JURNAL BASICEDU Volume 9 Nomor 6 Tahun 2025 Halaman 1881 - 1891 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Systematic Literature Review: Problematika Kompetensi Guru Sekolah Dasar dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Zulfahmi1A. Rita Kurnia2. Muhammad Rayhan Afdi Ramadhan3. Muhammad Dzakwan Khairi4 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Riau. Indonesia1,2,3,4 E-mail: zulfahmi4182@student. id1, ritakurnia@lecturer. rayhan7323@student. Muhammad. dzakwan5794@student. Abstrak Penelitian ini menganalisis keterkaitan problematika kompetensi guru sekolah dasar dengan peningkatan mutu pendidikan dasar di Indonesia melalui Systematic Literature Review (SLR) atas 26 artikel terbit 2017Ae2025. Pencarian dilakukan pada empat basis data (Scopus. ERIC. DOAJ. Google Schola. Kriteria inklusi mencakup artikel peer-reviewed yang berfokus pada sekolah dasar di Indonesia, membahas kompetensi guru . edagogik, profesional, sosial, kepribadia. , dan melaporkan temuan empiris. artikel duplikat, non-empiris, atau di luar cakupan dikecualikan. Data ditelaah melalui sintesis naratiftematik dan penelusuran pola temuan antarpublikasi. Hasil menunjukkan mutu pendidikan dasar berbanding lurus dengan kualitas guru dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Kendala utama meliputi penguasaan teknologi yang lemah, rendahnya inovasi, ketidaksiapan menerapkan Kurikulum Merdeka, serta kelemahan aspek kepribadian-sosial yang menurunkan keteladanan. Upaya perbaikan efektif mencakup pelatihan berkelanjutan, supervisi akademik reflektif, penguatan literasi digital, dan pembinaan karakter profesional. Kesimpulannya, peningkatan mutu pendidikan dasar menuntut transformasi menyeluruh kompetensi guru ditopang kolaborasi multipihak, kebijakan afirmatif, dan sistem pembinaan berkelanjutan. Secara praktis, temuan ini dapat menjadi acuan bagi Kementerian Pendidikan dan lembaga pendidikan dasar untuk merancang program pelatihan berbasis kompetensi holistik yang terarah, terukur, dan selaras dengan kebutuhan implementasi Kurikulum Merdeka. Kata Kunci: kompetensi guru, mutu pendidikan dasar, supervisi akademik, guru sekolah dasar Abstract This study analyzes the relationship between challenges in elementary school teacher competencies and improvements in the quality of primary education in Indonesia through a Systematic Literature Review (SLR) of 26 articles published between 2017 and 2025. Searches were conducted across four databases (Scopus. ERIC. DOAJ, and Google Schola. Inclusion criteria covered peer-reviewed articles focused on Indonesian primary schools, addressing teacher competencies . edagogical, professional, social, and persona. , and reporting empirical findings. duplicate, non-empirical, or out-of-scope studies were excluded. Data were examined through narrativeAethematic synthesis and cross-study pattern The findings show that the quality of primary education is positively associated with teachersAo capacity to design, implement, and evaluate instruction. Key constraints include weak technological proficiency, limited innovation, unpreparedness to implement the Merdeka Curriculum, and shortcomings in personal and social domains that diminish teachersAo role-modeling. Effective improvement efforts include continuous professional development, reflective academic supervision, strengthened digital literacy, and the cultivation of professional character. In conclusion, enhancing the quality of primary education requires a comprehensive transformation of teacher competencies, supported by multi-stakeholder collaboration, affirmative policies, and a continuous coaching system. Practically, these findings can guide the Ministry of Education and primary education institutions in designing targeted, measurable, and holistic competency-based teacher training programs aligned with the needs of the Merdeka CurriculumAos implementation. Keywords: teacher competence, quality of basic education, academic supervision, elementary school teachers Copyright . 2025 Zulfahmi. Rita Kurnia. Muhammad Rayhan Afdi Ramadhan. Muhammad Dzakwan Khairi A Corresponding author : Email : zulfahmi4182@student. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1882 Systematic Literature Review: Problematika Kompetensi Guru Sekolah Dasar dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Ae Zulfahmi. Rita Kurnia. Muhammad Rayhan Afdi Ramadhan. Muhammad Dzakwan Khairi DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Guru merupakan ujung tombak pelaksanaan pendidikan nasional yang berperan penting dalam pembentukan karakter dan kompetensi peserta didik. Pada tingkat sekolah dasar, peran guru tidak hanya terbatas sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing, pendidik, dan panutan moral. Dalam konteks pendidikan dasar, guru berfungsi sebagai agen utama perubahan sosial dan intelektual. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menegaskan bahwa guru harus memiliki empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Keempat kompetensi tersebut menjadi fondasi bagi profesionalisme guru dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna. Namun, dalam praktiknya, masih banyak guru yang belum mencapai standar kompetensi yang diharapkan. (Faridah et al. , 2. menemukan bahwa sebagian besar guru belum memahami prinsip dasar pembelajaran aktif yang menempatkan siswa sebagai subjek belajar (Sulastri, 2. menambahkan bahwa guru di beberapa sekolah dasar kurang mampu berinovasi dalam penggunaan media pembelajaran, sehingga suasana belajar cenderung monoton dan berpusat pada guru. Konteks ini menjadi semakin kompleks dengan hadirnya era digital dan kebijakan Kurikulum Merdeka yang menuntut guru untuk adaptif, kreatif, dan reflektif. (Ain et al. , 2. menjelaskan bahwa banyak guru mengalami kesulitan dalam menerapkan pembelajaran berbasis proyek dan penilaian autentik. Kondisi ini menunjukkan bahwa guru belum sepenuhnya memahami pergeseran paradigma pembelajaran dari orientasi hasil menuju orientasi proses dan kompetensi. Selain aspek pedagogik dan profesional, kompetensi kepribadian guru juga memiliki peran besar dalam membentuk karakter siswa. (Yati et al. , 2. menegaskan bahwa perilaku dan sikap guru di sekolah menjadi cerminan moralitas bagi peserta didik. Guru yang menunjukkan kedisiplinan, empati, dan integritas tinggi akan menumbuhkan karakter positif pada siswa. Namun, masih banyak kasus di mana perilaku guru tidak sejalan dengan nilai-nilai etika profesi (Putri et al. , 2. Hal ini memperlihatkan bahwa pembinaan kepribadian guru masih perlu diperkuat agar pendidikan karakter di sekolah dasar tidak berhenti pada tataran kognitif semata. Supervisi akademik menjadi faktor eksternal yang berpengaruh signifikan terhadap kompetensi guru. (Prastania et al. , 2. menunjukkan bahwa supervisi akademik yang dilakukan dengan pendekatan partisipatif mampu meningkatkan refleksi guru terhadap praktik pembelajaran. Akan tetapi, pada kenyataannya, supervisi masih sering dijalankan secara administratif tanpa pembinaan mendalam. Akibatnya, guru kehilangan ruang untuk berkembang secara profesional. Di sisi lain, perbedaan akses terhadap teknologi dan sumber belajar memperlebar kesenjangan kualitas (Hermansyah et al. , 2. menemukan bahwa guru di daerah perbatasan menghadapi kendala besar dalam memanfaatkan media digital karena minimnya fasilitas. Hal ini berimplikasi pada rendahnya literasi digital dan kualitas pembelajaran di wilayah tertinggal. Perubahan ekosistem pendidikan dalam satu dekade terakhir ditandai akselerasi teknologi, disrupsi sosial-ekonomi, dan reformasi kurikulum menempatkan guru SD sebagai aktor kunci yang menjembatani kebijakan dan praktik pembelajaran harian. Pada level ini, guru bukan sekadar penyampai pengetahuan, melainkan pendamping perkembangan kognitif, sosial, dan moral yang membentuk budaya belajar jangka Regulasi nasional melalui Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 merumuskan empat ranah kompetensi yang wajib dimiliki guru mencakup kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian, sebagai dasar profesionalitas dan mutu praktik mengajar. Meskipun fondasi normatifnya jelas, bukti empiris menunjukkan kesenjangan kemampuan masih nyata di kelas. (Faridah et al. , 2. mengindikasikan bahwa sebagian guru belum menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran. Sulastri et al. , . menyoroti keterbatasan inovasi media yang mempertahankan pola pengajaran berpusat pada guru. Kebijakan Kurikulum Merdeka membawa tuntutan baru project-based learning. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1883 Systematic Literature Review: Problematika Kompetensi Guru Sekolah Dasar dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Ae Zulfahmi. Rita Kurnia. Muhammad Rayhan Afdi Ramadhan. Muhammad Dzakwan Khairi DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. diferensiasi, dan asesmen autentik yang belum seluruhnya dikuasai sebagaimana dicatat (Ain et al. , 2. luar aspek teknis, ranah kepribadian dan sosial memengaruhi iklim kelas: teladan guru berkorelasi dengan pembentukan karakter (Yati & Dewi, 2. , namun temuan Putri et al. , . mengingatkan masih adanya perilaku yang tidak sejalan dengan etika profesi. Intervensi eksternal berupa supervisi akademik potensial menjadi pengungkit refleksi praktik (Prastania et al. , 2. , tetapi implementasinya di lapangan sering Selain itu, ketimpangan fasilitas dan literasi TIK di wilayah perbatasan menimbulkan disparitas kualitas pembelajaran (Hermansyah et al. , 2. Di tingkat sistem, indikator internasional mempertegas urgensi penguatan kompetensi. PISA 2022 melaporkan capaian kemampuan minimum siswa Indonesia masih berada di bawah rerata OECD pada membaca, matematika, dan sains. pada domain creative thinking, proporsi capaian dasar juga belum merata (OECD, 2023, 2. Laporan UNESCO GEM 2023 menambahkan bahwa teknologi pendidikan hanya efektif bila disejajarkan dengan kebutuhan pedagogis dan kapasitas guru (UNESCO, 2. Pada horizon kawasan. SEA-TCF memberikan acuan kompetensi guru Asia Tenggara, sementara policy brief ASEAN mendorong literasi digital dan pengembangan profesional berkelanjutan (Mudduluru et al. , 2. Secara implisit, kombinasi temuan tersebut menempatkan kapasitas guru sebagai tuas perbaikan mutu yang paling dekat dengan ruang kelas. Kebaruan studi ini terletak pada cakupan dan kaitan sintesis. Berdasarkan penelusuran sistematis pada Scopus. ERIC. DOAJ, dan Google Scholar untuk periode 2017Ae2025, publikasi sebelumnya cenderung tematik, berbasis wilayah, atau berbentuk ulasan naratif yang tidak menautkan langsung kompetensi guru dengan indikator mutu pendidikan dasar. Sejauh pengetahuan penulis, belum tersedia SLR komprehensif pasca penerapan Kurikulum Merdeka yang memetakan hubungan problematika keempat dimensi kompetensi dengan kualitas proses dan hasil belajar di SD. Karena itu, penelitian ini mengisi celah dengan menyajikan peta bukti lintas-studi yang menautkan isu kompetensi ke indikator mutu secara eksplisit. Untuk memperjelas batas analitik, mutu pendidikan dasar dalam kajian ini dipahami sebagai konstruksi empat unsur: . kualitas proses instruksional. Mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen. capaian akademik dan keterlibatan belajar. lingkungan belajar. Baik iklim kelas, praktik asesmen autentik, maupun pemanfaatan TIK yang bermakna. keadilan layanan, seperti pengurangan disparitas antardaerah atau bahkan jenis sekolah. Kompetensi guru dirujuk pada empat ranah UU 14/2005, tetapi dibaca ulang dalam konteks kebutuhan aktual Kurikulum Merdeka: pengelolaan PBL, pembelajaran terdiferensiasi, asesmen formatif autentik, literasi digital, serta keteladanan yang konsisten. Metodologis, studi ini menerapkan Systematic Literature Review (SLR) dengan desain Kitchenham . dan pelaporan PRISMA 2020 untuk menjamin transparansi dan replikasi (StapiN et al. , n. Pencarian pada empat basis data, dilengkapi snowballing terbatas, menghasilkan 26 artikel terinklusi . 7Ae2. Validitas metodologis ditelaah melalui critical appraisal . MMAT) dan compliance pelaporan (Checklist PRISMA). Dua penelaah independen menjaga konsistensi seleksi dengan CohenAos , sementara perbedaan diputuskan melalui konsensus/arbiter. Data kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik (Braun et al. dengan perpaduan jalur induktif-deduktif tema muncul dari data tetapi diarahkan oleh kerangka empat kompetensi, sehingga sintesis tidak sekadar mendeskripsikan, melainkan menjelaskan hubungan kompetensi, mutu, dan menyarikan tuas kebijakan yang operasional. Dari landasan tersebut, penelitian menargetkan tiga keluaran: pertama, pemetaan problematika kompetensi guru SD pasca Kurikulum Merdeka pada empat ranah inti. kedua, penjelasan hubungan problematika tersebut dengan mutu pendidikan dasar lintas konteks. ketiga, identifikasi strategi peningkatan kompetensi yang paling menjanjikan bagi Indonesia, antara lain CPD berbasis kebutuhan . iferensiasi, asesmen autentik, literasi digita. , supervisi akademik reflektif yang berbasis bukti kelas, pendampingan sejawat di KKG, serta penguatan karakter profesional. Kontribusi ilmiah kajian ini adalah sintesis berkerangka yang Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1884 Systematic Literature Review: Problematika Kompetensi Guru Sekolah Dasar dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Ae Zulfahmi. Rita Kurnia. Muhammad Rayhan Afdi