Melda Hasna. Digitalisasi Pengelolaan Sekolah Dasar Negeri: SWOT Dalam Strategi Pengembangan Sekolah Digital Digitalisasi Pengelolaan Sekolah Dasar Negeri Kota Banjarmasin: Tinjauan Analisis SWOT Dalam Strategi Pengembangan Sekolah Digital Melda Hasna Program Studi Magister Administrasi Pendidikan Pascasarjana Univeristas Lambung Mangkurat C meldahasnaalhanif@gmail. Abstrak Digitalisasi pendidikan menjadi keharusan di era teknologi informasi saat ini untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperluas akses bagi peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan digitalisasi pengelolaan sekolah dasar negeri di Kota Banjarmasin dengan menggunakan dua faktor utama dalam analisis SWOT, yaitu strength . dan weakness . Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menganalisis penerapan digitalisasi di sekolah dasar negeri di Kota Banjarmasin melalui analisis SWOT. Data dikumpulkan melalui angket kepada 1 orang kepala sekolah, 3 orang guru, dan 1 orang tenaga kependidikan dari dua sekolah di setiap kecamatan, serta observasi dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah-sekolah di kecamatan Banjarmasin Tengah dan Timur memiliki kesiapan yang baik dalam penerapan teknologi, dengan infrastruktur yang memadai dan guru-guru yang familiar dengan digitalisasi. Kendala signifikan muncul di kecamatan Banjarmasin Selatan dan Utara akibat kurangnya akses internet dan perangkat teknologi, serta rendahnya kompetensi digital di kalangan guru, terutama yang berusia lebih senior. Selain itu, kurangnya dukungan dari kepemimpinan dan stakeholder juga menjadi faktor penghambat. Adapun dari hasil penelitian ini merekomendasikan untuk lebih memperhatikan kesiapan infrastruktur teknologi dan kompetensi digital SDM agar upaya penerapan digitalisasi dapat berjalan efektif serta efisien. (Kata Kunci: digitalisasi, sekolah dasar negeri, analisis SWOT, sekolah digital. Kota Banjarmasin. aspek kehidupan manusia saat ini mengalami adaptasi digitalisasi. Iqbal . menyatakan bahwa manfaat digitalisasi bagi proses pengelolaan lembaga pendidikan adalah dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pembelajaran serta mampu memberi akses yang lebih luas bagi peserta didik. Adanya digitalisasi juga memungkinkan kolaborasi antara guru dan peserta didik melalui media digital yang mampu memperluas ruang lingkup pembelajaran dan upaya peningkatan kualitas interaksi antara Pemerintah mengimplementasikan TIK pada kurikulum nasional yang menjadi mata pelajaran pilihan PENDAHULUAN Digitalisasi dalam pendidikan telah menjadi kebutuhan yang mendesak seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran di era digital saat ini menjadi bagian integral dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Digitalisasi menurut Anita . berarti proses pemberian atau pemakaian sistem digital dalam suatu pekerjaan. Adanya digitalisasi merupakan imbas perkembangan teknologi yang kian pesat. Revolusi Industri 4. 0 yang secara gradual menggeser peran manusia dalam kegiatan pekerjaan sehari-hari, dan pengembangan era Society 5. 0 yang menunjukkan bahwa segala Jurnal Pendidikan Moder. Volume 10 Nomor 01 Tahun 2024, 32 - 42 untuk diajarkan di sekolah. Hal ini juga turut mendukung percepatan digitalisasi sekolah. Lembaga pendidikan salah satunya sekolah merupakan sarana pembentukan generasi penerus bangsa yang mampu mempresentasikan pola pendidikan untuk menjawab tantangan di era globalisasi. Globalisasi menurut Cut . ialah akar adanya digitalisasi sekolah merupakan sebuah realitas dinamis yang membawa pendidikan mampu membentuk peserta didik yang sarat akan kemampuan literasi digital sehingga mampu menjadi pemimpin di masa yang akan datang. Sekolah dasar sebagai fondasi pendidikan anak, berperan penting dalam menyiapkan peserta didik dengan membekali berbagai keterampilan hidup untuk menghadapi tantangan dunia yang semakin Menurut Fisk yang dikutip oleh Aah Ahmad . , terdapat sembilan elemen fokus pembelajaran pada jenjang sekolah dasar di era ini yang meliputi diferensiasi waktu dan tempat belajar, pendidikan yang berbasis individual, independesi peserta didik dalam upaya penentuan gaya belajar, pembelajaran yang berbasis proyek, pemberian pengalaman lapangan secara langsung, interpretasi informasi dan data, evaluasi dengan bermacam cara dan aspek, keterlibatan peserta didik dalam proses penentuan bahan ajar dan materi, serta kemandirian peserta didik. Implementasi digitalisasi di sekolah dasar bukan peran yang mudah sebab tidak hanya tergantung pada penyediaan teknologi, tetapi