Berkala Ilmiah Pendidikan scidac plus Volume 2 Nomor 2. Juli 2022 UPAYA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENANGGULANGI PERILAKU BULLYING DI SEKOLAH MuruAoatul Afifah*. Riftini Yulaiyah Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan. Indonesia muruatulafifah@gmail. Abstrak Bullying adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok dengan maksud menunjukkan eksistensi kepada orang lain dengan cara mengejek, mengolok-olok, memukul, menghina terhadap orang lain. Bullying dapat terjadi dimana saja, termasuk juga di lingkungan sekolah. Penelitian ini dilaksanakan di MI Afifiyah Pragaan Laok. Sumenep. Madura. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penyebab terjadinya bullying pada siswa MI Afifiyah Pragaan Laok dan upaya guru dalam menanggulangi perilaku bullying pada siswa MI Afifiyah Pragan Laok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis study kasus. Pengumpulan data melalui wawancaran, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitia menunjukkan ternjadinya bullying pada siswa MI Afifiyah Pragaan Laok disebabkan oleh beberapa faktor . ketidaksadaran anak dengan perilaku bullying . faktor keluarga. Dan upaya guru dalam menaggulangi bullying yaitu dengan upaya preventif dengan . pendekatan emosional melalui pengajaran PAI agar mengetahui dampak tindakan bullying . komunikasi aktif dengan wali murid melalui group whatsapp guna memudahkan guru memberikan informasi terkait perkembangan anak dan tingkah laku anak di sekolah . membiasakan anak didik membaca Asmaul Husna sebelum KBM dimulai untuk mengenalkan sifat baik Allah . melibatkan siswa yang lain agar bekerjasama dalam mencegah perilaku kekerasan . Pemberian sanksi siswa yang Kata Kunci: Upaya Guru, perilaku bullying. Abstract Bullying is an action carried out by a person or group with the intention of showing existence to others by mocking, making fun of, hitting, insulting others. Bullying can happen anywhere, including in the school This research was conducted at MI Afifiyah Pragaan Laok. Sumenep. Madura. The purpose of this study was to determine the causes of bullying in MI Afifiyah Pragaan Laok students and the teacher's efforts in overcoming bullying behavior in MI Afifiyah Pragan Laok students. This study uses a qualitative approach with the type of case study. Collecting data through interviews, observation and documentation. The results showed that bullying occurred in MI Afifiyah Pragaan Laok students caused by several factors . the child's unconsciousness with bullying behavior . family factors. And the teacher's efforts in dealing with bullying are preventive efforts with . an emotional approach through PAI teaching to find out the impact of bullying actions . active communication with students' parents through whatsapp groups to make it easier for teachers to provide information related to child development and children's behavior at school ( . familiarize students with reading Asmaul Husna before KBM begins to introduce the good nature of Allah . involving other students to cooperate in preventing violent behavior . Giving sanctions to students who Artikel ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution 4. 0 International License A 2022 MuruAoatul Afifah. Riftini Yulaiyah Keywords: teachers efforts, bullying PENDAHULUAN Kasus-kasus kekerasan di dunia pendidikan semakin marak terjadi sehingga sangat meresahkan dan memprihatinkan bagi pendidik dan orang tua. Sekolah merupakan tempat menimba ilmu bagi peserta didik yang mana tempat itu seharusnya menjadi tempat yang nyaman serta bisa membantu membentuk karakter pribadi yang positif ternyata malah menjadi tempat tumbuh suburnya praktek-praktek bullying, sehingga memberikan ketakutan bagi anak untuk masuk sekolah (Jannatung, 2. Bullying merupakan bentuk kekerasan yang dilakukan secara sengaja dan terus menerus oleh satu orang atau berkelompok terhadap orang lain, terjadinya perilaku bullying karena ada perasaan benci dan rasa ketidaksukaan