Tasamuh: Jurnal Studi Islam Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021, 189-387 ISSN 2086-6291 . 2461-0542 . https://e-jurnal. id/index. php/Tasamuh Nepotisme Golongan Dan Jabatan (Upaya Penggalian Nilai-nilai Pengajaran Hukum Nepotisme dalam Perspektif Hadi. Nursyirwan Institut Agama Islam Negeri Bone Email: nursyirwan. Abdulahanaa Institut Agama Islam Negeri Bone Email: abdulahanaa@gmail. Hasbi Siddik Institut Agama Islam Negeri Bone Email: jalanbima762@gmail. Abstract: This paper is themed Nepotism of Groups and Departments (Efforts to excavate the values AUAUof the Teaching of the Law of Nepotism in the Perspective of Hadit. There are three main issues raised, namely: 1. How is the understanding of the hadith of group nepotism? 2. What is the quality of hadith and understanding of office nepotism? 3. What is the understanding of the hadith law of nepotism? The answer to the above problem is in accordance with the hadith of the Prophet saw, that Nepotism is a monopoly attitude in a selfish way or group in demanding a group bond has no place at all in Islam. Nepotism towards the position in the hadith that has been described is a description of the nepotism carried out by the Prophet saw. against his friend can be said to be true. But the Prophet saw. carry out the practice of nepotism with several considerations, including loyalty and the personality of the companions of the Prophet. If the nepotism carried out against a person does not have terms and conditions, such as trust and professional, then the law of nepotism is Haram. However, if a person is appointed to a position with requirements, such as trust and professional, then it is not prohibited. Keywords: Nepotism. Class. West. Law TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 Abstrak: Tulisan ini b e rtemakan AuNepotisme Golongan dan Jabatan (Upaya penggalian nilai-nilai Pengajaran Hukum Nepotisme dalam Perspektif Hadis ). Ada tiga masalah pokok yang diangkat, yaitu: 1. Bagaimana pemahaman mengenai hadis nepotisme golongan? 2. Bagaimana kualitas hadis dan pemahaman mengenai nepotisme jabatan? 3. Bagaimana pemahaman mengenai hadis hukum nepotisme ? Jawaban dari masalah di atas sesuai dengan hadis Nabi saw, bahwa 1. Nepotisme adalah sikap monopoli d engan cara mementingkan diri sendiri atau golongan dalam menuntut sesuatu ikatan golongan tidak mendapat tempat sama sekali dalam Islam. Nepotisme te rhadap jabatan dalam hadis yang telah diuraikan adalah menggambarkan nepotisme yang dijalankan oleh Nabi saw. terhadap sahabatnya dapat dikatakan benar. Akan tetapi Nabi saw. menjalankan praktek nepotisme dengan beberapa pertimbangan, diantaranya loyalitas dan kepribadian sahabat Nabi saw. Jika nepotisme yang dijalankan terhadap sesorang tidak memiliki syarat dan ketentuan, seperti amanah dan profesional maka hukum nepotisme tersebut Haram. Akan tetapi kalau sesorang itu diangkat pada suatu jabatan memiliki syarat, seperti amanah dan professional maka hal tersebut tidak dilarang. Kata Kunci: Nepotisme. Golongan. Jabaran. Hukum Pendahuluan Reformasi adalah langkah yang diambil pemerintah menuju arah pembaharuan dan perbaikan dalam suatu lingkungan hidup berAmasyarakat atau bernegara. Tidak dipungkiri bahwa kehidupan beArmasyarakat atau bernegara tidak bisa lepas dari problematika Reformasi dilakukan sebagai upaya untuk mencari solusi dalam menghadapi munculnya problematika kehidupan di segala sektor. Sedangkan problematika hidup kian hari semakin kompleks dengan berbagai motifnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan yang Islam hadir sebagai tuntunan untuk berbagai aspek yang manusia Tidak lekan dengan zaman. Islam pun hadir sebagai solusi berbagai masalah yang dihadapi. Saat ini. KKN . orupsi, kolusi dan nepotism. di Indonesia telah merajalela tumbuh menjamur di seluruh wilayah negeri. KKN telah merajai problem yang kini sedang dihadapi masyarakat Indonesia. Dalam realitanya, pelaku KKN sudah tidak malu merangkul berbagai pihak dalam melancarkan aksinya terbentuk secara terorganisir dan Hal itulah yang menjadi kesulitan dalam mengungkap kasus Nursyirwan. Abdulahanaa. Hasbi Siddik - Nepotisme Golongan san Jabatan . Dampak korupsi sendiri semakin meluas meracuni berbagai elemen masyarakat, baik dari tingkat elite penguasa sampai di tingkat masyarakat kelas bawah. Nepotisme khususnya merupakan salah satu bentuk kehidupan yang dianggap menyimpan dari suatu kesepakatan umum, karena realitasnya sikap nepotisme sering menempatkan sesuatu yang tidak pada Hal tersebut terjadi karena adanya keterkaitan antara penentu kebijakan dan otoritas yang terdapat pada seseorang dan sikap seseorang yang tidak profesional dan proporsional menggunakan wewenang dan kekuasaannya. Atau dengan kata lain penggunaan kekuasaan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu yang identik dengan sikap monopoli yang seringkali melahirkan keputusan yang menuai protes dan tudingan ketidakadilan atau ketidakcocokan bagi komunitas tertentu. Dari uraian di atas, maka penulis mencoba mengeksplorasi lebih jauh lagi mengenai hadis yang terkait dengan nepotisme. Dengan demikian, penulis akan mengemukakan pokok permasalah dalam pembahasan ini adalah: Bagaimana pemahaman mengenai hadis nepotisme golongan, bagaimana kualitas hadis dan pemahaman mengeA nai nepotisme jabatan?, dan bagaimana pemahaman mengenai hadis hukum nepotisme ? Metode. Pendekatan dan Teknik Analisis Dalam makalah ini, penulis menggunakan metode lafaz. Pendekatan yang penulis gunakan adalah pendekatan multidisipliner oleh karena persoalan nepotisme perlu dihat dari perspektif teologis normatif, sosiologis dan historis, sedangkan teknik analisis yang digunakan adalah teknik interpretasi tekstual, kontekstual dan intertekstual. Takhriji