Berkala Ilmiah Pendidikan scidac plus Volume 2 Nomor 2. Juli 2022 ANALISIS PRAGMATIK KESANTUNAN BERBAHASA DALAM PENDIDIKAN DI BALAI PENGAJIAN MADINATUL JALAL BIREUEN ACEH Rauzatul Jannah1. Munirah Munirah2*. Misbahul Jannah3 1 Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Darussalam Lhokseumawe. Indonesia 2 Institut Agama Islam Negeri Langsa. Indonesia 3 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Indonesia munirahmuhammad50@gmail. Abstrak Penelitian yang berjudul AuAnalisis Kesantunan Berbahasa di Balai Pengajian Madinatul Jalal Bireuen AcehAy ini mengangkat masalah bagaimana kesantunan berbahasa dalam tuturan thalabah dan Tengku di Balai Pengajian Madinatul Jalal Bireuen Aceh. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kesantunan berbahasa dalam tuturan thalabah dan Tengku di Balai Pengajian Madinatul Jalal Bireuen Aceh. Sumber data penelitian ini adalah thalabah dan Tengku. Data dalam penelitian ini adalah tuturan yang diucapkan thalabah dan Tengku yang berupa maksim. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dan teknik pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan/observasi, simak, dan Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kualitatif yang menganalisis tuturan pedagang dan pembeli berdasarkan teori maksim kesantunan yang disampaikan oleh Leech. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesantunan berbahasa di balai pengajian madinatul jalal, meliputi maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, maksim pemufakatan/ kecocokan, dan maksim kesimpatian. Kata Kunci: Analisis Pragmatik. Kesantunan Berbahasa. Abstract The study entitled "Analysis of Language Manners at Madinatul Jalal Bireuen Aceh Study Hall" raised the issue of how the politeness of language in thalabah and Tengku speech at Madinatul Jalal Bireuen Aceh Study Hall. This research aims to descript the politeness of language in thalabah and Tengku speech at the Madinatul Jalal Bireuen Aceh Study Hall. The sources of this research data are thalabah and Tengku. The data in this study is speech spoken thalabah and Tengku in the form of maksim. The research methods used are qualitative descriptive methods and data collection techniques using observation/ observation, listening, and recording techniques. The data analysis technique used is a qualitative descriptive analysis technique that analyzes the speech of traders and buyers based on the theory of good manners conveyed by Leech. The results showed that the mannerisms of language in the hall of study madinatul jalal, including the maxim of wisdom, maxim of generosity, maxim of appreciation, maxim of simplicity, maxim of association / compatibility, and maxim of starch. Artikel ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License A 2022 Rauzatul Jannah. Munirah Munirah. Misbahul Jannah Keywords: Pragmatics Analysis. Language Manner. PENDAHULUAN Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting untuk keberlansungan hidup antar manusia (Hidayat, 2. Mereka memanfaatkan bahasa sebagai salah satu sarana untuk mengungkapkan pendapat, pikiran, dan ide sebagaimana mereka menggunakannya untuk berkomunikasi dengan teman. Hal ini menunjukkan bahwa pentingnya bahasa dalam komunikasi setiap orang, sehingga manusia sadar bahwa mereka adalah makhluk yang membutuhkan komunikasi dan bersosialisasi. Selain itu, dalam bersosialisasi juga dituntut untuk bersikap sopan dan santun (Wahidah & Wijaya, 2. Kesantunan merupakan perilaku yang diekspresikan dengan cara yang baik atau beretika apa yang dianggap santun oleh suatu kultur, mungkin tidak demikian halnya dengan kultur yang lain. Kesantunan merupakan fenomena kultur, sehingga dalam pesantren guru-guru perlu membina dan mendidik para santri nya berbahasa santun sebab guru mempunyai peran penting dalam memberi tauladan bagi santrinya, jika mereka tidak membiasakan bahasa santun maka tidak mustahil bahasa santun yang sudah ada bisa hilang dan lahir generasi yang arogan, kasar dan kering dari nilai-nilai etika dan agama (Wahidah & Wijaya, 2. Penelitian ini merupakan penelitian bahasa yang mengkaji kesantunan dalam berbahasa dengan pendekatan kajian pragmatik. Pragmatik merupakan aturan-aturan pemakaian bahasa, yaitu pemilihan bentuk bahasa dan penentuan maknanya sehubungan