terhadap orang lain sehingga terjadilah penindasan pemaksaan atau penganiayaan, yang mengakibatkan korban merasakan ketakutan dan teraniaya. Orang yang suka membully merasa bahwa dirinya berkuasa dan lebih kuat dari yang lain. Seorang psikolog bernama Profesor Dan Olweus mendefinisikan perilaku bullying melalui empat pertama, mengatakan perbuatan tersebut bermaksud menyakiti atau memperlakukan orang lain dengan tidak menyenangkan demi kesenangan diri atau memanggil dengan nama yang menyakitkan. Kedua, mengabaikan atau mengucilkan orang lain dari grupnya. Ketiga, memukul, menendang, mendorong. Keempat, mengatakan kebohongan atau rumor yang tidak benar tentang seseorang atau mengirim sebuah catatan dan mencoba membuat siswa lain tidak disukai atau dilukai (Arya, 2. Sehingga korban bully biasanya cenderung memiliki sifat yang pasif, gampang terintimidasi, atau mereka yang memiliki sedikit teman, memiliki kesulitan untuk mempertahankan diri dan korban bisa juga lebih kecil dan lebih Siswa yang suka membully biasanya memiliki sifat yang kejam, tidak bertanggung jawab dan tega menyakiti temannya, karena tujuan dari bully adalah untuk membuat orang lain menderita (Wardiati, 2. Perbuatan bullying memberikan dampak negatif terhadap mental anak. Korban akan merasakan stress, trauma, benci terhadap pelaku, ingin keluar dari sekolah, bahkan ada yang sampai mau bunuh diri. Bullying kebanyakan terjadi di lingkungan sekolah seperti mengolok-olok, menghina, mencubit, menendang dan menyebarkan gosip di media sosial yang mengakibatkan korban bully merasa terganggu atau tersakiti. Adapun bentuk-bentuk bullying yang sering terjadi antara lain bullying fisik, seperti menonjok, mendorong, memukul, menendang, dan menggigit. Bullying verbal, seperti menyoraki, menyindir, mengolok-olok, menghina, dan mengancam. Bullying tidak langsung antara lain berbentuk mengabaikan, tidak mengikutsertakan, menyebarkan rumor/gosip, dan meminta orang lain untuk menyakiti (Hertinjung, 2. Tidak hanya itu tindakan lain seperti merusak barang orang lain, meminta uang, pelecehan seksual juga termasuk tindakan bullying. Hal itu juga sering terjadi di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Contohnya dalam lingkungan sekolah seperti mengolok-olok, menghina, mencubit, menendang dan menyebarkan gosip di media sosial yang mengakibatkan korban bully merasa terganggu atau tersakiti. Sebagai m. ana yang terdapat di dalam firman-Nya dalam surat Al-Hujurat ayat 11 yang artinya :AyHai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah . yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat. Maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Ay (Q. Al-Hujurat: . Di antara bentuk-bentuk kekerasan lainnya seperti memukul dan menyiksa manusia di larang dalam Islam. Al-Imam Ahmad, al-Bukhari dalam al-Tarikh al-Kabir dan Ibn Abi Asim meriwayatkan dari Khalid ibn al-Walid berkata saya mendengar Rasullullah saw bersabda: "Manusia yang paling berat diazab pada hari kiamat ialah manusia yang menyiksa manusia ketika di dunia" (Sari, 2. Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perilaku kekerasan seperti mengolokngolok, menyindir, memukul yang berujung pada penindasan dan penghinaan terhadap sesama dilarang dalam Islam. Kurangnya moral menjadi salah satu penyebab terjadinya perilaku bullying terhadap sesama. Maka dari itu peran guru sangat dibutuhkan untuk menanggulangi perilaku bullying di lingkungan sekolah supaya tidak terulang kembali. Dalam hal ini guru harus berupaya mencari jalan keluar untuk memecahkan persoalan tentang perilaku bullying, terutama guru Pendidikan Agama Islam, yang mana Pendidikan Agama Islam mengajarkan pendidikan moral dan akhlak, seperti bagaimana berbudi pekerti yang baik, bertingkah laku yang baik, atau bagaimana cara menghormati terhadap sesama. Ilmu pengetahuan umum juga penting namun lebih baik di seimbangkan dengan karakter yang baik. Anak-anak yang sering mengganggu dan menyakiti harus senantiasa diberi nasihat dan