E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif KUALITAS HIDUP PADA PASIEN ANSIETAS DITINJAU DARI TERAPI NEUROFEEDBACK DAN DUKUNGAN SOSIAL DI RSJ MARZOEKI MAHDI Claresta Hasna Kamilah1 . Rilla Sovitriana2 Universitas Persada Indonesia Y. Jl. Pangeran Diponegoro No. Jakarta clarestahasna@gmail. com1, rilla. sovitriana@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas hidup ditinjau dari pasien ansietas yang diberi treatment neurofeedback dan yang tidak diberi treatment neurofeedback serta menguji hubungan dukungan sosial dengan kualitas hidup pasien ansietas di RSJ Marzoeki Mahdi Bogor. Populasi penelitian ini adalah pasien ansietas yang dirawat di RSJ Marzoeki Mahdi Bogor. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari dua kelompok, yaitu pasien yang menerima treatment neurofeedback dan pasien yang tidak menerima treatment neurofeedback, dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala Likert untuk mengukur kualitas hidup dan dukungan sosial. Ada perbedaan perbedaan dari kualitas hidup ditinjau dari pasien ansietas yang mendapat treatment neurofeedback dan yang tidak di RSJ Marzoeki Mahdi. Berdasarkan hasil analisa data penelitian diperoleh . sebesar 09,279 dan p < 0,05. Artinya, bahwa pasien ansietas yang mendapat terapi neurofeedback akan memiliki kualitas hidup yg baik. Ada hubungan dukungan sosial dengan kualitas hidup pada pasien ansietas di RSJ Marzoeki Mahdi Bogor, maka diperoleh r sebesar 0,978 dan p < 0,05. Artinya, semakin tinggi dukungan sosial yang diterima pasien maka semakin baik kualitas hidup pasien ansietas yang didapat. Kata Kunci: Neurofeedback. Ansietas. Kualitas Hidup. Dukungan Sosial ABSTRACT This study aims to compare the quality of life of anxiety patients who received neurofeedback treatment with those who did not, and to examine the relationship between social support and the quality of life of anxiety patients at Marzoeki Mahdi Hospital in Bogor. The population of this study consists of anxiety patients treated at Marzoeki Mahdi Hospital. The sample in this study consists of two groups: patients who received neurofeedback treatment and patients who did not, using a purposive sampling technique. Data were collected using a Likert scale to measure quality of life and social support. There is a difference in the quality of life between anxiety patients who received neurofeedback treatment and those who did not at Marzoeki Mahdi Hospital. Based on the data analysis results, a t-value of 09. and a p-value < 0. 05 were obtained, meaning that anxiety patients who received neurofeedback therapy had a better quality of life. There is a relationship between social support and quality of life in anxiety patients at Marzoeki Mahdi Hospital in Bogor, with an r-value of 0. 978 and p < 0. 05, meaning that the higher the social support received by patients, the better the quality of life of anxiety patients. Keywords: Neurofeedback. Anxiety. Quality of Life. Social Support Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 PENDAHULUAN Kualitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kesehatan fisik, keadaan psikologis, tingkat kemandirian, hubungan sosial, dan hubungan dengan lingkungannya. Kesehatan fisik mencakup kondisi kesehatan umum, tingkat energi, dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Keadaan psikologis mencakup aspek emosional seperti perasaan bahagia, kecemasan, dan depresi. Hubungan sosial meliputi dukungan dari keluarga, teman, dan komunitas. Faktor lingkungan mencakup kondisi tempat tinggal, keamanan, dan akses terhadap layanan kesehatan dan fasilitas umum. Kualitas hidup diartikan sebagai persepsi individu tentang posisi mereka tentang kehidupan yang dilihat dari konteks budaya