Sadhina. Widayanti. , & Syah. /Barakuda 45 7 . , 140-152 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/ barakuda45. DAMPAK FASILITASI PERDAGANGAN TERHADAP EKPOR RUMPUT LAUT DI INDONESIA THE IMPACT OF TRADE FACILITATION ON SEAWEED EXPORTS IN INDONESIA Risma Sadhina1*). Sri Widayanti. Mirza Andrian Syah. Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jawa Timur Jl. Rungkut Madya. Kecamatan Gunung Anyar. Surabaya. Jawa Timur, 60294. Indonesia *)Korespondensi: sriwidayanti@upnjatim. Diterima: 24 Mei 2025. Disetujui: 30 September 2025 ABSTRAK Indonesia memiliki potensi besar dalam ekspor rumput laut, namun pemanfaatannya masih belum optimal akibat berbagai hambatan dalam sistem perdagangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan ekspor rumput laut Indonesia ke tujuh negara tujuan utama selama tahun 2013Ae2023, menilai kondisi indeks fasilitasi perdagangan, serta mengkaji pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap ekspor. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan model gravitasi dan regresi data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GDP negara tujuan dan kualitas infrastruktur perdagangan dan transportasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap ekspor rumput laut Indonesia. Sebaliknya. GDP Indonesia, kompetensi logistik, dan efisiensi bea cukai tidak berpengaruh Indeks persepsi korupsi menunjukkan pengaruh negatif signifikan terhadap ekspor. Temuan ini menegaskan bahwa faktor eksternal seperti daya beli negara tujuan dan kualitas infrastruktur memiliki pengaruh besar, sementara faktor internal seperti korupsi menjadi hambatan utama. Oleh karena itu, strategi peningkatan ekspor perlu difokuskan pada reformasi tata kelola perdagangan, penguatan infrastruktur ekspor, dan pengembangan pasar di negara dengan indeks fasilitasi perdagangan yang tinggi. Kata Kunci: Ekspor Rumput Laut. Fasilitasi Perdagangan. Infrastruktur. Model Gravitasi ABSTRACT Indonesia has great potential in seaweed exports, but its utilization was still not optimal due to various barriers in the trade system. This study aimed to analyze the development of Indonesian seaweed exports to seven main destination countries during 2013Ae2023, assess the condition of the trade facilitation index, and examine the influence of these variables on The method used was a quantitative approach with a gravity model and panel data. The research results showed that the GDP of destination countries and the quality of trade and transport infrastructure had a positive and significant effect on Indonesia's seaweed Conversely. Indonesia's GDP, logistics competence, and customs efficiency did not have a significant effect. The corruption perception index showed a significant negative effect on exports. These findings confirmed that external factors such as the purchasing power of destination countries and the quality of infrastructure had a major influence, while internal factors such as corruption were a major obstacle. Therefore, export enhancement strategies should be focused on trade governance reforms, strengthening export infrastructure, and developing markets in countries with high trade facilitation indices. Keywords: Seaweed Export. Trade Facilitation. Infrastructure. Gravity Model Sadhina. Widayanti. , & Syah. /Barakuda 45 7 . , 140-152 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/ barakuda45. PENDAHULUAN Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia memiliki potensi sumber daya kelautan yang sangat melimpah, termasuk dalam subsektor budidaya rumput laut. Wilayah perairan yang luas Indonesia, yang mencapai sekitar 6,4 juta km2, mendukung pengembangan budidaya rumput laut di berbagai tempat dari Aceh hingga Papua. Menurut Arifah . , komoditas ini tidak hanya strategis secara ekonomi tetapi juga berkontribusi besar pada peningkatan mata pencaharian masyarakat pesisir dan meningkatkan devisa melalui Secara internasional terdiri dari dua tindakan: ekspor dan impor. Ekspor adalah penjualan barang dan jasa yang dibuat di dalam negeri untuk kemudian dijual ke negara lain. Jika kebutuhan suatu produk di suatu negara telah terpenuhi dan produk tersebut dibutuhkan di negara lain, ekspor dapat terjadi (Elfira et al. , 2. Ekspor rumput laut Indonesia adalah salah satu contoh nyata dari aktivitas ekspor yang sangat membantu perekonomian negara. