MJLM Muria Jurnal Layanan Masyarakat (MJLM) Vol. 8 No. 1 Maret, 2026, pp-12-20 p-ISSN: 2657-0955 e-ISSN: 2656-7342 Peningkatan Kapasitas Industri Rumah Tangga melalui Edukasi Praktik Akuntansi Biaya dan Manajemen Keuangan pada Usaha Tempe dan Keripik Tempe Susana Himawati. Kertati Sumekar. Supriyono. Noor Indah Rahmawati. Agung Subono Universitas Muria Kudus Info Artikel ABSTRACT This article aims to provide practical education on basic cost accounting and financial management for tempeh home industries in susanahimawati@umk. Winong and Langse Villages. Pati Regency. The methodology includes SWOT surveys, production cost recording exercises, and basic financial management training using simple report simulations to Keywords: establish organized accounting habits. Results indicate an Cost accounting. Financial improvement in participants' ability to calculate production costs Home accurately to determine a reasonable Cost of Goods Sold (COGS). Tempeh. Tempeh Furthermore, participants have begun separating business and household finances while maintaining simple records of cash flow, assets, liabilities, and profit. Conclusions, limitations, and suggestions Kata Kunci: are also discussed. Penulis Korespondensi Akuntansi biaya. Manajemen keuangan. Industri rumah tangga. Tempe. Keripik tempe ABSTRAK Artikel ini bertujuan memberikan edukasi praktik dasar akuntansi biaya dan manajemen keuangan bagi industri rumah tangga pengrajin tempe di Desa Winong dan keripik tempe Rahayu Mandiri di Desa Langse. Kabupaten Pati. Metode pelaksanaan meliputi survei SWOT, latihan pencatatan biaya produksi, serta pelatihan manajemen keuangan melalui simulasi laporan sederhana untuk membangun kebiasaan pencatatan yang terorganisir. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta dalam menghitung biaya produksi secara terukur guna menentukan Harga Pokok Produksi (HPP) yang lebih akurat. Selain itu, peserta mulai mampu memisahkan keuangan usaha dari keuangan rumah tangga serta menyusun laporan arus kas, aset, kewajiban, dan laba sederhana. Simpulan, keterbatasan, dan saran turut dibahas dalam artikel ini. PENDAHULUAN Home industry atau industri rumah tangga di Indonesia merupakan penggerak krusial dalam pembangunan ekonomi lokal. Sektor ini berperan penting dalam menyediakan peluang kerja, meningkatkan kesejahteraan keluarga, serta mereduksi angka kemiskinan di komunitas pedesaan maupun kota kecil. Data terbaru menunjukkan bahwa sektor industri rumahan mampu menyerap hingga 65,5% tenaga kerja nasional, yang membuktikan kontribusi signifikannya terhadap stabilitas ekonomi skala masyarakat. https://jurnal. id/index. php/mjlm MJLM Muria Jurnal Layanan Masyarakat (MJLM) Vol. 8 No. 1 Maret, 2026, pp-12-20 p-ISSN: 2657-0955 e-ISSN: 2656-7342 Perkembangan home industry di kota-kota kecil Jawa Tengah, termasuk Kabupaten Pati, terus menunjukkan peran pentingnya sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Pati dikenal sebagai salah satu sentra pengrajin tempe dan olahan turunannya, seperti keripik tempe, yang tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat lokal, tetapi juga dipasarkan ke berbagai daerah. Keberadaan industri rumahan ini memberikan dampak nyata: terciptanya lapangan kerja, peningkatan pendapatan keluarga, serta tumbuhnya semangat wirausaha di kalangan masyarakat pedesaan. Namun, di balik potensi tersebut masih terdapat permasalahan mendasar yang perlu mendapat perhatian serius. Salah satu masalah utama yang dihadapi pelaku home industry adalah lemahnya pencatatan akuntansi biaya. Sebagian besar pengrajin masih melakukan pencatatan secara sederhana, bahkan ada yang hanya mengandalkan AoingatanAo. Akibatnya, mereka kesulitan mengetahui secara pasti berapa besarnya: a. biaya produksi. margin keuntungan. dan c. tingkat efisiensi usaha. Hal ini membuat keputusan manajerial, seperti a. penentuan harga jual. pembelian bahan baku. perencanaan modal kerja, cenderung didasarkan pada perkiraan/pengalaman daripada perhitungan akurat. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan daya saing usaha, terlebih dalam menghadapi fluktuasi harga kedelai sebagai bahan baku utama tempe. Selain itu, aspek manajemen keuangan juga belum mendapat perhatian memadai. Sebagian besar pelaku home industry belum memisahkan keuangan usaha dengan keuangan rumah tangga. Pola ini mengakibatkan laba usaha tidak terukur secara jelas, sehingga sulit untuk melakukan perencanaan pengembangan usaha. Minimnya pemahaman tentang fungsi manajemen keuangan, seperti a. perencanaan arus kas. pengendalian biaya. hingga c. evaluasi investasi sederhana, menjadi faktor penghambat berkembangnya usaha kecil ini. Padahal, literasi keuangan yang baik merupakan pondasi penting dalam menjaga keberlanjutan usaha di tengah ketidakpastian ekonomi. Hal tersebut menjadi salah satu masalah utama, jika pelaku industry rumahan berhasil mendapatkan . dari sumber keuangan bank/ nonbank . ana bantuan usaha dari pemerintah dll. ) tidak mampu mengembangkan usahanya hingga sukses untuk jangka Panjang, artinya Tingkat keberlanjutan atau sustainable usahanya rendah . Lebih jauh lagi, tantangan lain yang dihadapi home industry adalah akses terhadap teknologi pencatatan modern. Berbeda dengan perusahaan menengah atau besar yang telah menggunakan perangkat lunak akuntansi, sebagian besar pelaku industri rumahan di Pati masih menggunakan metode manual. Rata-rata industri rumahan belum berbadan hukum, masih berupa ijin usaha atau SIUP (Surat Izin Usaha Perdaganga. atau NIB (Nomor Induk Berusah. belum berbadan hukum yang lebih besar seperti CV atau PT. Padahal, pengalaman di berbagai sektor agribisnis dan UMKM menunjukkan bahwa adopsi teknologi sederhanaAimisalnya pencatatan berbasis aplikasi gratis di ponselAidapat meningkatkan efisiensi, akurasi, dan transparansi dalam pengelolaan keuangan. Dengan memperhatikan kondisi tersebut, maka diperlukan adanya pendekatan edukasi praktik akuntansi biaya dan manajemen keuangan menjadi sangat relevan dan urgen. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, para pengrajin tempe dan keripik tempe di Kabupaten Pati diharapkan mampu memahami cara menghitung biaya produksi secara tepat, menetapkan harga jual yang wajar, meningkatkan peluang penjualan, dan menguntungkan, serta mengelola keuangan usaha dengan lebih terarah. Dengan demikian, keberlanjutan . usiness sustainabilit. , usaha dapat terjamin, daya saing meningkat, dan kontribusi terhadap perekonomian lokal semakin besar. Selama ini, home industry sering dipersepsikan hanya sebagai usaha sampingan rumah tangga dengan skala kecil dan manajemen sederhana. Namun, dinamika ekonomi nasional menunjukkan bahwa keberadaan sektor ini justru menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan. Kontribusi nyata home industry dalam menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan keluarga, hingga menopang ketahanan panganAiseperti pada produk tempe dan olahannyaAimenegaskan https://jurnal. id/index. php/mjlm MJLM Muria Jurnal Layanan Masyarakat (MJLM) Vol. 8 No. 1 Maret, 2026, pp-12-20 p-ISSN: 2657-0955 e-ISSN: 2656-7342 bahwa sektor ini tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Pergeseran persepsi ini perlu ditindaklanjuti dengan penguatan kapasitas, terutama pada aspek pengelolaan keuangan dan akuntansi