Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 1033-1045 Available at: https://journal. id/index. php/jmdb EISSN: 2797-9555 Lingkungan kewirausahaan dan perilaku kewirausahaan sebagai penentu kinerja UMKM: Bukti dari sektor kuliner di Bandar Lampung Nabila*. Ni Putu Widhia Rahayu Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Bandar Lampung. Indonesia *) Korespondensi . -mail: nabila21011084@studentubl. Abstract This study aims to analyze the impact of the entrepreneurial environment and entrepreneurial behavior on MSME performance in Bandar Lampung. The Influence of the entrepreneurial environment and the entrepreneurial behavior of MSMEs in Bandar Lampung, which is not optimal and underdeveloped, is the main obstacle affecting MSME performance in the city. The relationship between these two factors is crucial to supporting the sustainability and development of MSMEs in Bandar Lampung. This study uses a quantitative approach with multiple regression analysis to evaluate the effect of the independent variable on the dependent variable. The respondents in the study were MSMEs in the culinary sector in Kedaton District. Bandar Lampung, with a sample of 62 individuals selected using a simple random sampling method. The analysis showed that the entrepreneurial environment and entrepreneurial behavior, both partially and simultaneously, have a positive and significant Influence on MSME performance. These findings reveal that a conducive entrepreneurial environment and flexible entrepreneurial behavior can improve MSMEs' competitiveness in facing market challenges and technological developments. Therefore, collaborative support from the government, community, and private sector is needed to create a conducive business Keywords: Entrepreneurial Environment. Entrepreneurial Behavior. MSME Performance. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak lingkungan wirausaha dan perilaku kewirausahaan terhadap kinerja UMKM di Bandar Lampung. Pengaruh lingkungan wirausaha dan perilaku kewirausahaan UMKM di Bandar Lampung yang belum optimal dan kurang berkembang menjadi hambatan utama yang memengaruhi kinerja UMKM di Bandar Lampung. Hubungan antara kedua faktor tersebut memiliki peran krusial dalam mendukung keberlanjutan serta perkembangan UMKM di Bandar Lampung. Penelitian ini memakai pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi berganda untuk mengevaluasi pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Responden penelitian adalah pelaku UMKM sektor kuliner di Kecamatan Kedaton. Bandar Lampung, dengan sampel berjumlah 62 orang yang diambil memakai metode sampling acak sederhana. Hasil analisis menunjukkan bahwa lingkungan wirausaha dan perilaku kewirausahaan, baik secara parsial maupun bersamaan, menghadirkan pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja UMKM. Temuan ini mengungkapkan bahwa lingkungan wirausaha yang kondusif serta perilaku kewirausahaan yang fleksibel mampu meningkatkan daya saing UMKM dalam menghadapi tantangan pasar dan perkembangan teknologi. Oleh karena itu, dukungan kolaboratif dari pemerintah, komunitas, dan sektor swasta diperlukan untuk menciptakan ekosistem usaha yang kondusif. Kata kunci: Lingkungan Wirausaha. Perilaku Kewirausahaan. Kinerja UMKM. How to cite: Nabila. , & Rahayu. Lingkungan kewirausahaan dan perilaku kewirausahaan sebagai penentu kinerja UMKM: Bukti dari sektor kuliner di Bandar Lampung. Journal of Management and Digital Business, 5. , 1033Ae1045. https://doi. org/10. 53088/jmdb. Copyright A 2025 by Authors. this is an open-access article under the CC BY-SA License . