Journal of Action Research in Education Volume 2 No 3. December 2024 Ae February 2025 3026-7048 (Online - Elektroni. https://pub. id/journal/jare DOI: https://doi. org/10. 52620/jare. Improving Student Literacy in Indonesian Language Learning Storytelling Method for Class V SDN Nyormanis 02 Aisyiyah Rodiyah 1. Amelia Khoiruna2. Rila Hardiansyah3 1,2 Universitas Trunojoyo Madura. Bangkalan. Jawa Timur. Indonesia 3 Universitas Pendidikan Mandalika Mataram. NTB. Indonesia correspondence e-mail: 220611100111@student. 220611100113@student. rilahardiansyah@undikma. Abstract The aim of this research is to find out what factors cause students to be less interested in learning literacy and to find out whether there is an increase in student literacy when learning Indonesian using the storytelling method. This research was carried out in class 5 at SDN Nyormanis 2 using the classroom action research method. This method is implemented through cycle I and cycle II. Cycle I was carried out by giving a test without any action, in cycle II before being given the test the researcher carried out an action where the researcher told a short story, explained the material using the storytelling method, then the researcher gave the test. In the first cycle, it was discovered that there were still students who got lower In cycle II, it is known that students get increased grades. Based on field conditions, the internal factor causing the low literacy interest of students at SDN Nyormanis 02 class V is the students' low reading ability. Lack of parental awareness of the importance of education for children. It can be concluded that the storytelling method is effective in improving students' literacy skills in Indonesian language subjects. Keywords: Students literacy. Storytelling methods. Indonesian language learning Riwayat artikel: Diterima : May 11, 2024 Dikirim : June 02, 2024 Revisi : December 13, 2024 A 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution ShareAlike (CC BY SA) license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 0/) . Improving Student Literacy in Indonesian Language Learning Storytelling Method for Class V SDN Nyormanis 02 Aisyiyah Rodiyah. Amelia Khoiruna. Rila Hardiansyah Pendahuluan Pada tingkat sekolah dasar Bahasa Indonesia memegang peranan penting dalam membentuk dasar literasi dan minat baca siswa. Hal tersebut membuat beberapa tantangan yang muncul dalam pemahaman literasi dan minat baca Pada kali ini peneliti menggunakan metode bercerita untuk meningkatkan literasi dan minat baca siswa. Menurut (Dewi. Suntini, & Hanifah, 2. metode bercerita/ mendongeng dinilai tepat untuk diterapkan untuk siswa sekolah dasar yang dipilih untuk meningkatkan minat baca siswa, yang diperkuat dengan hasil studi yang dikemukakan oleh Anindyarini, dkk bahwa dmana kegiatan mendongeng/ bercerita tidak hanya sekedar membaca dan menulis, melainkan mencakup kegiatan berpikir menggunakan sumber pengetahuan berbentuk cetak, visual, digital bahkan audio. Meskipun metode bercerita ini merupakan metode lama dan terlihat membosankan seperti yang dikatakan Dhieni, dkk. 9:6. dalam (Ananda. Sipatuhar, & Sumianto, 2. metode bercerita memiliki kekurangan, kekurangan metode bercerita yaitu memuat peserta didik atau Siswa cepat merasa bosan apabila penyajian dari metode bercerita kurang menarik, namun dengan penggunaan metode ini siswa memiliki gambaran penjelasan terkait materi yang disampaikan. Kurangnya literasi dan minat baca siswa menjadi permasalahan yang penting dan harus dipahami oleh guru dalam proses pembelajaran. Dalam mengerjakan sosal cerita siswa diharuskan membaca terlebih dahulu teks bacaan yang telah diberikan. Namun pada kenyataannya siswa malas untuk membaca teks bacaan sehingga menyebabkan