biaya, agar para pelaku mampu naik kelas dari sekadar usaha bertahan hidup menjadi usaha berorientasi tumbuh dan berdaya saing . Di Kabupaten Pati, usaha tempe dan keripik tempe menjadi contoh konkret bagaimana industri rumahan berperan penting dalam menjaga tradisi sekaligus menopang ekonomi Namun, sebagian besar pelaku usaha masih mengelola bisnisnya secara tradisional. Pencatatan biaya produksi dilakukan secara manual, tanpa perhitungan detail mengenai biaya bahan baku, tenaga kerja, dan overhead. Kondisi ini menyebabkan harga jual produk kerap ditentukan hanya berdasarkan kebiasaan pasar atau perkiraan semata, bukan dari analisis biaya yang akurat. Akibatnya, keuntungan yang diperoleh tidak optimal, bahkan sering kali tidak terukur hingga merugi untuk jangka panjang . Lebih jauh lagi, praktik manajemen keuangan di kalangan pengrajin tempe dan keripik tempe masih bercampur dengan keuangan rumah tangga. Uang hasil penjualan produk kerap langsung digunakan untuk kebutuhan harian keluarga, sehingga sulit membedakan antara laba usaha dan konsumsi pribadi. Pola ini berimplikasi pada ketiadaan modal kerja yang memadai untuk pengembangan usaha. Di sisi lain, keterbatasan pemahaman mengenai pentingnya pencatatan arus kas, perencanaan tabungan, maupun pengendalian biaya, turut memperlemah kemampuan pelaku home industry dalam menjaga keberlanjutan bisnisnya . Dengan melihat fenomena ini, semakin jelas bahwa penguatan kemampuan akuntansi biaya dan manajemen keuangan bukan sekadar tambahan pengetahuan, tetapi merupakan kebutuhan mendesak untuk di aplikasikan secara bertahap dan menyesuaikan kondisi kemampuan profit Jika para pengrajin dibekali pemahaman tentang bagaimana menghitung biaya produksi dengan tepat, memisahkan keuangan usaha dan rumah tangga, serta melakukan perencanaan keuangan sederhana, maka usaha yang mereka jalankan akan lebih terarah. Pergeseran persepsi dari Auusaha kecil tradisionalAy menjadi Auusaha mikro berorientasi profesionalAy diharapkan dapat terwujud melalui pengabdian edukasi ini . Selanjutnya penting untuk mengetahui dasar-dasar akuntansi biaya dan manajemen keuangan yang relevan untuk dipraktikkan dan dicoba secara bertahap untuk penyempurnaan praktiknya dan pengembangannya untuk masa yang akan datang, sebagaimana ditunjukkan pada tabel 1 dan 2. Tabel 1. Contoh Akuntansi Biaya Dasar untuk Home Industry Tempe Komponen Contoh pada Usaha Tempe/Keripik Tujuan Pencatatan Biaya Bahan Baku Kedelai, minyak goreng, bumbu Biaya Tenaga Kerja Upah anggota keluarga/pekerja Mengetahui total biaya bahan tiap Menghitung berapa ongkos tenaga Biaya Overhead Total Biaya Produksi Harga Pokok per Unit Gas/LPG, listrik, kemasan Jumlah ketiga biaya di atas Menghitung biaya tambahan produksi Menentukan berapa sebenarnya modal Total biaya y jumlah produk Menjadi dasar menentukan harga jual https://jurnal. id/index. php/mjlm MJLM Muria Jurnal Layanan Masyarakat (MJLM) Vol. 8 No. 1 Maret, 2026, pp-12-20 p-ISSN: 2657-0955 e-ISSN: 2656-7342 Tabel 2. Contoh Manajemen Keuangan Dasar untuk Home Industry Olahan Tempe Komponen Isi/Contoh Ekuitas (Modal Bersi. Kewajiban Jangka Pendek Wajan besar, kompor, mesin pres Kas di tangan, stok kedelai, stok Uang pribadi yang dipakai untuk Pinjaman koperasi, utang ke pemasok kedelai Laba/Rugi Bersih Selisih pendapatan dan biaya Aset Tetap Aset Lancar Tujuan Dasar Mengetahui nilai alat usaha Mengukur modal lancar yang siap Mengetahui modal sendiri tanpa Mengukur beban utang jangka Mengetahui hasil usaha: untung atau rugi Meskipun home industry tempe Desa Winong Kota Lorong Tempe Suhari dan keripik tempe Desa Langse RAHAYU MANDIRI di Kabupaten Pati