JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/jp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. September 2025 Page 840-854 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEBAGAI SOLUSI TANTANGAN IDENTITAS GENERASI SAAT INI: DESAIN DEMOKRATIS DAN MULTIKULTURALIS Arif Rahmatullah1. Mahasri Shobahiya2. Sekar Ayu Aryani3 1,2 Universitas Muhammadiyah Surakarta. Indonesia 3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Indonesia Email: arifrahmatullah11@gmail. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 23 July 2025 Final Revised: 11 August 2025 Accepted: 1 September 2025 Published: 21 September 2025 Keywords: Learning Design Islamic Education Democracy Multicultural ABSTRACT This article examines the learning design of Islamic Religious Education (PAI) based on democratic and multicultural values, which can be the answer to the identity crisis experienced by the younger generation in the modern era. In the midst of the influence of globalization, technological development, and increasingly complex cultural and religious diversity, religious education is required to be more than just conveying This approach offers learning experiences that encourage active participation, open dialogue, and reflection on students' social reality. Using a qualitative approach, this research was conducted through literature studies and case studies in schools that apply democratic values in Islamic education learning. The results show that this learning model is able to create an inclusive classroom atmosphere, strengthen a sense of empathy, and shape the character of students who are open to differences. The role of the teacher also becomes very important, namely as a value companion and dialogue facilitator, not just a text teacher. Although promising, the implementation of this approach still faces obstacles such as limited teacher understanding, lack of policy support, and lack of contextualized teaching materials. Therefore, cross-stakeholder cooperation is needed to ensure that religious learning is able to form a generation that is religious, tolerant, and ready to coexist in a diverse society. ABSTRAK Artikel ini mengkaji terkait dengan desain pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) berbasis nilai-nilai demokrasi dan multikultural dapat menjadi jawaban atas krisis identitas yang dialami generasi muda di era modern. Di tengah pengaruh globalisasi, perkembangan teknologi, serta keragaman budaya dan agama yang semakin kompleks, pendidikan agama dituntut lebih dari sekadar menyampaikan doktrin. Pendekatan ini menawarkan pengalaman belajar yang mendorong partisipasi aktif, dialog terbuka, serta refleksi terhadap realitas sosial Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini dilakukan melalui studi pustaka dan studi kasus di sekolah yang menerapkan nilai-nilai demokrasi dalam pembelajaran PAI. Hasilnya menunjukkan bahwa model pembelajaran ini mampu menciptakan suasana kelas yang inklusif, memperkuat rasa empati, serta membentuk karakter siswa yang terbuka terhadap perbedaan. Peran guru pun menjadi sangat penting, yakni sebagai pendamping nilai dan fasilitator dialog, bukan hanya pengajar teks. Meski menjanjikan, implementasi pendekatan ini masih menghadapi kendala seperti terbatasnya pemahaman guru, minimnya dukungan kebijakan, dan kurangnya materi ajar yang Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama lintas pihak untuk memastikan pembelajaran agama mampu membentuk generasi yang religius, toleran, dan siap hidup berdampingan dalam masyarakat yang beragam. Kata kunci: Desain