siswa tidak bisa menjawab soal tersebut. Dengan adanya literasi dapat membantu siswa dalam menumbuhkan minat baca, selain itu literasi juga membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman terhadap materi pembelajaran. Keberhasilan Siswa dalam mengembangkan kemampuan literasinya tidak akan telepas juga dari minat siswa itu sendiri. Minat baca merupakan keinginan dan kemauan yang kuat untuk selalu membaca bila memungkinkan atau mencari kesempatan membaca untuk menambah pengetahuan (Rusniasa. Dantes, & Suarni, 2. Seperti yang dikatakan (Nasution . Hapidin, & Fridani, 2. siswa https://pub. id/journal/jare DOI: https://doi. org/10. 52620/jare Journal of Action Research in Education Volume 2 No 3. December 2024 Ae February 2025 sangat membutuhkan minat belajar dimana dalam proses pembelajaran, minat sendiri adalah sebuah dorongan yang dimana dorongan itu dari dalam diri siswa untuk berpartisipasi aktif didalam proses pembelajaran yang akan mengubah dan menambah pengetahuan serta pengalaman dari siswa. Dengan kata lain faktor pendorong minat siswa untuk belajar yaitu karena adanya minat, dengan adanya minat akan menumbuhkan kesenangan dan akan menumbuhkan kemauan siswa untuk belajar (Yunitasari & Hanifah, 2. Siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi akan mencapai hasil yang lebih baik dari siswayang memiliki minat belajar yang rendah (Sulistyawati, 2. Seperti yang dikatakan (Chen et ,2. dalam (Cahyani. Nulhakim, & Yuliana, 2. minat belajar adalah faktor yang sangat penting dalam hal apapun untuk mencapai kesuksesan di semua bidang seperti studi, kerja, hobi, ataupun di sebuah aktivitas. Dalam Bahasa Indonesia ada 4 komponen keterampilan, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan Kemampuan literasi mencakup membaca dan menulis. Namun, bukan hanya sekedar mampu membaca dan menulis yang diharapkan dalam Siswa diharapkan memahami apa yang di baca dan apa yang mereka tulis. Pernyataan tersebut sesuai dengan hakikat literasi yaitu kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, memahami, dan menggunakan informasi secara efektif dalam berbagai konteks. Sehingga tidak hanya mencakup keterampilan dasar membaca dan menulis, tetapi juga pemahaman mendalam tentang teks bacaan dan kemampuan untuk mengevaluasi dan menerapkan informasi dalam kehidupan sehari-hari. Literasi baca dan tulis masyarakat Indonesia tergolong rendah hal ini Permasalahan menerapkan strategi literasi dan melakuakan pembiasaan literasi dalam proses pembelajaran di sekolah. Dengan menggunakan strategi literasi tersebut akan menumbuhkan budaya membaca pada anak. Dengan semakin banyaknya buku yang dibaca maka semakin luas pemahaman anak. https://pub. id/journal/jare DOI: https://doi. org/10. 52620/jare Improving Student Literacy in Indonesian Language Learning Storytelling Method for Class V SDN Nyormanis 02 Aisyiyah Rodiyah. Amelia Khoiruna. Rila Hardiansyah Literasi dalam Bahasa inggris disebut literacy, berasal dari Bahasa Latin yaitu litera . dan sering diartikan sebagai keaksaraan. Istilah ini mengacu pada kemampuan seseorang dlam membaca dan menulis, orang yang mahir didalam membaca dan menulis disebut literat, sedangkan orang yang tidak mampu membaca dan menulis disebut iliterat atau buta aksara dikutip dari (Patimah, 2. Menurut Rosdiana . berpendapat bahwa makna dari literasi sendiri adalah kemampuan membaca dan menulis. Sedangkan didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online (_____,2. literasi terdapat beberapa makna diantaranya: . kemampuan menulis dan membaca, . sebuah keterampilan dalam sebuah aktivitas dan kegiatan tetentu, . sebuah keterampilan individu dalam mengelola sebuah informasi yang didapatkannya untuk kecakapan hidup, . penggunaan huruf yang digunakan untuk menggambarkan suatu bunyi atau kata. Pada awalnya literasi hanya dimaknai sekadar kemampuan membaca dan menulis saja. Namun seiring dengan perkembangan zaman saat ini, kemampuan literasi bukan hanya membaca dan menulis, namun juga ada kemampuan numerik. Ketiga keterampilan ini merupakan dasar dalam kecakapan hidup seseorang. Pendapat Rosdiana diperkuat dengan adanya pengertian literasi dalam KBBI . 