PENERAPAN TERAPI MUROTTAL TERHADAP PENURUNAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI SECTIO CAESAREA DI RUMAH SAKIT PELNI JAKARTA Abstrak STUDI KASUS Anggi Pathricia Sri Atun Wahyuningsih2* Buntar Handayani 3 1Departemen Jiwa dan Komunitas. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia 2Departemen Jiwa dan Komunitas. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia 3Departemen Jiwa dan Komunitas. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia *Korespondensi: Sri Atun Wahyuningsih email: sri. atun@akper-pelni. Kecemasan dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk takut kehilangan bayi setelah lahir, takut akan rasa sakit saat melahirkan serta kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya kesulitan saat melahirkan. Salah satu penatalaksanaan non- farmakologis pada pasien yang mengalami kecemasan bisa dilakukan yaitu dengan cara terapi murottal. Tujuan untuk menganalisis intervensi terapi murottal terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi Sectio Caesarea. Metode penelitian ini menggunakan desain studi kasus dan berjumlah 2 responden. Pengumpulan data dilakukan di ruang Kenari Rumah Sakit Pelni Jakarta, dimulai dari tanggal 15 hingga 16 Juli 2024, kedua responden diberikan terapi murottal dalam 1 kali selama 13 menit pada responden 5 jam sebelum dilakukannya operasi Sectio Caesarea. Hasil penelitian terdapat penurunan yang signifikan, pada saat pre-test dilakukan dengan menggunakan kuesioner Hamilton Rating Scale of Anxiety (HRS-A) kedua responden mengalami kecemasan berat. Hasil post-test yang dilakukan setelah 2 jam pemberian terapi murottal didapatkan tingkat kecemasan menurun menjadi kecemasan sedang, skor HRS-A pada responden I yaitu dari 30 menjadi 24, responden II yaitu dari 34 menjadi 22. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu terapi murottal dinilai efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan. Diharapkan intervensi terapi murottal dapat menjadi salah satu upaya untuk mengatasi kecemasan secara mandiri. Kata Kunci: Kecemasan Sectio Caesarea Terapi Murottal Diterima: 03 Juli 2025 Diperbaiki: 17 Juli 2025 Dipublikasikan: 31 Juli 2025 E-ISSN Sitasi artikel ini: Pathricia. Wahyuningsih. , & Handayani. Penerapan Terapi Murottal Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Sectio Caesarea Di Rumah Sakit Pelni Jakarta. Volume 2 . , 1-9. https://journal. id/index. php/jkpp PENDAHULUAN Operasi Sectio Caesarea ialah aksi pembedahan yang melibatkan pengirisan dinding uterus dan perut seorang wanita hamil untuk mengeluarkan satu atau lebih bayi untuk melahirkan. Perawatan setelah persalinan memerlukan perhatian khusus karena infeksi setelah operasi dapat mengancam kehidupan. Apabila dipadankan dengan persalinan melalui vagina, risiko kematian akibat Sectio Caesarea 25 kali lipat lebih beresiko (Islamiaty et al. , 2. Data yang ditemukan sekitar 90% kematian akibat operasi Sectio Caesarea disebabkan oleh infeksi luka operasi, rahim, kandung kemih, dan usus. Total peristiwa persalinan Sectio Caesarea di Indonesia ialah 17,6%, dengan DKI Jakarta memiliki angka tertinggi yaitu 31,3% dan Papua memiliki angka terendah yaitu 6,7%, sekitar 30 hingga 80% dari semua persalinan yang dilakukan di negara ini adalah melalui persalinan dengan Sectio Caesarea menurut Riset Kesehatan Dasar . Jurnal Keperawatan Degeneratif. Volume 1. Issue 2. Juli 2025 Pathricia. Wahyuningsih. , & Handayani. e-ISSN: 3089-34337 Pernyataan dari Suwanti & Silawati . , kecemasan dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk kecemasan diri yang berkaitan dengan rasa takut akan kematian, takut kehilangan bayi setelah lahir, khawatir akan kesehatannya, takut akan rasa sakit saat melahirkan, kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya kesulitan saat hamil atau melahirkan, dan khawatir tentang ketidakmampuan ibu untuk mendapatkan perawatan dan perawatan yang tepat setelah persalinan. Faktor-faktor kecemasan yang secara tidak langsung terkait dengan persalinan merupakan bagian kedua. Menurut Ratna et al. , gangguan kecemasan, yang juga disebut sebagai ansietas, adalah perasaan