Pembelajaran. PAI. Demokrasi. Multikultural Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pendidikan Agama Islam Sebagai Solusi Tantangan Identitas Generasi Saat Ini: Desain Demokratis Dan Multikulturalis PENDAHULUAN Di tengah derasnya arus globalisasi dan teknologi digital, generasi muda Indonesia menghadapi tantangan serius terkait pembentukan jati diri. Banyak dari mereka merasa terombang-ambing dalam menentukan nilai hidup dan arah tujuan yang jelas. Paparan informasi yang tak terbatas dapat memicu pergeseran nilai agama, budaya, bahkan nasionalisme dalam diri generasi ini (Muthoifin et al. , 2. Sayangnya. Pendidikan Agama Islam (PAI) yang seharusnya menjadi fondasi karakter justru kerap terjebak dalam pendekatan normatif yang kurang peka terhadap dinamika zaman(Agus Yosep Abduloh et , 2022. Masyitoh et al. , 2. Realitas ini mengindikasikan bahwa pembelajaran agama di sekolah belum sepenuhnya mampu merespons persoalan identitas anak didik secara utuh. Masih banyak model pembelajaran yang fokus pada hafalan teks agama, bukan pada pengalaman nilai yang hidup dan dirasakan siswa (Ahyani & Abdulloh, 2022. Rahmawati et al. , 2. Perlunya pembelajaran yang membuka ruang untuk dialog, refleksi, dan pengakuan terhadap keberagaman sebagai bagian dari proses beragama juga menjadi sorotan penting (Takunas et al. , 2. Berbagai penelitian membuktikan bahwa integrasi nilai multikultural ke dalam pembelajaran agama dapat mendorong tumbuhnya toleransi dan empati antar siswa. Ketika siswa diperkenalkan dengan realitas sosial yang beragam, mereka belajar menghargai perbedaan sebagai kekuatan (Nursyirwan, 2. Peran lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat penting dalam membentuk identitas religius yang terbuka dan seimbang (K. Huda & Abid, 2025. Huda, 2. Namun demikian, pendekatan multikultural dalam PAI sejauh ini masih belum dikembangkan secara menyeluruh. Banyak guru agama belum memiliki panduan desain pembelajaran yang konkret untuk membumikan nilai-nilai demokratis dalam konteks kelas (Aisida, 2022. Ajamalus, 2. Padahal, dalam masyarakat plural seperti Indonesia, pendidikan seharusnya menjadi ruang inklusif yang mencerminkan kehidupan nyata siswa (Nurlaelah et al. , 2. Penelitian ini hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan menawarkan rancangan pembelajaran PAI yang secara sadar menggabungkan dua dimensi penting: demokrasi dan multikulturalisme. Pendidikan yang mengenalkan keberagaman sejak dini akan membantu peserta didik membentuk sikap terbuka, toleran, dan adil (Alfian et al. , 2024. Fadholi & Asnawan, 2. Inovasi kurikulum yang bersifat kolaboratif dan merangkul semua latar belakang budaya peserta didik menjadi hal yang sangat krusial (Parnawi et al. , 2. Rumusan utama yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah: bagaimana menyusun desain pembelajaran PAI yang relevan dan efektif dalam menghadapi tantangan krisis identitas generasi saat ini? Hal ini penting mengingat banyaknya anak muda yang merasa asing dengan nilai-nilai agama karena pendekatan pembelajarannya kaku dan cenderung monolog (Ghani, 2. Pendidikan agama semestinya menjadi ruang untuk menumbuhkan kesadaran diri, bukan sekadar penghafalan doktrin (Suradi, 2. Tujuan dari riset ini tidak hanya untuk menyusun model pembelajaran yang kontekstual, tetapi juga untuk mengevaluasi sejauh mana pendekatan demokratis dan multikultural mampu memperkuat identitas religius yang inklusif dan adaptif. Pemahaman agama yang berpijak pada nilai sosial akan lebih bermakna dalam kehidupan nyata siswa. Pengembangan identitas melalui pendidikan juga perlu diselaraskan dengan semangat zaman