ARSIP Jurnal Arsitektur. Vol. No. November 2023: 152-161 ARRANGEMENT OF SETTLEMENT AREA WITH DEVELOPMENT MODEL OF FLATS WITH BEHAVIORAL ARCHITECTURAL APPROACH IN SURABAYA PENERAPAN PENDEKATAN ARSITEKTUR PERILAKU PADA PENATAAN KAWASAN PERMUKIMAN DENGAN MODEL PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN DI SURABAYA Khilda Elzim Khosyati. Suko Istijanto. Program Studi Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Khildaelzim@surel. untag-sby. Suko@untag-sby. Abstrak Kawasan Permukiman di kelurahan Dupak. Jalan Lasem. RW 05. RT 12-RT 18 merupakan kawasan prioritas i Penataan dan Peningkatan Kualitas Perumahan dan Permukiman di Kota Surabaya. Kawasan ini termasuk kawasan pemukiman padat di kota Surabaya dengan kepadatan bangunan yang tinggi, kondisi infrastruktur permukiman yang kurang memadai, serta kualitas permukiman yang rendah. Strategi dalam konsep penanganan pada kawasan yang dipilih salah satunya adalah melakukan penataan bangunan dan lingkungan dengan menyediakan hunnian vertikal. Pendekatan arsitektur perilaku pada penataan kawasan permukiman dengan model pembangunan rumah susun ini dapat diterapkan pada konsep dasar perancangan. Arsitektur perilaku . ehaviour architectur. sangat memperhatikan bagaimana prilaku manusia sebagai pengguna dengan lingkungannya. Konsep dasar perancangan dirumusakan dengan melihat karakter lokasi, karakter pengguna, dan karakter Konsep ini juga dirumuskan dengan melihat kebiasaan ramah . dan kekeluargaan . yang ada pada masyarakat setempat. Konsep dasar perancangan ini diharapkan dapat sesuai dengan karakter serta kebiasaan dari perilaku masyarakat Sehingga selain menjawab isu kepadatan, konsep dasar ini dapat mewadahi aspek sosialnya. Kata kunci: Arsitektur Perilaku. Kawasan Permukiman. Penataan Abstract Settlement Areas in the Dupak sub-district. Lasem Street. RW 05. RT 12-RT 18 are priority areas i for Housing and Settlement Quality Improvement in the City of Surabaya. This area is dense residential areas in the city of Surabaya with high building density, low infrastructure, and low settlement quality. One of the strategies in the concept of Settlement Quality Improvement at this area is to arrange buildings and the environment by providing vertical housing. The behavioral architectural approach to the arrangement of Settlement areas using the model of building flats can be applied to the main concept of design. Behavioral architecture is very concerned about how human behavior as a user with the The main concept of design is formulated by looking at the character of the location, the character of the user and the character of the object. This concept was also formulated by looking at the friendly . and kinship . habits that exist in the local community. The main concept of this design is expected to accrording with the character and habits of the behavior of the local community. Keywords: Arrangement. Behavioral Architecture. Settlement Areas. Berdasarkan dokumen SPPIP Bab 3 . , menjelaskan bahwa kawasan ini termasuk kawasan pemukiman padat di kota Surabaya dengan kepadatan bangunan yang tinggi, kondisi infrastruktur permukiman yang kurang memadai, serta kualitas permukiman yang Strategi dalam konsep penanganan pada kawasan yang dipilih salah satunya adalah melakukan penataan bangunan dan lingkungan (Direktorat Jendral Cipta Karya. , no dat. PENDAHULUAN Sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, kota Surabaya mengalami pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun. Hal ini mengakibatkan terjadinya kepadatan penduduk di kota Surabaya. Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik Jawa Timur tahun 2021. Surabaya memiliki jumlah penduduk tertinggi di daerah Jawa Timur, yakni 698 jiwa. Sehingga kepadatan penduduk di kota Surabaya sebesar 8. jiwa/km2 (BPS Jawa Timur, 2. Penataan adalah proses, cara, perbuatan penyusunan (KBBI, no Penataan kawasan adalah upaya yang bisa meningkatkan kualitas lingkungan permukiman baik dari infrastruktur, maupun sarana yang lain melalui kegiatan penataan ulang rumah maupun jaringan jalan (Perkim. id, 2. Salah satu tujuan dalam penataan kawasan permukiman adalah Berdasarkan Permen PUPR 14/PRT/M/2018 Tentang Pencegahan Dan Peningkatan Kualitas Terhadap Perumahan Kumuh Dan Permukiman Kumuh pasal 44 ayat 1 menetapkan pola penanganan permukiman kumuh yang manusiawi, berbudaya, berkeadilan dan ekonomis. Adapun pola penanganan permukiman yang digunakan adalah pemugaran dengan tujuan mengembalikan fungsi sebagaimana semula (Kementrian PUPR, 2. Pertumbuhan penduduk di kota Surabaya yang semakin bertambah sedangkan luas lahan kota yang tetap, mengakibatkan munculnya area-area permukiman padat yang mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan pada area Urbanisasi merupakan salah satu permukiman kumuh semakin meluas di kota Surabaya. Kota dengan pertumbuhan rumah tidak layak huni tertinggi dari beberapa kota metropolitan di Indonesia adalah kota Surabaya, yakni mencapai 27,11% sepanjang tahun 20162020 (Susenas, 2. Secara administratif kawasan yang dipilih berada di kecamatan Krembangan. Kelurahan Dupak. Jalan Lasem. RW 05. RT 12-RT 18. Kawasan ini merupakan kawasan prioritas i Penataan dan Peningkatan Kualitas Perumahan dan Permukiman di Kota Surabaya. Di kawasan tersebut banyak dihuni oleh warga yang bukan penduduk kelurahan Dupak. Mereka banyak mendirikan rumah semi permanen yang juga memiliki sanitasi yang kurang memadai. Sehingga pada kawasan ini banyak ditemukan rumah tidak layak huni. Akibat kepadatan pada kawasan ini, banyak ditemukan gang-gang kecil berukuran 2 meter. Dari hal tersebut mengakibatkan kurangnya ruang terbuka sebagai pendukung aktivitas warga. Misalnya parkir kendaraan dan taman bermain bagi anakanak. Selain itu lahan yang seharusnya digunakan sebagai ruang terbuka hijau (RTH), saat ini banyak digunakan warga melakukan berbagai aktivitas, bahkan tidak sedikit yang mendirikan bangunan di lahan peruntukan RTH. Oleh karena itu kondisi rumah tidak layak huni yang menciptakan permukiman menjadi kumuh dan ruang terbuka hijau (RTH) pada kawasan ini perlu penanganan. TINJAUAN TEORI Arsitektur Perilaku Arsitektur perilaku dan lingkan adalah pendekatan desain yang mempertimbangkan kondisi dari lingkungan terkait kualitasnya Secara pendekatan arsitektur perilaku merupakan pendekatan yang menitik beratkan pada hubungan manusia dengan lingkungannya (Tome. Betteng and Poli, 2. Menurut Amos Rapopot . alam Tome et al. kajian arsitektur perilaku-lingkungan mempengaruhi perilaku manusia di dalam Sehingga penataan kawasan permukiman kumuh ini, nantinya harus karakteristik penggunanya, yang dalam hal ini ARSIP Jurnal Arsitektur. Vol. No. November 2023: 152-161 pengguna utamanya adalah warga atau penduduk dari kawasan permukiman yang telah dipilih. Adapun peran arsitektur dalam kontek yang berkaitan dengan lingkungan adalah sebagai alat atau wadah berkarya bagi manusia sebagai pengguna (Dharma, no dat. Kawasan Permukiman Berdasarkan UU No. 1 Tahun 2011 merupakan lingkungan hidup yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau berhuni serta dapat mendukung kegiatan penghidupan (UU RI No 1, 2. Menurut Barbara, lingkungan yang memiliki fungsi utama sebagai tempat bermukim yang terdapat lebih dari satu rumah atau tempat tinggal, serta tersedia sarana dan prasarana yang dapat menunjang kegiatan (Barbara, 2. Gambar 2. Lokasi penataan kawasan Lokasi yang dipilih sebagai aksi penataan terletak di Jalan Lasem RW 05 RT 12-18. Kelurahan Dupak. Kecamatan Krembangan. Kota Surabaya. Luas kawasan yang dipilih sebesar A 3. 