juga bagaimana proses pengelolaannya di setiap sekolah merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kebijakan digitalisasi tersebut. Hal tersebut belum termasuk beberapa tantangan yang harus dihadapi, seperti efisiensi pada proses administrasi yang saat ini masih manual dengan prosedur yang menyulit sehingga memerlukan waktu serta tenaga yang cukup Digitalisasi menurut Hasbi sebagaimana dikutip oleh Saripa . merupakan proses alih media cetak yang analog ke dalam media elektronik yang berbasis digital melalui proses scanning, digital photography maupun teknik Proses digitalisasi mengacu pada upaya penerjemahan potongan informasi seperti buku, rekaman suara atau video ke dalam satuan dasar informasi pada komputer yang disebut bit. Dalam pengertian lain. Cut . menyatakan digitalisasi dimaknai sebagai upaya konversi setiap dokumen cetak dan sejenisnya yang disajikan secara digital. Upaya konversi tersebut dimaksudkan untuk mengembangkan pola pikir peserta didik di samping menumbuhkan rasa ketertarikan untuk belajar bagi peserta didik melalui berbagai media pembelajaran sehingga menumbuhkan minat peserta didik mengikuti Komisi Eropa melakukan kategorisasi mengenai konsep kompetensi digital dalam lima istilah, yaitu literasi digital, kompetensi digital, e-literacy, e-skills, ecompetence. Kelima istilah tersebut menurut Aah . menitikberatkan pada pemanfaatan dan keterampilan pengguna teknologi informasi produksi, menyajikan dan bertukar informasi, berkomunikasi dan melakukan partisipasi dalam jaringan kolaboratif melalui internet Penerapan digitalisasi sekolah berkaitan dengan tiga hal utama, yaitu aksesbilitas, kualitas data dan kemampuan adaptasi terhadap Dalam aksesibilitas mencakup beberapa hal seperti informasi terkait kegiatan sekolah, nilai siswa, dan lain-lain seringkali sulit diakses oleh orang tua dan siswa secara realtime. Pada aspek kualitas data, adanya digitalisasi terkait data sekolah menggantikan data hasil pengelolaan secara manual yang akurasinya masih perlu dipertanyakan. Selain itu, dengan penerapan digitalisasi sekolah dasar menuntut lembaga maupun tenaga pendidik untuk turut beradaptasi akan perubahan, terutama dalam hal teknologi. Melda Hasna. Digitalisasi Pengelolaan Sekolah Dasar Negeri: SWOT Dalam Strategi Pengembangan Sekolah Digital Analisis SWOT identifikasi berbagai faktor yang dilakukan secara sistematis guna merumuskan strategi suatu lembaga atau perusahan dalam proses perencanaan kegiatannya. Adanya metode SWOT mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi suatu organisasi atau Kekuatan dan kelemahan merupakan faktor internal, sedangkan peluang dan ancaman adalah faktor eksternal. Metode ini menurut Mashuri . digunakan untuk mengevaluasi kekuatan . , kelemahan . , peluang . dan ancaman . dalam suatu spekulasi kegiatan bisnis. Dengan demikian, analisis SWOT adalah strategi yang digunakan untuk menguraikan masalah dan mencarikan solusi atas masalah dalam dunia kekuatan dan kelemahan dari lingkungan internal serta peluang dan hambatan dari lingkungan eksternal. Adapun faktor strengths dan weakness menurut Suriono (Suriono, 2. yaitu, kekuatan atau strengths adalah kondisi internal positif yang memberikan keuntungan dalam menghadapi persaingan lembaga pendidikan yang semakin kompetitif. Kekuatan utama dalam digitalisasi sekolah adalah ketersediaan infrastruktur teknologi yang memadai, seperti komputer, internet, dan perangkat lunak manajemen sekolah. Jika sekolah sudah memiliki sumber daya ini, digitalisasi dapat berlangsung lebih efisien dan efektif. Menurut teori Resource-Based View sebagaimana dikutip Dani . yang menyebutkan bahwa organisasi yang memiliki sumber daya yang unik dan sulit ditiru akan memiliki keunggulan Dalam konteks sekolah dasar, ketersediaan teknologi yang canggih dan up-todate merupakan salah satu kekuatan utama yang mendukung keberhasilan digitalisasi. Faktor lain yang merupakan kekuatan adalah guru dan tenaga kependidikan yang kompeten dan terampil dalam penggunaan teknologi. Pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi guru serta tenaga kependidikan turut besar dalam teknologi pada pengelolaan sekolah. Sumber daya manusia yang terlatih dalam penggunaan sistem digital mampu meminimalkan resistensi dan mempercepat adopsi teknologi baru dalam proses pembelajaran maupun administrasi (Nurhidayatullah. Kepemimpinan sekolah yang visioner juga menjadi faktor kekuatan dalam digitalisasi pengelolaan sekolah. Pemimpin yang memiliki visi tentang pentingnya teknologi dalam pendidikan