dengan maksud pembicara sesuai konteks dan keadaan. Penelitian ini merupakan penelitian tentang hubungan bahasa dengan pemakai bahasa, memiliki maksud tertentu dan terjadi pada situasi tertentu pula, kesantunan berbahasa dari interaksi antara thalabah dan tengku Balai pengajian Madinatul Jalal. wujud kesantunan berbahasa dengan kajian pragmatic ada dua macam yaitu Wujud kesantuanan berbahasa Verbal dan nonverbal. Yang akan dikaji yaitu wujud kesantunan berbahasa verbal adalah bahasa yang berupa rangkaian kata-kata atau tuturan yang membentuk wacana atau teks lisan (Shobirin & Roziqin, 2. Hasil penelitian relavan dengan penelitian ini yaitu penelitian yang dilaksanakan oleh Desy & Fathur . demgan judul Kesantunan Berbahasa Mahasiswa Dalam Berinteraksi Di Lingkungan Universitas Tidar: Kajian Sosiopragmatik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis tindak tutur berbahasa mahasiswa, pematuhan kesantunan berbahasa, pelanggaran kesantunan berbahasa dan faktor yang memempengaruhi terjadinya kesantunan berbahasa mahasiswa dalam berinteraksi di lingkungan Universitas Tidar. Hasil penelitian menunjukkaan bahwa pertama, jenis tindak tutur yang dilakukan oleh mahasiswa berupa jenis tindak tutur representatif, direktif, ekspresif, komisif, isbati. Kedua pengukuran tingkat kesantunan berbahasa mahasiswa di lingkungan Universitas Tidar didasarkan pada pematuhan prinsip kesantunan berupa bidal ketimbangrasaan, kemurahatian, keperkenaan, kerendahhatian, kesetujuan dan kesimpatian. Ketiga, pelanggaran prinsip kesantunan digunakan untuk mengukur tingkat kekurang santunan pada tindak tutur mahasiswa dalam berinteraksi berupa prinsip kesantunan. Keempat faktor penyebab kesantunan berbahasa terdapat lima faktor diantaranya tempat dan suasana tutur, peserta tutur, tujuan tutur, pokok tuturan, dan sarana tutur. Kesantunan berbahasa dapat dilakukan dengan cara pelaku tutur mematuhi prinsip sopan santun berbahasa yang berlaku di masyarakat pemakai bahasa itu. Jadi, diharapkan pelaku tutur dalam bertutur dengan mitra tuturnya untuk tidak mengabaikan prinsip sopan santun. Hal ini untuk menjaga hubungan baik dengan mitra tuturnya. Teori kesantunan berbahasa telah dirumuskan oleh beberapa pakar, diantaranya Lakoff. Brown and Levinson, dan leech. Masing-masing pakar mendeskripsikan prinsip kesantunan secara berbeda-beda (Rahayu, 2. Budaya Barat dan Timur tentu memiliki indikator yang berbeda tentang kesantunan. Yang dianggap santun dalam budaya barat belum tentu juga santun dalam budaya timur. Honorifik, misalnya dalam budaya Barat dianggap sesuatu yang bisa diabaikan, namun di budaya asia, honorifik menjadi indikator penting sebuah kesantunan berbahasa. Di Jawa masyarakatnya memiliki tingkatan bahasa dari yang kasar . sampai yang halus . , kesantunan tidak hanya diukur dari penggunaan honorifik, tetapi juga penggunaan ragam bahasa yang tinggi (Jazari & Madayani, 2. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif (Sugiyono, 2. Metode penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang mengkaji data deskriptif berupa kata- kata bias lisan untuk penelitian agama, social, budaya, filsafa. , catatan-catatan yang berhubungan dengan makna, nilai serta pengertian, data dalam penelitian ini berupa teks- teks, kalimat- kalimat dan wawancara yang mengandung prinsip kesantunan berbahasa menurut Leech pada tuturan thalabah dan Tengku di balai pengajian Madinatul Jalal Bireuen Aceh. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini juga menggunakan metode simak dengan teknik catat dan rekam, sedangkan teknik analisa data pada penelitian ini berupa reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan/ verivikasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Skala Kesatuan Berbahasa Menurut Beberapa Tokoh dan Alirannya Skala Kesantunan Robin Lakoff Lakoff mengatakan kalau tuturan kita ingin terdengar santun di telinga pendengar atau lawan tutur kita, ada tiga buah kaidah yang harus kita patuhi. Ketiga buah kaidah kesantunan itu adalah formalitas . , ketidaktegasan . dan persamaan atau kesekawanan . qualityor camaraderi. Ketiga kaidah itu apabila dijabarkan, maka yang pertama formalitas, berarti jangan memaksa atau angkuh . yang kedua, ketidaktegasan berarti buatlah sedemikian rupa sehingga lawan tutur dapat