Penguatan Eksistensi Guru PAK di Era Digital: Fungsi Transformatif Spiritualitas Guru PAK dalam Dimensi Inkarnatif Kristus di Kabupaten Bolaang Mongondow Valentino Wariki*1. Olivia C. Wuwung2. Wolter Weol3. Subaedah Luma4. Arianto Batara5 1234Institut Agama Kristen Negeri Manado 5Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Sulut Email koresponden: valentino. wariki@sttbi. Submit: 22-05-2025 Review: 06-07, 08-08-2025 Direvisi: 11-08-2025 Diterbitkan: 30-08-2025 Keywords: digital, existence, strengthening, soft Kata Kunci: digital, eksistensi, guru, penguatan, soft skills p: ISSN: 2723-7036 e-ISSN: 2723-7028 A 2025. The Authors. License: Open Journals Publishing. This work is licensed under the Creative Commons Attribution License. https://jurnal. id/index. php/pkm/index Abstract On May 6, 2025. IAKN Manado, in collaboration with the North Sulawesi Teachers and Education Personnel Center, conducted a Community Service Program (PKM) entitled Strengthening the Existence of Teachers in the Digital Era, held in Bolaang Mongondow Regency. This PkM aims to strengthen the existence of teachers in the aspects of soft skills and This PkM was attended by teachers in the Bolaang Mongondow area. Through implementation methods such as presentations, discussions, practical skills training, and learning design in the digital era, participants gained a comprehensive understanding of their existence as teachers in this digital era. The issue of how participants should respond to various challenges in the digital era, including controlling the use of digital devices, became one of the main focuses of this activity. In addition, a comprehensive reflection on the role of incarnate teachers was also a substantial aspect that received a positive response from the participants. The results of the activity showed that participants were able to understand their calling as teachers in the digital era and design learning models that are relevant to the digital Abstrak Pada tanggal 6 Mei 2025 IAKN Manado bekerja sama dengan Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Sulut melaksanakan kegiatan PkM bertajuk Penguatan Eksistensi Guru Pak Di Era Digital yang diselenggarakan di kabupaten Bolaang Mongondow. PkM ini bertujuan untuk memperkuat eksistensi guru dalam aspek soft skills dan spiritualitas. PkM ini diikuti oleh guru-guru di wilayah Bolaang Mongondow. Melalui metode pelaksanaan dengan presentasi, diskusi, pelatihan keterampilan praktis, dan desain pembelajaran di era digital peserta mendapatkan pemahaman secara menyeluruh terhadap eksistensi mereka sebagai guru di era digital ini. Isu mengenai bagaimana para peserta harus merespons berbagai tantangan di era digital, termasuk pengendalian terhadap penggunaan perangkat digital, menjadi salah satu fokus utama dalam kegiatan ini. Selain itu, refleksi menyeluruh mengenai peran guru yang inkarnatif turut menjadi aspek substansial yang memperoleh respons positif dari para peserta. Hasil kegiatan menunjukkan para peserta mampu memahami panggilan mereka sebagai guru di era digital dan mendesain model pembelajaran yang relevan dengan konteks digital. Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 2. Agustus 2025 PENDAHULUAN Modernisme dalam dunia pendidikan berjalan linear seiring dengan perkembangan Mengusung semangat postmodernisme, lembaga-lembaga pendidikan dunia pun turut berbenah dengan kemajuan produk-produk digital yang menandai eksisnya suatu era baru. Suatu era dimana pengetahuan dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda (Wariki 2. Produk-produk digital memfasilitasi cara pandang baru yang bertentangan dengan zaman sebelumnya. Fenomena ini tak lepas dari sikap kritis Popkewitz yang menyadari ada kegagalan rasionalitas