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 1034 Pendahuluan UMKM di Bandar Lampung memiliki peran strategis dalam menggerakkan perekonomian daerah, terutama melalui kontribusinya dalam menciptakan lapangan kerja dan menjaga stabilitas ekonomi lokal. Salah satu fenomenanya adalah penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 4,23 persen pada Agustus 2023 (Shakpuytri & Rahayu, 2. Namun, di balik peran penting tersebut. UMKM menghadapi berbagai tantangan kompleks yang dapat mengurangi kemampuan bersaing mereka, baik di pasar domestik maupun internasional. Faktor eksternal, seperti lingkungan wirausaha yang belum optimal, serta faktor internal, yakni perilaku kewirausahaan yang kurang berkembang, menjadi hambatan utama yang memengaruhi kinerja UMKM secara keseluruhan. Keterkaitan antara kedua faktor ini memegang peranan penting dalam mendukung keberlanjutan dan pertumbuhan UMKM di tengah perubahan dinamika pasar dan perkembangan teknologi (Adam & Alarifi, 2. Lingkungan wirausaha, sebagai elemen eksternal, menghadirkan dampak signifikan terhadap kemampuan UMKM untuk mengakses pasar, mengoptimalkan efisiensi operasional, dan bersaing secara efektif. Lingkungan yang mendukung biasanya ditandai dengan regulasi yang sederhana, akses pasar yang luas, dan ketersediaan infrastruktur yang memadai. Namun, kenyataan di Bandar Lampung memperlihatkan bahwa banyak pelaku UMKM masih menghadapi hambatan seperti birokrasi yang rumit, infrastruktur yang terbatas, serta dukungan terhadap adopsi teknologi yang masih minim (Chit et al. , 2. Di samping itu, inflasi yang mencapai 4,10 persen pada November 2023 menambah tekanan bagi pelaku UMKM, terutama di sektor agribisnis, dengan kenaikan harga bahan baku yang mengurangi margin keuntungan mereka. Kesulitan akses pembiayaan, akibat prosedur birokrasi yang rumit dan keterbatasan jaminan, juga menjadi tantangan yang signifikan (Haninun et , 2. Permasalahan dengan fakta yang menunjukkan bahwa meskipun memiliki sejumlah kelebihan yang memungkinkan usaha kecil menengah (UKM) dapat bertahan dalam menahan badai krisis. Seorang wirausaha perlu selalu berinovasi dan berpikiran inovatif dalam memanfaatkan peluang, salah satu peluang yang bisa diambil oleh wirausaha adalah pengadopsian keterampilan kewirausahaan. Keterampilan kewirausahaan merujuk pada kegiatan atau pengetahuan yang dapat membangun dan mengoperasikan perusahaan dengan sukses. Dalam penelitian lain yang berkaitan dengan kewirausahaan bisnis kecil, keterampilan kewirausahaan telah dikaitkan dengan karakteristik demografis, psikologis dan perilaku dan keterampilan teknis yang memiliki dampak yang lebih kuat pada kinerja perusahaan. Perilaku kewirausahaan sebagai faktor internal, hal ini juga memiliki peran yang signifikan dalam menetapkan keberhasilan UMKM. Hal ini mencakup kreativitas, inovasi, kemampuan manajemen keuangan, dan orientasi pasar yang membantu pelaku usaha beradaptasi dengan perubahan kebutuhan pasar dan teknologi. Namun, banyak pelaku UMKM di Bandar Lampung masih memakai metode tradisional dalam Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 1035 menjalankan usaha, sehingga sulit bersaing di era digital. Minimnya literasi digital dan keengganan untuk mengadopsi teknologi modern menjadi kendala utama dalam memanfaatkan potensi pasar yang lebih luas. Penelitian sebelumnya memperlihatkan bahwa perilaku kewirausahaan yang inovatif, seperti memanfaatkan platform e-commerce, dapat mengoptimalkan efisiensi operasional sekaligus memperluas jangkauan pasar (Shakpuytri & Rahayu, 2. Interaksi antara lingkungan wirausaha dan perilaku kewirausahaan menjadi kunci dalam menetapkan kinerja UMKM. Lingkungan yang mendukung dapat mendorong pelaku usaha untuk lebih inovatif dan proaktif dalam memanfaatkan peluang, sementara perilaku kewirausahaan yang adaptif dapat membantu UMKM mengoptimalkan potensi yang ada di lingkungan tersebut. Sebaliknya, lingkungan yang kurang mendukung sering kali menghambat kreativitas dan inovasi, sehingga membatasi kemampuan UMKM untuk bersaing secara efektif. Dalam konteks Bandar Lampung, hubungan antara kedua faktor ini menjadi semakin relevan karena tantangan yang dihadapi UMKM terus meningkat, baik dari sisi tekanan ekonomi maupun perubahan teknologi (Sulastri & Rahayu, 2. Kurangnya penelitian yang secara spesifik mengkaji keterkaitan antara lingkungan wirausaha dan perilaku