agar tidak terjadi keterputusan generasi (Hamid A. Ghani, 2. Penelitian ini secara kontribusi menawarkan dua hal penting. Pertama, memberikan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pendidikan Agama Islam Sebagai Solusi Tantangan Identitas Generasi Saat Ini: Desain Demokratis Dan Multikulturalis panduan aplikatif bagi guru dalam menyusun strategi pembelajaran agama yang relevan dengan kehidupan siswa masa kini (Muthoifin et al. , 2. Kedua, memperluas wawasan teoritis tentang bagaimana pendidikan Islam dapat bertransformasi menjadi alat penguatan identitas yang demokratis dan toleran (K. Huda & Abid, 2025. Huda, 2. Penelitian ini juga berpotensi mendorong perubahan pada kebijakan pendidikan agama di tingkat nasional, khususnya dalam hal pembaruan kurikulum. Pembelajaran agama seharusnya menjadi ruang integrasi antara nilai spiritual, sosial, dan budaya (Masyitoh et al. , 2. Penyematan nilai demokrasi dalam pembelajaran agama dapat menjadi strategi pencegahan terhadap sikap intoleran yang kian menguat di kalangan remaja (Rahmawati et al. , 2. Dengan desain pembelajaran yang dirancang secara demokratis dan multikultural, ruang kelas dapat menjadi cerminan nilai-nilai Islam yang menghargai perbedaan dan mengedepankan keadilan sosial. Perbedaan adalah bagian dari kehendak Tuhan yang harus dirayakan dalam pendidikan (Ghani, 2. Generasi yang tumbuh dengan pendidikan agama yang terbuka akan lebih siap menghadapi kompleksitas dunia modern dengan sikap bijak dan bermartabat (Nurlaelah et al. , 2. METODE PENELITIAN Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik studi pustaka dan studi kasus. Metode ini dipilih karena dinilai mampu menangkap dinamika sosial dan nilai-nilai yang hidup dalam praktik pembelajaran (Takunas et al. , 2. Studi kasus dilakukan di sekolah yang telah mulai mengadopsi nilai-nilai demokratis dalam pembelajaran PAI, sehingga data yang diperoleh mencerminkan realitas aktual di lapangan (Rahmawati et al. , 2. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi kurikulum, wawancara guru dan siswa, serta observasi langsung proses belajar mengajar. Analisis dilakukan dengan pendekatan interaktif dari Miles. Huberman, dan Sandana yang memungkinkan peneliti menemukan pola, makna, dan hubungan antar data (Miles et al. , 2. Validitas data dijaga melalui teknik triangulasi agar hasil yang diperoleh memiliki kedalaman dan keakuratan (Parnawi et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN TANTANGAN IDENTITAS GENERASI SAAT INI Generasi muda Indonesia saat ini sedang tumbuh dalam lingkungan yang terus berubah dengan sangat cepat. Teknologi digital, globalisasi, dan derasnya arus informasi menciptakan realitas baru yang sering membingungkan mereka dalam memahami siapa diri mereka sebenarnya. Tantangan ini diperburuk oleh pengaruh nilai-nilai luar yang masuk tanpa filter, yang berpotensi membuat generasi muda kehilangan arah dalam membentuk identitas spiritual dan pribadi yang utuh (Muthoifin et al. , 2025. Wahid, 2. Banyak dari mereka merasa tidak memiliki pijakan nilai yang kuat, terutama jika tidak ada pembinaan karakter yang sistematis dan berkelanjutan sejak dini (Handari & Riyanto, 2023. Parnawi et , 2. Salah satu aspek yang paling memengaruhi cara anak muda membentuk identitas saat ini adalah media sosial. Di dunia digital, mereka lebih sering mendefinisikan diri berdasarkan citra yang dibangun di ruang maya daripada pemahaman mendalam tentang siapa mereka sebenarnya. Media sosial telah menjadi ruang belajar alternatif bagi generasi muda untuk membentuk nilai, bersosialisasi, dan bahkan mencari makna