ANALISIS KEMAMPUAN PUBLIC SPEAKING MAHASISWA FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK (FISIP) UNIGA Miftah Daniansyah1. Raden Ade Purnawan2. Yudi Triana Wahyudi3 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Garut 24012120111@uniga. id, rd. purnawan@gmail. com, yuditrianaw@uniga. Abstrak Kemampuan public speaking merupakan kompetensi penting yang harus dimiliki mahasiswa dalam mendukung aktivitas akademik dan profesional. Namun, masih terdapat kesenjangan dalam kemampuan public speaking mahasiswa yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan public speaking mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Garut berdasarkan dimensi proses belajar dan latihan, lingkungan yang kondusif, serta bakat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif dan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 50 responden yang dipilih menggunakan teknik cluster random Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif dengan bantuan IBM SPSS Statistics. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan public speaking mahasiswa berada pada kategori baik dengan persentase sebesar 77,3%. Dimensi proses belajar dan latihan serta lingkungan yang kondusif memberikan kontribusi paling dominan, sementara aspek bakat dan teknik penyampaian, khususnya komunikasi non-verbal, masih menunjukkan kelemahan relatif. Temuan ini menegaskan bahwa kemampuan public speaking lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal dibandingkan faktor bawaan. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan menawarkan analisis yang lebih komprehensif melalui integrasi faktor latihan, lingkungan, dan bakat dalam konteks mahasiswa tingkat fakultas. Kata kunci: public speaking, mahasiswa, kemampuan komunikasi, lingkungan Pendahuluan Penelitian mengenai kemampuan public speaking telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir, dengan fokus utama pada faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas komunikasi individu, khususnya dalam konteks pendidikan tinggi. Sejumlah studi menekankan bahwa kemampuan public speaking berkaitan erat dengan aspek kepercayaan diri, pengalaman berbicara, serta kemampuan mengelola audiens (Aprilia & Minsih, 2024. Putra, 2. Selain itu, kajian dalam bidang komunikasi juga menunjukkan bahwa keberhasilan public speaking tidak hanya ditentukan oleh kemampuan verbal, tetapi juga oleh penguasaan komunikasi nonverbal yang berfungsi memperkuat makna pesan serta meningkatkan daya tarik penyampaian (Arfah et al. , 2025. Indrariani et al. , 2. Dengan demikian, public speaking dapat dipahami sebagai keterampilan yang kompleks dan multidimensional, yang menuntut integrasi antara kemampuan kognitif, afektif, dan performatif. Jurnal Pembangunan dan Kebijakan Publik Vol. No. Tahun 2026 Halaman 43-50 Daniansyah, et. Dalam perspektif pembelajaran, pendekatan experiential learning menempatkan pengalaman sebagai faktor kunci dalam pengembangan keterampilan komunikasi. Pembelajaran yang efektif terjadi melalui proses praktik langsung, refleksi, konseptualisasi, dan eksperimen aktif (Sondari et al. , 2. Dalam konteks public speaking, proses ini tercermin dalam aktivitas latihan yang berulang, evaluasi diri, serta keterlibatan dalam situasi komunikasi nyata yang memungkinkan individu untuk terus meningkatkan kualitas performanya. Intensitas keterlibatan mahasiswa dalam aktivitas berbicara di depan umum berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri, yang menjadi komponen penting dalam keberhasilan public speaking (Rahmayanti et al. , 2. Namun demikian, sebagian besar penelitian terdahulu masih cenderung mengkaji kemampuan public speaking secara parsial, dengan fokus pada satu atau dua aspek tertentu, seperti pelatihan . raining-based approac. atau faktor psikologis seperti kecemasan komunikasi . ommunication apprehensio. (Grieve et al. , 2. Pendekatan yang parsial ini menyebabkan pemahaman terhadap kemampuan public speaking menjadi kurang komprehensif karena belum bisa menjelaskan bagaimana interaksi antar faktor internal maupun