dan sistem nilai dimana mereka tinggal serta hubungannya dengan tujuan, harapan, standar dan hal-hal lain yang menjadi perhatian World Health Organization atau organisasi kesehatan dunia mendefinisikan kualitas hidup sebagai cara seseorang memandang posisinya dalam konteks budaya, kehidupan, dan sistem nilai tempat mereka tinggal, serta hubungannya dengan tujuan, harapan, standar, dan keinginan yang (WHO, 2. Kecemasan dapat memiliki dampak yang signifikan pada kualitas hidup seseorang. Pasien ansietas sering kali mengalami gejala yang mengganggu seperti kekhawatiran yang berlebihan, ketegangan, atau kecemasan yang kronis, yang dapat mengganggu kemampuan mereka untuk menikmati kehidupan sehari-hari. Aspek penting dari emosi adalah pengaruhnya terhadap selektivitas perhatian. Orang yang mengalami ansietas cenderung fokus pada hal-hal tertentu di lingkungannya dan mengabaikan yang lain, berusaha membuktikan bahwa kekhawatiran mereka Jika mereka salah dalam membenarkan ketakutan tersebut, mereka akan memperparah ansietas melalui respons selektif, menciptakan lingkaran setan berupa distorsi persepsi dan peningkatan ansietas. Sebaliknya, jika mereka salah menenangkan diri dengan DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif pikiran selektif, ansietas yang sebenarnya mungkin berkurang, tetapi mereka bisa gagal Masalahnya adalah, tingkat kecemasan yang tinggi dapat mengurangi kapasitas seseorang untuk berpikir, merencanakan, dan melakukan tugas-tugas kompleks yang diperlukan dalam situasi sulit. Ini adalah kondisi normal jika Namun, penderita gangguan kecemasan seringkali mengalami ketakutan dan kekhawatiran yang berkelanjutan. Untuk mengatasi gangguan kecemasan, berbagai metode terapi telah dikembangkan, termasuk terapi neurofeedback. Neurofeedback merupakan teknik terapi yang menggunakan perangkat elektronik untuk mengukur aktivitas otak dan memberikan umpan balik secara real time kepada individu. Tujuannya adalah untuk melatih otak agar mencapai fungsi yang lebih optimal. Dengan harapan, terapi neurofeedback ini dapat membantu mengurangi gejala kecemasan dengan meningkatkan regulasi diri dan stabilitas emosional (NE Mutawakkil, 2. Neurofeedback, yang juga dikenal sebagai EEG Biofeedback. Disebut EEG Biofeedback karena didasarkan pada aktivitas listrik otak, yaitu electroencephalogram (EEG). Secara biofeedback yang diterapkan langsung ke otak (Zulfikri Khakim & Sri Kusrohmaniah, 2. Metode ini menunjukkan potensi dalam mengelola gangguan kecemasan . dengan mengajarkan pasien untuk mengubah pola aktivitas otak mereka, yang diyakini dapat mempengaruhi respons emosional dan kognitif terhadap ansietas. Melalui proses pelatihan berulang, pasien dapat belajar mengontrol respons stres mereka, mengurangi gejala ansietas, dan meningkatkan kesejahteraan emosional secara keseluruhan. Peningkatan dalam regulasi emosional ini berdampak positif langsung pada kualitas hidup pasien. Namun, kualitas hidup pasien tidak hanya bergantung pada efektivitas terapi, tetapi juga pada dukungan sosial yang mereka terima. Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif terutama dari keluarga. Dukungan sosial, termasuk bantuan emosional, informasi, dan materi dari keluarga, teman dekat, dan rekan kerja (Casel, 2. , terbukti memiliki peran penting dalam pemulihan dan kualitas hidup pasien dengan gangguan mental. Dukungan sosial dapat memberikan rasa aman, mengurangi kesepian, dan meningkatkan motivasi untuk melanjutkan terapi. Dukungan sosial merupakan bentuk bantuan, dukungan, atau interaksi sosial yang diberikan oleh individu atau kelompok kepada orang lain dalam berbagai situasi kehidupan (Anisza et, al 2. Ini bisa berupa dukungan emosional, informasional, atau praktis yang