Tahun . Vol. Nomor . Bulan (Novembe. Halaman . https://doi. org/10. 53544/sapa/v10i2. Model Formasio Karakter Katekis berbasis Pastoral Dasar Emmeria Tarihoran Sekolah Tinggi Pastoral Yayasan IPI Malang Abstrak Penulis koresponden Nama : Emmeria Tarihoran Surel : emmeriayohana@gmail. ManuscriptAos History Submit : September 2025 Revisi : Oktober 2025 Diterima : November 2025 Terbit : November 2025 Kata-kata kunci: Kata kunci 1 Katekis Kata kunci 2 Pastoral dasar Kata kunci 3 Pembentukan karakter Kata kunci 4 Pendampingan Copyright A 2025 STP- IPI Malang Penelitian ini mengkaji secara mendalam model formasio karakter katekis berbasis Pastoral Dasar di Sekolah Tinggi Pastoral Ae IPI Malang melalui pendekatan kualitatif studi kasus. Data diperoleh melalui observasi terhadap praktik kehidupan rohani harian, wawancara dengan dosen, pendamping, dan mahasiswa, serta analisis dokumen kurikulum dan pedoman pembinaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses formasio tidak hanya bersifat teoritis, tetapi terwujud dalam integrasi lima sila Pastoral DasarAirenungan harian, bacaan Kitab Suci, ibadat, pembentukan diri, dan wawancara komunitasAike dalam seluruh dinamika akademik, spiritual, dan sosial mahasiswa. Para pendamping memiliki peran sentral sebagai fasilitator pertumbuhan iman dan karakter, membantu mahasiswa menghayati nilai kejujuran, kerendahan hati, empati, disiplin, serta kesiapsediaan untuk diutus dalam karya Dampak positif terlihat dalam perkembangan reflektifitas, kedewasaan rohani, serta identitas pastoral mahasiswa yang semakin Temuan penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan model pendidikan karakter berbasis spiritualitas dalam konteks perguruan tinggi Katolik di Indonesia, sekaligus menawarkan wawasan yang dapat diaplikasikan secara lebih luas dalam upaya pembinaan katekis yang holistik dan kontekstual. Abstract Corresponding Author Name : Emmeria Tarihoran E-mail : emmeriayohana@gmail. ManuscriptAos History Submit : September 2025 Revision : October 2025 Accepted : November 2025 Published : November 2025 Keywords: Keyword 1 Cathecist Keyword 2 Character building Keyword 3 Mentoring Kayword 4 Pastoral dasar Copyright A 2025 STP- IPI Malang This study explores in depth the character formation model for catechists based on Basic Pastoral principles at Sekolah Tinggi Pastoral Ae IPI Malang using a qualitative case study approach. Data were collected through observations of daily spiritual practices, in-depth interviews with lecturers, mentors, and students, as well as document analysis of the curriculum and formation guidelines. The findings indicate that the formation process is not merely theoretical but is realized through the integration of the five pillars of Basic PastoralAidaily meditation. Scripture reading, liturgical prayer, self-formation, and community interviewAiinto the academic, spiritual, and social life of the students. Mentors play a vital role as facilitators of faith and character growth, guiding students to internalize values such as honesty, humility, empathy, discipline, and readiness for mission. The model demonstrates significant positive impact on studentsAo reflective capacity, spiritual maturity, and pastoral identity. This research offers a meaningful contribution to the development of spirituality-based character education within Catholic higher education in Indonesia and provides insights applicable to broader contexts that aim to cultivate holistic and contextual catechist https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Emmeria Tarihoran | Model Formasio Karakter Katekis Pendahuluan Pendidikan karakter merupakan aspek fundamental dalam pembentukan pribadi yang etis, bermoral, dan berintegritas. Dalam konteks Gereja Katolik, pendidikan karakter tidak hanya dipahami sebagai upaya pedagogis, melainkan juga sebagai dimensi spiritual dan pastoral yang membentuk identitas katekis. Seorang katekis dipanggil bukan hanya untuk mengajar iman, tetapi juga untuk menjadi teladan hidup yang mencerminkan nilai-nilai Kristiani. Oleh sebab itu, pendidikan karakter memiliki keterkaitan langsung dengan misi Gereja dalam menghadirkan nilai-nilai Injil di tengah masyarakat. Canales . menegaskan bahwa teologi pastoral berfungsi sebagai jembatan antara iman dan kehidupan praktis, sehingga pendidikan karakter tidak bisa dilepaskan dari konteks pelayanan pastoral Gereja. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter katekis tidak hanya menyangkut pembentukan pribadi secara individual, tetapi juga berimplikasi pada misi Gereja yang lebih Maka dari itu, model pembentukan karakter ini memiliki dasar teologis yang kuat, berakar pada Kitab Suci, tradisi liturgis Gereja, dan spiritualitas pastoral Janssenian yang menekankan kesatuan antara iman dan kehidupan. Di Indonesia, tantangan moral generasi muda semakin kompleks akibat arus globalisasi dan derasnya pengaruh budaya digital. Akses informasi yang tidak terbatas memunculkan berbagai dilema etis yang kerap membingungkan anak muda dalam mengambil keputusan Di satu sisi, perkembangan teknologi memberikan peluang besar untuk belajar, tetapi di sisi lain juga menimbulkan krisis identitas, individualisme, dan relativisme moral. Dalam konteks ini, pendidikan karakter yang berakar pada iman menjadi kebutuhan mendesak. Engel . menekankan pentingnya pendampingan pastoral yang kontekstual agar peserta didik mampu menghadapi tantangan zaman dengan tetap berpijak pada nilai iman Kristiani. Oleh karena itu, lembaga pendidikan pastoral seperti Sekolah Tinggi Pastoral Ae IPI Malang memiliki peran strategis untuk membentuk calon katekis yang tidak hanya terampil secara intelektual, tetapi juga berkarakter kuat, berakar pada spiritualitas, dan siap menghadapi realitas zaman yang dinamis. Pendidikan karakter katekis menuntut integrasi dimensi intelektual, spiritual, dan moral dalam proses pembinaan. Dalam hal ini, formasio katekis tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan semata, melainkan harus mencakup pembentukan kepribadian yang utuh. Sultana . , menyebutkan bahwa formasio katekis sebaiknya dilihat sebagai laboratorium kehidupan, di mana calon katekis belajar menginternalisasi nilai melalui praktik nyata, bukan hanya teori. Perspektif ini mempertegas bahwa formasio harus dialami secara langsung, baik melalui doa, pelayanan, maupun keterlibatan sosial. Selaras dengan hal Zellma . menegaskan bahwa formasio katekis harus berorientasi pada keutuhan pribadi, menggabungkan iman, moralitas, dan keterampilan pastoral. Dengan demikian, pendidikan karakter yang integral akan menghasilkan katekis yang memiliki spiritualitas mendalam sekaligus kompetensi sosial untuk mendampingi umat dalam konteks yang beragam. Dalam tradisi pastoral di Indonesia. Paul