Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2303-2320 Analisis Profitabilitas Usahatani Padi (Oryza sativa L) di Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati Profitability Analysis of Rice (Oryza sativa L. ) Farming in Pucakwangi District Pati Regency Nur Maulinda Fatmah*. Agus Setiadi. Titik Ekowati Progam Studi Agribisnis. Fakultas Peternakan dan Pertanian. Universitas Diponegoro Jl. Prof. Sudarto No. Tembalang. Semarang 50275. Jawa Tengah Email: nurmaulinda762001@gmail. (Diterima 25-02-2025. Disetujui 01-07-2. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk . menganalisis pendapatan petani padi di Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati, . menganalisis profitabilitas usahatani padi di Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati, serta . menganalisis faktor sewa lahan, upah tenaga kerja, harga benih, harga pupuk, harga pestisida, produksi, dan harga jual terhadap pendapatan yang diperoleh petani di Kecamatan Pucakwangi. Kabupaten Pati. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei Ae Juni 2024 di Kecamatan Pucakwangi. Kabupaten Pati. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada data dari Badan Pusat Statistik . yang menunjukkan bahwa Kecamatan Pucakwangi termasuk ke dalam jajaran kecamatan penghasil padi terbesar di Kabupaten Pati. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan jumlah sampel sebanyak 100 petani. Pengambilan data dilakukan melalui proses wawancara bersama petani responden. Metode analisis data yang digunakan meliputi analisis pendapatan, analisis profitabilitas, serta analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa . rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani padi adalah sebesar Rp2. 631/0,28 ha/MT atau Rp10. 023/ha/MT, . rata-rata penerimaan yang diperoleh petani padi adalah sebesar Rp12. 214/0,28 ha/MT atau Rp44. 314/ha/MT, . rata-rata pendapatan yang diperoleh petani padi adalah sebesar Rp9. 583/0,28 ha/MT atau Rp33. 291/ha/MT, . rata-rata profitabilitas usahatani padi adalah 308%, . terdapat perbedaan yang signifikan antara pendapatan petani padi dengan UMK Kabupaten Pati, . terdapat perbedaan yang signifikan antara profitabilitas usahatani padi dengan suku bunga kredit BRI, . sewa lahan, upah tenaga kerja, harga benih, harga pupuk, harga pestisida, produksi, dan harga jual secara simultan berpengaruh terhadap pendapatan petani, . sewa lahan, harga pupuk, produksi, dan harga jual secara parsial berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani padi, serta . upah tenaga kerja, harga benih, dan harga pestisida secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani padi. Kata kunci: padi, pendapatan, profitabilitas, usahatani. ABSTRACT This research aimed . to analyze the income of rice farmers in Pucakwangi District. Pati Regency, . to analyze the profitability of rice farming in Pucakwangi District. Pati Regency, and . to analyze the influence of land cost factors, labor wages, seed prices, fertilizer prices, pesticide prices, production quantities, and selling prices on the income gained by farmers in Pucakwangi District. Pati Regency. This research was held in May Ae June 2024 in Pucakwangi District. Pati Regency. The selection of research locations was based on data from Badan Pusat Statistik . which showed that Pucakwangi District is the second largest rice producer among districts in Pati Regency. The research method used was a survey method with a sample size of 100 farmers. Data collection was carried out by distributing questionnaires to be filled in by respondent farmers and by conducting direct interviews. The data analysis methods used include income analysis, profitability analysis, and multiple linear regression analysis. The research results . the average production costs incurred by rice ,farmers was equal to IDR2. 631/0,28 ha/MT or IDR10. 023/ha/MT, . the average revenue obtained by rice farmers was equal to IDR12. 214/0,28 ha/MT or IDR44. 314/ha/MT, . the average net income obtained by rice farmers was equal to IDR9. 583/0,28 ha/MT or IDR33. 291/ha/MT, . the average profitability of rice farming was equal to 308% . there were significant differences between the income of rice farmers and the MSEs of Pati Regency, . there were a significant difference between the profitability of rice farming and the BRI credit interest rate, . land costs, labor wages, seed costs, fertilizer costs, pesticide costs, selling Analisis Profitabilitas Usahatani Padi (Oryza sativa L) di Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati Nur Maulinda Fatmah. Agus Setiadi. Titik Ekowati prices, and the amount of production simultaneously influenced farmers' income, and . land costs, fertilizer costs, production quantities, and selling prices partially significally influenced farmers' income, and . labor wages, seed cost, and pesticide costs partially did not significally influence farmersAo income. Keywords: farming, net income, paddy, profitability PENDAHULUAN Padi menjadi komoditas yang dianggap penting dalam menunjang kehidupan masyarakat Indonesia (Haris et al. , 2. Hal tersebut menjadi faktor yang mendasari banyaknya Usaha Pertanian Perorangan (UPP) yang mengusahakan padi. Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023, jumlah UPP yang mengusahakan padi di seluruh Indonesia adalah sebanyak 11. 638 unit (BPS, 2. Jumlah tersebut merupakan yang terbanyak dari total 10 komoditas. Padi juga menjadi komoditas yang paling banyak diusahakan oleh UPP di Kabupaten Pati, yakni sebanyak 85. 149 unit (BPS. Banyaknya UPP yang mengusahakan padi menjadikan Kabupaten Pati sebagai salah satu penghasil padi terbanyak di Jawa Tengah di Tahun 2022, tepatnya menduduki peringkat ke-5 dari total 29 kabupaten dan 6 kota dengan produksi mencapai 588. 697 ton (BPS, 2. Jumlah tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan produksi padi di tahun sebelumnya yang hanya mencapai 005 ton, yang artinya terjadi peningkatan produksi sebanyak 93. 692 ton (BPS, 2. Kecamatan Pucakwangi merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Pati yang unggul dalam produksi padi. Hal tersebut didukung oleh lahan persawahan yang luas, yakni mencapai 5. 023 ha (BPS, 2. Angka tersebut mencakup luas lahan persawahan dari total 20 desa. Desa Sokopuluhan dan Desa Pucakwangi merupakan dua desa dengan lahan persawahan terluas, yakni masing-masing seluas 518,30 ha dan 604,01 ha. Keunggulan Kecamatan Pucakwangi dalam produksi padi dibuktikan dengan data sementara dari Dinas Pertanian yang menunjukkan bahwa produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) di Kecamatan Pucakwangi terhitung hingga Agustus 2023 berada di urutan kedua dari total 21 kecamatan, yakni sebanyak 543. 