5: . , literasi adalah . kemampuan menulis dan membaca, . pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu, . kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. (Menurut Al Fajar, 2. dalam (Primasari & Hidayat, 2. kemampuan seseorang dalam literasi berkaitan erat dengan kegiatan lainnya diantaranya membaca, berpikir bahkan kegiatan menulis yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam memahami suatu informasi secara kritis, kreatif dan secara reflektif. Literasi bukan sekedar membaca biasa, namun literasi merupakan suatu kegiatan yang dapat membentuk kebudayaan itu sendiri (R. Rizki, & Fahri, 2. Maksudnya dengan literasi tidak hanya sekedar hanya membaca, menulis atau bahkan mendengarkan saja tetapi dengan literasi akan membiasakan anak dalam membaca dan akan meningkatkan budaya baca itu sendiri. https://pub. id/journal/jare DOI: https://doi. org/10. 52620/jare Journal of Action Research in Education Volume 2 No 3. December 2024 Ae February 2025 Literasi memiliki beberapa manfaat dari, menurut Oktariani . manfaat literasi diantaranya: . menambah kosa kata seseorang. mendapat wawasan dan informasi baru. kemampuan dalam memaknai suatu informasi dapat meningkat . meningkatkan kemampuan dalam menganalisis dan berpikir . meningkatkan kemampuan seseorang dalam merangkai kata yang bermakna. Sama seperti yang dikatakan oleh (Harahap, 2. manfaat kemampuan literasi dasar bagi siswa sekolah dasar diantaranya: . meningkatakan pengetahuan kosa kata siswa. supaya otak mampu bekerja optimal. menambah wawasan yang dimiliki siswa. mengasah kemampuan diri siswa dalam menangkap sebuah informasi dari sebuah bacaan. mengembangkan kemampuan verbal. mebelajarkan siswa dalam berpikir dan menganalisa siswa, serta . membelajarkan siswa agar focus dan berkonsentrasi. Dari beberapa manfaat dari kegiatan literasi diatas, literasi dapat jelas memberikan banyak manfaat bagi siswa yang menerapakan budaya literasi. Cerita dalam Bahasa Arab adalah Qisshah, bentuk Masdar dari kata QasshaYaqusshu, yang berarti bercerita atau menceritakan,menelusuri atau mengikut jejak. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dikutip Taufik Abdillah Syukur dalam Acmad sa'adi . mengatakan bahwa cerita adalah cerita yang menjelaskan bagaimana suatu kejadian atau peristiwa terjadi. Menurut (Rahayu, 2. bercerita memberikan keuntungan didalam pembelajaran diantaranya mempererat hubungan psikologis antara guru dengan siswa, kemampuan siswa menjadi terasah dalam berkomunikasi yang dikarenakan bertambahnya kosakata baru dan mempertajam sswa dalam berkomunikasi dan serta juga dapat mampu membuat siswa menjadi lebih fokus. Menurut (Handayani, 2. bercerita atau dongeng dpapat menstimulasi keinginan anak untuk membaca, anak akan lebih tertarik dengan cerita atau dongeng yang lain setelah mendengar sebuah dongeng. Dengan begitu diharapkan akan menjadi sebuah habituasi membaca. Metode bercerita memiliki berbagai manfaat dalam kegiatan bercerita mengembangkan kemampuan berbahasa peserta didik. manfaat metode bercerita menurut (Saifudin Amin,2014:. dalam Acmad sa'adi . sebagai berikut: https://pub. id/journal/jare DOI: https://doi. org/10. 