Ramadhan. Muhammad Dzakwan Khairi DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. mempertemukan literatur terfragmentasi ke dalam model hubungan kompetensiAemutu yang dapat diuji pada riset lanjutan. Kontribusi praktis diarahkan bagi pembuat kebijakan: perancangan road-map pelatihan berjenjang, transformasi supervisi dari administratif menjadi pengembangan praktik, dan kebijakan afirmatif untuk pemerataan TIK dan sumber belajar di wilayah 3T, selaras dengan agenda ASEAN dan rekomendasi global tentang pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab. Dengan menggabungkan novelty sintesis, gap analysis berbasis indikator internasional, serta rujukan kebijakan kawasan, pendahuluan ini memosisikan studi sebagai jembatan konseptual antara teori, kebijakan, dan praktik peningkatan mutu pendidikan dasar, sekaligus menyediakan landasan argumentatif bagi rekomendasi yang realistis untuk ruang kelas Indonesia. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) yang berlandaskan kerangka PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyse. dan panduan metodologis dari Kitchenham . Pendekatan ini digunakan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis hasilhasil penelitian terkait kompetensi guru sekolah dasar dan kaitannya dengan mutu pendidikan dasar(StapiN et , n. Tahapan pelaksanaan kajian meliputi: Identifikasi Literatur Artikel yang dikaji diperoleh melalui pencarian sistematis pada basis data jurnal nasional seperti Garuda. Google Scholar, dan ScienceDirect dengan rentang tahun 2017 hingga 2025. Kata kunci yang digunakan meliputi kompetensi guru sekolah dasar, profesionalisme guru, mutu pendidikan dasar, supervisi akademik, dan Kurikulum Merdeka. Seleksi dan Kriteria Inklusi Dari empat puluh tiga artikel yang ditemukan, dua puluh enam artikel memenuhi kriteria kelayakan berdasarkan relevansi topik, kesesuaian konteks, dan validitas metodologis. Artikel yang tidak memiliki dasar empiris atau hanya berupa opini konseptual dikeluarkan dari analisis. Analisis dan Sintesis Data Analisis dilakukan menggunakan pendekatan tematik sebagaimana dikemukakan oleh (Braun et al. , 2. Data dikelompokkan ke dalam empat dimensi utama: pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Triangulasi antar sumber digunakan untuk memastikan validitas hasil dan memperkuat konsistensi antar Penyusunan Model Konseptual Tahap terakhir adalah pengembangan model konseptual yang menggambarkan hubungan antara kompetensi guru, pembinaan profesional, dan mutu pendidikan dasar. Model ini menempatkan kompetensi guru sebagai variabel sentral yang dipengaruhi oleh sistem pembinaan, supervisi akademik, dan kebijakan pendidikan Studi ini disusun sebagai Systematic Literature Review (SLR) dengan merujuk pada pedoman Kitchenham . untuk perencanaan, mulai dari perumusan pertanyaan telaah, strategi pencarian, hingga rencana sintesis, dan mengikuti standar pelaporan PRISMA agar prosesnya transparan dan replikabel. Protokol kerja ditetapkan sebelum penelusuran dimulai dan terdokumentasi dalam audit trail yang memuat tanggal, versi, dan rasional perubahan kecil yang terjadi selama proses. Pertanyaan telaah difokuskan pada tiga hal: . problematika kompetensi guru sekolah dasar di Indonesia dalam empat dimensi. Yaitu pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian, yang dilaporkan oleh studi periode 2017Ae2025. hubungan problematika tersebut dengan mutu pendidikan dasar, misalnya kualitas pembelajaran, iklim kelas, atau hasil belajar. bentuk Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1885 Systematic Literature Review: Problematika Kompetensi Guru Sekolah Dasar dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Ae Zulfahmi. Rita Kurnia. Muhammad Rayhan Afdi Ramadhan. Muhammad Dzakwan Khairi DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. intervensi yang dilaporkan efektif atau menjanjikan untuk meningkatkan kompetensi guru pada konteks Indonesia kontemporer. Strategi pencarian dirancang dwibahasa dan dilaksanakan pada empat basis data yang umum digunakan di rumpun pendidikan Scopus. ERIC. DOAJ, dan Google Scholar dengan rentang tahun publikasi 2017Ae2025 agar mencakup fase pra dan pasca implementasi Kurikulum Merdeka. Kueri dibangun dari kombinasi kata kunci bebas, seperti kompetensi guru, teacher competence, sekolah dasar, primary or elementary. Indonesia. Merdeka Curriculum dan controlled vocabulary seperti ERIC Thesaurus. Pada Scopus, fokus penelusuran diarahkan ke kolom