akan mendorong inovasi dan menciptakan lingkungan yang mendukung Pemimpin yang menerapkan teori transformational leadership akan menekankan menganggap penting untuk menginspirasi, memotivasi, dan menstimulasi secara intelektual anggota organisasi untuk berubah dan berkembang (Rafsanjani, 2. Dalam konteks ini, kepala sekolah yang mendukung digitalisasi dapat mempercepat proses tersebut dengan memberikan dukungan penuh dan alokasi sumber daya yang tepat. Sekolah yang memiliki budaya inovasi dan siap beradaptasi dengan perubahan memiliki kekuatan lebih dalam proses digitalisasi. Organisasi dengan budaya yang mendukung inovasi dan pembelajaran terus menerus akan lebih mudah dalam mengimplementasikan teknologi baru (Nugroho, 2. Jika sekolah dasar sudah memiliki budaya ini, maka proses transformasi digital akan lebih lancar karena para guru, siswa, dan tenaga kependidikan sudah terbiasa dengan pola pikir terbuka terhadap perubahan. Dalam konteks pendidikan, dukungan dari orang tua dan komunitas sekolah adalah kekuatan yang signifikan. Keberhasilan program digitalisasi tidak hanya bergantung pada pihak sekolah, tetapi juga pada keterlibatan aktif orang tua dan komunitas dalam mendukung proses tersebut (Health, 2. Jurnal Pendidikan Moder. Volume 10 Nomor 01 Tahun 2024, 32 - 42 Misalnya, jika sekolah sudah memiliki hubungan yang baik dengan komunitas, mereka dapat lebih mudah mendapatkan dukungan dalam hal pendanaan atau partisipasi aktif dalam penggunaan teknologi untuk pendidikan. Kelemahan atau weakness adalah kondisi internal negatif yang mampu merendahkan hasil penilaian terhadap sebuah lembaga pendidikan. Kelemahan ini sebagaimana dikutip dalam Suriono . dapat berupa rendahnya kualitas sumber daya manusia yang dimiliki, produk yang dihasilkan tidak berkualitas, image yang tidak kuat, kepemimpinan yang buruk dan lain Dengan demikian, kelemahan merupakan kekurangan yang dimiliki oleh sebuah sekolah maupun satuan lembaga pendidikan lainnya sehingga mengharuskan lembaga tersebut bijak dalam menentukan kebijakan guna meminimalisir kelemahan yang ada sehingga mampu menjadi kelebihan dan tidak menjadi penghalang perkembangan lembaga tersebut di masa depan. Dalam konteks digitalisasi pengelolaan sekolah dasar, faktor kelemahan ini dapat merujuk pada kendala-kendala yang dihadapi oleh sekolah dalam upaya untuk menerapkan sistem digitalisasi. Kelemahan yang sering dihadapi sekolah dasar dalam digitalisasi salah teknologi yang memadai. Hal ini dapat mencakup keterbatasan perangkat keras . omputer, table. , akses internet yang tidak stabil, atau sistem perangkat lunak yang tidak sesuai dengan kebutuhan sekolah. Lembaga pendidikan yang tidak memiliki akses memadai terhadap teknologi akan tertinggal dalam proses digitalisasi sebagaimana disampaikan oleh Hadiyat . Ini menjadi kendala utama karena tanpa dukungan teknologi yang memadai, penerapan sistem digital di sekolah dasar akan terhambat. Oleh karena itu, sebelum melakukan digitalisasi dalam pengelolaan sekolah dasar, pihak sekolah lebih dahulu memastikan ketersediaan infastruktur yang memadai untuk digunakan nantinya sehingga tidak menjadi penghalang bagi lembaga dalam mengembangkan diri menjadi sekolah digital. Faktor kelemahan lainnya adalah kompetensi digital di kalangan guru dan tenaga kependidikan merupakan kelemahan lain yang Jika guru dan tenaga kependidikan tidak mahir dalam penggunaan teknologi, mereka akan mengalami kesulitan dalam mengadopsi sistem manajemen digital dan platform e-learning yang di era saat ini sangat Pengetahuan dan keterampilan harus ditransfer melalui pembelajaran aktif menurut Lesilolo . Dalam hal ini, jika guru dan tenaga kependidikan tidak diberikan pelatihan yang memadai, proses digitalisasi akan tersendat dan bahkan bisa menimbulkan resistensi terhadap perubahan. Sekolah yang memiliki budaya organisasi yang resistif terhadap perubahan akan mengalami kesulitan dalam mengadopsi digitalisasi. Sebagaimana disampaikan oleh Bernadus . , sebuah institusi pendidikan yang sudah nyaman dengan cara kerja tradisional menurut sudut pandang teori inertia organizational cenderung enggan beradaptasi dengan perubahan. Dalam hal ini, sekolah dengan budaya yang tidak adanya dukungan untuk melakukan inovasi perubahan dalam hal ini mengadakan pembelajaran berbasis teknologi akan menghadapi tantangan besar dalam mengimplementasikan pengelolaan Keterbatasan anggaran adalah kelemahan signifikan dan krusial yang sering dihadapi sekolah dalam proses digitalisasi. Biaya untuk membeli perangkat, memperbarui