4Ha. Tapak yang dipilih merupakan kawasan permukiman dengan kepadatan tinggi di Morokrembangan. Permukiman ini juga terletak di area marjinal kota Surabaya, tepatnya dekat dengan perbatasan kota Gresik. Kawasan ini juga berbatasan Morokrembangan. Adapun batas-batas pada kawasan ini antara lain. Utara : Bozem Morokrembangan Timur : Permukiman RW 04 Selatan : Permukiman RT 11 RW. Barat : Flyover jalan tol SurabayaGempol METODOLOGI PERANCANGAN Metode perancangan yang digunakan dalam penataan kawasan permukiman ini, secara garis besar terdapat tiga tahapan utama, yakni tahapan penelitian, tahapan perencanaan, dan tahapan Hasil dari tiap tahapan selalu memiliki korelasi sehingga hasil dari semua tahapan saling melengkapi satu sama lain. Gambar 1. Bagan metode perancangan HASIL PEMBAHASAN Analisis Eksternal . Lokasi dan batas tapak Gambar 3. Kondisi tapak eksisting Tabel 1. Kondisi Eksisting arah darat (Pemerintah Kota Surabaya. Hasil analisis tabel 1 di atas, menunjukkan bahwa permukiman yang padat tidak memungkinkan untuk Terutama permukiman yang berada di area sempada bozem sudah seharusnya Sehingga penataan kawasan permukiman dengan model pembangunan hunian vertikal akan sesuai dengan kondisi tapak yang merupakan kawasan dengan kepadatan tinggi. Gambar 4. Garis sempadan bozem . Iklim pada tapak Data iklim yang digunakan dalam Analisis ini adalah data dari stasiun pengukuran terdekat dari tapak. Stasiun pengukuran terdekat adalah stasiun Perak, yang diakses pada buan November 2022. Berikut hasil Analisis dari data iklim yang diperoleh. Peraturan Setempat Berdasarkan RDTR kota Surabaya, permukiman Lasem. Kelurahan Dupak masuk dalam kategori peruntukan Perumahan (R). UP V Tanjung Perak dengan sub zona rumah kepadatan tinggi (R. Sehingga kawasan ini sangat permukiman bertingkat/vertikal. Terkait peraturan permukiman vertikal yang sesuai adalah peraturan mengenai rumah susun dengan menggunakan sistem blok. Menurut peraturan tata ruang UP V Tanjung Perak adalah sebagai berikut. - KDB : Maksimum 50% - KLB : 4 Poin - KDH : Minimal 10% - GSB : Sekurang-kurangnya 6 meter (Muka Banguna. - Tinggi bangunan maksimum yang diizinkan 200 meter (Pemerintah Kota Surabaya, 2. Tabel 2. Ringkasan data iklim Berdasarkan Peraturan Daerah kota Surabaya No 12 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya Tahun 2014-2034 pasal 42 ayat 7 menjelaskan bahwa kawasan sempadan waduk/bozem paling sedikit 50 . ima pulu. meter dari titik pasang tertinggi ke Gambar 5. Diagram angin Berdasarkan diagram di atas, angin paling banyak berhembus dari arah timur dan Sedangkan arah utara terdapat hembusan angin yang sedikit. ARSIP Jurnal Arsitektur. Vol. No. November 2023: 152-161 Dalam merumuskan konsep dasar, maka dapat dilihat dari hasil studi eksternal, studi internal, dan studi literatur yang menghasilkan karakter obyek, karakter lokasi, dan karakter pengguna. Gambar 6. Sun path Gambar 8. Hasil studi yang telah dilakukan Analisis Internal Pada analisis internal berfokus pada aktvitas dan kebutuhan ruang pengguna Hal ini dikarenakan aktivitas yang terjadi dalam bangunan harus bisa terwadahi dengan baik. Gambar 9. Rumusan konsep dasar Konsep kampung dasar tersebut memiliki arti sebuah kawasan yang sengaja dirancang dengan menekankan aspek sosial pada pengguna bangunan. Hal ini dikarenakan pendekatan yang digunakan adalah arsitektur perilaku . ehaviour architectu. yang sangat memperhatikan bagaimana prilaku manusia sebagai Pengguna bangunan nantinya diharapkan dapat bersosialisasi layaknya yang terjadi pada permukiman horisontal. Konsep ini . yang ada pada Sehingga permasalahan yang dihadapi pada aksi penataan kawasan permukiman yaitu mempertahankan karakter dari kehidupan kampung kota, yang mana hal itu merupakan bentuk kearifan lokal dapat dijawab dengan rumusan konsep dasar Gambar 7. Diagram alur aktivitas pengguna Tabel 3. Kebutuhan Ruang Konsep >Bangunan Konsep>Bangunan arsitektural yang menerjemahkan konsep Konsep Dasar dasar kedalam konsep luar bangunan atau penataan lingkungan kawasan. Konsep pola penataan pada kawasan ini yakni dengan menggunakan pola sirkulasi grid. Hal kedudukan yang sama, serta memungkin sirkulasi yang lebih bebas. Akan tetapi dalam penerapannya perlu penyesuaian lagi sebagai bentuk respon kondisi iklim. Konsep