memiliki potensi besar dalam meningkatkan ekonomi keluarga, masih terdapat berbagai kendala mendasar yang menghambat perkembangan Permasalahan ini terutama muncul pada aspek pencatatan akuntansi biaya, manajemen keuangan, dan tata kelola usaha, yaitu meliputi: pencatatan biaya produksi masih tradisional. manajemen keuangan belum tertata. kesulitan meningkatkan kesejahteraan karyawan. belum siap menghadapi kewajiban retribusi dan pajak. terhambatnya perencanaan pengembangan usaha. Dengan merujuk ke dua tabel dasar 1 dan 2, permasalahan inti yang dihadapi adalah ketidakjelasan biaya dan posisi keuangan, yang berakibat pada: 1. keuntungan tidak maksimal. kesejahteraan karyawan stagnan. sulit memenuhi kewajiban formal . etribusi/paja. secara tetap. terhambatnya langkah naik kelas menjadi seperti UD atau CV atau minimal adanya progress peningkatan volume produksi dan penjualan serta profit. Solusi yang ditawarkan dalam kegiatan pengabdian ini diarahkan pada penguatan kapasitas pelaku usaha melalui beberapa aspek utama yaitu: Edukasi pencatatan biaya produksi secara sederhana dan terstruktur agar pelaku usaha mampu menghitung harga pokok produksi (HPP) secara tepat sehingga dapat menentukan harga jual yang wajar dan menguntungkan . Penguatan manajemen keuangan dasar melalui pendampingan pemisahan keuangan usaha dan rumah tangga serta pencatatan aset, modal, dan laba rugi secara sederhana, sehingga pelaku usaha dapat mengetahui posisi keuangan secara nyata dan mampu merencanakan modal kerja, pembayaran kewajiban, dan tabungan untuk pengembangan usaha . Optimalisasi keuntungan usaha yang diharapkan berdampak pada peningkatan kesejahteraan pelaku usaha dan karyawan. Dengan pencatatan biaya dan keuangan yang rapi, keuntungan yang diperoleh bisa lebih jelas . Hal ini memungkinkan pelaku usaha secara bertahap meningkatkan honor atau bonus karyawan, sehingga motivasi kerja meningkat dan loyalitas karyawan terjaga . Persiapan administrasi usaha melalui pembukuan sederhana sebagai dasar untuk pengembangan usaha dan akses terhadap dukungan lembaga keuangan. Pembukuan sederhana menjadi dasar untuk mempersiapkan diri menghadapi kewajiban administrasi ketika naik kelas dari izin P-IRT menjadi CV . Penguatan strategi pemasaran secara bertahap melalui perbaikan kemasan, branding sederhana, serta perluasan pasar sesuai kapasitas produksi. https://jurnal. id/index. php/mjlm MJLM Muria Jurnal Layanan Masyarakat (MJLM) Vol. 8 No. 1 Maret, 2026, pp-12-20 p-ISSN: 2657-0955 e-ISSN: 2656-7342 Selain itu, kegiatan ini juga menekankan pada peningkatan motivasi dan mindset kewirausahaan agar pelaku usaha tidak hanya berorientasi pada keberlangsungan, tetapi juga pada pertumbuhan usaha yang berkelanjutan dan profesional. METODE Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini dirancang secara integratif melalui tahapan edukasi teoretis, praktik langsung . ands-o. , serta pendampingan intensif bagi pelaku home industry tempe dan keripik tempe di Kabupaten Pati. Pemilihan mitra dilakukan secara selektif dengan melibatkan unit usaha "Lorong Tempe Suhari" sebagai representasi produsen tempe mentah dan "Rahayu Mandiri" sebagai representasi industri olahan keripik tempe, yang keduanya secara sukarela . berperan sebagai pionir dalam standarisasi tata kelola keuangan. Pendekatan ini bertujuan agar para pemilik usaha yang telah memiliki izin P-IRT (Pangan Industri Rumah Tangg. dapat mengadopsi sistem pencatatan biaya produksi dan manajemen keuangan dasar, yang nantinya diharapkan dapat disosialisasikan secara mandiri di level sentra industri sejenis. Tahapan kegiatan dimulai dari identifikasi masalah melalui survei