eksternal secara simultan memengaruhi kemampuan tersebut. Padahal, dalam praktiknya, kemampuan public speaking merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan secara linear. Di sisi lain, meskipun telah terdapat kerangka konseptual yang mengintegrasikan berbagai faktor, implementasi empiris dari model tersebut dalam konteks mahasiswa, khususnya pada tingkat fakultas, masih relatif terbatas. Keterbatasan ini menunjukkan adanya celah antara pengembangan teori dengan pengujian empiris di lapangan, sehingga diperlukan penelitian yang mampu menguji model tersebut secara lebih kontekstual dan aplikatif. Lebih lanjut, dalam konteks lokal, masih ditemukan kesenjangan antara kemampuan public speaking mahasiswa dengan tuntutan kompetensi komunikasi di dunia akademik dan Banyak mahasiswa yang telah memiliki kemampuan dasar dalam penyampaian verbal, namun masih mengalami keterbatasan dalam aspek performatif, seperti penggunaan bahasa tubuh, pengelolaan audiens, serta kemampuan membangun interaksi yang efektif. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pendekatan pengembangan public speaking yang selama ini diterapkan cenderung lebih menekankan pada aspek kognitif, dan belum sepenuhnya mengakomodasi pengembangan keterampilan komunikasi secara holistik. Berdasarkan uraian tersebut, dapat diidentifikasi adanya kesenjangan penelitian yang terletak pada belum optimalnya kajian yang mengintegrasikan faktor proses belajar dan latihan, lingkungan yang kondusif, serta bakat dalam menganalisis kemampuan public speaking mahasiswa secara simultan. Selain itu, masih terbatasnya penelitian yang menguji model tersebut dalam konteks spesifik mahasiswa di tingkat fakultas juga menunjukkan perlunya kajian yang lebih kontekstual. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan menganalisis kemampuan public speaking mahasiswa FISIP Universitas Garut berdasarkan ketiga dimensi tersebut, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih komprehensif dalam pengembangan kajian komunikasi dan pendidikan, khususnya dalam upaya meningkatkan kompetensi komunikasi mahasiswa. Kajian Teori Kemampuan public speaking merupakan salah satu kompetensi komunikasi yang esensial dalam konteks pendidikan tinggi, khususnya bagi mahasiswa yang dituntut untuk mampu menyampaikan gagasan secara efektif dalam berbagai situasi akademik maupun sosial. Dalam praktiknya, public speaking tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menyampaikan pesan secara verbal, tetapi juga mencakup aspek non-verbal, seperti gestur, ekspresi wajah, kontak mata, serta intonasi suara yang berperan dalam memperkuat makna dan meningkatkan Jurnal Pembangunan dan Kebijakan Publik Vol. No. Tahun 2026 Halaman 43-50 Daniansyah, et. keterlibatan audiens (Zhang et al. , 2. Dengan demikian, public speaking dapat dipahami sebagai keterampilan multidimensional yang melibatkan integrasi antara aspek kognitif, afektif, dan performatif. Dalam perspektif teoritis, kemampuan public speaking tidak semata-mata merupakan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran dan pengalaman yang berkelanjutan. Teori experiential learning yang dikemukakan oleh Kolb mengemukakan bahwa pembelajaran yang efektif terjadi melalui siklus pengalaman konkret, refleksi, konseptualisasi, dan eksperimen aktif (Yoon & Coble, 2. Dalam konteks public speaking, siklus ini tercermin dalam proses latihan berulang, evaluasi diri, serta keterlibatan dalam berbagai situasi komunikasi publik yang memungkinkan individu untuk terus memperbaiki performanya. Sejalan dengan pendekatan tersebut, kemampuan public speaking dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu proses belajar dan latihan, lingkungan yang kondusif, serta bakat individu (Anderson, 2. Proses belajar dan latihan berfungsi sebagai mekanisme utama dalam membentuk keterampilan teknis dan meningkatkan kepercayaan diri, sedangkan lingkungan yang kondusif menyediakan dukungan sosial dan kesempatan praktik yang Sementara itu, bakat dipandang sebagai potensi awal yang dapat mempercepat proses penguasaan