menentukan pilihan . dan yang ketiga persamaan atau kesekawanan, berarti bertindaklah seolah-olah anda dan lawan tutur anda menjadi sama. Jadi, menurut Lakoff, sebuah tuturan dikatakan santun apabila ia tidak terdengar memaksa atau angkuh, tuturan itu memberi pilihan kepada lawan tutur, dan lawan tutur merasa Ketiga tuturan berikut kiranya memenuhi harapan Lakoff itu (Husada, 2. Seperti pada contoh: . Kami mohon bantuan Anda untuk turut membiayai anak-anak yatim itu. Mari kita sama-sama membantu membiayai anak-anak yatim itu. Kami bangga bahwa anda mau membantu membiayai anak-anak yatim itu. Bandingkan dengan tiga tuturan berikut yang tidak mematuhi ketiga kaidah Lakoff di atas. Anda harus membantu kami membiayai anak-anak yatim itu. Mari kita sama-sama membantu membiayai anak-anak yatim . Kami bangga bahwa anda mau membantu membiayai anak-anak yatim itu. Bandingkan dengan tiga tuturan berikut yang tidak mematuhi ketiga kaidah Lakoff di atas. Anda harus membantu kami membiayai anak-anak yatim itu. Anda tentu dapat membantu membiayai anakanak yatim itu. Dosa-dosa dan segala kesalahan Anda tentu akan dihapus Allah kalau anda mau membantu membiayai anak-anak yatim itu. Terdapat tiga ketentuan untuk dapat dipenuhinya kesantunan di dalam kegiatan bertutur. Ketiga ketentuan itu secara berturut-turut dapat disebutkan sebagai berikut: . skala formalitas . ormality scal. , . skala ketidaktegasan . esitancy scal. , . skala kesamaan atau kesekawanan . quality scal. (Arta, 2. Berikut uraian dari setiap skala kesantunan itu satu demi satu. (Lestari & Prayitno, 2. Di dalam skala kesantunan pertama yakni skala formalitas . ormality scal. , dinyatakan bahwa agar para peserta tutur dapat merasa nyaman dan kerasan dalam kegiatan bertutur, tuturan yang digunakan tidak bernada memaksa dan tidak boleh berkesan angkuh. Di dalam kegiatan bertutur, masing-masing peserta tutur harus dapat menjaga keformalitasan dan menjaga jarak yang sewajarnya dan senatural-naturalnya antara yang satu dengan yang lainnya. Skala yang kedua, yakni skala ketidaktegasan . esitancy scal. atau sering disebut dengan skala pilihan . ptionality scal. menunjukkan bahwa agar penutur dan mitra tutur dapat saling merasa nyaman dan kerasan dalam bertutur, pilihan-pilihan dalam bertutur harus diberikan oleh kedua belah pihak. Orang tidak diperbolehkan bersikap terlalu tegang dan terlalu kaku di dalam kegiatan bertutur karena akan dianggap tidak santun. Skala kesantunan ketiga, yakni peringkat kesekawanan atau kesamaan menunjukkan bahwa agar bersifat santun, orang haruslah bersikap ramah dan selalu mempertahankan persahabatan antara pihak yang satu dengan pihak lain. Agar tercapai maksud yang demikian, penutur haruslah dapat menganggap pihak yang satu sebagai sahabat pihak lainnya, rasa kesekawanan dan kesejajaran sebagai salah satu persyarat kesantunan akan dapat tercapai (Rahayu, 2. Skala Kesantunan Brown and Levinson Brown dan Levinson mengatakan teori kesantunan berbahasa itu berkisar atas nosi muka . Semua orang yang rasional punya muka . alam arti kiasan tentuny. dan muka itu harus dijaga, dipelihara, dan sebagainya. Ungkapan-ungkapan dalam bahasa Indonesia seperti kehilangan muka, menyembunyikan muka, menyelamatkan muka, dan mukanya jatuh, mungkin lebih bias menjelaskan konsep muka ini dalam kesatunan berbahasa. Muka ini harus dijaga, tidak boleh direndahkan orang. Brown dan Levinson mengatakan muka ini ada dua segi yaitu muka negatif dan muka positif. Apa maksudnya? Apa yang dimaksud dengan muka negatif dengan muka positif itu? Muka negatif itu mengacu pada citra diri setiap orang yang rasional yang berkeinginan agar ia dihargai dengan jalan membiarkannya bebas dari keharusan mengerjakan Bila tindak tutur sifatnya direktif . isalnya perintah atau permitaa. yang terancam adalah muka negatif (Masfufah, 2. Hal ini karena dengan memerintah atau meminta seseorang melakukan sesuatu, kita sebenernya telah menghalangi kebebasannya untuk melakukan . ahkan untuk menikmati Umpamanya, kita suruh seseorang yang sedang duduk-duduk asyik membaca Koran untuk mengerjakan sesuatu. Ini semua artinya dengan tidak membiarkannya melakukan dan menikmati kegiatannya itu. tergantung kepada siapa dia ini dan juga kepada bentuk ujaran yang kita gunakan, orang itu dapat kehilangan