SWOT, pelatihan kalkulasi Harga Pokok Produksi (HPP), hingga simulasi pemisahan kas pribadi dan usaha guna menjamin keberlanjutan operasional serta profesionalisme manajemen industri rumahan tersebut. Gambar 1. Diagram Alur Metode Survey & Wawancara SWOT Ie Pengenalan & Latihan Praktik Akuntansi Biaya (Tabel . Ie Manajemen Keuangan & Laporan Dasar (Tabel . Ie Edukasi Owner & Karyawan (Organisasi Usaha Sederhan. Ie Pendampingan & Evaluasi Ie Usaha Lebih Profesional (Siap Naik Kela. Tahapan kegiatan sebagai berikut: Survey Awal dan Wawancara SWOT A Dilakukan melalui kunjungan langsung ke lokasi produksi tempe mentah Lorong Tempe Suhari di Desa Winong dan keripik tempe Rahayu Mandiri di Desa Langse. A Wawancara dengan pemilik dan karyawan untuk mengidentifikasi kondisi nyata usaha dengan pendekatan SWOT (Strength. Weakness. Opportunity. Threa. A Fokus utamanya: peluang peningkatan profit yang stabil serta kendala utama yang dihadapi . odal, pencatatan, pemasaran, kesejahteraan karyawa. A Hasil survey digunakan untuk merancang materi edukasi yang sesuai dengan kebutuhan lapangan. Pengenalan dan Latihan Praktik Akuntansi Biaya Dasar A Peserta dikenalkan pada tabel akuntansi biaya sederhana (Tabel . untuk menghitung biaya produksi, mulai dari bahan baku, tenaga kerja, hingga biaya tambahan . as, listrik, kemasa. https://jurnal. id/index. php/mjlm MJLM Muria Jurnal Layanan Masyarakat (MJLM) Vol. 8 No. 1 Maret, 2026, pp-12-20 p-ISSN: 2657-0955 e-ISSN: 2656-7342 Dilakukan simulasi nyata dengan menghitung biaya produksi tempe atau keripik pada satu kali proses produksi. A Peserta dilatih menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) per unit dan cara menentukan harga jual yang wajar, sehingga usaha tetap kompetitif dan untung. Manajemen Keuangan dan Latihan Laporan Dasar A Peserta diperkenalkan pada tabel manajemen keuangan dasar (Tabel . untuk mencatat aset, modal, utang, dan keuntungan. A Pelatihan membuat laporan sederhana bulanan, berisi catatan arus kas, posisi aset, kewajiban, dan laba rugi. A Ditekankan manfaat praktis: laporan ini bisa menjadi dasar perencanaan pengembangan usaha, mengakses modal pinjaman, hingga memenuhi kewajiban pajak/retribusi ketika naik kelas menjadi CV. Edukasi Praktis untuk Owner dan Karyawan A Edukasi tidak hanya untuk pemilik, tetapi juga melibatkan karyawan agar semua pihak memahami pentingnya pencatatan biaya dan keuangan. A Materi ditekankan pada disiplin administrasi sederhana: mencatat bahan baku masuk, produk keluar, serta pendapatan harian. A Tujuannya agar usaha lebih terorganisir dan secara bertahap bisa membentuk struktur kantor/official, meskipun sederhana. Hal ini akan membangun budaya kerja yang lebih profesional dan menumbuhkan rasa memiliki . ense of belongin. pada Pendampingan dan Evaluasi A Setelah edukasi, dilakukan pendampingan singkat untuk memastikan peserta benarbenar mempraktikkan pencatatan. A Evaluasi dilakukan dengan membandingkan hasil pencatatan sebelum dan sesudah pelatihan, untuk melihat progres nyata pada usaha. Gambar 2. Wawancara dan Edukasi Praktik Dasar Dengan metode ini, diharapkan para pelaku usaha tidak hanya mengenal teori, tetapi juga terbiasa praktik langsung dalam pencatatan biaya dan keuangan Lebih jauh. metode ini mendorong motivasi untuk tumbuh dari usaha rumah tangga tradisional menuju usaha yang lebih profesional dan berorientasi masa depan. https://jurnal. id/index. php/mjlm MJLM Muria Jurnal Layanan Masyarakat (MJLM) Vol. 8 No. 1 Maret, 2026, pp-12-20 p-ISSN: 2657-0955 e-ISSN: 2656-7342 Gambar 3. Profil & Proses Produksi HASIL DAN PEMBAHASAN Pertama, pelaksanaan edukasi praktik akuntansi biaya