hidup, meski Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pendidikan Agama Islam Sebagai Solusi Tantangan Identitas Generasi Saat Ini: Desain Demokratis Dan Multikulturalis seringkali tanpa arahan yang jelas (Nia & Loisa, 2019. Riyanto & Handari, 2024. Takunas et , 2. Sayangnya, nilai-nilai yang mereka serap di ruang digital ini kerap ditentukan oleh algoritma, bukan oleh kesadaran kritis atau prinsip keagamaan yang kokoh (Nurjanah & Wahyuni, 2021. Patimah, 2. Kondisi sosial-politik yang sarat konflik dan polarisasi juga turut memperkeruh pencarian jati diri generasi muda. Isu-isu sensitif seperti SARA, perbedaan ideologi politik, hingga ujaran kebencian banyak menghiasi ruang publik, membuat anak muda sulit menemukan teladan yang menanamkan nilai keterbukaan dan toleransi. Ketegangan sosial semacam ini telah terbukti menjadi hambatan besar dalam pembentukan identitas yang damai dan inklusif (Ghani, 2. Oleh karena itu, pendidikan perlu menjadi ruang yang aman dan ramah bagi siswa untuk belajar tentang keberagaman tanpa prasangka (Alfian et , 2024. Nurlatifah & Handari, 2. Sayangnya, sistem pendidikan agama di sekolah masih sering terjebak dalam pendekatan yang normatif dan kurang menyentuh realitas sosial siswa. Banyak guru mengajarkan agama hanya sebagai hafalan konsep, tanpa menjembatani bagaimana nilainilai itu dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (M. Huda, 2021. Huda et al. Bahkan, tak jarang para pendidik kesulitan mengemas ajaran keislaman dalam bentuk yang relevan, komunikatif, dan kontekstual sesuai dengan tantangan zaman (Abidin & Murtadlo, 2020. Aisida, 2. Padahal. Indonesia sebagai negara yang kaya akan keberagaman budaya dan agama memiliki potensi besar untuk menjadikan perbedaan itu sebagai kekuatan. Sayangnya, banyak siswa belum menyadari kekayaan ini karena pendidikan belum sepenuhnya menanamkan nilai toleransi dan penghargaan sejak dini. Kurikulum yang memasukkan perspektif multikultural dapat menjadi jembatan penting dalam membangun identitas yang terbuka dan inklusif (Nurlaelah et al. , 2023. Saada, 2. Ketika nilai-nilai demokrasi dan keberagaman diintegrasikan dalam pembelajaran agama, siswa dapat tumbuh dengan empati dan kepedulian sosial yang tinggi (Makrufi et al. , 2021. Rahmawati et al. , 2. Di tengah perubahan sosial yang cepat, banyak anak muda mulai bertanya tentang makna hidup dan relevansi agama di era modern. Pertanyaan ini wajar dan perlu ruang untuk didiskusikan secara terbuka di lingkungan pendidikan. Namun, saat ini ruang tersebut masih sangat terbatas. Model pembelajaran yang terlalu menekankan hafalan sering membuat siswa merasa jauh dari nilai-nilai agama yang mereka pelajari (Ahyani & Abdulloh, 2022. Masyitoh et al. , 2. Karena itu, penting untuk merancang pembelajaran yang partisipatif dan reflektif, di mana siswa bisa menemukan sendiri keterkaitan antara nilai keagamaan dan pengalaman hidupnya (Parnawi et al. , 2. Ketika siswa tidak menemukan jawaban dari sistem pendidikan, beberapa di antaranya mencari makna identitas dari sumber-sumber lain, termasuk kelompok yang eksklusif dan tertutup. Hal ini berisiko besar karena ketika agama diajarkan secara kaku dan tanpa ruang dialog, siswa bisa terjebak dalam pemahaman yang sempit dan hitam-putih. Kurangnya kesempatan untuk berdiskusi secara terbuka membuat sebagian siswa lebih rentan terhadap ideologi ekstrem (Makrufi et al. , 2021. Mustamir & Tang, 2025. Rahmawati et , 2. Kondisi ini mencerminkan kegagalan sistem pendidikan dalam menyediakan ruang bagi pembentukan kesadaran dan pemahaman identitas yang sehat dan seimbang. Melihat beragam tantangan