infrastruktur, serta melatih guru dan tenaga kependidikan bisa sangat besar. Menurut resource allocation theory, organisasi perlu mengalokasikan sumber daya secara efisien untuk mencapai tujuan Teori pengalokasian sumber daya agar dapat meminimalisir fluktuasi penggunaan sumber daya perhari selama kegiatan proyek Melda Hasna. Digitalisasi Pengelolaan Sekolah Dasar Negeri: SWOT Dalam Strategi Pengembangan Sekolah Digital berlangsung sebagaimana disampaikan oleh Albugis . Ketika dana terbatas, sekolah mungkin harus menunda atau mengurangi skala Keterbatasan memperlambat proses transformasi digital dan bahkan membuatnya tidak merata di seluruh bagian sekolah. Dalam banyak kasus, keterlibatan orang tua dan komunitas setempat yang kurang dalam mendukung digitalisasi sekolah menjadi kelemahan yang nyata. Sekolah dasar sering kali memerlukan dukungan moral, logistik, dan bahkan finansial dari para orang tua dan Kesuksesan program di sekolah sangat bergantung pada dukungan para pemangku kepentingan. Sundari . menyampaikan bahwa jika orang tua tidak memahami pentingnya digitalisasi atau merasa tidak terlibat, ini bisa menimbulkan hambatan tambahan bagi sekolah dalam implementasi pengelolaan berbasis teknologi. Selain itu, sekolah dasar yang tidak memiliki strategi digital yang jelas sering kali terjebak dalam proses digitalisasi yang tidak terarah. Kelemahan ini bisa muncul karena kurangnya perencanaan yang matang atau ketidakjelasan dalam tujuan dan sasaran digitalisasi. Sebuah lembaga pendidikan perlu merancang strategi yang jelas untuk mencapai tujuan jangka panjang mereka. Jika sekolah tidak memiliki strategi yang terperinci tentang bagaimana teknologi akan diterapkan dan dimanfaatkan, mereka mungkin akan gagal memaksimalkan manfaat digitalisasi. Dalam konteks transformasi digital dalam pendidikan, ketersediaan infrastruktur teknologi dan kompetensi SDM sangat penting. Ketersediaan perangkat keras dan akses internet yang memadai memungkinkan sekolah dasar untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam Tenaga pendidik yang terampil juga memainkan peran kunci, karena mereka dapat menggunakan teknologi secara efektif untuk meningkatkan interaksi dengan siswa dan mengelola data secara lebih efisien. Ini sejalan dengan teori transformasi digital yang melihat teknologi sebagai pendorong utama perubahan pendidikan, dimana kemampuan memanfaatkan teknologi menjadi pembeda dalam keberhasilan adopsi digitalisasi. Terlebih Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi yang disampaikan Oliver . telah mengembangkan ekosistem teknologi yang pengembangan sejumlah perangkat, seperti Platform Merdeka Mengajar. Rapor Pendidikan. ARKAS dan SIPLah yang merupakan solusi pendorong utama reformasi pendidikan atas prakrasa pemerintah Indonesia. Dengan demikian, penelitian ini akan mengulas lebih lanjut dengan tujuan mengevaluasi kondisi internal dan eksternal sekolah dasar negeri di Kota Banjarmasin dalam proses digitalisasi guna merumuskan strategi pengembangan sekolah dasar digital dalam tinjauan analisis SWOT dengan menjadikan faktor strengths dan weakness sebagai fokus Penelitian mengeksplorasi hambatan yang dihadapi dan memberikan rekomendasi untuk kebijakan dan program yang mendukung pengelolaan sekolah berbasis digital, dengan fokus pada peningkatan infrastruktur dan kompetensi SDM, serta peningkatan partisipasi orang tua dan komunitas dalam mendukung transformasi digital sekolah. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan penerapan digitalisasi pengelolaan sekolah dasar negeri di Kota Banjarmasin, dengan fokus pada strategi pengembangan sekolah digital melalui SWOT. Data menggunakan angket yang diberikan kepada kepala sekolah, 3 orang guru, dan 1 orang tenaga kependidikan dari 2 sekolah dasar negeri Jurnal Pendidikan Moder. Volume 10 Nomor 01 Tahun 2024, 32 - 42 pada tiap kecamatan yang ada di Kota Banjarmasin. Angket mencakup pertanyaan terkait poin-poin utama dalam dua aspek dalam analisis SWOT, yaitu strengths dan weakness yang mencakup infrastruktur teknologi, kompetensi digital sumber daya manusia, kepemimpinan, budaya inovasi dan dukungan Selain itu, kegiatan observasi dan wawancara mendalam dilakukan untuk memperdalam temuan dari angket. Analisis SWOT dilakukan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh tiap sekolah dasar negeri di Kota Banjarmasin dalam aspek pengetahuan teknologi dan digitalisasi. Data dianalisis secara deskriptif dengan triangulasi untuk memastikan menghubungkan berbagai laman website sekolah untuk memudahkan akses