Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2021 Vol. Pusaran Ekonomi Covid Dengan Fungsi R12 dan R47 dalam Bahasa. Sastra. Seni. Terkait Sumber Jamak pada Refleksivitas Hahslm R Mochamad A* Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Jakarta Alamat Surel r12r47@yahoo. *Penulis Korepondensi Kata Kunci R12. R47. Abstrak Tujuan studi ini adalah untuk menganalisis fungsi R12 dan R47 dalam Bahasa, sastra, dan seni dengan pola ekonomi bayar makan sesuai makna ayat negasi dalam Quran Surat Adz-Dzariyat . :56 sesuai konsep ibadah 12 pada salat Jamak 12 yang terefleksivitasikan pada Hahslm 472319. Obyek penelitian ini adalah fungsi R12 dan fungsi R47, serta terjemahan Quran Surat Adz-Dzariyat . : 56 yang berbunyi wama kholaqtul jinna wal insa illa liyaAo budun. Studi literatur ini berdasarkan referensi kitab suci, jurnal, buku. Quran dalam Bahasa Arab asli dan terjemahan Bahasa Indonesia serta media elektronik lainnya. Metodologi yang digunakan adalah refleksivitas, similiraitas, dan dynivitas dengan pendekatan Hahslm 472319. Refleksivitas dilakukan dengan asumsi bahwa agama dan sains merupakan 1 variabel yang sama. Similaritas untuk mencari kesamaan antara obyek konsep dengan obyek kompleks. Dynivitas untuk merangkum elemen yang ada dalam sebuah himpunan untuk. Hasil yang diperoleh bahwa R12 menjadi model dasar bagi kesesuaian kalimat negasi dalam terjemahan QS. Adz-Dzariyat . :56 yaitu dan tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk ibadah. Kalimat ini dapat dianalogikan dengan model ekonomi makan dengan bayar berupa: Tidak aku makan kecuali dengan bayar. Di McD konsumen harus bayar dulu kemudian baru boleh makan, sedangkan di RmP konsumen bisa makan dulu setelah selesai baru bayar. Sesuai fungsi R47 terdapat persamaan antara R12 sederhana dengan R12* kompleks yang dapat ditransformasikan sebagai R47. Terdapat kesesuaian Bahasa dengan refleksivitas R12 pada R47 dengan kalimat negasi berupa prioritas keberadaan ibadah lebih dulu sebelum adanya penciptaan alam semesta termasuk bahasa, sastra, dan seni. Pendahuluan Kalimat negasi memiliki peranan penting dalam berkomunikasi karena memiliki unsur negasi atau penyangkalan ataujuga pengingkaran. Negasi merupakan suatu konsep yang universal. Negasi berfungsi untuk menyangkal atau mengingkari pernyataan lawan bicara yang dianggap keliru oleh pembicara itu sendiri. Dalam berkomunikasi, manusia menggunakan konstituen negatif sebagai alat yang paling efektif untuk menyangkal atau mengingkari sesuatu. Sebagai alat untuk menyangkal sesuatu, kehadiran konstituen negatif dalam suatu kalimat mengubah makna kalimat semula. Perubahan makna akibat hadirnya konstituen negatif sangat besar artinya karena perubahan itu dapat berarti pembatalan, penolakan atau peniadaan. Terdapat ayat yang memiliki indikasi tentang maksud atau tujuan penciptaan manusia. Indikasi tersebut antara lain termuat dalam ungkapan seperti al-ibadah ungkapan kata tersebut tertuang dalam beberapa ayat al-Quran. Ungkapan kata al-Ibadah beserta musytaq-nya dalam al-Quran terulang sebanyak 275 kali (M. Fuad Abdul Baqiy, t. :560-. Namun demikian, di sini hanya akan dipaparkan beberapa ayat yang paling relevan dengan pokok kajian. AOa on O O u UeOIA AuDan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-KuAy (QS Al- Dzariyat: . Kemudian pada ayat 56 surat Al- Dzariyat dijelaskan bahwa tujuan hakiki dari penciptaan jin dan manusia adalah dalam rangka berubudiyah kepada-Nya. Pada ayat sebelumnya diungkapkan bagaimana pengingkaran orang-orang Quraisy terhadap kerasulan Muhammad bahwa mereka menuding bahwa Muhammad adalah tukang sihir dan sebagainya. Hal itu bukanlah sesuatu yang baru, karena umat-umat sebelumnya juga berbuat serupa ketika menolak para nabi yang diutus. Lalu Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Negeri Jakarta 247 | R. Mochamad A Nabi Muhammad diajak untuk berpaling dari mereka serta hendaklah ia senantiasa berzikir, sebab itulah yang dapat mendatangkan manfaat bagi kaum beriman. Perkembangan science of reflexivity membentuk beberapa rumus dasar, yaitu Rumus R-12 dan Rumus R-47. Dua rumus ini bermula dari telaah kalimat negasi yang menyatakan AuTidak Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk ibadahAy. Dengan adanya dua kata negasi, yaitu tidak dan kecuali, menjadikan kalimat ini menyimpan makna ganda. Makna umum adalah mengikuti alur urutan kalimat dengan obyek pertama Jin dan Manusia yang dilanjutkan dengan obyek kedua yaitu ibadah. Dipakainaya kata AotidakAo dan AokecualiAo menjadi penegas bahwa tidak aka nada Jin dan Manusia kecuali ada ibadah. Kata negasi ini mengharuskan keberadaan ibadah lebih awal dibandingkan dengan kehadirran Jin dan Manusia. Kalimat sederhana dengan menghilangkan kata negasi menjadi