52620/jare Improving Student Literacy in Indonesian Language Learning Storytelling Method for Class V SDN Nyormanis 02 Aisyiyah Rodiyah. Amelia Khoiruna. Rila Hardiansyah perkembangan pribadi dan moral anak, mengarahkan kebutuhan imajinasi dan fantasi, merangsang keterampilan berbicara anak, membangkitkan minat anak dalam menulis, membuat anak tertarik membaca, membuka cakrawala pengetahuan anak. Menurut Acmad sa'adi . metode bercerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menyampaikan pesan, informasi atau cerita baik lisan maupun bentuk tulisan atau alat peraga yang menarik perhatian peserta didik. Metode bercerita adalah cara penyampaian atau penyajian materi pembelajaran secara lisan dalam bentuk cerita dari guru kepada anak didik. Dalam kegiatan pelaksanaannya metode bercerita dilaksanakan dalam upaya memperkenalkan, memberikan keterangan, atau penjelasan tentang hal-hal baru dalam rangka menyampaikan pembelajaran yang dapat mengembangkan berbagai kompetensi dasar menurut (Dhieni, 2008: . dalam syahraini tambak . Penelitian ini relevan dengan penelitian Nafisawati pada tahun 2023 yang berjudul AuPenerapan Metode Bercerita Untuk Meningkatkan Kemampuan Literasi Membaca Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas 2 Madrasah IbtidaiyahAy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode bercerita berpengaruh terhadap peningkatan literasi siswa pada pembelajaran bahasa indonesia kelas 2. Hal tersebut ditunjukkan dengan perolehan nilai rata-rata untuk pretest . ebelum adanya tindaka. sebesar 74,20 dengan jumlah siswa yang nilainya tuntas sebanyak 17 siswa, dan siswa yang belum tuntas sebanyak 13 siswa. Sedangkan perolehan nilai rata-rata untuk postest sebesar 83,50 dengan jumlah siswa yang nilainya tuntas sebanyak 25 siswa, da siswa yang belum tuntas sebanyak 5 siswa. Metode Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang di dalamnya terdapat dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II. Setiap siklusnya terdapat empat prosedur atau tahapan diantaranya perencanaan, pelaksanaan, observasi . , dan refleksi. Pada siklus I dilakukan tes awal dengan memberikan bacaan cerita dan soal yang harus dijawab oleh siswa terkait bacaan yang sudah https://pub. id/journal/jare DOI: https://doi. org/10. 52620/jare Journal of Action Research in Education Volume 2 No 3. December 2024 Ae February 2025 Tes awal pada siklus I dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa sebelum dilakukan tindakan. Siklus I dilakukan sebagai refleksi untuk melaksanakan siklus selanjutnya yaitu siklus II. Hasil dari tindakan siklus II diperlukan untuk mengetahui peningkatan kemampuan literasi siswa setelah dilakukan tindakan berupa menerangkan materi kepada siswa menggunakan metode ceramah serta bercerita. Selain itu, peneliti juga menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi . yang dilakukan pada saat proses belajar mengajar Dengan mengamati apakah siswa membaca bacaan yang tersedia sebelum menjawab soal, serta mengamati apakah siswa kesulitan dalam menjawab soal sebelum dilakukan tindakan dengan menggunakan metode Teknik pengumpulan data berupa tes digunakan untuk mengukur pemahaman siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dan pemahaman siswa terhadap materi. Tes berisi berupa teks bacaan cerita dan soal yang harus dijawab setelah membaca teks bacaan. Tes ini dilakukan pada tiap siklus, bedanya pada siklus pertama tidak diberikan tindakan dengan metode bercerita pada siklus kedua sudah dilakukan tindakan dengan menjelaskan materi menggunakan metode bercerita. Teknik pengumpulan data selanjutnya yaitu wawancara yang ditujukan kepada guru wali kelas 5 sekaligus guru mapel Bahasa Indonesia. Wawancara dilakukan untuk mengumpulkan dan memperkuat informasi atau data apakah sesuai dengan siklus yang sudah dilaksanakan. Teknik pengumpulan yang digunakan juga di dukung oleh dokumentasi yang mencakup foto kegiatan saat penelitian