yang tidak dapat dihindari yang diindikasikan dengan rasa takut dan sensasi tubuh yang tidak nyaman dan penuh tekanan. Gangguan kecemasan sering kali menyebabkan penderitanya merasa lebih lemah, lebih mudah marah, menyakiti orang lain, tetapi kebanyakan menyakiti diri sendiri. Individu yang mengalami gangguan kecemasan akan kehilangan keterlibatan sosial dan secara bertahap akan mempengaruhi kemampuan intelektualnya. Salah satu metode untuk menangani taraf kecemasan pada ibu hamil yang akan dilaksanakan tindakan Sectio Caesarea ialah dengan menggunakan pengobatan psikoreligius berupa terapi murottal. Metode pengobatan keagamaan ialah membaca Al-Qur'an merupakkan salah satu dapat menenangkan hati bagi orang-orang yang mendengarkan lantunannya (Shofa et al. ,2. Pembacaan Alquran secara akustik memulai prosedur dengan menginduksi produksi neuropeptida, yaitu zat yang diproduksi oleh otak. Dengan meningkatkan sintesis beta-endorfin, molekul-molekul ini memengaruhi aktivitas gelombang otak alfa, penurunan tekanan darah, serta mengurangi pernapasan dan detak jantung. Beta- endorfin kemudian ditransfer ke reseptor di organ lain. Terapi murottal juga dapat mempermudah pasien merasa tidak terlalu stres, lebih rileks, dan tidak terlalu takut atau cemas dengan mengalihkan perhatian mereka dari emosi negatif (Gunawan & Mariyam, 2. Berdasarkan hasil obervasi yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 15 Juli 2024 di Ruang Kenari Rumah Sakit Pelni Jakarta, terdapat 4 orang ibu hamil yang mengalami kecemasan ketika akan dilakukan Sectio Caesarea. Para bidan di Ruang Kenari memberikan terapi murottal dan teknik nafas dalam untuk menurunkan tingkat kecemasan pada pasien. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuPenerapan Terapi Murottal terhadap Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Sectio Caesarea di Rumah Sakit Pelni JakartaAy. METODE Desain penelitian menggunakan desain studi kasus. Populasi dalam penelitian ini ialah pasien ibu hamil beragama muslim yang mengalami kecemasan ketika akan dilakukan operasi Sectio Caesarea di ruang Kenari Rumah Sakit Pelni Jakarta berjumlah 2 responden yang diketahui oleh kepala rumah sakit Pelni dan kepala ruangan ruang Kenari. Kriteria inklusi yang digunakan pada penelitian ini yaitu pasien ibu hamil yang beragama muslim, pasien ibu hamil yang sedang mengandung anak pertama . , dan pasien ibu hamil yang memiliki kecemasan pada tingkat 28 - 41. Jurnal Keperawatan Degeneratif. Volume 1. Issue 2. Juli 2025 JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF PELNI. VOL 2. ISSUE 2. JULI 2025 e-ISSN: 3089-34337 Kriteria Eksklusi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien ibu hamil yang memiliki masalah pendengaran, pasien ibu hamil yang sedang mengalami kontraksi, dan pasien ibu hamil yang sulit untuk diajak bekerjasama. Waktu penelitian dilaksanakan pada waktu 5 jam sebelum responden dilakukan tindakan operasi Sectio Caesarea dengan durasi 13 menit. Instrumen yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Lembar persetujuan (Informed Consen. , pengukuran tingkat kecemasan dengan Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) untuk menilai tingkat kecemasan setiap responden, ponsel dan headphone untuk pemberian terapi murottal, standar operasional prosedur terapi murotta. HASIL Karakteristik Responden Tabel 1. Karakteristik Responden 1 Responden I Responden I berinisial Ny. S berusia 25 tahun, berjenis kelamin perempuan dan beragama islam. Ny. S berstatus sudah menikah dan sedang mengandung anak pertamanya dengan usia kehamilan 36 minggu 18 hari. Ny. S sebelumnya belum pernah hamil. Ny. S memiliki berat badan 71 kg dengan tinggi badan 162 cm. saat diperiksa tekanan darah, hasilnya ialah 135/85 mmHg. Pekerjaan Ny. ialah seorang ibu rumah tangga yang berpendidikan terakhir yaitu SMK. 2 Responden II Responden II berinisial Ny. D berusia 22 tahun, berjenis kelamin perempuan dan beragama islam. Ny. D berstatus sudah menikah dan sedang mengandung anak pertamanya dengan usia kehamilan 37 minggu. Ny. D sebelumnya belum pernah hamil. Ny. D memiliki berat badan 68 kg dengan tinggi