Janssen. CM memberikan kontribusi besar dengan mengembangkan Pastoral Dasar sebagai pola hidup formasio katekis. Lima sila https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Emmeria Tarihoran | Model Formasio Karakter Katekis Pastoral Dasar, yaitu renungan, bacaan Kitab Suci, ibadat, pembentukan diri, dan wawancara komunitas, tidak hanya dipahami sebagai disiplin rohani, melainkan strategi formasio karakter yang berkesinambungan. Melalui praktik ini, katekis dibimbing untuk mengalami transformasi spiritual yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Janssen . Janssen . , dan Orong . menegaskan bahwa Pastoral Dasar menjadi fondasi hidup rohani dan pastoral yang membentuk identitas seorang pelayan Gereja. Relevansi gagasan Janssen terus mendapat pengakuan dalam berbagai kajian mutakhir. Gitowiratmo . menyoroti dimensi eklesiologis dari pemikiran Janssen, sementara Gulo. Riyanto, & Bonusu . menunjukkan bagaimana strategi pastoral Janssen dihidupi oleh alumni STP-IPI dalam karya misi mereka. Bahkan. Wiwin. Nini, & Fua . menegaskan bahwa spiritualitas pastoral Janssen masih relevan dalam pengalaman pastoral kontemporer Gereja di Indonesia. Meskipun demikian, kajian yang secara khusus menganalisis model formasio karakter berbasis Pastoral Dasar di sekolah pastoral masih terbatas. Beberapa penelitian menyoroti pentingnya pendidikan karakter dalam konteks pendidikan Katolik. Misalnya. Jelahu . membahas peran pendidikan karakter dalam terang Evangelii Gaudium, sementara Sihombing . menguraikan implementasi pendidikan karakter di seminari. Namun, penelitian-penelitian tersebut belum banyak mengkaji secara mendalam implementasi Pastoral Dasar sebagai strategi integral dalam pembentukan karakter katekis di sekolah Dengan demikian, masih terdapat ruang penelitian yang perlu diisi untuk memahami bagaimana Pastoral Dasar dapat diintegrasikan secara efektif ke dalam kurikulum formasio katekis, serta bagaimana dampaknya terhadap identitas dan kualitas pelayanan calon katekis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mendokumentasikan model formasio karakter katekis berbasis Pastoral Dasar di STPAeIPI Malang. Tujuan lain adalah menelaah dampak implementasi model ini terhadap penguatan identitas katekis di tengah tantangan zaman. Dengan pendekatan studi kasus, penelitian ini berupaya menggambarkan secara holistik praktik formasio yang terjadi di lapangan, melibatkan dosen, mentor, dan mahasiswa. Oleh karenanya, penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi teoretis terhadap diskursus pendidikan karakter katekis, tetapi juga menawarkan wawasan praktis yang dapat menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan Katolik lainnya di Indonesia maupun di konteks global. Artikel ini berargumen bahwa Pastoral Dasar memiliki keunggulan metodologis dibandingkan pendekatan pendidikan karakter lainnya karena mampu mengintegrasikan spiritualitas, moralitas, dan keterlibatan sosial secara bersamaan. Seperti yang ditegaskan oleh Hayes . , pendekatan pastoral dalam pendidikan harus selalu berakar pada pengalaman iman yang nyata, bukan sekadar ideal teoritis. Hal ini juga sejalan dengan pemikiran Riyanto . tentang pentingnya metodologi teologi yang kontekstual dan reflektif, serta dengan kajian Selatang. Hatmoko, & Nugroho . yang menekankan spiritualitas pelayanan sebagai inti dari kepemimpinan pastoral Janssen. Oleh sebab itu, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya diskursus teologi pastoral sekaligus menjadi https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Emmeria Tarihoran | Model Formasio Karakter Katekis inspirasi bagi lembaga pendidikan Katolik dalam membentuk katekis yang tangguh, berkarakter, dan siap diutus di tengah masyarakat. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk memahami secara mendalam model formasio karakter katekis berbasis Pastoral Dasar di STPAeIPI Malang. Metode ini dipilih karena efektif untuk menelaah fenomena dalam konteks aslinya serta menjawab pertanyaan AubagaimanaAy dan AumengapaAy praktik tertentu Fokus penelitian diarahkan pada implementasi lima sila Pastoral Dasar dalam pembentukan karakter mahasiswa calon katekis. Partisipan penelitian terdiri dari dosen, pendamping . , dan mahasiswa yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Dosen dan pendamping dipilih karena berperan langsung sebagai fasilitator formasio, sedangkan mahasiswa menjadi subjek utama yang mengalami proses tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Observasi diarahkan pada kegiatan harian seperti renungan, ibadat, dan wawancara komunitas. Wawancara mendalam digunakan untuk menggali refleksi partisipan, sedangkan analisis dokumen menelaah kurikulum dan panduan pembinaan. Kombinasi teknik ini memperkaya data dan memungkinkan triangulasi antara praktik nyata, pengalaman subjek, dan kebijakan Data dianalisis dengan analisis tematik (Braun & Clarke, 2. Proses ini mencakup transkripsi, pengkodean, dan pengelompokan tema utama, seperti nilai kejujuran, kerendahan hati, serta kesiap-sediaan dalam perutusan. Validitas penelitian dijaga melalui triangulasi data dan sumber, serta member checking dengan partisipan agar hasil interpretasi sesuai dengan pengalaman mereka. Dengan metode ini, penelitian menghasilkan temuan yang tidak hanya mendeskripsikan praktik formasio karakter, tetapi juga menunjukkan relevansi Pastoral Dasar bagi pendidikan katekis di Indonesia. Model ini diharapkan memberi kontribusi konseptual maupun praktis bagi lembaga pendidikan Katolik dalam membentuk katekis yang berkarakter, tangguh, dan siap diutus. Hasil dan Pembahasan Profil Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang Sekolah Tinggi PastoralAe Yayasan Institut Pastoral Indonesia (STPAeIPI) Malang merupakan lembaga pendidikan tinggi Katolik yang memiliki misi utama membentuk katekis dan pelayan pastoral yang berkarakter, berintegritas, serta siap diutus untuk mendukung karya Gereja di berbagai konteks pelayanan. Lembaga ini berdiri atas prakarsa Romo Paul Janssen. CM, yang sejak awal menekankan pentingnya pendidikan pastoral yang berbasis pada pengalaman iman konkret umat. Sejak didirikan pada tahun 1971. STPAeIPI Malang menjadi pionir bagi pendirian sekolah tinggi pastoral lain di berbagai keuskupan di Indonesia (STP-IPI Malang, 2. Dengan demikian, peran historis lembaga ini tidak hanya bersifat lokal, melainkan juga nasional, karena menjadi rujukan dalam penyelenggaraan pendidikan pastoral di tanah air. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Emmeria Tarihoran | Model Formasio Karakter Katekis Visi dan misi STPAeIPI Malang menekankan pembentukan pribadi katekis yang memiliki spiritualitas mendalam, keterampilan pastoral, serta kepekaan sosial terhadap realitas masyarakat. Fokus ini sejalan dengan gagasan Janssen bahwa katekis bukan hanya seorang pengajar iman, tetapi juga seorang pelayan dan saksi yang hidup di tengah umat. Gitowiratmo . menekankan bahwa eklesiologi Janssen berpijak pada kesadaran bahwa Gereja harus hadir secara nyata dalam kehidupan umat, terutama yang miskin dan Oleh sebab itu, pendidikan pastoral di STPAeIPI Malang tidak berhenti pada aspek intelektual, melainkan juga mencakup pembentukan karakter yang integral. Dalam praktiknya. STPAeIPI Malang menyelenggarakan tiga program studi utama: Pendidikan Keagamaan Katolik. Pelayanan Pastoral, dan Magister Pastoral. Ketiga program studi ini dirancang untuk menjawab kebutuhan Gereja akan tenaga pastoral yang kompeten di berbagai bidang. Kurikulum yang diterapkan mengintegrasikan mata kuliah teoretis, pembinaan rohani, serta praktik pastoral di lapangan. Integrasi ini dimaksudkan agar mahasiswa tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga terbiasa menghidupi nilainilai Injil dalam pelayanan nyata. Hal ini sejalan dengan pandangan Zellma . yang menegaskan bahwa formasio katekis harus berorientasi pada pembentukan pribadi seutuhnya, mencakup iman, moralitas, dan keterampilan pastoral. Selain kurikulum akademik, kehidupan komunitas di STPAeIPI Malang memainkan peran sentral dalam formasio mahasiswa. Kehidupan berasrama, doa bersama, perayaan liturgi, serta kegiatan sosial menjadi bagian integral dari proses pendidikan. Lingkungan komunitas ini menjadi tempat di mana mahasiswa belajar saling mendukung, membangun solidaritas, dan mengembangkan kemampuan komunikasi interpersonal. Engel . menyoroti pentingnya pendampingan pastoral yang kontekstual dalam komunitas pendidikan, karena melalui interaksi sehari-hari mahasiswa dapat mengalami transformasi karakter yang lebih nyata. Oleh sebab itu, kehidupan komunitas di STPAeIPI Malang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga formasional. Sebagai lembaga pendidikan tinggi pastoral. STPAeIPI Malang juga memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari perguruan tinggi Katolik lainnya. Pertama, fokus pada pendidikan pastoral menuntut mahasiswa untuk terlibat secara aktif dalam pelayanan di lingkungan paroki, stasi, maupun komunitas kategorial. Keterlibatan ini memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengintegrasikan teori dengan praktik, sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual. Kedua. STPAeIPI menekankan spiritualitas Pastoral Dasar sebagai landasan formasio. Lima sila Pastoral Dasar . enungan, bacaan Kitab Suci, ibadat, pembentukan diri, wawancara komunita. dijalankan secara rutin sebagai bagian dari gaya hidup mahasiswa. Hal ini sesuai dengan pemikiran P. Janssen . dan Janssen . bahwa pendidikan pastoral harus berakar pada latihan spiritual yang teratur dan berkesinambungan. Keberadaan STPAeIPI Malang juga memberikan kontribusi signifikan bagi Gereja di Indonesia melalui para alumninya. Banyak lulusan lembaga ini yang kini menjadi katekis, pendamping pastoral, bahkan pemimpin lembaga pendidikan Katolik di berbagai keuskupan. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Emmeria Tarihoran | Model Formasio Karakter Katekis Gulo. Riyanto, & Bonusu . menunjukkan bahwa strategi pastoral Janssen yang dihidupi oleh alumni STPAeIPI berperan penting dalam karya misi Gereja, khususnya dalam menjangkau umat di wilayah terpencil. Bahkan, penelitian Wiwin. Nini, & Fua . menegaskan bahwa spiritualitas pastoral Janssen tetap relevan dalam pengalaman alumni yang kini melayani di berbagai konteks. Hal ini membuktikan bahwa visi dan misi STPAeIPI Malang berhasil diwujudkan dalam diri para lulusannya. Profil STPAeIPI Malang dapat dipahami sebagai lembaga pendidikan tinggi yang memiliki ciri khas: berakar pada spiritualitas pastoral Janssenian, menekankan pembentukan karakter katekis, dan berorientasi pada pelayanan nyata di tengah masyarakat. Keunikan ini menegaskan relevansi STPAeIPI Malang dalam menjawab tantangan zaman sekaligus melanjutkan tradisi Gereja Katolik dalam mendidik tenaga pastoral yang berkarakter dan Profil ini menjadi dasar penting untuk memahami bagaimana model formasio karakter katekis berbasis Pastoral Dasar dijalankan di lembaga ini, serta bagaimana dampaknya terhadap identitas dan misi mahasiswa sebagai calon katekis. Model Pendidikan Karakter di STP-IPI Malang Model pendidikan karakter di STPAeIPI Malang dibangun di atas pemahaman bahwa katekis tidak hanya dituntut cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan spiritual yang kokoh. Karakter yang kuat menjadi dasar bagi seorang katekis untuk dapat menjadi teladan dan saksi iman bagi umat. Oleh karena itu, pendidikan karakter di lembaga ini dirancang secara integral, menggabungkan dimensi akademik, rohani, moral, dan sosial. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan Zellma . yang menegaskan bahwa formasio katekis harus menyentuh seluruh aspek kehidupan, sehingga menghasilkan pribadi yang utuh dan siap menjalankan perutusan Gereja. Kurikulum akademik di STPAeIPI Malang tidak berdiri sendiri, melainkan selalu diintegrasikan dengan dimensi pastoral dan rohani. Mata kuliah seperti teologi pastoral, etika, spiritualitas katekis, dan pendidikan moral bukan hanya menekankan penguasaan teori, tetapi juga menuntut refleksi pribadi dan penerapan nyata. Maka dari itu, setiap proses pembelajaran diarahkan untuk membentuk sikap dan perilaku mahasiswa sesuai dengan nilai Injil. Sultana . menyebut formasio katekis sebagai Aulaboratorium kehidupan,Ay di mana teori dan praktik berpadu untuk membentuk pribadi yang matang secara spiritual dan moral. Konsep ini tampak nyata dalam pola pendidikan karakter di STPAeIPI Malang. Selain melalui kurikulum akademik, pendidikan karakter juga diwujudkan melalui praktik hidup Pastoral Dasar. Lima sila Pastoral Dasar yaitu, renungan, bacaan Kitab Suci, ibadat, pembentukan diri, dan wawancara komunitas dilaksanakan secara rutin dan menjadi bagian dari gaya hidup komunitas kampus. Janssen . menekankan bahwa Pastoral Dasar bukan sekadar latihan rohani, melainkan pola hidup yang membentuk identitas seorang katekis. Hal ini sejalan dengan temuan Orong . yang menyatakan bahwa disiplin doa harian yang ditanamkan Janssen berfungsi sebagai fondasi spiritual bagi para pelayan pastoral, khususnya dalam mendampingi kaum miskin dan terpinggirkan. Dengan https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Emmeria Tarihoran | Model Formasio Karakter Katekis demikian. Pastoral Dasar di STPAeIPI Malang berfungsi sebagai strategi pendidikan karakter yang berkesinambungan. Model pendidikan karakter di lembaga ini juga menekankan pentingnya teladan hidup dari para pendamping. Dosen dan mentor tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai figur rohani