berlangsung. Teknik analisis data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah deskriptif komparatif dengan membandingkan kondisi siklus I dan siklus II. Siklus I dilakukan dengan pemberian tes tanpa adanya tindakan apapun, sedangkan siklus II sebelum diberikan tes peneliti melakukan sebuah tindakan dimana peneliti menceritakan cerita pendek dan menjelaskan materi menggunakan metode bercerita, setelah itu peneliti memberikan tes. Metode yang digunakan metode bercerita sesuai dengan penelitian rellevan yang sebelumnya dengan penelitian Nafisawati pada tahun 2023 yang berjudul https://pub. id/journal/jare DOI: https://doi. org/10. 52620/jare Improving Student Literacy in Indonesian Language Learning Storytelling Method for Class V SDN Nyormanis 02 Aisyiyah Rodiyah. Amelia Khoiruna. Rila Hardiansyah AuPenerapan Metode Bercerita Untuk Meningkatkan Kemampuan Literasi Membaca Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas 2 Madrasah IbtidaiyahAy. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini dilakukan di SD Nyormanis 2 pada kelas V dengan subjek 15 Penelitian dilaksanakan II siklus, siklus I dan siklus II. Siklus I dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 2024 dan siklus II dilaksanakan pada 8 Maret 2024. Penelitian Tindakan Kelas ini direncanakan dilaksanakan sebanyak dua Dalam pelaksanaan tindakan pada setiap siklus mencakup tahapantahapan : Perencanaan . Pelaksanaan . Observasi . Refleksi Secara rinci skenario tindakan tersebut dijabarkan sebagai berikut: Siklus 1 Perencanaan Pada tahap ini peneliti melakukan diskusi tentang mapel apa yang difokuskan dan permasalahan apa yang sering terjadi pada mapel tersebut, konteks apa yang ingin ditingkatkan pada mapel yang telah dipilih, materi yang akan diambil dan metode apa yang akan digunakan dalam mengajarkan materi yang sudah di tentukan. Selanjutnya membuat rencana yang akan dilakukan peneliti saat di sekolah terdiri dari: Menyiapkan materi . Menyiapkan lembar observasi . Membuat intrumen soal untuk mengumpulkan data. Berupa soal tes untuk siklus I https://pub. id/journal/jare DOI: https://doi. org/10. 52620/jare Journal of Action Research in Education Volume 2 No 3. December 2024 Ae February 2025 . Menyiapkan intrumen pertanyaan wawancara yang akan diajukan kepada guru wali kelas 5 Pelaksanaan Apabila tahap perencanaan telah dilakukan, maka Langkah selanjutnya yaitu melaksanakan sesuai rencana yang telah dibuat. Langkah awal pelaksanaan siklus I yaitu peneliti terlebih dahulu siswa dan menyampaikan maksud dan tujuan peneliti. Setelah membuka pembelajaran, bekenalan dan sebagainya peneliti membagikan lembar tes yang berisi bacaan cerita dan soal yang harus dijawab oleh siswa. Untuk siklus I, para peneliti tidak melakukan tindakan apa pun. Para peneliti tidak menjelaskan mereka terlebih dahulu menggunakan metode yang telah peneliti rencanakan. Para siswa mengerjakan sesuai kemampuan dan pemahaman mereka setelah membaca teks cerita yang sudah diberikan. Materi Bahasa Indonesia tentang unsur intrinsik ini pun sebelumnya sudah pernah diajarkan dasarnya pada kelas sebelumnya. Sehingga tes pada siklus I ini secara tidak langsung mengulas kembali pemahaman siswa terhadap materi yang telah di dapatkan di kelas sebelumnya. Pengamatan Pada saat siswa mengerjakan soal, peneliti berkeliling dan bertindak sebagai pengamat. Beberapa hal yang perlu diamati adalah . Apakah sebelum mengerjakan soal siswa membaca terlebih dahulu teks bacaan yang telah diberikan . Apakah siswa saling mencontek dalam mengerjakan soal . Apakah siswa terlihat malas membaca teks bacaan . Apakah siswa terlihat kesulitan dalam mengerjakan soal yang Refleksi Pada tahap refleksi di siklus I, peneliti mengevaluasi dan menilai lembar tes yang sudah dikerjakan oleh siswa, kemudian menganalisis https://pub. id/journal/jare DOI: https://doi. org/10. 