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan . menunjukkan bahwa volume ekspor rumput laut Indonesia meningkat 241 ton pada tahun 2019 menjadi 843 ton pada 2023, atau tumbuh sebesar 27,07% dalam lima tahun terakhir. Ekspor rumput laut memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, hal ini dapat meningkatkan pendapatan nasional. Berikut ekspor rumput laut ke beberapa negara dalam 5 Tabel 1 Ekspor Rumput Laut tahun 2019-2023 (US$ 1. Negara Tahun Rata-rata China Chili Korea Selatan Hongkong Filipina Jepang Prancis Denmark Vietnam Spanyol Sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2024 Dalam data di atas, lima negara tengah tingginya permintaan pasar menunjukkan nilai ekspor rata-rata internasional (Sridadi et al. , 2. Oleh Mereka adalah China. Korea karena itu, rumput laut memainkan peran Selatan. Chili. Vietnam. Filipina. Jepang, dan Prancis. Selain itu, ekspor rumput laut menawarkan peluang ekonomi bagi bergantung pada sumber daya laut. masyarakat pesisir, terutama bagi mereka Faktanya, potensi ekspor tersebut yang memiliki sumber daya terbatas. Sistem Budidaya rumput laut merupakan usaha perdagangan masih menghadapi tantangan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan di Sadhina. Widayanti. , & Syah. /Barakuda 45 7 . , 140-152 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/ barakuda45. infrastruktur dan logistik. Dalam Logistic sebagai kontribusi ilmiah. Tujuan dari Performance Index (LPI) tahun 2023. Indonesia menurun dari posisi ke-46 pada tahun 2018 (World Bank, 2. Selain rumput laut Indonesia ke negara tujuan itu, biaya logistik dilaporkan mencapai utama dari tahun 2013 hingga 2023, 23,5% dari PDB. Ini jauh lebih tinggi dari menganalisis indeks fasilitasi perdagangan Malaysia . %) dan negara-negara ekspor rumput laut Indonesia, dan ASEAN lainnya (Budiyanti, 2. Salah satu cara penting untuk perdagangan terhadap ekspor rumput laut mengatasi tantangan ini adalah dengan Indonesia. Maka dari itu, kajian mengenai membantu perdagangan. Portugal-Perez dan dampak fasilitasi perdagangan terhadap Wilson . mengatakan bahwa fasilitasi ekspor rumput laut sangat penting untuk perdagangan terdiri dari infrastruktur fisik, dilakukan, tidak hanya sebagai kontribusi seperti pelabuhan, jalan, dan TI, serta ilmiah, tetapi juga sebagai dasar infrastruktur lunak, seperti prosedur bea cukai, tata kelola pemerintahan, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai efisiensi dokumen. Dua komponen ini produsen utama rumput laut di dunia. dianggap dapat mempercepat transportasi Indonesia merupakan salah satu barang antara negara, menurunkan biaya produsen utama rumput laut dunia, namun ekspor, dan meningkatkan daya saing daya saing ekspornya masih terkendala barang-barang Indonesia di pasar global. oleh beberapa faktor, seperti lemahnya Kompleksitas prosedur ekspor, infrastruktur pelabuhan, lamanya prosedur beberapa di antaranya adalah prosedur ekspor, serta tingkat korupsi yang tinggi. ekspor yang rumit, biaya logistik yang Faktor-faktor seperti GDP negara tujuan, tinggi, dan pelabuhan yang tidak efisien. kualitas logistik, efisiensi bea cukai, dan Untuk mengatasi masalah ini, upaya untuk persepsi korupsi masih terbatas. Oleh fasilitasi perdagangan yang lebih efisien karena itu, penelitian ini penting dilakukan harus dilakukan. Sangat penting untuk sebagai dasar formulasi kebijakan melakukan penelitian mengenai dampak peningkatan ekspor komoditas rumput laut fasilitasi perdagangan terhadap ekspor yang berkelanjutan, khususnya dalam rumput laut di Indonesia bukan hanya kerangka pengembangan ekspor nasional. yang diperoleh dari sumber-sumber resmi METODE PENELITIAN dan terpercaya, yaitu UN Comtrade untuk data ekspor. World Bank untuk data GDP. Penelitian ini untuk menyelidiki indeks kualitas infrastruktur perdagangan dampak fasilitasi perdagangan terhadap dan transportasi, indeks kualitas dan ekspor rumput laut di Indonesia ke tujuh layanan logistik, dan indeks efisiensi bea negara tujuan utama yaitu China. Korea cukai, serta Transparency International Selatan. Chili. Vietnam. Filipina. Jepang, untuk indeks persepsi korupsi. Validitas dan Prancis pada tahun 2013Ae2023, data dijamin oleh kredibilitas lembagapenelitian ini menggunakan pendekatan lembaga tersebut secara internasional, dan Metode yang digunakan data telah mengalami proses cleaning dan termasuk model gravitasi berbasis data penyesuaian