diawasi, sebab selain membahayakan orang lain, perbuatannya itu juga membahayakan dirinya sendiri, bahkan ini akan menjadi penyakit yang sangat mematikan jika tidak segera ditanggulangi. Salah satu cara terbaik untuk menanggulangi hal tersebut adalah dengan pendidikan, karena Pendidikan merupakan dasar atau asas yang harus didapatkan oleh manusia, dan pendidikan juga akan melahirkan manusia berkualitas dan beradab. Tanpa pendidikan manusia sama seperti hewan. (Zainul, 2. Seperti salah satu perkataan Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan AuSeandainya tanpa ilmu, manusia seperti binatang. Ay (Maktabah Manhaj Salaf, 2. Dari pepatah diatas dapat disimpulkan bahwa peran seorang pendidik sangat membantu untuk menyampaikan pesan-pesan moral terhadap peserta didik lewat pendidikan yang diajarkan supaya dapat meminimalisir segala bentuk kelakuan yang menyimpang terutama perilaku bullying dan menelusuri apa penyebab terjadinya bullying di lingkungan sekolah agar suasana belajar menjadi kondusif, nyaman, dan apa yang dicita-citakan tercapai. Adapun perilaku bullying juga sering terjadi di MI Afifiyah, padahal di lembaga tersebut banyak memberikan pelajaran yang berkaitan dengan ajaran Islam seperti akidah akhlak. Al-QurAoan hadist, tauhid dan fiqih, di bandingkan dengan beberapa sekolah yang berdekatan dengan lembaga MI Afifiyah seperti SDN Pragaan Laok 3 dan SDN Pragaan Laok 4 yang mana di SD lebih banyak mengajarkan tentang ilmu pengetahuan umumnya. wawancara awal dengan salah satu guru di MI Afifiyah Pragaan Laok, disana masih sering terjadi kasus-kasus yang mengarah kepada kekerasan, baik itu kekerasan secara fisik maupun non fisik, seperti menendang, memukul serta menyoraki yang menurut mereka itu sudah hal yang biasa terjadi (Khafifah, 2. Salah satu faktor yang menjadi penyebab terjadinya bullying di MI Afifiyah yaitu karena faktor keluarga, yang mana orang tua dan anggota keluarga yang suka melakukan kekerasan atau menampakan kekerasan dihadapan anak, sehingga anak menirukan apa yang terjadi di rumah. Dan akan mempraktekkan apa yang anak lihat di kehidupan nyata seperti di sekolah. Dalam hal ini siswa MI Afifiyah kerap melakukan tindak kekerasan dan melontarkan kata-kata kasar atau mengolok-olok sesama temannya. Yang sangat miris sekali yang menjadi bahan olok-olokan adalah nama orangtua dari korban bully tersebut. Dan tidak sopan di dengar jika yang dibuat bahan ejekan adalah nama orangtuanya. Kejadian bullying juga kerap terjadi di tempat-tempat lain. Seperti yang di terangkan dalam jurnal Kili Astarani dan Dian Taviyanda . yang berjudul AuOptimalisasi Tugas Keluarga dalam Mencegah dan Mengatasi Perilaku Bullying dalam Kehidupan AnakAy bahwa bullying tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah saja, saat bermain dengan teman sebayanya di sekitar rumah juga bisa menimbulkan perilaku bullying. Saat bermain akan muncul interaksi sosial, dengan demikian potensi untuk terjadi tindakan kekerasan, pemaksaan kehendak dan perbedaan pendapat dapat terjadi. Kemudian penanganan yang tepat untuk mengantisipasinya adalah dengan pemberian informasi atau pendidikan kesehatan yang diberikan kepada orangtua dan keluarga tentang deteksi dini perilaku bullying yang didalamnya memuat orangtua dan orang dewasa lainnya hendaknya membangun komunikasi yang akrab dengan anak untuk mendeteksi hal-hal yang Tidak hanya dari kalangan orangtua saja yang bertanggung jawab untuk mengantisipasi adanya tindak kekerasan pada anak, melainkan guru juga ikut andil dalam menangani kasus bullying ini khususnya di lingkungan sekolah, seperti yang di terangkan dalam jurnal Agistia Sari . yang berjudul AuPeran Guru Pendidikan Agama Islam dan Bimbingan Konseling dalam Menangani Kasus Bullying . tudi di SMK Negeri 4 Kota Serang Propinsi Bante. bahwa tugas guru Pendidikan agama islam yaitu menginternalisasikan moral yang bernilai Islam supaya dalam keseharian siswa mampu menunjukkan perilaku yang berakhlak mulia. METODE Penelitian ini