hadis Metode Dalam pandangan al-TahAn, takhrj adalah menunjukkan letak hadis pada sumbernya yaitu kitab-kitab hadis yang didalamnya dikemukakan hadis secara lengkap dengan sanadnya masing-masing, kemudian guna kepentingan penelitian maka TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 dijelaskan hadis bersangkutan1. Lain halnya dengan Syuhudi Ismail, ia lebih komprehensif mendefinisikan takhrj al- hads dengan mengatakan bahwa takhrj al-hadis merupakan kegiatan pencarian hadis sampai menemukannya dalam berbagai kitab hadis yang disusun langsung oleh mukharrj-nya,kitab-kitab memperlihatkan hadis secara lengkap dari segi sanad dan matan. Proses pencarian ini dilakukan berdasarkan metode tertentu. Ada lima metode mentakhrij hadis, untuk memudahkan dan membantu proses pencarian, maka harus dipilih salah satu metode yang dianggap dapat digunakan dengan mudah. Dengan lima metode takhrij hadis yang ada, maka penulis dalam meng takhrij hadis dalam pembahasan ini menggunakan metode takhrij al-hadis dengan lafal. Penulis melakukan explorer hadis dengan menggunakan salah satu lafal yang terdapat dalam matan hadis. Secara umum, para peneliti hadis menggunakan MuAojam Mufahras l alfA al-uadi al-Nabaw dalam pelacakan hadis-hadis yang diinginkan. Selain buku tersebut, juga menggunakan mausuah al-uadi al-Syarf dan Maktabah syamilah serta Maktabah Lidwa sebagai sarana dalam pelacakan hadis yang diinginkan. Bertolak dari pelacakan hadis-hadis mengenai nepotisme di dalam kitabkitab hadis yang muAotabar, maka password yang dapat mewakili makna nepotisme adalah AA. Dengan kata A Atersebut, maka MuAojam Mufahras li alfAz al-hadis al-Nabaw, karya W. Wensik dapatlah diketahui hadis-hadis yang dimaksud. Berdasarkan hasil al-TahAn. Usul al-Takhrj wa DirAsAt al-AsAnd. (Halb Matbaah al-Arabiyah, 1398 H/1979 M), h. Syuhudi Ismail. Metodologi Penelitian Hadis. (Cet. II. Jakarta: Bulang Bintang, 1. , h. Kelima metode yang dimaksud yaitu, pertama, takrj melalui lafal pertama matan hadis, kedua, takhrj melalui lafal-lafal yang terdapat dalam matan hadis, ketiga, takrj melalui periwayatan pertama, keempat, takhrj melalui tema hadis. , dan yang kelima, takhrj berdasarkan klasifikasi jenis . Lihat Muhammadiyah Amin. Menembus Lailatul Qadar (Cet. Makassar: Melani Press, 2. , h. Nursyirwan. Abdulahanaa. Hasbi Siddik - Nepotisme Golongan san Jabatan . penelusuran hadis tersebut, maka penulis dapat mengidentifikasi mengenai beberapa sanad dan matan hadis yang terkolerasi dengan nepotisme. Riwayat al-al-TahAn. Usul al-Takhrj wa DirAsAt al-AsAnd. (Halb Matbaah al-Arabiyah, 1398 H/1979 M), h. Bukhari dapat ditemukan dalam sahih al-Bukhar yang tersebar di dalam beberapa bab yaitu. bab al-MusAqat, bab FarAou al-Khamsah al-Jizyat, bab al-MunAqib, dan bab al-Fitan. Sedangkan riwayat Muslim dalam sauh Musim dapat ditemukan dalam bab zakAt, riwayat al-Turmuz dalam dalam sunan al-Turmuz dapat ditemukan dalam bab al-fitan, riwayat al-NasA dalam Sunan al-NasA dapat ditemukan dalam bab adAb al-QudAt, riwayat Ahmad bin Hanbal dapat ditemukan dalam bab Musnad al-Muksirin min al-sahAbat, bab BAq MusnAd alMuksirn, bab Awwal MusnAd al-KufiyAna dan bab Baq MusnAd al-AnAr. Klasifikasi Berdasarkan takhrij hadis yang penulis lakukan, maka hadis-hadis tentang nepotisme dapat diklasifikasikan menjadi tiga tema. Hadis-hadis mengenai nepotisme terhadap suatu golongan ditakhrij oleh tiga imam mukharrij. Kesemuanya adalah Imam Bukhariy sebanyak dua hadis. Imam Muslim satu hadis, dan Imam Ahmad bin Hanbal sebanyak tiga hadis. Jumlah keseluruhan hadis-hadis mengenai sikap nepotisme terhadap suatu golongan sebanyak enam hadis. Hadis-hadis mengenai sikap nepotisme mengenai jabatan ditakhrij oleh lima imam mukharrij. Yaitu: imam Bukhariy satu hadis, imam Muslim satu hadis, imam al-Turmudziy satu hadis, imam al-Nasaiy satu hadis dan imam Ahmad bin Hanbal satu hadis, jumlah totalnya adalah lima hadis. Hadis-hadis mengenai hukum nepotisme ditakrij oleh oleh empat imam mukharrij. Kesemuanya adalah Imam Bukhary empat hadis. Imam Muslim dua hadis. Imam Ahmad bin Hanbal empat hadis dan Imam Turmudzy satu hadis. Jumlah TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 keseluruhan hadis-hadis mengenai hukum nepotisme sebanyak sebelas hadis. Itibar sanad Dalam pandangan ulama hadis, iAotibar bermakna menyerA takan sanad-sanad yang lain untuk suatu hadis tertentu, yang hadis itu pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat seorang periwayat saja dan dengan menyertakan sanad-sanad yang yang lain tersebut akan dapat diketahui apakah ada periwayat lain atau tidak ada untuk bagian sanad dari sanad hadis yang dimaksud. Adapun kegunaan itibar untuk mengetahui keadaan sanad hadis seluruhnya dilihat dari ada atau tidak adanya pendukung berupa periwayat yang berstatus mutabi atau syahid. Hadis riwayat Muslim Hadis riwayat Turmudzy a a ca a a e a ca a a a ca a a e a e a ca a a a a ca a a a a ca A CE aIa I acI aA s AI II I EII OII I A a a e a a ca a a a a a a a e a a a a a e a a a ca a a e a a e AI A s I CE aI C O I I aA a a e a e e U a a ca a e a a e e a a e a a AeIA AOA AIA AOA AIA AEA AEA AIA A EA a AIA AEA AIA AIA AEA AIA a e a e a a a a a a a ca a a e a a a ca a aa AEE ac AE EE ac EO aN OEI ACE E aIE aI EIA a AOEA a a a U a e a ae a ca a a a U a a a e a e a e A AEI ACE auIE eI aaEC eOI a aO AA aOA AIEA e a a e a e a ca a A ECO aI EOA a a e a A I IIO I OE I I O O I a eIA a aa eA a a eI aIa eI aIEE a eI a aOe eI a aOA ACA As I E IIA AEIA CE O O E NEE AOE NEE EON O EI IE AEA Maktabah Syamilah (CD ROOM) AA195AA AANursyirwan. Abdulahanaa. Hasbi Siddik - Nepotisme Golongan san Jabatan . AI OEI IEOI AC E O E NEE AOE NEE EON O EI IEIA AECO I O A AO O ECO OI OE EO CEA AO OO N O I AOA AA5AA AAHadis riwayat NasaiyAA AAc. AAHadis