format agar sesuai untuk panel dengan tidak menggunakan variabel analisis panel. kontrol tambahan karena model gravitasi Metode analisis yang digunakan dalam secara teoritis telah memenuhi variabel ini yaitu menggunkan analisis utama penentu perdagangan internasional. Pada tujuan pertama dengan seperti GDP, jarak ekonomi, serta indeks fasilitasi perdagangan. Data yang digunakan dalam yaitu 121221 dan 121229. Pengolahan penelitian ini merupakan data sekunder Sadhina. Widayanti. , & Syah. /Barakuda 45 7 . , 140-152 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/ barakuda45. ycUycn ycu ycUyc data dilakukan dengan menggunakan ycNycnyc = ya ycu yaycnyc Microsoft Excel, berikut untuk rumusnya : ycAycnycoycaycn yaycoycycyycuyc ycIycycoycyycyc yaycaycyc 7 ycAyceyciycaycyca . cOycIy. ycu 100% Ti : nilai perdagangan antara negara i ycAycnycoycaycn yaycoycycyycuyc ycNycuycycayco yaycuyccycuycuyceycycnyca . cOycIy. egara Indonesi. dan negara j . egara Metode analisis yang kedua yaitu Yi. Yj : GDP Indonesia dan GDP negara mengunakan analisis deskriptif, dengan menjabarkan hasil dari indeks fasilitasi Dij : jarak ekonomi antara Indonesia dan perdagangan tiap negara. Metode analisis negara tujuan . yang ketiga yaitu menggunakan Gravity Bentuk persamaan dalam penelitian Model gravitasi digunakan untuk menganalisis hubungan antara volume perdagangan terhadap ekspor rumput laut ekspor dan variabel- variabel penentu di Indonesia dengan menggunakan model perdagangan internasional. Bentuk dasar gravity sebagai berikut: dari model ini adalah: ycoycu ycNij = yu 0 yu 1 ycoycu GDPi yu 2 ycoycu GDPj yu 3 yaycEycNycnyc Indeks yc ycoycu yayaycn yu 4 ycoycu yaycEycNycn yu 5 ycoycu yayaycn yu 6 ycoycu infrastruktur perdagangan dan transportasi yaAyaycn yu 7 ycoycu ycEyaycn OOij = Indeks kompetensi dan kualitas logistik . = Indonesia = Negara-negara tujuan yaAyaycnyc = Indeks efisiensi bea cukai ekspor Indonesia ycNij = Nilai ekspor rumput laut ycEyaycnyc = Indeks persepsi korupsi dari Indonesia . ke negara tujuan . GDPi = Produk Domestik Bruto yu0 = Konstanta (GDP) Indonesia (USD) yu 0, yu 1, . yu 9 = Koefisien regresi yang GDPj = Produk Domestik Bruto akan diestimasi. negara tujuan (USD) OOij = Error term untuk yayaycnyc = Jarak ekonomi tahun ke-t menangkap faktor-faktor lain yang tidak . Perkembangan ekspor rumput laut Indonesia ke China selama 11 tahun menunjukkan pola yang fluktuatif. Nilai ekspor sempat mencapai puncaknya pada tahun 2022 sebesar USD 337,5 juta, namun mengalami penurunan kembali pada 2023. Fluktuasi dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, seperti kebijakan impor China. Pada tahun 2015. China merevisi Undang-Undang Keamanan Pangan, revisi ini menyebabkan peningkatan signifikan dalam penolakan impor produk pertanian yang tidak memenuhi standar keamanan pangan, sebanyak 3. 472 kasus pada 2014 menjadi 6. 526 kasus pada 2017 (Sun et , 2. Ekspor rumput laut Korea Selatan menunjukkan pola yang cukup tajam dalam Nilai ekspor sempat melonjak tajam pada tahun 2014 dan mencapai puncaknya pada tahun 2022 dengan sekitar HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Ekspor Rumput Laut Di Indonesia ke Negara Tujuan Utama Pada Tahun 2013-2023 Nilai ekspor rumput laut Indonesia meningkat pesat dari 2013 hingga 2023, meningkat dari 89,9 juta USD menjadi 284,8 juta USD (UN Comtrade, 2. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan global tetap kuat terlepas dari masalah dari luar, seperti perlambatan ekonomi dan fluktuasi harga. Ekspor ke tujuh pasar utama yaitu China. Korea Selatan. Chili. Vietnam. Filipina. Jepang, dan Prancis bervariasi namun cenderung meningkat secara bertahap, menunjukkan stabilitas pasar. Sadhina. Widayanti. , & Syah. /Barakuda 45 7 . , 140-152 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/ barakuda45. USD 16 juta. namun, pada tahun 2023, nilainya turun tajam lagi. Sejalan dengan pernyataan Santoso . dalam AKFTA, banyak produk pertanian Indonesia termasuk dalam kategori Sensitive List (SL) dan Highly Sensitive List (HSL), sehingga dikenakan bea masuk tinggi hingga 50%. Hal ini menyebabkan produk pertanian Indonesia sulit bersaing di pasar Korea Selatan, yang mengakibatkan penurunan volume ekspor Indonesia ke negara tersebut selama beberapa waktu, termasuk pada tahun 2016. Ekspor rumput laut Indonesia ke Chili selama periode 2013Ae2023 menunjukkan pola yang naik turun. Nilai ekspor sempat mencapai puncak pada tahun 2014 mendekati USD 11 juta, namun mengalami penurunan tajam pada 2016 hingga USD 4 juta. Meskipun terjadi peningkatan bertahap pada 2021 dan 2022, nilai ekspor tidak kembali mencapai level tertinggi sebelumnya. Pada 2023, ekspor kembali turun ke angka sekitar USD 4 juta. Produk Indonesia masih menghadapi tantangan dalam bersaing di pasar Chili, meskipun Chili menetapkan tarif rata-rata sekitar 6% untuk produk pertanian. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk biaya produksi yang tinggi, kurangnya efisiensi dalam rantai pasok, dan standar kualitas yang belum memenuhi ekspektasi pasar internasional (Nurkhotimah. Ekspor rumput laut Indonesia ke Vietnam 2013Ae2023 menunjukkan tren peningkatan yang disertai Setelah mengalami lonjakan ekspor pada 2014, nilai ekspor sempat menurun drastis hingga 2016, namun kembali pulih secara signifikan pada 2017. Sejak itu, ekspor ke Vietnam terus meningkat. Pada tahun 2021 dan 2023, pencapaian tertinggi mencapai USD 5,8 juta dan USD 7,5 juta, masing-masing. Tren ini menunjukkan bahwa Vietnam semakin menjadi pasar yang cocok dan potensial untuk ekspor rumput laut Indonesia. Strategi penguatan kualitas produk, promosi ekspor, dan kerja sama dagang yang mempertahankan dan memperluas pangsa Hasil analisis menunjukkan bahwa Indonesia, dengan status "Rising Star" dalam ekspor rumput laut, memiliki daya saing kuat di negara tujuan seperti Vietnam. Nilai ekspor dipengaruhi oleh variabel seperti populasi negara tujuan dan harga ekspor (Nurlaily. Ekspor rumput laut Indonesia ke Filipina menunjukkan tren menurun jangka panjang dari 2013 hingga 2023, meskipun sempat mencatat nilai tinggi pada tahun 2013 Setelah mencapai puncaknya, nilai ekspor terus menurun hingga mencapai titik terendah pada 2020. Namun, pada tahun 2021, nilainya naik lagi. Jumlah fluktuasi yang tinggi ini menunjukkan bahwa pasar Filipina tidak stabil untuk ekspor rumput laut Indonesia. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Arthatiani et al. , ekspor rumput laut Indonesia mengalami penurunan yang signifikan pada triwulan pertama tahun 2020, dengan penurunan volume sebesar 30,54% dan nilai sebesar 19,90%. Meskipun ada pemulihan pada triwulan kedua, penurunan ini menunjukkan ketidakstabilan di pasar ekspor, termasuk ke Filipina. Selama periode 2013Ae2023, ekspor rumput laut Indonesia ke Jepang menunjukkan tren kenaikan yang stabil dalam jangka Nilai ekspor meningkat secara signifikan sejak tahun 2014 dan terus meningkat meskipun sempat mengalami penurunan pada 2018 dan 2019. Sejak 2020, ekspor kembali pulih dengan pertumbuhan yang kuat, mencapai nilai tertinggi mendekati USD 3 juta. Pola ini menunjukkan bahwa Jepang adalah pasar yang potensial untuk ekspor rumput laut Indonesia dan juga pasar yang sebanding. Perkembangan ekspor Indonesia ke Prancis 2013Ae2023 menunjukkan pola yang fluktuatif. Pada periode 2013 hingga 2016, nilai ekspor cenderung menurun dan mencapai titik terendah pada 2016. Tren positif mulai terlihat pada 2017 dan mengalami lonjakan signifikan pada 2018 dan 2019. Puncak ekspor terjadi pada 2022 dengan nilai lebih dari Rp14 miliar. Namun demikian, terjadi penurunan tajam pada tahun 2023. Pola ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat peluang pasar yang menjanjikan, ekspor ke Prancis masih menghadapi tantangan dalam hal kestabilan permintaan dan keberlanjutan pasokan. Produksi rumput laut di Indonesia pada tahun 2016 sebesar 11. 031 juta, angka tersebut termasuk angka yang besar dibanding tahun tahun sebelumnya. Produksi yang tinggi Namun, yang terjadi adalah Sadhina. Widayanti. , & Syah. /Barakuda 45 7 . , 140-152 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/ barakuda45. penurunan ekspor sebesar 80 persen pada tahun 2016, turun dari 4. 189 USD pada tahun 2015 menjadi 793. 