badan 155 cm. saat diperiksa tekanan darah, hasilnya ialah 128/80 mmHg Kondisi Sebelum Intervensi 1 Responden I Dari hasil observasi dan wawancara kepada Ny. S pada tanggal 15 Juli 2024, didapatkan data dengan pengukuran tingkat kecemasan dengan kuesioner HRS- A bahwa responden mengalami cemas berat dengan skor 30. Berdasarkan pengamatan peneliti, responden I tampak tegang dan tidak tenang. Responden mengatakan merasa cemas karena menunggu tindakan operasi. Jurnal Keperawatan Degeneratif. Volume 1. Issue 2. Juli 2025 Pathricia. Wahyuningsih. , & Handayani. e-ISSN: 3089-34337 Faktor predisposisi responden I mengalami kecemasan ialah responden terkejut mendengar kabar bahwa responden harus menjalani operasi Sectio Caesarea untuk melahirkan anaknya. Faktor presipitasi responden I adalah mengalami kecemasan beberapa hari ini karena responden merasakan banyak keluhan fisik sehingga cemas. Mekanisme koping responden I adalah mengesampingkan semua pikiran buruk seperti takut operasi nya berjalan dengan tidak lancar ataupun bayinya akan meninggal dengan cara mengobrol dengan suami dan keluarganya atau menonton televisi. Sumber koping responden I ialah sholat dan berdoa kepada tuhan 2 Responden II Dari hasil observasi dan wawancara kepada Ny. D pada tanggal 16 Juli 2024, didapatkan data dengan pengukuran tingkat kecemasan dengan kuesioner HRS- A bahwa responden mengalami cemas berat dengan skor 34. Berdasarkan pengamatan peneliti, responden II tampak gelisah dan ketakutan. Responden mengatakan takut karena akan dilakukan tindakan operasi. Faktor predisposisi responden II ialah responden takut untuk menjalani operasi Sectio Caesarea karena takut meninggal. Faktor presipitasi adalah responden pernah mendengar kabar bahwa kerabatnya pernah gagal dalam menjalani operasi, sehingga membuat responden merasa Mekanisme koping responden II ialah dengan cara berjalan kaki di sekitar ruangan responden ditemani oleh suami. Sumber koping responden II adalah berdoa, sholat dan mendapatkan motivasi dari keluarga saat sedang stress Kondisi Setelah Intervensi 1 Responden I Pada responden I penelitian dilakukan selama 1 hari. Pada hari Senin, 15 Juli 2024 pukul 07. WIB peneliti melakukan bina hubungan saling percaya, menjelaskan tujuan penelitian, melakukan informed consent, pengkajian demografi responden, melakukan pre-test dengan mengukur tingkat kecemasan responden menggunakan kuesioner HRS-A. Hasil dari pre-test pengukuran tingkat kecemasan menggunakan skor HRS-A menunjukan bahwa responden mengalami kecemasan berat yaitu dengan skor 30. Setelah itu, melakukan intervensi terapi murottal selama 13 menit dengan surat Ar-Rahman menggunakan headphone dan ponsel. Pada pukul 10. 00 WIB. Melakukan post-test dengan mengukur kembali tingkat kecemasan responden menggunakan kuesioner HRS-A setelah diberikan terapi murottal. Hasil dari post- test pengukuran tingkat kecemasan menggunakan skor HRS-A menunjukan bahwa tingkat kecemasan responden I mengalami penurunan dengan skor 24 yaitu kecemasan sedang. Evaluasi dari hasil penelitian studi kasus yang dilakukan oleh peneliti kepada Responden I yang diberikan intervensi terapi murottal untuk menurunkan tingkat kecemasan. Penelitian ini diukur menggunakan kuesioner HRS-A yang dilakukan oleh peneliti pada saat pre-test diperoleh skor 30 yaitu Jurnal Keperawatan Degeneratif. Volume 1. Issue 2. Juli 2025 JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF PELNI. VOL 2. ISSUE 2. JULI 2025 e-ISSN: 3089-34337 kecemasan berat. 2 jam setelah diberikan terapi murottal, peneliti melakukan post-test dengan pengukuran tingkat kecemasan kembali dengan menggunakan kuesioner HRS-A dan diperoleh skor 24 yaitu kecemasan sedang. Responden I mengatakan sudah merasa tenang setelah diberikan terapi 2 Responden II Pada responden II penelitian dilakukan selama 1 hari. Pada hari Selasa, 16 Juli 2024 pukul 09. WIB peneliti melakukan bina hubungan saling percaya, menjelaskan tujuan penelitian, melakukan informed consent, pengkajian demografi responden, melakukan pre-test dengan mengukur tingkat kecemasan responden menggunakan kuesioner HRS-A. Hasil dari pre-test pengukuran tingkat kecemasan menggunakan skor HRS-A menunjukan bahwa responden mengalami kecemasan berat yaitu dengan skor 34. Setelah itu, melakukan intervensi terapi murottal selama 13 menit dengan surat Ar-Rahman menggunakan headphone dan ponsel. Pada pukul 12. 