riwayat Ahmad bin HanbalAA AAd. Aa e a a a a a ac a e a a e e a e aA AE Ca aE a ac aIaA A Ca aE a ac aIa a UA AI II I a EA a a a Aa e a a a e a a a a a a a e a a a ac a aA A I U Oa eI aOe a e aIA A I C CE aIA Aa a e a ac a a U e e a e a a a a a aA AEE ac aEaONeA AOE EE ac aA acE aA A A a a AO I E aII EIA aA A sA a Aa a ac a a a a a a e a e a a a e a e a e a a a U a a ac aA A AEI CE auIE eIA AOEI ACE E aIE aI EI IEA Aa a a U a e a a ac a e a e a a eA Aa aea e a a eA AeA AA6AA a AECOI aO AA aO ECO aI EO aA Aa ac a a a a e a a a a a e a a a a e a a a e a a a a a e a aA AI O aO I NOI I I C I I aA Aa e aa e e a a e a a a aa a aea a a a aA Ae aA AO a EE ac E IN CE CEA A aI IE a sE I O a aI sA Aa a U e eae a a aa aA AOE EE aca aE a ea eIEaI aE aI eA Aa e aIEeaA A O A a AE aII EIA aA Aa aA AacA Aa ac a aA a U aa a aa aA Aea a eA AEE ac aEOe aN aO aE aI aaEC eOI a aOA AEE ac AEA AAEI ACE OE aA Aa a a U a e a a ac a e a e a U a a eA AA7AA a A AA aO ECO aI EOA A)AMaktabah Syamilah (CD ROOMAA A)AMaktabah Syamilah (CD ROOMAA AA7AA A)AMaktabah Syamilah (CD ROOMAA AA5AA AA6AA AATASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021AA AA196AA AA8AA AASkema jalur nepotisme terhadap jabatanAA Ay U A AayA AsuA AUuA AUuA AsuA AsuA A e a c aeu a aA AeA AEa aA AUuA AUuA AEaa a c aeu aa aoA AUuA AUuA AUiA AUiA AUuA AUuA AUuA A uaA AUuA A uaA AUuA Aa eA AUuA A uaA A uaA A uaA A uaA AUciA Asc aA A uaA A uaA A cu a uA A uaA Aa A A uaA A cu UiA Ascs sA A uaA A cu UcA AsUA Asc aA As cu cyA A uaA Asa A A uaA A cu a uA A cu uA A cu caA A uaA A uaA As A AsA AAPembahasanAA AAPengertian NepotismeAA AANepotisme berasal dari kata latin, nepos yang berarti ponakan atauAA AAcucu. Yang pada mulanya digunakan untuk membahas masalah praktekAA AAfavoritism yang dilalukan oleh pemimpin geraja Katolik Roma pada Nursyirwan. Abdulahanaa. Hasbi Siddik - Nepotisme Golongan san Jabatan . abad pertengahan. Istilah ini dalam artian memberikan jabatan kepada sanak, family, ponakan atau orang-orang yang disenangi. Nepotisme juga bermakna . Perilaku yang memperlihatkan kesukaan yang berlebihan kepada kerabat dekat. kecendrungan untuk mengutamakan . sanak saudara sendiri, terutama dalam jabatan, pangkat di lingkungan pemerintah. tindakan memilih kerabat atau sanak saudara sendiri untuk memegang pemerintahan. Pengertian dan penggunaan istilah ini kemudian berkembang, sehingga saat ini nepotisme berlaku untuk setiap praktek favoritism, baik dalam birokrasi pemerintahan maupun dalam manejemen perusahaan swasta. Dalam bahasa Arab istilah nepotisme disinonimkan dengan kata aa U a U a A Ayakni mementingkan diri sendiri. Kata A aAberasal AAirad yang arti U a leksikalnya yaitu pengaruh atau bekas. Kata A aAmenurut Ahmad ibn al-Fariz diartikan dengan mengambil harta rampasan perang untuk U aa kepentingan pribadi10. Oleh karena itu kata A aAdimaksudkan lebih cendrung kepada pengertian untuk kepentingan pribadi, meskipun dalam hal ini terkait juga kepentinga keluarga. Kata nepotisme lebih menekankan kepada kepentingan keluarga meskipun kepentingan pribadi terkait didalamnya. Oleh karena itu kedua kata ini mempunyai hubungan timbal balik. Deskripsi Sanad dan Matan Hadis tentang nepotisme terhadap suatu golongan. a a ca a AO a eI aOe aO eIA a e aA aIa A U e A a e aI OaOI a a a ac aIa a aNA AO CEA s a a a a e a a A aA acEA a AA aAEE ac aEaOe aN aO aEacIA ca AEE ac aIe aN CaE aa aA a a A I a U aA ca AIEA A aIA a a a a e a e ae e aa a a e a a a e a e e a ca a a aAEA ANEE A AOA AEA AEIA aEE ENI aEO aI ACEOA Hasan Sadiliy. Ensiklopedia Indonesia (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hove, 1. , h. Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa,edisi IV(Cet. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2. , h. Ahmad Ibnu al-Fariz ibn Zakariyah ibn Husain ibn Fariz. MuAojam MaqAyis al-Lughah. Juz I (Bairut: Dar al-Fikr, t. ), h. AATASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021AA AA198AA Ae a a a a a a aa e a a a a aa a aA AeA Aa eA ANEE EaEA AE aOIaIa aI eI C aO s a aI aEN ACE E ENI I A a a AaeaA Aa a a a a a a a a ac aA A eO aI a eO a a U Aa eA AE eI a a aA AA aA AO a ac EC eO aIA AOCOEOI E CE A auIA a a a eA AeA a A EO aA AAHadis nepotisme mengenai jabatan:AA Aa ac aIa aIa acI a e aI E e aIa acI aO aIa acI a e aI a ac Ca aE a ac aIa aIa acI a eIaA AsA a a Aa e a a ac a a a e a a a a a e a a a a a ac a aA A Ca Oa eI I a e aI aIE a sEA AA s I CE aIA Aa aA Aa acA Aa e a a e e a a e a ac a a U e e a eA a a a ANEE AEA AOE aA A E a aA AOI E aII EIA aA AI O a aI sA a Aa a a e a a ac a a a a a a e a e a a a e a e a e a a a U a a aA A AEI ACEA ANEE EO aN OEI ACE E aIE aI EI IEA Aa a a U a e a a ac a e a e a a eA Aac a e a a e a e a a eA AeA a AuaIEI ECOI aO AA aO ECO aI EO aA AA2. AAHadis tentang hukum nepotismeAA AA3. AAKritik SanadAA AA1. Ae a ac a a ac a a e a e a aA Aa ac a a a a ac U a ac a a a e a e aA AO ECI I EIA AI I I OO aI a sA Aa a a a a aa aA AacA Aa ac aIa aOe a e aI aO eN a e a a e aA ANEE aAEA ANEE CE CE Ea OE aA A aI aA AsA a a Aa a aA Aa U a U aeA Aa a a e a ac ac a e a a a e a a eA AE aOI aN CEOA ANEE EO aN aOE aI uaIEI OI aO a aOIO I aA Aa a aea a a a a a aA Aa a a ac a e e a ac a e a a aA Aa a ac aA AEIeA ANEE CE O auE aNI CNI OEO NEE CA AAI II O OE aA AAUntuk mengetahui kualitas hadis, maka terlebih dahulu harusAA AAdiketahui kualitas sanad dan matannya. Kualitas sanad dapat diketahuiAA AAmelalui dua kategori yang dapat dijadikan parameter dalam metodeAA AAkaedah keshahihan sanad hadis yaitu ketersambungan sanad, segiAA AAkeadilan dan dari segi kedhabitan. adapun hadis yang menjadi objek penelitian dalam makalah iniAA adalah hadis tentang nepotisme mengenai jabatan yang diriwayatkanAA Nursyirwan. Abdulahanaa. Hasbi Siddik - Nepotisme Golongan san Jabatan . Ahmad bin