informasi. Meskipun beberapa sekolah di Kota Banjarmasin sudah maju dalam penerapan digitalisasi, sekolah-sekolah di kecamatan Banjarmasin Selatan dan Utara masih menghadapi kendala besar, terutama dalam hal stabilitas akses internet dan keterbatasan jumlah perangkat teknologi. Hal ini mengakibatkan proses transformasi digital berjalan lebih lambat di wilayah tersebut. Kepala sekolah di keterbatasan anggaran menjadi faktor utama yang menghambat pembaruan infrastruktur Sekolah dasar negeri di Banjarmasin bergantung pada dana dari APBN yang disalurkan melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Jumlah dana yang diterima bervariasi tergantung pada jumlah siswa di setiap sekolah, yang berarti sekolah dengan jumlah siswa lebih sedikit memiliki anggaran yang lebih terbatas. Keterbatasan anggaran ini berdampak langsung pada kemampuan sekolah untuk memperbarui dan meningkatkan infrastruktur teknologi mereka. Meskipun Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Pendidikan setempat telah berupaya mendukung transformasi digital dengan memberikan bantuan berupa perangkat keras, bantuan ini masih belum mencukupi kebutuhan digitalisasi secara menyeluruh. Bantuan yang diberikan biasanya hanya mencakup beberapa aspek, seperti perangkat komputer, namun tidak menjangkau aspek lain yang esensial untuk digitalisasi penuh, seperti jaringan internet yang stabil atau perangkat lunak pengelolaan sekolah yang terintegrasi. Oleh karena itu, sekolah-sekolah yang berada di kecamatan Banjarmasin Selatan dan Utara masih menghadapi tantangan yang signifikan dalam proses transformasi digital. Keterbatasan perangkat teknologi dan akses internet yang stabil bukan hanya menghambat pengelolaan administrasi digital, tetapi juga HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian tentang Penerapan Digitalisasi Sekolah Dasar Negeri di Kota Banjarmasin diperoleh hasil sebagai berikut: A Infrastruktur Teknologi Mayoritas sekolah dasar negeri di Kota Banjarmasin. Banjarmasin Tengah dan Timur, telah infrastruktur dasar yang memadai untuk mendukung digitalisasi, seperti komputer dan akses internet. Hal ini menunjukkan adanya kesiapan yang baik dalam penerapan teknologi di sekolah-sekolah tersebut. Para guru dan tenaga kependidikan di wilayah ini sudah terbiasa memanfaatkan teknologi dalam kegiatan administrasi dan pembelajaran. Penerapan manajemen berbasis teknologi ini merupakan salah satu tanda bahwa sekolahsekolah ini telah beralih ke sistem pengelolaan modern yang lebih efisien dan efektif. Implementasi digitalisasi yang telah dilakukan antara lain penggunaan kartu pelajar digital yang multifungsi sebagai kartu akses kehadiran siswa serta optimalisasi integrasi tautan yang Melda Hasna. Digitalisasi Pengelolaan Sekolah Dasar Negeri: SWOT Dalam Strategi Pengembangan Sekolah Digital mengadopsi sistem pembelajaran berbasis Dalam jangka panjang, ini dapat memperlebar kesenjangan digital antara sekolah-sekolah di Banjarmasin yang lebih maju secara teknologi dan yang masih tertinggal. Selain itu, kekurangan dalam infrastruktur teknologi ini juga mempengaruhi kualitas pembelajaran digital yang bisa diterapkan oleh para guru. Sekolah-sekolah yang lebih maju di Banjarmasin Tengah dan Timur mampu pembelajaran sehari-hari, sementara sekolahsekolah di Banjarmasin Selatan dan Utara masih terhambat oleh keterbatasan ini, sehingga kesenjangan dalam kualitas pendidikan berbasis teknologi di berbagai wilayah semakin terlihat A Kompetensi Digital SDM Aspek kompetensi digital sumber daya manusia menjadi salah satu faktor krusial dalam penerapan digitalisasi di sekolah-sekolah dasar negeri di Kota Banjarmasin. Berdasarkan hasil penelitian, hanya sebagian kecil guru dan tenaga kependidikan yang merasa sangat terampil mendukung pengelolaan sekolah. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan dalam keterampilan digital di kalangan guru dan tenaga kependidikan Guru-guru keterampilan digital lebih tinggi umumnya lebih siap menghadapi transformasi digital, namun banyak guru, terutama yang berusia lebih senior, membutuhkan pelatihan lebih lanjut. Mereka menghadapi tantangan dalam menguasai sistem manajemen berbasis teknologi dan platform elearning, yang semakin diperlukan dalam era pendidikan digital. Sebagian besar kepala sekolah yang diwawancarai mengakui bahwa resistensi dari guru-guru senior menjadi salah satu penghambat utama dalam adopsi teknologi baru. Guru-guru senior yang sudah terbiasa dengan metode pengajaran tradisional merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan perubahan, terutama dalam penggunaan perangkat lunak manajemen sekolah dan sistem pembelajaran berbasis Resistensi terhadap perubahan sering kali muncul di institusi yang sudah lama menggunakan metode tertentu dan enggan untuk beralih ke cara baru. Kecenderungan ini memperlambat proses digitalisasi di beberapa sekolah dasar, terutama di daerah-daerah yang minim akses terhadap pelatihan teknologi secara Meskipun demikian, beberapa sekolah yang mayoritas gurunya terdiri dari kalangan muda, terlihat adanya penerimaan yang lebih baik terhadap teknologi. Guru-guru muda cenderung lebih akrab dengan perangkat digital dan memiliki pengetahuan dasar yang lebih baik manajemen sekolah. Mereka seringkali lebih cepat dalam beradaptasi dengan platform baru dan memainkan peran penting dalam mempercepat proses adopsi teknologi di lingkungan sekolah mereka. Selain itu, guruguru ini juga sering berfungsi sebagai mentor bagi rekan-rekan mereka yang kurang terampil, memberikan pelatihan informal dan dukungan teknis di tingkat internal sekolah. Peran mereka sangat penting dalam menciptakan budaya berbagi pengetahuan dan keterampilan teknologi di kalangan tenaga pengajar. Pentingnya pelatihan dan pengembangan kompetensi digital di kalangan guru dan tenaga kependidikan tidak bisa diabaikan dalam konteks transformasi digital sekolah. Pelatihan rutin dan dukungan teknis harus terus diberikan untuk memastikan bahwa seluruh guru dan menggunakan teknologi. Program pelatihan yang disesuaikan dengan tingkat keterampilan masing-masing bermanfaat, terutama untuk mengatasi resistensi Dengan demikian. Jurnal Pendidikan Moder. Volume 10 Nomor 01 Tahun 2024, 32 - 42 pengembangan kompetensi digital sumber daya manusia di sekolah dasar tidak hanya akan mempercepat proses digitalisasi, tetapi juga manajemen sekolah secara keseluruhan. A Kepemimpinan Aspek kepemimpinan memainkan peranan penting dalam keberhasilan penerapan teknologi di sekolah dasar negeri di Kota Banjarmasin. Sebagian besar kepala sekolah menunjukkan dukungan yang kuat terhadap penggunaan teknologi dengan mendorong guru dan tenaga kependidikan untuk mengadopsi sistem digital dan menyediakan waktu yang cukup untuk Kepemimpinan yang visioner, seperti yang dijelaskan dalam teori kepemimpinan transformasional, berfokus pada pengembangan potensi individu dan kolektif di dalam Dalam konteks ini, kepala sekolah yang berkomitmen untuk memfasilitasi lingkungan yang kondusif bagi guru dan tenaga kependidikan untuk berinovasi dan beradaptasi dengan teknologi baru. Dengan demikian, dukungan dari kepemimpinan sangat penting dalam mendorong semangat kolaborasi dan inovasi di antara guru dan tenaga kependidikan. Hasil wawancara dengan beberapa guru juga mengungkapkan bahwa di sekolah-sekolah tertentu, dukungan dari kepemimpinan masih dianggap kurang optimal, terutama dalam hal penyediaan sumber daya dan pelatihan. Ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam penerapan teknologi di berbagai sekolah, yang dapat disebabkan oleh kurangnya prioritas dari kepala sekolah dalam mengimplementasikan Dukungan yang kurang dari kepemimpinan dapat menciptakan resistensi di antara guru dan tenaga kependidikan dan menghambat penerimaan terhadap teknologi Ketidakcukupan dalam penyediaan sumber daya yang diperlukan, seperti perangkat keras dan pelatihan yang tepat, akan membuatnya tidak merata di seluruh unit Kepemimpinan yang tidak proaktif dalam mengalokasikan sumber daya untuk pelatihan dan pengembangan juga dapat menciptakan ketidakpastian di kalangan guru dan tenaga Kepala sekolah yang tidak mampu memberikan arahan yang jelas tentang bagaimana teknologi akan diterapkan di sekolah Hal ini selaras dengan teori kepemimpinan situasional yang dikutip dari Atiqoh . yang menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif harus mampu menyesuaikan gaya mereka sesuai dengan kebutuhan situasi dan anggotanya. Dalam hal ini, kepala sekolah harus mampu memahami kebutuhan timnya dan memberikan dukungan yang sesuai untuk mengatasi hambatan yang dihadapi dalam adopsi teknologi. Tanpa arahan yang jelas dan dukungan yang memadai, proses digitalisasi dapat terjebak dalam ketidakpastian dan stagnasi. Dengan demikian, kepemimpinan yang efektif sangat penting untuk memastikan bahwa proses digitalisasi berjalan dengan lancar dan Kepala sekolah perlu memiliki visi yang jelas tentang penerapan teknologi dan memotivasi guru dan tenaga kependidikan mereka untuk mengambil bagian dalam perubahan tersebut. Dengan berinvestasi dalam pengembangan kapasitas dan