yang menunjukkan bagaimana nilai-nilai iman diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Selatang. Hatmoko, & Nugroho . menekankan bahwa spiritualitas pelayanan merupakan inti dari kepemimpinan pastoral ala Janssen, di mana pendidik dituntut untuk menjadi saksi hidup, bukan hanya penyampai teori. Di STPAeIPI Malang, hal ini terlihat dalam kedekatan relasional antara dosen dan mahasiswa, di mana proses bimbingan berlangsung dalam suasana dialogis, penuh kasih, dan berorientasi pada pertumbuhan karakter. Kehidupan komunitas menjadi unsur penting lain dalam model pendidikan karakter ini. Mahasiswa tinggal dalam lingkungan yang menekankan kebersamaan, solidaritas, dan disiplin hidup. Kehidupan berasrama dengan rutinitas doa bersama, ibadat harian, dan kegiatan pelayanan bersama membentuk atmosfer yang kondusif bagi pembinaan karakter. Lingkungan komunitas ini berfungsi sebagai ruang latihan konkret bagi mahasiswa untuk mengembangkan empati, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Seperti ditegaskan Engel . , pendampingan pastoral yang kontekstual hanya mungkin terjadi bila calon katekis mengalami sendiri dinamika hidup bersama yang menantang, tetapi sekaligus membentuk kedewasaan iman. Pendidikan karakter di STPAeIPI Malang tidak berhenti pada lingkup internal kampus, melainkan juga diperluas melalui kegiatan pelayanan sosial. Mahasiswa didorong untuk terlibat dalam karya pelayanan di paroki, lingkungan, maupun kelompok kategorial. Pengalaman pastoral ini menjadi sarana untuk menerapkan nilai-nilai yang dipelajari di kampus dalam konteks nyata. Misalnya, mahasiswa yang menjalani praktik di paroki akan berhadapan dengan persoalan konkret umat, seperti kemiskinan, konflik sosial, atau kebutuhan akan pendampingan iman. Situasi ini menuntut mereka untuk mengintegrasikan pengetahuan teoretis dengan kepekaan pastoral. Sejalan dengan pandangan Hayes . , pendekatan pastoral dalam pendidikan harus selalu berakar pada pengalaman konkret umat agar relevan dengan kebutuhan zaman. Keunikan model pendidikan karakter di STPAeIPI Malang juga terletak pada integrasi antara disiplin rohani, akademik, dan sosial. Hal ini dapat dilihat dari cara lembaga ini menanamkan nilai kejujuran, kedisiplinan, kerendahan hati, dan kesiapsediaan untuk diutus melalui rutinitas harian dan pembiasaan jangka panjang. Nilai-nilai tersebut bukan hanya ditekankan dalam ruang kelas, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan komunitas dan Braun & Clarke . melalui analisis tematik menegaskan bahwa nilai-nilai yang diinternalisasi melalui pengulangan dan praktik nyata lebih mudah membentuk pola hidup permanen. Oleh karena itu, pembentukan karakter di STPAeIPI Malang dapat dipahami sebagai proses integratif yang berlangsung terus-menerus. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Emmeria Tarihoran | Model Formasio Karakter Katekis Selain itu, model ini juga berlandaskan pada prinsip bahwa pendidikan karakter bukan sekadar sarana membentuk individu baik, tetapi juga untuk menghasilkan katekis yang siap diutus dalam misi Gereja. Gulo. Riyanto, & Bonusu . menunjukkan bahwa alumni STPAeIPI Malang telah mampu menghidupi strategi pastoral Janssen dalam karya misi di berbagai keuskupan, khususnya dalam menjangkau umat di daerah terpencil. Jadi, model pendidikan karakter di lembaga ini terbukti menghasilkan dampak nyata bagi kehidupan Gereja dan masyarakat. Walaupun demikian, dalam praktiknya juga muncul tantangan seperti kejenuhan mahasiswa terhadap rutinitas doa harian atau kesulitan menjaga konsistensi refleksi pribadi. Hal ini menunjukkan perlunya kreativitas dalam metode pembinaan agar setiap sila Pastoral Dasar tetap segar dan bermakna bagi mahasiswa. Dari uraian ini, jelas bahwa model pendidikan karakter di STPAeIPI Malang memiliki tiga ciri utama: pertama, integrasi akademik, rohani, dan moral. kedua, penghayatan Pastoral Dasar sebagai pola hidup. ketiga, peran komunitas dan pendampingan personal dalam membentuk identitas katekis. Ciri-ciri ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter di lembaga ini bukan hanya bersifat kognitif, melainkan juga transformatif, mengubah cara berpikir, bersikap, dan bertindak mahasiswa. Jadi, model ini relevan untuk dijadikan rujukan dalam pengembangan pendidikan karakter katekis di konteks lain, baik di Indonesia maupun secara global. Model pendidikan karakter di lembaga ini terbukti menghasilkan dampak nyata bagi kehidupan Gereja dan masyarakat. Implementasi Lima Sila Pastoral Dasar Renungan Renungan harian merupakan salah satu pilar utama dalam pembentukan karakter mahasiswa di STPAeIPI Malang. Kegiatan ini dilaksanakan secara pribadi maupun dalam kelompok kecil, biasanya sebelum aktivitas akademik atau pelayanan dimulai. Melalui renungan, mahasiswa diajak untuk merefleksikan pengalaman hidup sehari-hari dalam terang iman Katolik. Proses refleksi ini menumbuhkan kepekaan hati nurani, memperdalam kesadaran moral, serta membangun sikap rendah hati di hadapan Allah. Janssen . menekankan bahwa renungan adalah ruang di mana seorang katekis menata batinnya sebelum menata dunia luar. Dengan menjadikan renungan sebagai rutinitas, mahasiswa dibimbing menjadi pribadi reflektif yang tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, terutama dalam situasi moral yang kompleks. Selain itu, renungan berfungsi sebagai sarana untuk menginternalisasi nilai-nilai karakter seperti kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab. Dalam suasana komunitas, mahasiswa sering diminta untuk berbagi hasil renungan mereka, sehingga terbentuklah ruang dialog yang saling memperkaya. Proses ini tidak hanya membangun kebersamaan, tetapi juga menguatkan solidaritas di antara mereka. Braun & Clarke . melalui analisis tematik menegaskan bahwa praktik refleksi yang berulang membantu menginternalisasi pola berpikir mendalam, sehingga membentuk habitus baru yang lebih konsisten dengan nilai Injil. Oleh karena itu, renungan dalam konteks STPAeIPI Malang bukan sekadar aktivitas rohani https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Emmeria Tarihoran | Model Formasio Karakter Katekis individual, melainkan juga strategi pedagogis untuk memperkuat pembentukan karakter Lebih jauh, praktik renungan membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan kritis dan kontemplatif. Dengan merenungkan pengalaman hidupnya, mahasiswa belajar melihat realitas dengan perspektif iman dan menilai situasi berdasarkan kriteria Injili. Hal ini penting karena calon katekis tidak hanya dituntut memahami doktrin, tetapi juga harus mampu menafsirkan realitas sosial secara teologis. Engel . menekankan bahwa pendampingan pastoral kontekstual membutuhkan kemampuan reflektif yang menolong mahasiswa menghadapi dilema zaman digital dan globalisasi. Dalam kerangka ini, renungan menjadi wahana formasio yang memadukan dimensi spiritual, intelektual, dan moral secara integral. Pada akhirnya, renungan berfungsi sebagai fondasi spiritual yang menopang seluruh proses formasio karakter katekis di STPAeIPI Malang. Praktik ini mengajarkan mahasiswa untuk berhenti sejenak, mendengarkan suara hati, dan menata ulang arah hidupnya berdasarkan kehendak Allah. Dengan disiplin renungan yang konsisten, mahasiswa dibentuk menjadi pribadi yang tangguh, bijaksana, dan siap menghadapi tantangan pelayanan pastoral. Temuan ini selaras dengan pandangan Canales . bahwa teologi pastoral adalah jembatan antara iman dan praksis hidup, dan renungan adalah salah satu sarana nyata untuk membangun jembatan tersebut. Jadi, renungan tidak hanya berperan sebagai latihan rohani, tetapi juga sebagai proses transformatif yang membentuk identitas katekis misioner. Bacaan Kitab Suci Bacaan Kitab Suci menjadi sila kedua yang dihidupi secara nyata dalam komunitas STPAeIPI Malang. Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin melalui ibadat harian maupun sesi khusus lectio divina. Mahasiswa diajak untuk membaca, mendengarkan, dan merenungkan sabda Allah, lalu menghubungkannya dengan situasi hidup mereka. Bacaan Kitab Suci berfungsi sebagai fondasi teologis sekaligus spiritual, membimbing mahasiswa agar mampu menilai setiap peristiwa hidup dari perspektif iman. Engel . menegaskan bahwa pembacaan Kitab Suci yang kontekstual merupakan sarana penting dalam pendampingan pastoral, karena memberi arah moral dan spiritual di tengah kompleksitas dunia modern. Oleh karena itu, kegiatan ini membantu mahasiswa mengembangkan kepekaan batin sekaligus kemampuan kritis dalam menghadapi dinamika sosial yang berubah cepat. Selain sebagai fondasi iman, bacaan Kitab Suci juga menjadi sumber inspirasi praktis bagi kehidupan sehari-hari mahasiswa. Saat menghadapi konflik dengan teman, tekanan akademik, atau kebingungan arah hidup, mereka diajak untuk menemukan peneguhan dari kisah-kisah Alkitab tentang ketekunan, pengharapan, dan pengampunan. Melalui proses ini, firman Allah tidak lagi dipahami sekadar sebagai teks kuno, tetapi sebagai pesan hidup yang relevan untuk situasi masa kini. Bacaan Kitab Suci dengan demikian menjadi instrumen pedagogis yang membentuk keteguhan iman dan moralitas mahasiswa. Zellma . menegaskan bahwa formasio katekis harus mengintegrasikan dimensi iman dan moralitas, dan bacaan Kitab Suci adalah jembatan utama yang memungkinkan integrasi tersebut. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Emmeria Tarihoran | Model Formasio Karakter Katekis Lebih jauh, bacaan Kitab Suci melatih mahasiswa untuk mengembangkan spiritualitas reflektif dan kontemplatif. Dalam setiap sesi, mahasiswa tidak hanya diminta untuk memahami isi teks, tetapi juga untuk merenungkan maknanya bagi kehidupan pribadi dan Proses hermeneutis ini menuntut mahasiswa untuk membaca Kitab Suci secara kritis, memperhatikan konteks sejarah, sekaligus membuka diri pada bisikan Roh Kudus yang menyingkapkan pesan baru. Canales . menyebut teologi pastoral sebagai jembatan antara iman dan kehidupan, dan bacaan Kitab Suci adalah bentuk konkret dari jembatan itu. Maka dari itu, mahasiswa terbentuk menjadi pribadi yang mampu mengintegrasikan iman dengan praksis hidup secara berkelanjutan. Pada akhirnya, bacaan Kitab Suci membentuk identitas mahasiswa sebagai calon katekis yang mampu mewartakan Injil dengan otentik. Pengalaman berakar pada sabda Allah memberi mereka dasar untuk mengajarkan iman bukan sekadar dengan kata-kata, tetapi melalui kesaksian hidup. Hayes . menegaskan bahwa pendidikan pastoral yang efektif harus selalu berakar pada pengalaman iman yang nyata, dan bacaan Kitab Suci menjadi medium utama untuk menghadirkan pengalaman itu. Dengan menghidupi sila kedua Pastoral Dasar ini, mahasiswa STPAeIPI Malang diperlengkapi untuk menjadi katekis yang tidak hanya memahami firman Allah, tetapi juga mampu menerapkannya secara kontekstual dalam pelayanan kepada umat. Oleh karenanya, bacaan Kitab Suci menjadi fondasi penting yang menopang formasio karakter sekaligus perutusan mereka di tengah Gereja dan masyarakat. Ibadat Ibadat merupakan sila ketiga dari Pastoral Dasar yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter mahasiswa STPAeIPI Malang. Kegiatan ini mencakup misa harian, doa komunitas, doa rosario, adorasi, dan perayaan liturgi lainnya. Melalui ibadat, mahasiswa mengalami perjumpaan langsung dengan Allah dalam kerangka liturgi Gereja. Hal ini tidak hanya menumbuhkan spiritualitas pribadi, tetapi juga memperkuat identitas mereka sebagai bagian dari komunitas umat Allah. Hayes . menegaskan bahwa ibadat adalah ruang formasio di mana iman dipraktikkan secara nyata melalui simbol, ritus, dan persekutuan. Dengan keterlibatan aktif dalam ibadat, mahasiswa belajar menempatkan Allah sebagai pusat hidup dan pelayanan mereka. Ibadat juga membentuk nilai disiplin, keteraturan, dan kesetiaan. Kehadiran rutin dalam misa dan doa komunitas mengajarkan mahasiswa untuk menghargai waktu, menata prioritas, dan mengutamakan kehidupan rohani di tengah kesibukan akademik. Nilai-nilai ini penting dalam pembentukan karakter, karena seorang katekis dituntut konsisten dalam doa dan Sultana . menyebut formasio katekis sebagai laboratorium kehidupan, di mana latihan disiplin spiritual menjadi bagian dari proses pembentukan karakter. Maka, ibadat berfungsi bukan hanya sebagai kewajiban religius, melainkan sebagai sarana konkret untuk menanamkan habitus rohani yang berkesinambungan. Selain melatih kedisiplinan, ibadat juga menumbuhkan kesadaran komunal. Dalam setiap perayaan liturgi, mahasiswa belajar bahwa iman bukan hanya urusan pribadi, tetapi pengalaman bersama sebagai satu tubuh Kristus. Hal ini menumbuhkan solidaritas, rasa https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Emmeria Tarihoran | Model Formasio Karakter Katekis memiliki, serta keterbukaan terhadap keberagaman. Engel . menyoroti pentingnya dimensi komunal dalam pendampingan pastoral, karena iman yang dihidupi bersama akan memperkuat keteguhan spiritual. Dalam konteks STPAeIPI Malang, ibadat komunitas menjadi sarana nyata bagi mahasiswa untuk belajar hidup dalam kebersamaan, saling mendukung, dan bertumbuh bersama dalam iman. Lebih jauh, ibadat memperkuat spiritualitas misioner mahasiswa. Melalui liturgi, mereka disadarkan akan panggilan untuk diutus membawa kasih Allah ke tengah dunia. Perayaan Ekaristi, misalnya, mengingatkan mahasiswa bahwa setiap perutusan dimulai dari altar dan harus diwujudkan dalam pelayanan nyata. Orong . menekankan bahwa spiritualitas pastoral Janssen berakar pada keterhubungan erat antara liturgi dan misi, di mana ibadat menjadi sumber kekuatan untuk pelayanan kepada