52620/jare Improving Student Literacy in Indonesian Language Learning Storytelling Method for Class V SDN Nyormanis 02 Aisyiyah Rodiyah. Amelia Khoiruna. Rila Hardiansyah apakah tes yang telah dilakukan sudah sesuai dengan kriteria yang Apabila belum sesuai dengan kriteria maka peneliti kembali merancang perencaan untuk siklus yang ke- II. Siklus II Perencanaan . Menyiapkan tindakan yang akan dilakukan Pada menjelaskan . Menyiapkan lembar observasi . Menyiapkan intrumen soal untuk mengumpulkan data. Berupa soal tes untuk siklus II Pelaksanaan Peneliti melakukan tindakan berupa menjelaskan materi menggunakan metode bercerita. Materi yang disampaikan pada siklus II yaitu mengenai unsur-unsur intrinsik dalam cerpen yang terdiri dari tema, alur, tokoh, penokohan . , dan amanat . esan moral ). Sebelum itu peneliti menceritakan sebuah cerita endek dan melakukan tanya jawab terkait cerita pendek tersebut. Setelah itu peneliti memberikan teks cerita yang didalamnya juga berisi soal yang harus dijawab oleh siswa setelah membaca teks cerita tersebut. Materi unsur intrinsik dalam cerita pendek tersebut akan meningkatkan literasi membaca siswa, karena pada materi ini siswa diharuskan membaca teks bacaan terlebih dahulu sebelum akhirnya menjawab soal yang yang telah diberikan. Pengamatan Pada saat siswa mendengarkan peneliti menceritakan cerita pendek dan menjelaskan materi menggunakan metode bercerita, peneliti yang lainnya bertindak sebagai pengamat. Beberapa hal yang perlu diamati . Apakah siswa mendengarkan dan memperhatikan saat peneliti melakukan tindakan menggunakan metode bercerita https://pub. id/journal/jare DOI: https://doi. org/10. 52620/jare Journal of Action Research in Education Volume 2 No 3. December 2024 Ae February 2025 . Apakah siswa saling mencontek dalam mengerjakan soal setelah diberikan penjelasan menggunakan metode bercerita . Apakah siswa terlihat malas membaca teks bacaan setelah di berikan penjelasan menggunakan metode bercerita. Apakah siswa terlihat kesulitan dalam mengerjakan soal yang diberikan setelah diberikan penjelasan menggunakan metode Refleksi Pada tahap refleksi di siklus ke-II, peneliti langsung mengulas soal yang sudah siswa kerjakan dengan cara tanya jawab sesuai dengan soal yang sudah dikerjakan pada siklus II. Siswa yang bisa menjawab akan mendapat reward berupa hadiah dari peneliti. Setelah pembelajaran berakhir, peneliti mulai mengevaluasi dan menilai lembar tes yang telah dikerjakan siswa pada siklus ke-II dan membandingkan hasil tes siswa antara siklus I dengan siklus II. Apabila setelah dilakukan tindakan pada siklus II dan terjadi peningkatan dibandingkan pada siklus I, maka hasil tersebut telah sesuai dengan kriteria penelitian yang diharapkan oleh peneliti. Tabel1. Hasil Kemampuan Literasi Siswa Pada Siklus 1 NAMA LENGKAP Ach. Irfan Afandi Ahmad Syaiful Anam Homsatul Kamilah Husnul Khotimah Khoirul Umam Lailatul Musdalifah Latifah Malihatul Nguyun Musarrofatul Kamilia Nadya Syafira Novi Fatmala Auliya Illah Nuraini Nurul Yeqinah Siti Sofia Maisarah Siti Zubaidah L/P NILAI https://pub. id/journal/jare DOI: https://doi. org/10. 52620/jare Improving Student Literacy in Indonesian Language Learning Storytelling Method for Class V SDN Nyormanis 02 Aisyiyah Rodiyah. Amelia Khoiruna. Rila Hardiansyah Tabel 2. Uraian pencapaian hasil siswa pada siklus I Uraian Pencapaian Hasil Jumlah siswa mendapat nilai < 70 Jumlah siswa mendapat nilai >70 Rerata kemampuan pemahaman terhadap isi bacaan Hasil 64,33 Tabel 3. Rekap hasil nilai kemampuan literasi siswa pada siklus I Nilai Jumlah Siswa Jumlah Grafik Data Hasil Nilai Kemampuan Literasi Siswa Pada Siklus I Gambar 1. Grafik data hasil kemampuan literasi siswa pada siklus I Tabel 4. Hasil kemampuan literasi siswa pada siklus II NAMA LENGKAP L/P NILAI Ach. Irfan Afandi Ahmad Syaiful Anam https://pub. id/journal/jare DOI: https://doi. org/10. 