuk menggarisbawahi atau membuat catatan kecil atau tanda-tanda tertentu pada Mengerjakan tugas yang diberikan guru Bertanya pada guru tentang materi yang belum Menjawab pertanyaan guru Bekerja sama dengan teman satu kelompok Mendiskusikan masalah yang dihadapi dalam kegiatan belajar mengajar Bertukar pendapat antar teman dalam kelompok Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 93-104 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 SKOR NILAI ASPEK YANG NILAI Berlatih . isalnya mencobakan sendiri konsepkonsep misal berlatih dengan soal-soa. Berpikir . isalnya memecahkan masalah-masalah pada latihan soal yang mempunyai variasi berbeda dengan contoh yang diberika. Berpikir kritis . isalnya mampu menemukan kejanggalan, kelemahan atau kesalahan yang dilakukan orang lain dalam menyelesaikan soal atau tuga. Memberikan pendapat atas masalah solusinya kepada teman sekelompok Saling membantu dan menyelesaikan masalah Mengambil keputusan dari semua jawaban yang dianggap paling benar Mempresentasikan jawaban di depan kelas Bersemangat dalam mengikuti diskusi Mengomentari dan menyimpulkan Menyimpulkan materi pembelajaran dengan kata-katanya sendiri Berdasarkan indikator dan aspek diatas observer memberikan skor kepada masing-masing aspek yang akan diamati dengan menggunakan skala Likert, yaitu dengan memberikan empat jawaban alternatif sebagai penilaian yaitu: 4 = Sangat Baik, 3 = Baik, 2 = Tidak Baik, dan 1 = Sangat Tidak Baik. Skor Keaktifan Siswa = y 100% Dalam pengumpulan data yang diperoleh melalui pengamatan . , yaitu menentukan kriteria penilaian tentang keaktifan siswa, maka data kualitatif ini diubah menjadi data kuantitatif dengan mengelompokkan atas 4 kriteria yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, dan rendah, adapun kriteria persentase tersebut yaitu Persentase antara 76% - 100% dikatakan sangat tinggi. Persentase antara 56% - 75% dikatakan tinggi. Persentase antara 40% - 55 % dikatakan sedang. Persentase antara 0 Ae 39 % dikatakan rendah. Indikator Kinerja Guru Adapun indikator kinerja guru pada penerapan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) adalah sebagai berikut: Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 93-104 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Tabel 3. Indikator keaktifan Guru ASPEK YANG DIAMATI Menyampaikan manfaat materi pembelajaran Mendemonstrasikan sesuatu yang terkait dengan materi pembelajaran Penyampaian Kompetensi dan Rencana Kegiatan Menyampaikan kemampuan yang akan dicapai peserta didik Menyampaikan rencana pembelajaran kegiatan misalnya: individual, kerja kelompok dan melakukan Kegiatan Inti Kemampuan menyesuaikan materi materi dengan tujuan pembelajaran Kemampuan mengaitkan materi dengan pengetahuan lainyang relevan, perkembangan Iptek dan kehidupan nyata Menyajikan pembahasan materi pembelajaran dengan tepat Menyajikan materi secara sistematis . udah ke sulit, dari konkrit ke abstra. Penerapan Pendekatan Saintifik Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan komptensi yang akan dicapai Menfasilitasi kegiatan yang memuat komponen eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi Melaksanakan pembelajaran secara runtun Menguasai kelas Melaksanakan pembelajaran yang sifatnya Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif . urturant effec. Apersepsi dan Motivasi Mengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik atau pembelajaran Mengajukan pertanyaan menantang SKOR Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan. Penerapan Pendekatan Saintifik Memberikan pertanyaan mengapa dan bagaimana Memfasilitasi peserta didik untuk mengamati Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 93-104 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 ASPEK YANG DIAMATI Memancing peserta didik untuk bertanya Menfasilitasi peserta didik untuk mencoba Menfasilitasi peserta didik untuk menganalisis Memberikan pertanyaan peserta didik untuk menalar . roses berfikir yang logis dan sistemati. Pemanfaatan Sumber Belajar/ Media dalam Pembelajaran