judul, abstrak, kata kunci. pada ERIC digunakan Descriptors yang relevan. pada DOAJ dan Google Scholar diterapkan penyaring tahun dan pengecualian citations/patents, dengan penelusuran hasil hingga kira-kira 10 halaman per kombinasi kueri untuk mengurangi search bias. Penelusuran dilengkapi snowballing terbatas ke belakang melalui daftar pustaka dan ke depan melalui sitasi, untuk menangkap artikel relevan yang mungkin luput oleh kueri awal. Seluruh kueri, tanggal akses, dan penyesuaian istilah dicatat dalam log Kriteria inklusi dan eksklusi ditetapkan sebelum skrining agar konsisten. Artikel diikutkan jika merupakan publikasi peer-reviewed yang meneliti guru sekolah dasar kelas 1Ae6 di Indonesia, membahas satu atau lebih dari empat kompetensi, menyajikan temuan empiris . ualitatif, kuantitatif, atau mixed method. , menyediakan teks penuh dalam Bahasa Indonesia atau Inggris, serta memuat indikator yang berkaitan dengan mutu pembelajaran atau hasil belajar. Artikel dikeluarkan jika berupa duplikasi, ulasan naratif/konseptual tanpa data, editorial atau opinion piece, konteks non-Indonesia atau jenjang non-SD, fokus pada selain kompetensi guru, atau tidak memaparkan metode secara memadai . isalnya tidak jelas desain, partisipan, atau prosedur Proses seleksi dilakukan oleh dua penelaah secara independen melalui empat tahap: deduplikasi. skrining judul dan abstrak. telaah teks penuh. dan keputusan inklusi akhir. Ketidaksepakatan diselesaikan lewat diskusi dan, bila diperlukan, melibatkan penelaah ketiga. Alur ini dilaporkan dalam Diagram PRISMA yang menampilkan jumlah rekod pada setiap tahap hingga menghasilkan total 26 artikel untuk sintesis. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil kajian menunjukkan bahwa kompetensi guru sekolah dasar memiliki hubungan langsung dan signifikan terhadap mutu pendidikan dasar (Sele et al. , 2. Kompetensi pedagogik terbukti menjadi dimensi paling berpengaruh dalam menciptakan pembelajaran yang efektif. (Faridah et al. , n. ) menjelaskan bahwa guru yang memahami karakteristik peserta didik, menguasai strategi pembelajaran variatif, dan mampu mengembangkan media belajar interaktif cenderung menghasilkan prestasi belajar yang lebih tinggi. Sebaliknya, guru yang kurang memiliki kemampuan pedagogik akan menjadikan proses belajar mengajar monoton dan tidak kontekstual. Aspek profesionalisme guru menjadi pilar penting dalam peningkatan mutu pendidikan dasar. (Meyvita et al. , 2. menyebutkan bahwa kompetensi profesional berhubungan erat dengan kemampuan guru memahami substansi keilmuan dan menyusun evaluasi pembelajaran secara objektif. (Wijaya, 2. menambahkan bahwa program pelatihan guru perlu diintegrasikan dengan pendampingan praktik agar pengetahuan teoritis yang diperoleh dapat diimplementasikan secara efektif di kelas. Kompetensi kepribadian dan sosial guru juga memainkan peran besar dalam membentuk ekosistem belajar yang positif. Sutrisna . menegaskan bahwa guru dengan kepribadian yang stabil dan empatik lebih mampu membangun hubungan interpersonal yang baik dengan siswa. Hal ini berdampak pada meningkatnya motivasi belajar dan disiplin siswa. Putri et al. , . menunjukkan bahwa pendidikan karakter di sekolah dasar akan berhasil apabila guru menjadi teladan moral dalam setiap tindakannya. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1886 Systematic Literature Review: Problematika Kompetensi Guru Sekolah Dasar dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Ae Zulfahmi. Rita Kurnia. Muhammad Rayhan Afdi Ramadhan. Muhammad Dzakwan Khairi DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Supervisi akademik terbukti efektif dalam meningkatkan profesionalisme guru apabila dilaksanakan secara reflektif dan kolaboratif. (Prastania et al. , 2. mengungkapkan bahwa supervisi yang berbasis dialog dan refleksi membantu guru memahami kekuatan dan kelemahannya. (Rizal et al. , 2. menambahkan bahwa supervisi kolaboratif dapat menumbuhkan semangat inovatif guru serta memperkuat iklim pembelajaran profesional di sekolah. Selain itu, hasil sintesis menunjukkan bahwa kebijakan peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dipisahkan dari dukungan kelembagaan yang kuat (Mauizdati. , 2. Pemerintah perlu memperkuat program continuous professional development yang tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi juga mencakup pendampingan dan evaluasi berkelanjutan. Pelatihan yang relevan dan berbasis kebutuhan nyata akan lebih efektif dibandingkan