di era modern (Popkewitz 1. Kemunculan era digital adalah baik dalam membongkar kelusuhan cara pandang kaum Sehingga guru sebagai salah satu aspek utama pendidikan wajib untuk mengembangkan dan beradaptasi dengan ragam model pembelajaran digital yang secara tidak langsung menggerus produk-produk berpikir era sebelumnya. Mustafa Suleyman, salah satu pendiri DeepMind dan Inflection AI, kepala AI di Microsoft, melalui judul bukunya yang terbit pada tahun 2023 dengan judul The Coming Wave berpendapat bahwa dunia tidak siap menghadapi gelombang teknologi AI baru yang dahsyat dan mengidentifikasi Aomasalah penahananAo sebagai tantangan di zaman kita. (Suleyman and Bhaskar 2. Meski ia bukanlah orang pertama yang menggunakan metafora ini untuk menggambarkan pergolakan yang terjadi setelah diperkenalkannya teknologi baru yang disruptif ke dalam masyarakat. Efek dari inovasi teknologi ini bisa positif atau negatif. Gelombang tersebut dengan indah menangkap kedua ujung spektrum kemungkinan: bagi sebagian orang, gelombang tersebut menunjukkan pembersihan dan pembaruan, masa awal yang baru, lembaran baru, dan berbagai kemungkinan, sementara bagi yang lain, gelombang tersebut lebih menyeramkan, menunjukkan bahwa kita diliputi oleh kekuatan dahsyat yang mengalahkan kita, dan yang pada akhirnya membuat kita tenggelam (Pratschke 2. Sebab itu orientasi terhadap pendidikan yang berbasis riset harus terus berjalan. Marcin Lis mengutip Nogalski dan Kowalczyk menyampaikan bahwa upaya membangun dan memperkuat keunggulan kompetitif berbasis pengetahuan dalam konteks perubahan berkelanjutan dan globalisasi ekonomi menjadi satu-satunya tindakan efektif bagi organisasi yang tidak hanya ingin bertahan hidup tetapi juga mengembangkan kondisi sulit ini (Lis 2. Ini adalah bagian dari alasan yang menjelaskan meningkatnya permintaan akan pengetahuan dan minat untuk bekerja sama dengan entitas yang menawarkan pengetahuan seperti lembaga pendidikan tinggi. Oleh karena itu, penggunaan prinsip-prinsip manajemen pengetahuan yang efektif dapat berkontribusi untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Seorang guru harus dapat menyajikan konsep manajemen pengetahuan melalui analisis kritis literatur dan melihat isu-isu yang terkait dengan proses pengetahuan, pendekatan terhadap manajemen pengetahuan dan praktik (Stachera-WCodarczyk 2. Manajemen pengetahuan yang baik membutuhkan sistem dan teknologi yang terkini. Bagaimana mungkin dunia pendidikan tidak menyentuh realitas ini. Sebab itu pada era ini guru diharapkan untuk menggunakan sumber daya pengajaran terbaik yang tersedia, karena mereka pada akhirnya yang bertanggung jawab Penguatan Eksistensi Guru PAK di Era Digital: A (V. Wariki. Wuwung. Weol. Luma. Batar. atas kemajuan siswa di kelas, menciptakan sumber daya pengajaran berbasis media baru sangatlah penting. Mengingat teknologi terus berkembang dan menawarkan peluang inovatif untuk penggunaan pendidikan, yang mengharuskan para pendidik untuk memikirkan kembali dan berinovasi dalam strategi desain instruksional (Knox 2. Paradigma pendidikannya tetap terarah pada peningkatan siswa. Minat dan motivasi siswa harus terusik melalui penggunaan metodologi dan materi pengajaran yang menggabungkan struktur, taktik, dan sumber daya pengajaran berkualitas tinggi (Muthmainnah et al. Siswa memperoleh manfaat dari sistem dan struktur yang membantu mereka belajar dan mengatasi kesulitan. Pembelajaran dapat dipermudah dengan variasi metode, yang meliputi pemberian arahan, dorongan, teguran, contoh, dan memecah masalah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sehingga dapat lebih mudah dipelajari. Tentu saja tanpa melupakan peran dan fungsi perangkat digital yang mampu menunjang keberhasilan pembelajaran di