AuAku ada ibadah dulu, kemudian menciptakan Jin dan ManusiaAy. Konsep ibadah yang sederhana harus ada dulu sebagai pola dasar bagi penciptaan yang lebih kompleks, seperti jin dan manusia. Kombinasi nomor surat dan nomor ayat dengan pola 5156 membentuk aljabar dalam dikali luar yaitu . berupa 6x2 di mana 11 akar digitnya 2, sehingga 6x2=12. Ibadah dengan konstanta 12 ini muncul dari kombinasi bilangan, sehingga dinyatakan sebagao persamaan R-12 AA. Rumus R-12 yang sinkron dengan ibadah dapat ditelusuri pada salat Jamak yang memiliki elemen 1 dan 2. Elemen 1 berasal dari bagian salat yang tidak bisa dijamak yaitu salat Subuh, sedangkan elemen 2 berasal dari bagian salat yang bisa dijamak yaitu salat Dzuhur Asar untuk salat petang, dan untuk salat malam yaitu salat Magrib Isa. Dalam Refleixivity Theory dijelaskan bahwa sumber obyek adalah R-12 berupa konstanta 12, maka reflexivity obyek juga harus berupa konstanta 12. Hanya saja, reflexivity 12 memiliki kelebihan berupa kompleksitas yang lebih beragam. Di kiri sebagai sumber 12, di tengah sebagai media, maka di kanan sebagai reflexivity adalah 12 dengan derivasi seperti 4 4 4. Hasil di sumber kiri akan sama dengan di bagian reflexivity kanan. Di kiri 12, di kanan 12, dimana makna 12* ini memberikan tambahan pengetahuan adanya rincian dengan pemisahan bagian yang lebih detil. Konstanta 12 yang dirinci menjadi 4 4 4 ternyata dapat dipecah lagi enjadi 4, 72, 319. Dimana 4 pertama sebagai dependent variable, 4 kedua sebagai independent variable dengan perkalian 7x2 diperolej data 14 . , dan 4 ketiga juga tentang independent variable dengan penjumlahan 3 1 9 beruap akar digit 13 yaitu 4. Terbnetuk kombinasi bilangan 472319 dengan menganbil representasi 1 dependent variable dan 1 independent variable, terfrasakan bilangan 47. Bilangan 47 ini merepresentasikan 472319 yang didefinisikan sebagai R-47. Metode Metode yang digunakan penulis dalam merumuskan nilai-nilai pendidikan Islam dalam al-Quran surat Al-Dzariyat ayat 56 dalam tentang tujuan pendidikan Islam. Metode seperti ini dapat juga disebut metode analisis isi . ontent analysi. Content analysis yaitu dilakukan dengan pemrosesan satuan dan kategorisasi dan penafsiran para mufassir. teknik keperluan mendeskripsikan secara objektif, sistematis dan generasi tentang sebuah teksa (Noeng Muhajir,1922:. Metode content analysis dapat digunakan dalam penelitian yang bersifat normative, misalnya mengenai teks al-Quran bersifat normative, misalnya penelitian mengenai teks al-Quran. Adapun metode ini dilakukan untuk mengetahui pemikiran para mufassirin mengenai al-Quran surat AlDzariyat ayat 56 tentang tujuan pendidikan Islam. Jenis data utama adalah dalam kualitataif adalah kata-kata atau tindakan-tindakan, sumbersumber data penulis, photo, dan dari keempat data tersebut. Dari keempat data tersebut yang dijadikan kajian dalam penelitian adalah data tertulis, yaitu data nilai-nilai edukatif yang terkandung dalam al-Quran, kitab-kitab tafsir . dan analisis ilmu pendidikan Islam. Sumber Data Sumber data yang digunakan sebagai bahan penelitian ini adalah data tertulis. yang dimaksud sumber data adalah objek dari mana data diperoleh (Suharsimi Arikunto,1973:. Sumber data dibagi menjadi dua yaitu data pokok . dan data penunjang . Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. | 248 Teknik Pengumpulan Data Dari penelitian ini, teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah studi kepustakaan . ibrary researc. Cik Hasan Bisri . 8:60-. mengemukakan bahwa penelitian normatif yang bersumber pada bahan bacaan dapat dilakukan dengan cara penelaahan studi kepustakaan. Dalam langkah ini, penulis menyalin data dari kitab-kitab mufassir dan catatan para ahli pendidikan yang terdapat dalam buku-buku, http, dan sebagainya. Teknik Analisis Data Karena penelitian ini penulis menggunakan data kualitatif, maka yang menjadi sumber pokoknya adalah al-Quran surat Al-Dzariyat ayat 56, buku-buku tafsir mengenai tujuan pendidikan Islam, bukubuku studi Islam dan yang berkenaan dengan buku tersebut. Hasil dan Pembahasan Nilai Edukasi Dalam Tujuan Penciptaan Manusia Tujuan penciptaan manusia yang pertama adalah untuk mengabdi dan menghambakan diri kepada Allah SWT . Tujuan ini mendidik manusia untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, karena ibadah dapat dikatakan sempurna apabila dilaksanakan atas dasar landasan iman kepadaNya. Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, maka semakin tinggi pula kualitas ibadah yang dilakukan. Allah SWT dan RasulNya memerintahkan seseorang untuk senantiasa meningkatkan dan memperbaharui keimanan, karena iman dapat mengalami pasang naik maupun pasang surut. Tujuan penciptaan manusia yang kedua adalah Allah menempatkan manusia sebagai khalifah fi al-ardh, yaitu manusia yang diberi derajat tinggi untuk mengatur, mengelola dan mengolah semua potensi yang ada dimuka bumi. Keadaan ini mendidik manusia untuk selalu berfikir kearah pengembangan pengelolaan seluruh potensi yang ada sehingga tercipta sumber daya manusia (SDM) yang professional. Terpilihnya manusia sebagai pemimpin di muka bumi mendidik mereka untuk memberikan takaran yang seimbang bagi manusia itu sendiri bahwa di satu sisi ia harus bertanggungjawab terhadap dirinya, masyarakat dan alam semesta, dan di sisi lain ia tidak dapat melepaskan dirinya sebagai hamba yang harus patuh terhadap cosmos Ilahiyyah (Armai Arief: 2005. Peran manusia sebagai hamba Allah SWT yang ditugaskan untuk menjaga kemaslahatan dan kesejahteraan dunia termasuk manusia . , mendidik mereka untuk bisa hidup bermasyarakat. Tarbiyah Ijtimaiyah . endidikan kemasyarakata. yang baik adalah orang yang selalu memperhatikan perasaan orang lain. Seorang muslim dalam masyarakat tidak dibenarkan menyakiti saudaranya walaupun hanya dengan menebar bau yang tidak enak. Ibnu Qayyim berpendapat, tidak cukup hanya tanpa menyakiti perasaan saja, seorang muslim harus mampu membahagiakan dan menyenangkan hati saudara-saudara di sekitarnya. Pemaknaan Ibadah Istilah hakikat familier dengan sebutan eksistensi dari sesuatu itu sendiri. Terlihat jelas dalam QS. Adz Dzariyat ayat . : . 58 yang menjelaskan bahwa hakikat Aoabd di sini lebih kepada akar kata abdi mengabdi dan sembah menyembah bukan tentang siapakah Aoabd, melainkan lebih kepada pekerjaan atau peran yang dijalani. Ditinjau dari siapakah hakikat Aoabd itu adalah siapa saja dan dari jenis apa saja penting mau menghamba atau tunduk kepada atasannya maka inilah yang disebut Aoabd. Sementara itu, hakikat yang mendalam dari Aoabd bisa diketahui dari tugasnya, inilah hakikat Aoabd yang sebenarnya. Insan adalah hamba Allah, datang dari Allah, pergi menuju Allah, hidup bersama Allah, beramal untuk Allah, berlindung kepada Allah, kembali kepada Allah. Munculnya kreativitas manusia untuk mengembangkan kemampuan dirinya disegala bidang. Dengan kemampuan mengendalikan nafs-nya, manusia akan menyadari keberadaan dirinya sebab jiwa . manusia untuk mencapai nafs muthmaAoinnah memerlukan latihan tertentu. Dalam agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. , ibadah merupakan sarana latihan bagi rohani, trutama ibadah yang langsung kepada Allah . , seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Keseluruhannya membuat jiwa . manusia dekat kepada Tuhan. Keadaan agar senantiasa dekat kepada Tuhan sebagai Dzat Yang Maha Suci akan mempertajam rasa kesucian seseorang. Hal-hal itulah yang semestinya dilakukan oleh manusia sebagai hamba ciptaan-Nya untuk mencapai pribadi 249 | R. Mochamad A yang sempurna. Sebab, dalam hidupnya manusia tidak akan kekal dan selanjutnya akan kembali kepada-Nya. Perintah Aoabd dengan perwujudan pengaplikasian ibadah, telah dituliskan dalam Al QurAoan secara Salah satu di antaranya terdapat dalam QS. Adz Dzaariyat . : . yang artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS. Adz Dzaariyat: Menurut tafsir Ibnu Katsir arti ayat tersebut adalah Aku ciptakan mereka itu dengan tujuan untuk menyuruh mereka beribadah kepada-Ku, bukan karena Aku membutuhkan mereka. Mengenai firman Allah TaAoala yang artinya AuMelainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Thalhah meriwayatkan dari Ibnu AoAbbas: Auartinya melainkan supaya mereka mau tunduk beribadah kepada-Ku, baik secara sukarela maupun terpaksa. Serta itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir. Sedangkan Ibnu Juraij menyebutkan: AuYakni, supaya mereka mengenal-Ku. Ay Masih mengenai firman-Nya yang artinya AuMelainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Ay Ar-RabiAo bin Anas mengatakan: AuMaksudnya tidak lain kecuali untuk beribadahAy. Bermula dari mufrodat ini ketemulah istilah Aoabd yang muncul dengan peran sebagai hamba yang hidup hanya untuk menghamba kepada Tuhan. Terlepas dari realita yang ada bahwa manusia hidup memebutuhkan aktifitas yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup, di sini Aoabd semua aktivitasnya hanya semata untuk menghamba kepada Tuhan. Dengan memerankan itu tadi maka Aoabd telah memenuhi nilai yang terkandung di dalam dirinya, yaitu menyembah kepad Sang Pencipta. Hanya Allah saja yang menciptakan dan memerintahkan. Hal yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan hal yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Seluruh makhluk takluk dalam genggaman Tuhan, dan Allah mempunyai hujjah atas mereka. ketika Allah tunjuki, maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya, dan ketika disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat Masyarakat sekarang ini