52620/jare Journal of Action Research in Education Volume 2 No 3. December 2024 Ae February 2025 Homsatul Kamilah Husnul Khotimah Khoirul Umam Lailatul Musdalifah Latifah Malihatul Nguyun Musarrofatul Kamilia Nadya Syafira Novi Fatmala Auliya Illah Nuraini Nurul Yeqinah Siti Sofia Maisarah Siti Zubaidah Tabel 5. Uraian pencapaian hasil siswa pada siklus II Uraian Pencapaian Hasil Jumlah siswa mendapat nilai < 70 Jumlah siswa mendapat nilai > 70 Rerata kemampuan pemahaman terhadap isi Hasil 85,33 Tabel 6. Rekap hasil nilai kemampuan literasi siswa pada siklus II Nilai Jumlah Siswa Jumlah Grafik Data Nilai Kemapuan Literasi Siswa Pada Siklus II Gambar 2. Grafik data hasil kemampuan literasi siswa pada siklus II https://pub. id/journal/jare DOI: https://doi. org/10. 52620/jare Improving Student Literacy in Indonesian Language Learning Storytelling Method for Class V SDN Nyormanis 02 Aisyiyah Rodiyah. Amelia Khoiruna. Rila Hardiansyah Berdasarkan hasil penelitian minat siswa dalam literasi masih sangat kurang. Kurangnya minat literasi siswa disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Sari . yang bejudul faktor-faktor penyebab rendahnya minat membaca siswa kelas IV yang mengemukakan bahwa rendahnya minat baca pada siswa disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor internal dan faktor eksternal siswa. faktor internal adalah faktor penyebab rendahnya minat literasi siswa yang berasal dari dalam diri siswa, sedangkan faktor eksternal adalah faktor penyebab rendahnya minat literasi siswa yang berasal dari luar diri siswa. Berdasarkan kondisi lapangan faktor internal penyebab rendahnya minat literasi siswa di SDN Nyormanis 02 kelas V adalah kemampuan membaca siswa yang masih kurang dan kurangnya kebiasaan membaca siswa. Dalam hal kemampuan membaca masih terdapat siswa yang belum lancar membaca yaitu siswa yang masih salah dalam pengucapan kata dalam satu kalimat, siswa kurang jelas artikulasi dalam pengucapan dan siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami makna dari bacaan. Berdasarkan hasil wawancara faktor eksternal penyebab rendahnya minat literasi siswa di SDN Nyormanis 02 kelas V adalah lingkungan keluarga yang kurang mendukung, seperti kurang nya kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan bagi anak. Dari hasil penelitian tindakan kelas pada siklus I dan siklus II kemampuan literasi siswa di SDN Nyormanis 02 dapat dipaparkan: Tabel 7. Perbandingan hasil nilai kemampuan literasi siswa pada siklus I dan siklus Uraian yang Diamati Jumlah siswa mendapatkan nilai < 70 Siklus I Siklus II Jumlah siswa mendapatkan nilai > 70 Rerata kemampuan pemahaman terhadap isi bacaan 64,33 85,33 https://pub. id/journal/jare DOI: https://doi. org/10. 52620/jare Jumlah Nilai Journal of Action Research in Education Volume 2 No 3. December 2024 Ae February 2025 Berdasarkan kemampuan literasi siswa pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan. Pada kondisi awal yang didapat dilapangan masih banyak kemampuan literasi siswa yang kurang dan kemampuan pemahaman terhadap isi bacaan yang juga masih kurang. Pada siklus I diketahui masih terdapat 6 siswa yang mendapatkan nilai yang kurang dari 70, sedangkan siswa yang mendapatkan nilai sama dengan atau lebih dari 70 sebanyak 9 siswa. Rerata kemampuan pemahaman terhadap isi bacaan siswa pada siklus I sebesar 64,33. Pada siklus II diketahui masih terdapat 0 siswa yang mendapatkan nilai yang kurang dari 70, sedangkan siswa yang mendapatkan nilai sama dengan atau lebih dari 70 sebanyak 