kelas. Becirovic membahas secara spesifik fenomena pendidikan ini dengan menyebutnya sebagai pedagogik digital. Pedagogi digital berkaitan dengan pendekatan pedagogi baru yang menggunakan perangkat dan sumber daya digital untuk menyediakan pengetahuan dan kompetensi yang diperlukan bagi instruktur untuk mengajar. Pedagogi digital sebagai disiplin ilmu yang menggunakan teknologi digital untuk mengajar Sintesis pendekatan yang ada terhadap pedagogi digital kritis dapat menggambarkannya sebagai pendekatan pendidikan, sosial, danAisampai batas tertentu, politikAiyang memprioritaskan keadilan sosial dan distribusi kekuasaan yang setara. Pendekatan ini membantu siswa memahami cara kerja pendidikan, dan bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan konteks sosial yang lebih luas (Becirovic 2. Fokus utama pada model pedagogi ini adalah tercapainya distribusi pendidikan yang setara. Era digital pada akhirnya membuat rigiditas zaman berubah total. Peralihan dari modern ke postmodernisme membuat penetrasi digitalisasi semakin tidak terbendung. Eskalasi perkembangan dunia tidak lagi dalam hitungan tahun, namun setiap detik ada informasi tentang temuan-temuan baru. Fenomena ini selaras dengan semangat Paul Kaak yang melihat manusia harus mengembangkan dirinya semaksimal mungkin (Kaak Di satu sisi pemikiran Kaak sangat baik dalam mendukung perkembangan zaman namun di bagian yang lain ada kekhawatiran yang pastinya akan berdampak tidak baik bagi manusia. Era digital perlu direspon dari sudut pandang pendidikan Kristen agar terdapat upaya penguatan yang terstruktur dan menyentuh aspek-aspek internal manusia. Kristus menjadi sentral bagi pendidikan Kristen. Sebagai bentuk respon dan tanggung jawab, maka IAKN Manado berkolaborasi dengan Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Sulut dalam melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di desa Toruakat, kecamatan Dumoga, kabupaten Bolaang Mongondow. PkM ini dilaksanakan sebagai bentuk perwujudan tanggung jawab moril terhadap tingkat kemajuan pendidikan di kabupaten Bolaang Mongondow dan tantangan untuk menuntaskannya di era digital ini. Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Ni Nyoman Netri dkk ditemukan pengaruh signifikan antara tingkat pengangguran, upah dan tingkat pendidikan terhadap kemiskinan di Kabupaten Bolaang Mongondow (Netri. Kawung, and Siwu 2. Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 2. Agustus 2025 Tingkat pendidikan yang rendah secara langsung berdampak pada rendahnya penghasilan individu maupun rumah tangga, karena keterbatasan akses terhadap pekerjaan yang layak dan produktif. Pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, tetapi juga merupakan instrumen strategis untuk mendorong mobilitas sosial, pembangunan ekonomi, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat secara Di Kabupaten Bolaang Mongondow, ketimpangan akses dan mutu pendidikan masih menjadi persoalan serius, terutama di wilayah-wilayah terpencil yang minim infrastruktur dan tenaga pendidik yang berkualitas. Ketidakmerataan ini memperlebar jurang sosial dan ekonomi antardaerah, serta memperlambat kemajuan daerah secara menyeluruh. Oleh karena itu, tantangan riil seperti keterbatasan sarana pendidikan, rendahnya angka partisipasi sekolah, dan kualitas pembelajaran yang belum merata harus segera disikapi secara sistematis dan berkelanjutan agar ancaman ketertinggalan peradaban tidak semakin mengakar dalam kehidupan masyarakat lokal. Sebab itu nilai-nilai yang berpusat pada Kristus wajib untuk diejawantahkan dalam ruang pendidikan. Pazmino menegaskan bahwa mengajar dalam nama Yesus, para guru melayani, dengan cara yang mewakili. Tuhan dan Juruselamat mereka. Kebajikan atau nilai-nilai Kristen perlu