menyediakan sumber daya yang cukup, kepala sekolah tidak hanya akan mempercepat proses digitalisasi tetapi juga meningkatkan keterlibatan dan moral guru serta tenaga kependidikan. Penerapan teknologi yang berhasil tidak hanya bergantung pada infrastruktur yang ada, tetapi juga pada komitmen dan dukungan dari kepemimpinan yang kuat dan visioner. A Budaya Inovasi Aspek budaya inovasi di sekolah-sekolah dasar negeri di Kota Banjarmasin berperan Melda Hasna. Digitalisasi Pengelolaan Sekolah Dasar Negeri: SWOT Dalam Strategi Pengembangan Sekolah Digital dalam memfasilitasi teknologi digital. Sekolah-sekolah di kecamatan Banjarmasin Tengah dan Timur menunjukkan budaya inovasi yang lebih kuat, di mana guru dan siswa secara aktif terlibat dalam proyekproyek digital. Keterlibatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan digital, tetapi juga membangun semangat kolaborasi di antara semua anggota sekolah. Hasil wawancara dengan guru-guru di sekolah-sekolah ini mengindikasikan bahwa keterbukaan terhadap inovasi dan teknologi sangat didorong oleh kepemimpinan yang visioner. Dukungan dari pimpinan yang inovatif menciptakan iklim yang kondusif bagi penciptaan dan penerapan ide-ide Sekolah-sekolah dengan budaya inovasi yang kuat menunjukkan kesiapan yang lebih besar dalam menghadapi tantangan digitalisasi. Mereka penggunaan teknologi dalam pembelajaran dan pengelolaan sekolah, sehingga memungkinkan mereka untuk tetap relevan dan bersaing di era Hal ini menekankan bahwa pentingnya budaya organisasi yang mendukung inovasi dalam meningkatkan performa dan efisiensi. Dalam konteks ini, sekolah yang mendorong kreativitas dan eksperimen akan lebih mampu mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran, menciptakan lingkungan yang lebih dinamis dan responsif terhadap perubahan. Sisi lain di beberapa kecamatan, budaya organisasi yang lebih konservatif masih menjadi Sekolah-sekolah dengan budaya konservatif cenderung lebih memilih untuk mempertahankan cara kerja yang sudah ada daripada berinovasi. Hal ini menciptakan ketidaknyamanan dalam adopsi teknologi baru, dan para guru serta guru dan tenaga kependidikan mungkin merasa terjebak dalam praktik tradisional yang tidak lagi sesuai dengan tuntutan zaman. Resistensi terhadap perubahan dapat muncul ketika individu merasa tidak yakin atau kurang percaya diri dalam mengadopsi sistem baru. Oleh karena itu, sekolah-sekolah dengan budaya yang kurang mendukung inovasi sering kali kesulitan dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran. Kondisi ini menunjukkan perlunya intervensi dan dukungan yang lebih besar untuk membentuk budaya inovasi di sekolah-sekolah yang lebih konservatif. Upaya untuk teknologi dan pentingnya inovasi dalam Pelatihan yang berfokus pada pengembangan keterampilan digital dan inovasi dapat membantu mengurangi resistensi dan meningkatkan keterlibatan semua anggota sekolah dalam proses digitalisasi. Upaya membangun budaya inovasi yang kuat di sekolah-sekolah dasar negeri di Kota Banjarmasin tidak hanya akan meningkatkan penerapan teknologi, tetapi juga mempersiapkan siswa dan guru dan tenaga kependidikan untuk menghadapi tantangan pendidikan di masa A Dukungan stakeholder Dukungan dari orang tua dan komunitas merupakan faktor penting dalam keberhasilan penerapan digitalisasi di sekolah-sekolah dasar negeri di Kota Banjarmasin. Di kecamatan Banjarmasin Tengah, tingkat dukungan yang tinggi dari orang tua dan masyarakat sangat terasa, baik dari segi moral maupun pendanaan. Dalam hal ini, orang tua berperan sebagai penggerak utama dalam memberikan dukungan untuk pengadaan infrastruktur teknologi dan program pelatihan bagi guru. Keterlibatan orang tua dalam pendidikan siswa dapat memperkuat lingkungan pembelajaran dan mendorong keberhasilan akademik. Dengan dukungan yang solid dari masyarakat, sekolah-sekolah di kecamatan ini mampu menjalankan inisiatif digitalisasi secara lebih efektif, menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih inovatif dan responsif terhadap perkembangan teknologi. Jurnal Pendidikan Moder. Volume 10 Nomor 01 Tahun 2024, 32 - 42 Sangat disayangkan, tidak semua kecamatan mengalami dukungan yang sama. Wawancara dengan tenaga kependidikan di kecamatan Banjarmasin Selatan menunjukkan bahwa kurangnya dukungan dari stakeholder menjadi hambatan signifikan dalam program digitalisasi. Orang tua yang kurang memahami pentingnya digitalisasi sering kali tidak memberikan dukungan penuh terhadap program-program berbasis teknologi di sekolah. Hal ini menciptakan tantangan tambahan