orang miskin dan terpinggirkan. Maka dari itu, ibadat tidak hanya mengokohkan dimensi rohani mahasiswa, tetapi juga memotivasi mereka untuk menjadi katekis yang siap diutus. Pembentukan Diri Pembentukan diri sebagai sila keempat Pastoral Dasar menekankan tanggung jawab personal mahasiswa terhadap pertumbuhan karakter dan identitasnya sebagai calon katekis. Jika renungan, bacaan Kitab Suci, dan ibadat lebih menekankan aspek spiritual dan komunal, maka pembentukan diri berfokus pada aspek personalisasi nilai. Mahasiswa diajak untuk menilai kembali sikap, kebiasaan, dan perilakunya, kemudian menyusun langkah konkret untuk memperbaiki kelemahan serta mengembangkan potensi yang dimiliki. Sultana . menegaskan bahwa formasio katekis merupakan laboratorium kehidupan, di mana setiap pengalaman hidup sehari-hari menjadi bahan untuk melatih kedewasaan diri. Jadi, pembentukan diri menjadi sarana mahasiswa untuk menginternalisasi nilai Injil ke dalam kehidupan pribadinya. Kegiatan pembentukan diri di STPAeIPI Malang mencakup disiplin manajemen waktu, keterlibatan aktif dalam komunitas, serta keterbukaan pada evaluasi. Mahasiswa dibimbing untuk bertanggung jawab atas keputusan dan tindakannya, termasuk ketika menghadapi kesalahan atau kegagalan. Proses ini menumbuhkan kejujuran, kerendahan hati, dan sikap kritis terhadap diri sendiri. Zellma . menegaskan bahwa formasio katekis harus mencakup dimensi moral dan spiritual secara utuh, agar peserta didik memiliki kemampuan reflektif sekaligus etis dalam melaksanakan tugas pastoral. Oleh karena itu, pembentukan diri di STPAeIPI Malang menjadi ruang nyata bagi mahasiswa untuk belajar bertanggung jawab atas panggilannya. Lebih jauh, pembentukan diri melibatkan proses evaluasi diri yang berkesinambungan. Mahasiswa dilatih untuk menuliskan jurnal harian, mengikuti rekoleksi, serta menjalani bimbingan pribadi dengan dosen atau pendamping. Praktik ini membantu mereka mengenali pola kebiasaan, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan, serta menetapkan tujuan perbaikan diri. Szyndler . menegaskan bahwa pendidikan agama yang efektif harus melibatkan evaluasi konstruktif, yang bukan sekadar menilai, tetapi juga mendorong https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Emmeria Tarihoran | Model Formasio Karakter Katekis pertumbuhan karakter. Dalam konteks ini, pembentukan diri berfungsi sebagai mekanisme otokoreksi yang memungkinkan mahasiswa untuk terus berkembang secara holistik. Pada akhirnya, pembentukan diri membekali mahasiswa dengan ketangguhan dan daya tahan dalam menghadapi dinamika pelayanan pastoral. Hidup dalam komunitas yang penuh perbedaan karakter sering kali menimbulkan konflik dan tantangan emosional. Pengalaman ini, jika diolah dengan benar, justru menjadi sarana formasio yang mendewasakan. Gitowiratmo. menunjukkan bahwa strategi pastoral Janssen menekankan pentingnya kejujuran dan ketekunan dalam membangun identitas katekis misioner. Dengan menghayati sila pembentukan diri, mahasiswa STPAeIPI Malang dipersiapkan untuk menjadi pelayan pastoral yang matang secara pribadi, tangguh secara spiritual, dan siap diutus untuk melayani Gereja dan masyarakat. Wawancara Komunitas Wawancara komunitas merupakan sila kelima Pastoral Dasar yang menjadi ciri khas formasio di STPAeIPI Malang. Kegiatan ini berbentuk pertemuan rutin di mana mahasiswa saling berbagi pengalaman, memberikan masukan, dan melakukan evaluasi bersama dalam suasana persaudaraan. Tujuannya bukan hanya untuk memperbaiki kelemahan pribadi, tetapi juga membangun tanggung jawab kolektif dalam perjalanan formasio. Janssen . menegaskan bahwa wawancara komunitas adalah sarana pedagogis yang mendidik kejujuran, keterbukaan, dan keberanian untuk mengungkapkan isi hati. Maka, kegiatan ini berfungsi sebagai wadah dialogis yang membantu mahasiswa belajar mengintegrasikan iman dengan dinamika kehidupan nyata. Dalam praktiknya, wawancara komunitas menjadi ruang latihan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi interpersonal. Seorang mahasiswa menegaskan. AoMelalui wawancara komunitas, saya belajar mengungkapkan isi hati dengan lebih terbuka dan menerima kritik dengan ikhlas. Ao Kutipan ini menunjukkan bagaimana pengalaman konkret mahasiswa menegaskan peran strategis wawancara komunitas dalam pembentukan Mereka belajar mengungkapkan pendapat dengan jujur, menerima kritik dengan rendah hati, serta mendengarkan orang lain dengan empati. Keterampilan ini sangat penting bagi calon katekis yang kelak harus mendampingi umat dalam berbagai situasi pastoral. Engel . menekankan bahwa pendampingan pastoral menuntut kepekaan relasional yang hanya dapat diasah melalui pengalaman dialog yang nyata. Oleh sebab itu, wawancara komunitas tidak hanya membentuk kepribadian mahasiswa, tetapi juga melatih keterampilan sosial yang sangat relevan dengan panggilan katekis. Selain mengasah komunikasi, wawancara komunitas juga memperkuat solidaritas dan rasa memiliki dalam kehidupan bersama. Melalui keterbukaan dan saling menegur dengan kasih, mahasiswa belajar untuk tidak hidup individualis, melainkan saling peduli dan bertanggung jawab. Hal ini mencerminkan prinsip dasar Gereja sebagai communio, di mana setiap anggota dipanggil untuk saling menopang. Gitowiratmo . menunjukkan bahwa strategi pastoral Janssen berhasil menanamkan kesadaran kolektif mahasiswa akan https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Emmeria Tarihoran | Model Formasio Karakter Katekis pentingnya hidup bersama dalam solidaritas. Dengan cara ini, wawancara komunitas membantu mahasiswa mengembangkan karakter sosial yang berakar pada semangat Injil. Akhirnya, wawancara komunitas menumbuhkan kematangan moral dan keberanian Dalam suasana dialog yang jujur, mahasiswa diajak untuk menilai kembali motivasi, sikap, dan tindakannya, sekaligus diarahkan untuk memiliki komitmen yang lebih besar dalam pelayanan. Wiwin. Nini, & Fua . mencatat bahwa tradisi wawancara komunitas di STPAeIPI Malang membentuk alumni yang berani menghadapi tantangan pastoral secara terbuka dan penuh tanggung jawab. Jadi, wawancara komunitas bukan sekadar forum evaluasi, melainkan proses formasio integral yang menyiapkan mahasiswa menjadi katekis yang matang secara spiritual, sosial, dan moral, serta siap diutus untuk melayani umat di berbagai konteks. Peran Pendamping dalam Proses Formasio Karakter Peran pendamping dalam proses formasio karakter katekis di STPAeIPI Malang memiliki posisi yang sangat sentral. Dosen dan mentor tidak hanya berfungsi sebagai penyampai ilmu, tetapi juga sebagai teladan hidup yang menghadirkan nilai-nilai Injil dalam keseharian. Selatang. Hatmoko, & Nugroho . menekankan bahwa spiritualitas pelayanan merupakan inti dari kepemimpinan pastoral ala Janssen, di mana pendamping