Indonesian Journal of Educational Development Volume 1 Nomor 3, November 2020 DOI: 10.5281/zenodo.4284193 _________________________________________________________________________ PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DENGAN METODE OUTDOOR DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR Ni Luh Putu Evayani SMA Negeri 2 Kuta, Badung, Indonesia; putuevayani01@gmail.com Abstrak. Penelitian tindakan kelas ini dilatarbelakangi oleh: (1) hasil belajar siswa masih tergolong rendah; (2) aktivitas belajar siswa kurang aktif; (3) metode pembelajaran guru cenderung masih konvensional; dan (4) siswa belum memiliki motivasi belajar yang baik. Kondisi ini ingin diubah melalui penerapan model pembelajaran discovery learning dengan metode outdoor. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat efektivitas penerapan model pembelajaran discovery learning dengan metode outdoor dalam upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus dengan langkah-langkah pokok: planning, acting, observing, reflekting dengan selalu melakukan revisi tindakan untuk menemukan hasil yang lebih baik atau akurat. Pengolahan datanya menggunakan teknik deskriptif analitis. Dengan prosedur penelitian tindakan yang dilakukan, ditemukan hasil sebagai berikut: (1) penerapan model pembelajaran discovery learning dengan metode outdoor dapat dikatakan efektif diterapkan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar yang dibuktikan dari hasil penelitian pada siklus I, dan II dengan nilai rata-rata hasil belajar peserta didik kelas meningkat dari 65,45 menjadi 77,17 serta ketuntasan belajar klasikal juga meningkat dari 58%, menjadi 94%. Kata kunci: discovery learning ,metode outdoor, aktivitas dan hasil belajar. Abstract. Research on classroom actions is motivated by: (1) student learning outcomes are still relatively low ; (2) the learning activities of students are less active, (3) the method of learning to descend is still conventional; and (4) students do not yet have good motivation to learn. This condition wants to be changed through the application of discovery learning learning models with outdoor methods. The purpose of this study was to determine the effectiveness of the application of the discovery learning model of learning with the oudoor method in an effort to increase the activities and learning outcomes in the subject of Chemistry. Classroom Action Research was carried out in 2 cycles of each cycle with the main steps: planning, acting, observing, raftakting with always revise actions to find better results or skunt. Data processing using descriptive analytical techniques. With the action research procedure carried out, it is found that the results are as follows: (1) the application of discovery learning learning models with outdoor methods can be said to be effectively applied to increase activity and learning outcomes in lessons are proven from the results of research in cycles 1, and 11 with the average value of student learning outcomes increased from 6945 to 77.17 and classical learning excellence also increased from 58%, to 94%. Keywords: discovery learning, outdoor methods, activity and learning outcomes ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 391 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 391-400, November 2020 PENDAHULUAN Pendidikan berpotensi memainkan peranan strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk berkompetisi dalam penguasaan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Potensi ini dapat terwujud, jika pendidikan mampu melahirkan siswa yang kuat dan berhasil menumbuhkan kemampuan berpikir logis, berpikir kritis, kreatif, berinisiatif dan adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menghafal materi pelajaran tanpa proses berpikir tidak lagi cukup dalam mengimbangi perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat (Widana, et.al., 2019). Dalam penerapan Kurikulum 2013 maka setiap guru diharapkan dapat mengembangkan berbagai model pembelajaran inovatif. Penerapan berbagai model pembelajaran inovatif dewasa ini dilandasi oleh landasan filosofis bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah (Sudiarta & Widana, 2019). Dasar filosofis ini mengandung makna bahwa belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Prastowo (2013) berpendapat bahwa model pembelajaran adalah acuan pembelajaran yang secara sistematis dilaksanakan berdasarkan pola-pola pelajaran tertentu. Model pembelajaran tersusun atas beberapa komponen yaitu fokus, sintaks, sistem sosial, dan sistem pendukung. Menurut Sani (2014) model pembelajaran adalah kerangka konseptual berupa pola prosedur sistematik yang dikembangkan berdasarkan teori dan digunakan dalam mengorganisasikan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan belajar. Dewasa ini ada upaya-upaya inovatif dibidang pembelajaran yaitu dengan menerapkan pembelajaran inovatif. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah dengan menerapkan model pembelajaran discovery learning dengan metode outdoor. Discovery learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri (Hosnan, 2014). Discovery adalah menemukan konsep melalui serangkaian data atau informasi yang diperoleh melalui pengamatan atau percobaan (Sani, 2014). Menurut Kurniasih, dkk (2014), model discovery learning adalah proses pembelajaran yang terjadi bila pelajaran tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan peserta didik mengorganisasikan sendiri. Hosnan (2014) mengemukakan beberapa kelebihan dari model discovery learning yakni sebagai berikut: (a) membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif; (b) pengetahuan yang diperoleh melalui model ini sangat pribadi dan ampuh; (c) dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah; (d) membantu siswa memperkuat konsep dirinya. e. Mendorong keterlibatan keaktifan siswa; (f) mendorong siswa berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri; (g) melatih siswa belajar mandiri; dan (h) siswa aktif dalam kegiatan belajar. ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 392 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 391-400, November 2020 Kurniasih & Sani (2014) juga mengemukakan beberapa kelebihan dari model discovery learning, yaitu: (a) menimbulkan rasa senang pada siswa, (b) siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik, (c) mendorong siswa berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri, dan (d) siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar. Menurut Marzano (2014), selain kelebihan yang telah diuraikan, masih ditemukan beberapa kelebihan dari model discovery learning, yaitu: (a) menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap inquiry, (b) pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat, (c) hasil belajar discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik, (d) meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan berpikir bebas, dan (e) melatih keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain. Pendekatan out-door learning menggunakan setting alam terbuka sebagai sarana. Proses pembelajaran menggunakan alam sebagai media dipandang sangat efektif dalam knowledge management di mana setiap orang akan dapat merasakan, melihat langsung bahkan dapat melakukannya sendiri, sehingga transfer pengetahuan berdasarkan pengalaman di alam dapat dirasakan, diterjemahkan, dikembangkan berdasarkan kemampuan yang dimiliki. Pendekatan ini mengasah aktivitas fisik dan sosial anak dimana anak akan lebih banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang secara tidak langsung melibatkan kerjasama antar teman dan kemampuan berkreasi. Aktivitas ini akan memunculkan proses komunikasi, pemecahan masalah, kreativitas, pengambilan keputusan, saling memahami, dan menghargai perbedaan (Dianti & Widana, 2017). Adapun beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini menemukan bahwa pembelajaran discovery learning dapat meningkatkan kemampuan metakognisi dan penguasaan konsep siswa (Dini Andriani, 2017) dan Adelia Vera (2012) dalam bukunya yang berjudul metode mengajar anak diluar kelas (outdoor study) mengungkapkan bahwa outdoor learning itu sendiri yaitu suatu kegiatan menyampaikan pelajaran di luar kelas, sehingga kegiatan belajar mengajar berlangsung di luar kelas. Contoh riil dapat dilihat rata-rata nilai MIPA pada test awal di kelas XI MIPA masih di bawah KKM. Dari kelas yang diajar ditemui kelas XI MIPA 5 dengan ketuntasan 42%, XI MIPA 6 dengan ketuntasan 64% serta kelas XI MIPA 7 dengan ketuntasan 70%. Tampak perbedaan yang sangat menyolok sebagai tanda bahwa masih mengalami masalah dalam proses maupun hasil pembelajaran. Masalah tersebut adalah rendahnya kualitas proses pembelajaran, yang berimplikasi pada rendahnya pencapaian kompetensi dasar yang dicapai siswa. Perbedaan tersebut juga merupakan cermin bahwa perlu upaya perbaikan model pembelajaran yang diterapkan untuk memberikan hasil yang sesuai dengan harapan dalam hal ini ketuntasan belajar. Berpijak pada hal ini, maka dilakukan penelitian tindakan kelas yang diberi judul “Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning Dengan Metode Outdoor dalam Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar”. ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 393 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 391-400, November 2020 METODE Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dengan menerapkan desain penelitian tindakan menurut Kurt Lewin terdiri dari empat komponen: perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observating), dan refleksi (reflecting). Subyek dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI MIPA-5 SMA Negeri 2 Kuta semester 2 tahun pelajaran 2018/2019 yang berjumlah 33 orang. Sedangkan objek penelitian adalah: 1) aktivitas belajar dan 2) hasil belajar siswa kelas XI MIPA-5 SMA Negeri 2 Kuta tahun pelajaran 2018/2019 melalui penerapan model pembelajaran discovery learning dengan metode pembelajaran outdoor. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Kuta pada semester 2 tahun pelajaran 2018/2019 yang dimulai pada bulan Maret 2019 dan berakhir pada bulan Mei 2019. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data aktivitas belajar siswa berupa lembar observasi sedangkan hasil belajar siswa berupa test hasil belajar dalam bentuk pilihan ganda. Data tentang aktivitas belajar siswa dianalisis secara deskriptif dengan menarasikan kegiatan-kegiatan siswa selama pembelajaran. Pedoman observasi aktivitas siswa terdiri dari 4 item, masing-masing item terdiri dari 3 indikator, sehingga skor maksimum 12 dan skor minimum 4. Dengan demikian nilai aktivitas dikonversikan ke skala 100 yang dapat ditentukan dengan rumus: Nilai = x 100 Selanjutnya skor aktivitas siswa dalam pembelajaran dikonfirmasikan pada pedoman konversi dalam skala lima, yaitu sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik dan sangat kurang baik. Pedoman konversinya disajikan dalam tabel. Tabel 1. Pedoman Konversi Aktivitas Siswa Interval Kualifikasi 0 - 39,9 Sangat kurang 40,0 - 54,9 Kurang 55,0 - 69,9 Cukup 70,0 - 84,5 Baik 85,0 - 100 Sangat baik Indikator keberhasilan peningkatan kualitas aktivitas siswa dalam penelitian ini, terdiri dari tiga katagori, yaitu baik, cukup, dan kurang. Katagori baik, jika minimal 75 % siswa melakukan aktivitas sesuai dengan parameter yang diukur. Katagori cukup, jika minimal 50 % siswa melakukan aktivitas sesuai dengan parameter yang diukur. Sedangkan katagori kurang, jika kurang dari 50 % siswa melakukan aktivitas sesuai parameter yang diukur. Data Hasil belajar siswa dianalisis secara deskriptif yang diperoleh melalui tes hasil belajar. Tes hasil belajar yang diberikan pada setiap akhir pokok bahasan (akhir siklus) adalah berupa pilihan ganda sebanyak 15 soal.Jika siswa benar mendapat poin 1, jika siswa salah mendapat poin 0. skor siswa kemudian dikonversi ke dalam skala 100 melalui persamaan: ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 394 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 391-400, November 2020 Berdasarkan nilai hasil belajar siswa, selanjutnya dicari nilai rata-rata hasil belajar siswa dengan rumus: Adapun ketuntasan hasil belajar siswa dapat ditentukan dengan menggunakan daya serap siswa (DSS) dan ketuntasan klasikal (KK). DSS = KK = Kriteria yang digunakan adalah, siswa dikatakan tuntas jika DSS ≥ 65% dan satu kelas di katakan tuntas jika KK ≥ 85%. Hal ini sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh SMA Negeri 2 Kuta. Penelitian dikatakan berhasil jika nilai rata-rata hasil belajar siswa ≥ 65 dan ketuntasan klasikal (KK) ≥ 85%. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan perhitungan aktivitas dan hasil belajar siswa, maka hasil penelitian dapat disajikan pada tabel berikut ini. Tabel 2. Rekapitulasi Rata-Rata Nilai Tes Awal Siswa Kelas XI MIPA Tahun Pelajaran 2018/2019 Rata-rata Ketuntasan No Kelas KKM Nilai 1 2 3 XI MIPA 5 XI MIPA 6 XI MIPA 7 65 65 65 58,99 66,45 69,90 42% 64% 70% Dari hasil analisa data rekapituasi rata-rata nilai test awal siswa kelas XI MIPA, nilai terendah berada di kelas XI MIPA 5 dengan nilai rata- rata sebesar 58,99 dan ketuntasan hasil belajar klasikal sebesar 42%. Penelitian ini dikatakan berhasil bila kelas dinyatakan tuntas dengan kriteria daya serap klasikal lebih besar atau sama dengan 85%. Dari data hasil belajar Kimia siswa di atas, maka penelitian pada siklus I masih belum memenuhi kategori keberhasilan. Tabel 3. Data Kualitas Aktivitas Belajar Siswa Siklus I No Aktivitas siswa Kategori 1 Aktivitas dalam belajar B 2 Aktivitas kerja sama B ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 395 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 391-400, November 2020 3 4 Presentasi Aktivitas bertanya C C Berdasarkan hasil observasi tersebut dapat dijelaskan, presentasi yang meliputi tempo bicara tepat, bahasa mudah dipahami, intonasi tepat masih tergolong cukup, Aktivitas dalam bertanya yang meliputi pertanyaan singkat, jelas, dan sesuai konteks masih tergolong cukup. Ini terlihat hanya beberapa siswa saja yang mampu menyampaikan pertanyaan secara singkat, jelas dan sesuai konteks pada saat salah satu siswa presentasi. Namun aktivitas kerja sama yang meliputi membaca, berdiskusi dan menulis sudah tergolong baik. Ini terlihat saat berdiskusi terjadi interaksi antar siswa dalam kelompoknya yang cukup efektif dan pentutoran yang berjalan cukup baik. Dalam pembelajaran, siswa masih menyesuaikan diri dengan model pembelajaran yang diterapkan. Siswa masih terasa asing terutama dalam menyampaikan pertanyaan dan saat presentasi. Aktivitas belajar siswa yang perlu ditingkatkan adalah aktivitas dalam bertanya dan presentasi. Ketuntasan belajar hasil belajar siswa pada siklus I, disajikan pada tabel berikut. Tabel 4. Ketuntasan belajar siklus I Tuntas Tidak Tuntas 19 14 58% 42% Berdasarkan hasil analisis data hasil belajar siswa pada siklus I diperoleh rata-rata sebesar 65,45 dengan daya serap 65,45% dan standar deviasi 13,17 serta dengan tingkat ketuntasan klasikal sebesar 58%. Kategori keberhasilan penelitian adalah jika nilai rata-rata siswa lebih besar atau sama dengan 65, daya serap siswa lebih besar atau sama dengan 65% dan ketuntasan klasikal siswa lebih besar atau sama dengan 85%. Berdasarkan data nilai hasil belajar siswa pada siklus I, maka penelitian ini belum memenuhi syarat keberhasilan tersebut. Secara umum kegiatan pembelajaran pada siklus I berlangsung cukup baik tetapi belum optimal. Beberapa kendala dan permasalahan pada siklus I sebagai berikut: 1) siswa belum terbiasa belajar menggunakan model pembelajaran discovery learning dengan metode outdoor, (2) aktivitas siswa pada saat melakukan pembelajaran belum optimal, (3) kegiatan diskusi kelompok dan diskusi kelas belum sepenuhnya efektif, (4) siswa belum disiplin waktu dalam mengikuti mengikuti pembelajaran di luar kelas. Tabel 5. Data Aktivitas Belajar Siswa pada Siklus II No Aktivitas siswa Kategori 1 Aktivitas dalam belajar SB 2 Aktivitas kerja sama B 3 Presentasi C 4 Aktivitas bertanya B ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 396 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 391-400, November 2020 Berdasarkan hasil observasi tersebut dapat dijelaskan, presentasi yang meliputi tempo bicara tepat, bahasa mudah dipahami, intonasi tepat masih tergolong cukup. Secara umum aktivitas presentasi sudah mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II dan siswa sudah semakin baik menyampaikan presentasi namun masih kategori cukup. Aktivitas dalam bertanya yang meliputi pertanyaan singkat, jelas, dan sesuai konteks sudah tergolong baik. Ini terlihat siswa sudah mampu menyampaikan pertanyaan secara singkat, jelas dan sesuai konteks pada saat salah satu siswa presentasi. Aktivitas kerja sama yang meliputi membaca, berdiskusi dan menulis sudah tergolong baik. Ini terlihat saat berdiskusi terjadi interaksi antar siswa dalam kelompoknya yang cukup efektif dan pentutoran yang berjalan cukup baik. Dalam pembelajaran, siswa sudah bisa menyesuaikan diri dengan model pembelajaran yang diterapkan. Jadi aktivitas belajar pada siklus II sudah mengalami peningkatan. Ketuntasan belajar siswa siklus II disajikan pada tabel