yang dihadapi, pendidikan agama khususnya PAI perlu mengambil peran aktif dalam membentuk generasi yang tidak hanya religius tetapi juga terbuka, toleran, dan mampu hidup dalam masyarakat majemuk. Pembelajaran agama seharusnya menjadi pengalaman yang hidup dan bermakna, bukan sekadar kewajiban Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pendidikan Agama Islam Sebagai Solusi Tantangan Identitas Generasi Saat Ini: Desain Demokratis Dan Multikulturalis hafalan dan ulangan semata (Mahmud, 2024. Muthoifin et al. , 2. Dengan menerapkan pendekatan multikultural dalam pembelajaran, siswa akan tumbuh menjadi individu yang tidak hanya paham ajaran agamanya, tetapi juga mampu menjalin harmoni dengan sesama apa pun latar belakangnya (Alfian et al. , 2. PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBENTUKAN IDENTITAS Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki posisi strategis dalam membentuk identitas generasi muda, terutama di tengah dinamika zaman yang serba cepat dan penuh tantangan. Identitas yang dibangun melalui PAI bukan sekadar mencakup keyakinan spiritual, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan kebangsaan. Sekolah-sekolah Islam, sebagaimana ditemukan dalam studi di Kanada, berperan penting dalam membantu siswa Muslim menjaga keseimbangan antara peran mereka sebagai pemeluk agama dan sebagai warga negara (Tiflati, 2020, 2. Hal ini sejalan dengan temuan lain yang menegaskan bahwa materi PAI yang mengusung nilai-nilai demokrasi dan toleransi dapat memperkuat identitas siswa yang terbuka dan harmonis dalam keberagaman (Hajiannor et al. , 2. Dalam konteks masyarakat yang multikultural. PAI menjadi wahana penting untuk menanamkan nilai-nilai demokrasi dan menghargai perbedaan. Jika pembelajaran agama disampaikan secara relevan dengan kehidupan nyata, siswa lebih mudah memahami ajaran Islam dalam kerangka keragaman budaya yang mereka alami setiap hari. Pendidikan agama yang dikaitkan dengan pembentukan karakter kewarganegaraan mampu menumbuhkan semangat partisipatif dan kepedulian sosial di kalangan siswa (A. Essabane et al. , 2023. Essabane et al. , 2. Lebih jauh, pendekatan pembelajaran yang terbuka terhadap dialog dan refleksi menjadikan siswa lebih siap menerima perbedaan sebagai kekayaan bersama (Saada, 2. Peran guru PAI dalam proses ini sangat vital. Guru bukan sekadar pengajar teks-teks keagamaan, melainkan figur yang memberi keteladanan dan membimbing siswa dalam kehidupan sosial mereka. Salah satu penelitian mengungkap bahwa ketika nilai-nilai multikultural diintegrasikan ke dalam proses belajar PAI, hubungan sosial antar siswa dari latar belakang yang berbeda menjadi lebih harmonis (Berry, 2023. Makrufi et al. , 2. Demikian pula, pengalaman remaja putri Muslim di berbagai negara menunjukkan bahwa pendidikan agama dapat membantu mereka menavigasi identitas antara nilai-nilai religius dan kehidupan sosial yang kompleks (Ahyani & Abdulloh, 2022. Wahab et al. , 2. Agar PAI tetap kontekstual dan bermakna, kurikulum harus mampu beradaptasi dengan dinamika generasi muda, khususnya di era digital. Akses informasi yang luas dapat menjadi peluang sekaligus tantangan, tergantung bagaimana siswa diarahkan. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan yang mengedepankan nilai moral dan inklusivitas, baik dalam keluarga maupun di sekolah, menjadi sangat penting (M. Huda et al. , 2. Kurikulum Merdeka, misalnya, telah membuka ruang bagi guru untuk menyisipkan nilai toleransi dan keberagaman dalam proses belajar (Zuri Pamuji & Kholid Mawardi, 2. Selain itu. PAI juga dapat berfungsi sebagai sarana untuk memperkenalkan dan menanamkan nilai-nilai dasar kebangsaan, seperti hak asasi manusia, keadilan sosial, dan anti- korupsi. Nilai-nilai ini sejatinya selaras dengan prinsip-prinsip ajaran Islam, dan perlu diajarkan sejak dini agar tertanam dalam kepribadian siswa (Hamka, 2024. Ulum et al. , 2. Di jenjang pendidikan dasar, pendekatan multikultural dalam PAI terbukti efektif membentuk karakter siswa yang toleran dan menghargai perbedaan (Lindayani et al. , 2. Keluarga juga memiliki andil besar dalam membentuk identitas keagamaan dan sosial Dalam hal ini, peran orang tua menjadi sangat menentukan. Mereka dianjurkan untuk Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pendidikan Agama Islam Sebagai Solusi Tantangan Identitas Generasi Saat Ini: Desain Demokratis Dan Multikulturalis menanamkan nilai-nilai Islam yang terbuka dan mengajak anak berdialog dalam suasana yang hangat dan egaliter (K. Huda & Abid, 2025. Huda, 2021. Huda et al. , 2. Selain itu, pendidikan agama yang bersifat fleksibel dan berorientasi pada realitas sosial dapat membantu anak-anak mengembangkan identitas religius yang siap hidup di tengah masyarakat plural (Avest, 2020. Essabane et al. , 2. Pada akhirnya. PAI seharusnya tidak berhenti pada pengajaran hafalan dan dogma, tetapi berkembang menjadi media transformasi sosial dan budaya. Pembelajaran agama harus menyentuh aspek spiritual dan sosial siswa secara seimbang, agar mereka dapat memahami diri sendiri dan lingkungan secara lebih mendalam. Sejumlah buku ajar PAI saat ini sudah mulai mengangkat nilai-nilai seperti toleransi dan demokrasi, meskipun belum merata di semua lembaga pendidikan (A. Essabane et al. , 2023. Munawaroh & Mashudi. Jika nilai-nilai multikultural semakin diintegrasikan dalam materi PAI, maka siswa akan tumbuh sebagai pribadi yang menghargai perbedaan tanpa kehilangan jati dirinya (Andini & Sirozi, 2024. Mustamir & Tang, 2. DESAIN PEMBELAJARAN PAI BERBASIS DEMOKRASI DAN MULTIKULTURAL Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di era sekarang menuntut pendekatan yang lebih kontekstual dan responsif terhadap keberagaman sosial. Sebagai mata pelajaran yang sarat nilai. PAI tidak cukup hanya menyampaikan dogma, tetapi juga harus menanamkan nilai-nilai toleransi dan demokrasi. Pendekatan demokratis dan toleran dalam pembelajaran PAI dapat menciptakan ruang bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk hidup berdampingan secara damai (Askar, 2009. Mahmud, 2. Di era digital yang penuh dengan tantangan sosial, pembelajaran PAI harus dibingkai dengan pendekatan multikultural yang dialogis dan inklusif (Lindayani et al. , 2022. Patimah, 2. Proses belajar yang demokratis memberi ruang bagi siswa untuk lebih aktif, kritis, dan terbuka dalam memahami nilai-nilai Islam. Guru berperan sebagai pendamping yang mendorong siswa untuk berpikir reflektif melalui diskusi terbuka. Pembelajaran berbasis dialog mampu menumbuhkan rasa saling menghargai dalam lingkungan yang majemuk (Hadi, 2022. Wahid, 2. Pendekatan ini dapat meningkatkan semangat kebersamaan dan menumbuhkan rasa hormat terhadap perbedaan dalam masyarakat yang heterogen (Muthoifin et al. , 2. Strategi pembelajaran juga berperan penting dalam menyampaikan nilai-nilai Pendekatan berbasis konsep peta yang mengintegrasikan nilai-nilai multikultural terbukti meningkatkan empati siswa (Aisida, 2022. Ulumuddin et al. , 2. Selain itu, pelibatan masyarakat dan kegiatan ekstrakurikuler dapat menjadi sarana efektif dalam menanamkan nilai keberagaman secara praktis (Ahmad Reza Maulana et al. , 2024. Parnawi et al. , 2. Kurikulum PAI yang mengangkat nilai-nilai demokrasi