ANALISIS SEMIOTIKA REPRESENTASI KECURANGAN PEMILU DALAM FILM DOKUMENTER DIRTY VOTE Dimas Erdhinta Pratama Putra, 2Fatma Retha Hazmy erdhinta@afy. id, 2fatmarethahazmy@gmail. Program Studi Film dan televisi. Akademi Film Yogyakarta, 2Program Studi Ilmu Komunikasi. Universitas Muhammadiyah Surakarta ARTIKEL Diterima: 20 Mei 2024 Direvisi: 27 Mei 2024 Disetujui: 10 Juni 2024 ABSTRACT This research uses a descriptive study with a qualitative approach. Data was obtained by watching the film repeatedly and selecting scenes that represent the forms of election fraud design The theory used for analysis is Julia Kristeva's semiotic theory. Although Julia Kristeva's semiotic theory focuses on poetic language, the researcher tries to apply the theory to film media to explore the representation of election fraud. The results show that the representation of electoral fraud is shown through the genotext meaning of the film while the visuals shown to the audience are the while the concept of abjection helps explain the audience's emotional reaction to the images depicting electoral fraud. The film's intertextuality connects it to the wider socio-political context, showing how fraud and power undermine the integrity of the democratic process. In conclusion, "Dirty Vote" succeeds in raising awareness and critical reflection on the importance of integrity in politics and elections. Keywords: Semiotics. Julia Kristeva. Film. Documentary. Dirty Vote. Pemilu ABSTRAK Penelitian ini menggunakan studi deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dengan menonton film secara berulang-ulang dan memilih adegan yang merepresentasikan bentuk-bentuk desain kecurangan pemilu 2024. Teori yang digunakan untuk analisis adalah teori semiotika Julia Kristeva. Meskipun teori semiotika Julia Kristeva berfokus pada bahasa puitis, peneliti mencoba menerapkan teori tersebut pada media film untuk mengeksplorasi representasi kecurangan pemilu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi kecurangan pemilu ditunjukan melalui makna genoteks dari film ini sedangkan visual yang ditampilkan pada penonton adalah fenoteks. sementara konsep abjeksi membantu menjelaskan reaksi emosional penonton terhadap gambar-gambar yang menggambarkan kecurangan pemilu. Intertekstualitas film ini menghubungkannya dengan LayaR: Jurnal Ilmiah Seni Media Rekam. Vol. 11 No. 1 Juni 2024 konteks sosial-politik yang lebih luas, menunjukkan bagaimana kecurangan dan kekuasaan merusak integritas proses demokrasi. Kesimpulannya, "Dirty Vote" berhasil menggugah kesadaran dan refleksi kritis tentang pentingnya integritas dalam politik dan pemilu. Kata Kunci: Semiotika. Julia Kristeva. Film. Dokumenter. Dirty Vote. Pemilu PENDAHULUAN Teknologi informasi dan komunikasi mengalami perkembangan yang Perkembangan tersebut melahirkan media sosial sebagai alat berinteraksi. Menurut Nabila et al. media sosial merupakan sebuah media online yang beroperasi dengan bantuan teknologi berbasis web yang membuat perubahan dalam hal komunikasi yang dahulu hanya dapat satu arah dan berubah menjadi dua arah atau dapat disebut sebagai dialog Selain digunakan untuk alat komunikasi, media sosial juga digunakan untuk memproduksi dan berbagi konten termasuk film. Salah satu platform media sosial yang digunakan untuk membagikan YouTube. Menjelang kontestasi pemilu 2024 ada salah satu film dokumenter yang ditayangkan di YouTube berjudul AuDirty VoteAy. Film AuDirty VoteAy karya watchdoc ini dirilis pada tanggal 11 Februari 2024 dengan durasi 1 jam 57 menit 22 detik dan telah mencapai lebih dari 9 juta jumlah Film ini disutradarai oleh Dandhy Laksono dan melibatkan 