program seremonial yang tidak berdampak langsung pada praktik mengajar(Dwijendra. Konteks literasi digital juga menjadi tantangan sekaligus peluang bagi guru masa kini. (An et al. , 2. menemukan bahwa guru di wilayah perbatasan masih tertinggal dalam penggunaan media digital karena keterbatasan infrastruktur. Untuk itu, kebijakan pendidikan harus memberikan afirmasi berupa pelatihan literasi digital, penyediaan sarana, dan pembinaan teknis yang merata di seluruh daerah. Dengan demikian, pembahasan ini menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan dasar memerlukan sinergi antara faktor internal . ompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian gur. dan faktor eksternal . upervisi, kebijakan, dan literasi digita. Guru yang kompeten dan didukung sistem pembinaan yang baik akan mampu melahirkan proses pembelajaran yang inovatif, berkarakter, dan berkelanjutan (Nur et al. Pembahasan Kompetensi Pedagogik: Asesmen Formatif & Diferensiasi Pendekatan asesmen formatif yang kokoh menempatkan tujuan belajar secara eksplisit, menerjemahkannya ke indikator yang dapat diamati, lalu mengorkestrasi umpan balik yang spesifik, cepat, dan dapat ditindaklanjuti. Praktik seperti learning intentionAesuccess criteria, exit tickets, mini whiteboard checks, peer/self-assessment, dan rubrik deskriptif membantu guru membuat keputusan instruksional berbasis bukti, sementara siswa terdorong mengelola proses belajarnya (Black et al. , 1. Di SD, dampak paling terasa ketika siklus mini AudiagnostikIeumpan balikIetindak lanjutAy dipadukan dengan representasi visual sederhana untuk mereduksi beban kognitif. Ketika asesmen diposisikan sebagai alat berpikir alih-alih alat ukur, ritme kelas bergeser dari ceramah panjang ke siklus bukti-aksi yang kerap dan kecil, sehingga miskonsepsi dapat ditangani sebelum mengeras (Desimone, 2. Diferensiasi memperkuat efek asesmen formatif melalui penyesuaian konten, proses, dan produk dengan kesiapan, minat, dan profil belajar siswa. Namun literatur mengingatkan bahwa diferensiasi sering dioperasionalkan terlalu longgar sekadar variasi lembar kerja sehingga efeknya minor dan tidak konsisten (Smale-Jacobse et al. , 2. Agar berdampak, guru membutuhkan arsenal strategi berbasis data: tiered tasks dengan kriteria keberhasilan bertingkat, rotasi workshop untuk melayani kebutuhan berbeda, dan pemodelan metakognitif agar siswa memahami alasan penyesuaian. Pelatihan karenanya perlu menekankan desain bukti belajar yang informatif, scaffolding untuk mengelola tuntutan kognitif, serta re-teaching tertarget setelah analisis kesenjangan. Ketika FA dan diferensiasi berjalan koheren dengan tuntutan Kurikulum Merdeka . rojek/asesmen autenti. , peningkatan kualitas proses . eterlibatan, kejelasan ekspektas. lebih mudah terkonversi menjadi kemajuan hasil belajar (Darling-Hammond et al. , 2. Kompetensi Profesional: PD yang Berdampak & Instructional Coaching Pengembangan profesional (PD) yang efektif umumnya memiliki lima ciri: fokus konten, pembelajaran aktif, koherensi kebijakan-praktik, durasi memadai, dan partisipasi kolektif (Desimone, 2. Bukti dari Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1887 Systematic Literature Review: Problematika Kompetensi Guru Sekolah Dasar dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Ae Zulfahmi. Rita Kurnia. Muhammad Rayhan Afdi Ramadhan. Muhammad Dzakwan Khairi DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Teaching and Teacher Education/International Journal of Educational Research menunjukkan instructional coaching menggabungkan observasi, umpan balik berbukti, dan rencana aksi meningkatkan kualitas instruksi dan memberi efek positif berukuran sedang pada capaian siswa (Fletcher et al. , 2. Efek paling stabil muncul ketika PD ditanamkan ke siklus perencanaan-pengajaran-refleksi di PLC/KKG dan dipandu tujuan instruksional yang jelas (Robinson et al. , 2. Pada konteks Indonesia, desain PD yang realistis adalah bertahap dan berulang: . mikro-modul konten prioritas . iferensiasi, asesmen autentik, literasi digita. , . rehearsal strategi di lingkungan aman . , . co-planning berbasis kurikulum, dan . coaching kelas yang menyorot bukti konkret . ideo 5Ae 10 menit, artefak sisw. , lalu mengunci satu perubahan terukur per siklus. Pendekatan ini menggeser PD dari kepatuhan seremonial ke pembelajaran profesional yang menghantarkan perubahan perilaku instruksional. Kompetensi Sosial & Kepribadian: Iklim Kelas. Etos Profesi, dan Kesejahteraan