FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU HAMIL TIDAK MELAKUKAN ANTENATAL CARE TERPADU Devi Aprilia1*. Sendy Firza Novilia Tono2 Prodi Di Kebidanan. STIKES William Booth Surabaya. Jl. Cimanuk No. 20 Surabaya *Corresponding Author : Devi Aprilia Email : deviaprilia992@gmail. ABSTRAK Kehamilan merupakan masa yang dimulai dengan pembuahan antara sperma dan sel telur dan berakhir dengan permulaan persalinan. Ibu mengandung selama 9 bulan 10 hari. Pelayanan ANC yang terpadu mencakup pemeriksaan fisik, deteksi dini komplikasi, pemberian informasi edukasi kesehatan, serta intervensi promotif dan preventif yang bertujuan menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan bayi (AKB). Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor Ae faktor yang mempengaruhi Ibu hamil tidak melakukan antenatal care terpadu di Kelurahan Pakis Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian analisis deskriptif kuantitatif, sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 16 orang dengan menggunakan total sampling. Pengumpulan data telah terkumpul dan kemudian dikelola dan dari hasil penelitian di dapatkan faktor Ae faktor yang mempengaruhi ibu tidak melakukan pemeriksaan kehamilan yang diambil dari 16 responden bahwa faktor yang berpengaruh adalah faktor pengetahuan dan faktor ekonomi . %). Oleh karena itu di harapkan keluarga lebih selektif dalam mendukung ibu hamil baik secara moral ataupun spritual. Kata kunci : Faktor-Faktor. Ibu Hamil. Antenatal Care ABSTRACT Pregnancy begins with the fertilization of a sperm and an egg and ends with labor. The pregnancy lasts for nine months and ten days. Integrated antenatal care (ANC) services include physical examinations, early detection of complications, health education, and promotive and preventive interventions aimed at reducing maternal and infant mortality rates (MMR) and infant mortality rates (IMR). The purpose of this study was to identify factors influencing pregnant women's non-use of integrated antenatal care in the Pakis Village. Surabaya. This study used a quantitative descriptive analysis method, with a sample of 16 respondents using total sampling. Data collection and analysis revealed that the factors influencing mothers' non-use of antenatal care were knowledge and economic factors . %). Therefore, families are expected to be more selective in supporting pregnant women, both morally and spiritually. Keywords: Factors. Pregnant Women. Antenatal Care. PENDAHULUAN Kehamilan merupakan masa yang dimulai dengan pembuahan antara sperma dan sel telur dan berakhir dengan permulaan persalinan. Ibu mengandung selama 9 bulan 10 hari. Sementara kehamilan berkembang, tubuh mulai melakukan banyak perubahan dan penyesuaian untuk membantu pertumbuhan bayi (Saifuddin, 2. Ada beberapa perubahan tubuh yang tidak terasa atau tidak tampak oleh ibu hamil. Beberapa perubahan tubuh cukup mengganggu ibu hamil dan beberapa perubahan lainnya tidak mengganggu. Perubahan yang terjadi selama kehamilan tersebut merupakan hal yang normal dan apabila mengganggu dapat diatasi. Dalam kehamilan dapat terjadi perubahan fisik dan psikis. Perubahan fisik yang lazim terjadi pada ibu hamil di antaranya perut yang makin membesar, seringbuang air kecil, cepat lelah, sembelit, peningkatan berat badan, dan lain-lain. Sementara itu perubahan psikis yang terjadi di antaranya yaitu, ibu merasa tidak sehat terkadang benci dengan kehamilannya, ibu akan mencari tanda-tanda apakah ia benar hamil atau tidak, ibu lebih menuntut perhatian dan