dituntut untuk menghadirkan kesaksian hidup, bukan sekadar teori. Dalam konteks ini, setiap interaksi antara pendamping dan mahasiswa menjadi bagian dari formasio, karena mahasiswa belajar bukan hanya dari kata-kata, melainkan dari sikap, gaya hidup, dan pilihan konkret para Pendamping juga berperan sebagai fasilitator dalam menghidupi lima sila Pastoral Dasar. Mereka memastikan bahwa kegiatan renungan, bacaan Kitab Suci, ibadat, pembentukan diri, dan wawancara komunitas dijalankan secara konsisten dan bermakna. Menurut Intansakti. Tawa, & Kurniantono . , praktik Pastoral Dasar dalam komunitas pendidikan hanya dapat berjalan efektif jika ada peran aktif dari pendamping yang mengarahkan, mengingatkan, sekaligus meneguhkan mahasiswa. Karenanya, pendamping bukan hanya pengawas, melainkan rekan perjalanan yang membantu mahasiswa menemukan makna rohani dan moral dari setiap aktivitas komunitas. Selain itu, pendamping berperan sebagai mediator antara teori akademik dan praktik Melalui bimbingan mereka, mahasiswa diajak untuk menghubungkan pengetahuan teologi dengan realitas hidup umat. Engel . menyoroti pentingnya pendampingan pastoral yang kontekstual agar calon katekis mampu menghadapi dilema moral zaman modern dengan tetap berakar pada iman. Hal ini tercermin dalam cara pendamping di STPAe IPI Malang mendorong mahasiswa untuk merefleksikan pengalaman pelayanan mereka dan mengaitkannya dengan ajaran Gereja. Maka, pendamping membantu mahasiswa agar tidak terjebak pada pemahaman teoretis semata, melainkan mampu mengintegrasikan iman dengan kehidupan nyata. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Emmeria Tarihoran | Model Formasio Karakter Katekis Pendamping juga berfungsi sebagai penggerak komunitas yang mendorong mahasiswa untuk hidup dalam solidaritas dan keterbukaan. Melalui wawancara komunitas, misalnya, mereka membimbing mahasiswa untuk belajar mengungkapkan pikiran dengan jujur, mendengarkan dengan empati, serta menerima kritik dengan kerendahan hati. Janssen . menegaskan bahwa wawancara komunitas merupakan sarana penting dalam menumbuhkan kejujuran dan keberanian berbicara, yang hanya dapat tercapai bila ada pendamping yang menciptakan suasana aman dan penuh kepercayaan. Dalam hal ini, peran pendamping tidak hanya bersifat instruksional, melainkan juga relasional dan transformatif. Dalam dimensi spiritual, pendamping berperan sebagai saksi iman yang menghidupkan semangat misioner di tengah mahasiswa. Wiwin. Nini, & Fua . menunjukkan bahwa alumni STPAeIPI mengakui peran besar para dosen dan pendamping dalam menanamkan spiritualitas pastoral Janssen, khususnya dalam semangat pelayanan kepada orang miskin dan terpinggirkan. Kehadiran pendamping yang berkomitmen menjadi inspirasi konkret bagi mahasiswa, sehingga formasio karakter tidak berhenti pada wacana, melainkan menjelma dalam tindakan nyata. Dari sisi pedagogis, pendamping juga bertindak sebagai penilai yang objektif terhadap perkembangan mahasiswa. Mereka melakukan evaluasi berkala terhadap sikap, perilaku, dan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan komunitas. Szyndler . menegaskan bahwa pendidikan agama yang efektif harus mampu menanamkan nilai melalui evaluasi yang konstruktif, di mana pendidik membantu peserta didik mengenali kekuatan dan Dengan pendekatan ini, pendamping tidak sekadar memberi penilaian akademik, tetapi juga membimbing mahasiswa untuk terus memperbaiki diri dalam perjalanan formasio. Dengan demikian, peran pendamping dalam proses formasio karakter katekis di STPAe IPI Malang mencakup empat dimensi utama: sebagai teladan hidup, fasilitator Pastoral Dasar, mediator teori dan praktik, serta penggerak komunitas. Keempat peran ini mencerminkan spiritualitas pastoral Janssen yang menekankan kesatuan antara iman dan Sebagaimana ditegaskan oleh Canales . , teologi pastoral berfungsi sebagai jembatan antara refleksi iman dan praksis nyata, dan peran pendampinglah yang memastikan jembatan itu kokoh dalam formasio katekis. Peran pendamping menjadi figur kunci yang menjamin keberlangsungan formasio karakter secara holistik dan transformatif. Efektivitas Model Pendidikan Karakter Formasio karakter berbasis Pastoral Dasar di STPAeIPI Malang menghasilkan dampak signifikan terhadap perkembangan spiritual dan moral mahasiswa. Melalui keterlibatan yang intens dalam renungan, bacaan Kitab Suci, ibadat, pembentukan diri, dan wawancara komunitas, mahasiswa mengalami proses internalisasi nilai yang tidak hanya memengaruhi cara berpikir, tetapi juga membentuk pola sikap dan perilaku sehari-hari. Canales . menegaskan bahwa teologi pastoral selalu menuntut kesatuan antara refleksi iman dan praksis hidup, sehingga pendidikan karakter dalam konteks ini menjadi sarana aktualisasi Mahasiswa STPAeIPI secara perlahan mengembangkan sikap reflektif, kesadaran https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Emmeria Tarihoran | Model Formasio Karakter Katekis moral, serta keterbukaan hati terhadap kehendak Allah. Maka, formasio ini berkontribusi langsung dalam membentuk identitas mereka sebagai calon katekis yang berkarakter. Dampak lain yang tampak adalah munculnya kedisiplinan spiritual dalam kehidupan Kegiatan rutin seperti doa, ibadat, dan refleksi harian melatih mahasiswa untuk mengatur waktu, menghargai komitmen, serta menumbuhkan konsistensi dalam hidup Janssen . sejak awal menekankan bahwa disiplin spiritual merupakan kunci bagi seorang katekis agar dapat hidup setia dalam perutusan. Ketekunan dalam doa dan ibadat melatih mahasiswa untuk memandang hidup bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan sebagai panggilan rohani. Hal ini menumbuhkan kesadaran bahwa pendidikan katekis tidak hanya membentuk intelektualitas, tetapi juga membangun habitus iman yang menjadi landasan pelayanan. Formasio berbasis Pastoral Dasar juga berdampak pada kematangan emosional dan moral mahasiswa. Melalui wawancara komunitas, mahasiswa belajar mengungkapkan perasaan secara terbuka, menerima kritik dengan kerendahan hati, dan melatih empati terhadap sesama. Kegiatan ini berperan penting dalam mengasah kemampuan komunikasi interpersonal, yang merupakan keterampilan esensial bagi seorang katekis. Janssen . menekankan bahwa wawancara komunitas adalah ruang untuk melatih kejujuran dan keberanian moral. Penelitian Gitowiratmo . pun menunjukkan bahwa strategi pastoral Janssen berhasil menumbuhkan kesadaran kolektif mahasiswa akan pentingnya keterbukaan, solidaritas, dan tanggung jawab bersama. Jadi, mahasiswa tidak hanya dibentuk secara individual, tetapi juga secara komunal. Dampak positif juga terlihat dalam kesiapsediaan mahasiswa untuk melayani umat. Melalui keterlibatan langsung dalam pelayanan pastoral, mahasiswa mengalami transformasi dari sekadar pelajar menjadi pelayan. Mereka