muka. Muka terancam, dan muka terancam itu adalah muka negatif (Agustina, 2018, p. Sedangkan yang dimaksud dengan muka positif adalah sebaliknya, yakni mengacu pada citra diri setiap orang yang rasional, yang berkeinginan agar yang dilakukannya, apa yang dimilikinya apa yang merupakan nilai-nilai yang ia yakni, sebagai akibat dari apa ynag dilakukan atau dimilikinya itu, diakui orang lain sebagai suatu hal yang baik, yang menyenangkan, yang patut dihargai, dan seterusnya. Misalya orang yang memiliki mobil BMW . alah satu mobil tetapi kepadanya dikatakan AuAh baru BMW, belum Roll RoyceAy dapat saja merasa bahwa yang dimilikinya itu . ang tidak semua orang mampu membeliny. tidak dihargai orang. Muka positifnya terancam jatuh. Tindak tutur mengkritik . ang termasuk tindak tutur ekspresi. merupakan tindak ilokusi yang menyatakan perasaan dan sikap penutur terhadap suatu keadaan (Nastiti Putri et al. , 2. Tindak tutur ekspresif dapat juga mengancam muka positif seseorang. Hal ini karena dengan mengkritik kita tidak menghargai atau tidak mengakui apa yang telahdilakukan orang yang kita kritik itu sebagai sesuatu yang baik, yang benar, yang patut dihargai, dan sebaginya. Menurut Brown dan Levinson sebuah tidak tutur merupakan ancaman terhadap muka. Tindak tutur seperti ini oleh Brown dan Levinson disebut sebagai Face Threatening Act (FTA). Untuk mengurangi kekrasan ancaman itulah di dalam berkomunikasi kita tidak harus selalu menaati. Karena ada dua sisi muka yang terancam yaitu muka negatif dan muka positif maka kesantunan pun dibagi menjadi dua, yaitu kesantunan negatif untuk menjaga muka negatif, dan kesantunan positif untuk menjaga muka positif. Sopan santun dalam pertuturan direktif termasuk kedalam kesantunan negatif yang dapat diartikan sebagai usaha untuk meninggalkan konflik pertutur-lawan tutur. Apakah yang terancam selalu muka lawan tutur, seperti pada contoh lawan tutur pemilik mobil BMW di atas. Sebenarnya penutur pun dapat terancam mukanya oleh tindak tuturnya sendiri. Sebuah ajakan misalnya, dapat membuat muka penuturnya Umpamanya seorang pemuda . ebagai penutu. dapat melindungi mukanya dan ancaman itu dengan menggunakan tindak tutur tidak langsung. Jadi penggunaan tuturan AuMalam minggu punya acara apa?Ay dari pada menggunakan tndak tutur langsung AuMari nonton film malam minggu iniAy . isalnya dituturkan oleh seorang pemuda kepada gadis yang ditaksirny. dapat ditafsirkan sebagai strategi untuk melindungi muka. Kalau ajakan itu ditolak si pemuda dapatmenyelamatkan mukanya . palagi kalau di tempat umu. dengan boleh bertutur Ausiapa yang mengajak nonton? Saya kan hanya bertanya apakah situ punya acaraAy. Dengan demikian ancaman terhadap muka penutur dapat terhindarkan. Brown dan Levinson . juga mengusulkan untuk menghindarkan ancaman terhadap muka itu, caranya penutur harus AumemperhitungkanAy derajat keterancaman sebuah tindak tutur . ang akan ia tuturka. dengan mempertimbangkan di dalam situasi yang biasa, faktor-faktor . jarak sosial diantara penutur dan lawan tutur, . besarnya perbedaan kekuasaan atau dominasi diantara keduanya. setatus relatif jenis tindak tutur di dalam kebudayaan yang bersangkutan (Artinya, ada tindak tutur yang di dalam suatu kebudayaan dianggap tidak terlalu mengancam muka dan sebagainy. (Masitoh, 2. Lalu berdasarkan perkiraan itu, si penutur memilih strategi. Bagaimana bentuk setrategi itu, tergantung pada jenis kesantunannya, yaitu kesantunan negatif . da yang menyebutkan kesantunan deferensia. atau kesantunan positif . da yang menyebutnya kesantunan afirmati. terdapat tiga skala penentu tinggi rendahnya peringkat kesantunan sebuah tuturan. Ketiga skala termaksud ditentukan secara kontekstual, sosial, dan Yang selengkapnya akan diuraikan dalam sekala-skala berikut: Skala peringkat jarak sosial antara penutur dan mitra tutur banyak ditentukan oleh parameter perbedaan umur, jenis kelamin, dan latar belakang sosiokultural. Berkenaan dengan perbedaan umur antara penutur dan mitra tutur, lazimnya didapatkan bahwa semakin tua umur seseorang, peringkat kesantunan dalam bertuturan akan menjadi semakin tinggi. Sebaliknya, orang yang masih berusia muda lazimnya cenderung memiliki peringkat kesantunan yang rendah di dalam kegiatan bertutur. Orang yang berjenis kelamin wanita, lazimnya