kewirausahaan terhadap kinerja UMKM menimbulkan kesenjangan penelitian. Sebagian besar studi terdahulu hanya berfokus pada salah satu faktor, seperti strategi pemasaran berbasis digital atau pengaruh perilaku kewirausahaan secara individual, tanpa menyoroti bagaimana kedua faktor ini saling Padahal, pemahaman yang lebih mendalam mengenai keterkaitan tersebut sangat penting untuk merumuskan strategi yang efektif dalam mendukung pertumbuhan UMKM. Lingkungan wirausaha yang kondusif dapat menciptakan peluang bagi pelaku UMKM untuk lebih inovatif, sementara perilaku kewirausahaan yang responsif dan proaktif dapat mengoptimalkan potensi lingkungan untuk mengoptimalkan daya saing (Rahayu & Cahyani, 2023. Shakpuytri & Rahayu, 2. Penelitian ini bermaksud guna mengevaluasi pengaruh lingkungan wirausaha dan perilaku kewirausahaan terhadap kinerja UMKM di Bandar Lampung. Dengan memahami hubungan kedua faktor tersebut, penelitian ini diharapkan dapat menghadirkan rekomendasi strategis yang komprehensif. Strategi tersebut meliputi penyederhanaan regulasi, peningkatan akses pembiayaan dan infrastruktur, serta pelatihan yang mendorong perilaku kewirausahaan inovatif dan berorientasi pasar. Kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas lokal sangat dibutuhkan untuk membangun ekosistem bisnis yang dapat mendukung pertumbuhan UMKM secara berkelanjutan (Haninun et al. , 2024. Shakpuytri & Rahayu, 2. Berdasarkan permasalahan dan latar belakang di atas, maka terlihat beberapa fenomena yang menarik untuk diteliti mengenai kinerja UMKM di Bandar Lampung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lingkungan wirausaha dan perilaku kewirausahaan terhadap kinerja UMKM di Bandar Lampung. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan yang mampu mendorong inovasi dan daya saing UMKM, serta memahami peran perilaku kewirausahaan dalam meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan usaha. Hasil Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 1036 penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi dasar bagi pelaku UMKM dan pemangku kepentingan dalam merumuskan strategi pengembangan UMKM yang lebih efektif dan Tinjauan Pustaka Lingkungan Wirausaha Lingkungan wirausaha adalah faktor eksternal yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja UMKM. Lingkungan yang mendukung mencakup akses pasar, kebijakan pemerintah, dan infrastruktur yang memadai (Luo et al. , 2. Penelitian oleh (Shakpuytri & Rahayu, 2. memperlihatkan bahwa implementasi strategi pemasaran berbasis e-commerce dapat memaksimalkan potensi UMKM di Bandar Lampung. Teknologi ini tidak hanya mengoptimalkan efisiensi operasional, tetapi juga memberikan peluang untuk mengakses pasar yang lebih besar, sehingga menciptakan iklim usaha yang lebih bersaing. Dukungan pemerintah melalui pelatihan dan bantuan teknis juga menjadi elemen kunci dalam memperkuat daya saing UMKM. Lingkungan yang memfasilitasi adopsi teknologi dapat mendorong pelaku usaha untuk lebih inovatif dan proaktif dalam menghadapi tantangan pasar. Keterlibatan keluarga dalam pengelolaan UMKM seringkali menghadirkan keunggulan kompetitif yang unik. Indikator yang digunakan dalam variabel lingkungan wirasausaha sebagai berikut antara lain: akses pasar, dukungan pemerintah, dan kondisi ekonomi makro (Janah & Tampubolon, 2. Perilaku Kewirausahaan Perilaku kewirausahaan adalah reaksi maupun respon positif yang dilakukan oleh individu untuk menciptakan suatu bentuk usaha baru . aik barang maupun jas. melalui cara-cara yang mandiri, kreatif, inovatif, kerja keras bahkan beresiko agar memperoleh keuntungan supaya kebutuhan hidupnya terpenuhi (Rinawati et al. , 2. Perilaku kewirausahaan merupakan faktor internal yang mencerminkan sikap, keterampilan, dan tindakan seorang wirausahawan dalam menjalankan bisnisnya (Li et al. , 2. Penelitian memperlihatkan bahwa perilaku kewirausahaan yang proaktif, inovatif, dan berorientasi pada pasar dapat mengoptimalkan daya saing UMKM di Bandar Lampung, terutama