kebanyakan adalah menjalankan ibadah hanya dengan sekedar menggugurkan kewajiban. Padahal tidak mereka sadari bahwa penciptaannya itu adalah dilahirkan sebagai seorang Aoabd. Sedangkan seorang Aoabd wajib memulai terlebih dahulu dan mereka harus mendaki ke atas, dengan ibadah lahirnya. Namun demikian ibadah lahir itu hanya sebagai perwujudan pengabdian kepada-Nya. Dengan melaksanakan mujahadah dan riyadhoh di jalan Allah. Mereka mensucikan diri baik lahir maupun batin dari segala kotoran bhasyariah yang menjadikanya terhalang wusul kepada Allah Rabbul AoAlamin. Dengan mujahadah tersebut, seperti orang melaksanakan meditasi, mereka berusaha mengembalikan seluruh kehendak hadis secara manusiawi untuk dipertemukan kepada kehendak Allah yang azaliyah. Apabila di dalam perjalanan itu Allah berkehendak membuka pintu hati hambaNya, maka kehendak-Nya yang azali itu diturunkan kebawah sehingga dua kehendak yang berbeda itu bertemu ditengah jalan. Kehendak yang satu mendaki dan kehendak yang satu menurun. Itulah jalan agar Aoabd dalam beribadah bias sampai pada tujuan sebenarnya tidak hanya sekedar ibadah di dunia saja. Seperti pada surat Adz Dzariyat, surat As SabaAo dan surat Al Kahfi terlihat jelas bahwa beribadah yang dilaksanakan adalah sangat berbau akhirat atau langsung tertuju pada Allah tanpa ada maksud lain. Dikatakan beribadah untuk akhirat adalah ketika tujuan dari ibadah itu tertuju pada tujuan hakikat dari ibadah itu sendiri yakni menyembah Allah dan dilaksanakan dengan benar serta semua anggota jiwa dan raga. Semuanya melaksanakan ibadah dengan tata cara masing-masing sehingga maksud dan tujuan ibadah sampai pada tujuannya. Ibadah terdiri dari ibadah murni . dan ibadah tidak murni . hoiru mahdha. Ibadah mahdhah adalah ibadah yang telah ditentukan oleh Allah, bentuk, kadar, atau waktunya, sepert shalat, zakat, puasa dan haji. Ibadah ghoiru mahdhah adalah segala aktivitas lahir dan batin manusia yang dimaksudkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hubungan seks pun dapat menjadi ibadah, jika itu dilakukan sesuai tuntunan agama. Nah, ayat diatas menjelaskan bahwa Allah menghendaki agar segala aktivitas manusia dilakukan demi karena Allah yakni sesuai dan sejalan dengan tuntunan petunjuk-Nya. Surat Adz Dzariyat ayat 56 itu menyingkap berbagai sisi dan sudut konseptual dan tujuan, yang semuanya tercakup oleh hakikat yang besar dalam Al QurAoan, yang dianggap sebagai batu fondasi di mana kehidupan berdiri. Sisi pertama dari hakikat ini adalah bahwa di sana terdapat tujuan tertentu dari keberadaan jin dan manusia, yang tercermin pada tugas. AoAbd yang melaksanakan dan menuanaikan tugas itu, berarti dia telah merealisasikan tujuan keberadaan di ciptakan ini. Makna ibadah yang menjadi tujuan keberadaan manusia atau yang merupakan tugas manusia adalah lebih luas daripada sekedar pelaksanaan simbol-simbol. Jelaslah bahwa tugas kekhalifahan Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. | 250 itu masuk ke dalam konsep ibadah. Dengan demikian, hakikat ibadah tercermin dalam masalah pokok berikut. Manusia yang hidup di dunia ini merasa bahwa keberadaannya itu bertujuan melaksanakan tugas dari Allah. Manusia datang untuk bangkit menaati Allah dan beribadah kepada-Nya. Tiada tujuan lain selain kepada-Nya, tiada tujuan selain itu. Yang da hanya ketaatan dan balasan yang diraihnya pada diri berupa ketenteraman dan keridhaan atas status dan amalnya. AoAbd yang menyukai keridhaan Allah dan pemaliharaan Allah, maka di akhirat dia menjumpai penghargaan, kenikmatan, dan karunia yang besar. Makna Ibadah Dalam Bahasa Karakteristik Aoabd menurut Departemen Agama R. I, berdasarkan tafsir yang dikeluarkan maka keterangan yang dapat diperoleh dari Aoabd dalam Surat Adz Dzariyat Ayat 56 karakteristiknya adalah baik jin atau manusia sebagai Aoabd senantiasa tunduk kepada peraturan Tuhan, merendahkan diri terhadap kehendak Tuhan dan menerima apa yang Allah takdirkan, karena mereka dijadikan atas kehendak Tuhan dan diberi rezeki sesuai dengan apa yang telah Tuhan tentukan. Karakteristik Aoabd menurut penafsiran Ibnu Kasir, berdasarkan tafsir yang dikeluarkan maka keterangan yang dapat diperoleh dari Aoabd dalam Surat Adz Dzariyat Ayat 56 karakteristiknya adalah baik jin atau manusia sebagai Aoabd mereka selalu mengakui kehambaan mereka kepada Allah, baik dengan sukarela maupun terpaksa serta mereka senantiasa mengenal Allah. Karakteristik Aoabd menurut penafsiran Quraish Shihab, berdasarkan tafsir yang dikeluarkan maka keterangan yang dapat diperoleh dari Aoabd dalam Surat Adz Dzariyat Ayat 56 karakteristiknya adalah baik jin atau manusia sebagai Aoabd senantiasa menghadapkan diri kepada Allah dengan seluruh gerak hati, gerak anggota badan, dan gerak kehidupan yang menjalankan