00 WIB. Melakukan post- test dengan mengukur kembali tingkat kecemasan responden menggunakan kuesioner HRS-A setelah diberikan terapi murottal. Hasil dari post-test pengukuran tingkat kecemasan menggunakan skor HRS-A menunjukan bahwa tingkat kecemasan responden II mengalami penurunan dengan skor 22 yaitu kecemasan sedang. Evaluasi dari hasil penelitian studi kasus yang dilakukan oleh peneliti kepada Responden II yang diberikan intervensi terapi murottal untuk menurunkan tingkat kecemasan. Penelitian ini diukur menggunakan kuesioner HRS-A yang dilakukan oleh peneliti pada saat pre-test diperoleh skor 34 yaitu kecemasan berat. 2 jam setelah diberikan terapi murottal, peneliti melakukan post-test dengan kecemasan kembali dengan menggunakan kuesioner HRS-A dan diperoleh skor 22 yaitu kecemasan sedang. Responden II mengatakan sudah merasa tenang setelah diberikan terapi murottal Perbandingan Tabel 2. Perbandingan Pre-Post Skor Kecemasan Berdasarkan pada tabel diatas . menunjukkan bahwa hasil skoring per point dari 2 orang responden mengalami penurunan setelah diterapkannya terapi murottal. Penurunan point tersebut sejalan dengan penurunan dari gejala- gejala yang dirasakan oleh kedua responden. Jurnal Keperawatan Degeneratif. Volume 1. Issue 2. Juli 2025 Pathricia. Wahyuningsih. , & Handayani. e-ISSN: 3089-34337 1 Responden I Pada responden I terdapat penurunan tingkat kecemasan yaitu dari skor 30 . ecemasan bera. turun menjadi skor 24 . ecemasan sedan. 2 Responden II Pada responden II terdapat penurunan tingkat kecemasan yaitu dari skor 34 . ecemasan bera. turun menjadi skor 22 . ecemasan sedan. Tabel 3. Perbandingan Pre-Post Intervensi Berdasarkan pada gambar diatas . menunjukkan hasil pre-test pengukuran tingkat kecemasan sebelum dilakukan intervensi terapi murottal pada tanggal 15 Juli dengan responden I dan 16 Juli 2024 dengan responden II menggunakan kuesioner HRS-A yang dilakukan pada 2 responden didapatkan pada responden I mendapatkan skor 30 . ecemasan bera. dan responden II mendapatkan skor 34 . ecemasan bera. Setelah diberikan intervensi terapi murottal selama 1 kali intervensi pada 5 jam sebelum operasi Sectio Caesarea, kemudian kedua responden dilakukan post-test pengukuran tingkat kecemasan kembali pada 2 jam sebelum operasi Sectio Caesarea pada tanggal 15 Juli 2024 dengan responden I dan pada tanggal 16 Juli 2024 dengan responden II didapatkan hasil pada responden I mendapatkan skor 24 . ecemasan sedan. dan responden II mendapatkan skor 22 . ecemasan sedan. Kondisi kedua responden mengatakan sudah merasa tenang dan rileks setelah diberikan terapi murottal PEMBAHASAN Studi kasus Setelah dilakukan intervensi terapi murottal, data hasil analisis menunjukkan bahwa kedua responden mengalami penurunan tingkat kecemasan. Responden pertama hasil skor sebelum dilakukan intervensi yaitu 30 . ecemasan bera. , setelah diberikan intervensi satu kali, tingkat kecemasan menurun menjadi 24 . ecemasan sedan. Responden kedua hasil skor sebelum dilakukan intervensi yaitu 34 . ecemasan bera. , setelah diberikan intervensi satu kali, tingkat kecemasan menurun menjadi 22 . ecemasan sedan. Jurnal Keperawatan Degeneratif. Volume 1. Issue 2. Juli 2025 JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF PELNI. VOL 2. ISSUE 2. JULI 2025 e-ISSN: 3089-34337 Penelitian ini sesuai dengan penelitian Fatmawati & Pawestri . , bahwa responden pre operasi Sectio Caesarea yang sudah diberikan terapi murottal dengan mengunakan surah Ar-Rahman tingkat kecemasannya menurun satu Dalam penelitiannya, sebelum diberikan terapi murottal 2 responden mengalami kecemasan berat dan setelah diberikan terapi murottal tingkat kecemasan menurun menjadi kecemasan sedang. Usia Berdasarkan hasil intervensi yang dilakukan oleh peneliti di Ruang Kenari Rumah Sakit Pelni Jakarta, peneliti mengambil 2 responden dalam intervensi terapi murottal