Jurnal Pendidikan Sultan Agung JP-SA Volume 2 Nomor 1. Februari Tahun 2022 Hal. 89 Ae 99 Nomor E-ISSN: 2775-6335 SK No. 27756335/K. 4/SK. ISSN/2021. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Sultan Agung Semarang Jl. Kaligawe Raya KM. 4 Kecamatan Genuk Semarang 50112 Jawa Tengah Indonesia Alamat website: http://jurnal. id/index. jpsa/index ====================================================================== PENERAPAN MODEL POINT COUNTER POINT DENGAN MEDIA GOOGLE MEET UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN EKONOMI Agnes Dwi Retno SMA Negeri 6 Semarang E-mail: agnesdwiretno27@gmail. Abstrak Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi hasil belajar siswa Siswa Kelas XII IPS 2 SMA Negeri 6 Semarang dengan menerapkan model pembelajaran Point Counter Point dengan menggunakan media Google meet dalam proses pembelajaran. Objek penelitian ini adalah siswa kelas XII IPS 2 SMA Negeri 6 Semarang yang berjumlah 36 siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus terdiri atas empat komponen utama, yaitu: . Perencanaan, . Pelaksanaan tindakan, . Observasi, dan . Refleksi. Pembelajaran dengan menggunakan metode Point Counter Point dengan media Google Meet dapat meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa untuk mengikuti pelajaran Ekonomi dibuktikan data sebagai berikut. siswa dalam mengajukan pertanyaan kepada guru atau kelompok yang presentasi sebelum tindakan 5,41 % dan setelah tindakan 37,84 %, . siswa dalam menjawab pertanyaan atau mengerjakan soal didepan kelas sebelum tindakan 13,51 % dan setelah tindakan mengalami peningkatan 56,76 %, . siswa dalam mengemukakan pendapat dalam diskusi sebelum tindakan 2,7 % dan setelah tindakan meningkat 24,32 %, . siswa dalam membuat kesimpulan materi baik secara individu maupun kelompok sebelum tindakan 5,41 % dan setelah tindakan meningkat 51,35 %. Siswa yang tuntas belajar dengan memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dengan nilai lebih dari 70 sebelum tindakan 23,42 % dan setelah tindakan 78,38 %. Berdasarkan hasil analisis penelitian tindakan siklus I dan siklus II maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model Point Counter Point dengan media Google meet dapat Meningkatkan Partisipasi Dan hasil belajar siswa kelas XII IPS 2 SMA Negeri 6 Semarang pada mata pelajaran ekonomi yang dapat dilihat dari hasil capaian belajar siswa. Kata kunci : Hasil belajar. Point Counter Point. Google meet Abstract This research is a classroom action research that aims to increase student participation in student learning outcomes of Class XII IPS 2 SMA Negeri 6 Semarang by applying the Point Counter Point learning model using Google meets media in the learning process. The object of this research is the students of class XII IPS 2 SMA Negeri 6 Semarang, totaling 36 Agnes Dwi Retno. Penerapan Pembelajaran Point Counter Point A . This research was carried out in 2 cycles consisting of four main components, namely: . Planning, . Implementation of actions, . Observation, and . Reflection. Learning using the Point Counter Point method with Google Meet media can increase student participation and learning outcomes to take Economics lessons as evidenced by the following data. students in asking questions to the teacher or group presenting before the 41% and after the action 37. 84%, . students in answering questions or working on questions in front of the class before the action 13. 51% and after the action has increased 76%, . students in expressing opinions in discussions before the action 2. 7% and after the action increased by 24. 32%, . students in making material conclusions both individually and in groups before the action 5. 