menggunakan penelitian yang bersifat kualitatif. Penelitian kualitatif (Qualitative researc. adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok. Selain itu peneliti menggunakan metode deskriptif untuk menggambarkan secara mendalam penyebab bullying dan upaya guru Pendidikan Agama Islam dalam menangani kasus bullying di MI Afifiyah Pragaan Laok Metode pengumpulan data merupakan cara untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Peneliti mengunakan wawancara, dokumentasi dan observasi (Moleong, 2. Lokasi penelitian terletak di MI Al-Afifiyah Desa Pragaan Laok, dimana desa ini berada pada ketinggian 0-35 m dari permukaan air laut. Secara administrasi Desa Pragaan Laok terletak di ibu kota Kecamatan Pragaan. Kurang lebih 30 km dari Kabupaten Sumenep, dan Alasan peneliti memilih lokasi di Desa Pragaan Laok tepatnya di lembaga MI Afifiyah, karena MI Afifiyah merupakan lembaga satu-satunya di desa tersebut dan diapit oleh dua sekolah dasar, yaitu SDN Pragaan Laok 3 dan SDN Pragaan Laok 4. Meskipun di apit oleh dua sekolah negeri, peneliti memilih tempat penelitian di MI Afifiyah karena lebih banyak mengajarkan tentang Ilmu Pendidikan Islam seperti akidah akhlak. Al-QurAoan Hadist, fiqih, tauhid dan SKI. Yang mana sesuai dengan judul penelitian yang akan peneliti lakukan yaitu upaya guru Pendidikan Agama Islam dalam menanggulangi perilaku bullying. HASIL DAN PEMBAHASAN Penyebab terjadinya bullying pada siswa MI Afifiyah Pragaan Laok. Beberapa faktor yang melandasi terjadinya bullying pada siswa MI Afifiyah Pragaan Laok : Ketidaktahuan anak tentang perilaku bullying. Salah satu penyebab terjadinya bullying di MI Afifiyah Pragaan Laok karena anak-anak belum paham betul apa itu bullying dan apa akibat dari perbuatan tersebut. Sehingga tidak bisa dipungkiri kejadian-kejadian bullying fisik seperti memukul, menendang dan bullying verbal seperti mengejek, menghina dan mengancam selalu terjadi dikalangan siswa apalagi di kelas bawah seperti kelas 1, 2, dan kelas 3 setiap harinya pasti ada anak yang melakukan kekerasan yang menurut mereka hanyalah candaan karena mereka kurang mengerti dan belum paham batasan-batasan bermain dan mereka belum tahu bahwa perbuatannya bisa menyakiti temannya. Tidak hanya itu, kekerasan yang sering terjadi di MI Afifiyah juga mengarah kepada penurunan mental anak seperti mengolok-olok temannya yang tidak bisa membaca dan hal itu akan merusak mental dan rasa percaya diri anak untuk tetap belajar meskipun masih tertatih-tatih dalam Meniru perilaku orangtua di rumah yang sering marah. Temuan peneliti saat wawancara dengan guru dan observasi ke lapangan sambil berbincangbincang dengan murid-murid ketika jam istirahat berlangsung bahwa faktor keluarga bisa menjadi penyebab terjadinya bullying, karena tidak sedikit anak-anak meniru kelakuan orangtuanya yang sering terjadi dilingkungan keluarganya, misalnya membentak dan ancaman seperti yang di kemukakan oleh Ustdzh. Indah Susanti salah satu guru MI Afifiyah Pragaan Laok. karena tuntutan yang terlalu tinggi dari kedua orangtua tidak terpenuhi maka akan dimarahi dan diancam. Dari hal seperti itulah, anak akan meniru apa yang ia lihat di rumah dan dilakukan di sekolah. Terkait kurangnya bimbingan orangtua terhadap anaknya, sering menghukum anak tanpa tujuan disiplin yang jelas, keluarga tidak harmonis . roken famil. , orang tua tidak mendidik anak dengan pelajaran agama dan nilai-nilai moral bisa menjadikan keluarga sebagai factor penyebab terjadinya bulliying (Arya, 2. Faktor senioritas. Faktor senioritas bisa menjadi penyebab adanya bullying di MI Afifiyah Pragaan Laok, yang mana kakak kelas sering mengejek, mengancam bahkan memalak adik kelasnya, dalam hal ini ada 2 orang siswa yang di panggil guru BK karena mendapat pengaduan dari salah satu siswa bahwa anak itu sering melakukan pemerasan terhadap adik kelasnya dengan dimintai uang setiap hari, jika tidak dikasih, korban dipukul dan dijauhi sehingga korban merasa takut dan enggan untuk bersekolah. Anak