cinta, setiap perubahan yang terjadi dalam dirinya akan selalu mendapat perhatian dengan seksama (Handayani. Kemenkes,2. Hal tersebut merupakan mengapa ibu hamil perlu melakukan antenatal care (ANC) di tempat pelayanan kesehatan. Perawatan kehamilan sebelum melahirkan (ANC) adalah layanan kesehatan yang sangat penting untuk memantau kondisi kesehatan ibu yang sedang hamil serta Pelayanan ANC yang terpadu mencakup pemeriksaan fisik, deteksi dini komplikasi, pemberian informasi edukasi kesehatan, serta intervensi promotif dan preventif yang bertujuan menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan bayi (AKB). Pemeriksaan ANC yang berkualitas dan teratur dapat mendeteksi risiko kehamilan lebih awal, sehingga dapat mengurangi kejadian komplikasi obstetri yang berpotensi fatal bagi ibu maupun bayi. Namun, kenyataannya di banyak daerah masih menunjukkan bahwa kepatuhan ibu hamil terhadap kunjungan ANC sesuai standar yang direkomendasikan WHO atau pedoman nasional Penelitian di berbagai daerah menunjukkan masih ada ibu hamil yang tidak melakukan pemeriksaan ANC secara lengkap, bahkan tidak mengikuti pemeriksaan paling dasar yang sudah ditetapkan oleh pusat kesehatan, meskipun layanan tersebut tersedia secara gratis atau dengan subsidi (Riskesdas, 2. Menurut WHO . Jumlah kematian ibu masih sangat tinggi mencapai 000 perempuan meninggal selama dan setelah kehamilan dan persalinan pada Penyebab kematian tertinggi pada ibu hamil dan persalinan yaitu melahirkan, tekanan darah tinggi selama kehamilan . reeklamsia dan eklamsi. , komplikasi persalinan dan aborsi yang tidak Berdasarkan data Sensus Penduduk . di Indonesia, angka kematian ibu (AKI) melahirkan mencapai 189 per 000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) mencapai 16,85 per 000 kelahiran hidup. Di Indonesia, jumlah kematian ibu terdapat 4. 005 pada tahun 2022 dan meningkat menjadi 4. pada tahun 2023. Sementara, jumlah kematian bayi mencapai 20. 882 pada tahun 2022 dan meningkat 29. 945 pada tahun Penyebab kematian ibu tertinggi disebabkan adanya hipertensi dalam kehamilan atau disebut eklamsia dan Kemudian, kasus kematian bayi tertinggi yakni bayi berat lahir rendah (BBLR) atau prematuritas dan asfiksia (Kemenkes RI, 2. Beberapa melatarbelakangi risiko adalah kurangnya partisipasi ibu yang disebabkan tingkat pendidikan ibu rendah, kemampuan ekonomi keluarga rendah, kedudukan sosial budaya yang tidak mendukung. Dampak dari ibu tidak memeriksakan kehamilan yaitu cacat bawaan, kelahiran prematur, ketuban kering atau abortus pada Pnyebab kematian ibu cukup komplek antara lain komplikasi selama kehamilan dan persalinan, penyebab obstetrik langsung perdarahan, eklamsi dan Penyebab tidak langsung kematian ibu berupa kondisi kesehatan ibu yang di derita misalnya kurang enrgi, anemia cardiovaskuler yang sebenarnya bisa di cegah bila ibu mengantisipasi sedini mungkin penyulit yang akan mengancam ibu dan janin secara rutin melakukan pemeriksaan kehamilan (Mirriam, 2. Menurut WHO . menekankan bahwa minimal delapan kali kunjungan ANC untuk mendeteksi komplikasi dini. Jadwal meliputi Trimester I . -12 mingg. Trimester II . inggu 20, . , dan Trimester i . inggu 30, 34, 36, 38, . Sementara itu, kebijakan Kemenkes RI . menetapkan minimal 4 kali . kali T-I, 1 kali T-II, 2 kali T-. Dalam hal ini dukungan dari suami, orang tua, keluarga dan tenaga kesehatan sangat penting dalam memotivasi ibu agar mau memeriksakan kehamilannya secara Oleh sebab itu perlu dilakukan sosialisasi dan penyuluhan tentang kunjungan pemeriksaan kehamilan yang dapat dilakukan oleh petugas kesehatan dari puskesmas, bidan desa dan tokoh masyarakat dengan cara menyebarkan brosur/ leaflet pada ibu hamil. HASIL Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Tingkat Frekuensi Prosentase (%) Pendidikan SMP SMP SMA Total (Sumber : Data Primer, 2. Berdasarkan menunjukan bahwa dari 16 responden yang sebagian besar pendidikan sekolah dasar (SD) berjumlah 8 orang . %). Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Tabel 2. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Umur ( Tahun ) Frekuensi Prosentase (%) <20 20 Ae 30 30 Ae 35 >35 Total (Sumber : Data Primer, 2. Berdasarkan menunjukan bahwa dari 16 responden yang terendah berusia 30 - 35 tahun sebanyak 7 orang . %). Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan METODE Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian penelitian analisis deskriptif kuantitatif. Pada penelitian ini faktor-faktor mempengaruhi ibu tidak melakukan pemeriksaan kehamilan. Sampel dalam penelitian ini 16 ibu hamil dengan menggunakan total sampling di Kelurahan Pakis Surabaya pada tahun 2025. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah lembar kuesioner. Sedangkan jenis data menggunakan data primer untuk faktor-faktor mempengaruhi ibu tidak melakukan pemeriksaan kehamilan. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Pekerjaan Frekuensi Prosentase (%) Pegawai Wiraswasta Petani Tidak bekerja Total (Sumber : Data Primer, 2. Berdasarkan menunjukan bahwa dari 16 responden sebagian besar tidak bekerja berjumlah 9 orang . %). Faktor Ekonomi Mempengaruhi Tidak Total Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Penghasilan Frekuensi O 1. 0000 Ae Ou 2. Total (Sumber : Data Primer, 2. Faktor Lingkungan Mempengaruhi Tidak Total Yang Tidak Prosentase (%) Frekuensi Prosentase (%) (Sumber : Data Primer, 2. Berdasarkan tabel 7 menyatakan faktor lingkungan dari 16 responden 13 orang . %) yang baik. Tabel 5. Faktor Pengetahuan Yang Mempengaruhi Ibu Hamil Tidak Melakukan Antenatal Care Frekuensi Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Ibu Hamil Tidak Melakukan Antenatal Care Tabel 7. Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Ibu Hamil Tidak Melakukan Antenatal Care Berdasarkan menunjukan bahwa dari 16 responden sebagian besar berpenghasilan rendah berjumlah 10 orang . %). Faktor Pengetahuan Mempengaruhi Tidak Total Berdasarkan tabel 6 menyatakan faktor ekonomi dari 16 responden 14 orang . %) baik. Prosentase (%) Faktor Pengetahuan Mempengaruhi Ibu Hamil Melakukan Antenatal Care Prosentase (%) (Sumber : Data Primer, 2. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Penghasilan Penghasilan Frekuensi PEMBAHASAN Faktor Pengetahuan Yang Mempengaruhi Ibu Hamil Tidak Melakukan Antenatal Care Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan faktor pengetahuan yang mempengaruhi ibu tidak melakukan pemeriksaan kehamilan yaitu sebanyak 14 responden . %). Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa (Notoatmodjo,2021. Jourdan,2. Sebagian pengetahuan manusia di peroleh melalui (Sumber : Data Primer, 2. Berdasarkan tabel 5 menyatakan faktor ekonomi dari 16 responden 14 orang . %) baik. Faktor Ekonomi Yang Mempengaruhi Ibu Hamil Tidak Melakukan Antenatal Care Tabel 6. Faktor Ekonomi Yang Mempengaruhi Ibu Hamil Tidak Melakukan Antenatal Care mata dan telinga. Jika dilihat dari tabel 1 karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan terbanyak ibu adalah SD yaitu sebanyak 8 orang . %). Hal ini menunjukan bahwa ibu dengan pendidikan