Hanbal dengan jalur sanad Yazid bin Harun. SyuAobah. Qatadah. Anas bin Malik dan Usaid bin Khudair. Biografi masingmasing periwayat hadis sebagai berikut: Ahmad bin Hanbal Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad al-Syaibani Abu Abdillah al-Marwani al-Bagdhadi. Beliau lahir 164 H/780 M, dan wafat tahun 241 H. Beliau belajar hadis pada usia 15 tahun dibawah bimbingan Ibrahim bin Ullaya dan belajar fighi serta ushul fighi pada Imam SyafiAoi11 Guru-gurunya antara lain:Abd. Rahman bin Mahdi, yazid bin Harun. Abdillah bin Umair al-Hamdhani. WaqiAo, dan selainnya. Murid-muridnya antara lain:Bukhariy. Muslim, dan Abu Daud. Komentar kritikus hadis mengenai Ahmad bin Hanbal:Al-Qatthan: Ia menyatakan bahwa Ahmad adalah periwayat hadis yang tsiqah, shahih al-Musnad. Ibn Main: Ia menyatakan bahwa saya tidak pernah melihat periwayat sebaik Ahmad. Al-SyafiAoi: Ia menyatakan bahwa Ahmad adalah hiasan Ummat di bidang fighi dan hadis, ia (Ahma. adalah periwayat yang zuhud, waraAo, alim, dhabit hadisnya dapat dijadikann hujjah12 Yazid bin Harun Nama lengkannya adalah Yazid bin Harun Zazi bin Tsbit al-Aslamiy Abu Khalid al-Walzihiy, wafat 206 H. Ia termasuk periwayat hadis yang berguru secra langsung kepapa Sulaeman alTaimiy. Yahya bin Zaid al-Anshariy. Ibnu AoAun SyuAobah. SyuAobah. Muhammad bin Ishaq. Sofyan bin Hasan. Murid-muridnya antara lain: Ishaq bin Ruwaiyyah. Yahyan bin Main. Bundar. Abu Musa. Muhamad Ahmad bin Hanbal. Ibnu Salam dan Ibnu Mahir. Komentar kritikus hadis mengenai Yazid bin Harun: Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa gurunya memiliki hadis-hadis shahih. Muhammad Zubayr Siddiqiy. Hadidth Literature. Its Origin. Development and Special Feature(Cambridge: The Islamic Text Society, 1. , h. SyihAb al-Din Ahmad ibn Hajar al-Asqalan. Tahzb al-Tahzb. Jilid IX (Cet. Bairut: Dar al-Ilmiyah, 1. , h. TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 Ibnu al-Madaniy menyatakan bahwa aku tidak pernah melihat ahli hadis selain Yazid. Ibnu Main menyatakan bahwa Ia tsiqah dan adil dalam riwayat. Abu Bakar menyatakan bahwa Yazid bin Harun adalah shahih13 SyuAobah Ia bernama SyuAobah bin Hajjaj bin al-Waad al-Ifqi al-Hazbiy al-Wasitiy al-Bashriy. Ia lahir pada 82 H/701 M dan wafat 160 H/766 M di Basrah. 14 Guru-gurunya antara lain: Aban. Ibrahim bin Amir bin Masud. Qatadah. Muhammad bin al-Muntshairiy. Muridmuridnya antara lain: Ibnu Idris. Ibnu Mubarak. Muhammad bin JaAofar. Yazid bin Harun. Ayyub al- Amasiy, al-WaqiAoi dan Usamah. Komentar kritikus hadis mengenai SyuAobah Ulama hadis . menyatakan bahwa ia pemahamannya di bidang hukum. Ia adalah Amir al-Mukminin fi al-Hadis, dan lebih jelas ucapannya dalam melafalkan hadis-hadis shahih serta tidak ditemukan riwayat yang Qatadah Ia bernama lengkap Qatadah bin Aziz bin Amar bin RabiAoah bin Amar bin al-haris bin Sadus Abu al-Khattab al-Sadusiy wafat 117 H. Guru-gurunya antara lain: Anas bin Malik. Abdullah bin Sirjis, dan al-Thufail. Murid-muridnya antara lain: Sulaeman alTaimiy. Jarir bin Hasyim. SyuAobah, dan Abu Awanah. Komentar kritikus hadis mengena Qatadah: Ibnu Main menyatakan bahwa Qatadah adalah tsiqah. Abu ZarAoah menyatakan Qatadah adalah seorang yang alim16. Ibnu SaAoad menyatakan Qatadah adalah periwayat yang maAomun dan hadisnya dapat dijadikan hujjah. Ibid. Juz VII. Hasbiy Ash-Shiddiqiy. Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadis. Jilid II (Cet. VI. Jakarta: Bulan Bintang, 1. , h. SyihAb al-Din Ahmad ibn Hajar al-Asqalan. Tahzb al-Tahzb,A h. SyihAb al-Din Ahmad ibn Hajar al-Asqalan. Tahzb al-Tahzb,A, h. Hasbiy Ash-Shiddiqiy. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, tt. , h. Nursyirwan. Abdulahanaa. Hasbi Siddik - Nepotisme Golongan san Jabatan . Anas bin Malik Ia bernama lengkap Anas bin Malik bin Nadhir bin Damdam bin Said bin Harram wafat 91 H. Guru-gurunya antara lain: Aisyah binti Abu bakar. Usman bin Affan. Umar bin Khattab, dan Fatimah binti Rasulullah. Murid-muridnya antara lain:Qatadah bin Diama. Hilal bin Jubair, dan Muslim bin Kaisal. Komentar kritikus hadis mengenai Anas bin Malik: Para sahabat menyatakan bahwa ia adalah seorang yang adil dan tsiqah18. Ia seorang yang amir alMukminin fi al-Hadis. Usaid bin Hudair Nama lengkapnya adalah Usaid bin Hudair bin sammak bin Atika. Tabaqatnya sahabiy. Ia menetap di madinah, wafat 20 H. Usaid bin Hudair bin Sammak bin Atika meriwayatkan hadis secara langsung dari Rasulullah. Murid-muridnya yang meriwayatkan hadis darinya antara lain adalah Anas bin Malik. Aisyah binti Abi Bakr. Ukrimah bin Khalid bin Ash dan lain-lain. Dengan mengetahui biografi para periwayatnya hadis yang telah dipaparkan di atas, maka tampak bahwa mereka memiliki hubungan guru murid, sehingga dapat dinyatakan bahwa sanadnya muttasil . erA Disamping itu, diketahui pula mereka adalah periwayat yang masing-masing kepribadiannya memiliki kredibilitas, sehingga susunan sanad hadis tentang nepotisme terhadap jabatan adalah berkualitas sahih. Berdasarkan hasil kritik sanad, hadis tersebut juga dinilai shahih dari segi matan jika menggunakan kaidah Ausahihnya sanad juga berdampak pada sahihnya matan. Ay Selain itu, terhindar dari syaz dan illat atau matannya tidak bertentangan dengan petunjuk AlqurAoan. Kritik Matan Berdasarkan hasil kritik sanad, hadis tersebut juga dinilai shahih dari segi matan jika menggunakan kaidah Ausahihnya sanad juga SyihAb al-Din Ahmad ibn Hajar al-Asqalan. Tahzb al-Tahzb,A, h. Subhi Saleh. Ulmul al-hadis wa MusthAlahu (Beirut: Dar al-Ilmi li Malayain, 1. , h. SyihAb al-Din Ahmad ibn Hajar al-Asqalan. Juz I. Tahzb al-Tahzb,A, h. TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 berdampak pada sahihnya matan. Ay Selain itu, terhindar dari syaz dan illat atau matannya tidak bertentangan dengan petunjuk