tugas ibadah dan merangkap sebagai khalifah. Sementara itu, karakteristik Aoabd menurut penafsiran Sayyid Quthub, berdasarkan tafsir yang dikeluarkan maka keterangan yang dapat diperoleh dari Aoabd dalam Surat Adz Dzariyat Ayat 56 karakteristiknya adalah baik jin atau manusia sebagai Aoabd selalu melaksanakan menghamba secara lahiriah dan menghamba secara batiniyah baik yang bersifat ritual maupun non Tujuan penciptaan manusia yang ketiga adalah mengemban amanah, yaitu kesanggupan manusia memikul beban taklif yang diberikan oleh Allah SWT. Hal ini mendidik orang-orang beriman supaya selalu memelihara amanah dan mematuhi perintah tersebut. Amanah yang sudah ditetapkan tersebut agar ti- dak dikhianati, baik amanah dari Allah SWT dan RasulNya maupun amanah antara sesama manusia. Di samping itu, manusia juga dididik untuk bertanggung- jawab atas segala Karena kelak di akhirat akan dihisab untuk menerima imbalan pahala atau balasan Tak mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dan tak seorang pun lolos tanpa pembalasan (Aisyah Bintu Syati, 1999:. Diagram 1. Kalimat negasi dan analogisme Sumber: Analisis, 2021 Diagram 1 menunjukkan bahwa dalam kalimat tersebut terdapat 2 kata negas yang terdiri dari tidak dan kecuali. Kata negasi perama yaitu tidak memberikan makna bahwa aku tidak menciptakan jin dan manusia. Dari sintaksis pada kalimat pertama ini menyebutkan bahwa subyek tidak menciptakan obyek, sehingga ada anak kalimat sebagai pembalik dari kalimat pertama ini. Pada sintaksis anak kalmiat kedua bahwa kecuali untuk ibadah. Maksud dari anak kalimat tersebut menyatakan bahwa ada pengecualian dalam penciptaan pada kalimat negasi pertama. Pengecualian ini bermakna semua tidak akan diciptakan dengan syarat bahwa harus ada ibadah dalam proses kalimat utuh tersebut. 251 | R. Mochamad A Ulama dan ahli tafsir Sebagian besar mengartikan kalimat negasiini pada urutan kata saja. Pakar Quran juga kurang meneliti bentuk kalimat sintaksis tersebut. Kalimat tanpa kata negasi akan lebih mudah dimaknai sesuai dengan subyek, predikat, dan obyek serta urutan dari obyek pada anak Dengan adanya 2 kata negasi dalam kalimat, sebaiknya dicermati lebih karena mangandung makna ganda untuk menegaskan adanya perubahan dalam obyek atau anak kalimat. Kalimat sintaksis dengan 2 kata negasi dapat diartikan sebagai kalimat positif karena dengan adanya 2 kata negasi akan bermakna positif. Sesuai dengan logika matematika bahwa negative dikali negative sama dengan positif. Logika ini juga berlaku dalam Bahasa Indonesia dengan kalimat 2 kata negasi pada kata tidak dan kecuali. Secara langsung, isi kalimat bisa dituliskan Kembali dengan menghilangkan 2 kata negasi tersebut, karenalogika negative bertemu dengan negative menjadi Untuk mempermudah pemaknaan kalimat, perlu dibuat analogi dari kalimat yang diteliti. Kalimat ini merupakan aktivitas yang sering terjadi dalam kehidupan masyarakat sehingga dapat langsung Kalimat tersebut adalah, tidak aku ciptakan kopi kecuali untuk tamu. Struktur subyek, predikat, dan obyek pada kalimat analogisme ini sama persis degan kalimat yang diteliti yaitu tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk ibadah. Frasa kata dari tidak aku ciptakan identik antara kalimat yang diteliti atau kalimat pertama dengan kalimat analogisme atau kalimat kedua. Obyek 1 pada kalimat pertama yaitu jin dan manusia diganti dengan kopi pada kalimat kedua. Kata negasi kecuali untuk antara kalimat ke-1 dan ke-2 identik atau tidak ada perubahan. Perubahan terjadi pada obyek 2 pada kalimat pertama yaitu kata obadah yang berganti menjadi kata tamu. Semua obyek dalam kalimat pertama dan kedua dikatagorikan sebagai kata benda, walaupun ibadah dapat dikatagorikan sebagai kata kerja. Urgensi dari penyamaan semua obyek ini ke dalam kata benda bertujuan untuk melihat urutan prioritas dalam kalimat. Diagram 2 Analogisme Kalimat Negasi Sumber: Analisis, 2021 Kalimat analogisme yang merupakan similaritas dari kalimat inti, dicari yang lebih simpel. Tanpa harus memahami bentuk sintaksis dalam kalimat negasi, kalimat ke-2 sebagai analogi akan mudah Makna kalimat tidak aku ciptakan kopi kecuali untuk tamu menyatakan bahwa subyek sku akan membuat kopi, setelah tamu hadir dan tampak secara fisik. Aktivitas keseharian umat yang bersilaturahim memiliki proses berkumpul dan disuguhi minuman. Urutan yang wajar sesuai dengan prioritas kejadian adalah berkumpul dulu berupa proses tamu hadir di lokasi penerima tamu. Setelah tamu hadir dan berkumpul maka tuan rumah sebagai penerima tamu baru akan menyediakan minuman sebagai kesantunan dalam bermasyarakat. Memang ada proses yang dapat dibalik seperti penerima tamu seudah menyediakan minuman di majwa yang sudah disediakan untuk tamu walaupun tamu belum