41% and after-action increased 51. Students who finished studying by meeting the Minimum Completeness Criteria (KKM) with a score of more than 70 before the action were 23. 42% and after the action was 78. Based on the results of the action research analysis cycle I and cycle II, it can be concluded that the application of the Point Counter Point model with Google meet media can increase participation and student learning outcomes for class XII IPS 2 SMA Negeri 6 Semarang in economic subjects which can be seen from the results of student learning outcomes. Keywords: Learning outcomes. Point Counter Point. Google meet PENDAHULUAN Proses pembelajaran harus memperhatikan berbagai faktor. Berbagai faktor internal dan faktor eksternal dapat mempengaruhi proses pembelajaran dan hasil belajar siswa. Dewasa ini, karena kondisi kesehatan sosial terganggu oleh adanya pandemi pembelajaran dilaksanakan dengan proses pembelajaran jarak jauh maupun pembelajaran gabungan antara pembelajaran jarak jauh dan pembelajaran tatap muka. Hal ini begitu berdapak terhadap proses pembelajaran dan hasil belajar siswa. Berbagai fenomena yang telah dilihat sekarang ini banyak sekolah yang hasil belajar siswanya memperihatinkan. Hasil belajar siswa tersebut disebabkan oleh proses pembelajaran yang memakai sistem pembelajaran metode konvensional dan kegiatan pembelajaran berpusat pada guru sehingga siswa menjadi pasif dan metode yang digunakan cenderung monoton. Turunnya hasil belajar tentunya menjadi hal yang harus mendapatkan perhatian khusus. Untuk mengatasi pembelajaran yang monoton, pembelajaran harus direncanakan dan dilaksanakan dengan menggabungkan beberapa model atau metode pembelajaran. Salah satunya adalah dengan mengadakan pembelajaran dengan model point counter point pada proses pembelajaran untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar siswa. Mata pelajaran ekonomi merupakan salah satu mata pelajaran pokok untuk siswa yang masuk dalam kelas penjurusan IPS. Namun, masih banyaknya siswa yang menganggap pelajaran ekonomi itu susah dan sulit untuk dipahami . enguasai materi yang Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Volome 2 Nomor 1. Februari 2022 hal. 89 - 99 telah dijarka. sehingga dapat mempengaruhi hasil belajar ekonomi rendah. Hasil belajar siswa yang diperoleh setelah mengikuti mata pelajaran ekonomi kelas XII IPS 2 di SMA Negeri 6 Semarang menunjukkan bahwa perolehan nilai penilaian harian siswa pada tahun 2021/2022 adalah hanya 44,4% dari 36 siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Dengan kata lain, 20 siswa dari kelas XII IPS 2 masih belum dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan sekolah yaitu 70. Selain pengajaran, pendidik juga berpengaruh dalam proses pembelajaran di Pendidik berperan untuk menciptakan suasana belajar yang aktif. Pembelajaran aktif merupakan proses belajar yang menumbuhkan dinamika bagi peserta didik untuk mengartikulasikan dunia idenya dan mengkonfrontir ide itu dengan dunia realitas yang dihadapinya (Suprijono, 2. Melalui pembelajaran yang aktif siswa diharapkan dapat belajar dengan senang, kompetitif, dan mampu menumbuhkan motivasi belajar dalam Di dalam kurikulum tercantum empat keterampilan berbahasa yang dijadikan sebagai kompetensi dasar, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan Dari keempat keterampilan tersebut, keterampilan berbicara, khususnya berargumentasi merupakan salah satu keterampilan yang dianggap sulit. Kenyataan ini penulis peroleh berdasarkan penelusuran melalui buku, internet, hasil penelitian, dan perbincangan dengan guru Ekonomi SMA Negeri 6 Semarang. Pembelajaran dapat diberi arti sebagai upaya yang sistematik dan disengaja oleh pendidik untuk menciptakan kondisi-kondisi agar peserta didik melakukan kegiatan belajar (Sudjana, 2. Artinya dalam kegiatan