bagi sekolah dalam memperoleh tambahan dana atau dukungan moral. Secara teoritis sebagaimana dikutip oleh Supriatna . , tingkat partisipasi masyarakat yang rendah dapat menghambat efektivitas program pendidikan, terutama yang memerlukan kolaborasi dan dukungan aktif dari orang tua dan komunitas. Keterbatasan anggaran juga sering menjadi kendala utama bagi sekolah-sekolah yang berada di wilayah dengan pendapatan rendah. Pengadaan perangkat teknologi, pelatihan guru, dan pemeliharaan sistem digital membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tanpa dukungan yang memadai dari orang tua dan komunitas, sekolahsekolah ini harus menunda atau bahkan mengurangi skala implementasi digitalisasi. Sumber daya yang terbatas harus dikelola secara efisien untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ketika dukungan dari stakeholder tidak optimal, pengelolaan sumber daya menjadi semakin sulit dan dapat menghambat kemajuan digitalisasi di Oleh karena itu, penting bagi sekolah untuk membangun kemitraan yang kuat dengan orang tua dan komunitas. Membangun kesadaran akan manfaat digitalisasi dan melibatkan orang tua dalam proses pengambilan keputusan dapat meningkatkan dukungan mereka. Sekolah dapat mengadakan pertemuan rutin atau seminar untuk menjelaskan pentingnya teknologi dalam pendidikan dan bagaimana orang tua dapat Dengan menciptakan lingkungan yang kolaboratif, sekolah-sekolah di Kota Banjarmasin dapat meningkatkan dukungan stakeholder dan, pada akhirnya, mempercepat proses digitalisasi pengelolaan sekolah. PENUTUP Simpulan Berdasarkan hasil dan diskusi pada poin sebelumnya, terdapat beberapa aspek yang mempengaruhi penerapan digitalisasi di sekolah-sekolah dasar negeri di Kota Banjarmasin, mulai dari infrastruktur teknologi, kompetensi digital sumber daya manusia, dukungan stakeholder. Sekolah-sekolah di kecamatan Banjarmasin Tengah dan Timur menunjukkan kesiapan yang baik dalam penerapan teknologi, dengan infrastruktur yang memadai dan guru-guru yang familiar dengan Kendala signifikan muncul di kecamatan Banjarmasin Selatan dan Utara, dimana kurangnya akses internet dan perangkat teknologi yang terbatas menghambat proses transformasi digital. Selain itu, rendahnya kompetensi digital di kalangan guru, terutama yang berusia lebih senior, serta kurangnya dukungan dari kepemimpinan dan stakeholder, menjadi faktor penghambat yang perlu diatasi. Saran Adapun saran dari penelitian ini untuk pengembangan sekolah digital di Kota Banjarmasin adalah peningkatan infrastruktur teknologi dan akses internet yang stabil, serta pengadaan perangkat memadai. Program pelatihan rutin bagi guru atau dengan dukungan mentoring dari guru muda harus dilaksanakan untuk meningkatkan kompetensi digital. Kepemimpinan transformasional perlu diperkuat dengan penyediaan sumber daya yang cukup sambil membangun budaya inovasi melalui proyek digital. Keterlibatan orang tua dan komunitas harus ditingkatkan melalui seminar dan kemitraan dengan sektor swasta. Selain itu, sistem pemantauan dan evaluasi yang Melda Hasna. Digitalisasi Pengelolaan Sekolah Dasar Negeri: SWOT Dalam Strategi Pengembangan Sekolah Digital menyesuaikan strategi dengan kebutuhan yang Dalam Proses Belajar Mengajar di Sekolah. KENOSIS, 4. , 186-202. Penerapan Konsep Resources-Based View (RBV) Dalam Upaya Mempertahankan Keunggulan Bersaing Perusahaan. Jurnal Ilmu Administrasi, 14. , 82-95. Mashuri. Analisis SWOT Sebagai Strategi Meningkatakn Daya Saing (Studi Pada PT. Bank Riau Kepri Unit Usaha Syariah Pekanbar. JPS (Jurnal Perbankan Syaria. , 1. , 97-112. Nugroho. Budaya Organisasi Yang Mendorong Inovasi Kerja. Jurnal Cahaya Mandalika, 5. , 882-893. Nurhidayatullah. Septembe. Peran Teknologi Dalam Optimalisasi Manajemen Tenaga Kependidikan di Era Digital. JICN: Jurnal Intelek dan Cendikiawan Nusantara, 1. , 49814991. Oliver Wyman. Peran Teknologi Dalam Transformasi Pendidikan di Indonesia. Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Rafsanjani, . Kepemimpinan Transformasional. Jurnal Masharif alSyariah, 4. , 1-27. Saripa Abdullatif. Pengelolaan Digitalisasi Sekolah Pada Sekolah Penggerak. Pedagogika, 14. , 46-63. Sundari. Desembe. Stakeholders Dalam Pendidikan. At-Tazakki, 5. Supriatna. Mei-Jun. Inisiatif Partisipasi Sosial Dalam Mengatasi Anak Putus Sekolah: Studi Kasus pada Jaringan Kerja dan Kolaborasi Antara Lembaga Pemerintah. LSM, dan Masyarakat Sipil di Indonesia. Qalam, 17. , 1828-1848. Suriono. Analisis SWOT dalam Identifikasi Mutu Pendidikan. ALACRITY: Journal of Education, 1. DAFTAR PUSTAKA