melalui pemanfaatan e-commerce. Sikap adaptif terhadap teknologi ini memungkinkan pelaku UMKM untuk merespons perubahan kebutuhan konsumen dengan cepat. Kreativitas dan inovasi juga menjadi elemen penting dalam perilaku kewirausahaan. Adapun indikator dalam menentukan perilaku kewirausahaan menurut Harini et al. sebagai berikut: inovasi dan kreativitas, orientasi pasar, dan manajemen keuangan. Kinerja UMKM Kinerja UMKM adalah hasil kerja yang dilakukan oleh seorang individu, yang dapat dicapai dalam organisasi dan dalam jangka waktu tertentu dalam tugas individu, dan terkait dengan ukuran nilai atau standar organisasi (Subagyo et al. , 2. Perusahaan tempat orang tersebut bekerja (Dewi et al. , 2. Kinerja UMKM mencerminkan sejauh mana sebuah usaha mampu mencapai tujuannya, baik dari segi profitabilitas, efisiensi operasional, maupun kepuasan pelanggan. Dalam pemasaran, efisiensi Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 1037 saluran distribusi juga berperan penting dalam menetapkan kinerja UMKM. Sebagaimana Chittithaworn et al. UMKM yang mampu mengelola saluran distribusinya secara efisien, seperti pada pemasaran jamur tiram, cenderung memiliki margin keuntungan yang lebih tinggi. Lalu indikator yang digunakan ialah (MuAoat, 2. : Keuangan meliputi profitabilitas dan likuiditas, selanjutnya non-Keuangan meliputi Kepuasan Pelanggan dan Loyalitas Pelanggan. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk menganalisis pengaruh lingkungan wirausaha dan perilaku kewirausahaan terhadap kinerja UMKM sektor kuliner di Kecamatan Kedaton. Bandar Lampung. Pendekatan kuantitatif dipilih karena memungkinkan pengujian hipotesis secara objektif melalui analisis data numerik (Creswell, 2. Populasi penelitian berjumlah 72 pelaku UMKM, dan penentuan sampel dilakukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 5% (Sugiyono, 2. , sehingga diperoleh 62 responden yang dipilih melalui teknik random Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner tertutup dengan Skala Likert 5 poin sebagai instrumen penelitian. Notasi STS Tabel 1. Skala Likert Pertanyaan Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Bobot Data diolah peneliti, 2024 Skala likert digunakan karena memiliki kelebihan dibandingkan jenis lainnya yakni mudah digunakan. Selanjutnya Skala likert dapat memberikan informasi yang lebih realistis dan jelas tentang pandangan dan sikap responden terhadap subjek yang bersangkutan, mulai dari sangat positif hingga negatif. Pengumpulan data dijalankan melalui survei memakai kuesioner yang disebarkan langsung kepada para responden di lokasi. Dalam prosesnya, peneliti menghadirkan penjelasan mengenai tujuan penelitian dan menjamin kerahasiaan data responden sesuai dengan etika penelitian sosial (Neuman, 2. Analisis data menggunakan regresi linier berganda. Pengolahan dan analisi data menggunakan software program SPSS 27. Ukuran statistik ini digunakan untuk menguji hubungan antara sebuah variabel dependen dengan satu variabel Analisis data dijalankan dengan berbagai metode, termasuk uji validitas dan reliabilitas, analisis deskriptif, serta analisis regresi berganda. Uji validitas dijalankan memakai korelasi Pearson, sedangkan reliabilitasnya diuji melalui Cronbach's alpha untuk memastikan bahwa instrumen memiliki tingkat akurasi dan konsistensi yang memadai (Hair et al. , 2. Dan analisis Regresi Berganda dijalankan guna mendapatkan informasi pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 1038 Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Uji Validitas Uji validitas digunakan untuk mengukur tingkat keabsahan kuesioner, yaitu sejauh mana butir-butir pertanyaan mampu mengungkapkan apa yang seharusnya diukur (Ghozali, 2. Suatu item dinyatakan valid apabila nilai r hitung lebih besar dari r tabel, dan dinyatakan tidak valid apabila nilai r hitung lebih kecil dari r tabel. Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, seluruh indikator pertanyaan memiliki nilai r hitung lebih besar dari r tabel sebesar 0,2500, sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh item pernyataan dalam kuesioner dinyatakan valid dan layak digunakan sebagai instrumen penelitian. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi suatu instrumen dalam menghasilkan data yang stabil apabila digunakan berulang kali untuk mengukur objek yang sama (Jogiyanto, 2. Instrumen dinyatakan reliabel apabila nilai CronbachAos Alpha lebih besar dari 0,60, sedangkan apabila nilainya kurang dari 0,60 maka instrumen dianggap tidak reliabel. Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, seluruh variabel penelitian memiliki nilai CronbachAos Alpha > 0,60, sehingga dapat disimpulkan bahwa instrumen yang digunakan telah memenuhi kriteria reliabilitas dan layak digunakan dalam penelitian. Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik yang pertama adalah uji normalitas yang dilakukan untuk mengetahui apakah data pada setiap variabel penelitian, khususnya nilai residual dalam model regresi, berdistribusi normal atau tidak (Ghozali, 2. Pengambilan keputusan didasarkan pada nilai signifikansi, di mana apabila nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka residual dinyatakan berdistribusi normal, sedangkan apabila nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka residual dinyatakan tidak berdistribusi normal. Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Statistik Mean Std. Dev Kolmogorov-Smirnov Z Sig. -taile. Nilai 3,26 0,098 Berdasarkan hasil analisis Tabel 2, diperoleh nilai sig . -taile. 0,200 Lebih besar 0,05 maka data berdistribusi normal. Dengan demikian, model regresi yang digunakan dalam penelitian ini memenuhi asumsi normalitas. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi residual tidak menyimpang secara signifikan dari distribusi normal, sehingga analisis statistik selanjutnya, seperti uji regresi linear, dapat dilakukan dengan valid. Asumsi normalitas yang terpenuhi ini juga memperkuat keandalan hasil penelitian dalam menguji pengaruh lingkungan wirausaha dan perilaku kewirausahaan terhadap Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 1039 kinerja UMKM di Bandar Lampung. Selanjutnya, peneliti dapat melanjutkan ke uji Uji multikolinearitas, sebagaimana dijelaskan oleh Ghozali . , bertujuan untuk mengidentifikasi adanya hubungan yang signifikan antar variabel independen dalam model regresi. Dasar pengambilan keputusan dalam pengujian ini menurut Ghozali . menyatakan bahwa gejala multikolinearitas tidak terjadi apabila nilai Tolerance lebih besar dari 0,100 dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) tidak melebihi 10,00. Dengan demikian, pemeriksaan multikolinearitas diperlukan untuk memastikan bahwa variabel independen dalam model regresi tidak saling memengaruhi secara berlebihan, sehingga hasil analisis regresi dapat diinterpretasikan secara valid dan reliabel. Tabel 3. Terkait Uji Multikolinears Model Tolerance VIF Lingkungan (X. 0,681 1,469 Perilaku (X. 0,681 1,469 Mengacu pada Berdasarkan hasil pengujian, angka tolerance untuk X1 . dan X2 . lebih besar dari 0,100, serta angka VIF untuk X1 . dan X2 . lebih rendah dari 10,00. Ini menunjukkan bahwa tidak ada gejala multikolinearitas. Dengan demikian, kedua variabel independen dapat digunakan secara bersamaan dalam analisis regresi tanpa risiko distorsi akibat hubungan linear yang kuat di antara Kondisi ini memastikan bahwa koefisien regresi yang diperoleh dapat diinterpretasikan secara akurat dan mencerminkan pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Uji asumsi klasik selanjutnya adalah uji heteroskedastisitas. Mengacu pada hasil penelitian, uji heteroskedastisitas pada Tabel 4 memperlihatkan bahwa tidak terdapat heteroskedastisitas pada model regresi. Hal ini terlihat dari angka masing-masing nilai sig > 0,05. Dengan demikian, model ini valid untuk dipakai dalam analisis lanjutan tanpa adanya bias akibat variabilitas galat yang tidak konstan. Tabel 4. Uji Heterokedastisitas Model Koefisien Std. Eror (Constan. -0,513 1,930 -0,266 Lingkungan (X. 0,025 0,084 0,295 Perilaku (X. 0,099 0,087 1,140 Sig. 0,791 0,769 0,259 Analisis Deskriptif Tabel 5. Hasil Analisis Deskripsif Minimum Maximum Mean Std. Deviation 31,02 4,503 22,60 3,748 24,84 3,622 Mengacu pada Tabel 5, terdapat 62 sampel yang dianalisis untuk tiga variabel, yaitu Y. X1, dan X2. Variabel Y memiliki angka terendah sebanyak 23 dan angka paling tinggi 40, dengan rata-rata . 