926,8 kw (Dinas Pertanian, 2. Keunggulan subsektor tanaman pangan, utamanya komoditas padi, dalam hal produksi merupakan wujud kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan pangan serta upaya pengembangan ekonomi negara secara keseluruhan. Hal tersebut tentunya tidak terlepas dari peran para petani. Peran penting petani dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan sayangnya tidak diimbangi dengan upaya peningkatan kesejahteraan hidupnya. Rendahnya kesejahteraan petani dapat dilihat dari data Kementerian Pertanian yang menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di rumah tangga pertanian mencapai 10. 940 jiwa (Kementerian Pertanian, 2. Angka tersebut merupakan akumulasi dari total 5 subsektor, di mana rumah tangga pertanian subsektor tanaman pangan berada di urutan pertama dengan jumlah penduduk miskin terbanyak, yakni mencapai 6. 255 jiwa (Kementerian Pertanian, 2. Banyaknya jumlah penduduk miskin di rumah tangga pertanian, utamanya dari subsektor tanaman pangan, mengindikasikan bahwa pendapatan yang diperoleh para petani dari usahatani yang dijalankan belum mampu menunjang kesejahteraan hidupnya. Pendapatan yang rendah juga menjadi indikasi bahwa usahatani yang dijalankan tidak memberikan manfaat yang sebanding dengan upaya yang telah dikorbankan. Parameter yang dapat digunakan untuk mengukur seberapa menguntungkannya suatu usahatani adalah profitabilitas. Profitabilitas merupakan kemampuan suatu usahatani dalam menghasilkan keuntungan selama periode tertentu. Besar kecilnya tingkat profitabilitas suatu usahatani bergantung pada besarnya biaya produksi yang dikorbankan dan besarnya pendapatan yang Jumlah pendapatan yang diterima bergantung pada beberapa faktor, di antaranya meliputi sewa lahan, upah tenaga kerja, harga benih, harga pupuk, harga pestisida, harga jual, dan produksi. Faktor-faktor tersebut perlu dianalisis untuk mengidentifikasi pengaruhnya terhadap pendapatan yang diperoleh petani. Analisis pendapatan dan profitabilitas sangat diperlukan untuk mengidentifikasi apakah pendapatan yang diterima petani telah layak dan apakah usahatani yang dijalankan dapat dikategorikan sebagai usaha yang profitable . Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pendapatan petani padi di Kecamatan Pucakwangi, menganalisis profitabilitas usahatani padi di Kecamatan Pucakwangi, serta menganalisis pengaruh faktor sewa lahan, upah tenaga kerja, harga benih, harga pupuk, harga pestisida, produksi, dan harga jual terhadap pendapatan petani padi di Kecamatan Pucakwangi. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2303-2320 METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2024, berlokasi di Kecamatan Pucakwangi. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada data dari Dinas Pertanian Kabupaten Pati yang menunjukkan bahwa Kecamatan Pucakwangi berada pada peringkat kedua dalam jajaran kecamatan penghasil padi di Kabupaten Pati dengan produksi mencapai 543. 926,8 kw di tahun 2023 (Dinas Pertanian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei pada dua desa di Kecamatan Pucakwangi, yakni Desa Sokopuluhan dan Desa Pucakwangi. Metode survei merupakan metode penelitian yang dilakukan pada populasi bertujuan untuk menggambarkan karakteristik suatu populasi yang diwakili oleh sampel di daerah penelitian (Novitaningsih, 2. Metode survei digunakan dalam penelitian yang memiliki populasi besar dan sampel yang relatif kecil (Terimajaya et al. , 2. Pengumpulan informasi dalam metode survei dilakukan melalui proses wawancara (Fraenkel & Wallen, 1. dikutip dari (Roesminingsih et al. , 2. Penelitian survei menjadikan kuisioner sebagai alat atau instrumen dalam proses pengambilan data dari sampel yang telah ditentukan (Djaali, 2. Daftar pertanyaan dalam lembar kuisioner disusun dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh petani responden, sehingga peneliti mampu memperoleh jawaban yang akurat. Populasi dalam penelitian ini meliputi petani yang ada di dua desa yang berjumlah 2. 406 orang Jumlah tersebut terdiri atas 1. 022 dari Desa Sokopuluhan dan 1. 384 petani dari Desa Pucakwangi. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa Desa Pucakwangi dan Desa Sokopuluhan memiliki jumlah petani padi terbanyak dengan areal persawahan terluas di antara desa-desa lainnya di Kecamatan Pucakwangi. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 100 sampel. Penentuan jumlah sampel tersebut didasarkan pada pendapat Sugiyono . yang menyatakan bahwa ukuran sampel yang layak dalam suatu penelitian adalah berkisar antara 30-500 sampel. Pendapat lain dari Frankel & Wallen . dalam menyatakan bahwa jumlah minimum sampel yang dibutuhkan dalam penelitian deskriptif adalah sebanyak 100 sampel (Nurkasih et al. , 2. Penentuan komposisi sampel untuk masing-masing desa selanjutnya ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Setyadi et al. , 2. NDesa Sokopuluhan Sampel Desa Sokopuluhan = y 100% y n y 100% y 100 = 42 sampel NDesa Pucakwangi y 100% y n y 100% y 100 Sampel Desa Pucakwangi = = 57,5 . ibulatkan menjadi 58 sampe. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui proses wawancara dengan bantuan kuesioner sebagai instrumen. Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk mendapatkan gambaran mengenai fenomena alam maupun sosial dalam suatu penelitian (Sugiyono, 2. dikutip dari (Rifkhan, 2. Data sekunder merupakan jenis data yang diperoleh dari sumber yang telah ada sebelumnya (Nurdin & Hartati, 2. Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan mendatangi lembaga terkait secara langsung atau melalui website resmi yang bisa diakses secara online. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis deskriptif, analisis pendapatan, analisis profitabilitas, dan analisis regresi linier berganda. Perhitungan pendapatan petani dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut Soekartawi . dalam Ichsan & Nasution . NI = TR Ae TC Keterangan: NR = Net Income/Pendapatan Bersih (Rp/MT) Analisis Profitabilitas Usahatani Padi (Oryza sativa L) di Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati Nur Maulinda Fatmah. Agus Setiadi. Titik Ekowati TR = Total Revenue/Penerimaan (Rp/ MT) TC = Total Cost/Total Biaya (Rp/ MT) Nilai profitabilitas merupakan tingkat keuntungan usaha yang dinyatakan dalam persen (Prawirokusumo, 1. dikutip dari (Kusuma et al. , 2. Rumus yang digunakan adalah sebagai Profitabilitas = y 100% Keterangan: NI = Net Income/Pendapatan Bersih (Rp/MT) TC = Total Cost/Total Biaya (Rp/MT) Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen, yang meliputi sewa lahan, upah tenaga kerja, harga benih, harga pupuk, harga pestisida, harga jual, dan produksi terhadap variabel dependen, dalam hal ini adalah pendapatan petani padi dengan bantuan SPSS versi 25. Analisis dalam penelitian ini didasarkan pada teori fungsi keuntungan UOP (Unit Output Pric. Lau dan Yotopoulos yang merupakan bentuk penurunan dari fungsi produksi CobbDouglas (Lau & Yotopoulos, 1. dikutip dari (Anwar, 2. Fungsi keuntungan UOP pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. lnA = lnA 1 ln W1 2 ln W2 3 ln W3 4 ln W4 5 ln W5 6 ln W6 7 ln Z1 e Keterangan: A = Pendapatan petani padi yang dinormalkan dengan harga harga output A = Konstanta W1 = Sewa lahan yang dinormalkan dengan harga output (Rp/h. W2 = Upah tenaga kerja yang dinormalkan dengan harga output (Rp/HKSP) W3 = Harga benih yang dinormalkan dengan harga output (Rp/k. W4 = Harga pupuk yang dinormalkan dengan harga output (Rp/k. W5 = Harga pestisida yang dinormalkan dengan harga output (Rp/. W6 = Produksi yang dinormalkan dengan harga output . g/MT) Z1 = Harga jual (Rp/k. = Parameter input variabel, di mana i = 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 e = Error HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Kecamatan Pucakwangi Kecamatan Pucakwangi merupakan kecamatan di Kabupaten Pati yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Jakenan di sebelah utara, berbatasan langsung dengan Kecamatan Jaken di sebelah timur, berbatasan langsung dengan Kecamatan Todanan di sebelah selatan, dan berbatasan langsung dengan Kecamatan Winong di sebelah barat. Kecamatan Pucakwangi terdiri atas 20 desa, yakni meliputi Desa Wateshaji. Lumbungmas. Mojoagung. Sitimulyo. Kletek. Terteg. Mencon. Pucakwangi. Kepohkencana. Karangwotan. Bodeh. Triguno. Tanjungsekar. Pelemgede. Sokopuluhan. Tegalwero. Plosorejo. Karangrejo. Jetak, dan Grogolsari. Total luas wilayah kecamatan ini adalah 12. 283Km2 atau 8% dari luas keseluruhan wilayah Kabupaten Pati (BPS. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2303-2320 Karakteristik Responden No. Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Keterangan Jumlah (Oran. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia (Tahu. 35 Ae 44 45 Ae 54 55 Ae 64 65 Ae 75 Pekerjaan Utama Buruh Tani Kuli Bangunan Montir Pegawai Swasta Perangkat Desa Petani Peternak Sopir Wirausahawan Pendidikan Terakhir SD/Sederajat SMP/Sederajat SMA/Sederajat S-1 Lama Berusahatani < 10 < 20 Sumber: Analisis Data Primer . Persentase (%) 100,00 4,00 38,00 46,00 12,00 1,00 7,00 1,00 3,00 1,00 70,00 1,00 1,00 15,00 51,00 32,00 15,00 2,00 7,00 93,00 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Petani responden dalam penelitian ini berjumlah 100 orang petani dan seluruhnya berjenis kelamin Partisipasi petani pria yang lebih dominan dibandingkan partisipasi petani wanita disebabkan oleh kekuatan fisiknya yang lebih kuat. Hal tersebut didukung oleh pendapat Trisnawati et al. yang menyatakan bahwa partisipasi petani pria dalam proses pembangunan pertanian lebih besar karena kekuatan fisik yang lebih kuat jika dibandingkan dengan kekuatan fisik petani wanita. Kekuatan fisik yang dimiliki petani akan menentukan kinerjanya dalam mengelola usahatani. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hasbiadi et al. yang menyatakan bahwa kekuatan fisik petani yang prima mendorong tercapainya keberhasilan usahatani melalui peningkatan produksi yang dihasilkan. Penelitian yang dilakukan oleh Kirana . menunjukkan hasil bahwa umur petani berpengaruh positif terhadap pendapatan usahatani, yang berati bahwa setiap penambahan 1 satuan umur petani mendorong peningkatan pendapatan sebesar Rp0,236. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Petani responden pada penelitian ini rata-rata berusia 56 tahun. Rata-rata usia petani responden berada pada rentang usia produktif. Hal ini sesuai dengan pendapat Ulma & Ningsih . yang menyatakan bahwa petani produktif berada pada rentang usia 15-56 tahun. Usia petani yang tergolong produktif tentunya membuat usahatani dapat terkelola dengan baik. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Novita . yang menyatakan bahwa petani pada rentan usia produktif memiliki kemampuan untuk memahami hal-hal baru yang berguna dalam upaya peningkatan produksi yang dihasilkan. Jumlah petani pada rentang usia 35 Ae 44 tahun adalah 4 orang petani atau 4% dari jumlah keseluruhan responden, pada rentang usia 45 - 54 tahun berjumlah 38 orang petani atau 38% dari jumlah keseluruhan responden, pada rentang usia 55 - 64 berjumlah 46 orang petani atau 46% dari jumlah keseluruhan responden, serta pada rentang usia 65 -75 tahun berjumlah 12 orang petani atau sebesar 12% dari jumlah keseluruhan responden. Petani responden dengan jumlah terbanyak adalah petani pada rentang usia 55-64 tahun kemudian diikuti oleh petani pada rentang usia 45-54 tahun. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Gusti et al. yang menunjukkan bahwa sebagian besar petani padi di lokasi penelitian berada pada rentang usia 31-59 tahun, yakni sebanyak 46 orang atau 76,67% dari keseluruhan petani responden yang berjumlah 60 orang petani. Analisis Profitabilitas Usahatani Padi (Oryza sativa L) di Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati Nur Maulinda Fatmah. Agus Setiadi. Titik Ekowati Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Utama Jumlah responden yang memiliki pekerjaan utama sebagai petani adalah sebanyak 70 orang petani atau 70% dari total keseluruhan jumlah responden, sedangkan sisanya, yakni 30 orang petani atau 30% lainnya menjadikan kegiatan bertani sebagai pekerjaan sampingan. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Dewi . yang menunjukkan bahwa sebanyak 86% besar petani padi menjadikan kegiatan bertani sebagai matapencaharian utama, sedangkan sisanya, yakni sebanyak 14% hanya menjadikan kegiatan bertani sebagai pekerjaan sampingan. Pekerjaan utama responden lainnya di antaranya meliputi wirausahawan sebanyak 15 orang kuli bangunan sebanyak 7 orang, pegawai swasta sebanyak 3 orang, montir sebanyak 1 orang, perangkat desa sebanyak 1 orang, peternak sebanyak 1 orang, dan sopir sebanyak 1 orang. Sebagian besar petani responden menjadikan kegiatan bertani sebagai sumber pendapatan utama karena memiliki kontribusi terbesar terhadap keseluruhan pendapatan rumah tangga. Hal tersebut berbeda dengan hasil penelitian Trisnawati et al. yang menunjukkan hasil bahwa kontribusi pendapatan usahatani padi terhadap keseluruhan pendapatan rumah tangga menjadi yang terkecil, yakni dengan persentase 8,12%. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Pendidikan terakhir petani responden diklasifikasikan dalam 5 jenjang, yakni SD/Sederajat. SMP/Sederajat. SMA/Sederajat, dan S-1. Jenjang pendidikan terakhir dengan jumlah petani terbanyak adalah SD/Sederajat, yakni berjumlah 52 orang atau 52% dari total keseluruhan responden, kemudian diikuti oleh jenjang SMP/Sederajat sebanyak 32 orang petani, jenjang SMA/Sederajat sebanyak 15 orang petani, dan jenjang S-1 sebanyak 2 orang petani. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Kurniati & Vakuna . yang menunjukkan bahwa lama pendidikan yang ditempuh petani adalah 8,34 tahun atau hanya sampai pada jenjang Sekolah Dasar. Tingkat pendidikan pada dasarnya dapat memberikan pengaruh terhadap sudut pandang dan pola pikir seorang individu. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Gusti et al. yang menyatakan bahwa petani dengan jenjang pendidikan terakhir yang lebih tinggi memiliki pola pikir yang lebih maju dibandingkan dengan petani yang jenjang pendidikan terakhirnya lebih rendah. Pola pikir yang dimiliki petani tentunya mempengaruhi cara kerjanya dalam pengelolaan Hal tersebut sesuai dengan pendapat Yusuf & Batubara . yang menyatakan bahwa seseorang dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki pengetahuan, keterampilan, dan cara kerja yang lebih baik. Pendidikan tinggi membuat petani mampu mengelola usahataninya dengan lebih baik, sehingga mendorong tercapainya peningkatan produksi. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Berusahatani Rata-rata lama berusahatani petani responden adalah 35,94 tahun atau jika dibulatkan menjadi 36 Sebanyak 93 orang atau 93% petani responden telah menjalankan usahataninya selama lebih dari 20 tahun, sedangkan sisanya, yakni sebanyak 7 orang atau 7% petani responden baru memulai usahataninya selama rentang waktu 10-20 tahun. Berdasarkan jumlah dan persentase tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar petani responden merupakan petani Hal tersebut sesuai dengan pendapat Winoto . dalam Peniarti et al. yang menyatakan bahwa petani dapat dianggap berpengalaman apabila telah menjalankan usahataninya selama lebih dari 20 tahun. Lama berusahatani menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan petani dalam mengelola usahatani. Petani yang telah lama menjalankan usahatani memiliki kemampuan pengelolaan yang lebih baik, sehingga akan berpengaruh terhadap produksi yang dicapai dan pendapatan yang diperoleh. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Tunas et al. yang menunjukkan bahwa lama berusahatani memiliki pengaruh positif terhadap pendapatan petani padi, yang berarti bahwa setiap penambahan 1 satuan lama berusahatani akan mendorong peningkatan pendapatan petani sebesar Rp4. Analisis Pendapatan Tabel 2. Biaya Produksi. Penerimaan, dan Pendapatan Usahatani Jenis Biaya Rata-rata (Rp/0,28 ha/MT) Rata-rata (Rp/ha/MT) Biaya Tetap Sewa Lahan PBB Penyusutan Iuran Biaya Variabel Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2303-2320 Tenaga Kerja Benih Pupuk Pestisida Biaya Produksi Penerimaan Pendapatan Sumber: Analisis Data Primer . Biaya Produksi Biaya Produksi merupakan nominal uang yang dikeluarkan atas pembelian input-input produksi yang dinyatakan dalam satuan Rupiah per Musim Tanam (Rp/MT). Biaya produksi terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sasmita & Apriyanti . yang menyatakan bahwa biaya produksi dalam usahatani meliputi biaya tetap . ixed cos. dan biaya tidak tetap . ariable cos. Berdasarkan Tabel 2. , dapat diketahui bahwa rata-rata biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh petani padi di lokasi penelitian adalah sebesar Rp2. 631/0,28 ha/MT atau Rp10. 023/ha/MT. Rata-rata biaya produksi tersebut mencakup biaya tetap yang rata-ratanya adalah sebesar Rp518. 205/0,28 ha/MT atau Rp1. 029/ha/MT dan biaya variabel yang rata-ratanya adalah sebesar Rp2. 426/0,28 ha/MT atau Rp8. 931/ha/MT. Rata-rata biaya produksi pada penelitian ini lebih kecil jika dibandingkan dengan hasil penelitian Atpriani et . yang menunjukkan bahwa rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani padi adalah sebesar Rp8. 052,46/ha/MT. Rata-rata biaya tetap tersusun atas biaya sewa lahan yang rata-ratanya adalah sebesar Rp462. 200/0,28 ha/MT atau Rp1. 951/ha/MT, biaya penyusutan alat yang rata-ratanya adalah sebesar Rp35. 515/MT, iuran kelompok tani yang rata-ratanya adalah sebesar Rp7. 900/0,28ha/MT atau Rp28. 748/ha/MT, dan Pajak Bumi & Bangunan yang rata-ratanya adalah sebesar Rp12. 590/0,28 ha/MT atau Rp45. 815/ha/MT. Rata-rata biaya tetap pada penelitian ini lebih kecil jika dibandingkan dengan hasil penelitian Ibrahim et al. berjudul AuAnalisis Biaya dan Pendapatan Usahatani Padi Sawah Non Irigasi Teknis di Kelurahan Tenilo Kecamatan Limboto Kabupaten GorontaloAy yang menunjukkan bahwa rata-rata biaya tetap yang dikeluarkan oleh petani responden adalah Rp9. 654/ha/MT. Rata-rata biaya variabel tersusun atas biaya tenaga kerja yang rata-ratanya adalah sebesar Rp1. 891/0,28 ha/MT atau Rp5. 037/ha/MT, biaya benih yang rata-ratanya adalah sebesar Rp346. 200/0,28 ha/MT atau Rp1. 825/ha/MT, biaya pupuk yang rata-ratanya adalah sebesar Rp527. 500/0,28 ha/MT atau Rp1. 578/ha/MT, dan biaya pestisida yang rata-ratanya adalah sebesar Rp68. 835/0,28 ha/MT atau Rp250. 491/ha/MT. Rata-rata biaya variabel pada penelitian ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Arisandi et al. berjudul AuAnalisis Pendapatan Usahatani Padi Sawah di Desa Kesimbar Palapi Kecamatan Kasimbar Kabupaten Parigi MoutongAy yang menunjukkan bahwa rata-rata biaya variabel yang dikeluarkan oleh petani responden adalah Rp5. 057/ha/MT. Penerimaan Penerimaan dalam usahatani diartikan sebagai seluruh uang yang diperoleh petani atas penjualan hasil panen yang dinyatakan dalam satuan Rupiah per Musim Tanam (Rp/MT). Hal tersebut sesuai dengan pendapat Mardani et al. yang menyatakan bahwa penerimaan dalam usahatani diartikan sebagai seluruh uang yang diperoleh petani atas hasil panen yang dijual. Penerimaan dapat dihitung dengan cara mengalikan jumlah produksi dan harga jual. Berdasarkan Tabel 2. dapat diketahui bahwa rata-rata produksi yang mampu dihasilkan oleh petani responden adalah 141 kg/0,28 ha/MT dengan rata-rata harga jual sebesar Rp5. 654/kg. Rata-rata penerimaan yang diperoleh petani adalah sebesar Rp12. 214/0,28 ha/MT atau 44. 