3 pakar dibidang politik dan hukum yaitu Zainal Arifin Mochtar. Bivitri Susanti dan Feri Amsari. Film "Dirty Vote" merupakan film dokumenter yang mengangkat isu kecurangan pemilu, yang sering menjadi permasalahan serius dalam sistem demokrasi. Film ini menyajikan kesaksian dan buktibukti dari berbagai pihak yang terlibat. Film AuDirty VoteAy menunjukkan bagaimana rusaknya kepercayaan publik terhadap proses demokrasi akibat kecurangan pemilu. Berbagai design kecurangan pemilu seperti inkompetensi bawaslu dan KPU dalam menegakkan hukum, politisasi bansos, intimidasi pemilih, hingga penyalahgunaan kekuasaan para menteri ditampilkan dalam film ini. Struktur naratif kronologis dan tematik digunakan untuk mengungkapkan alur cerita yang diawali dengan pengenalan konteks politik dan sosial. Cuplikan berita beserta kumpulan bukti-bukti kecurangan pemilu disorot pada setiap segmennya. Menurut Nichols . , film dokumenter adalah jenis film yang menjelaskan suatu fenomena tanpa rekayasa, tidak disusun menurut waktu atau keadaan yang diatur, semuanya diambil menurut fakta dan keadaan saat itu. Film dokumenter dinilai efektif untuk mengangkat topik kecurangan pemilu seperti yang ditampilkan dalam "Dirty Vote" karena kemampuannya menggabungkan visualisasi dan narasi yang kuat untuk mengungkapkan fakta-fakta kompleks secara langsung kepada penonton. Dengan menampilkan bukti visual, wawancara dengan saksi mata, dan rekaman kejadian nyata, film dokumenter tidak hanya membuat isu kecurangan pemilu lebih mudah dipahami, tetapi juga menciptakan ikatan emosional yang mendalam, sehingga memperkuat pengaruh dan daya jangkau pesan yang disampaikan. Distribusi yang luas melalui berbagai platform semakin memperkuat efektivitasnya da68 Dimas. Fatma Ae Analisis Semiotika Representasi. lam menyebarkan informasi penting dan mempengaruhi opini publik. Sederet kecurangan pemilu yang terjadi menggerakan masyarakat yang menuntut agar sistem demokrasi Indonesia dikembalikan sesuai dengan jalannya. Salah satu bentuk dari pergerakan tersebut adalah hadirnya film dokumenter AuDirty VoteAy ini yang dapat dijadikan sebagai kompas untuk mempertimbangkan penggunakan hak pilih dan atau sekedar dijadikan informasi terkait keadaan demokrasi di Indonesia saat ini. Peneliti merasa film ini sengaja didesain khusus untuk memberikan pengaruh yang besar kepada masyarakat terkait pemilu, sehingga hal ini menarik untuk diketahui. Dengan menggunakan teori semiotika Julia Kristeva yang menganalisis genoteks, fenoteks, abjeksi hingga intertekstualitas dalam penerapan pemaknaan teks film, bentuk-bentuk kecurangan dalam pemilu. penelitian kualitatif ini adalah menonton film AuDirty VoteAysecara berulang-ulang, sehingga dapat ditelaah dan disusun menjadi penelitian yang utuh. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika Julia Kristeva karena Kristeva memadukan analisis struktural . erfokus pada unsur internal tek. dan analisis kontekstual . empertimbangkan konteks sosial, budaya, dan sejara. Hal ini relevan dengan "Dirty Vote", karena penting memahami konteks politik dan untuk memahami pesan yang disampaikan film tersebut. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengkaji bagaimana film mencerminkan dan mempengaruhi konteks sosiopolitik yang lebih luas. Pendekatan terhadap semiotika METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah, . ebagai lawannya adalah eksperime. di mana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi . , analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2008:. Dalam penelitian kualitatif, peneliti memperhatikan proses . uatu fenomena sosia. dan bukan sekedar hasil atau produk dari fenomena tersebut. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam genoteks, fenoteks, abjeksi, dan interteks- Julia Kristeva menekankan analisis mendalam terhadap teks dan media melalui beberapa konsep utama yang menggali aspek-aspek tersembunyi dan kompleks dari makna. Konsep-konsep ini mencakup tualitas yang memungkinkan analisis yang mendalam terhadap teks atau media. Genoteks merujuk pada elemen-elemen mendasar dari teks yang mencakup aspek non-linguistik seperti ritme dan struktur psikis, sementara fenoteks adalah aspek permukaan teks yang mencakup struktur linguistik yang jelas. Konsep abjeksi menggambarkan reaksi penolakan atau ketidaknyamanan terhadap sesuatu yang dianggap menjijikkan atau mengancam identitas, dan intertekstualitas menekankan bahwa makna sebuah teks dibentuk oleh hubungannya dengan teks lain. LayaR: Jurnal Ilmiah Seni Media Rekam. Vol. 11 No. 1 Juni 2024 integritasnya, tetapi juga bagaimana politik sering kali menjadi ajang pertarungan kepentingan pribadi tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat luas. Setiap adegan dipenuhi dengan nuansa yang menggambarkan dinamika kuasa mempertanyakan moralitas dan etika dalam politik modern. Selain itu, "Dirty Vote" juga me- Menggabungkan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan semiotika Julia Kristeva memungkinkan analisis yang komprehensif terhadap fenomena sosial Pendekatan deskriptif menyediakan kerangka untuk mengumpulkan dan menganalisis data secara kontekstual dan induktif, sementara konsep-konsep Kristeva nyoroti peran penting media massa dalam memberikan alat analitis untuk mengeks- mempengaruhi opini publik. Film ini plorasi berbagai lapisan makna dalam teks memperlihatkan bagaimana media dapat atau media. Dengan demikian, peneliti dimanfaatkan untuk menyebarkan infor- masi palsu dan menyesatkan, sehingga terpretasikan makna yang terkandung dalam elemen genoteks dan fenoteks, secara signifikan. Media massa digam- barkan sebagai alat yang dapat dengan abjeksi, serta mengeksplorasi hubungan mudah dimanipulasi untuk kepentingan politik, menambah kompleksitas dalam kecurangan pemilu dalam film AuDirty pertarungan politik yang dipenuhi intrik VoteAy. Penelitian ini berfokus pada representasi kecurangan pemilu, yang akan peneliti analisa menggunakan teori semiotika Julia Kristeva. Objek yang diteliti adalah film AuDirty VoteAy berupa potonganpotongan adegan dalam film. dan pengkhianatan. Dengan sinematografi HASIL DAN PEMBAHASAN SEKILAS TENTANG FILM DIRTY VOTE Film "Dirty Vote" merupakan sebuah film dokumenter politik yang menggambarkan kecurangan dalam pemilihan umum dengan penuh intrik dan ketegangan. Film ini mengisahkan perjalanan seorang calon politik yang berjuang untuk memenangkan pemilihan umum, namun dihadapkan pada berbagai rintangan dan taktik kotor yang dilakukan oleh lawan Film ini tidak hanya mengeksplorasi bagaimana kekuasaan dapat mengubah orang menjadi kehilangan yang mendalam dan narasi yang kuat, "Dirty Vote" tidak hanya menghibur tetapi juga mengajak penonton untuk merenung tentang dampak negatif dari manipulasi informasi dalam sistem politik yang Secara keseluruhan, "Dirty Vote" bukan sekadar film dokumwnter politik biasa, namun merupakan sebuah kritik tajam terhadap moralitas dan etika politik, serta peringatan akan bahaya dari kecurangan dalam pemilihan umum. Film ini tidak hanya menggambarkan kerentanan demokrasi terhadap praktik kecurangan dan manipulasi, tetapi juga mengajak penonton untuk mempertimbangkan pentingnya integritas dan kejujuran dalam memilih pemimpin. Dengan tema yang Dimas. Fatma Ae Analisis Semiotika Representasi. relevan