31,02 dan simpangan baku sebanyak 4,503, yang memperlihatkan bahwa angka Y cenderung tersebar secara moderat di sekitar ratarata. Variabel X1 memiliki angka terendah 14 dan angka paling tinggi 30, dengan rata- Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 1040 rata 22,60 dan simpangan baku sebanyak 3,748, mengindikasikan data yang cukup konsisten di sekitar rata-rata. Sementara itu, variabel X2 memiliki angka terendah 17 dan angka paling tinggi 30, dengan rata-rata 24,84 dan simpangan baku sebanyak 3,622, yang memperlihatkan tingkat variabilitas yang serupa dengan X1. Uji Regresi Linier Berganda Tabel 6. Hasil Uji Regresi Linier Berganda Model Koefisien Std. Eror t Sig. (Constan. 8,371 3,142 2,664 0,010 Lingkungan (X. 0,463 0,137 3,376 0,001 Perilaku (X. 0,490 0,142 3,452 0,001 R Square 0,476 Adjusted R Square 0,458 26,799 Sig. 0,000 Pengujian pengaruh secara parsial merujuk pada Tabel 6, diperoleh nilai t hitung variabel lingkungan sebanyak 3. 376 yang melampaui t tabel 2. 000, dengan angka signifikansi . yang berada di bawah 0. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa variabel lingkungan menghadirkan dampak positif dan berarti terhadap kinerja. Selain itu, merujuk pada analisis yang sama, variabel perilaku memperoleh nilai thitung 452 yang melampaui ttabel 2. 000, dengan angka signifikansi . yang juga berada di bawah 0. Kondisi ini mengindikasikan bahwa variabel perilaku menghadirkan dampak positif dan berarti terhadap kinerja. Pengujian secara simultan, menunjukkan Fhitung sejumlah 26. 799 yang melampaui Ftabel sejumlah 4. 004, serta angka sig sejumlah 0. 000 yang berada di bawah 0. demikian diketahui bahwa variabel X1 dan X2 secara simultan menghadirkan dampak positif dan signifikan pada variabel Y. Selain itu hasil uji koefisien determinasi menunjukkan nilai R sebesar 0,690, yang mengindikasikan adanya hubungan yang cukup kuat antara variabel independen, yaitu lingkungan wirausaha (X. dan perilaku kewirausahaan (X. , dengan variabel dependen, yakni kinerja UMKM. Nilai R Square sebesar 0,476 mengartikan bahwa 47,6% variasi kinerja UMKM dapat dijelaskan oleh kedua variabel independen tersebut, sedangkan sisanya sebesar 52,4% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. Pembahasan Lingkungan Wirausaha dan Kinerja UMKM di Bandar Lampung Hasil penelitian membuktikan bahwa lingkungan Wirausaha berpengaruh terhadap Kinerja UMKM. Hal ini dikarenakan faktor-faktor eksternal seperti kemudahan akses permodalan, ketersediaan infrastruktur, dan dukungan regulasi pemerintah secara langsung memengaruhi kemampuan UMKM untuk tumbuh dan berkembang. Misalnya, kebijakan pemerintah daerah yang mempermudah perizinan usaha dan menyediakan program pelatihan kewirausahaan dapat menstimulasi inovasi dan daya saing. Sebaliknya, birokrasi yang rumit atau kurangnya akses ke sumber daya finansial dapat menghambat laju ekspansi bisnis. Oleh karena itu, lingkungan yang kondusif, yang Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 1041 ditandai dengan sinergi antara kebijakan publik dan ekosistem pendukung, menjadi fondasi utama bagi peningkatan kinerja dan keberlanjutan UMKM di kota tersebut. Lingkungan . merupakan salah satu faktor yang sangat diperhitungkan dalam pengelolaan kegiatan bisnis. Lingkungan sangat berpengaruh dalam perencanaan strategi bisnis. Lingkungan usaha dapat menjadi pendorong maupun penghambat jalanya perusahaan. Lingkungan yang dapat mempengaruhi jalannya usaha/ perusahaan adalah lingkungan internal dan eksternal. Lingkungan memegang peranan yang sangat penting dalam bisnis dan perencanaan