AlqurAoan. Empat riwayat dari periwayat yang berbeda memiliki susunan matan yang redaksinya hampir sama, kecuali riwayat al-Turmudzi yang menggunakan kalimat AIE AEI OEI IEOIA. Perbedaan kalimat tersebut tidak mengurangi substansi persamaan makna, karena menganA dung pengertian yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa hadis tersebut sahih dan tidak juga bertentangan dengan akal sehat. Kemudian dalam kritik matan Asbab al-wurud hadis adalah aspek penting dalam disiplin ilmu hadis. Jika seseorang ingin mengkaji makna hadis, terlebih dahulu harus mengetahui asbab al-wurud untuk dapat memaknai hadis secara tekstual dan kontekstual. Namun, asbab alwurud hadis yang menjadi pembahasan pada makalah ini, terintegrasi ke dalam matan hadis yaitu ketika seorang laki-laki dari kaum Ansar yang datang kepada Rasulullah dan bertanya mengenai perihal dirinya yang ingin di angkat menjadi amil. Syarah Hadis Hadis tentang nepotisme terhadap suatu golongan. ca a e aA aIa A a AO a eI aOe aO eI aO Ca aE aI eA UA aIaA U e A a e aI OaOI a a a ac aIa a aNA s a a e a a a e a e a ca a a e a a a ca a ca ca a a a a e a a a a a aAEA eA E a aNIA A a NEE IN CE IE a AE EE ac EO aN OEI EIA aEA a a a a e a e ae a aa a e e a a e a a e a a e a ca a AEOIaI aII CO s a aI aEN ACEA a AaEO aI ACEO E OA a a ANEE EA U a e a a a a e a ca a a a a a a a a a a a a a a a a a e a a a a A eOI a aO aA AE ENI I NEE EaE OCOEOI E CE A auIEI A e a a e a e a ca a a e a a aO ECO aI EO aA Artinya: Ahmad bin Yunus menceritakan kepada kami. Zuhair menceritakan kepada kami dari Yahya bin Said berkata Saya mendengar Anas berkata bahwa Rasulullah saw pernah memanggil kaum Ansar untuk menetapkan nama negeri, lalu mereka berkata: tidak. Nursyirwan. Abdulahanaa. Hasbi Siddik - Nepotisme Golongan san Jabatan . Demi Tuhan. Kami tidak akan menetapkan sebelum rekan-rekan kami dari kaum Quraisy ikut menetapkannya. Rasulullah Saw bersabda kepada mereka (Kaum Ansa. : Allah tidak menghendaki Lalu di katakan kepada mereka : Sungguh kalian akan mendapatkan sesudahku suatu golongan yangbersikap mementingkan diri sendiri, maka bersabarlah sampai bertemu denganku di Telaga. Hadis tersebut di atas berbicara tentang nepotisme terhadap Dalam sebuah perundingan yang dilakukan Nabi untuk menetapkan sebuah nama negeri dan yang diajak untuk menetepakan nama negeri tersebut adalah dari kaun Anshar. Akan tetapi mereka mengajukan keberatan yang disebabkan belum hadirnya sebahagian rekan-rekannya. Kelihatannya sikap yang ditampilkan oleh kaum Anshar dalam hadis tersebut mengarah kepada asabiyah yang merujuk kepada sikap fanatik kepada sesuatu golongan atau bangsa secara berlebihan sehingga tidak memper-timbangkan agama. Sikap fanatik kepada golongan atau bangsa merupakan fitrah manusia. Dan sebenarnya sudah ada bersama keberadaan manusia di bumi ini. Sebelum kedatangan Islam, umat manusia berada di dalam keadaan berpecah-belah dan hanya terikat di antara mereka dengan semangat kesukuan, dan golongan. Hal tersebut dapat dilihat golongan-golongan terdapat pembagian tersebut. Misalnya. Aus dan Khazraj di Madinah. Bani AoAdnan dan Bani Qahtan di Semenanjung Tanah Arab, golongan Asyuriyyin di Iraq dan Lubnan dan bangsa Barbar di Maghribi. Asabiyah mempunyai kaitan yang amat kuat dengan golongan. Asabiyah merupakan suatu konsep yang sangat berbeda dengan Islam, sebab ia menyeru kepada kesatuan berdasarkan pada ikatan kekeluargaan dan kesukuan, sementara Islam menyatukan manusia berdasarkan pada aqidah, yaitu keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Islam menyeru ummatnya bersatu berdasarkan ikatan ideologi Islam. Menyatukan manusia berdasarkan ikatan kesukuan/golongann jelas dilarang. Diriwayatkan dari Abu Daud bahwasanya Rasulullah bersabda: http://forum. net/topic/1668871/all TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 a a e a a ca a a e ca a e a AE a a ac aIa e aI aO eNA e ca Aa ac aIa e aIA AO aI a OO I II aA a A I aA a a e e a ca a e a e ca e a e a ae a a e a a ca A aI a E aI EIA ANEE aI a EOIIA a AE O aI I a aEO I a A a a a ca a e a e e a a e a ca a e a a a a ca a a e a a a ca a ANEE AE NEE EO aN OEI CE EO aIIA a AO aI I aI I OE A a AI A a a aa aa a ea ea ca ca AaI eI a auE a aA a acO s aOEO a aII aI eI CE a aA a acO s aOEO a aII aI eIA aa a AaI a aA a acOA Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ibnu As Sarh berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dari SaAoid bin Abu Ayyub dari Muhammad bin AoAbdurrahman Al Makki -maksudnya Ibnu Abu Labibah- dari Abdullah bin Abu Sulaimn dari Jubair bin MuthAoim bahwa Rasulullah shallallahu Aoalaihi wasallam bersabda: AuBukan dari kami orang yang mengajak kepada golongan, bukan dari kami orang yang berperang karena golongan dan bukan dari kami orang yang mati karena golongan22Ay. Diceritakan oleh At-Tabrani dan Al-Hakim bahwa dalam suatu insiden beberapa orang mengakatakan dan merendah-rendahkan Salman AI-Farisi. Mereka membicarakan kelemahan orang Parsi dibandingkan dengan orang Arab. Ketika mendengar hal ini Rasulullah , menyatakan dengan tegas AuSalman adalah sebahagian dari kami. Ahlul Bait . eluarga Rasu. Ay. Pernyataan Rasulullah\ ini memutuskan seluruh ikatan berdasarkan kepada faktor keturunan dan golongan/kesukuan. Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahawa ikatan golongan tidak mendapat tempat sama sekali dalam Islam. Biografi Kitab 9 Imam Hadis pada Lidwapusaka http://maruwiah. com/2010/04/10/nasionalisme-dan-islam/ Nursyirwan. Abdulahanaa. Hasbi Siddik - Nepotisme Golongan san Jabatan . Hadis nepotisme mengenai jabatan: a a ca a a e a ca a a a ca a a e a e a ca a a a a ca a ae a a a ca A CE aIa I acI a e aI aA sA s AI II I EII OII I A a ca a a a a a a a e a a a a a e a a a ca a eA a eI aIa eI aIEE a eI a aOA AI CE aI C OA s a a a a e e U a a ca a e a a e a AEI e aA a aE a aOE NEE aA acEA aANEE aEaOe aN aO aEacIA AOI E aIIA a a s A aI A e a a e a e a a e a ca a a a U a a a e a e a e a a a e a e a a a a a a AACE E aIE aI EI IE AEI ACE uaIEI ECOI aOA e a a e a e a ca a a e a U a a a A AA aO ECO aI EO aA Artinya: Muhammad bin al-Mustna dan Muhammad bin Bassyar berkata Muhamad bin JaAofar menceritakan kepada kami ,SyuAobah mencedritakan kepada kami, ia berkata(SyuAoba. Saya telah mendengar Qatadah ia menyampaikan dari Anas bin Malik dari Usaid bin Hudair bahwa seorang laki-laki dari kaum Anshar berada di sisi Raasulullah dan berkata : Wahai Rasulullah mengapa engkau tidak mengangkat saya sebagai pegawai sebagaimana engkau telah mengangkat si Fulan ? Rasul bersabda: kamu akan menjumpai masa sesudahku sikap mementingkan diri sendiri maka bersabarlah hingga engkau menemukan di Telaga. Tekstual hadis tersebut di atas, menggambarkan di satu sisi Nabi telah mengambil pegawai pada suatu jabatan, disisi lain ada seorang dari kaum Anshar merasa mampu terhadap jabatan tersebut. Oleh karena itu, ia mengadu kepada Nabi dengan ungkapan sebagai berikut: Kenapa Engkau tidak mengangkatku menjadi pegawai sebagaimana si fulan. Berdasarkan pelacakan terhadap berbagai buku dinyatakan bahwa orang yang mengadu tersebut adalah Usaid bin Hudair24 A E IEOIAbermakna Usaid bin Hudair meminta kepada nabi untuk dijadikan pegawai yang mengurusi zakat atau diangkat menjadi gubernur SyihAb al-Din Ahmad bin Muhammad al-Asqalan. IrsyAd al-Sar al-Syarah Sahih al- Bukhar. Jilid VI (T. tp: DAr al-Fikr,t. , h. TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 pada suatu daerah25. Dorongan keinginan tersebut, karena nabi telah mengangkat sesorang pada jabatan tertentu seperti yang digambarkan pada kalimat AEIAyang bermakna sebagaimana Nabi telah mengangkat si fulan yaitu Amru bin Ash26. Pilihan Nabi terhadap Amru bin Ash pada jabatan tersebut berdasarkan kenyataan pada kepribadiannya yang sangat loyal terhadap pemerintahan. Ia adalah seorang politisi senior di Madinah. Selain itu, ia juga menguasai taktik dan strategi dalam Peranan dan kecakapan yang ia miliki berimplikasi terhadap karirnya. Kemudian kepribadiannya tidak sama dengan Usaid bin Hudair, walaupun diketahui Usaid bin Hudair sering tampil di depan publik, misalnya dalam perang Badar. BaAoiah Aqabah I dan II. Dalam konteks inilah sikap nabi dipahami sebagai bentuk nepotisme atau keberfihakan terhadap seseorang. Dalam meredam sikap ambisius Usaid bin Hudair tersebut. Nabi U aa e a a e a e a a e a ca secara arif menyatakan dalam lanjutan sabdanya AuaIEI ECOI aO aA e aa aea e a a a AO a ac EC eO aI E a eO aA a a U a Term A Adalam matan hadis tersebut di atas berasal dari akar kata A a aAyang bermakna mengutamakan dirinya atas kepentingan orang lain . Batasan tersebut dikemukakan pula oleh pensyarah Sunan al-Turmudzy yang menyatakan bahwa AIAN NO OAEAberarti mengutamakan diri sendiri28. Dari berbagai batasan tentang term, maka batasan yang paling cocok untuk dewasa ini adalah term A a a a UAberarti sikap nepotisme. Menurut Hassan Sadhiliy, praktek dari sikap nepotisme ini, merupakan kecendrungan untuk memberikan prioritas kepada sanak family dalam hal pekerjaan, jabatan, pangkat di lingkungan kekuasaan. Batasan yang di kemukakan Hasan Sadiliy ini, relevan dengan apa SyihAb al-Din Ahmad ibn Hajar al-AsqAlan. Fath al-Bar B isyarah Sahih al- Bukhar. Jilid i (Beirut: DAr al-MaAorifah, t. ), h. SyihAb al-Din Ahmad ibn Hajar al-AsqAlanA. Fath al-Bar B isyarah Sahih al- Bukhar,. Ibn SaAoad. Thabaqat al-Kubra. Jilid V (Beirut: Dar al-shadar, t,th,), h. Abiy Muhammad Abd. Rahman al-Mubarak. Tuhfat al-Ahwas li syarah alTurmudziy. Jilid VII (Beirut: Dar al-Fikr, 1. , h. Nursyirwan. Abdulahanaa. Hasbi Siddik - Nepotisme Golongan san Jabatan . yang dikemukakan al-Ayniy. Yakni, suatu sikap yang dimiliki penguasa dengan mengutamakan dirinya dengan keluarganya dalam mendapatkan keuntungan duniawi. Dengan demikian, dipahami bahwa nepotisme adalah sikap monopoli dengan cara mementingkan diri sendiri atau golongan dalam menurut sesuatu. U aa e a a e a e a a e a ca Kalimat A auIEI ECOI aO adalah ultimatum dari Nabi saw. Atas kepastian adanya sikap nepotisme yang dipraktekkan pada penguasa sepeninggalnya. Pernyataan Nabi saw. Ini telah terbukti dalam catatan sejarah. Bahkan, sikap nepotisme yang dimaksud secara nyata telah dilakukan oleh Khalifah Usman bin Affan. Para sejarawan mencatat bahwa enam tahun terakhir pemerintahan beliau merupakan masa yang penuh dengan pertikaian diantara kaum muslimin. Hal ini diakibatkan ketidak senangan warga terhadap kebijakan-kebijakan dalam pemerintahan. Utsman dipandang telah menjalankan politik nepotisme, karena lebih banyak mementingkan kaum kerabat dan family dalam menjalankan roda pemerintahan. Beliau mengangkat Marwan bin Ahkam . sebagai sekretaris Negara . abatan yang sangat vita. dalam pemerintahannya. Beliau mengangkat MuAoawiyah bin Abiy Sufyan . sebagai Gubernur di Suriah. Demikian secara berangsur-angsur, beliau memberikan jabatan-jabatan penting kepada sanak familinya tanpa melihat loyalitas yang mereka miliki. Dalam situasi yang demikian. Utsman terlalu lemah terhadap keluarganya dan beliau bagaikan boneka di hadapan mereka. Di samping itu, gaya tersebut melahirkan kritikan-kritikan dari berbagai pihak. Pada akhirnya, muncul gerakan anti Utsman, baik di Mesir. Kufah. Basrah dan daerahdaerah lainnya yang mengakibatkan tragedi berdarah dan menyebabkan runtuhnya tantanan pemerintahan Utsman bin Affan30. Kasus di atas terjadi di masa awal berkembangnya Islam. Belum lagi, sikap yang serupa berlangsung terus sesudah masa al-rasyidin alkhulafaAo. Misalnya, masa Bani Abbasiyah . -1258 M) bukan saja Khalid Ibrahim Jindan. The Islamic Theory of Government According ti Ibn Taimiyah, diterjemahkan oleh Mufid dengan judul Teori Pemerintahan menurut Ibn Taimiyah (Jakarta: Rineka Cipta, 1. , h. Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah, jilid i (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1. , h. TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 berbau nepotisme, tetapi sudah dirasuki sikap kolusi. Kasus serupa terjadi pula pada zaman Khilafah Fatimiyah . di Mesir. samping mempraktekkan kepemimpinan nepotisme penguasa, juga menerapkan system dictator dengan memaksakan pemberlakuan ajaran SyiAoah. Sistem pemerintahan yang demikian rupanya terjadi kurun temurun pada setiap zaman. Di Indonesia pun, praktek yang demikian telah membudaya, walaupun harus diakui bahwa praktek-praktek nepotisme yang dimaksud tidak semuanya merembes pada diri setiap Solusi yang ditawarkan oleh Nabi saw. ketika ditemukan pemimpin e a a a yang bersikap nepotisme adalah sebagai mana lanjutan sabdanya: AOA yakni hendaklah kalian bersabar. Perintah untuk bersabar di sini bukan hanya diperuntukkan kaum Anshar atau secara khusus kepada Usayd bin Hudhayri, tetapi untuk kita semua. Alasannya adalah bahwa pernyataan Nabi saw tersebut berbentuk jamak. Oleh karena itu, perintah bersabar di sini diperuntukkan kepada segenap lapisan masyarakat Islam. Anjuran Nabi saw. untuk bersabar memiliki dimensi ganda. Artinya, kesabaran tersebut berimplikasi internal dan eksternal. Secara internal. Nabi saw. mengajak umatnya bahwa kesabaran itu perlu dibudayakan, sehingga apabila suatu saat diserahi amanah, ia tetap istiqamah pada ketentuan-ketentuan yang ditetapkan agama. Di samping itu, kemampuan membudayakan sikap sabar, akan mencegah seseorang untuk bersikap nepotism. Menurut al-Nawawiy, kecenderungan bersikap nepotis tersebut lahir dari kurangnya kesabaran sehingga selalu berpikir sepihak dan sesaat31. Sedangkan secara eksternal, seruan untuk bersabar dimaksudkan agar seluruh lapisan masyarakat tidak mengadakan perlawanan atau tindak anarki yang dapat menimbulkan kekacauan sehingga akan menimbulkan kemafsadatan yang besar. Selanjutnya, dipahami pula bahwa anjuran bersabar dalam akhir matam hadis tersebut merupakan gagasan untuk menikmati kesenangan aea hidup di akhirat nanti. Hal tersebut terangkum dalam kalimat Aa ac EC eO aIA e aa A E a eO aAMaksudnya, mereka yang senantiasa menanamkan nilai-nilai Al-Nawaiy. Sahih Muslim bi syarah al-Nawaiy, jilid IV (Beirut: Dar al Kutub al-ilmiyah, 1. , h. Nursyirwan. Abdulahanaa. Hasbi Siddik - Nepotisme Golongan san Jabatan . kesabaran niscaya akan mendapatkan kesenangan bersama Nabi saw. di hari kemudian. Term al-Hawdh dari segi bahasa, ia berarti kolam atau telaga. Tetapi yang dimaksud al-Hawdh di sini adalah A IO I ION E O EONA A IINAyakni, sesuatu kebaikan yang diperoleh umat Muhammad saw. dengan jumlah yang banyak bagaikan bintang-bintang. Al-Mubarakfuriy menambahkan bahwa kebaikan tersebut adalah telaga syurga di akhirat Kebaikan yang dijanjikan oleh Nabi saw. di sini adalah kebahagiaan Nabi saw. mengharap agar sikap sabar tetap direalisasikan dalam hidup ini hingga akhir hayat. Hal tersebut dimaksudkan agar umat Islam mampu menahan diri dan secara arif berusaha melihat fenomena yang terjadi secara bijak. Artinya. Nabi saw. menanamkan kesadaran kepada umatnya agar dalam upaya mengantisipasi kemafsadatan sampai akhirat, diperlukan kesabaran. Hadis tentang hukum nepotisme a e a a ca a a ca a e aAE e aI a a ac aIA a e a e a a a ca a U ca a a a a ca a AO ECI IA s AI I I OO aI aA a a ca a a a a aa a a a a a e a a e a AaOe a e aI aO eNA ANEE aEOe aNA ANEE AEA AOEA ANEE CE CE E A a A aI A ea U a U a a a a a a a e a a e a a a e a ca ca a AE aOI aN CEO A aI aI aI OaA a AaOE aI uaIEI OI aO a aOIO IA a aa a a a e a ca a e e a ca a a a a ca a a eAEIA ANEE CE O auE aNI CNI OEO NEE CA AOEA Artinya: Dari Musaddad dari Yahya bin Said al-Qatthan dari al-AAomasy dari Zaid bin Wahab saya mendengarkan Abdullah berkata: Rasulullah bersabda sesungguhnya kamu akan menemukan sesudah saya orang yang mementingkan diri sendiri dan perkara yang engkau menginkarinya, yaitu kamu melaksanakan haknya dan kamu memohon hakmu kepada Allah Abiy Muhammad Abd. Rahman al-Mubarak. Tuhfat al-Ahwas li syarah alTurmudziy,A h. TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 Dalam penjelasan dan syarah hadis mengenai nepotisme dalam jabatan sudah dipaparkan panjang lebar, maka dalam hadis tersebut diatas mengandung hukum melakukan nepotisme. Dalam potongan matan hadis di atas sebagaimana tersebut yaitu: a a a a a a aea a a a a aa a ea a a a e a ca a e e a ca a a a ANEE CE O auE aNI CNI OEOA a AEOIN CEO AI II O OE A a AIA a ca a ANEE aCEIA Dalam matan hadis jelas bahwa persoalan nepotisme adalah persoalan hak yang seharusnya ditunaikan dan diserahkan bagi orang yang berhak. Hal itu dapat dilihat dalam matan hadis yang berbunyi a ca a A O auEe aN eIADi samping menunaikan hak. Islam juga mengajarkan untuk melaksanakan kewajiban, maksudnya bahwa bagi orang yang telah memiliki hak sebagaimana dalam konteks nepotisme pemenuhan hak bagi orang yang berhak, maka ia juga harus melaksanakan kewajibannya a ca a a a a A aOEOAOleh karena sebagaimana dalam lafaz matan hadis. ANEE CEIA itu, dalam Alquran bukan saja meminta dan menuntut hak tetapi juga memberi. engeluarkan kewajiba. , bahkan dalam banyak ayat Alquran mengisyaratkan lebih baik memberi daripada meminta. lebih baik bertanya tentang apa yang sudah kita berikan daripada bertanya tentang apa yang sudah kita dapatkan. Dalam konteks nepotisme bahwa orang yang tidak memberikan hak orang lain adalah orang yang melanggar hak seseorang dikategorikan sebagai orang yang zalim, sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran surah al-Nahl/16:90. a