datang dari keluarga, teman, rekan kerja, atau anggota komunitas. Tingkat dukungan sosial yang lebih tinggi membuat individu merasa bahwa orang lain peduli dan menerimanya. Salah satu aspek penting dari dukungan sosial bagi pasien ansietas adalah bahwa hal ini dapat membantu mengatasi perasaan terisolasi atau kesepian yang sering menyertai kondisi Dukungan sosial bagi pasien ansietas berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Dengan memiliki sumber dukungan yang dapat diandalkan dan memahami, pasien dapat merasa lebih didukung dan lebih mampu menghadapi tantangan yang dihadapi. Meskipun dukungan sosial dapat membantu meningkatkan kualitas hidup, tidak semua pasien memiliki akses yang sama terhadap dukungan ini. Ada pasien yang mungkin mengalami kurangnya dukungan dari keluarga atau teman, yang justru dapat memperburuk kondisi mereka. Oleh karena itu, ada baiknya untuk memastikan bahwa semua pasien ansietas mendapatkan dukungan sosial yang memadai dan berkualitas untuk membantu mereka dalam proses pemulihan dan mencapai kesejahteraan yang optimal. Dukungan sosial yang baik dapat berupa saran, pendampingan, serta pendengar yang baik dari orang-orang kesejahteraan psikologis secara keseluruhan dan mendapatkan kualitas hidup yang baik (Cohen and Wills, 2. METODOLOGI 1 Metode Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode komparatif dan korelasi dengan pendekatan kuantitatif, yaitu untuk mengetahui perbedaan kualitas hidup pada pasien ansietas yang mendapat terapi neurofeedback dan juga untuk mengetahui hubungan dukungan sosial terhadap kualitas hidup pasien ansietas di RSJ Marzoeki Mahdi Bogor. Alat ukur yang digunakan untuk skala kualitas hidup adalah skala WHOOQL-BREF. 2 Hipotesis Hipotesis Alternatif Ha1: ada perbedaan dari kualitas hidup ditinjau dari pasien ansietas neurofeedback di RSJ Marzoeki Mahdi. Ha2: ada hubungan dukungan sosial dengan kualitas hidup pada pasien Hipotesis Nul H01: tidak ada perbedaan dari kualitas hidup ditinjau dari pasien ansietas yang mendapat treatment neurofeedback di RSJ Marzoeki Mahdi. H02: tidak ada hubungan dukungan sosial dengan kualitas hidup pada pasien ansietas di RSJ Marzoeki Mahdi Bogor. 3 Validitas dan Reliabilitas Sebelum dilakukan terlebih dahulu uji coba dengan melibatkan 30 responden. Berdasarkan hasil uji validitas yang dilakukan. Skala Dukungan Sosial terdapat 10 dari 16 item favorable dan 14 dari 16 item unfavourable yang valid dan total item 32 dengan skor Alpha Cronbarch sebesar 0. hasil uji validitas skala kualitas hidup yang dilakukan oleh Wardhani . , validitas Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 item diuji dengan menghitung korelasi antara skor setiap item dengan skor dari masing-masing dimensi WHOQOL-BREF. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan signifikan antara skor item dan skor dimensi dengan skor Alpha Cronbarch sebesar 0,8756. 4 Sampel Jumlah total dari sampel penelitian sebanyak 50 responden, dan responden uji coba sebanyak 30 responden dengan kriteria pasien ansietas dengan cemas murni usia 18-40 tahun yang mendapat terapi neurofeedback. LANDASAN TEORI 1 Kualitas Hidup Menurut World Health Organization . kualitas hidup merupakan persepsi individu terhadap porsi mereka dalam kehidupan, ditinjau dari konteks budaya, serta sistem nilai tempat mereka hidup dan dalam hubungannya dengan tujuan, harapan, dan standar individu tersebut. Kualitas hidup dibagi menjadi 4 ranah. Kesehatan Kesehatan psikologis, hubungan sosial dan hubungan dengan lingkungannya. Menurut Cohen & Lazarus . menyatakan bahwa kualitas hidup menggambarkan keunggulan individu yang dapat dinilai melalui kehidupannya yang dapat dilihat dari tujuan hidup, perkembangan pribadi, intelektual dan kondisi materi. Menurut Syaefudin . kualitas hidup adalah kemampuan seseorang untuk menjalani kehidupan normal yang berhubungan dengan persepsi pribadi, seperti harapan, tujuan, perhatian, dan standar hidup yang spesifik. Hal ini dapat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan adat istiadat di lingkungan tempat individu tersebut tinggal. Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif Terdapat 6 domain dalam skala kualitas hidup, diantaranya: Kesehatan fisik . hysical healt. Kesehatan psikologis . hysicological Tingkat kemandirian (Level of Hubungan sosial . ocial relationshi. Lingkungan . Spiritualitas/agama/kepercayaan pribadi (Spirituality/religion/personal 2 Terapi Neurofeedback Neurofeedback pengendalian diri terhadap fungsi otak, yang juga disebut sebagai umpan balik saraf, oleh mendeteksi dan mengukur gelombang otak dan menghasilkan sinyal berulang (Hossein et al, 2. Neurofeedback adalah sebuah alat yang menggunakan elektroda yang dipasang di kulit kepala untuk mengukur aktivitas gelombang otak pada titik-titik tertentu EEG . yang dirancang khusus untuk tujuan ini. Sinyal yang ditangkap oleh elektroda kemudian diproses oleh komputer yang terhubung dengan software khusus yang memutar musik, video, atau permainan. Pasien duduk sambil mendengarkan musik, menonton video, atau memainkan permainan sambil mengumpulkan poin. Jika aktivitas otak tidak stabil atau tidak menghasilkan pola atau frekuensi yang diinginkan, video, atau permainan tsb akan menghasilkan terapi yang kurang Melalui gangguan yang terjadi pada musik, video, atau permainan, otak klien belajar untuk menghasilkan frekuensi atau pola yang stabil seperti yang diinginkan sehingga gangguan berkurang dan akhirnya berhenti sama . hairiah, 2. E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif 3 Dukungan Sosial Dukungan sosial adalah pertukaran interpersonal yang mencakup perhatian penyediaan informasi, atau bentuk pertolongan lainnya. Menurut E. Sarafino dalam buku "Health Psychology: Biopsychosocial Interactions" . Wills mengartikan dukungan sosial sebagai kenyamanan, kepedulian, dan penghargaan yang diterima seseorang dari orang lain atau kelompok. Dukungan ini dapat berasal dari berbagai sumber, seperti pasangan yang dicintai, keluarga, teman, rekan kerja, dokter, atau organisasi Dukungan sosial adalah perilaku khusus atau umum yang dapat mengubah psikologis yang Ini merupakan salah satu metode untuk mengatasi emosi dengan membantu individu dalam menilai dan mengelola perasaan negatif. (Hageston Cohen. Mohammadi. Asgarizadeh & Bagheri, 2. Terdapat 4 aspek dalam skala dukungan sosial, diantaranya: Dukungan emosional Dukungan penghargaan Dukungan instrumental Dukungan informatif HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Perbedaan kualitas hidup pada pasien neurofeedback dan yang tidak diukur menggunakan metode Independent t-test melalui program JASP 0. 0 diperoleh nilai t sebesar 09,279 dengan signifikasi p < 0,05 membuktikan bahwa terapi neurofeedback memiliki pengaruh positif yang kuat terhadap peningkatan kualitas hidup pasien ansietas. Kemudian korelasi antara kualitas hidup dan dukungan sosial menggunakan metode Bivariate Correlation diperoleh nilai r sebesar 0,798 dengan signifikasi p < 0,05 membuktikan bahwa adanya hubungan positf yang signifikan antara dukungan sosial dan kualitas hidup. Untuk mengklasifikasi skor masingmasing responden di setiap variabel dalam bentuk kategori, dilakukan uji kategorisasi dengan melakukan uji normalitas terlebih dahulu menggunakan Uji Descriptive. Hasil menunjukkan bahwa variabel kualitas hidup memiliki skor mean temuan sebesar 86,280 dan masuk ke kategori sedang. Sedangkan variabel dukungan sosial memiliki skor mean temuan sebesar 75,620 dan masuk ke kategori tinggi. 