004 USD pada tahun Ini bertentangan dengan teori bahwa faktor lain yang memengaruhi ekspor adalah jumlah produksi. peningkatan produksi tidak akan mempengaruhi peningkatan ekspor, karena semakin banyak barang yang diproduksi perusahaan, semakin banyak barang yang diekspor. Selain perkembangan ekspor rumput laut ke negara tujuan utama, adapun share nilai ekspor rumput laut pada nilai ekspor total indonesia menunjukkan hasil yang fluktuatif pada tahun 2013 hingga 2023. Berikut untuk grafik share nilai : Tabel 2 Share Nilai Ekspor Rumput Laut 7 Negara Terhadap Nilai Ekspor Total Indonesia Tahun 2013- 2023 Tahun Nilai Ekspor Rumput Laut (USD) Nilai Ekspor Total Indonesia (USD) Share Nilai Ekspor Rumput Laut pada Ekspor Total Indonesia (%) 8,29 11,72 12,50 8,02 8,74 10,58 12,11 10,76 9,20 13,15 10,75 $151. $206. $188. $115. $147. $190. $203. $175. $213. $384. $278. Sumber : Hasil Olah Data Penelitian, 2025 $182. $176. $150. $144. $168. $180. $167. $163. $231. $291. $258. Tren fluktuatif dalam ekspor rumput laut Indonesia dari 2013 hingga 2023 menunjukkan kecenderungan pertumbuhan yang positif dalam jangka panjang. Nilai ekspor meningkat pesat pada 2014, tetapi pada 2016 sempat turun drastis karena hal-hal di dalam negeri dan di luar negeri. Sejak 2017, puncaknya pada 2022 dengan nilai ekspor USD 384,1 juta. Meskipun turun menjadi USD 278,3 juta pada 2023, nilainya tetap tinggi dibandingkan dengan rata-rata sepuluh tahun Kontribusi ekspor rumput laut terhadap total ekspor nasional juga berubah, mencapai titik tertinggi 13,15% pada 2022. Sektor ini menunjukkan potensi besar yang belum sepenuhnya dioptimalkan, meskipun kontribusinya relatif kecil dibandingkan dengan komoditas utama lainnya. Akibatnya, untuk meningkatkan daya saing rumput laut Indonesia, perlu meningkatkan fasilitasi perdagangan, meningkatkan nilai tambah, dan memperluas pasar ekspor. Indeks Fasilitasi Perdagangan Rumput Laut di Indonesia Ekspor Indeks merupakan ukuran yang menggambarkan mempermudah arus batas lintas batas melalui peraturan, prosedur, infrastruktur yang mendukung kegiatan ekspor impor. Indeks fasilitasi perdagangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu indeks kualitas infrastruktur perdagangan dan transportasi (IPT), indeks kompetensi dan kualitas logistik (KL), indeks efisiensi bea cukai (BC), dan indeks persepsi korupsi (PK), sejalan dengan studi yang dikemukakan oleh Portugal-Perez dan Wilson . mengenai fasilitasi perdagangan. Berikut untuk indeks fasilitasi perdagangan negara China : Tabel 3 Indeks Fasilitasi Perdagangan Negara China Tahun Indeks Fasilitasi Perdagangan IPT 3,47 3,25 Sadhina. Widayanti. , & Syah. /Barakuda 45 7 . , 140-152 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/ barakuda45. 3,46 3,21 3,46 3,21 3,62 3,62 3,62 3,62 3,59 3,29 3,59 3,29 3,59 3,29 3,59 3,29 3,59 3,42 Rata3,8 Sumber : Hasil Olah Data Penelitian, 2025 efisien atau aktivitas pengawasan barang yang masuk atau keluar dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku. Meskipun KL menurun menjadi 3,1 pada 2022Ae2023. PK yang tinggi . ata-rata 57,. mencerminkan lingkungan bisnis yang transparan. Secara keseluruhan, prospek ekspor positif, namun penurunan kualitas logistik perlu menjadi Berikut untuk negara Chili : Tabel 5 Indeks Fasilitasi Perdagangan Negara Chili Tahun Indeks Fasilitasi Perdagangan IPT 3,11 3,19 3,17 3,19 3,17 3,97 3,19 3,97 3,19 3,13 3,27 3,13 3,27 3,13 3,27 3,13 3,27 3,27 3,17 Rata3,05 Sumber : Hasil Olah Data Penelitian, 2025 Selama 2013Ae2023. China mencatat perdagangan yang mendukung ekspor rumput Indonesia. IPT rata-rata 3,80, menunjukkan infrastruktur logistik yang baik. KL naik dari 3,46 ke 3,8, dan BC menunjukkan tren positif meski fluktuatif. masih moderat . ata-rata 40,. namun 2021Ae2022. Secara keseluruhan, peningkatan ini mendukung efisiensi logistik dan pengurangan hambatan non-tarif, membuka peluang ekspor yang lebih Selanjutnya yaitu untuk negara Korea Selatan : Tabel 4 Indeks Fasilitasi Perdagangan Negara Korea Selatan Tahun Indeks Fasilitasi Perdagangan IPT 3,65 3,42 3,66 3,47 3,66 3,47 3,69 3,69 3,45 3,59 3,59 3,59 3,59 3,53 3,51 57,81 Rata3,80 Sumber : Hasil Olah Data Penelitian, 2025 Indeks fasilitasi perdagangan Chili menunjukkan performa bervariasi. IPT ratarata 3,05 dan KL menurun menjadi 3,1, mencerminkan infrastruktur dan logistik yang perlu ditingkatkan. BC relatif stabil . ata-rata 3,. , menunjukkan efisiensi moderat. ata-rata . mencerminkan lingkungan perdagangan yang transparan. Meski ada tantangan logistik, regulasi yang baik memberi peluang positif bagi ekspor rumput laut Indonesia. Adapun perdagangan negara Vietnam : Tabel 6 Indeks Fasilitasi Perdagangan Negara Vietnam Tahun Indeks Fasilitasi Perdagangan IPT 2,68 2,65 3,09 2,81 3,09 2,81 2,88 2,75 2,88 2,75 2,95 2,95 2,95 Korea Selatan menunjukkan fasilitasi perdagangan yang umumnya mendukung ekspor rumput laut Indonesia. IPT stabil tinggi . ata-rata 3,. dan BC menunjukkan tren positif . ata-rata 3,. , mencerminkan logistik yang kuat dan prosedur kepabeanan yang Sadhina. Widayanti. , & Syah. /Barakuda 45 7 . , 140-152 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/ barakuda45. 