bisnis baik eksternal maupun internal, karena lingkungan memiliki ketidakpastian dan dapat berubah sangat cepat, sehingga apakah lingkungan tersebut menguntungkan atau mengancam keberlangsungan bisnis (Leuhery, 2. Penelitian ini sejalan dengan Pereira & Rini . dengan hasil penelitian bahwa lingkungan eksternal terbukti memberikan pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja UKM. Hal ini berarti semakin rendah lingkungan eksternal maka akan meningkatkan kinerja UKM di Kota Sorong. Dan penelitian yang dilakukan oleh Faza & Solihin . yang menunjukkan bahwa faktor eksternal penting memengaruhi pertumbuhan UMKM dengan adanya usaha-usaha pesaing dan iklim ekonomi, serta kebijakan pemerintah untuk melindungi persaingan yang tidak sehat. Sedangkan faktor internal berupa fasilitas fisik, modal kerja, dan sumber daya manusia sangat penting dioptimalkan untuk menunjang pertumbuhan dan pemberdayaan perusahaan. Perilaku Kewirausahaan dan Kinerja UMKM di Bandar Lampung Hasil penelitian membuktikan bahwa perilaku kewirausahaan berpengaruh terhadap kinerja UMKM. Hal ini menunjukkan bahwa sikap dan tindakan inovatif, proaktif, dan berani mengambil risiko yang dimiliki oleh para wirausahawan menjadi faktor kunci dalam mendorong pertumbuhan dan keberlanjutan usaha mereka. UMKM yang dikelola oleh individu dengan perilaku kewirausahaan yang kuat cenderung lebih adaptif terhadap perubahan pasar, mampu menciptakan produk atau layanan baru yang relevan, serta memiliki strategi pemasaran yang lebih efektif. Dengan kata lain, kemampuan untuk mengidentifikasi peluang, berinovasi, dan mengelola tantangan secara dinamis secara langsung berkontribusi pada peningkatan profitabilitas, pangsa pasar, dan daya saing UMKM di tengah dinamika ekonomi dan teknologi. Karenanya untuk meningkatkan kinerja usaha dari suatu perusahaan atau usaha, perusahaan perlu memiliki karakteristik perilaku interaksi sosial yang baik, dan perusahaan juga perlu terus mengasah keterampilan kewirausahaannya dengan menambah ilmu pengetahuan untuk membangun dan mengoprasikan perusahaan dengan bantuan dari penggunaan sumber daya untuk mencapai keunggulan yang kompetitif yang diharapkan oleh perusahaan. Keterampilan dan keyakinan kewirausahaan sangat penting bagi perusahaan karena hubungannya dengan proses kognitif dan serangkaian keterampilan (Faza & Solihin, 2. Hasil penelitian ini juga selaras dengan hasil penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Zeb & Ihsan . pada UMKM di Pakistan mendapatkan hasil adanya hubungan langsung yang signifikan antara kewirausahaan, inovasi dan kinerja Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 1042 Dan penelitian yang dilakukan oleh Hariroh et al. pada UMKM di Desa Tridaya Tambun Selatan mendapatkan hasil bahwa perilaku kewirausahaan memiliki pengaruh signifikan terhadap keberhasilan usaha. Jadi bisa dikatakan bahwa hipotesis kedua pada penelitian ini yaitu perilaku kewirausahaan berpengaruh signifikan terhadap kinerja UMKM dapat diterima. Lingkungan Wirausaha dan Perilaku Kewirausahaan Terhadap Kinerja UMKM di Bandar Lampung Hasil penelitian membuktikan bahwa lingkungan wirausaha dan perilaku kewirausahaan secara simultan berpengaruh terhadap kinerja UMKM. Hal ini juga menandakan bahwa kedua faktor tersebut tidak bekerja secara terpisah, melainkan saling melengkapi dan menguatkan untuk mencapai kinerja usaha yang optimal. Lingkungan wirausaha yang mendukung, seperti kemudahan regulasi, akses ke pasar yang lebih luas, dan ketersediaan infrastruktur teknologi, menjadi fondasi bagi UMKM untuk berkembang. Namun, lingkungan yang kondusif saja tidak cukup. Dibutuhkan perilaku kewirausahaan yang adaptif dan inovatif dari pelaku UMKM itu sendiri, seperti kemampuan untuk jeli melihat peluang, berani mengambil risiko, dan terus berinovasi dalam produk maupun proses bisnis. Sinergi antara lingkungan yang mendukung dan perilaku proaktif inilah yang secara bersama-sama mendorong UMKM di Bandar Lampung menjadi lebih tangguh, kompetitif, dan