SD kurang mampu mencari, menerima dan menyerap informasi dengan baik. Sehingga dapat mempengaruhi ibu un tuk tidak melakukan pemeriksaan kehamilan, akan tetapi pengetahuan tidak selalu di peroleh dari pendidikan formal tapi bisa melalui pendidikan nonformal maupun media massa atau elektronik. Faktor Ekonomi Yang Mempengaruhi Ibu Hamil Tidak Melakukan Antenatal Care Berdasarkan mempengaruhi ibu tidak melakukan pemeriksaan kehamilan yaitu sebanyak 14 orang . %). Menurut Adhi . Ilmu ekonomi adalah ilmu mempelajari tingkah laku manusia dalam usahanya untuk mengalokasikan sumber Ae sumber daya yang terbatas guna mencapai tujuan Berdasarkan tabel 4 diatas menunjukan bahwa dari 16 responden sebagian besar berpenghasilan rendah berjumlah 10 orang . %). Hal ini sangat mempengaruhi ibu untuk tidak melakukan pemeriksaan kehamilan, oleh karena itu masalah yang akan timbul pada keluarga dengan tingkat ekonomi rendah yaitu ibu hamil akan kekurangan energi dan protein (KEK). Status sosial ekonomi yang rendah juga dapat mempengaruhi perawatan antenatal berupa kunjungan ke klinik. Biaya untuk melakukan pemeriksaan kehamilan tidak harus mahal karena pemerintah sudah memberikan bantuan kepada masyarakat, tetapi masyarakat sendiri tidak memiliki kesadaran untuk memperoleh kesehatan yang maksimal. Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Ibu Hamil Tidak Melakukan Antenatal Care Berdasarkan didapatkan faktor lingkungan yang mempengaruhi ibu tidak melakukan pemeriksaan kehamilan sebanyak 13 orang . %). Lingkungan merupakan bagian dari kesehatan masyarakat yang memberi pengertian pada penilaian, pemahaman, pengendalian dampak manusia pada lingkungan dan dampak lingkungan pada manusia (Kamali, 2021. Harahap, 2. Lingkungan sangat mempengaruhi pola prilaku manusia karena lingkungan suatu bagian input dalam diri manusia sebagai sistem adaptif. Lingkungan sangat mempengaruhi prilaku manusia ketika merasa sesuatu tidak terjadi pada pada lingkungan sekitar yang tidak melakukan pemeriksaan kehamilan maka ibu merasa bahwa dirinya demikian, tetapi hal tersebut salah karena pada ibu hamil harus mendapat perawatan baik kebutuhan dasar secara fisik maupun psikologis untuk perkembangan ibu dan janin dalam kondisi sehat dan optimal. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian bahwa faktorfaktor yang memepengaruhi ibu hamil tidak melakukan antenatal care di Kelurahan Pakis Surabaya adalah faktor pengetahua dan ekonomi sebanyak 14 responden dengan prosentase 88%. Saran Diharapkan hasil pnelitian ini menjadi menjadi dasar dalam mengembangkan peningkatan pemeriksaan khususnya para ibu hamil, dan mampu menjadi panduan untuk peneliti berikutnya tentang faktor Ae faktor yang bias memicu para ibu hamil untuk melakukan antenatal care. Kementerian Kesehatan. Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Ana. Kementrian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia 2023. Jakarta : Kemenkes RI Notoatmodjo. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Riskesdas . Hasil Utama Riskesdas 2022 Kementrian Kesehatan Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan. Jakarta Saifuddin,Abdul Bari. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal. jakarta:JNPKKR-POG Stoppard,Miriam. Panduan Mempersiapkan Kehamilan dan Persalianan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar World Health Organization (WHO). Trends mortality 2000 to 2020: estimates by WHO. UNICEF. UNFPA. World Bank Group UNDESA/Population Division. Geneva: World Health Organization. DAFTAR PUSTAKA