pada home industry tempe dan keripik tempe di Kabupaten Pati menunjukkan hasil awal yang positif meskipun modal dan kapasitas produksi masih terbatas. Kondisi nyata yang ditemukan adalah bahwa volume penjualan produk relatif kecil, dengan pelanggan utama berasal dari area Pati sendiri, serta satu pelanggan tetap di Semarang yang melakukan pembelian secara rutin. Hal ini menggambarkan bahwa pasar masih bersifat lokal dengan cakupan yang belum terlalu luas. Hasil edukasi pencatatan biaya menunjukkan adanya peningkatan pemahaman pemilik dan karyawan mengenai struktur biaya produksi. Sebelum kegiatan, pencatatan biaya hanya berfokus pada bahan baku kedelai dan minyak goreng, sementara biaya tenaga kerja, gas/LPG, listrik, serta kemasan sering diabaikan atau tidak dihitung secara rinci. Melalui praktik sederhana yang diperkenalkan, peserta mulai memahami pentingnya mencatat seluruh komponen biaya agar dapat menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) yang lebih realistis . Dengan metode simulasi, karyawan dan pemilik dilatih mencatat biaya satu kali produksi tempe dan keripik. Meskipun menggunakan modal yang masih terbatas, pemilik usaha berusaha menjaga kualitas dan kepuasan konsumen maupun pelanggan. hasil pelatihan menunjukkan bahwa biaya total per produksi dapat dihitung lebih jelas. Misalnya, setelah memperhitungkan semua komponen biaya, peserta dapat mengetahui berapa sebenarnya margin keuntungan yang diperoleh dari satu kali produksi, bukan hanya berdasarkan perkiraan . Dampak awal dari pencatatan sederhana ini adalah meningkatnya kesadaran bahwa keuntungan usaha tidak selalu sebesar yang diperkirakan sebelumnya. Hal ini menumbuhkan motivasi baru untuk lebih disiplin dalam mengelola biaya, termasuk efisiensi penggunaan gas, pembelian kedelai, maupun pemanfaatan tenaga kerja yang sebagian besar merupakan tetangga Karyawan yang dilibatkan dalam edukasi juga mulai memahami perannya bukan hanya sekadar pekerja, tetapi bagian dari usaha yang harus dikelola secara lebih tertib . Dengan adanya pencatatan biaya yang lebih transparan, meskipun masih sangat sederhana, pemilik usaha mulai memiliki gambaran dasar mengenai kemampuan usahanya. Setidaknya, https://jurnal. id/index. php/mjlm MJLM Muria Jurnal Layanan Masyarakat (MJLM) Vol. 8 No. 1 Maret, 2026, pp-12-20 p-ISSN: 2657-0955 e-ISSN: 2656-7342 mereka dapat memastikan bahwa modal yang dikeluarkan benar-benar tertutup oleh hasil penjualan, sehingga usaha tetap berjalan dan mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarga serta memberikan penghasilan tambahan bagi karyawan. Jadi, hasil sesi pertama terkait praktik akuntansi biaya, ini menekankan bahwa meskipun skala usaha kecil dan modal minim, edukasi akuntansi biaya telah menghasilkan perubahan mindset: dari sekadar Auasalkan jalanAy menjadi usaha yang lebih sadar biaya, lebih terukur, dan lebih siap untuk tumbuh secara bertahap. Kedua, tahap edukasi selanjutnya berfokus pada manajemen keuangan dasar, yang bertujuan agar pemilik dan karyawan memahami posisi keuangan usaha secara sederhana namun Hasil yang diperoleh dari edukasi ini adalah meningkatnya kesadaran pentingnya memisahkan keuangan usaha dari keuangan rumah tangga. Sebelum kegiatan, hampir seluruh pemasukan langsung bercampur dengan pengeluaran harian, sehingga sulit diketahui berapa sebenarnya keuntungan usaha. Setelah diberikan latihan dengan tabel manajemen keuangan sederhana (Tabel . , pemilik mulai terbiasa mencatat aset lancar . as, stok kedelai, stok minyak goren. , aset tetap . lat produks. , serta kewajiban jangka pendek . tang bahan bak. Manfaat praktis dari pencatatan ini terlihat pada