berkelanjutan di tengah dinamika pasar yang terus berubah. Lingkungan eksternal merujuk pada faktor-faktor dan kekuatan yang berada di luar organisasi namun mempengaruhi kinerja organisasi. Dalam konsep ini bisnis sebagai suatu sistem organisasi yang menjadi satu kesatuan dengan sistem lain yaitu lingkungan yang melingkupinya. Lingkungan eksternal adalah segala sesuatu yang berasal dari luar organisasi itu sendiri yang mempunyai pengaruh terhadap organisasi. Lingkungan eksternal didefenisikan sebagai keterkaitan faktor fisik dan sosial di luar organisasi yang menjadi pertimbangan sebuah organisasi dalam mengambil keputusan (Julianto & Carnarez, 2. Perusahaan perlu mengadopsi karakateristik keterampilan kewirausahaan yang melibatkan interaksi dalam suatu lingkungan sosial dan material yang berguna untuk merujuk pada kegiatan atau pengetahuan yang dapat menciptakan kesuksesan bagi perusahaan. Kurangnya dalam perilaku kewirausahaan akan menyebabkan seorang wirausaha sulit untuk memfasilitasi usahanya karena kurang kapabilitas dan pengetahuan yang akan berdampak pada kinerja usahanya (Sutianingsih et al. , 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian dari Faza & Solihin . bahwa lingkungan bisnis dan perilaku kewiraushaan secara parsial memberikan pengaruh positif antara terhadap kinerja bisnis UMKM sektor fashion di kota Bandung, dan keduanya secara simultan memberikan pengaruh Kesimpulan Hasil pengujian hipotesis yang telah dilakukan menyimpulkan bahwa lingkungan wirausaha memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja UMKM di Bandar Lampung, di mana faktor-faktor seperti akses pasar yang luas, regulasi yang Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 1043 sederhana, dan dukungan terhadap adopsi teknologi mendorong pertumbuhan usaha secara berkelanjutan. Selain itu, perilaku kewirausahaan juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja UMKM, dengan perilaku yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pasar membantu UMKM meningkatkan daya saing di tengah dinamika pasar dan perkembangan teknologi. Kedua faktor ini saling melengkapi dan menciptakan ekosistem usaha yang tangguh, meskipun masih dihadapkan pada tantangan seperti birokrasi yang rumit, keterbatasan infrastruktur, serta rendahnya literasi digital. Secara simultan, lingkungan wirausaha dan perilaku kewirausahaan bersama-sama memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kinerja UMKM, yang implikasinya menekankan pentingnya seorang wirausaha mengenali peluang dan ancaman serta melakukan tindakan yang sesuai dengan kondisi UMKM untuk mengoptimalkan kinerjanya. Berdasarkan temuan yang menunjukkan adanya pengaruh positif dari lingkungan wirausaha dan perilaku kewirausahaan terhadap kinerja UMKM di Bandar Lampung, disarankan agar pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait fokus pada penguatan ekosistem kewirausahaan secara menyeluruh. Ini dapat diwujudkan melalui kebijakan yang lebih pro-UMKM, seperti penyederhanaan birokrasi, penyediaan akses permodalan yang lebih mudah, serta pengembangan program inkubasi dan akselerasi bisnis yang berkelanjutan. Selain itu, peningkatan literasi digital dan keterampilan inovasi bagi para pelaku UMKM menjadi krusial. Program pelatihan yang fokus pada pemanfaatan teknologi, analitik data, dan pemasaran digital dapat memberdayakan mereka untuk bersaing di era modern. Implikasinya, kolaborasi yang kuat antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas wirausaha akan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan UMKM yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang lebih kuat dan inklusif. Ucapan Terimakasih Terimakasih yang dapat penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu penelitian dan penyelesaian penulisan naskah penelitian ini. Semoga penelitian ini bisa menjadi rujukan dan referensi bagi penelitian selanjutnya dan hasil penelitian ini bisa memberikan dampak manfaat bagi pembaca dan subjek yang terlibat. Referensi