pembelajaran terjadi suatu interaksi edukatif antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan tertentu. Karena dalam kegiatan proses pembelajaran harus ada interaksi edukatif maka peserta didik harus berpartisipasi dalam kegiatan belajar secara aktif. Melalui partisipasi siswa secara aktif maka akan terjadi interaksi dua arah antara guru dengan siswa. Sehingga partisipasi belajar berarti keikutsertaan siswa dalam suatu kegiatan belajar yang ditunjukkan dengan adanya perilaku fisik dan psikisnya. Partisipasi belajar akan menuntut siswa untuk ikut serta bertanggung jawab terhadap keberhasilan pencapaian tujuan belajar sebab partisipasi siswa dibutuhkan dalam menetapkan tujuan dan dalam kegiatan belajar dan mengajar (Hasibuan & Moedjiono. Agnes Dwi Retno. Penerapan Pembelajaran Point Counter Point A . Oleh sebab itu pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri bagi siswa melalui berbagai aktifitas belajar. Adapun aspek yang dikaji dalam partisipasi belajar siswa (Made Sumadi, 2. adalah: . Partisipasi bertanya. Partisipasi menjawab. Menyelesaikan tugas secara tuntas. Partisipasi dalam diskusi. Mencatat penjelasan guru. Menyelesaikan soal di papan tulis. Mengerjakan tes secara individu. Menyimpulkan materi pelajaran di akhir pelajaran. Adanya partisipasi belajar dari siswa, pembelajaran akan lebih terfokuskan untuk mendidik dan mengembangkan potensi dan aspek-aspek perkembangan siswa kearah yang lebih optimal. Siswa benar-benar diposisikan sebagai subyek yang sedang belajar. Oleh karena itu salah satu tugas guru adalah menyediakan dan menyiapkan kondisi pembelajaran yang dapat merangsang keterlibatan siswa di dalamnya. Siswa yang belajar dengan mengalami secara langsung akan memberikan pengetahuan yang lebih bermakna bagi siswa dan pengetahuannya dapat lebih tahan lama dalam memori ingatan siswa. Menurut Bloom, secara garis besar hasil belajar dibagi menjadi menjadi tiga ranah (Sudjana, 2. , yaitu ranah . ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi. Keenam jenjang atau aspek yang dimaksud adalah pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi, . ranah afektif, berkenaan dengan sikap dan nilai, . ranah psikomotor, hasil belajar psikomotoris tampak dalam bentuk keterampilan . dan kemampuan bertindak Menurut Arikunto (Ekawarna, 2. yang dimaksud dengan hasil belajar adalah suatu hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses pengajaran yang dilakukan oleh guru, hasil belajar ini biasanya dinyatakan dalam bentuk angka, huruf, atau kata-kata baik, sedang, kurang, dan sebagainya. Begitu pula menurut Hamalik (Ekawarna, 2. hasil belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Sedangkan menurut Djamarah . hasil belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dari dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas belajar yang biasanya dinyatakan dalam bentuk angka atau huruf. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar juga dapat ditunjukkan dalam bentuk seperti perubahan Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Volome 2 Nomor 1. Februari 2022 hal. 89 - 99 pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar. Jadi, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Manusia mempunyai potensi perilaku kejiwaan yang dapat dididik dan diubah perilakunya yang meliputi domain kognitif, afektif dan psikomotorik. Belajar mengusahakan perubahan perilaku dalam domain-domain tersebut sehingga hasil belajar merupakan perubahan perilaku dalam domain kognitif, afektif dan psikomotorik Model pembelajaran point counter point adalah sebuah pembelajaran yang melibatkan peserta didik untuk beradu argumen dalam mendiskusikan sebuah masalah yang dilihat dari berbagai sudut pandang. Keterampilan berargumentasi adalah kemampuan