memiliki peringkat kesantunan lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang bejenis kelamin pria. Hal demikian disebabkan oleh kenyataan bahwa kaum wanita cenderung lebih banyak berkenaan dengan sesuatu yang bernilai estetika dalam keseharian hidupnya. Sebaliknya, pria cenderung jauh dari hal-hal itu karena, lazimnya, ia banyak berkenaan dengan kerja dan pemakaian logika dalam kegiatan keseharian hidupnya. Latar belakang sosiokultural seseorang memiliki peran sangat besar dalam menentukan peringkat kesantunan lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan orang, seperti misalnya petani, pedagang, kuli perusahaan, buruh bangunan, dan pembantu rumah tangga. Demikian pula, orang-orang kota cenderung memiliki peringkat kesantunan lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat desa. Pada jaman dahulu, para punggawa kerajaan terkenal memiliki kesantunan bertutur relatif tinggi dibandingkan dengan orangorang kebanyakan, seperti pedagang, buruh perusahaan, petani, dan sebagainya. Skala peringkat status sosial antara penutur dan mitra tutur ( the speaker and hearer relative powe. atau seringkali disebut dengan peringkat kekuasaan . ower ratin. didasarkan pada kedudukan asimetrik antara penutur dan mitra tutur. Sebagai contoh, dapat disampaikan bahwa di dalam ruang periksa sebuah rumah sakit, seorang dokter memiliki peringkat kekuasaan lebih tinggi dibandingkan dengan seorang pasien. Demikian pula di dalam kelas, seorang dosen memiliki peringkat kekuasaan lebih tinggi dibandingkan dengan seorang mahasiswa. Sejalan dengan itu, disebuah jalan raya seorang polisi lalu lintas dianggap memiliki peringkat kekuasaan lebih besar dibandingkan seorang dokter rumah sakit yang pada saat itu kebetulan melanggar peraturan lalu lintas. Sebaliknya, polisi yang sama akan jauh di bawah seorang dokter rumah sakit dalam hal peringkat kekuasaannya apabila sedang berada di sebuah ruang periksa rumah . Skala peringkat tindak tutur atau sering pula disebut dengan rank rating atau lengkapnya adalah the degree of imposition associated with the required expenditure of goods or services didasarkan atas kedudukan relatif tindak tutur yang satu dengan tindak tutur tutur Sebagi contoh, dalam situasi yang sangat khusus, bertamu di rumah seorang wanita dengan melewati batas waktu bertamu yang wajar akan dikatakan sebagai tidak tahu sopan santun dan bahkan melanggar norma kesantunan yang berlaku pada masyarakat tutur itu. Namun demikian, hal yang sama akan dianggap sangat wajar dalam situasi yang berbeda. Dalam saat disuatu kota terjadi kerusuhan dan pembakaran gedunggedung dan perumahan, orang berada di rumah orang lain atau rumah tetangganya bahkan sampai pada waktu yang tidak ditentukan. Dalam penelitian ini, digunakan teori kesantunan berbahasa yang dirumuskan Leech. Skala Kesantunan Berbahasa Leech Dalam model kesantunan Leech setiap maksim interpersonal dapat dimanfaatkan untuk menentukan peringkat kesantunan sebuah tuturan (Rahardi, 2. Berikut skala kesantunan yang disampaikan Leech, yaitu: Cost-benefit scale atau skala kerugian dan keuntungan, menujukan kepada besar kecilnya kerugian dan keuntungan yang diakibatkan oleh sebuah tindak tutur pada sebuah Semakin tuturan tersebut merugikan diri sipenutur, akan semakin dianggap santunlah tuturan itu. Demikian sebaliknya, semakin tuturan itu menguntungkan diri penutur akan semakin dianggap tidak santunlah tuturan itu. Apabila hal yang demikian itu dilihat dari kacamata si mitra tutur dapat dikatakan bahwa semakin menguntungkan diri mitra tutur, akan semakin dipandang tidak santunlah tuturan itu. Demikian sebaliknya, semakin tuturan itu merugikan diri, si mitra tutur akan dianggap semakin santunlah tuturan itu. Optionality scale atau skala pilihan, menujuk kepada banyak atau sedikitnya pilihan . yang disampaikan si penutur kepada si mitratutur di dalam kegiatan bertutur. Semakin pertuturan itu memungkinkan penutur atau mitra tutur menentukan pilihan yang banyak dan leluasa, akan dianggap semakin santunlah tuturan itu. Sebaliknya, apabila pertuturan itu sama sekali tidak memberikan kemungkinan memilih bagi si penutur dan si mitra tutur, tuturan tersebut akan dianggap tidak santun. Berkaitan dengan pemakainya tuturan imperatif dalam bahasa Indonesia, dapat dikatakan