untuk menurunkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi Sectio Caesarea. Pada kedua responden masuk kedalam kategori usia dewasa awal yaitu responden I Ny. S berumur 25 tahun dan responden II Ny. D berumur 22 tahun. Hal ini didukung oleh penelitian Ritonga & Putri . , bahwa seseorang yang mempunyai umur lebih muda akan lebih rentan mengalami gangguan kecemasan dari pada seseorang yang lebih tua. Begitu juga kehamilan pada usia yang terlalu muda dan tua termasuk dalam kriteria kehamilan risiko tinggi dimana keduanya berperan meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun janin. Pengalaman masa lalu Pada penelitian ini kedua responden sebelumnya belum pernah hamil. Pada saat ini merupakan kehamilan pertama pada kedua responden atau dapat disebut juga sebagai primigravida. Penelitian ini dikuatkan oleh Lastaro et al. , yang mengatakan bahwa primigravida merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan pada ibu hamil dibandingkan pada multigravida. Keluarga dan dukungan sosial Dari hasil observasi peneliti, hal tersebut dapat dinilai dari support system yang diberikan oleh keluarga terhadap responden yang dimana pada responden I & II dukungan keluarga diberikan oleh sang suami yang senantiasa selalu menemani, membantu dan mendukung responden I & II. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Lestari et al. , keluarga berfungsi sebagai tempat yang aman dan damai untuk bersantai dan pulih, dan juga membantu dalam menguasai emosi. Selama depresi, orang sering menderita secara emosional, sedih, cemas, dan kehilangan harga diri. Jika keluarga memperhatikan mereka dan membantu mereka menyelesaikan masalah, mereka akan merasa terbantu. Jika perasaan seseorang akan hal-hal yang dicintai dan dimiliki menurun karena depresi Keluarga memberikan ketenangan dan dorongan emosional. Pendidikan Dari hasil pengkajian peneliti, didapatkan data hasil riwayat pendidikan kedua responden yaitu responden I Ny. pendidikan terakhirnya ialah SMK dan responden II Ny. D pendidikan terakhirnya ialah SMA. Pernyataan ini dibuktikan oleh Aisyiah et al. , mengenai terdapatnya hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan tingkat kecemasan ibu, dimana responden yang memiliki tingkat pendidikan rendah akan lebih banyak mengalami kecemasan dibandingkan dengan responden yang memiliki tingkat pendidikan tinggi. Ibu dengan pendidikan tinggi akan memiliki pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan ibu berpendidikan rendah. Semakin Jurnal Keperawatan Degeneratif. Volume 1. Issue 2. Juli 2025 Pathricia. Wahyuningsih. , & Handayani. e-ISSN: 3089-34337 tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin besar kemungkinan untuk mencari pengobatan ke pelayanan kesehatan, sebaliknya tingkat pendidikan yang rendah dari seseorang akan menyebabkan kurangnya informasi mengenai kesehatan sehingga dapat menimbulkan kecemasan. KESIMPULAN Intervensi terapi murottal terbukti efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi Sectio Caesarea. Penelitian pada dua responden di ruang Kenari RS Pelni Jakarta menunjukkan bahwa setelah diberikan terapi murottal, tingkat kecemasan yang sebelumnya berada pada kategori berat menurun menjadi kategori sedang. Hal ini dibuktikan melalui skor kuesioner HRS-A yang mengalami penurunan signifikan pada kedua responden setelah satu kali intervensi. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti mengucapkan terima kasih kepada responden dan para pihak yang terlibat dalam penelitian ini. PERNYATAAN BEBAS KONFLIK KEPENTINGAN Tidak terdapat konflik kepentingan yang timbul pada saat melakukan penelitian ini. PENDANAAN Penelitian ini tidak dibayai oleh pihak manapun dan menggunakan dana pribadi. KONTRIBUSI PENULIS Anggi Pathricia: Penulis utama, konseptualisasi, metodologi, analisis, dan referensi Sri Atun Wahyuningsih: Menghasilkan ide, konseptualisasi, analisis formal, dan kurasi data. Buntar Handayani: Validasi, analisis formal, dan kurasi data ORCID Anggi Pathricia ORCID ID: Tidak tersedia Sri Atun Wahyuningsih ORCID ID: 0009-0005-7316-0130 Buntar Handayani ORCID ID: 0000-0001-9452-8807 REFERENSI