hadir. Hal ini tetap berlaku adanya tamu yang sudah hadi rdalam bentuk konfirmasi kehadiran, sehingga secara normative tetap sekuen yang terjadi adalah tamu duluan kemudian disusul dengan minuman kopi. Pada diagram 2 yang memodifikasi kalimat dengan menghilangkan kata negasi tidak dan kecuali, tertulis kalimat aku punya tamu kemudian aku ciptakan kopi. Dalam kalimat analogisme ini, terbaca bahwa subyek aku menerima tamu lebih awal sebelum membuat kopi. Makna lain dari kalimat ini adalah subyek aku tetap menciptakan kopi walaupun tamunya tidak jadi hadir. Pada kalimat ini tidak ada penegasan bahwa tamu harus adad ulu sebelum kopi dibuat. Tamu boleh hadir atu boleh juga tidak hadir tetapi aku akan tetap membuat kopi. Pada diagram 1 bahwa tidak aku ciptakan kopi kecuali untuk tamu menyimpan makna tegas bahwa harus ada tamu dulu sebelum kopi dibuatkan. Jika tamu tidak hadir maka kopi tidak akan pernah dibuato oleh aku. Jelas bahwa obyek tamu wajib hadir lebih awal, karena keberadaan obyek tamu ini merupakan urutan yang harus dilalui sebelum melanjutkan pada sekuen obyek yang berikutnya yaitu membuat kopi. Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. | 252 Pemahaman dalam kalimat negasi analogisme ini akan merubah konsepsi masyarakat terhadap keberadaan obyek 1dan obyek 2. Secara kasat mata dan literal, sekuen obyek terbaca kopi lebih awal dibandungkan tamu yang muncul terakhir pada urutan obyek dalam kalimat. Dalam kehidupan nyata makna kalimat analogisme ini adalah kopi memiliki tujuan sebagai hidangan bagi tamu. Hal ini tidak salah dalam penagsiran dari sekuen munculnya obyek. Tetpai dalam bermasyarakat tujuan diciptakannya kopi bukan hanya untuk tamu, dapay juga bagi kebutuhan lain seperti untuk menghilangkan bau. Nuansa kalimat negasi tidak aku cuptakan kopi kecuali untuk tamu beruap kewajiban keberadaan tamu. Fungsi tamu bukan sebagai munculnya kopi, tetapi fungsi tamu sebagai obyek 1 untuk dimunculkannya obyek 2 yaitu kopi. Masyarakat muslim lebih memahami bahwa tujuan diciptakannya kopi hanyalah untuk tamu dengan mengabaikan adanya 2 kata negasi tersebut. Penggunaan 2 kata negasi tersebut menyimpan makna bersayap selain dari makna arus utama yang menyatakan sekuen pertama adalah aku menciptakan kopi. Kemudian sekuen kedua, tujuan dari kopi adalah untuk tamu. Secara sekuensial pemahaman ini benar, tetapu secara sintaksis negasi maka terdapat kekurangan daam pengartian secara mehyeluruh pada kalimat negasi ini. Analisis analogisme di atas berlaku juga pada kalimat inti dengan menghapus 2 kata negasi tidak dan kecuali. Arti yang dihasilkan pada kalimat aku ciptakan jin dan manusia untuk ibadah, akan langsung sesuai denga nisi kalimat tersebut. Subyek aku melakukan sekuen pertama yaitu menciptakan jin dan manusia, sehingga sekuen 1 adalah obyek jin dan manusia. Selanjutnya setelah melewati obyek 1, sekuen kedua adalah masuk ke obyek 2yaitu ibadah. Jadi, dalam kalimat inti yang dimodifikasi ini, akan menjalankan obyek 1 kemudian obyek 2. Tidak ada perbedaan antara kalimat inii modifikasi dengan makna dari sekuen pada kalimat tersebut. Umat muslim akan menerima pemaknaan dari model kalimat modifikasi tersebut karena tidak memerlukan pemikiran lebih dalam dan tidak juga perlu kalimat analogi yang lain untuk kebutuhan Jika umat muslim menyepakati pernyataan bahwa tujuan aku menciptakan jin dan manusia adalah untuk ibadah, hal ini mudah dimengerti karena lebih simpel untuk dibandingkan antara isi kalimat dengan makna yang dinyatakan. Perbandingan dengan logika berpigik bahwa jika A menciptakan B untuk C. kalimat logika ini dapat mudah dipahami menjadi tujuan A menciptakan B adalah untuk C. sederhana dan akurat, dimana A bersanding dengan A. B dengan B, dan C dengan C. Kalimat logisme negasi yang lain, tidak A menciptakan B kecuali untuk C, dapat dimaknai lain yaitu sesuai dengan kalimat logisme dengan menghilangkan 2 kata negasi tidak dan kecuali menjadi kalimat seperti ini A mencipatakn B untuk C. Argumentasi yang dibangun karena sesuai dengan logika matematika jika negative ketemu negative akan menjadi positif. Dalam persama matematika dapat ditulis sebagai fungsi: (-)x(-)=( ). Makna yang lebih dalam dan memerlukan kalimat analogisme sebagai pembanding \, lebih membuat penjelasan makin kompleks dan berjenjang. Pemahaman analogisme pada kalimat logika negasi berupa, tidak A menciptakan B kecuali C, dalam kalimat analogi berupa, tidak aku menciptakan kopi kecuali untuk tamu, perlu argumentasi dan kesesuaian dengan kenyataan di Dengan notasi A. C masuk dirasakan sulit untuk menentukan akurasi makna kalimat Analogisme notasi dengan kebiasaan masyarakat akan menjadi lebih mudah dipahami bahkan oleh masyarakat awam sekalipun. Pergantian A. C dengan aku, kopi, tamu nebhadu