bahwa apabila tuturan imperatif itu menyajikan banyak pilihan tuturan akan menjadi semakin santunlah pemakaian tuturan imperatif itu. Indirectness scale atau skala ketidaklangsungan menunjuk kepada peringkat langsung atau tidak langsungnya maksud sebuah tuturan. Semakin tuturan itu bersifat langsung akan dianggap semakin tidak santunlah tuturan itu. Demikian sebaliknya, semakin tidak langsung, maksud sebuah tuturan, akan dianggap semakin santunlah tuturan itu. Authority scale atau skala keotoritasan menunjuk kepada hubungan status soisal antara penutur dan mitra tutur yang terliat dalam pertuturan. Semakin jauh jarak peringkat sosial . ank ratin. antara penutur dengan mitra tutur, tuturan yang digunakan akan cenderung menjadi semakin santun. Sebaliknya, semakin dekat jarak peringkat setatus sosial di antara keduanya, akan cenderung berkuranglah peringkat kesantunan tuturan yang digunakan dalam bertutur itu. Social distance scale atau skala jarak sosial menunjuk kepada peringkat hubungan sosial anatar penutur dan mitra tutur yang terlibat dalamsebuah pertuturan. Ada kecendrungan bahwa semakin dekat jarak peringkat sosial di antara keduanya, akan menjadi semakin kurang santunlah tuturan itu. Demikian sebaliknya, semakin jauh jarak peringkat sosial antara penutur dengan mitra tutur, akan semakin santunlah tuturan yang digunakan itu. Dengan perkataan lain, tingkat keakraban hubungan antara penutur dengan mitra tutur sangat menentukan peringkat kesantunan tuturan yang digunakan dalam bertuturan. Di dalam teori Leech memiliki enam prinsip Kesantunan yaitu: . Maksim Kebijaksanaan Kurangi kerugian orang lain. Tambahi keuntungan orang lain. Maksim Kedermawanan Kurangi keuntungan diri sendiri. Tambahi pengorbanan diri sendiri. Maksim penghargaan Kurangi cacian pada orang lain, seperti santri berbicara dengan intonasi yang rendah ketika berbicara dengan ustadzah (Shobirin & Roziqin, 2. Tambahi pujian pada orang lain. Maksim Kesederhanaan Kurangi pujian pada diri sendiri. Tambahi cacian pada diri sendiri. Maksim Permufakatan Kurangi ketidaksesuaian antara diri sendiri dengan orang Tingkatkan persesuaian antara diri sendiri dengan orang lain. Maksim Simpati Kurangi antipasti antara diri sendiri dengan orang lain. Perbesar simpati antara diri sendiri dengan orang lain (Rahardi, 2. Bentuk Kesantunan berbahasa Menurut Leech di balai pengajian Madinatul Jalal Bireuen Aceh Maksim Kebijaksanaan Prinsip sopan santun yang dikemukakan Leech menyatakan bahwa maksim kebijaksaan . act maxi. menggariskan bahwa setiap peserta penuturan harus meminimalkan kerugian orang lain, atau memaksimalkan keuntungan bagi orang lain (Adelia & Suhartono. Kalau dalam tuturan penutur berusaha memaksimalkan keuntungan orang lain, maka lawan tutur harus pula memaksimalkan kerugian dirinya, bukan sebaliknya. Prinsip kesantunan dengan maksim kebijaksaan menurut Leech yang terdapat pada tuturan thalabah dan Tengku di balai pengajian Madinatul Jalal sebagai berikut: AuKebahagiaan hudep yang sebetoi jih nyankeh hudep ngon kerendahan hateAy. Tuturan diatas merupakan tuturan yang disampaikan oleh Tengku kepada Thalabah yang mengandung prinsip kesantunan maksim kebijaksanaan. Maksim kebijaksanaan pada tuturan ditandai pada tuturan Kebahagiaan hudep yang sebetoi jih nyankeh hudep ngon kerendahan hate. Maksim kebijaksanaan tersebut muncul ketika Tengku mengutarakan maksudnya agar dalam menjalani hidup sangat dibutuhkan kerendahan hati. Maksim kedermawanan Leech berpendapat bahwa maksim kedermawanan bias disebut dengan maksim kemurahan hati, artinya orang yang bertutur diharapkan dapat menghormati orang lain. Penghormatan terhadap orang lain dapat terjadi jika penutur mengurangi keuntungan atas dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan untuk orang lain (Rismaya, 2. Prinsip kesantunan dengan maksim kedermawanan menurut Leech yang terdapat pada novel Bumi Manusia adalah sebagai berikut: AuIlmei lon brie keu gataAy. Tuturan di atas merupakan tuturan yang diungkapkan oleh Tengku kepada thalabah yang mematuhi prinsip maksim kedermawaan. Maksim kedermawanan. Maksim Penghargaan Leech menjelaskan bahwaseseorang bisa dianggap santun jika dalam komunikasi bertutur berusahauntuk memberikan pernghargaan terhadap pihak lain. Pada maksim ini,diharapkan