diwujudkan dalam praktik pengajaran mereka sendiri (Pazmino Mengapa ini penting? Tentu penting karena kemajuan teknologi saat ini semakin tidak terkendali. Beberapa ilmuwan komputer berpendapat bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita akan mencapai "singularitas teknologi", momen saat inovasi teknologi terjadi secara instan dan otomatis (Indick 2. Bisa jadi ini akan menjadi momen ketika teknologi akan lebih pintar dari manusia. Lalu, bagaimana pendidikan Kristen menyambut era ini jika tanpa persiapan yang fundamen? Melalui PkM ini, para peserta mengikuti serangkaian kegiatan melalui forum diskusi yang membahas topik-topik seputar penguatan guru menghadapi era digital. Mereka diharapkan dapat memiliki pemahaman yang konstruktif mengenai digitalisasi dalam dunia pendidikan dan bagaimana mempersiapkan diri secara spiritual nantinya. Paradigma inkarnatif akan menjadi bahasan penutup sebagai bagian dari konklusi berpikir kristiani. METODE PELAKSANAAN Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 6 Mei 2025 di kabupaten Bolaang Mongondow. Kegiatan diselenggarakan di gedung Gereja Masehi Injili di Bolaang Mongondow (GMIBM) wilayah Pusian bersama para guru-guru di wilayah Secara umum bentuk pelaksanaan kegiatan ini berupa seminar disertai diskusi atau tanya jawab dan workshop kreatifitas kelas. Sebab itu kegiatan ini menggunakan perangkat presentasi yang terdiri dari proyektor, laptop dan layar sebagai alat bantu utama dalam kegiatan PkM ini. Materi yang dipresentasikan merupakan materi yang dibuat dengan pendekatan kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan sumber-sumber referensi berasal dari rujukan penelitian yang berkaitan dengan pendidikan. Peneliti kualitatif secara pribadi Penguatan Eksistensi Guru PAK di Era Digital: A (V. Wariki. Wuwung. Weol. Luma. Batar. terlibat dalam fokus interpretatif pada bidang aktivitas alami, seringkali manusiawi, dengan tujuan menghasilkan deskripsi dan/atau penjelasan holistik dan realistis. Metode pengumpulan data spesifik, prosedur pengambilan sampel, dan strategi interpretatif digunakan untuk membuat desain unik dan spesifik pertanyaan yang berkembang selama proses penelitian (Crabtree and Miller 2. Materi yang disampaikan pada PkM ini merupakan hasil riset para pemateri yang kemudian dimodifikasi ulang sesuai kebutuhan Sebelum seminar dan workshop dimulai. PkM dimulai dengan kata sambutan yang disampaikan Dr. Anneke Purukan M. Th yang merupakan Kabid. Pendidikan Kristen Kanwil Kemenag Prov. Sulawesi Utara. Dia menyampaikan topik mengenai AuKebijakan Pemerintah dalam Penguatan Eksistensi Guru PAKAy. Lalu dilanjutkan oleh Dr. Olivia Cherly Wuwung. Pd selaku Rektor IAKN Manado yang menyampaikan topik seputar garis besar kegiatan PkM yang dilaksanakan. Setelah sesi kata sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi seminar dan workshop yang dibuka oleh Dr. Wolter Weol. Pd selaku Direktur Pascasarjana IAKN Manado. Wolter menyampaikan tema mengenai AuPenguatan Soft skills Guru PAK yang berdampakAy. Lalu pemateri selanjutnya adalah Arianto Batara. Pd yang merupakan Kepala BGTK Prov. Sulut yang memberikan pokok bahasan mengenai AuTeacher as CallingAy. Bersamaan dengan sesi materinya disertakan workshop kreatif bersama mahasiswa S3 Prodi PAK. Workshop tersebut merupakan sesi kreatifitas yang bisa dimodifikasi dan dikembangkan di kelas. Setelah itu seminar sesi terakhir dibawakan oleh salah satu mahasiswa Prodi S3 PAK yaitu Valentino Wariki yang menyampaikan materi mengenai: AuFungsi Transformatif Spiritualitas Guru PAK dalam Dimensi Inkarnatif Kristus. Ay Gambar 1. Dr. Olivia Cherly Wuwung. Pd sedang menyampaikan kata sambutan Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 2. Agustus 