2,95 3,14 2,88 35,36 Rata2,97 Sumber : Hasil Olah Data Penelitian, 2025 Tahun Indeks Fasilitasi Perdagangan IPT 4,03 3,88 73,54 Ratarata 4,20 Sumber : Hasil Olah Data Penelitian, 2025 Hasil indeks fasilitasi perdagangan Vietnam tergolong sedang ke bawah. IPT ratarata 3,00 dan BC 2,88 mencerminkan infrastruktur dan efisiensi kepabeanan yang belum optimal. KL menunjukkan perbaikan . ata-rata 3,. , meski belum kompetitif, dan PK rendah . ata-rata 35,. menandakan masih tingginya risiko korupsi. Meski ada kemajuan. Vietnam masih menghadapi tantangan dalam mendukung ekspor rumput laut Indonesia secara maksimal. Selanjutnya merupakan indeks dari negara Filipina : Pada 2013Ae2023. Jepang menunjukkan fasilitasi perdagangan yang sangat baik. IPT ata-rata 4,. KL . , dan BC . mencerminkan infrastruktur logistik dan kepabeanan yang efisien. PK tinggi . ata-rata 73,. menunjukkan lingkungan bisnis yang Kondisi ini menjadikan Jepang mitra dagang strategis bagi ekspor rumput laut Indonesia. Yang terakhir merupakan indeks fasilitasi perdagangan negara Prancis : Tabel 7 Indeks Fasilitasi Perdagangan Negara Filipina Tahun Indeks Fasilitasi Perdagangan IPT 3,14 2,62 2,93 2,93 2,61 2,61 2,78 2,53 2,78 2,53 2,78 2,53 2,78 2,53 2,92 2,68 34,72 Rata2,75 Sumber : Hasil Olah Data Penelitian, 2025 Tabel 9 Indeks Fasilitasi Perdagangan Negara Prancis Tahun Indeks Fasilitasi Perdagangan IPT 3,63 70,27 Ratarata 3,96 Sumber : Hasil Olah Data Penelitian, 2025 Filipina tergolong rendah untuk indeks fasilitasi perdagangan. IPT rata-rata 2,97 dan KL 2,92 mencerminkan infrastruktur serta logistik yang belum memadai. BC stagnan di 2,68, menandakan rendahnya efisiensi prosedur kepabeanan, sementara PK sangat rendah . ata-rata 34,. , menunjukkan tingginya risiko korupsi. Secara keseluruhan. Filipina masih menghadapi tantangan besar dalam mendukung ekspor rumput laut Indonesia. Berikut untuk indeks fasilitasi perdagangan negara Jepang : Prancis perdagangan yang sangat baik. IPT rata-rata 3,96 dan KL 3,8 mencerminkan infrastruktur dan logistik yang efisien. BC sebesar 3,63 sementara PK tinggi . ata-rata 70,. mencerminkan lingkungan perdagangan yang Tabel 8 Indeks Fasilitasi Perdagangan Negara Jepang Sadhina. Widayanti. , & Syah. /Barakuda 45 7 . , 140-152 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/ barakuda45. Kondisi ini menjadikan Prancis tujuan ekspor rumput laut yang kompetitif dan Berdasarkan perbandingan indeks fasilitasi perdagangan periode 2013Ae2023. Jepang menempati posisi tertinggi dengan nilai rata-rata tertinggi pada seluruh indikator: IPT . KL . BC . , dan PK . , mencerminkan infrastruktur logistik yang unggul, prosedur kepabeanan efisien, serta lingkungan bisnis yang sangat transparan. Disusul oleh Prancis dengan kinerja sangat baik di seluruh aspek, terutama PK yang tinggi . dan IPT . Korea Selatan dan China juga menunjukkan performa kuat, meskipun China memiliki skor PK yang masih tergolong moderat. Sebaliknya. Filipina mencatat peringkat terendah dengan nilai indeks terendah pada hampir semua indikator: IPT . BC . , dan PK . , mengindikasikan hambatan signifikan dalam infrastruktur, kepabeanan, dan tata kelola. Vietnam dan Chili berada pada posisi menengah, dengan infrastruktur yang belum optimal serta tantangan pada aspek korupsi. Secara keseluruhan, fasilitasi perdagangan menjadi faktor penting dalam mendukung ekspor rumput laut Indonesia, di mana negara- negara dengan infrastruktur dan tata kelola yang baik cenderung membuka peluang ekspor yang lebih besar dan berkelanjutan. Dampak Fasilitasi Perdagangan Terhadap Ekspor Rumput Laut di Indonesia Penelitian ini menggunakan Common Effect Model (CEM) sebagai model estimasi terbaik, berdasarkan hasil uji LM dengan nilai probabilitas 0,3077 (> 0,. Uji Chow dan Hausman tidak valid akibat near singular matrix, yang menunjukkan adanya korelasi sangat tinggi antar variabel tertentu. Model menunjukkan kecocokan yang baik dengan Rsquared sebesar 69,61% dan p-value F-statistik sebesar 0,000000, menandakan signifikansi model secara keseluruhan. Hasil uji asumsi klasik yang menggunakan data panel hanya diuji menggunakan uji