Relasi antara guru dan siswa yang hangat, konsisten, dan terstruktur berasosiasi kuat dengan keterlibatan dan prestasi pada jenjang dasar (Roorda et al. , 2. Di sisi etos, teacher professionalism (Hargreaves, 2. memotret pergeseran dari praktik individual ke kolaboratif dan akuntabel. Kerangka reflective practice (Tondeur et al. , 2. ) menerangkan mengapa supervisi berbasis dialog dan bukti cenderung lebih transformatif ketimbang supervisi administratif: guru belajar in action dan on action lewat data kelas. Kesejahteraan sosial-emosional guru juga menentukan kualitas interaksi. PD yang memasukkan manajemen kelas dan social-emotional learning (SEL) cenderung memperbaiki iklim kelas (Jennings et al. , 2. Praktik keteladanan kepribadian kedisiplinan, integritas, dan empati tidak dapat digantikan oleh perangkat atau modul pelatihan semata. Ia dibentuk oleh budaya sekolah: norma kolegial, ekspektasi perilaku profesional, dan mekanisme saling jaga . eer accountabilit. Dalam konteks ini, kebijakan sekolah yang mendorong refleksi berjadwal, observasi sebaya, dan umpan balik dua arah menjadi wahana penumbuhan kebiasaan profesional yang lestari. Literasi Digital & TPACK: Penguat Implementasi Kurikulum Integrasi teknologi yang bermakna menuntut irisan TPACK konten, pedagogi, teknologi agar perangkat benar-benar mengubah kualitas kerja kognitif siswa (Engen, 2. Pada level tugas, misalnya projek sains yang meminta siswa mengumpulkanAemenganalisisAememvisualkan data lingkungan dengan alat digital dan mempresentasikan temuannya kepada audiens nyata. Di pendidikan guru, professional digital competence dibangun di dalam PPL/KKG, bukan lewat lokakarya teknis sesaat (Tondeur et al. , 2. Adopsi teknologi juga dimediasi oleh keyakinan tentang kemudahan dan kebermanfaatan (TAM), sehingga intervensi perlu menyasar dukungan teknis dan kepercayaan diri pedagogis serta budaya eksperimen (Venkatesh, 2. Pada wilayah dengan keterbatasan konektivitas, pendekatan low-tech/high-impact lembar kerja terstruktur yang dipindai/diunggah periodik, feedback audio singkat, offline-first apps dapat menjadi jembatan menuju integrasi penuh. Ketika strategi bertahap ini dipadukan dengan kepemimpinan instruksional yang menetapkan prioritas belajar jelas, literasi digital berfungsi sebagai penguat implementasi Kurikulum Merdeka, bukan sekadar simbol modernisasi. Supervisi Akademik & Kepemimpinan Instruksional Bukti menunjukkan kepemimpinan yang berfokus langsung pada kualitas pengajaran menetapkan tujuan belajar, memantau instruksi, dan membangun collective efficacy berkorelasi lebih tinggi dengan capaian siswa dibanding kepemimpinan administratif (Robinson et al. , 2. Dalam praktik, supervisi efektif memfasilitasi siklus ringkas: pre-conference . ujuan & kriteri. , observasi berfokus bukti, post-conference . mpan balik spesifi. , dan action plan yang realistis (Black et al. , 1. Di sinilah reflective practice bersua coaching: keduanya menjadi Aumesin penggerakAy perubahan mikro yang berulang dan terukur di kelas. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1888 Systematic Literature Review: Problematika Kompetensi Guru Sekolah Dasar dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Ae Zulfahmi. Rita Kurnia. Muhammad Rayhan Afdi Ramadhan. Muhammad Dzakwan Khairi DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Dukungan tingkat daerah/sekolah alokasi waktu kolaborasi, penjadwalan PLC/KKG, serta pelatihan supervisor menentukan keberlanjutan. Tanpa dukungan struktural, supervisi mudah kembali menjadi ritual administratif yang miskin dampak. Perbandingan Lintas-Negara & Lintas-Konteks Data internasional terbaru menunjukkan proporsi siswa Indonesia pada ambang minimum literasi/numerasi/sains masih tertinggal. capaian creative thinking pun belum merata (OECD, 2023. Sistem yang menempatkan penguatan kompetensi guru dan kepemimpinan instruksional sebagai prioritas misalnya Singapura dan Viet Nam, umumnya memiliki bagian siswa lebih besar di atas ambang minimum. dalam negeri, digital divide urban rural dan ketimpangan infrastruktur TIK menghambat integrasi teknologi yang adil. kebijakan afirmatif perlu memadukan konektivitas, perangkat, dukungan teknis berkelanjutan, serta remote coaching untuk wilayah 3T. Model Konseptual Model yang diusulkan memandang kompetensi guru sebagai input proksimal yang membentuk kualitas instruksi . ejelasan tujuan, scaffolding, interaksi bermakn. dan iklim kelas . ubungan, ekspektasi. Kedua mediator