kemampuan pemilik untuk mulai merencanakan penggunaan laba secara lebih disiplin. Misalnya, sebagian keuntungan yang biasanya langsung habis untuk kebutuhan rumah tangga kini dapat disisihkan sebagai dana cadangan usaha. Hal ini penting untuk menjaga keberlangsungan produksi, terutama ketika harga kedelai sebagai bahan baku mengalami fluktuasi. Dengan pencatatan keuangan yang lebih jelas, usaha tidak mudah terguncang oleh perubahan harga bahan baku karena sudah ada dana simpanan meskipun kecil . Selain itu, pencatatan arus kas sederhana memberikan pemahaman baru mengenai aliran keluar-masuk uang. Pemilik dapat melihat secara langsung bahwa meskipun penjualan stabil, keuntungan bisa menurun jika biaya tenaga kerja atau biaya tambahan lain tidak dikendalikan. Dari hasil diskusi, karyawan yang ikut dalam pelatihan juga mulai memahami bahwa kesejahteraan mereka sangat bergantung pada kerapian pengelolaan keuangan. Hal ini menumbuhkan rasa kebersamaan antara pemilik dan karyawan dalam menjaga disiplin pencatatan dan efisiensi kerja. Hasil lain yang dapat diamati adalah munculnya ide untuk mengalokasikan keuntungan kecil secara bertahap bagi perbaikan kemasan produk. Meskipun masih sederhana, langkah ini menjadi sinyal awal bahwa usaha mulai berpikir jangka panjang. Kemasan yang lebih baik tidak hanya menjaga kualitas produk, tetapi juga meningkatkan nilai jual. Di sisi pemasaran, pencatatan laba rugi sederhana memberi gambaran apakah usaha mampu menanggung biaya tambahan promosi atau distribusi ke wilayah konsumen baru. Secara keseluruhan, edukasi manajemen keuangan dasar telah membantu usaha tempe dan keripik di Pati untuk lebih terorganisir, meskipun skalanya masih kecil dan tujuannya sebatas mempertahankan usaha agar tetap berjalan. Dengan pencatatan keuangan yang disiplin, usaha tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan harian pemilik dan karyawan, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk sustainable meskipun menghadapi tantangan bahan baku, biaya operasional, dan keterbatasan pasar . hasil sesi kedua terkait edukasi praktik manajemen keuangan, menegaskan bahwa keberhasilan bukan hanya diukur dari besarnya laba, tetapi dari kemampuan usaha untuk bertahan secara konsisten. Pencatatan biaya dan manajemen keuangan sederhana menjadi kunci untuk memastikan bahwa usaha dapat terus berjalan, memberi nafkah, meningkatkan kesejahteraan, dan tetap relevan bagi konsumen meskipun dengan modal terbatas. https://jurnal. id/index. php/mjlm MJLM Muria Jurnal Layanan Masyarakat (MJLM) Vol. 8 No. 1 Maret, 2026, pp-12-20 p-ISSN: 2657-0955 e-ISSN: 2656-7342 SIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini memberikan dampak positif yang signifikan bagi para peserta, meskipun dilaksanakan dalam lingkup terbatas dan belum mencakup sentra industri rumah tangga secara luas. Implementasi edukasi praktik akuntansi biaya berhasil meningkatkan pemahaman pemilik usaha dan karyawan mengenai urgensi kalkulasi seluruh komponen produksi secara komprehensif, melampaui sekadar biaya bahan baku utama. Transparansi dalam pencatatan biaya ini memungkinkan penetapan Harga Pokok Produksi (HPP) dan margin laba yang lebih terukur, sehingga menjamin stabilitas operasional usaha dalam menjaga loyalitas serta kepuasan Peningkatan kapasitas manajerial ini juga berimplikasi langsung pada penguatan struktur pendapatan yang krusial saat menghadapi lonjakan permintaan musiman . easonal deman. seperti hari raya atau perayaan besar, sehingga mampu mengakselerasi tingkat kesejahteraan dan akumulasi tabungan masa depan bagi keluarga pemilik usaha maupun karyawan di Kabupaten Pati. DAFTAR PUSTAKA