untuk mengeluarkan pendapat dengan maksud mempengaruhi sikap dan pendapat lawan bicara agar lawan bicara tersebut percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan pembicara. Model pembelajaran Point Counter Point (PCP) merupakan model pembelajaran dengan teknik hebat untuk merangsang diskusi dan mendapatkan pemahaman lebih mendalam tentang berbagai isu yang kompleks (Hamruni, 2012:. Format PCP ,mirip dengan sebuah perdebatan namun tidak terlalu formal dan berjalan lebih cepat. Suprijono . juga menyebutkan bahwa model pembelajaran point counter point merupakan metode yang dipergunakan untuk mendorong peserta didik berpikir dalam berbagai perspektif. Oleh karena itu yang harus diperhatikan lebih lanjut yaitu mengenai materi pelajaran. Suatu cara dalam proses pembelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa untuk aktif berargumen . engajukan ide-ide, gagasa. dari persoalan yang muncul atau sengaja dimunculkan dalam pembelajaran sesuai dengan aturan-aturan yang ada. Dalam hal ini materi pelajaran yang digunakan untuk merangsang diskusi peserta didik ialah mengenai isu-isu kontroversi yang memiliki 30 paling sedikit dua perspektif. Google Meet merupakan salah satu platform komunikasi yang saat ini banyak Google Meet merupakan pengganti dari aplikasi Google Hangouts dan Google Chat. Google Meet baru dirilis pada bulan Februari 2017. Google Meet merupakan jenis media pembelajaran audio-visual karena dapat mengeluarkan suara dan Selain itu Google Meet juga termasuk ke dalam jenis media pembelajaran hasil Agnes Dwi Retno. Penerapan Pembelajaran Point Counter Point A . teknlogi komputer. Penggunaan Google Meet diharapkan dapat memermudah guru dan siswa dalam berinterkasi. Google Meet dapat digunakan sebagai media untuk mengelola pembelajaran dan menyampaikan informasi secara cepat dan akurat kepada siswa melalui layanan Video Conference. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Researc. yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa kelas XII IPS 2 SMA Negeri 6 Semarang dengan menerapkan model pembelajaran point counter point dengan menggunakan media google meet. Objek penelitian ini adalah siswa kelas XII IPS 2 SMA Negeri 6 Semarang yang berjumlah 36 siswa. Tindakan akan akan dihentikan jika hasil belajar siswa telah mencapai kriteria ketuntasan ditentukan. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus tindakan. Setiap tindakan terdiri dari 4 tahapan yang meliputi Perencanaan. Pelaksanaan. Observasi, dan Refleksi. Secara umum, tahapan dan setiap tindakan siklus dijabarkan sebagai berikut. Tahap perencanaan tindakan : Tahap ini berisi kegiatan menelaah materi pelajaran Ekonomi kelas XII SMA semester ganjil, mempersiapkan perangkat pembelajaran, dan mengembangkan alat bantu pengajaran Tahap pelaksanaan tindakan: Dalam tahapan ini, dilakukan proses pembelajaan sesuai dengan rancangan pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan metode point counter point Tahap observasi: Pada tahap ini dilaksanakan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Hasil obervasi dari proses pembelajaran dengan metode point counter point yang telah dilakukan kemudian dianalisis untuk memperoleh skor akhir yang diperoleh siswa setelah mengikuti beberapa kali pertemuan. Tahap refleksi (Reflectio. : Pada tahap ini dilakukan refleksi atau menelaah kembali penelitian ini berdasarkan hasil observasi dan evaluasi selama proses pembelajaran berlangsung. Melibatkan siswa dalam penelitian dengan meminta tanggapan Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Volome 2 Nomor 1. Februari 2022 hal. 89 - 99 mereka mengenai proses pelaksanaan pembelajaran. Hal-hal apa yang menurut mereka perlu ditingkatkan. Pada pelaksanaan tindakan siklus II, pelaksanaan pembelajaran