dalam konteks politik global saat ini, "Dirty Vote" memberikan pesan moral yang mendalam tentang tanggung jawab kita sebagai warga dalam menjaga proses demokrasi yang adil dan transparan. PENERAPAN TEORI JULIA KRISTEVA PADA FILM IDENTIFIKASI GENOTEKS DAN Gambar 1. Sikap Bawaslu dan KPU tidak FENOTEKS (Screenshot YouTube PSHK Indonesi. Teori Semanalisis merupakan sebuah "pendekatan terhadap bahasa Gambar 1 yang berdurasi 57:27 - sebagai suatu proses penandaan . igni- 1:00:51 menunjukan sikap Bawaslu dan fiying proces. yang heterogen dan KPU terletak pada subjek-subjek yang ber- menegakkan pelanggaran pemilu sete- bicara ". peaking subject. Teori terse- lah mengetahui adanya penyalahgu- but digunakan untuk mengidentifikasi naan kekuasaan yang dilakukan oleh genoteks dan fenoteks dalam film presiden dan beberapa menteri yang AuDirty VoteAy. Genoteks merujuk pada secara terbuka melakukan kampanye dimensi tekstual yang mendasar dan tersembunyi, yang mencakup struktur paslon tertentu yang posisinya tidak ideologis, tema-tema mendalam, dan sedang cuti. Kasus lainnya adalah makna-makna yang tidak langsung ditemukannya akun X kementrian per- Fenoteks adalah lapisan per- tahanan yang sudah jelas dimanfaatkan mukaan teks yang terlihat dan mudah sebagai ruang kampanye yang mana diakses oleh penonton, termasuk ele- men-elemen visual, narasi, dialog, dan kepentingan pribadi bukan lembaga. data yang disajikan secara eksplisit. Dari dua kasus tersebut Bawaslu Dari penjelasan di atas genoteks bersikap inkompeten hanya memberi dari film AuDirty VoteAy adalah makna teguran, yang seharusnya tindakan yang ingin disampaikan oleh pembuat tersebut dapat dikenakan sanksi agar Makna tersebut meliputi MAK- jera dan tidak terulang lagi. NA INTEGRITAS DAN KEADILAN dalam film ditunjukan pada scene LayaR: Jurnal Ilmiah Seni Media Rekam. Vol. 11 No. 1 Juni 2024 KPU diragukan integritasnya, padahal dalam undang-undang No. 7 tahun 2017 semestinya sebagai penyelenggara pemilu bawaslu dan KPU non-partisan . ersifat mandir. yang harus bersikap adil dalam menjalankan tugas dan Gambar 2. KPU meloloskan partai yang tidak sesuai ketentuan (Screenshot You Tube PSHK Indonesia ) Gambar MAKNA KRITIK TERHADAP KEKACAUAN SISTEM POLITIK 1:06:53-1:07:20 dimana KPU melanggar peraturan dengan meloloskan partai yang tidak sesuai ketentuan. kasus Partai Gelora, yang lolos menjadi peserta Pemilu, tetapi kalau kita lihat di Kita lihat dari dokumen Gambar 3. Politisasi bansos untuk kepentingan pemilu (Screenshot YouTube PSHK Indonesia ) Berita Acara KPUD Murung Raya di Kalimantan Tengah yang menyatakan ada instruksi KPU agar mengubah Gambar 3 yang berdurasi 41:46 43:42, politisasi bansos untuk kepentingan pemilu. Ada satu pemberitaan soal bansos yang mana aparat gubernur mengajak memilih capres yang melanjutkan Jokowi. Bansos dijadikan alat berpolitik, dan lain sebagainya, dijelaskan melalui konsep dalam ilmu politik yaitu politik gentong babi atau pork barrel politics. Istilah tersebut mengacu pada masa perbudakan di Amerika Serikat yang gambarannya seburuk perbudakan itu sendiri. Jadi pada saat itu para budak harus berebutan mengambil daging babi yang diawetkan di dalam gentong. Mereka berebutan, dan akhirnya muncul istilah bahwa ada orang-orang yang akan berebutan suatu jatah untuk kenyamanan dirinya. Hal tersebut status Partai Gelora dari tidak memenuhi syarat menjadi memenuhi Kalau kita lihat secara keseluruhannya. Partai Gelora tidak memenuhi syarat khususnya syarat soal seribu orang berkartu anggota di Kabupaten Murung Raya, dari sampel Uji Petik yang dilakukan terhadap 114 Kartu Tanda Anggota. Partai Gelora terverifikasi