yang mempunyai sifat seperti itu merasa bahwa dirinya lebih berkuasa di lingkungan sekolahnya karena lebih tinggi kelasnya sehingga menurut mereka adik kelasnya akan nurut dengan apa yang ia minta dan bisa melakukan sesuatu dengan semena-mena kepada adik kelasnya. Dalam hal ini menurut Ken Rigby, bullying adalah ambisi individu yang beraksi untuk menyakiti seseorang supaya menderita dan di lakukan secara langsung dengan perasaan senang, biasanya dilakukan oleh para senior yang merasa berkuasa di lingkungan tersebut (Astuti, 2. Maka dari itu, semua guru baik itu guru PAI maupun bukan guru PAI di MI Afifiyah sebelum melakukan pembelajaran dan di akhir pembelajaran memberikan nasihat dan pemahaman tentang perbuatan yang menyimpang atau perbuatan yang tidak baik untuk dilakukan, seperti halnya perilaku Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menangani Kasus Bullying di MI Afifiyah Pragaan Laok. Pendekatan Emosional Pendekatan emosional merupakan usaha untuk mengunggah perasaan dan emosi peserta didik dalam meyakini ajaran Islam serta dapat merasakan mana yang baik dan buruk (Assingkily, 2. Dalam hal ini sebagai seorang guru tidak hanya menyalurkan ilmu yang guru miliki, tetapi juga harus mempunyai kreativitas dalam mengelola kelas supaya dapat mendalami karakteristik peserta didiknya. Melalui pendekatan emosional guru akan lebih mudah masuk ke dalam lingkungan anak untuk bisa memberi arahan dan bimbingan supaya terhindar dari hal-hal yang tidak baik seperti melakukan tindakan bullying di sekolah maupun di luar sekolah. Sama halnya yang di lakukan guru di MI Afifiyah yaitu membangun kedekatan dengan anak didiknya melalui pembinaan terhadap anak yang melakukan Pembinaan yang dilakukan oleh pihak sekolah berupa menjelaskan akibat dari tindakan bullying yang dilakukan serta menasihati siswa, mengajarkan cara berteman dengan Sedangkan untuk siswa yang lain dilakukan tindak pencegahan bullying berupa pembiasaan berperilaku yang baik kepada teman-temannya dengan cara melalui pembelajaran guru memotivasi anak agar menghindari sikap bullying. Komunikasi Aktif Dengan Wali Murid Suksesnya suatu pembelajaran jika semua pihak saling berkomunikasi dengan baik, yakni antara orangtua, guru, murid, dan lingkungan sekitar, jika ada suatu masalah dalam diri anak dapat teratasi dengan mudah. Dalam menghadapi perilaku bullying peran orangtua dan pendidik di sekolah sama pentingnya. Orangtua dan guru di sekolah harus bekerjasama untuk membantu baik para korban bully dan pelaku bully itu sendiri agar tercipta sebuah lingkungan yang positif antar sesama siswa di sekolah (Khakim, 2. Orangtua bertugas mengawasi anak dirumah, sedangkan guru mengawasi anak ketika berada di sekolah. Seperti yang peneliti temukan di lapangan, di MI Afifiyah Pragaan Laok bahwa setiap wali kelas membuat group whatsapp guna memudahkan guru memberikan informasi terkait perkembangan anak dan tingkah laku anak di sekolah, terlebih mengenai perilaku anak yang kurang baik agar menjadi perhatian bagi orangtuanya. Memberi Motivasi Motivasi menurut Djamarah adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif . dan reaksi untuk mencapai tujuan tertentu (Lestari, 2. Dalam hal ini motivasi seorang guru di MI Afifiyah sangatlah penting untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan antar teman dan dengan adanya motivasi dapat meningkatkan energi semangat belajar anak di sekolah. Dengan adanya motivasi yang kuat dari guru, maka bisa meminimalisir adanya tindak kekerasan antar teman. Ketika peneliti melakukan pengamatan upaya yang di lakukan di MI Afifiyah yaitu sebelum pelajaran dimulai anak-anak membaca AsmaAoul Husna yang dipandu langsung oleh guru yang masuk jam pertama dengan tujuan mengenalkan Nama-Nama baik Allah dan sifat-sifat Allah Yang Maha Agung. Melibatkan Siswa Yang Lain Salah satu upaya guru di MI Afifiyah Pragaan Laok dalam menanggulangi perilaku bullying yaitu melibatkan siswa yang lain dengan menyuruh siswa untuk bekerjasama dalam