keterampilan, namun tidak menjadi faktor dominan tanpa adanya intervensi berupa latihan yang intensif. Berbagai penelitian empiris menunjukkan bahwa faktor latihan dan pengalaman memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan public speaking mahasiswa. Salma et al. , . menemukan bahwa pelatihan berbasis praktik secara efektif meningkatkan kemampuan presentasi, khususnya dalam aspek struktur penyampaian, kejelasan pesan, dan kepercayaan Selain itu. Astuti et al. , . menunjukkan bahwa peningkatan frekuensi keterlibatan dalam aktivitas berbicara di depan umum berkontribusi secara langsung terhadap penguatan kompetensi komunikasi mahasiswa. Temuan-temuan ini mengindikasikan bahwa public speaking merupakan keterampilan yang sangat dipengaruhi oleh intensitas praktik dan paparan terhadap situasi komunikasi nyata. Namun demikian, pengembangan kemampuan public speaking tidak terlepas dari berbagai hambatan, salah satunya adalah kecemasan komunikasi . ommunication apprehensio. Tingkat kecemasan yang tinggi dapat menghambat performa individu, baik dalam aspek verbal maupun non-verbal (Grieve et al. , 2. Individu yang mengalami kecemasan cenderung menunjukkan gejala seperti kurangnya kontak mata, penggunaan intonasi yang monoton, serta keterbatasan dalam penggunaan bahasa tubuh. Kondisi ini menunjukkan bahwa aspek psikologis memiliki peran yang tidak kalah penting dibandingkan aspek teknis dalam menentukan efektivitas public speaking. Selain faktor individu, lingkungan sosial dan akademik juga memainkan peran strategis dalam membentuk kemampuan komunikasi mahasiswa. Lingkungan yang interaktif dan partisipatif memungkinkan mahasiswa untuk berlatih secara aktif, memperoleh umpan balik, serta mengembangkan kepercayaan diri melalui proses pembelajaran sosial. Pembelajaran yang melibatkan interaksi dua arah dan partisipasi aktif lebih efektif dalam meningkatkan kompetensi komunikasi dibandingkan pendekatan yang bersifat pasif dan satu arah (Dewi & Kustiarini. Dengan demikian, keberadaan lingkungan yang kondusif menjadi faktor kunci dalam mempercepat proses pengembangan kemampuan public speaking. Meskipun demikian, sebagian besar penelitian terdahulu cenderung mengkaji kemampuan public speaking secara parsial, dengan fokus pada aspek tertentu seperti pelatihan, kepercayaan diri, atau kecemasan komunikasi. Pendekatan ini menyebabkan pemahaman yang dihasilkan menjadi kurang komprehensif, karena belum mampu menjelaskan interaksi antar faktor yang secara simultan memengaruhi kemampuan public speaking. Selain itu, penelitian yang mengintegrasikan faktor proses belajar, lingkungan, dan bakat dalam satu kerangka analisis yang utuh masih relatif terbatas, khususnya dalam konteks mahasiswa di tingkat fakultas. Berdasarkan uraian tersebut, dapat diidentifikasi adanya kebutuhan untuk mengkaji kemampuan Jurnal Pembangunan dan Kebijakan Publik Vol. No. Tahun 2026 Halaman 43-50 Daniansyah, et. public speaking secara lebih komprehensif dengan mempertimbangkan interaksi antara faktor internal dan eksternal. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan menganalisis kemampuan public speaking mahasiswa berdasarkan tiga dimensi utama, yaitu proses belajar dan latihan, lingkungan yang kondusif, serta bakat, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih mendalam dalam pengembangan kajian komunikasi dan pendidikan. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif untuk menggambarkan kemampuan public speaking mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Garut. Penelitian dilakukan dengan pendekatan cross-sectional, yaitu pengumpulan data dilakukan dalam satu periode waktu tertentu tanpa adanya intervensi dari Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa aktif FISIP Universitas Garut tahun akademik 2020Ae2023 yang berjumlah 458 mahasiswa. Penentuan sampel dilakukan menggunakan teknik probability sampling dengan metode cluster random sampling. Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan . argin of erro. sebesar 10%, diperoleh jumlah sampel sebanyak 50 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang disusun berdasarkan indikator kemampuan public speaking yang mengacu pada teori Anderson yang meliputi tiga dimensi utama, yaitu: . proses belajar dan latihan, . lingkungan yang kondusif, dan . Setiap item pernyataan diukur menggunakan skala Likert dengan rentang nilai 1 . angat tidak setuj. hingga 5 . angat setuj. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dengan bantuan perangkat lunak IBM SPSS Statistics. Analisis dilakukan dengan menghitung skor total dan mengonversinya ke dalam bentuk persentase untuk menggambarkan tingkat kemampuan public speaking mahasiswa. Selanjutnya, hasil persentase diklasifikasikan ke dalam kategori penilaian tertentu untuk memudahkan interpretasi data. Penentuan kategori penilaian dilakukan dengan mengonversi skor ke dalam bentuk persentase. Persentase tersebut kemudian diklasifikasikan ke dalam lima kategori, yaitu sangat kurang, kurang, cukup, baik, dan sangat baik, dengan menggunakan interval kelas yang sama. Hasil dan Implikasi Tabel 1 Hasil Penilaian Kemampuan Public Speaking Mahasiswa Indikator Proses Belajar dan Latihan Melakukan latihan public speaking Mencari pengalaman berbicara di depan umum Berlatih dengan individu berpengalaman Lingkungan yang Kondusif Keaktifan organisasi mendorong public speaking Lingkungan organisasi meningkatkan minat Organisasi sebagai sarana latihan Lingkungan organisasi kondusif Bakat dan Teknik Memiliki bakat berbicara di depan umum Menggunakan bahasa tubuh saat berbicara Skor (%) Kategori Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Kurang Jurnal Pembangunan dan Kebijakan Publik Vol. No. Tahun 2026 Halaman 43-50 Indikator 10 Melibatkan audiens dalam interaksi Sumber: Hasil olah peneliti, 2024 Daniansyah, et. Skor (%) Kategori Baik Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan public speaking mahasiswa FISIP Universitas Garut berada pada kategori baik dengan persentase sebesar 77,3%. Temuan ini mengindikasikan bahwa mahasiswa secara umum telah memiliki kompetensi dasar dalam menyampaikan gagasan secara lisan. Namun demikian, capaian ini tidak dapat diartikan sebagai kondisi yang sepenuhnya optimal, melainkan masih menunjukkan adanya ketimpangan antar dimensi kemampuan public speaking yang perlu dicermati secara lebih mendalam. Berdasarkan analisis per dimensi, faktor proses belajar dan latihan serta lingkungan yang kondusif terbukti menjadi determinan utama dalam membentuk kemampuan public speaking Dominannya kedua faktor ini menunjukkan bahwa kemampuan berbicara di depan umum lebih bersifat learned skill dibandingkan innate ability. Hal ini sejalan dengan teori pembelajaran berbasis pengalaman yang menekankan bahwa keterampilan komunikasi berkembang melalui praktik langsung, pengulangan, serta refleksi terhadap pengalaman yang diperoleh (Kolb, 1. Dengan kata lain, mahasiswa yang secara aktif terlibat dalam aktivitas komunikasi, baik di dalam maupun di luar kelas, cenderung memiliki kemampuan public speaking yang lebih baik dibandingkan mereka yang pasif. Temuan ini diperkuat oleh penelitian De Grez et al. yang menunjukkan bahwa intervensi pembelajaran berbasis praktik secara signifikan meningkatkan kemampuan presentasi mahasiswa, khususnya dalam aspek struktur penyampaian dan kepercayaan diri. Selain itu. Indraswati et al. juga menegaskan bahwa intensitas keterlibatan dalam aktivitas berbicara di depan umum berbanding lurus dengan peningkatan kompetensi komunikasi. Dalam konteks penelitian ini, keterlibatan mahasiswa dalam organisasi kemahasiswaan menjadi salah satu ruang strategis yang menyediakan kesempatan latihan secara berkelanjutan, sekaligus membentuk keberanian dan kepercayaan diri dalam menyampaikan pendapat. Namun demikian, jika ditinjau lebih kritis, dominasi faktor latihan dan lingkungan juga mengindikasikan bahwa sistem pembelajaran formal di kelas kemungkinan belum sepenuhnya mampu mengakomodasi pengembangan keterampilan public speaking secara optimal. Artinya, mahasiswa lebih banyak mengembangkan kemampuan tersebut melalui pengalaman informal dibandingkan melalui desain pembelajaran yang terstruktur. Hal ini menjadi catatan penting bagi institusi pendidikan untuk mengintegrasikan pelatihan komunikasi secara lebih sistematis dalam kurikulum. Di sisi lain, dimensi bakat dan teknik penyampaian, khususnya dalam aspek komunikasi nonverbal, menunjukkan capaian yang relatif lebih rendah. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun mahasiswa telah memiliki keberanian untuk berbicara, mereka belum sepenuhnya mampu mengoptimalkan aspek performatif dalam komunikasi, seperti penggunaan gestur, ekspresi wajah, intonasi, dan kontak mata. Padahal, dalam praktik public speaking modern, keberhasilan komunikasi tidak hanya ditentukan oleh isi pesan, tetapi juga oleh cara penyampaian pesan tersebut. Secara teoretis, komunikasi non-verbal memiliki kontribusi yang signifikan dalam memperkuat makna pesan dan meningkatkan keterlibatan audiens (Mehrabian, 1971. Knapp et al. , 2. Ketidakmampuan dalam mengelola aspek non-verbal dapat menyebabkan pesan yang disampaikan menjadi kurang menarik, bahkan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Oleh karena itu, rendahnya capaian pada dimensi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan kognitif dan kemampuan performatif mahasiswa dalam public speaking. Jurnal Pembangunan dan Kebijakan Publik Vol. No. Tahun 2026 Halaman 43-50 Daniansyah, et. Keterbatasan pada aspek non-verbal ini juga tidak dapat dilepaskan dari faktor psikologis, khususnya kecemasan komunikasi . ommunication apprehensio. yang masih dialami oleh sebagian mahasiswa. Individu dengan tingkat kecemasan komunikasi yang tinggi cenderung mengalami hambatan dalam mengekspresikan diri secara optimal, baik secara verbal maupun non-verbal (Taha et al. , 2. Dalam konteks ini, mahasiswa yang merasa gugup atau tidak percaya diri cenderung membatasi gerakan tubuh, menghindari kontak mata, serta menggunakan intonasi yang monoton, sehingga mengurangi efektivitas komunikasi yang dilakukan. Lebih lanjut, peran lingkungan yang kondusif dalam penelitian ini menunjukkan bahwa konteks sosial memiliki pengaruh yang signifikan dalam membentuk kemampuan public speaking Lingkungan organisasi yang suportif tidak hanya menyediakan ruang latihan, tetapi juga memungkinkan terjadinya proses pembelajaran sosial melalui observasi, imitasi, dan umpan balik dari sesama anggota. Lingkungan pembelajaran yang interaktif dan partisipatif mampu meningkatkan kompetensi komunikasi secara lebih efektif dibandingkan pendekatan yang bersifat satu arah (Nuryana et al. , 2. Namun demikian, penting untuk dicatat bahwa tidak semua mahasiswa memiliki akses yang sama terhadap lingkungan yang kondusif tersebut. Mahasiswa yang kurang aktif dalam organisasi atau memiliki keterbatasan dalam berpartisipasi cenderung memiliki peluang yang lebih kecil untuk mengembangkan kemampuan public speaking secara optimal. Hal ini menunjukkan adanya potensi kesenjangan kemampuan yang dipengaruhi oleh faktor partisipasi sosial. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menegaskan bahwa kemampuan public speaking mahasiswa merupakan hasil dari interaksi kompleks antara faktor internal, seperti kepercayaan diri dan bakat, dengan faktor eksternal, seperti latihan dan lingkungan. Dominannya peran faktor eksternal menunjukkan bahwa pengembangan kemampuan public speaking seharusnya tidak hanya dibebankan pada individu, tetapi juga menjadi tanggung jawab institusi pendidikan dalam menyediakan ekosistem pembelajaran yang mendukung. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengembangan yang lebih komprehensif dan terintegrasi, seperti penerapan metode pembelajaran berbasis praktik, simulasi presentasi, pelatihan komunikasi non-verbal, serta pemberian umpan balik yang konstruktif secara berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, diharapkan kemampuan public speaking mahasiswa tidak hanya berada pada kategori AubaikAy, tetapi dapat berkembang menuju tingkat yang lebih profesional dan kompetitif. Temuan penelitian ini memberikan implikasi teoretis bahwa pengembangan kemampuan public speaking mahasiswa lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti latihan dan lingkungan, dibandingkan faktor internal seperti bakat, sehingga memperkuat perspektif bahwa keterampilan komunikasi merupakan learnable skill yang dapat dikonstruksi melalui pengalaman dan interaksi sosial. Hal ini memperkaya kajian dalam bidang komunikasi dan pendidikan dengan menegaskan pentingnya pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman dalam meningkatkan kompetensi mahasiswa. Secara praktis, hasil penelitian ini mengindikasikan perlunya institusi pendidikan, khususnya fakultas, untuk merancang program pengembangan public speaking yang lebih terstruktur, seperti integrasi pelatihan komunikasi dalam kurikulum, penyediaan forum presentasi yang berkelanjutan, serta penguatan peran organisasi mahasiswa sebagai ruang Selain itu, pelatihan yang berfokus pada aspek komunikasi non-verbal dan pengelolaan kecemasan berbicara juga perlu menjadi perhatian, agar kemampuan public speaking mahasiswa dapat berkembang secara lebih menyeluruh dan tidak hanya terbatas pada aspek penyampaian Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kemampuan public speaking mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Garut berada pada kategori baik dengan persentase sebesar 77,3%. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa telah memiliki Jurnal Pembangunan dan Kebijakan Publik Vol. No. Tahun 2026 Halaman 43-50 Daniansyah, et. kompetensi dasar dalam menyampaikan gagasan secara lisan, meskipun belum merata pada seluruh aspek kemampuan public speaking. Secara lebih spesifik, kemampuan public speaking mahasiswa lebih dipengaruhi oleh faktor proses belajar dan latihan serta lingkungan yang kondusif, yang terbukti memberikan kontribusi paling dominan dalam pengembangan keterampilan komunikasi. Sebaliknya, aspek bakat dan teknik penyampaian, khususnya dalam penggunaan komunikasi non-verbal, masih menunjukkan kelemahan relatif dibandingkan dimensi lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan public speaking mahasiswa tidak semata-mata ditentukan oleh faktor bawaan, tetapi lebih dipengaruhi oleh intensitas latihan dan dukungan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran secara Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa pengembangan kemampuan public speaking mahasiswa merupakan hasil interaksi antara faktor internal dan eksternal, dengan penekanan utama pada pentingnya pengalaman praktik dan lingkungan belajar yang suportif dalam meningkatkan kualitas komunikasi mahasiswa secara menyeluruh. Rekomendasi Bagi Institusi (Fakulta. Fakultas diharapkan dapat mengintegrasikan pengembangan kemampuan public speaking ke dalam kurikulum pembelajaran secara lebih sistematis, misalnya melalui penerapan metode pembelajaran berbasis presentasi, diskusi aktif, dan project-based learning. Selain itu, perlu disediakan program pelatihan khusus yang berfokus pada penguatan aspek komunikasi verbal dan non-verbal secara seimbang. Bagi Dosen Dosen diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif dan partisipatif dengan memberikan lebih banyak kesempatan kepada mahasiswa untuk berbicara, menyampaikan pendapat, serta melakukan presentasi. Pemberian umpan balik yang konstruktif juga penting untuk membantu mahasiswa meningkatkan kepercayaan diri dan kualitas Bagi Mahasiswa Mahasiswa diharapkan dapat lebih aktif dalam mengembangkan kemampuan public speaking melalui keterlibatan dalam organisasi, forum diskusi, maupun kegiatan akademik lainnya. Selain itu, mahasiswa juga perlu secara mandiri melatih aspek komunikasi non-verbal serta mengelola kecemasan dalam berbicara di depan umum. Bagi Peneliti Selanjutnya Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembangkan variabel yang lebih luas, seperti kecemasan komunikasi . ommunication apprehensio. , motivasi, atau penggunaan media digital dalam public speaking. Selain itu, pendekatan penelitian dapat dikembangkan tidak hanya deskriptif, tetapi juga analisis kausal untuk memperoleh pemahaman yang lebih Daftar Pustaka