punya Kartu Tanda Anggota. Namun luar biasanya partai ini tetap dinyatakan lolos. Dari dua potongan adegan tersebut memperlihatkan bagaimana proses pemilihan mereka ternyata ada keraguan di mata publik. Bawaslu dan Dimas. Fatma Ae Analisis Semiotika Representasi. merupakan cara berpolitik yang menggunakan uang negara untuk digelontorkan ke daerah-daerah pemilihan oleh para politisi agar dirinya bisa dipilih kembali. Dari potongan adegan tersebut mengandung makna kritik terhadap kekacauan sistem politik, dengan menyoroti bagaimana ketika pemilu, yang kehendak rakyat, dimanipulasi melalui taktik kotor dan penggunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, kepercayaan publik terhadap sistem politik runtuh. menunjukkan dampak destruktif dari korupsi politik, di mana integritas dan transparansi yang menjadi pilar demokrasi digantikan oleh intrik dan konspirasi. Kritik ini menggarisbawahi perlunya reformasi dan pengawasan yang lebih ketat untuk memastikan bahwa proses pemilihan umum tetap jujur, sehingga demokrasi dapat berfungsi sesuai dengan prinsipprinsip dasarnya dan melayani kepentingan masyarakat luas, bukan hanya elite yang berkuasa. Kumpulan dari sampel makna makna . tersebut dijadikan sebagai sebuah film yang di sajikan kepada penonton. Berdasarkan pengertian fenoteks, dapat disimpulkan bahwa fenoteks dari film AuDirty VoteAy adalah visual yang ditampilkan kepada Itu berarti fenoteks film AuDirty VoteAy meliputi grafik dan data data yang ditampilkan dilayar. Gambar 4. Grafik data pemecahan Papua menjadi 6 provinsi (Screenshot YouTube PSHK Indonesi. Gambar 5. Grafik data penunjukkan 20 PJ Gubernur dan 82 PJ Walikota/Bupati dipilih Presiden (Screenshot YouTube PSHK Indonesi. Sampel cuplikan tersebut termasuk fenoteks yang digunakan untuk menyampaikan informasi statistik tentang kecurangan pemilu. Grafik data tersebut mendukung narasi film dan membantu penonton memahami kompleksitas data yang disajikan. Misalnya, grafik yang menunjukkan pemecahan wilayah papua yang mencurigakan, dan penunjukan PJ gubernur, walikota yang janggal merupakan alat LayaR: Jurnal Ilmiah Seni Media Rekam. Vol. 11 No. 1 Juni 2024 visual yang ampuh untuk mendukung klaim film tersebut mengenai kecurangan pemilu. Fenoteks ini berperan penting dalam memperkuat kredibilitas film dokumenter dengan menyajikan data yang mudah diinterpretasikan dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai luas dan dampak kecurangan pemilu. emosional manusia terhadap hal-hal yang dianggap menjijikkan atau tidak sesuai dengan identitas mereka. Ketika seorang pemimpin bertindak secara inkonsisten, misalnya dengan mengeluarkan pernyataan yang tidak konsisten dengan tindakan yang sebenarnya dilakukan, hal ini dapat menimbulkan perasaan jijik, marah, atau bahkan kehilangan rasa percaya dari Dalam "Dirty Vote", adegan yang menampilkan pemimpin yang berubah-ubah dalam pendiriannya atau melakukan kebijakan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dijanjikan kepada publik dapat menjadi pemicu abjeksi. Penonton mungkin merasa terkhianati karena ekspektasi mereka terhadap integritas dan konsistensi kepemimpinan terganggu. Emosi ini tidak hanya berkaitan dengan rasa tidak puas terhadap pemimpin, tetapi juga dengan perasaan bahwa dimanipulasi oleh pihak yang seharusnya mereka percayai. Lebih jauh lagi, dalam konteks politik, inkonsistensi dalam kepemimpinan dapat dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan Ketidaksesuaian antara katakata dan tindakan dapat memperburuk ketegangan sosial dan politik, serta mengancam stabilitas demokrasi. Oleh karena itu, film seperti "Dirty Vote" tidak hanya