e ae a a eaa a e ae e e a e a e a a e a a ca AI OuaO a aO EC OOIN aI EA aA a AEA a AauI NEE OI aE aE OA e ae a a e ae a a ca a a a ca a a a ]90:16[ A o Oa aE eI E aEE eI E aOIA a AOEIIE OEA Umar syihab. Kontektualitas Alquran: Kajian Tematik Atas Ayat-ayat Hukum dalam Alquran (Jakarta: Penamdani, 2. , h. Nursyirwan. Abdulahanaa. Hasbi Siddik - Nepotisme Golongan san Jabatan . Terjemahnya: Sesungguhnya Allah menyuruh . berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. Pada awal ayat tersebut di atas. Allah swt. memerintahkan untuk berlaku adil. Adil sangat terkait dengan pemenuhan hak dan kewajiban, sehingga kalau keadilan hadir, maka kehidupan akan menjadi netral, berimbang dan fair. Analisis Pengembangan Kekinian/Keindonesian Pada umumnya, manusia mempunyai ikatan jiwa yang lebih kuat dengan keluarga dan sanak famili dibanding dengan orang lain. Hal ini sesuai dengan teori Aoashobiyah yang dikembangkan oleh Ibnu Khaldun. Oleh karena itu, sangat wajar jika seorang pemimpin pemerintahan atau perusahaan swasta atau yang lain, lebih senang memberikan jabatanjabatan strategis kepada keluarga atau orang yang disenanginya serta lebih mementingkan dan mengutamakan mereka dalam segala hal dibanding dengan orang lain yang tidak mempunyai ikatan apa-apa. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: Pada umumnya, kerabat memiliki rasa tanggungjawab yang lebih besar terhadap pekerjaannya dibandingkan dengan orang lain. Pada umumnya, keluarga lebih mudah fit in dibanding non Pada umumnya keluarga menaruh perhatian dan minat yang lebih besar dibandingkan dengan orang lain. Pada umumnya keluarga memiliki loyalitas dan kehandalan . yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain. Pada umumnya keluarga lebih mampu melaksanakan kebijakankebijakan secara efektif dibandingkan dengan orang lain. TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 Jika keluarga yang diberi jabatan tertentu mampu melaksanakan tugas dan tanggungjawab dengan baik, maka akan mendorong semangat kerja orang lain. Sepanjang keluarga atau orang yang disenanginya mempunyai kemampuan dan profesionalisme serta bersifat amanah dalam memegang jabatan yang diberikan kepadanya, maka tidak ada sesuatu yang perlu Permasalahannya adalah bagaimana jika keluarga atau famili atau orang lain yang disenanginya itu tidak mempunyai keAmampuan dan profesionalisme, atau tidak bersifat amanah dalam memegang jabatan yang diberikan kepadanya. Menurut ajaran Islam, seorang pemimpin tidak boleh memberikan jabatan -apalagi jabatan yang sangat strategis-kepada seseorang sematamata atas dasar pertimbangan hubungan kekerabatan atau kekeluargaan, padahal yang bersangkutan tidak mempunyai kemampuan dan proA fesionalisme, atau tidak bersifat amanah dalam memegang jabatan yang diberikan kepadanya, atau ada orang lain yang lebih berhak dari Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah dalam hadits shahih riwayat Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak dari sahabat Abdullah ibn Abbas, sebagai berikut: a a ca a ae aa a a a a a aea a a a ca a e a ANEE aEOe aNA ANEE AEA AEA A a NEE INI CE CE OA s A aI aI A a e a a a e a a a e a e e a a a e U a a a a e a e a a ca a a AOEI I aI IE E aII aA s O aA aEE E aA II NO A a a a aae a a a a a a a a e a a ae a e AEI eIIA a e AI A AOA AE aIIN AC I NEE OI OE OA aa a a Artinya: Barangsiapa memberikan jabatan kepada seseorang sematamata karena didasarkan atas pertimbangan keluarga, padahal di antara mereka ada orang yang lebih berhak daripada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepadaAllah. Rasulullah dan orang-orang yang berimanAy. Biografi Kitab 9 Imam Hadis pada Lidwapusaka. Nursyirwan. Abdulahanaa. Hasbi Siddik - Nepotisme Golongan san Jabatan . Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa nepotisme yang dilarang oleh ajaran Islam adalah nepotisme yang semata-mata didasarkan pada pertimbangan keluarga atau sanak famili dengan tanpa memperhatikan kemampuan dan profesionalisme serta sifat amanah seseorang yang akan diberi jabatan. Adapun nepotisme yang disertai dengan pertimbangan kemampuan dan profesionalisme serta sifat amanah seseorang yang akan diberi jabatan, maka hal itu tidak dilarang Penutup Berdasarkan uraian sebelumnya mengenai nepotisme, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: Nepotisme terhadap golongan yang hanya semata-mata memenA tingkan golongan/ kesekuan, tanpa mempertimbangkan agama, maka dianggap oleh Nabi sebagai asabiyah. Sanad dan matan hadis mengenai nepotisme jabatan yang diA riwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal, maka dapat dikatakan bahwa hadis tersebut sahih. Hal ini disebabkan karena semua periwayat bersifat tsiqah, sanadnya bersambung dan terhindar syaz dan illat. Nepotisme terhadap jabatan dalam hadis yang telah diuraikan adalah menggambarkan nepotisme yang dijalankan oleh Nabi saw. terhadap sahabatnya dapat dikatakan benar. Akan tetapi Nabi saw. menjalankan praktek nepotisme dengan beberapa pertimbangan, diantaranya loyalitas dan kepribadian sahabat Nabi saw. Nepotisme adalah sebuah sikap yang memprioritaskan sanak keluarga secara umum, baik saudara, anak, cucu dan sebagainya dalam urusan jabatan atau kedudukan. Baik dalam instansi pemerintah maupun instansi swasta tanpa memperhatikan kriteria dan persyaratan yang dimiliki oleh seseorang maka hukumnya Akan tetapi, jika nepotisme yang dijalankan terhadap sesorang yang memiliki syarat, amanah, professional maka hal tersebut tidak dilarang. TASAMUH. Volume 13. Nomor 2. Oktober 2021 Daftar Pustaka Ash-Shiddiqiy. Hasbiy. Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadis. Jilid II(Cet. VI. Jakarta: Bulang Bintang, 1994. _________. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis (Semarang: PT. Pustaka