Russal Reindy Neonufa: Dread and Hope-Christian Eschatology and Pop Culture RESENSI BUKU Dread and Hope: Christian Eschatology and Pop Culture Penulis: Joshua Wise Penerbit: Lexington Books/Fortress Academic Tahun Terbit: 2022 ISBN: 9781978708174 Russal Reindy Neonufa Program Studi Teologi Universitas Kristen Artha Wacana russal1999@gmail. Pada bab pertama, penulis berupaya menampilkan dua paradigma eskatologis yang sering kali mempengaruhi cara kita memandang akhir zaman. Penggambaran narasi kehancuran . dibedakan antara perspektif tradisi keagamaan dan perspektif sekuler. Dalam tradisi agama, kehancuran cenderung berkaitan dengan kehendak atau hukuman dari entitas ilahi. Dengan kata lain, kehancuran merupakan konsekuensi atas tindakan moral dan Sedangkan, narasi sekuler justru membaca kehancuran sebagai akibat dari faktorfaktor manusiawi seperti perang, bencana alam, atau gagalnya sistem politik. Artinya, kehancuran dalam perspektif sekuler dipandang dari sisi fisik dan sosial. Selanjutnya, tradisi agama melihat solusi atau harapan setelah kehancuran dalam dimensi campur tangan ilahi. Tradisi sekuler justru menempatkan solusi dan harapan pada tindakan manusia, seperti upaya untuk membangun kembali masyarakat, mencari solusi ilmiah, atau mengatasi masalah sosial dan politik. Pada bab kedua, penulis hendak menampilkan bahwa penceritaan tentang figur penyelamat atau pahlawan selalu mengikuti kehancuran yang disebabkan oleh figur Dalam hal ini, figur penindas adalah sosok yang menghancurkan dalam narasi eskatologis sehingga ada harapan akan munculnya sang Mesias. Menariknya, penulis menunjukkan adanya berbagai variasi pemahaman tentang figur penindas. Sejak lama, gereja memandang figur penindas sebagai sosok nyata AuantikristusAy atau representasi dari kekuatan jahat yang ada di dunia ini. Di sisi lain, figur penindas dalam budaya populer Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 147-151 muncul dalam praktik okultisme dan satanisme yang muncul pada tahun 1960-an. Adapun representasi figur penindas dalam film-film yang mengambil sudut pandang Marxis dalam Dengan kata lain, figur penindas dalam budaya populer sering kali mengambil sudut pandang yang lebih dramatis dan cenderung tidak sejalan dengan ajaran agama. Pada bab ketiga, penulis menjelaskan gagasan tentang parousia dalam tradisi Kristen serta signifikansinya dalam budaya populer. Gagasan tentang kedatangan kedua Kristus dalam tradisi Kristen berasal dari ajaran-ajaran Yesus dan tulisan-tulisan Perjanjian Baru dalam Alkitab. Para pengikut awal Yesus percaya bahwa Yesus akan kembali pada akhir zaman untuk mengadili dunia dan membawa kerajaan Allah yang sempurna. Kendati demikian, pemahaman tentang kedatangan kedua Kristus dalam tradisi Kristen bervariasi. Beberapa pemahaman menggambarkan kedatangan kedua sebagai peristiwa yang akan terjadi secara tiba-tiba dan tidak terduga, seperti pencuri di malam hari, sedangkan yang lain menggambarkan kedatangan kedua dengan pertanda-pertanda yang jelas. Hal yang penting ialah bahwa parousia mengungkapkan karakter Yesus sebagai sosok yang adil . arasi penghakima. dan penuh belas kasih . arasi penyelamata. Dalam konteks budaya populer, tema ini sering kali digunakan untuk menggambarkan kedatangan kembali pahlawan yang hilang atau teman yang sangat dibutuhkan. Meskipun parousia jarang muncul secara harfiah dalam karya-karya populer, konsep ini tetap memiliki signifikansi dalam menggambarkan harapan akan kedatangan kembali yang mulia dan pembebasan akhir bagi umat manusia. Pada bab keempat, penulis bertujuan mengeksplorasi konsep kebangkitan dalam teologi Kristen dan pengaruhnya terhadap budaya populer. Dalam tradisi Kristen, doktrin kebangkitan dipahami sebagai keyakinan bahwa setelah kematian, tubuh manusia akan bangkit kembali pada akhir zaman. Keyakinan ini didasarkan pada ajaran Alkitab dan pengajaran gereja. Beberapa tokoh penting dalam sejarah Kristen, seperti Athenagoras. Justin Martyr, dan Irenaeus, telah membela kebangkitan fisik dalam tulisan-tulisan mereka. Mereka menekankan pentingnya tubuh fisik dalam identitas manusia dan menganggap kebangkitan sebagai bagian integral dari iman Kristen. Dalam budaya populer, doktrin kebangkitan mempengaruhi narasi dan representasi tentang kematian dan kehidupan setelah Representasi populer tentang kebangkitan seperti zombie dan vampir tidak sesuai Kristen Namun, mempertimbangkan representasi ini dapat membantu memahami perbedaan dan kesamaan dengan doktrin kebangkitan Kristen. Pada bab kelima, penulis kembali menelaah narasi eskatologis mengenai penghakiman Konsep ini berakar pada sumber alkitabiah yang menunjukkan beberapa tahapan. Russal Reindy Neonufa: Dread and Hope-Christian Eschatology and Pop Culture Pertama, keyakinan bahwa Hari Yahweh adalah hari kemenangan melawan musuh-musuh Yehuda dan Israel. Kedua, hari itu dipahami sebagai kemenangan