ini memengaruhi mutu pendidikan dasar, baik pada ranah proses . eterlibatan, asesmen autenti. maupun hasil . emajuan belaja. Efek diperkuat oleh mekanisme peningkat: coaching/supervisi reflektif dan PD yang memenuhi lima ciri efektif. Literasi digital/TPACK berperan sebagai penguat . bagi penerapan strategi kurikulum (PjBL, diferensiasi, asesmen formati. Hubunganhubungan tersebut dimoderasi oleh kepemimpinan instruksional, sumber daya, budaya kolaboratif, keyakinan guru, serta konteks wilayah . rban rura. Dengan demikian, mutu bukan semata fungsi kompetensi individual, melainkan hasil interaksi antara kompetensi dan ekologi sekolah. Konsistensi Bukti & Penilaian Kualitas Studi Temuan tentang instructional coaching dan relasi guruAesiswa relatif konsisten lintas desain dan sampel (Roorda et al. , 2. Sementara itu, bukti tentang diferensiasi dan adopsi TIK lebih heterogen karena variasi operasionalisasi dan keterbatasan desain kausal. generalisasi memerlukan kehati-hatian dan dukungan konteks waktu, materi, kepemimpinan, infrastruktur. Studi yang melaporkan instrumen, prosedur analisis, dan keterbatasan secara transparan memberikan dasar interpretasi yang lebih kuat selaras dengan prinsip critical appraisal dalam SLR. Implikasi Praktis Berbasis Literatur Bangun CPD berjenjang: mikro-modul konten Ie rehearsal strategi Ie co-planning kurikulum Ie coaching berbasis bukti Ie satu perubahan terukur per siklus. Standarkan siklus asesmen formatif: diagnostik awalAeumpan balikAetindak lanjut. latih self/peerassessment untuk menumbuhkan SRL. Integrasikan TPACK tugas-autentik: PjBL pengumpulan/analisis/presentasi data. kohor guru menyusun rubrik bersama. Ubah supervisi menjadi reflektif: indikator instruksional ringkas, observasi berbukti, post-conference fokus satu target perbaikan. Prioritaskan afirmasi wilayah: konektivitas sekolah, perangkat bersama, pusat layanan teknis daerah, dan remote coaching terjadwal bagi 3T. Indikator monitoring sederhana: proporsi kelas dengan tujuan eksplisit, frekuensi umpan balik formatif, intensitas coaching, kualitas artefak siswa, serta tren kemajuan formatif. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1889 Systematic Literature Review: Problematika Kompetensi Guru Sekolah Dasar dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Ae Zulfahmi. Rita Kurnia. Muhammad Rayhan Afdi Ramadhan. Muhammad Dzakwan Khairi DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. KESIMPULAN Berdasarkan telaah sistematis terhadap 26 publikasi . 7Ae2. , kajian ini menegaskan bahwa ketimpangan kompetensi guru sekolah dasar, meliputi ranah pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian secara nyata menurunkan mutu pendidikan dasar melalui dua koridor utama: kualitas instruksi yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen. Dan iklim kelas relasi, manajemen, dan keteladanan. Efek ini kerap diperburuk oleh supervisi yang masih administratif, keterbatasan sarana, serta literasi digital yang timpang Oleh karena itu, perbaikan perlu dirancang sebagai agenda berjenjang dan berkelanjutan: pengembangan profesional berbasis praktik yang memadukan pelatihan konten prioritas, instructional coaching, komunitas belajar guru, dan refleksi atas bukti kelas. kepemimpinan instruksional kepala sekolah yang memastikan siklus tujuan observasi umpan balik tindak lanjut. serta afirmasi sumber daya, khususnya untuk wilayah 3T, agar integrasi TPACK dan asesmen autentik berjalan merata. Keberhasilan strategi ini ditopang pengukuran sederhana namun bermakna frekuensi umpan balik formatif, intensitas coaching, kualitas artefak siswa yang memungkinkan pemantauan kemajuan di tingkat kelas dan sekolah. Selain mempersempit jarak antara standar kebijakan dan praktik, rancangan tersebut mendorong terbentuknya ekosistem pembelajaran yang bernilai dan kontekstual, di mana guru bertumbuh melalui siklus pembelajaran profesional yang terarah. Secara ilmiah, hasil kajian ini mempertegas tesis bahwa lonjakan mutu pendidikan dasar bergantung pada integrasi empat kompetensi guru dengan sistem pembinaan reflektif yang konsisten dan berbasis bukti. Secara praktis, temuan ini memberi rambu desain bagi pemerintah dan satuan pendidikan untuk memprioritaskan CPD kolaboratif bukan administratif, menajamkan supervisi menjadi dialog perbaikan instruksi, serta mengalokasikan dukungan digital secara berkeadilan agar transformasi kompetensi guru bermuara pada kenaikan nyata hasil belajar siswa. DAFTAR PUSTAKA