menangani perilaku kekerasan, jika melihat perilaku bullying di lingkungan sekolah hendaknya siswa melapor ke pihak guru untuk di tindak lanjuti supaya tidak berkelanjutan dan tidak menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari siswa, karena bullying ini sebuah masalah yang dampaknya harus ditanggung oleh semua pihah di lingkungan sekolah Menurut Andre Mellor mengemukakan untuk mengatasi bullying yaitu memerlukan perencanaan dan dukungan dari masyarakat yang lebih luas dengan tujuan yang ingin dicapai dari rencana ini adalah dengan melibatkan siswa dalam perencanaan ini, mereka akan belajar untuk bertanggung jawab atas perilaku yang terjadi diantara mereka sendiri (Nusantara. Memberi Sanksi Pemberian sanksi atau hukuman kepada siswa yang melanggar aturan sekolah ataupun melakukan tindak kekerasan adalah hal yang sering di lakukan oleh guru untuk memberikan efek jera kepada peserta didiknya. Dalam hal ini menurut Prof. Sudarto melaksanakan AuPolitik hukum pidanaAy berarti usaha mewujudkan peraturan perundang-undangan pidana yang sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu waktu dan untuk masa-masa yang akan datang (Bakhtiar, 2. Usaha atau kebijakan untuk membuat peraturan perundangundangan pada hakikatnya bertujuan untuk menanggulangi kejahatan. Seperti yang dilakukan oleh para guru PAI di MI Afifiyah Pragaan Laok, jika pemberian nasihat dan bimbingan sudah tidak dihiraukan lagi maka upaya selanjutnya yang dilakukan oleh guru PAI yaitu pemberian sanksi atau hukuman yang mana anak akan di hukum sesuai dengan tingkat kekerasan yang dilakukan. Pemberian sanksi kepada pelaku bully juga harus tepat, jika hukumannya tidak pantas dengan apa yang ia lakukan, maka bukan efek jera yang ia dapatkan melainkan semakin menindas dan berujung kepada dendam untuk kembali melakukan tindakan bullying. DISKUSI PEMBAHASAN Perilaku bullying merupakan perbuatan yang bisa merusak mental seseorang, jika tidak segera dicegah akan berdampak pada masa depan anak. Dalam hal ini hasil temuan penelitian yang diperoleh dari lapangan penelitian baik berupa hasil wawancara maupun pengamatan . bahwa penyebab terjadinya bullying disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya banyak anak yang tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa perbuatan tersebut termasuk perbuatan bully sehingga dengan seenaknya berlaku kasar antar teman seperti mengejek, menghina bahkan sampai memukul dan menurut mereka itu sudah hal yang biasa mereka lakukan dan dianggap candaan belaka. Padahal menurut Widya . dalam bukunya Cegah dan Stop Bulliying Sejak Dini, ejekan dan hinaan verbal bisa menimbulkan masalah serius, seperti gangguan psikis dan emosional permanen bahkan berakhir menjadi Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Faktor kedua yakni keluarga. Menurut Helen banyak hal yang menyebabakan tindakan bullying dalam keluarga yakni factor internal seperti tingkat emosi orangtua . yah dan Ib. , tingkat spiritual keluarga dan Quality timeorangtua dan anak (Titi, 2. Hasil penelitian lainnya yaitu faktor senioritas juga memicu terjadinya kekerasan di kalangan anak-anak khususnya di MI AFIFIYAH yang mana mereka yang sudah merasa senior dari adik kelasnya, mereka akan semena-mena melakukan perbuatan yang mereka inginkan seperti melakukan pemerasan dengan meminta uang jajan kepada adik kelasnya, jika keinginannya tidak dipenuhi disitulah akan terjadi kekerasan baik itu kekerasan fisik maupun non fisik. Senioritas, seringkali pula justru diperluas oleh siswa sendiri sebagai kejadian yang bersifat laten. Bagi anak dan remaja keinginan untuk melanjutkan masalah senioritas ada untuk hiburan, penyaluran dendam iri hati, atau mencari popularitas, melanjutkan tradisi untuk menunjukkan kekuasaan (Ponny, 2. Secara harfiah kata bully berarti menggertak dan mengganggu orang yang lebih lemah (Prasetyo. Berdasarkan definisi tersebut bullying terjadi karena dua hal: pertama, adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku bullying