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Penguatan Soft Skills Guru PAK yang Berdampak Pada sesi seminar pertama Wolter Weol menyampaikan pemaparan berkaitan soft skills guru dalam dunia pendidikan. Dalam pandangannya yang berdasarkan riset terdahulu didapati bahwa meski percepatan teknologi dan Ai mengalami peningkatan yang signifikan, kebutuhan terhadap soft skills guru PAK tetap menjadi prioritas dalam Para guru PAK diharapkan untuk terus mengembangkan berbagai keterampilan interpersonal dan personal sebagai bagian dari standar kompetensi yang juga diatur oleh Undang-Undang No. 15 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen . 5 Mengingat guru mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan nasional bidang pendidikan maka penguatan soft skills guru menjadi urgensi tersendiri. Dia menyatakan bahwa soft skills dapat didefinisikan sebagai Aukemampuan untuk melakukan beberapa tugas perilaku tertentu atau kemampuan untuk melakukan beberapa proses kognitif tertentu yang secara fungsional terkait dengan beberapa tugas tertentuAy (Peterson and Van Fleet 2. Sebab itu soft skills bisa sangat subjektif dalam progress per individu karena proses kognitif tiap-tiap orang bisa berbeda. Namun, potensi untuk kemajuan bersama tetap bisa dicapai selama alat ukur dan variabelnya dalam spektrum yang sama. Soft skills merupakan kumpulan keterampilan manajemen sumber daya manusia, yang penting bagi banyak profesi dan posisi pekerjaan, termasuk pustakawan akademis. Namun, konsep soft skills tidak memiliki definisi, cakupan, instrumentasi, serta pendidikan dan pelatihan yang sistematis (Matteson. Anderson, and Boyden 2. menyadari bahwa meskipun minat untuk mempelajari dimensi dan prediksi kinerja tugas dan kontekstual terus tumbuh, sedikit perhatian empiris yang diberikan untuk mempelajari sifat kinerja soft skills. Keterampilan kerja intra dan interpersonal yang memfasilitasi penerapan keterampilan dan pengetahuan teknis seperti keterampilan interpersonal misalnya, mengembangkan hubungan baik dan keterampilan komunikasi misalnya, menyesuaikan pesan Anda dengan audiens target sangat dicari oleh organisasi. Namun, sedikit yang diketahui tentang dimensi yang mendasari kinerja soft skills, atau tentang variabel perbedaan individu yang memprediksi kinerja dalam domain ini. Dalam suatu pra-riset sebelumnya. Dia meneliti cakupan matra kinerja soft skills, bagaimana mengembangkan ukuran untuk menilai kinerja soft skills dari perspektif diri sendiri, relasi kerja dan atasan, lalu memvalidasi ukuran kinerja dalam jaringan nomologis perbedaan individu non-kemampuan dan ukuran kinerja yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa taksonomi kinerja soft skills terdiri dari beberapa kelompok, tetapi ukuran kinerja soft skills bersifat unidimensional. Variabel kepribadian dan motivasi secara signifikan memprediksi kinerja soft skills melalui pengaruhnya terhadap proses motivasi proksimal. Risetnya merujuk kepada hasil penelitian Kantrowitz mengenai Development and Construct Validation of a Measure of Soft skills Performance. Melalui riset ini paradigma soft skills diperkaya dengan norma-norma yang semakin ideal dengan konteks zaman. Penguatan Eksistensi Guru PAK di Era Digital: A (V. Wariki. Wuwung. Weol. Luma. Batar. Gambar 2. Dr. Wolter Weol. Pd sedang memaparkan materi Penguatan Soft skills Guru PAK yang berdampak Teacher as Calling Menghadapi abad ke-21, seorang harus memahami peran mereka yang berubah dan tanggung jawab yang semakin meningkat (Na 2. Konteks budaya pendidikan yang berbeda memberikan prioritas pada keterampilan dan pengetahuan guru secara berbeda. Paradigma guru yang baik dan profesional harus memenuhi harapan dari beberapa peran yang ditonjolkan, seperti guru sebagai pribadi, guru