penutur dan mitra tutur tidak saling mengejek, tidak salingmencela, tidak saling membenci, dan tidak saling merendahkan pihak lawan bicara (Dewi & Sulastri, 2. Penutur yang mengejek peserta tutur lain saat kegiatan bertutur dapat dikatakan sebagai orang yang tidak Dikatakan seperti itu, karena mengejek merupakan tindakan tidak menghargai orang lain. Disebut perbuatan yang tidak baik, tindakan tersebut harus dihindari dalam pergaulan yang Prinsip kesantunan dengan maksim penghargaan menurut Leech yang terdapat pada tuturan thalabah dan tengku adalah sebagai berikut: AuBetoi nyan yang gata sampokanAy. Tuturan diatas merupakan tuturan yang disampaikan oleh tengku yang mematuhi maksim penghargaan, hal ini dikarenakan pada tuturan tengku diatas memuji thalabahnya, dengan mengatakan Betoi nyan yang gata sampokan dihadapan thalabah lainnya. Maksim Kesederhanaan Leech mengatakan maksim kesederhanaan dapat disebut maksim kerendahan hati, dalam komunikasi peserta tutur diharapkan dapat memiliki sikap kerendahan hati dengan cara mengurangi pujian atas dirinya sendiri (Lestari et al. , 2. Orang bisa dikatakan sombong hati jika dalam komunikasi bertutur selalu mengunggulkan dirinya sendiri atau memuji dirinya Dikehidupan masyarakat Indonesia, kesederhanaan atau kerendahan hati dijadikan sebagai parameter penilaian kesantunan seseorang. Prinsip kesantunan dengan maksim kesederhanaan menurut Leech dalam tuturan Tengku dan thalabah di Balai Pengajian Madinatul Jalal sebagai berikut: AuJak ubee leut tapak duek ubee leut punggongAy. Tuturan di atas merupakan tuturan yang disampaikan oleh tengku kepada thalabah yang mematuhi maksim kesederhanaan. Maksim kesederhanaan ditandai pada tuturan Jak ubee leut tapak duek ubee leut punggong. Pada tuturan tersebut tengku menyatakan bahwa kita berjalan sesuai keperluan dan kita duduk juga sesuai kebutuhan. Maksim Pemufakatan Leech mengatakan bahwa maksim permufakatan bisa disebut maksim kecocokan. Pada maksim ini, menekankan supaya si penutur dan mitra tutur dapat saling membina kecocokan, persetujuan atau kemufakatan di dalam kegiatan bertutur. Penutur dan mitra tutur dapat dikatakan memiliki sikap yang santun jika sudah terjadi kemufakatan atau kecocokan dalam kegiatan bertutur (Muslihah & Febrianto, 2. kehidupan masyarakat Aceh, orang tidak diperbolehkan membantah secara langsung atas apa yang dituturkan orang lain. Kehidupan masyarakat Aceh dahulu, wanita tidak diperkenankan menentang sesuatu yang dikatakan pria. Jika kita mencermati orang bertutur masa saat ini, seringkali si mitra tutur menggunakan anggukan-anggukan untuk tanda setuju, acungan jempol, wajah tanpa kerutan pada dahi, dan Prinsip kesantunan dengan maksim pemufakatan menurut Leech yang terdapat pada tuturan tengku kepada Thalabah adalah sebagai berikut: AuNa betoi ummi- ummi?Ay. Tuturan di atas merupakan tuturan yang disampaikan oleh tengku kepada thalabah yang mematuhi maksim Maksim pemufakatan ditandai pada tuturan Na betoi ummi-ummi. Pada tuturan tersebut tengku menanyakan apakah ini benar ibu- ibu. Implikasi Bentuk Kesantunan Berbahasa dalam Pendidikan Kesantunan berbahasa dalam lingkungan pendidikan adalah sangat penting. Baik itu antara pengajar dengan pembelajar, pengajar dengan pengajar dan pembelajar dengan pembelajar. Hal ini dikerenakan kesantunan dalam berbahasa dianggap mampu mengurangi ketidaknyamanan situasi antara pengajar dan pembelajar yang mana tetap mampu membuat situasi aman terkendali. Setiap orang memang memiliki gaya bahasa yang dibawanya sejak lahir dan yang dipengaruhi oleh lingkungannya (Aisyah et al. , 2. Namun ketika dihadapkan didalam lingkungan pendidikan, maka setidaknya harus menggunakan bahasa santun, apabila kepada pengajar hendaknya menggunakan bahasa formal yang Memang perkembangan jaman diluar sana sangat pesat, teknologi mempengaruhi segala aspek kehidupan termasuk globalisasi menjadi imbasnya, namun sebagai seorang akademisi harus tetap mengedepankan norma yang berlaku disuatu masyarakat atau lingkungan tertentu. Apabila ingin meminta bantuan hendaknya menggunakan kata AutolongAy dan setelahnya mengucapkan AuterimakasihAy lalu apabila melakukan suatu kesalahan tidak lupa mengucapkan AumaafAy. Penggunaan kata-kata diatas tidak terikat oleh siapa kita atau apa jabatan kita, segala