15 siswa. Rerata kemampuan pemahaman terhadap isi bacaan siswa pada siklus II sebesar 85,33. Hasil tes kemampuan literasi siswa di SDN Nyormanis 02 menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa metode bercerita efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi Hasil rerata kemampuan pemahaman terhadap isi bacaan siswa pada siklus II sebesar 85,33 menunjukkan bahwa hasil tersebut telah memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditentukan, yakni 75% siswa mencapai kriteria bahkan melebihi kriteria baik atau minimal (KKM). Hal tersebut di buktikan dengan nilai kemampuan literasi siswa meningkat, dengan perolehan nilai siswa lebih dari nilai KKM yaitu 70. Penelitian ini diharapkan memberikan berbagai manfaat baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis, penelitian ini dapat menjadi referensi akademis dalam menemukan cara efektif untuk meningkatkan literasi siswa melalui metode bercerita dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Secara praktis, manfaat bagi siswa adalah membantu mereka meningkatkan kemampuan literasi, pengetahuan, dan pemahaman dalam pembelajaran Bahasa Indonesia serta mendorong mereka untuk lebih rajin membaca dan Bagi guru, penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan untuk memperbaiki metode dan teknik pembelajaran yang digunakan, menciptakan https://pub. id/journal/jare DOI: https://doi. org/10. 52620/jare Improving Student Literacy in Indonesian Language Learning Storytelling Method for Class V SDN Nyormanis 02 Aisyiyah Rodiyah. Amelia Khoiruna. Rila Hardiansyah lingkungan belajar yang lebih efektif dan menarik, serta mendukung pencapaian tujuan pembelajaran dengan lebih baik. Untuk sekolah, penelitian ini memberikan masukan berharga mengenai metode pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan literasi siswa, membantu dalam mengembangkan program pembelajaran yang lebih inovatif, dan mendukung upaya peningkatan kualitas pendidikan dan hasil belajar siswa. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini memberikan dasar untuk penelitian lebih lanjut terkait penggunaan metode bercerita dalam pembelajaran, menjadi acuan studi lanjutan yang fokus pada peningkatan literasi siswa melalui metode ini di berbagai tingkat pendidikan, serta memperluas cakupan penelitian terkait metode pembelajaran yang inovatif dan efektif. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan sebanyak dua siklus dapat disimpulkan bahwa metode bercerita efektif diterapkan untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa pada pembelajaran bahasa indonesia di SDN Nyormanis 02 kelas V, materi cerita pendek yaitu unsur intrinsik dalam cerpen. Hal tersebut di buktikan oleh data yang telah di peroleh pada poin pembahasan. Pada siklus pertama peneliti memberikan soal tanpa melakukan tindakan apapun kepada siswa, dan hasilnya banyak siswa yang mendapat nilai di bawah KKM. Sedangkan ketika dilakukan siklus kedua yang mana peneliti sebelum memberikan soal melakukan tindakan dengan menggunakan metode bercerita disertai dengan tanya jawab, dan hasilnya siswa mendapatkan perolehan nilai yang meningkat di bandingkan pada siklus satu bahkan melebihi KKM. Adapun saran-saran dari kami selaku peneliti hendaknya kepala sekolah bekerja sama dengan guru untuk mengembangkan pojok baca yang sudah ada dengan menambahkan buku-buku selain buku pelajaran seperti buku cerita, majalah, komik dan buku-buku lainnya yang bisa menarik minat siswa untuk membaca. Dan untuk perpustakaan bisa dilakukan penataan ulang supaya siswa lebih nyaman untuk dating ke perpustakaan. https://pub. id/journal/jare DOI: https://doi. org/10. 52620/jare Journal of Action Research in Education Volume 2 No 3. December 2024 Ae February 2025 Daftar Pustaka