314/ha/MT. Rata-rata penerimaan pada penelitian ini lebih besar jika dibandingkan dengan hasil penelitian Indriawan et . yang menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan usahatani padi sawah adalah Rp22. 215,52/ha/MT. Besar kecilnya penerimaan petani ditentukan oleh produksi dan harga Hal tersebut sejalan dengan penelitian Karim et al. yang menyatakan bahwa semakin tinggi produksi dan harga jual, maka semakin besar pula penerimaan petani padi. Analisis Profitabilitas Usahatani Padi (Oryza sativa L) di Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati Nur Maulinda Fatmah. Agus Setiadi. Titik Ekowati Pendapatan Pendapatan dalam usahatani merupakan selisih antara total penerimaan dan biaya produksi yang dinyatakan dalam satuan Rupiah per Musim Tanam (Rp/MT). Hal tersebut sesuai dengan pendapat Barokah et al. yang menyatakan bahwa pendapatan dalam usahatani merupakan selisih antara total penerimaan yang diperoleh dan total biaya yang dikeluarkan. Berdasarkan Tabel 2. dapat diketahui bahwa rata-rata penerimaan yang diperoleh petani padi adalah Rp12. 214/0,28 ha/MT atau Rp44. 314/ha/MT dengan rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan adalah sebesar Rp2. 631/0,28 ha/MT atau Rp10. 023/ha/MT. Rata-rata pendapatan yang diperoleh petani padi adalah sebesar Rp9. 583/0,28 ha/MT atau Rp33. 291/ha/MT. Rata-rata pendapatan petani setiap bulan adalah Rp2. 395/bulan. Rata-rata pendapatan petani setiap bulan adalah Rp2. 517/bulan. Rata-rata pendapatan petani pada penelitian ini lebih besar jika dibandingkan dengan hasil penelitian Garatu . berjudul AuAnalisis Pendapatan Usaha Petani Padi Sawah di Kelurahan Pamona Kecamatan Pamona Puselemba Kabupaten PosoAy yang menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan petani padi adalah sebesar Rp30. 700/ha/MT. Analisis Profitabilitas Profitabilitas merupakan parameter yang digunakan untuk mengukur penggunaan aktiva dalam kegiatan produksi atau kemampuan suatu usaha dalam memperoleh keuntungan selama periode Profitabilitas dapat dihitung dengan cara membagi pendapatan dengan biaya produksi kemudian dikalikan 100%. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Ambarsari et al. yang menyatakan bahwa perhitungan profitabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan rumus pendapatan dibagi biaya produksi kemudian dikalikan 100%. Profitabilitas usahatani padi yang dijalankan adalah sebesar 308%, yang berarti bahwa setiap Rupiah yang dikeluarkan untuk mengusahakan usahatani, dapat memberikan keuntungan sebesar Rp3,08. Profitabilitas usahatani pada penelitian ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil penelitian Sekarnurani et al. berjudul AuAnalisis Pendapatan Petani Padi pada Gapoktan Sumber Mulyo Desa Banjaran Kecamatan Bangsri Kabupaten JeparaAy yang menunjukkan bahwa nilai profitabilitas padi adalah sebesar 130,641%. Usahatani dapat dikatakan layak dijalankan apabila profitabilitasnya lebih besar dari suku bunga bank. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Wisudawati et al. berjudul AuAnalisis Pendapatan Pola Usahatani Berbasis Tanaman Pangan dan Peternakan di Kabupaten GroboganAy yang menjadikan suku bunga kredit Bank Rakyat Indonesia sebagai pembanding. Uji Normalitas Data Uji normalitas data merupakan salah satu bagian dari uji asumsi klasik yang bertujuan untuk menguji apakah data pada penelitian berdistribusi secara normal atau tidak. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Wulandari & Qomaria . yang menyatakan bahwa uji normalitas data dilakukan untuk menguji kenormalan distribusi dari data yang diteliti. Uji normalitas pada penelitian ini dilakukan dengan melihat Normal P-P Plot. Menurut pendapat Pekawolu et al. , normalitas data dapat disimpulkan berdasarkan sebaran titik pada Normal P-P Plot. Hasil uji SPSS untuk normalitas data dapat dilihat pada Gambar 1. Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual Expected Cum Prob Observed Cum Prob Gambar 1. Normal P-P Plot Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2303-2320 Berdasarkan Gambar 1. , dapat diketahui bahwa hasil uji normalitas data menunjukkan titik-titik pada Normal P-P Plot mengikuti arah garis diagonal dan menyebar di sekitarnya. Menurut pendapat Waty et al. , data dapat dinyatakan berdistribusi secara normal apabila titik-titik pada Normal P-P Plot mengikuti arah garis diagonal. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa data pada penelitian ini berdistribusi secara normal. Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik dalam penelitian ini meliputi uji normalitas data, uji Multikolinearitas, dan uji Uji Multikolinearitas Indikasi terjadinya multikolinearitas pada data dapat dilihat berdasarkan nilai Tolerance dan nilai Variance Inflation Factor (VIF). Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sriningsih et al. yang menyatakan bahwa multikoliniaritas dapat dideteksi berdasarkan faktor inflasi ragam (Variance Inflation Facto. Nilai Tolerance dan VIF pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Nilai Tolerance dan VIF Nilai Tolerance Nilai VIF Variabel X1 (Sewa Laha. 0,350 2,861 X2 (Upah Tenaga Kerj. 0,374 2,673 X3 (Harga Beni. 0,878 1,139 X4 (Harga Pupu. 0,190 5,253 X5 (Harga Pestisid. 0,872 1,146 X6 (Produks. X7 (Harga Jua. 0,310 0,171 Sumber: Analisis Data Primer . 3,228 5,843 Berdasarkan Tabel 3. , dapat diketahui bahwa nilai Tolerance dari variabel independen X1 (Sewa Laha. X2 (Upah Tenaga Kerj. X3 (Harga Beni. X4 (Harga Pupu. X5 (Harga Pestisid. X6 (Produks. , dan X7 (Harga Jua. secara berurutan adalah 0,350. 0,374. 0,878. 0,190. 0,872. 0,310. dan 0,171. Nilai VIF dari ketujuh variabel secara berurutan adalah 2,861. 2,673. 1,139. 5,253. 1,146. 3,228. dan 5,843. Menurut pendapat Nugraha . , pengambilan keputusan pada uji multikolinearitas didasarkan pada kriteria berikut. Jika nilai Tolerance > 0,1 dan nilai VIF < 10, maka data dinyatakan terbebas dari gejala Jika nilai Tolerance < 0,1 dan nilai VIF > 10, maka data dinyatakan mengalami gejala Berdasarkan kriteria tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa data pada penelitian ini terbebas dari gejala Multikolinearitas. Uji Heteroskedastisitas Uji heterokedastisitas dilakukan untuk menguji apakah variance dari residual dalam pengamatan mengalami kesamaan dengan pengamatan yang lain. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Nugraha . yang menyatakan bahwa merupakan uji yang digunakan untuk menganalisis apakah terjadi kesamaan variance dari residual suatu pengamatan dengan pengamatan yang lain (Nugraha, 2. Ada tidaknya gejala heterokedasisitas didasarkan pada hasil uji Scatterplot. Diagram Scatterplot pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 2. Analisis Profitabilitas Usahatani Padi (Oryza sativa L) di Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati Nur Maulinda Fatmah. Agus Setiadi. Titik Ekowati Regression Studentized Residual Scatterplot Regression Standardized Predicted Value Gambar 2. Normal P-P Plot Berdasarkan Gambar 2. , dapat diketahui bahwa titik-titik pada grafik Scatterplot menyebar di atas dan di bawah angka 0 secara acak dan tidak membentuk pola teratur. Menurut pendapat Yuliana et . , data dikatakan terbebas dari gejala heteroskedastisitas apabila titik-titik pada grafik Scatterplot tidak membentuk pola teratur serta menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Berdasarkan pernyataan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa data pada penelitian ini terbebas dari gejala heteroskedastisitas. Uji Normalitas Residual Uji normalitas merupakan uji yang digunakan untuk menganalisis kenormalan distribusi dari residual sebuah data. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hidayat . yang menyatakan bahwa pengujian normalitas data digunakan untuk menganalisis apakah distribusi data bersifat normal atau tidak. Uji normalitas residual data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji nonparametric Kolmogorov-Smirnov. Hal tesebut sesuai dengan pendapat Terimajaya et al. yang menyatakan bahwa normalitas residual data dapat dianalisis dengan menggunakan plot, histogram, uji Kolmogorov-Smirnov, atau uji Chi-Square. Berdasarkan hasil uji normalitas data yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa signifikansi dari residual data adalah 0,132 ( = 5%). Menurut pendapat Priyatno . , residual data dikatakan berdistribusi secara normal apabila nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (> 0,. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa residual data pada penelitian ini berdistribusi secara normal. Analisis Regresi Linear Berganda Keterangan Tabel 4. Hasil Uji SPSS Koefisien B 8,279 -0,073 -0,042 0,003 -0,872 -0,060 1,193 0,043 Konstan X (Sewa Laha. X (Upah Tenaga Kerj. X (Harga Beni. X (Harga Pupu. X (Harga Pestisid. X (Produks. X (Harga Jua. Nilai f Hitung = 319,593 Sig. = 0,000 Adjusted R = 0,954 Sumber: Analisis Data Primer . Sig. 0,000 0,041 0,723 0,931 0,000 0,106 0,000 0,014 Berdasarkan hasil analisis data pada Tabel 4. , dapat diketahui bahwa persamaan regresi untuk pendapatan usahatani padi di Kecamatan Pucakwangi adalah sebagai berikut. lnA = 8,279 Ae 0,073W Ae 0,042W 0,003W - 1,872W Ae 0,060X 1,193W 0,043Z e Keterangan: A = Pendapatan petani padi yang dinormalkan dengan harga harga output A = Konstanta Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2303-2320 W = Sewa lahan yang dinormalkan dengan harga output (Rp/h. W = Upah tenaga kerja yang dinormalkan dengan harga output (Rp/HKSP) W = Harga benih yang dinormalkan dengan harga output (Rp/k. W = Harga pupuk yang dinormalkan dengan harga output (Rp/k. W = Harga pestisida yang dinormalkan dengan harga output (Rp/. W = Produksi yang dinormalkan dengan harga output . g/MT) Z = Harga Jual (Rp/k. = Error Uji F pada analisis regresi digunakan untuk menguji apakah variabel-variabel independen dalam suatu penelitian secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Hal ini sesuai dengan pendapat Ghodang & Hantono . yang menyatakan bahwa Uji f bertujuan untuk menganalisis pengaruh secara simultan variabel independen terhadap variabel dependen dalam suatu penelitian. Berdasarkan hasil uji SPSS pada Tabel 27. , dapat diketahui bahwa f hitung bernilai 319,593, sedangkan nilai signifikansi bernilai 0,000. Menurut pendapat Yuliana et al. , pengambilan keputusan pada uji F didasarkan pada pedoman berikut. Jika nilai signifikansi > 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Jika nilai signifikansi O 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan pedoman di atas, maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti bahwa variabel independen X (Sewa Laha. X (Upah Tenaga Kerj. X (Harga Beni. X (Harga Pupu. X (Harga Pestisid. X (Produks. , dan X (Harga Jua. secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen Y (Pendapata. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Ambarsari et al. berjudul AuFaktor-faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Hasil Padi (Oryza sativa L. ) di Kabupaten IndramayuAy yang menunjukkan hasil bahwa variabel harga benih, harga pupuk, harga pestisida, upah tenaga kerja, dan sewa lahan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap penerimaan petani padi. Uji t digunakan untuk menguji pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial. Hal tersebut didukung oleh pendapat Panjawa & Sugiharti . yang menyatakan bahwa Uji t bertujuan untuk menganalisis pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen. Pengambilan keputusan pada Uji t didasarkan pada nilai signifikansi. Menurut pendapat Yulina et al. , jika nilai signifikansi > 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak, sedangkan jika nilai signifikansi O 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan hasil uji SPSS pada Tabel 27. , dapat diketahui bahwa nilai intercept yang diperoleh adalah sebesar 8,279, yang berarti bahwa apabila variabel-variabel independen X (Sewa Laha. X (Upah Tenaga Kerj. X (Harga Beni. X (Harga Pupu. X (Harga Pestisid. X (Produks. , dan X (Harga Jua. bernilai 0, maka besarnya pendapatan yang diperoleh petani padi adalah Rp8,279. Variabel X (Sewa Laha. memiliki nilai signifikansi sebesar 0,041 (O 0,. , yang berarti bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel X (Sewa Laha. secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel Y (Pendapata. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Laia . berjudul AuPengaruh Kegiatan Ekonomi melalui Sewa Lahan terhadap Pendapatan Petani Padi di Desa NanowaAy yang menunjukkan hasil bahwa sewa lahan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap pendapatan Variabel X (Upah Tenaga Kerj. memiliki nilai signifikansi sebesar 0,723 (> 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak. Nilai signifikansi tersebut mencerminkan bahwa variabel X (Upah Tenaga Kerj. secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel Y (Pendapata. Tidak adanya pengaruh upah tenaga kerja terhadap pendapatan petani disebabkan oleh jumlah upah yang diberikan oleh petani satu dan petani lainnya hampir sama. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Saragih & Saleh . berjudul AuFaktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Rumah Tangga Tani Padi (Studi Kasus: Desa Sei Buluh. Kecamatan Teluk Mengkudu. Kabupaten Deli Serdan. Ay yang menyatakan bahwa upah tenaga kerja dianggap tidak berpengaruh terhadap pendapatan petani karena tidak adanya variasi upah yang berlaku dalam suatu daerah atau dengan kata lain, para petani memberikan jumlah upah yang tidak berbeda jauh antara satu sama lain kepada para tenaga kerja yang terlibat. Analisis Profitabilitas Usahatani Padi (Oryza sativa L) di Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati Nur Maulinda Fatmah. Agus Setiadi. Titik Ekowati Variabel X (Harga Beni. , memiliki nilai signifikansi sebesar 0,931 (> 0,. , yang berarti bahwa H0 diterima dan H1 ditolak. Berdasarkan besarnya nilai signifikansi tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel X (Harga Beni. secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel Y (Pendapata. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Rohmaniyah et al. berjudul AuAnalisis Usahatani Padi di Selogiri WonogiriAy yang menunjukkan hasil bahwa harga benih secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani padi. Variabel X (Harga Pupu. memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 (O 0,. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti bahwa variabel X (Harga Pupu. secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel Y (Pendapata. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Muzdalifah et al. dikutip dari Pranowo & Zainuddin . berjudul AuAnalisis Sikap Petani terhadap Atribut Pupuk Bersubsidi di Kabupaten JemberAy yang menunjukkan hasil bahwa harga pupuk secara parsial berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani. Variabel X (Harga Pestisid. memiliki nilai signifikansi sebesar 0,106 (O 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak. Hasil analisis tersebut mencerminkan bahwa variabel X (Harga Pestisid. secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel Y (Pendapata. Hasil tersebut sejalan dengan hasil penelitian Hanisah et al. berjudul AuRisiko Pendapatan dan Faktor yang Memengaruhi Pendapatan Usahatani Padi Sawah Tadah Hujan (Studi Kasus di Kelurahan Sibatua Kecamatan Pangkajene Kabupaten PangkajeneAy yang menunjukkan bahwa harga pestisida secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani padi. Tidak adanya pengaruh harga pestisida secara signifikan terhadap pendapatan dikarenakan biaya pestisida hanya mengambil sedikit bagian dari total keseluruhan biaya produksi, sehingga kenaikan ataupun penurunan harga tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan petani Variabel X (Produks. memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 (O 0,. , yang berarti bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan nilai signifikansi yang telah diketahui, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel X (Produks. secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel Y (Pendapata. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Dewi . berjudul AuPengaruh Harga dan Hasil Produksi terhadap Pendapatan Petani Padi di Kecamatan Kaway XVI Kabupaten Aceh BaratAy yang menunjukkan bahwa produksi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani padi. Variabel X (Harga Jua. memiliki nilai signifikansi sebesar 0,014 (O 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel X (Harga Jua. secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel Y (Pendapata. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Alfiyanti & Arisinta . berjudul AuPengaruh Biaya Produksi. Luas Lahan. Jumlah Produksi, dan Harga Jual terhadap Pendapatan Petani Padi di Desa RaAoas Kecamatan Klampis. Kabupaten BangkalanAy yang menunjukkan bahwa harga jual secara parsial berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani Berdasarkan Tabel 4. , dapat diketahui pula koefisien regresi untuk masing-masing variabel. Koefisien regresi pada dasarnya menunjukkan apakah pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen bersifat positif atau negatif. Variabel X (Sewa Laha. memiliki koefisien regresi sebesar -0,072. Berdasarkan nilai koefisien regresi tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap penambahan Rp1 sewa lahan akan menyebabkan terjadinya penurunan pendapatan sebesar Rp0,072. Hasil tersebut sejalan dengan hasil penelitian Rohmaniyah et al. berjudul AuAnalisis Usahatani Padi di Selogiri WonogiriAy yang menunjukkan bahwa setiap Rp1 peningkatan sewa lahan memicu terjadinya penurunan pendapatan petani sebesar RpRp0,021. Variabel X (Upah Tenaga Kerj. memiliki koefisien regresi sebesar -0,042, sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap Rp1 kenaikan sewa lahan memicu terjadinya penurunan pendapatan sebesar Rp0,042. Hasil tersebut sejalan dengan hasil penelitian Listiani et al. berjudul AuAnalisis Pendapatan Usahatani Pada Petani Padi di Kecamatan Mlonggo Kabupaten JeparaAy yang menunjukkan bahwa setiap Rp1 peningkatan upah tenaga kerja akan menyebabkan terjadinya penurunan pendapatan petani sebesar Rp0,035. Variabel X (Harga Beni. , memiliki koefisien regresi sebesar -0,003, yang berarti bahwa setiap Rp1 kenaikan harga benih memicu terjadinya penurunan pendapatan petani sebesar Rp0,003. Hasil tersebut sejalan dengan hasil penelitian Ratnawati . berjudul AuMekanisasi Usahatani Padi di Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2303-2320 Kecamatan Sananwetan Kota BlitarAy yang menunjukkan bahwa setiap Rp1 kenaikan harga benih memicu terjadinya penurunan pendapatan sebesar Rp0,285. Variabel X (Harga Pupu. koefisien regresi sebesar -872. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa setiap Rp1 kenaikan harga pupuk akan menyebabkan terjadinya penurunan pendapatan sebesar Rp0,872. Hasil tersebut sejalan dengan hasil penelitian Rohamaniyah et al. berjudul AuAnalisis Usahatani Padi di Selogiri WonogiriAy yang menunjukkan bahwa setiap Rp1 kenaikan harga pupuk menyebabkan terjadinya penurunan pendapatan sebesar Rp0,871. Variabel X (Harga Pestisid. memiliki koefisien regresi sebesar -0,060. Hasil analisis tersebut mencerminkan bahwa variabel X (Harga Pestisid. secara parsial tidak berpengaruh terhadap variabel Y (Pendapata. Hasil tersebut sejalan dengan hasil penelitian Rusman et al. berjudul AuPengaruh Harga Input Produksi terhadap Pendapatan Usahatani Padi Sawah Irigasi di Kecamatan Bone-bone Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi SelatanAy yang menunjukkan bahwa setiap Rp1 kenaikan harga pestisida memicu terjadinya penurunan pendapatan sebesar Rp293. Variabel X (Produks. memiliki koefisien regresi sebesar 1,193, yang berarti bahwa setiap 1 kg kenaikan produksi akan mendorong peningkatan pendapatan sebesar Rp1,193. Hasil tersebut sejalan dengan hasil penelitian Nazizah et al. berjudul AuFaktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Padi Bersertifikat di Desa Bukek Kecamatan Tlanakan Kabupaten PamekasanAy yang menunjukkan hasil bahwa setiap 1 satuan kenaikan produksi mendorong kenaikan pendapatan sebesar Rp12,441. Variabel X (Harga Jua. memiliki koefisien regresi sebesar 0,043, sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap Rp1 kenaikan harga jual akan menyebabkan terjadinya peningkatan pendapatan sebesar Rp0,043. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian Aisyah & Yunus . berjudul AuDampak Luas Lahan. Harga Jual. Hasil Produksi, dan Biaya Produksi terhadap Pendapatan Petani PadiAy yang menunjukkan hasil bahwa setiap Rp1 kenaikan harga jual akan meningkatkan pendapatan petani sebesar Rp1,78. Berdasarkan hasil uji SPSS pada Tabel 27. , dapat diketahui pula bahwa nilai adjusted R adalah sebesar 0,954. Hal tersebut berarti bahwa kontribusi variabel independen yang meliputi X (Sewa Laha. X (Upah Tenaga Kerj. X (Harga Beni. X (Harga Pupu. X (Harga Pestisid. X (Produks. , dan X (Harga Jua. dalam menjelaskan pengaruhnya terhadap variabel dependen adalah sebesar 95%, sedangkan sisanya, yakni 0,5% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian. Menurut pendapat Ariani et al. , nilai adjusted R yang mendekati 1 mengindikasikan bahwa kemampuan variabel independen dalam menjelaskan pengaruhnya terhadap variabel dependen sangat baik. Uji Hipotesis Uji hipotesis pada penelitian ini meliputi uji One Sample t-test yang digunakan untuk menguji hipotesis pertama, yakni diduga terdapat perbedaan antara pendapatan petani dan UMK Kabupaten Pati dan uji One Sample t-test yang digunakan untuk menjawab hipotesis penelitian kedua, yakni diduga terdapat perbedaan antara profitabilitas usahatani padi dan suku bunga kredit BRI. Uji One Sample t-test Pendapatan Tabel 5. Hasil Uji SPSS Keterangan Nilai Pendapatan Petani Rp2. UMK Kabupaten Pati Rp2. Sig . -taile. 0,014 Sumber: Analisis Data Primer . Berdasarkan hasil uji SPSS pada Tabel 5. , dapat diketahui bahwa nilai signifikansi adalah sebesar 0,014. Menurut pendapat Fadli et al. , pengambilan keputusan untuk uji One Sample t-test didasarkan pada pedoman berikut. Jika nilai signifikansi O 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Jika nilai signifikansi > 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Analisis Profitabilitas Usahatani Padi (Oryza sativa L) di Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati Nur Maulinda Fatmah. Agus Setiadi. Titik Ekowati Berdasarkan nilai signifikansi yang telah diketahui, maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti bahwa terdapat perbedaan antara pendapatan petani padi di Kecamatan Pucakwangi dengan UMK Kabupaten Pati. Rata-rata pendapatan yang diperoleh petani padi adalah sebesar 9. 583/0,28 ha/MT atau Rp2. 395/bulan. Rata-rata pendapatan tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan UMK Kabupaten Pati yang besarnya adalah Rp2. sehingga usahatani padi dapat dikatakan layak untuk dijalankan. Uji One Sample t-test Profitabilitas Tabel 6. Hasil Uji SPSS Keterangan Profitabilitas Usahatani Suku Bunga Kredit BRI Sig . -taile. Nilai 0,000 Sumber: Analisis Data Primer . Berdasarkan hasil uji One Sample t-test pada Tabel 6. , dapat diketahui bahwa nilai signifikansi adalah 0,000, yang berarti bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara profitabilitas usahatani padi di Kecamatan Pucakwangi dengan suku bunga kredit BRI. Rata-rata profitabilitas usahatani padi adalah 308%. Rata-rata profitabilitas tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan suku bunga kredit BRI yang besarnya adalah 6% untuk jangka waktu 1 tahun, sehingga dapat disimpulkan bahwa usahatani padi yang dijalankan oleh petani bersifat menguntungkan dan petani layak untuk diberikan pinjaman. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa Deaz et al. dalam Fadli et al. yang menyatakan bahwa nilai profitabilitas usahatani yang lebih besar dari suku bunga kredit bank menunjukkan bahwa usahatani tersebut bersifat menguntungkan dan petani yang menjalankan dianggap layak untuk menerima pinjaman. KESIMPULAN Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dijabarkan, dapat disimpulkan bahwa: Rata-rata pendapatan yang diperoleh petani padi di Kecamatan Pucakwangi adalah sebesar Rp9. 583/0,28 ha/MT atau Rp33. 291/ha/MT. Rata-rata pendapatan petani setiap bulan adalah Rp2. 395/bulan. Berdasarkan hasil Uji One Sample t-test, dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pendapatan yang diperoleh petani padi dan UMK Kabupaten Pati. Rata-rata pendapatan petani yang nominalnya adalah Rp2. 395/bulan lebih besar jika dibandingkan dengan UMK Kabupaten Pati yang nominalnya adalah Rp2. Rata-rata profitabilitas usahatani padi di Kecamatan Pucakwangi adalah sebesar 308%. Berdasarkan hasil Uji One Sample t-test, dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara profitabilitas usahatani padi dan suku bunga deposito BRI. Rata-rata profitabilitas usahatani padi yang nilainya adalah 308% lebih tinggi jika dibandingkan dengan suku bunga kredit BRI yang nilainya adalah 6% untuk jangka waktu 1 tahun. Berdasarkan hasil Uji F, dapat diketahui bahwa variabel sewa lahan, upah tenaga kerja, harga benih, harga pupuk, harga pestisida, produksi, dan harga jual secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani padi. Berdasarkan hasil Uji t, dapat diketahui bahwa variabel sewa lahan, harga pupuk, produksi, dan harga jual secara parsial berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani padi, sedangkan variabel upah tenaga kerja, harga benih, dan harga pestisida secara parsial dinyatakan tidak berpengaruh terhadap pendapatan petani padi. Saran Mengacu pada hasil penelitian, petani perlu melakukan perbaikan dalam penggunaan input-input produksi serta pengetahuan terhadap harga jual di pasaran. Petani perlu menyesuaikan takaran pupuk dan pestisida yang digunakan dengan takaran yang direkomendasikan untuk dapat mencapai hasil panen dengan kualitas yang lebih baik dan kuantitas yang lebih besar. Petani juga perlu memahami perkembangan harga jual gabah di pasaran, sehingga mampu memperoleh penawaran Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2303-2320 harga yang sesuai dari pihak tengkulak dan mengurangi risiko terjadinya kerugian akibat harga jual yang terlalu rendah. DAFTAR PUSTAKA