kalangan harus membiasakan menggunakan 3 kata-kata diatas. Kesantunan dalam dunia pendidikan menjadi tolak ukur yang penting untuk dikaji, sebab semakin kesini dunia pendidikan terasa mengabaikan nilai-nilai kesantunan yang ada. Siswa dan mahasiswa saat ini cenderung tidak memiliki nilai kesantunan yang diunggulkan. Cara siswa berbicara kepada gurunya, atau kepada tenaga kependidikan yang lain cenderung seperti berbicara kepada seusianya saja. Penanaman nilai kesantunan pada lingkungan pendidikan perlu dilakukan dengan cara menanamkan pada diri tenaga kependidikan terlebih dahulu. Pemberian contoh dan teladan yang baik akan dapat diikuti oleh mahasiswa atau siswa dengan baik pula. Konsep kesantunan berbahasa dalam lingkungan Pendidikan tentunya memegang prinsip konsep kesantunan, bahwa dalam berkomunikasi seseorang harus memperhatikan beberapa prinsip diantaranya prinsip kerjasama, prinsip kualitas, prinsip kuantitas prinsip relevansi, dan prinsip cara. Maksud dari prinsip tersebut diantaranya saat memberikan informasi kepada oranglain informasi yang diberikan harus didukung dengan data, sesuai dengan kebutuhan penerima informasi, berkaitan dengan topik yang dibicarakan antar pelaku komunikasi, serta memperhatikan cara penyampaian informasi kepada penerima. Terkadang, seseorang akan membicarakan sesuatu yang baik dan menarik, namun jika dalam penyampaiannya penutur terkesan menggurui, menggunakan pemilihan kata yang terdengar kasar, menyinggung perasaan, serta terdengar melecehkan, maka pada akhirnya tujuan komunikasi tidak akan tercapai. Selain pemilihan kata yang yang harus diperhatikan untuk mecapai keberhasilan dalam berkomunikasi antara lain: 1. Memperhatikan situasi. Memperhatikan lawan bicara yang dihadapi. Memperhatikan isi pesan yang ingin disampaikan 4. Memperhatikan tujuan komunikasi yang ingin Memperhatikan cara penyampaian 6. Memperhatikan norma-norma yang ada dalam Memperhatikan keragaman bahasa yang digunakan 8. Memperhatikan relevansi dalam Menjaga perasaan serta martabat lawan bicara 10. Menghindari hal yang dianggap kurang baik oleh lawan bicara . onfrontasi denganlawan bicar. Menghindari dalam memuji diri Memberikan keuntungan bagi lawan bicara 13. Memberikan pujian bagi lawan bicara 14. Mengungkapkan hal yang mampu membahagiakan lawan bicara 15. Membuat kesamaan pemahaman dengan lawan bicara. Tujuan utama diperlukannya kesantunan dalam berbahasa ialah untuk memperlancar kegiatan Sehingga jika seseorang menggunakan bahasa yang berbelit-belit dan tidak sesuai sasaran karena perassan enggan terhadap lawan bicara yang lebih tua, maka hal ini juga akan dianggap sebagai ketidaksantunan dalam berbahasa. Fakta ini lebih sering dijumpai di masyarakat Indonesia terutama, karena masyarakat memilkibudaya untuk tidak berbicara terus terang serta lebih mengutamakan Implikasi bentuk kesantunan berbahasa dalam pendidikan pada saat berkomunikasi antara tengku dan thalabah ditunjukkan dengan kesesuaian jenis penggunaan maksim dalam komunikasi tengku dan thalabah balai pengajian Madinatul Jalal yaitu menggunakan maksim kesimpatian, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, dan maksim pemufakatan. KESIMPULAN Berdasarakan hasil penelitian yang telah dipaparkan diatas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pertama. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan oleh peneliti maka dapat disimpulkan bahwa kesantunan berbahasa menurut Leech pada tuturan Thalabah dengan Tengku terdiri dari maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, maksim pemufakatan dan maksim kesimpatian. Kedua. Berdasarkan hasil analisis diatas maka dapat disimpulkan bahwa skala kesantunann berbahasa di balai pengajian Madinatul Jalal, tuturan antara thalabah dan thalabah meliputi skala kesantunan cost-benefit scale . kala kerugian dan keuntunga. , skala kesantunan optionality scale . kala piliha. , skala kesantunan indirectness scale . kala ketidaklangsunga. dan skala kesantunan authority scale . kala keotoritasa. Ketiga. Implikasi Bentuk kesantunan berbahasa dalam pendidikan di balai pengajian Madinatul Jalal ditunjukkan melalui interaksi tengku dan thalabah melalui komunikasi dengan mempraktikkan maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, dan maksim pemufakatan. DAFTAR PUSTAKA