pembanding dalam makna bersayap pada kalimat negasi tersebut. Hasl yang diperoleh bahwa A punya C dulu kemudian diciptakan B. dalam pergantian notasi masyarakat bahwa aku punya tamu dulu kemudian diciptakan kopi. Sesuai dengan urutan kata, bahwa A punya C, menciptakan B. notasi masyarakat menjadi, aku punya tamu menciptakan kopi. Makna bersayap lain dengan tetap memerlukan 2 kata negasi, aku kecuali untuk tamu tidak menciptakan kopi atau A kecuali C tidak menciptakan B. Kalimat ini berisi 2 kata negasi yang merupakan kalimat bersifat pasti dan tidak memiliki makna Kepastian makna kalimat inti ini merupakan refleksivitas dari maksud dicantumkannya 2 kata negasi dalam kalimat tersebut. Makna umum yang sudah beredar di masyarakat bahwa, aku menciptakan jin dan manusia memilik tujuan untuk ibadah, perlu diverifikasi kembali. Cara memverifikasinya debfab cara melontarkan pertanyaan mengapa sekuen kalimat aku menusia ibadah ini harus menggunakan 2 kata negasi tidak dan kecuali. Pertanyaannya berupa mengapa pengajuan kalimat ini tidak menggunakan kalimat efektif seprti biasanya saja. Jawaban dari pertanyaan ini, karena Tuhan berkehendak untuk memastikan bahwa ada alur proses penciptaan manusia yang tidak dapat dibantah. 253 | R. Mochamad A Dapat juga Tuhan berkeinginan untuk menyimpan makna hakiki dari ayat ini, sambal menunggu kesiapan umat untuk bisa menerima makna yang lebih dalam dengan kondisi peradaban yang lebih Umat Islam secara peradaban sudah merata tingkat kemajuan pendidikannya dengan adanya teknologi dan informasi. Ditambah dengan kondisi pandemic global yang mempercepat proses digitalisasi di semua bidang termasuk umat Islam ditarik untuk berinteraksi intensif dengan teknologi Penggunaan system informasi dan tenologi membuat literasi menjadi lebih tersebar tanpa harus terkena resiko penyebaran Covid. interaksi dengan Islam dan ilmu pengetahuan dapat terus berlangsung walaupun situasi ekonomi sedang krisis sekalipun. Kalimat inti yang dimodifikasi pada diagram 2, berisikan kalimat tanpa 2 kata negasi, sehingga berisi aku ciptakan jin dan manusia untuk ibadah. Makna langsung dari kalimat ini sederhana dan mudah dipahami. Perpindahan urutan obyek menjadi berubah saat kalimat ini tetapu sesuai aslinya dengan adanya 2 kata negasi berupa tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk ibadah. Pemahaman secara sintaksis dalam kalimat negasi dilakukan dalam 2 tahap, pertama obyek ibadah pindah dari obyek ke-2 menjadi obyek ke-1, kedua menghilangkan 2 jata mnegasi tidak dan kecuali. Kalimat yang terbentuk adalah, aku punya ibadah kemudian diciptakan jin dan manusia. Sekuen kejadin ini lebih logis dan sesuai dengan logika berpikir manusia. Walaupun dapat saja Tuhan melewati proses normal yang bisa diterima akan mansuai dengan Kun Fayakun, tetpau untuk kekonsistenan maka sekuen tersebut dinyatakan dalam ayat tersebut sebagai bagian dari sunatullah atau kejadian yang dapat terjadi secra logis. Dengan lebih dulu adanya ibadah sebelum jin dan manusia, akan merubah paradigma dalam konsepsi kehidupan. Ibadah dalam ayat merupakan desain awal dalam penciptaan. Artinya Tuhan memiliki desain dasar sebelum alam semesta ini terbentuk sama sekali. Secara harfiah dapat disebutkan, saat hanya ada Tuhan dan masih kosong semuanya ternyata Tuhan sudah memiliki konsep desain dasar ibadah. Berdasarkan desain awal ibadah tersebut, selanjutnya Tuhan menciptakan jin dan manusia. Jadi, di dalam penciptaan jin dan manusia tersimpan desain dasar ibadah, sehingga ibadah selain sebagai tujuan ternyata tersimpan dalam struktur badan jin dan Manifestasi dari makna ini disimpan dalam ayat dengan penegasan adanya 2 kata negasi Makna tidak akan diciptakan jin dan manusia kecuali untuk ibadah, menyiratkan arti bahwa Tuhan sudah punya desain awal ibadah sebelum jin dan manusia diciptakan. Penciptaan struktur badan jin dan manusia berdasarkan desain dasar ibadah. Desain ibadah tersebut merupakan konstanta yang tidak bisa berubah dan menjadi elemen dasar bagi perkembangan ilmu pengetahuan maupun manusia serta alam semesta selanjutnya. Blueprint ibadah ini seperti analogi pada denah rumah atau blueprint rumah oleh seorang arsitek yang akan membangun rumah. Pada awalnya hanya ada seorang arsitek, kemudian arsitek ini pertama kali akan membuat blueprint rumah terlebih dahulu, dan belum memulai membuat rumah. Setelah blueprint rumah selesai maka dilanjutkan dengan aktivitas membangun rumah oleh arsitek. Dengan similaritas dari proses arsitek tersebut yang berpola yaitu arsitek, blueprint, dan rumah, maka makna ibadah dalam kalimat negasi tersebut juga dapat dicerminkan seperti sekuen ini. Sebelum jin dan manusia dibuat, sang pencipta yaitu Allah telah membuat blueprint ibadah terlebih Pola sekuen yang sama menjadi Allah, ibadah, dan manusia. Blueprint ibadah yang muncul adalah berupa konstanta yang tetap, yaitu tetapan 12. Dua belas ini berasal dari makna bahwa ibadah yang utama dalam Islam adalah salat. Salat terdiri dari 17 rakaat sehari semalam. Enkripsi tujuh belas ini ternyata tersimpan dalam ayat ibadah tersebut dengan menghitung jumlah semua nomor surat dan nomor ayatmya yaitu 5 1 5 6=17. Sedangkan konstanta 12 atau bisa juga disebut satu dua merupakan refleksivitas dari model salat jamak yaitu 1 salat subuh, 2 salat jamak . amak duhur asar, jamak magrib is. Kehadiran konstanta 12 ini diperkuat dengan adanya kode surat pada QS. Adz-Dzariyat 51. 