atas kejahatan di Israel dan Yehuda. Ketiga. Hari Tuhan dipercaya akan memulihkan Yehuda dan Israel sebagai pusat dunia dengan menghancurkan para penindas umat pilihan. Keempat, dalam tradisi Kristen, penghakiman terakhir dipahami sebagai penghakiman dunia oleh YesusAiatau oleh Yesus bersama Bapa. Tahap ini menjadi dasar pemahaman gereja tentang penghakiman terakhir, yang mencakup penghakiman universal pada akhir zaman, penghakiman individu setelah kematian, serta penghakiman melalui salib dan kebangkitan Kristus. Dalam budaya populer, paradigma ini muncul dalam karya-karya fiksi yang menampilkan peralihan dari zaman kejahatan menuju zaman kebaikan, di mana keadilan ditegakkan dengan menghancurkan kejahatan. Contohnya dapat ditemukan dalam seri Left Behind dan novel The Last Battle karya C. Lewis. Pada bab keenam, penulis fokus pada doktrin neraka sebagai salah satu elemen penting dalam eskatologi Kristen. Asal usul doktrin neraka dalam tradisi Kristen sedikit banyak dipengaruhi oleh paradigma yang dibentuk dalam Hebrew Bible bahwa Allah akan menghancurkan musuh-musuh-Nya dengan api. Selanjutnya, perkembangan gereja memunculkan dua pandangan terhadap neraka, yakni sebagai pemusnahan musuh-musuh Allah dan pemurnian orang jahat. Adapun pandangan dalam teologi universalisme yang menyatakan bahwa neraka tidak akan menjadi tempat hukuman yang abadi melainkan akan ada kesempatan bagi jiwa yang hilang untuk diperbaiki. Pandangan yang beragam tersebut turut mempengaruhi paradigma neraka dalam budaya populer. Setidaknya penulis mengemukakan tiga paradigma neraka dalam budaya populer, yakni sebagai Aurumah setanAy, keprihatinan serius terhadap akhirat, dan subjek humor. Pada bab ketujuh, penulis menyoroti konsep eskatologis surga serta pengaruhnya dalam budaya populer. Pada masa patristik, ada dua posisi dominan dalam pemahaman tentang surga. Origen percaya pada konsep metempsychosis, di mana jiwa berpindah antar Di sisi lain. Agustinus percaya bahwa tubuh fisik yang sama akan bangkit pada hari akhir, termasuk rambut dan kuku. Pandangan Agustinus berlaku di Gereja Barat. Selain itu, penulis juga menelusuri konsep surga dalam budaya populer yang cenderung digambarkan sebagai tempat kedamaian dan akhir dari semua kesedihan dan kesulitan. Joshua Wise mengangkat tema teologis yang menarik, yakni konsep eskatologi dengan berbagai elemennya yang sering menimbulkan perbedaan pandangan. Setiap agama dan individu memiliki pemahaman eskatologis yang beragam, sehingga penting membahasnya secara teoretis sekaligus dalam kaitan dengan budaya populer. Kesadaran akan keragaman Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 147-151 ini menolong kita lebih terbuka terhadap pandangan lain dan bersikap kritis terhadap representasi eskatologis dalam hiburan, yang sering kali berorientasi pada aspek komersial. Menurut saya. Wise mendorong sikap bijak dan inklusif dalam menyikapi perbedaan pandangan tersebut. Sikap ini menumbuhkan penghargaan terhadap keberagaman iman, membuka ruang dialog, dan membantu menemukan nilai-nilai bersama di antara berbagai Pemahaman tentang akhir zaman dan penghakiman terakhir juga menolong individu menata prioritas hidup, bertumbuh secara rohani, dan berpegang pada nilai-nilai moral yang Pada akhirnya, refleksi eskatologis memperluas wawasan iman serta memperkuat semangat toleransi dan perdamaian antarbudaya. Buku karya Joshua Wise ini menarik karena berhasil menjembatani dua ranah yang sering terpisah: teologi dan budaya populer. Di tengah derasnya arus hiburan bertema akhir zaman. Wise mengajak pembaca menelusuri akar teologis dari berbagai narasi tersebut. Dengan bahasa yang mudah diikuti namun tetap tajam, buku ini relevan bagi kalangan akademik maupun pembaca awam yang ingin memperdalam refleksi iman. Kekuatan utamanya terletak pada penyajian konsep-konsep eskatologis secara runtutAimulai dari kehancuran, penyelamatan, hingga kebangkitan dan surgaAiserta kemampuannya menghadirkan dialog antara teks-teks iman dan representasi budaya Melalui pendekatan ini. Wise menunjukkan bahwa teologi bukanlah wacana statis, tetapi realitas yang terus hidup di tengah dunia modern. Keterbatasan buku ini muncul pada fokusnya yang dominan pada tradisi Kristen Barat dan contoh budaya populer dari dunia Barat, sehingga konteks lintas agama dan budaya terasa kurang tergarap. Meski demikian, ruang kosong ini justru membuka peluang bagi pembaca untuk memperluas dialog lintas iman dan budaya. Akhirnya, buku ini layak direkomendasikan bagi siapa pun yang ingin memahami iman Kristen secara kontekstual dan terbuka. Bagi mahasiswa teologi, ia menjadi model kajian interdisipliner. bagi pelayan gereja, sumber inspirasi untuk berbicara tentang eskatologi secara penuh harapan. dan bagi pembaca umum, pengingat bahwa bahkan dalam budaya populer sekalipun tersimpan kerinduan akan pembaruan, pengharapan, dan keadilan