berikut. Tabel 6. Ketuntasan Belajar Siklus II Tuntas Tidak Tuntas 31 2 94% 6% Berdasarkan hasil analisis data hasil belajar siswa pada siklus II diperoleh rata-rata sebesar 77,17 dengan daya serap 77,17% dan standar deviasi 8,82 serta dengan tingkat ketuntasan klasikal sebesar 94%. Kategori keberhasilan penelitian adalah jika nilai rata-rata siswa lebih besar atau sama dengan 65, daya serap siswa lebih besar atau sama dengan 65% dan ketuntasan klasikal siswa lebih besar atau sama dengan 85%. Berdasarkan data nilai hasil belajar siswa pada siklus II, maka penelitian ini sudah memenuhi syarat keberhasilan tersebut. Berdasarkan hasil pembahasan dan analisis data, diperoleh bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran discovery learning dengan metode outdoor dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, terutama dalam hal keterampilan kerja sama dan kolaborasi sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Secara kuantitatif, rata-rata hasil belajar siswa untuk siklus I dan siklus II berturut-turut adalah 65,45 dan 77,17 Sedangkan ketuntasan klasikalnya adalah 58,00% dan 94,00%. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dan ketuntasan dari siklus I ke siklus II. Pada aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran akibat penerapan model pembelajaran discovery learning dengan metode outdoor, pada siklus I ada 3 orang siswa memperoleh kualifikasi sangat baik, 19 orang siswa memperoleh kualifikasi baik dan 11 orang siswa memperoleh kualifikasi cukup dan pada siklus II ada 6 orang siswa memperoleh kualifikasi sangat baik dan 27 orang siswa memperoleh kulifikasi baik. Data Perbandingan ketuntasan hasil belajar siklus 1 dan 2 dapat disajikan dalam diagram. ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 397 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 391-400, November 2020 Gambar 1. Perbandingan ketuntasan belajar pada siklus 1 dan 2 Pada siklus I ketuntasan belajar siswa baru mencapai 58,00%, ini masih jauh dari ketuntasan secara klasikal yakni 75%. Hal ini dikarenakan siswa belum terbiasa dengan cara belajar yang baru. Selama ini siswa terbiasa menerima pengetahuan dan tidak terbiasa menggali pengetahuan sendiri. Selain itu kendala yang menyebabkan hasil belajar pada siklus I belum tuntas adalah: 1) siswa belum terbiasa belajar penemuan, 2) siswa belum terbiasa memanfaatkan sumber belajar dengan optimal, 3) siswa belum terbiasa untuk menyampaikan pertanyaan dan menyampaikan jawaban secara jelas, singkat dan sesuai konteks. Bertolak dari kendala yang dihadapi pada siklus I, guru mengadakan perbaikan tindakan untuk diterapkan pada siklus II. Perbaikan yang dilakukan antara lain, 1) memberikan motivasi kepada siswa di setiap kelompok untuk berani mencoba sesuatu yang baru dan berani melakukan inovasi, 2) memberikan materi lebih awal untuk dipelajari di rumah. Pelaksanaan tindakan pada siklus II disesuaikan dengan hasil refleksi siklus I dengan melakukan beberapa tindakan perbaikan. Perbaikan tindakan yang dilaksanakan pada siklus II ternyata secara kuantitas dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini tampak dari kesiapan siswa untuk mengikuti pelajaran. Secara langsung siswa sudah melaksanakan kegiatan sesuai dengan sintak pembelajaran discovery learning. Hal ini didukung oleh beberapa peneliti sebelumnya, seperti Bahari et al. (2018) yang menemukan bahwa Pengaruh Model Discovery Learning Berbantuan Media Lingkungan Alam Sekitar dapat meningkatkan Hasil Belajar IPA. Selaras dengan temuan Candra et al. (2017) yang menyatakan Discovery Learning dapat meningkatkan Kompetensi Pengetahuan IPA Siswa Kelas VI SD, serta Wulandari & Totalia (2015) yang mengungkapkan jika Model Discovery Learning Dengan Pendekatan Saintifik Dapat Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis Dan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Ekonomi Kelas XI IIS I SMA Negeri 6 Surakarta Tahun Pelajaran 2014/2015. ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 398 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 391-400, November 2020 Berdasarkan uraian di atas dan beberapa rujukan terlihat bahwa hasil belajar siswa secara kuantitas mengalami peningkatan dari siklus ke siklus. Ratarata skor hasil belajar siswa pada silkus I mencapai 65,45. Pada siklus II rata-rata meningkat sehingga menjadi 77,17. Ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I mencapai 58,00% Pada siklus II ketuntasan hasil belajar siswa meningkat sehingga menjadi 94%. Secara umum pembelajaran sudah mengalami peningkatan dan belajar menjadi lebih bermakna. Adanya peningkatan persentase nilai siswa baik dari segi aktivitas maupun hasil belajar siswa menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran pada siklus II sudah berjalan dengan baik. Pendekatan dan bimbingan yang diberikan pada siswa membuat siswa lebih berani bertanya dan mengemukakan pendapatnya. Siswa juga sudah bisa menghargai setiap pendapat yang diajukan, hal ini dapat menghilangkan rasa takut dan malu siswa ketika ingin memberikan suatu pendapat. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka disimpulkan yaitu: 1) penerapan model pembelajaran discovery learning dengan metode outdoor dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. hal ini terlihat dari kualifikasi aktivitas belajar siswa pada siklus i ada 3 orang siswa memperoleh kualifikasi sangat baik, 19 orang siswa memperoleh kualifikasi baik dan 11 orang siswa memperoleh kualifikasi cukup dan pada siklus ii ada 6 orang siswa memperoleh kualifikasi sangat baik dan 27 orang siswa memperoleh kulifikasi baik, 2) penerapan model pembelajaran discovery learning dengan metode outdoor dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 65,45 dengan ketuntasan 58,00% meningkat pada siklus II menjadi 77,17 dengan dengan ketutasan 94%. Adapun rekomendasinya sebagai berikut: 1) bagi guru ataupun peneliti lain yang ingin menerapkan model pembelajaran discovery learning dengan metode outdoor diharapkan mencermati kendala-kendala yang dihadapi peneliti, sehingga kegiatan pembelajaran berjalan optimal, 2) dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran discovery learning dengan motode outdoor, hendaknya materi yang diberikan dikaitkan dengan kehidupan di sekitar, 3) bagi sekolah dapat digunakan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. DAFTAR PUSTAKA Adelia Vera. (2012). Metode mengajar anak di luar kelas (Ourdoor study). Diva Press. Bahari, N. K. I., Darsana, I. W., & Putra, D. K. N. S. (2018). Pengaruh model discovery learning berbantuan media lingkungan alam sekitar terhadap hasil belajar IPA. Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, 2(2), 103-112. Candra, et.al. (2017). Pengaruh model discovery learning terhadap kompetensi pengetahuan IPA siswa kelas VI SD Gugus Yos Sudarso Kecamatan Denpasar Selatan Tahun Pelajaran 2016/2017. Mimbar PGSD Undiksha, 5(2). ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 399 Indonesian Journal of Educational Development, 1(3), hlm. 391-400, November 2020 Dianti Purwaningsih, N. M., & Widana, I. W. (2017). Pengaruh model problem based learning terhadap hasil belajar matematika dengan mengontrol bakat numerik siswa. Emasains, 6(2). pp. 153-159. ISSN 2302-2124. Dini Andriani. (2017). Pembelajaran discovery learning untuk meningkatkan kemampuan metakognisi dan penguasaan konsep siswa. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Kimia, 6(2), 302-308. Hosnan. (2014). Pendekatan saintifik dan kontekstual dalam pembelajaran abad 21. Ghalia Indonesia Kurniasih, et.al. (2014). Strategi-strategi pembelajaran. Alfabet. Prastowo, A. (2013).Panduan kreatif membuat bahan ajar inovatif. Diva Press. Sudiarta, I. G. P., & Widana, I. W. (2019). Increasing mathematical proficiency and students character: lesson from the implementation of blended learning in junior high school in Bali. IOP Conf. Series: Journal of Physics: Conf. Series1317 (2019) 012118, doi:10.1088/17426596/1317/1/012118. Widana, I. W., Suarta, I. M., Citrawan, I. W. (2019). Application of simpang tegar method: Using data comparison. Jour of Adv Research in Dynamical & Control Systems, 11(2)-Special Issue on Social Sciences, 1825-1832, http://www.jardcs.org/abstract.php?id=1563. Wulandari, Y. I., & Totalia, S. A. 2015. Implementasi model discovery learning dengan pendekatan saintifik untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan hasil belajar siswa mata pelajaran ekonomi kelas XI IIS I SMA Negeri 6 Surakarta Tahun Pelajaran 2014/2015. Jurnal Pendidikan Bisnis dan Ekonomi, 1(2). ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 400