multikolinearitas dan uji heterokedastisitas (Napitupulu et al. , 2. Pada pengujian asumsi klasik hasilnya yaitu tidak terjadi multikolinearitas ditandai dengan tidak adanya nilai VIF < 10 dan tidak terjadi dari heterokedastisitas. Adapun hasil regresi data panel Common Effect Model adalah sebagai berikut: Tabel 10 Hasil Estimasi Regresi Dampak Variabel Fasilitasi Perdagangan dan Variabel Terkait Lain Terhadap Ekspor Rumput Laut di Indonesia Variable X1 (GDP Indonesi. X2 (GDP Tujua. X3 . X4 (IPT) X5 (KL) X6 (BC) X7 (PK) R-Squared Adjusted Squared F-statistic Coefficient -0,110342 Std. Error 10,36252 0,359574 0,148730 5,89E-05 0,625116 0,383867 0,404224 0,015716 Weighted Statistics t-Statistic 0,053741 -0,746683 4,311026 8,031399 5,146248 -1,039574 -0,819119 -7,020964 Prob. 0,9573 0,4578 0,0001 0,0000 0,0000 0,3022 0,4155 0,0000 0,696115 25,87062 Durbin-Watson 0,879754 Prob (F-statisti. 0,000000 Sumber : Hasil Olah Data Penelitian, 2025 Y = 0,55 - 0,26*X1 0,64*X2 0,0004*X3 3,21*X4 Ae 0,39*X5 Ae 0,33*X6 -0,11*X7 Berdasarkan tabel di atas, dapat dibuat persamaan regresi untuk penelitian ini seperti berikut dan penjelasan setiap variabel nya : Hasil regresi menunjukkan bahwa, meskipun peningkatan konsumsi dalam negeri Sadhina. Widayanti. , & Syah. /Barakuda 45 7 . , 140-152 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/ barakuda45. secara teoritis dapat dikaitkan dengan ekspor rumput laut, variabel GDP Indonesia memiliki koefisien negatif sebesar -0,26 dan tidak signifikan . -value 0,. , menunjukkan bahwa peningkatan GDP domestik tidak benar-benar berdampak pada ekspor rumput laut. Namun, pengaruh ini tidak dapat dibuktikan secara statistik karena tidak signifikan. Menurut Apristiana menunjukkan bahwa GDP Indonesia memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap volume ekspor rumput laut. Penulis juga menyatakan bahwa dengan meningkatkan permintaan, produksi, inovasi, dan dukungan kebijakan yang relevan, ekspor rumput laut dapat menjadi lebih baik. Namun, dampaknya dapat berbeda-beda tergantung pada seberapa besar rumput laut dimasukkan ke dalam struktur ekonomi dan seberapa besar ekspor yang dilakukan oleh Indonesia. Sebaliknya, ekspor dipengaruhi secara signifikan oleh GDP negara tujuan dengan koefisien 0,64, yang signifikan pada level 1%. Ini sesuai dengan teori perdagangan internasional yang menyatakan bahwa menyebabkan permintaan terhadap barang impor, termasuk rumput laut, terutama dalam sektor makanan dan farmasi (Nugraha et al. Hasil penelitian mendukung hipotesis kedua, yang menyatakan bahwa GDP negara tujuan ekspor berdampak positif pada arus ekspor rumput laut Indonesia. Pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang mendorong peningkatan permintaan terhadap komoditas impor, termasuk rumput laut, seperti yang ditunjukkan oleh signifikansi pada level 1%. Hal ini menunjukkan, sejalan dengan ekspektasi teoritis dan hipotesis penelitian, bahwa pasar negara maju dengan GDP tinggi menjadi pendorong utama peningkatan ekspor rumput laut Indonesia. Variabel jarak ekonomi memiliki koefisien kecil namun signifikan . ,0004. signifikan 1%), menunjukkan bahwa meskipun jarak dapat menurunkan ekspor biasanya menjadi hambatan dalam teori gravitasi perdagangan dan dapat menurunkan ekspor. Dalam hal ini untuk ekspor rumput laut Indonesia, pasar dengan jarak yang jauh namun berdaya beli tinggi seperti Jepang. China, dan Korea tetap menjadi tujuan utama, mengimbangi hambatan geografis. Hal ini sejalan dengan teori yang ada, karena secara teori jika jarak meningkat atau semakin jauh maka ekspor akan menurun. Karena jarak ekonomi ini diasosiasikan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan ekspor (Mulyadi et al. , 2. Indeks perdagangan dan transportasi menunjukkan pengaruh positif kuat dengan koefisien 3,21 . ignifikan 1%), menegaskan pentingnya infrastruktur yang memadai dalam mendukung efisiensi logistik dan daya saing ekspor, khususnya untuk komoditas yang mudah rusak seperti rumput laut. Hal ini sejalan dengan Asikin et al. , . bahwa infrastruktur transportasi, khususnya pelabuhan dan jalan sangat mendukung seluruh kegiatan ekonomi. Infrastuktur transportasi sangat menentukan kelancaran distribusi barang dan jasa, sehingga biaya transportasi menjadi lebih efisien. Peningkatan infrastruktur transportasi seperti khususnya pelabuhan dan jalan sangat mendukung seluruh kegiatan ekonomi. Infrastuktur transportasi sangat menentukan kelancaran distribusi barang dan jasa, sehingga biaya transportasi menjadi lebih besar sehingga akan meningkatkan volume ekspor. Koefisien -0,39 dan p-value yang tidak signifikan . ,3. , indeks kompetensi logistik menunjukkan bahwa kompetensi logistik belum memberikan pengaruh nyata terhadap ekspor rumput laut. Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi transportasi yang tidak memadai, kurangnya alat bongkar muat, waktu tunggu dan layanan kapal, layanan kepabeanan dan karantina di daerah penghasil, dan kurangnya dukungan infrastruktur khusus untuk industri (Matupalesa Ketidaksignifikanan kompetensi logistik dapat disebabkan oleh belum optimalnya infrastruktur pendukung ekspor komoditas perikanan di daerah penghasil rumput laut. Banyak pelabuhan di Indonesia bagian timur, yang merupakan sentra produksi, belum memiliki fasilitas bongkar muat yang memadai, sistem pelacakan, dan cold storage yang mendukung rantai pasok ekspor. Selain itu, waktu tunggu kapal dan keterbatasan kapal pengangkut juga memperlemah efektivitas logistik (Hakim et , 2. Efisiensi bea cukai tidak signifikan . oefisien -0,33. p-value 0,4. , menunjukkan bahwa, meskipun penting secara teoritis, peran bea cukai belum terbukti Sadhina. Widayanti. , & Syah. /Barakuda 45 7 . , 140-152 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/ barakuda45. peningkatan ekspor rumput laut. Hal ini dapat Vietnam, dan Jepang masih menghadapi disebabkan oleh perubahan yang dilakukan hambatan infrastruktur dan persaingan oleh eksportir atau kurangnya perlakuan Indeks fasilitasi perdagangan yang khusus terhadap komoditas ini. Menurut baik, terutama infrastruktur, kepabeanan, penelitian yang dilakukan oleh Luhur dan dan transparansi di negara tujuan seperti Tajerin . , menggunakan bea cukai dapat Jepang. Prancis. China, dan Korea sangat meningkatkan ekspor produk olahan sementara mendukung ekspor. Selain itu, penelitian menurunkan ekspor produk primer. Ini ini menunjukkan bahwa ekspor rumput menunjukkan bahwa kebijakan bea cukai tidak Indonesia 2013Ae2023 selalu berdampak langsung pada peningkatan mengalami tren pertumbuhan jangka ekspor, terutama jika tidak disertai dengan panjang, namun masih dihadapkan pada strategi pengolahan komprehensif. Sementara itu, rendahnya pengaruh efisiensi bea cukai tantangan struktural. Variabel GDP negara (BC) terhadap ekspor dapat disebabkan oleh tujuan, jarak ekonomi, dan indeks kualitas ketidakharmonisan kebijakan ekspor antar infrastruktur perdagangan dan transportasi instansi, serta belum adanya perlakuan terbukti berpengaruh positif signifikan prioritas terhadap ekspor hasil rumput laut terhadap ekspor rumput laut, sedangkan dalam sistem kepabeanan nasional. Hal ini GDP Indonesia, indeks kompetensi dan membuat reformasi bea cukai belum dirasakan kualitas logistik, dan indeks efisiensi bea secara langsung oleh pelaku ekspor rumput cukai belum menunjukkan kontribusi yang laut, terutama eksportir skala kecil dan Sedangkan indeks persepsi menengah yang lebih sensitif terhadap biaya korupsi memiliki pengaruh negatif dan prosedur tambahan. signifikan, menjadi hambatan utama dalam Indeks persepsi korupsi berdampak negatif terhadap ekspor, dengan koefisien Berdasarkan temuan ini, hanya 0,11 dan signifikansi 1%. Hal ini disarankan beberapa langkah strategis: . menunjukkan bahwa tingkat korupsi yang Peningkatan tinggi dapat mengurangi kinerja ekspor melalui pelabuhan di daerah penghasil rumput laut. biaya informal yang meningkat, ketidakpastian . Digitalisasi proses ekspor dan dalam prosedur, dan penurunan efisiensi penguatan sistem kepabeanan yang ramah sistem perdagangan. Hasil ini sejalan dengan komoditas perikanan. Perluasan pasar teori bahwa korupsi bukan hanya menjadi ekspor ke negara dengan indeks fasilitasi hambatan non-tarif dalam perdagangan perdagangan tinggi. Reformasi tata internasional, tetapi juga menjadi hambatan kelola dan pemberantasan korupsi dalam nyata dalam proses perdagangan internasional, rantai logistik ekspor. Implementasi terutama untuk produk yang sangat bergantung pada kualitas dan waktu. Oleh karena itu, strategi ini diharapkan dapat meningkatkan hipotesis ketujuh tidak dapat diterima karena daya saing dan nilai tambah ekspor rumput pengaruh yang ditemukan sangat negatif laut Indonesia secara berkelanjutan. (Ibrahi & Hamkam, 2. DAFTAR PUSTAKA