Menyajikan kegiatan peserta didik untuk Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar pembelajaran Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran Menghasilkan pesan yang menarik Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar pembelajaran Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatn media Pelibatan Peserta Didik dalam Pembelajaran Menunmbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru, peserta didik, sumber belajar. Merespon positif partisipasi peserta didik Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik Menunjuukan hubungan antar pribadi yang kondusif Menumbuhkan keceriaan atau antuime peserta didik dalam belajar Melaksanakan penilaian Autentik Menilai sikap dalam pembelajaran Menilai pengetahuan dalam proses pembelajaran Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan benar Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar. Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik. mengumpulkan hasil kerja sebagai bahan portopolio Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan kegiatan berikutnya dan tugas pengayaan. SKOR Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 93-104 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Berdasarkan indikator dan aspek diatas observer memberikan skor kepada masing-masing aspek yang akan diamati dengan menggunakan skala Likert, yaitu dengan memberikan empat jawaban alternative sebagai penilaian yaitu: 4 = Sangat Baik, 3 = Baik, 2 = Tidak Baik, dan 1 = Sangat Tidak Baik. Skor Keaktifan Siswa = y 100% Kriteria keberhasilan aktivitas guru dikonversikan melalui analisis parsial indikator peneliti memberikan penafsiran nilai rata-rata dari tiap indikator. Dan untuk menafsirkan nilai rata-rata dari tiap indikator ini dibuat batasan dan klasifikasi kategori dalam bentuk kuantitatif yaitu: Berkisar antara 81 Ae 100 % Baik sekali Berkisar antara 61 Ae 80 % Baik Berkisar antara 41 Ae 60 % Cukup Berkisar antara 21 Ae 40 % Kurang Berkisar antara 0 Ae 20 % Kurang Sekali HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Hasil Penelitian Siklus 1 Hasil Observasi Proses Pembelajaran Berdasarkan hasil pengamatan supervisor terhadap kegiaatan pembelajaran selama dua kali pertemuan yang telah peneliti laksanakan, diperoleh nilai terkait aktivitas guru dan aktivitas siswa pada tabel berikut: Tabel 4. Perolehan nilai aktivitas guru dan siswa pada siklus 1 Skala Nilai Skor Aktivitas Guru Skor Aktivitas Siswa Jumlah 114/164 46/72 Persentase Berdasarkan tabel diatas, hasil pengamatan dan penilaian supervisor terlihat bahwa aktivitas guru mencapai 70% dan aktivitas siswa 64%. Dilihat dari kriteria pengkatagorian nilai, aktivitas guru sudah menujukkan kategori AubaikAy dan untuk aktivitas siswa masih kategori AutinggiAy, namun keberhasilan penelitian tidak hanya dilihat dari aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran tetapi yang terpenting adalah peningkatan hasil belajar siswa. Hasil Belajar Setelah melaksanakan pembelajaran sebanyak 2 kali pertemuan pada siklus 1 dan untuk mengukur keberhasilan penelitian ini, penulis sebagai guru mata pelajaran mengadakan evaluasi pada hari Selasa tanggal 29 Oktober 2019 untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa pada siklus 1. Dari hasil evaluasi diperoleh sebagai Tabel 5. Hasil Evaluasi belajar pada siklus 1 Statistik Subjek Nilai ideal Nilai tertinggi Nilai terendah Nilai rata-rata KD. Pengetahuan KD. Keterampilan Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 93-104 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Terlihat pada tabel perolehan nilai siklus 1 untuk KD Pengetahuan tertinggi 100 nilai terendah 40 dan rata-rata 75. Sedangkan untuk KD Ketrampilan nilai tertinggi 95, nilai terendah 40 dan rata-rata 77. Dari data diatas terlihat rata-rata nilai sudah memcapai KKM yang telah ditetapkan sekolah. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus 2 Hasil Observasi Proses Pembelajaran Berdasarkan hasil pengamatan supervisor terhadap kegiaatan pembelajaran selama dua kali pertemuan yang telah peneliti laksanakan, diperoleh nilai terkait aktivitas guru dan aktivitas siswa pada tabel berikut: Tabel 6. Perolehan nilai aktivitas guru dan siswa pada siklus 2 Skala Nilai Jumlah Persentase Skor Aktivitas Guru 132/164 Skor Aktivitas Siswa 54/72 Berdasarkan tabel, hasil pengamatan dan penilaian supervisor terlihat bahwa aktivitas guru mencapai 80 % dan aktivitas siswa 78%. Dilihat dari kriteria pengkatagorian nilai baik aktivitas guru ataupun aktvitas siswa sudah dapat dikatagorikan AuSangat BaikAy. Namun keberhasilan penelitian tidak hanya dilihat dari aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran tetapi yang terpenting adalah peningkatan hasil belajar siswa. Hasil Belajar Hasil belajar siswa setelah dilaksanakannya siklus 2 mengalami peningkatan yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari data nilai evaluasi berikut ini: Tabel 7. Statistik nilai tes hasil belajar pada siklus 2 Statistik Subjek Nilai ideal Nilai tertinggi Nilai terendah Nilai rata-rata KD. Pengetahuan KD. Keterampilan Terlihat pada tabel perolehan nilai siklus 2 pada KD Pengetahuan tertinggi 100, terendah 45 dan pada KD Ketrampilan nilai tertinggi 100 terendah 55. Dari data diatas terlihat rata-rata nilai sudah melebihi nilai KKM yang telah ditetapkan sekolah. Pembahasan hasil penelitian Berdasarkan hasil penelitian di atas, menunjukan bahwa hasil belajar pada pelajaran Matematika dengan penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) mulai dari siklus 1 sampai dengan siklus 2 terlihat ada peningkatan dalam hasil belajar siswa pada materi pokok AuBentuk AljabarAy dikelas VII D SMP Negeri 1 Seberida kabupaten Indragiri Hulu. Gambaran hasil kemampuan siswa selama berlangsungnya pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS), dapat dilihat data tes evaluasi siswa yang sudah di lakukan pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 93-104 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Tabel 8. Perbandingan Nilai Rata-rata Prasiklus. Siklus 1 dan Siklus 2 KD. Pengetahuan KD. Keterampilan Prasiklus Siklus 1 Siklus 2 Prasiklus Siklus 1 Siklus 2 Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan dari setiap siklusnya karena ketuntasan belajar minimal (KBM) sekolah 70 dan siswa yang sudah mendapatkan nilai diatas KBM sekolah sudah mencapai lebih dari 85%, maka target sudah tercapai dan hasil belajar Matematika siswa juga meningkat dilihat dari rata-rata kelas seperti terlihat pada grafik berikut. NILAI RATA-RATA KD. Pengetahuan KD. Keterampilan Prasiklus Siklus 1 Siklus 2 Gambar1. Perbandingan rata-rata nilai pada setiap siklus Berdasarkan pemaparan diatas menunjukan bahwa melalui penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) pada mata pelajara Matematika materi pokok AuBentuk AljabarAy di kelas VII D SMP Negeri 1 Seberida dapat meningkatkan hasil belajar siswa. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian pembahasan data tentang hasil belajar melalui Penerapan penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) di kelas VII D SMP Negeri 1 Seberida kabupaten Indragiri Hulu tahun pelajaran 2019/2020 sudah berhasil, maka dapat disimpulkan bahwa: Dengan penerapan pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) pada siklus 1 aktivitas guru skornya 70% meningkat pada siklus 2 menjadi 80% dengan kategori nilai Ausangat baik, sedangkam aktivitas siswa pada siklus 1 skornya 64% pada siklus 2 meningkat 78%. Rata-rata nilai pada siklus 1 untuk KD Pengetahuan 75 meningkat pada siklus 2 menjadi 78, sedangkan untuk KD Keterampilan pada siklus 1 rata-rata nilai 77 pada siklus 2 meningkat menjadi 80. Ketuntasan belajar siswa pada KD Pengetahuan 76,7% pada siklus 1 dan pada siklus 2 meningkat menjadi 86,7%. Sedangkan pada KD Keterampilan 73,3% pada siklus 1 meningkat menjadi 90% pada siklus 2, dan memenuhi ketuntasan belajar secara klasikal karena lebih dari 85% Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 93-104 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 DAFTAR PUSTAKA