dan pemberian kuis diiperbaiki sesuai dengan hasil observasi dan hasil analisis hasil belajar siswa di tindakan siklus I. HASIL PENELITIAN Hasil Data yang diperoleh mengenai partisipasi dan hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan sampai putaran II secara keseluruhan ditunjukkan pada tabel sebagai berikut: Tabel 1. Data Peningkatan partisipasi Siswa Sebelum dan Sesudah Tindakan Tabel 2. Data Peningkatan Hasil Belajar Siswa Sebelum dan Sesudah Tindakan Agnes Dwi Retno. Penerapan Pembelajaran Point Counter Point A . Adapun data hasil peningkatan indikator partisipasi siswa yang diamati disajikan dalam grafik sebagai berikut: Gambar 1. Peningkatan Partisipasi Siswa Sebelum dan Sesudah Tindakan Keterangan Indikator : Indikator I = Mengajukan pertanyaan kepada guru atau kelompok yang presentasi Indikator II = Menjawab pertanyaan atau mengerjakan soal didepan kelas Indikator i = Mengemukakan pendapat dalam diskusi Indikator IV = Membuat kesimpulan materi Gambar 2. Grafik Belajar Siswa Sebelum dan Sesudah Tindakan Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Volome 2 Nomor 1. Februari 2022 hal. 89 - 99 Indikator-indikator partisipasi yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu pertama partisipasi siswa dalam mengajukan pertanyaan kepada guru atau kelompok presentasi. Indikator ini difokuskan pada siswa yang ikut serta dalam proses pembelajaran, dimana siswa aktif dalam bertanya tentang materi yang belum dipahami kepada guru maupun kelompok yang presentasi. Indikator kedua adalah partisipasi siswa dalam menjawab pertanyaan atau mengerjakan soal di depan kelas. Dimaksudkan bahwa siswa berani dalam menjawab pertanyaan dari guru atau teman, dan berani untuk mengerjakan soal tanpa harus dipaksa. Indikator ketiga adalah partisipasi siswa dalam mengemukakan pendapat dalam Model pembelajaran Point Counter Point dengan intensif dapat memancing partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran. Indikator keempat adalah partisipasi siswa dalam membuat kesimpulan materi maksudnya adalah setiap siswa diharapkan mampu membuat kesimpulan dari materi yang dipelajari atau didiskusikan dalam kelompoknya. Indikator ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa tentang materi yang dipelajari. Hasil belajar siswa merupakan tolak ukur keberhasilan siswa dalam pembelajaran. Data tentang hasil belajar siswa dalam penelitian ini diperoleh dari hasil pengerjaan tugas mandiri atau tes soal evaluasi. Siswa tuntas belajar dalam setiap putaran jika mencapai KKM dengan nilai > 70 dari seluruh soal yang diberikan. SIMPULAN Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Point Counter Point dengan menggunakan media Google Meet dapat meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa kelas XII IPS 2 di SMA Negeri 6 Semarang dalam pembelajaran mata pelajaran ekonomi. Hal tersebut dapat dilihat dari meningkatnya setiap indikator partisipasi dan hasil belajar siswa pada pembelajaran ekonomi sebagai berikut: . siswa dalam mengajukan pertanyaan kepada guru atau kelompok yang presentasi sebelum tindakan 5,41 % dan setelah tindakan 37,84 %, . siswa dalam menjawab pertanyaan atau mengerjakan soal didepan kelas sebelum tindakan 13,51 % dan setelah tindakan mengalami peningkatan 56,76 %, . siswa dalam mengemukakan pendapat dalam diskusi sebelum tindakan 2,7 % dan setelah tindakan meningkat 24,32 %, . siswa dalam Agnes Dwi Retno. Penerapan Pembelajaran Point Counter Point A . membuat kesimpulan materi baik secara individu maupun kelompok sebelum tindakan 5,41 % dan setelah tindakan meningkat 51,35 %. Siswa yang tuntas belajar dengan memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dengan nilai lebihdari 70 sebelum tindakan 23,42 % dan setelah tindakan 78,38 %. SARAN