mulai menginternalisasi semangat misioner Gereja untuk hadir di tengah masyarakat, khususnya bagi mereka yang miskin dan Wiwin. Nini, & Fua . mencatat bahwa banyak alumni STPAeIPI Malang mengakui peran formasio Pastoral Dasar dalam menanamkan komitmen misioner yang kuat. Hal ini sejalan dengan Gulo. Riyanto, & Bonusu . yang menekankan bahwa spiritualitas pastoral Janssen menjadi bekal penting bagi katekis dalam menghadapi tantangan pelayanan di wilayah terpencil. Oleh sebab itu, dampak formasio ini tidak hanya dirasakan dalam lingkup kampus, tetapi juga terbukti relevan di lapangan. Mahasiswa juga menunjukkan peningkatan dalam kemampuan refleksi kritis. Melalui renungan dan bacaan Kitab Suci, mereka dilatih untuk melihat realitas hidup dari perspektif iman dan menilai situasi sosial dengan kriteria Injili. Kemampuan reflektif ini membekali mereka untuk mengambil keputusan moral yang tepat dalam menghadapi dilema etis di tengah masyarakat. Engel . menegaskan bahwa pendampingan pastoral yang kontekstual membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan reflektif dalam menanggapi tantangan zaman digital dan globalisasi. Karenanya, formasio karakter berbasis Pastoral Dasar menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan kesadaran kritis sekaligus membangun integritas moral mahasiswa. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Emmeria Tarihoran | Model Formasio Karakter Katekis Selain aspek spiritual dan moral, formasio ini juga berdampak pada pembentukan kepemimpinan pastoral. Mahasiswa yang aktif dalam komunitas belajar mengorganisir kegiatan, memimpin doa, serta memfasilitasi diskusi. Pengalaman ini membentuk kemampuan kepemimpinan yang bersifat melayani, bukan otoriter. Selatang. Hatmoko, & Nugroho . menegaskan bahwa kepemimpinan pastoral sejati bertumpu pada spiritualitas pelayanan, di mana pemimpin hadir untuk mendampingi dan membimbing, bukan sekadar mengatur. Karenanya, mahasiswa dibekali dengan model kepemimpinan yang sesuai dengan nilai Injil, yaitu kepemimpinan yang rendah hati, inklusif, dan transformatif. Dampak lain yang tidak kalah penting adalah tumbuhnya kesadaran sosial mahasiswa. Keterlibatan dalam pelayanan sosial, baik di paroki maupun masyarakat sekitar, membuat mereka peka terhadap penderitaan orang lain. Mereka belajar melihat kehadiran Kristus dalam diri yang miskin dan lemah. Orong . menekankan bahwa spiritualitas Janssen selalu menempatkan orang miskin sebagai pusat perhatian pastoral. Hal ini tampak nyata dalam kehidupan mahasiswa STPAeIPI Malang yang semakin menyadari panggilannya untuk menghadirkan kasih Allah di tengah realitas sosial yang kompleks. Kesadaran sosial ini menjadi modal penting bagi mereka sebagai calon katekis yang diutus untuk melayani Gereja dan masyarakat. Proses formasio juga menumbuhkan ketangguhan dan daya tahan spiritual. Hidup dalam komunitas dengan berbagai perbedaan karakter menuntut mahasiswa untuk belajar sabar, menahan ego, dan membangun rekonsiliasi. Pengalaman konflik maupun kesulitan bersama menjadi sarana pembentukan kepribadian yang matang. Sultana . menyebut formasio katekis sebagai proses laboratorium kehidupan, di mana kesulitan sehari-hari justru menjadi bahan utama pembelajaran. Maka, mahasiswa dilatih untuk tidak mudah menyerah, melainkan menjadikan setiap pengalaman sebagai peluang pertumbuhan karakter. Tidak kalah penting, dampak formasio berbasis Pastoral Dasar juga tampak dalam internalisasi identitas katekis. Mahasiswa semakin menyadari bahwa menjadi katekis bukan sekadar profesi, tetapi panggilan hidup. Kesadaran ini ditumbuhkan melalui pembiasaan rohani, keterlibatan sosial, dan pendampingan personal yang terus-menerus. Zellma . menegaskan bahwa formasio katekis harus menghasilkan pribadi yang memiliki identitas kuat sebagai pewarta iman dan pelayan Gereja. Kesadaran identitas ini menjadi bekal utama bagi mahasiswa untuk menghidupi perutusannya secara konsisten, bahkan setelah meninggalkan bangku kuliah. Dampak formasio karakter berbasis Pastoral Dasar di STPAeIPI Malang mencakup aspek spiritual, moral, sosial, emosional, dan pastoral. Mahasiswa dibentuk menjadi pribadi yang reflektif, disiplin, empatik, siap melayani, dan berkarakter kuat. Temuan ini sejalan dengan pandangan Hayes . yang menegaskan bahwa pendidikan pastoral yang efektif harus mampu mengintegrasikan spiritualitas, moralitas, dan keterlibatan sosial secara bersamaan. Dengan demikian, formasio berbasis Pastoral Dasar terbukti menjadi model yang komprehensif dan relevan bagi pembentukan katekis di era kontemporer. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Emmeria Tarihoran | Model Formasio Karakter Katekis Simpulan Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan karakter berbasis Pastoral Dasar di STPAe IPI Malang merupakan model formasio yang khas, kontekstual, dan relevan bagi kebutuhan zaman, karena mengintegrasikan lima silaAirenungan, bacaan Kitab Suci, ibadat, pembentukan diri, dan wawancara komunitasAike dalam pembinaan akademik, spiritual, moral, dan sosial secara sistematis. Setiap sila berkontribusi pada pembentukan karakter mahasiswa melalui pengembangan kepekaan batin, fondasi teologis, kedisiplinan rohani, tanggung jawab pribadi, dan solidaritas komunitas. Keberhasilan model ini sangat ditopang oleh peran pendamping yang tidak hanya mengajar, tetapi menjadi teladan iman dan fasilitator refleksi sehingga nilai-nilai Pastoral Dasar benar-benar terinternalisasi. Dampaknya terlihat dalam peningkatan reflektifitas, integritas, kepedulian sosial, kemampuan berdialog, serta kesiapan misioner mahasiswa untuk terlibat dalam pelayanan Secara teoretis, temuan ini memperkaya diskursus teologi pastoral dan pendidikan karakter Katolik dengan menawarkan model integratif yang menempatkan relasi dengan Allah sebagai pusat transformasi, sementara secara praktis memberikan inspirasi bagi lembaga pendidikan Katolik lain untuk mengadaptasinya. Penelitian ini juga membuka peluang kajian lanjutan tentang efektivitas model Janssenian dalam konteks digital dan perbandingannya dengan pendekatan formasio lainnya, sekaligus menegaskan bahwa Pastoral Dasar adalah metodologi pendidikan karakter yang dapat direplikasi dan dikontekstualisasikan untuk menjawab tantangan pastoral masa kini dan masa depan. Ucapan Terima Kasih Penulis menyampaikan terima kasih kepada Sekolah Tinggi Pastoral Ae IPI Malang yang telah memberikan dukungan dan kesempatan dalam pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada para dosen pendamping, staf administrasi, serta mahasiswa yang telah berpartisipasi aktif dalam proses pengumpulan data. Selain itu, penghargaan diberikan kepada para pakar teologi pastoral yang telah memberikan masukan berharga dalam penyempurnaan naskah ini. Referensi