sebagai profesional yang terampil, dan guru sebagai orang dan profesional yang beretika. Bahkan dalam segmen tertentu biasanya tuntutan terhadap standar seorang guru semakin variatif. Dalam riset yang dilakukan Lana Jursec dkk terdapat hubungan antara orientasi panggilan dan berbagai hasil positif termasuk kesejahteraan sudah mapan (Jursec. Ljubin Golub, and Rijavec 2. Orientasi panggilan dalam riset terkait memiliki hubungan positif dengan kepuasan hidup dan pekerjaan, makna dan semangat kerja dan kehidupan. Panggilan dan pekerjaan yang bermakna saling memengaruhi secara timbal balik seiring waktu. Persepsi terhadap panggilan cenderung mendorong peningkatan makna dalam pekerjaan, yang pada gilirannya memperkuat rasa menjalani panggilan dan menghasilkan dampak positif seperti peningkatan kesejahteraan. Dalam teori panggilan, faktor personal dan kontekstual sangat relevan dan jika terjadi ketidaksesuaian, seseorang dapat meningkatkan kebermaknaan pekerjaan melalui penyusunan pekerjaan (Wrzesniewski and Dutton 2. Sebab itu dalam koridor panggilan sebagai seorang guru kebermaknaan tanggung jawab profesi harus menjadi tujuan tertinggi. Sebab tanpa panggilan yang bermakna maka peran seorang guru hanya sebatas rutinitas administratif. Tantangannya akan semakin rumit ketika seorang guru tidak siap menjalani panggilannya dengan penuh makna di era digital. Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 2. Agustus 2025 Tak dipungkiri era digital membuat perubahan yang signifikan dalam teknologi dan informasi, dan menyentuh aspek-aspek budaya, pedagogi, serta perkembangan pengetahuan yang semakin cepat di setiap lapisan kehidupan (Labbas and Shaban 2. Indikasi mulai tergantikannya peran manusia oleh robot semakin terlihat ketika teknologi AI terus dikembangkan. Akurasi algoritma dan jaringan database digital membuat berbagai vendor berinovasi menghadirkan perangkat teknologi yang semakin canggih. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana guru dapat berkompetisi dengan AI dan teknologi canggih di masa yang akan datang? Karena itu, kesadaran akan fungsi humanis seorang yang guru yang harus diperhatikan untuk dapat memberikan posisi tawar yang lebih baik dalam kompetisi postmodern. Seorang guru harus menyadari panggilannya sebagai pendidikan yang humanis untuk dapat memberikan identitas yang khas dalam klasifikasi pekerjaannya. Hanya dengan menggali berbagai potensi humanis, maka seorang guru akan dapat menghadirkan suasana yang manusiawi dan kondusif dalam setiap ruang pertemuan. Perspektif pendidikan yang humanis membuat guru memiliki area yang tidak bisa dijangkau oleh teknologi robotik tercanggih sekalipun. Gambar 3. Arianto Batara. Pd sedang memaparkan materi Teacher as Calling Fungsi Transformatif Spiritualitas Guru PAK dalam Dimensi Inkarnatif Kristus Perkembangan teknologi digital saat ini membuat fragmentasi dan polarisasi dalam masyarakat semakin deras, semakin banyak orang Kristen yang merasa terputus hubungan dan berjuang untuk tumbuh secara rohani (Hall and Hall 2. Di sisi lain digitalisasi telah mendefinisikan ulang konsep-konsep tradisional seperti tempat suci dan Penguatan Eksistensi Guru PAK di Era Digital: A (V. Wariki. Wuwung. Weol. Luma. Batar. bagaimana praktik keagamaan telah berkembang di era digital (Battista 2. Terjadi perubahan perspektif tentang transformasi praktik-praktik spiritual dalam konteks Esensi revolusi digital sepenuhnya terwujud dalam perubahan budaya yang terjadi di masyarakat. Perlahan tapi pasti proses transformasi menuju masyarakat digital semakin cepat. Substansi realitas dan virtualitas yang semakin menyatu merupakan petunjuk perubahan paradigma masyarakat di era digital. Para guru harus memahami bahwa teknologi digital secara