mengungkapkan praktikpraktik kecurangan pemilu, tetapi juga merenungkan tentang pentingnya integritas dan konsistensi dalam membangun sistem politik yang dapat diandalkan dan berkeadilan. ANALISIS ABJEKSI DALAM FILM Menurut pemikiran Julia Kristeva, abjeksi merujuk pada perasaan takjub dan ketidaknyamanan yang muncul pada saat kita akan berhadapan dengan hal-hal yang dikecualikan pada norma sosial yang ada pada masyarakat. Implikasi dari konsep ini dapat dilihat pada Gambar 6. Presiden tidak konsisten dengan . Screenshot YouTube PSHK Indonesi. Gambar 6 Presiden tidak konsisten dengan pendiriannya Ditunjukan pada durasi 2:46- 6:08 Inkonsistensi dalam kepemimpinan seperti yang diperlihatkan dalam film "Dirty Vote" tidak hanya menciptakan kebingungan tetapi juga memicu reaksi emosional yang mendalam dari penonton. Konsep Julia Kristeva mengacu pada respons Dimas. Fatma Ae Analisis Semiotika Representasi. ANALISIS INTERTEKSTUALITAS maupun pengelolaan sumber daya Dengan persamaan tema ini, keduanya memberikan sudut pandang yang berbedabeda namun komplementer terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi dalam membangun sebuah sistem yang adil dan berkeadilan di Indonesia. Sebagai hasil penelitian di atas, yang menampilkan beberapa contoh gambar sebagai bentuk perwakilan pesan dibalik makna film keseluruhan, dan menggunakan Konsep teori semiotika Julia Kristeva yang meliputi genoteks, fenoteks, abjeksi dan intertekstualitas memberikan pemahaman bahwa konsep konsep tersebut memberikan pemahaman tentang makna yang merepresentasikan bentuk-bentuk desain kecurangan pemilu dibalik film AuDirty VoteAy. FILM DIRTY VOTE Prinsip intertekstualitas Julia Kristeva adalah tanda-tanda mengacu kepada tanda-tanda yang lain setiap teks mengacu kepada teks-teks yang lain atau dalam hal ini media film tersebut, jadi dalam intertektualitas adalah bagaimana mencari hubungan antara film AuDirty VoteAy ini dengan film-film sebelumnya. Jika diteliti lebih jauh lagi, maka ditemukan film yang mirip dengan film AuDirty VoteAy tersebut dalam satu rumah produksi, namun berbeda tempat atau kondisi yang diangkat dalam film-film sebelumnya, seperti contoh film yang diberi judul AuSexy KillersAy. Meskipun "Sexy Killers" dan "Dirty Vote" berbeda dalam konteksnya, keduanya berbagi tema yang mendasar tentang korupsi dan kecurangan dalam konteks yang berbeda. "Dirty Vote" menyoroti praktik kecurangan dalam pemilihan umum dan dampaknya terhadap demokrasi, sementara "Sexy Killers" fokus pada korupsi dalam pengelolaan sumber daya alam dan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat. Dalam perspektif yang lebih luas, kedua film ini menunjukkan bagaimana korupsi dan kecurangan dapat merusak berbagai aspek kehidupan sosial dan politik di Indonesia. Mereka menggambarkan bagaimana kekuasaan dan kepentingan pribadi dapat mengesampingkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Keduanya juga membangkitkan kesadaran tentang pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan integritas dalam kepemimpinan, baik dalam ranah politik SIMPULAN Penelitian ini menggunakan analisis semiotika Julia Kristeva untuk memahami makna di balik film dokumenter "Dirty Vote," yang mengangkat isu kecurangan Dengan menampilkan beberapa contoh gambar sebagai bentuk perwakilan pesan dalam film, penelitian ini mengungkapkan bahwa makna di balik "Dirty Vote" berkembang sesuai dengan perspektif dan pengalaman penonton. Analisis genoteks dan fenoteks menunjukkan bagaimana elemen-elemen dasar dan struktur naratif film membentuk pesan keseluruhan. Genoteks memberikan fondasi bagi makna yang lebih dalam, sementara fenoteks