yang lebih kuat dan target . yang lebih lemah. Ketidakseimbangan ini bisa berupa ukuran badan, kekuatan fisik atau kepandaian bicara. Kedua, adanya penyalahgunaan ketidakseimbangan kekuatan tersebut untuk kepentingan pelaku dengan cara mengganggu, menyerang secara berulang-ulang. Kepentingan tersebut bisa berupa keinginan untuk menunjukkan kekuasaan atau hanya sekedar memenuhi kepuasan diri melihat orang lain tunduk padanya (Olweus, 1. Ada beberapa hal yang dilakukan oleh guru untuk mencegah terjadinya bullying di MI Afifiyah diantaranya yaitu melakukan pendekatan emosional yang mana guru memberikan arahan dan pemahaman tentang perilaku bullying kepada anak didiknya khususnya pelaku dan korban bully supaya mereka mengetahui dampak dari perbuatan tersebut. Guru harus memiliki metode yang baik dalam mendidik dan memperlakukan mereka, supaya anak didik meniru apa yang di lakukan oleh guru tersebut. Seperti yang dilakukan oleh salah satu guru di MI AFIFIYAH Ibu Fifi Shofiati beliau dalam menyampaikan pelajarannya selalu dengan kata kata yang tulus dan akrab kepada semua muridnya. Hal tersebut di lakukan berulangulang sehingga kalimat positif tersebut tertanam dalam pikiran bawah sadar murid dan menjadikan murid memiliki kepribadian yang baik. Guru membangun komunikasi yang baik agar tertanam sikap empati terhadap sekitarnya terutama teman dan adik-adik kelasnya, empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang lain, dengan sikap empati murid diharapkan bisa mencegah perilaku bullying di sekolah (Said Alwy, 2. Kemudian upaya lain yang dilakukan oleh guru MI AFIFIYAH yaitu membangun komunikasi yang baik antar wali murid dengan memanfaatkan teknologi yang ada melalui group whatsapp tentang perkembangan anak di sekolah. Peran keluarga sangat besar sebagai usaha preventif tindakan bulliying karena anak adalah cerminan keluarga mereka, mereka mewarisi gen, predisposisi, sikap dan memengaruhi kemungkinan mereka tetap tangguh dalam menghadapai bulliying atau meningkatkan mereka menjadi victim, bully atau keduanya (Karyanti & Aminudin, 2. Membangun jejaring komunikasi yang aktif dengan para orangtua melalui internet sangat membantu para guru jika ada yang perlu di musyawarahkan bersama, dan tidak menunggu pada saat akhr semester atau pembagian rapor dan atau kenaikan kelas untuk bermusyawarah (Kohut, 2. Dengan demikian komunikasi aktif semacam ini jika terbangun akan mengurangi bullying, karena sudah saling terbuka antara guru, murid dan orang tua. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah di lakukan oleh peneliti mengenai upaya guru pendidikan agama islam dalam menanggulangi perilaku bullying pada siswa MI Afifiyah Pragaan Laok, maka dapat disimpulkan bahwa: Pertama. Penyebab terjadinya bullying pada siswa MI Afifiyah Pragaan Laok disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya karena faktor ketidaktahuan anak tentang perilaku bullying, faktor keluarga yang mana anak meniru perilaku orangtua yang sering marah-marah kepada anaknya, dan karena faktor senioritas yang menjadi pemicu terjadinya perilaku bullying di kalangan siswa. Sehingga tidak bisa di pungkiri tindak kekerasan di MI Afifiyah bisa terjadi, maka dari itu guru terutama guru pendidikan agama islam mempunyai peran yang sangat penting selain mengajarkan ilmu agama, guru juga harus menanamkan karakter-karakter yang baik pada anak didik melalui bimbingan dan arahan serta pemahaman akan perilaku bullying supaya MI Afifiyah melahirkan generasi-generasi penerus bangsa tanpa kekerasan. Kedua. Upaya dari guru pendidikan agama islam di MI Afifiyah Pragaan Laok dampaknya sudah terlihat dan alhamdulillah perilaku bullying di kalangan siswa berkurang dengan adanya upaya-upaya yang dilakukan oleh semua pihak di sekolah salah satunya yaitu guru pendidikan agama islam yang tidak pantang menyerah untuk menjadikan anak didiknya menjadi generasi anti bullying dan memiliki akhlak yang baik, baik dilingkungan sekolah maupun di luar sekolah. DAFTAR PUSTAKA