mendasar mengubah apa artinya menjadi manusia, khususnya apa artinya menjadi manusia yang religius atau spiritual, karena teknologi digital menjadi proses yang Autidak dapat diubahAy (Bingaman Gerakan migrasi spiritual ke ruang digital telah menjadi fenomena umum di masa Sifat dinamis media komputasional yang cair dan fleksibel telah memfasilitasi rekonseptualisasi studi agama digital untuk memeriksa sistem kepercayaan, tidak hanya sebagaimana yang dilakukan dan diartikulasikan di dunia maya, tetapi juga dengan menyelidiki bagaimana media digital dan dunia maya dibentuk oleh praktik keagamaan (Plesner and Husted 2. Bagaimana para guru mempersiapkan perubahan kultur ini secara terstruktur dan terkonsep dengan baik menjadi suatu proses tak terhindarkan. Gambar 4. Valentino Wariki. Th sedang menyampaikan materi tentang Fungsi Transformatif Spiritualitas Guru PAK dalam Dimensi Inkarnatif Kristus Sebab itu para guru harus dapat memanfaatkan ruang-ruang digital sebagai sarana transformasi spiritual model baru. Mereka tetap dapat menunjukkan kehangatan dan kepedulian sejati kepada para murid dengan fasilitas digital. Bahkan dengan produkproduk digital masa kini, para guru tetap bisa terhubung dengan mereka dalam ruang yang lebih luas. Para guru juga bisa memainkan peran baru mereka sebagai guru spiritual di dunia digital. Proses transformasi para guru yang transparan hanya bisa terjadi dan dirasakan secara leluasa di ruang digital. Tanpa mengorbankan upaya strategis dalam Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 2. Agustus 2025 mengeksplorasi ketegangan antara tradisi dan inovasi, mewaspadai keaslian dan fragmentasi, memperhatikan tingkat partisipasi, dan mempertimbangkan jarak dalam ranah keagamaan kontemporer, digitalisasi merupakan era baru peradaban manusia. Refleksi terbaik dalam konteks ini ada pada peristiwa inkarnasi Kristus. Sebab pada momen ini hubungan Allah dengan manusia dapat kembali terjadi dengan cara yang unik (Wariki et al. Prinsipnya sama seperti Kristus yang tidak berhenti menjadi Logos ketika Ia menjadi manusia. Sang Logos menjadi manusia dalam arti bahwa Ia tetap menjadi Logos sambil menambahkan pada diri-Nya sifat kedagingan (Kystenberger. Taylor, and Stewart 2. Kehadiran Yesus ke dunia yang kotor tidak mengubah natur ilahi-Nya. Analoginya sama seperti digitalisasi. Para guru hanya perlu beradaptasi dengan instrumen-instrumen digital agar dapat berelasi dengan komunitas digital. Keterhubungan dengan dunia digital seharusnya tidak mengorbankan realitas sosial. Transformasi spiritual bisa dilakukan di dua dimensi yang berbeda selama prinsipprinsip humanis dan tanggung jawab seorang guru tidak dilupakan. Gambar 5. Para pemateri dan utusan mahasiswa S3 IAKN Manado berpose bersama para guru PAK se-kabupaten Bolaang Mongondow KESIMPULAN Berpegang pada Yohanes 1:14 karena kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia. Ini merupakan refleksi teologis tentang makna perjanjian inkarnasi (Paroschi 2. Panggilan seorang guru harus dilihat dari sisi inkarnasi Kristus. Kehadiran Kristus tidak mengubah karakter keilahian-Nya. Ia tetap menjalankan peran seorang guru yang inspiratif di realitas Timur Dekat Kuno. Jadikan ini sebagai suatu analogi bagi panggilan transformatif guru dalam dunia digital. Kehadiran guru baik di dunia riil maupun di konteks digital harus dapat dirasakan dampaknya secara transparan dan integratif. Wajah digital seorang guru harus sama dengan makna Sehingga dalam setiap partisipasinya orang-orang yang berinteraksi Penguatan Eksistensi Guru PAK di Era Digital: A (V. Wariki. Wuwung. Weol. Luma. Batar. dengannya dapat merasakan kasih karunia Kristus. Itulah kepenuhan dari panggilan transformatif seorang guru di era digital. DAFTAR PUSTAKA