membantu penonton menghubungkan gambar-gambar dengan isu-isu kecurangan pemilu dan intrik Konsep abjeksi membantu mema75 LayaR: Jurnal Ilmiah Seni Media Rekam. Vol. 11 No. 1 Juni 2024 hami reaksi emosional penonton terhadap gambar-gambar yang menunjukkan kecurangan pemilu dan korupsi politik. Rasa jijik dan ketidaknyamanan yang muncul mencerminkan ketidakpuasan masyarakat terhadap praktik-praktik yang merusak integritas proses demokrasi. Intertekstualitas dalam "Dirty Vote" menunjukkan bahwa film ini berhubungan dengan konteks sosial-politik yang lebih luas. Pemerintah mungkin bermaksud menunjukkan perhatian terhadap isu-isu ini, namun masyarakat justru merasakan kekecewaan dan kesedihan akibat dampak negatif dari kecurangan yang diungkapkan dalam film. "Dirty Vote" menggambarkan bagaimana kekuasaan dan korupsi dapat merusak integritas politik dan mengancam demokrasi. Film ini menunjukkan bahwa praktik kecurangan pemilu tidak hanya merugikan kandidat yang bersaing secara adil, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat terhadap sistem politik. Dengan demikian, penelitian ini memberikan pemahaman bahwa pesan "Dirty Vote" tidak statis tetapi dinamis, dan maknanya berkembang sesuai dengan siapa yang memaknainya. Film ini berhasil menggugah kesadaran dan refleksi kritis tentang kecurangan pemilu, korupsi politik, dan dampaknya terhadap demokrasi, serta menunjukkan pentingnya integritas dalam proses politik dan pemilu. DAH, 13. , 255. https://doi. org/10. 46339/al-wardah. Nathaniella. , & Triadi. Pengaruh film Dokumenter Audirty voteAy Pada Saat Masa tenang Pemilihan Umum tahun 2024 di Indonesia. Indonesian Journal of Law and Justice, 1. , 11. https:// org/10. 47134/ijlj. Singh. , & Pandey. Julia Kristeva. Philosophy. https://doi. org/10. 1093/obo/97801953965770440 Astuti. , & W. Makna representamen Kendaraan Pada film ANIMASI anak car toons compilation: Kajian Semiotika C. SEMIOTIKA: Jurnal Ilmu Sastra Dan Linguistik, 24. , https://doi. org/10. 19184/semioti Salma. February . UGM law expert dr. Zainal Arifin responds to controversy over Audirty voteAy Universitas Gadjah Mada. https://ugm. id/en/news/u gm-law-expert-dr-zainal-arifinresponds-to-controversy-overdirty-vote-documentary/ Audirty voteAy documentary on alleged election fraud goes viral in Indonesia. Global Voices Advox. February . https://advox. org/2024/02/17/dirtyvote-documentary-on-allegedelection-fraud-goes-viral-inindonesia/ The Jakarta Post. Audirty voteAy documentary claims Jokowi improperly backed election frontrunner politics. https://w. com/indonesia/2024/02/12/dirtyvote-documentary-claims-jokowiimproperly-backed-election-front DAFTAR REFERENSI Sobur. Alex. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. Aufderheide. Documentary film: a very short introduction. Oxford University Press. Inc. Abdullah. Analisis Semiotika Julia Kristeva Dalam film AuSexy killersAy (Pendekatan Semanalisis Hingga Intertekstualitas. AL-WAR76 Dimas. Fatma Ae Analisis Semiotika Representasi. Fadllillah. , & Mahfudh. Kajian Struktural-Semiotik Ian Richard Netton terhadap Q. AlKahf. Mutawatir, 9. , 303Ae322. https://doi. org/10. 15642/mutawatir. Panjaitan. Wahyuni. , & Mega, . Film dokumenter sebagai media pembelajaran submateri zat JPBIO (Jurnal Pendidikan Biolog. , 4. , 52Ae59. https://doi. org/10. 31932/jpbio. Sjoraida. Guna. , & Yudhakusuma. Analisis Sentimen Film Dirty Vote Menggunakan BERT (Bidirectional Encoder Representations from Transformer. Jurnal JTIK (Jurnal Teknologi Informasi Dan Komunikas. , 8. , 393Ae404. https://doi. org/10. 5870/jtik. LayaR: Jurnal Ilmiah Seni Media Rekam. Vol. 11 No. 1 Juni 2024