56 ini dengan aritmatika sederhana berupa penjumlahan dalam dan penjumlahan luar. Bilangan luar dari 5156 adalah 5 . dan 6 . , dan penjumlahan sederhana dari 5 dan 6 yaitu 5 6 menjadi 11 dimana 5 6=11. Bilangan 11 . ini memiliki digital root yaitu 1 1 =2, dimana 2 merupakan salat Subuh yang tidak masuk dalam salat yang dapat dijamak atau digabungkan. Bilangan dalam dari 5156 adalah 15 . ima bela. dan bilangan ini merupakan penjumlahan dari semua salat yang dapat dijamak yang terdiri dari salat Dzuhur Asar . serta salat Magrib dan Isa . Total dari salat jamak yaitu 8 7=15 yang sama dengan bilangan dalam dari ayat ibadah ini. Jadi, dalam ayat ini tersimpan konstanta 12 yang menjadi symbol dari blueprint ibadah sebelum jin dan manusia diciptakan. Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. | 254 Makna dari ibadah lebih ada dulu dibandingkan manusia memberi pengertian bahwa di dalam diri manusia tersusun dari elemen-elemen ibadah. Karena dasar awal pembentukan manusia ada di blueprint ibadah tersebut, yang disimbolkan dengan konstanta dua belas atau salat. Di dalam diri manusia juga ada susunan-susunan bentuk 12 karena merupakan refleksivitas dari blueprint tersebut. Diantara bentukan konstanta yang muncul di dalam diri manusia ini, dapat dilihat pada telapak tangan manusia bagian dalam atau bagian bawah . ang lebih cera. Di tangan kanan manusia pada keadaan terbuka, akan terlihat garis 1 terpisah dengan 2 garis di belahnya. Garis pertama ini merupakan representasi dari angka 1. Sedangkan 2 garis lagi dapat membentuk angka 2 arab sepeti huruf r kecil dan 2 garis ini merupakan representasi dari angka 2. Gabungan dari angka 1 dan angka 2 dapat membentuk bilangan 12, dimana 12 merupakan bilangan konstanta yang ditemukan pada makna ayat ibadah. Jadi, di dalam diri manusia juga tersimpan konstanta 12 untuk mengingatkan manusia bahwa asal usulu manusia diciptakan didasarkan pada pondasi ibadah. Simpulan Sintaksis kalimat negasi tidak dan kecuali menyumpan 2 makna yaitu pertama untuk memindahkan obyel dan kedua memberikan makna penegas. Kalimat tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk ibadah memberikan arti bahwa obyek ibadah sudah ada lebih dulu sebelum ada jin dan manusia serta desain awal penciptaan adalah ibadah. Manusia diciptakan Allah SWT bertujuan di antaranya adalah untuk beribadah kepada-Nya dan menjadi khalifah Allah SWT di muka bumi (Khalifah Allah fi al-Ard. Dalam menjalankan kedua misi tersebut, manu- sia juga diberi beban yang cukup berat, yaitu berupa al-amanah atau beban takhlif. Semua itu akan dipertanggung- jawabkan di hadapan Allah SWT berupa pahala dan dosa atau balasan syorga dan neraka sesuai dengan kadar al-ibadah, al-khalifah dan al-amanah yang ia lakukan selama hidup di dunia. jin dan manusia hidup diantara diemnsi yang berbeda. Dalam al-QurAoan dijelaskan manusia tidak bisa melihat jin, tetapi kedua makhluk ini bisa menjalin komunikasi karena ada penjelsan dalam-al-QurAoan tentang peristiwa terjalinnya komunikasi baik itu peristiwa ketika jin belajar al-QurAoan kepada Nabi Muhammad mapun peristiwa yang dilakukan orang-orang dahulu meminta pertolongan jin bahkan ada sebagaian kelompok yang menyembah jin. Daftar Rujukan Al-Hafidz. Kamus ilmu Al QurAoan. Jakarta: Amzah. Fajri. , & Senja. Kamus lengkap bahasa Indonesia. Semarang: Difa Pubisher. Ghazali. Percikan samudra hikmah: Syarah Hikam Ibnu AthoAoillah As-Sakandari. Jakarta: Prenada. Hajjaj. Tasawuf Islam dan akhlak. Jakarta: Amzah. Harahap. , & Nasution. (Ed. Ensiklopedi aqidah Islam. Jakarta: Kencana. Hawwa. Al Mustakhlas fi Tazkiyatil Anfus. Solo: PT Era Adicitra Intermedia. Shihab. Membumikan Al-QurAoan: Fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan masyarakat. Bandung: Mizan. Sumanta. Manusia dan hirarki pengetahuan: Pemaknaan komprehensif terhadap konsep IqraAo dalam Al-QurAoan. Yogyakarta: Diandra. Supriyatmoko. Relasi manusia dan alam dalam perspektif Al- QurAoan. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga. Taulekan. , dkk. Ahklak tasawuf. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press.