2 Pembahasan Berdasarkan hasil analisis data yang di lakukan terhadap 50 responden, diperoleh hasil penelitian dengan metode analisis data Independent t-test pada variabel kualitas hidup terhadap pasien ansietas yang mendapat dan yang tidak mendapat treatment neurofeedback adalah terdapat perbedaan yang signifikan dalam kualitas hidup pada pasien ansietas yang mendapat terapi dan yang tidak dengan skor sebesar 9,279. Temuan ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Arezoo Hajvaziri et al. , yang juga neurofeedback secara konsisten memiliki efek positif terhadap kualitas hidup dan gejala kecemasan. Hasil analisis dengan menggunakan metode analisis data Bivariate Correlation dengan koefisien korelasi antara variabel dukungan sosial terhadap kualitas hidup pasien ansietas adalah 0,798. Hal ini menunjukkan adanya hubungan positf yang signifikan antara dukungan sosial dan kualitas hidup pada pasien. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Jikun Wang et al. , yang menunjukkan bahwa dukungan sosial dari keluarga memiliki korelasi positif yang Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif signifikan dengan kualitas hidup, yang berarti semakin tinggi dukungan sosial dari keluarga, semakin baik kualitas hidup Tabel 4. Perbandingan Dukungan Sosial dan Kualitas Hidup pada Pasien Ansietas Berdasarkan Kelompok yang Mendapatkan Terapi dan Tidak Mendapatkan Terapi Neurofeedback Variabel Kelompok Terapi Neurofeedback Kelompok Tanpa Terapi Neurofeedback Semua Pasien Dukungan Tinggi Dukungan Sedang Dukungan Rendah Tingkat Dukungan Sosial Tingkat Kualitas Hidup Kualitas Hidup Tinggi Kualitas Hidup Sedang Kualitas Hidup Rendah KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data yang telah dijelaskan pada sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam kualitas hidup pada pasien ansietas yang diberi treatment neurofeedback dan yang tidak diberi treatment neurofeedback. Hal ini menunjukkan bahwa pasien yang memiliki tingkat kualitas hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang tidak mendapat treatment neurofeedback. Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 Penelitian ini mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan signifikan dalam kualitas hidup pasien ansietas yang dibandingkan dengan yang tidak. Pasien neurofeedback menunjukkan peningkatan kualitas hidup yang lebih tinggi, mengindikasikan efektivitas terapi ini psikologis dan fisik pasien. Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa dukungan sosial memiliki hubungan signifikan dengan kualitas hidup pasien ansietas. Dukungan sosial yang kuat berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup, di mana pasien yang menerima dukungan sosial lebih tinggi melaporkan kualitas hidup yang lebih baik. Sebaliknya, kurangnya dukungan sosial berkontribusi pada penurunan kualitas hidup pasien. Ditinjau dari hasil kategorisasi kualitas hidup pada pasien ansietas yang menerima terapi neurofeedback di RSJ Marzoeki Mahdi cenderung berada pada kategori sedang. Ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat peningkatan kualitas hidup, hasil yang dicapai belum mencapai tingkat yang optimal. Di sisi lain, dukungan sosial yang diterima oleh pasien ansietas berada pada kategori tinggi. Hal ini menandakan bahwa pasien menerima dukungan sosial yang signifikan dari lingkungan sekitar mereka, yang berperan penting dalam memperbaiki kualitas hidup mereka. Meskipun dukungan sosial ini tinggi, kualitas hidup pasien masih berada dalam perlunya intervensi tambahan atau penguatan dalam aspek lain untuk mencapai peningkatan yang lebih E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif DAFTAR PUSTAKA