dan multikultural tidak hanya memperhatikan konten materi, tetapi juga cara penyampaian dan evaluasinya. Pembelajaran sebaiknya memuat nilai-nilai Islam yang ramah terhadap perbedaan budaya dan keyakinan (Abidin & Murtadlo, 2020. Murtadlo, 2. Internalisasi nilai juga bisa dilakukan lewat keteladanan guru serta pembiasaan kegiatan keagamaan yang inklusif (Fadholi & Asnawan. Ghani, 2021. Hakim, 2. Media pembelajaran dan bahan ajar yang digunakan juga harus mencerminkan nilainilai keberagaman dan keadilan. Integrasi nilai-nilai ini dalam buku ajar dan aktivitas sekolah dapat membantu membentuk karakter siswa yang lebih toleran (Bahri et al. , 2023. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pendidikan Agama Islam Sebagai Solusi Tantangan Identitas Generasi Saat Ini: Desain Demokratis Dan Multikulturalis Calvert, 2008. Everett & Caldwell, 2. Penerapan model pembelajaran berbasis multikultural juga terbukti mampu mengurangi sikap intoleransi di kalangan mahasiswa (Salis Irvan Fuadi & Robingun Suyud El Syam, 2023. Syakban et al. , 2. Aspek evaluasi dalam PAI tak boleh hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga mencakup sikap dan perilaku siswa terhadap keberagaman. Penilaian dalam pembelajaran seharusnya mempertimbangkan kemampuan siswa dalam menerapkan nilai-nilai empati, keadilan, dan toleransi (Andini & Sirozi, 2024. Malla et al. , 2. Selain itu, pendekatan inkuiri dan pembelajaran kontekstual dapat membantu siswa memahami makna nilai multikultural dalam kehidupan nyata (Supian, 2. Lingkungan belajar yang kondusif terhadap keberagaman sangat penting dalam menunjang keberhasilan desain pembelajaran PAI. Pengelolaan pembelajaran yang berbasis nilai keberagaman mampu menciptakan interaksi antarbudaya yang harmonis di sekolah (Dakir, 2017. Rosanti et al. , 2. Di daerah pasca-konflik, pendekatan PAI multikultural dapat menjadi sarana efektif bagi rekonsiliasi sosial (Takunas et al. , 2024. Ulumuddin et al. Peningkatan kapasitas guru juga merupakan aspek utama yang tidak boleh diabaikan. Pelatihan rutin diperlukan untuk meningkatkan kesadaran interkultural dan keterampilan pedagogis guru (Gaya & Ahmad, 2024. Hamid A. Ghani, 2024. Parnawi et al. , 2. Guru juga harus mampu menjadi teladan dalam menampilkan nilai-nilai Islam yang toleran dan humanis (Ajamalus, 2024. Ghani, 2. Secara keseluruhan, desain pembelajaran PAI berbasis demokrasi dan multikultural bukan hanya memberikan pembaruan metodologis, tetapi juga memperkuat fungsi pendidikan sebagai agen transformasi sosial. Pendekatan ini mampu membentuk generasi yang religius, adaptif, dan menghargai keberagaman, sehingga siap menghadapi kompleksitas kehidupan global . isarikan dari seluruh temua. terjabarkan pada tabel 1 Tabel 1. Desain Pembelajaran PAI Berbasis Demokrasi dan Multikultural Komponen Desain Deskripsi Demokratis Deskripsi Multikultural Tujuan Pembelajaran Menumbuhkan partisipasi aktif dan kesadaran kritis terhadap nilai keadilan, kebebasan, dan tanggung Memuat konsep HAM, toleransi, kesetaraan, dan musyawarah dalam Islam. Diskusi kelompok, debat terbuka, refleksi personal. Mengembangkan kesadaran akan keberagaman budaya, etnis, dan agama di masyarakat. Materi Mengenalkan pluralitas dalam sejarah Islam dan pengalaman masyarakat Muslim global. Strategi Pembelajaran Studi lintas budaya, refleksi Metode Inkuiri, problem-based learning. Storytelling, dialog antarbudaya, role-playing. pemecahan masalah lintas nilai. Media & Sumber Video interaktif, studi kasus sosial. Infografik budaya, dokumenter Belajar narasi kisah sahabat yang inklusif. lokal, buku ajar dengan muatan Penilaian Penilaian formatif berbasis sikap Asesmen sikap toleransi, empati, dan proyek kolaboratif. kerja sama dalam tim majemuk. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pendidikan Agama Islam Sebagai Solusi Tantangan Identitas Generasi Saat Ini: Desain Demokratis Dan Multikulturalis Peran Guru Lingkungan Belajar Dukungan Institusional Komponen Desain Fasilitator pemahaman nilai, bukan sekadar Ruang terbuka dan aman untuk perbedaan dihargai. Kurikulum adaptif, pelatihan guru, kebijakan sekolah mendukung nilainilai demokrasi. Deskripsi Demokratis Menjadi teladan sikap inklusif, menyemangati penghargaan atas Mendorong kerja kelompok lintas Kemitraan dengan komunitas budaya, kegiatan inklusif. Deskripsi Multikultural Desain pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang berbasis demokrasi dan multikultural dirancang untuk menjawab tantangan pendidikan karakter dalam masyarakat Tujuan pembelajaran dalam pendekatan demokratis diarahkan untuk menumbuhkan partisipasi aktif dan kesadaran kritis siswa terhadap nilai-nilai keadilan, kebebasan, dan tanggung jawab. Sementara itu, pendekatan multikultural bertujuan mengembangkan kesadaran siswa terhadap keberagaman budaya, etnis, dan agama sebagai realitas sosial yang harus dihargai dan dipahami sejak dini. Dari segi materi, pendekatan demokratis mencakup penguatan konsep hak asasi manusia, toleransi, kesetaraan, dan musyawarah dalam ajaran Islam. Materi ini dipilih untuk memperkenalkan siswa pada nilai-nilai universal yang juga sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Sebaliknya, pendekatan multikultural fokus pada pengenalan pluralitas dalam sejarah Islam dan kehidupan masyarakat Muslim global, agar siswa memahami bahwa keragaman adalah bagian dari warisan Islam yang kaya. Strategi pembelajaran dalam pendekatan demokratis lebih menekankan pada partisipasi aktif melalui diskusi kelompok, debat terbuka, dan refleksi personal. Strategi ini dirancang untuk membentuk siswa yang mampu berpikir kritis dan berani menyampaikan pandangan dengan santun. Pada pendekatan multikultural, strategi pembelajaran difokuskan pada studi lintas budaya dan refleksi terhadap pengalaman pribadi siswa yang berkaitan dengan keberagaman, sehingga mereka mampu mengapresiasi perbedaan secara Metode pembelajaran demokratis menggunakan pendekatan inkuiri, problem-based learning, dan role-playing. Metode ini mendorong siswa untuk menemukan sendiri makna dari persoalan sosial yang mereka hadapi. Di sisi lain, pendekatan multikultural memanfaatkan metode storytelling, dialog antarbudaya, dan pemecahan masalah lintas nilai untuk menggali kesadaran siswa akan pentingnya menghormati perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat. Media dan sumber belajar dalam pendekatan demokratis mencakup video interaktif, studi kasus sosial, serta kisah sahabat Nabi yang mencerminkan nilai-nilai inklusif. Ini bertujuan menanamkan nilai demokrasi secara kontekstual. Sementara dalam pendekatan multikultural, digunakan infografik budaya, dokumenter lokal, dan buku ajar yang secara eksplisit memuat nilai keberagaman untuk memperkuat wawasan multikultural siswa. Dalam hal penilaian, pendekatan demokratis mengedepankan asesmen formatif yang menilai sikap dan keterlibatan siswa dalam proyek kolaboratif. Penilaian ini memberi ruang bagi siswa untuk menunjukkan pemahaman mereka melalui tindakan nyata. Sedangkan dalam pendekatan multikultural, fokus penilaian diarahkan pada sikap toleransi, empati, dan kemampuan bekerja sama dalam tim yang beragam. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pendidikan Agama Islam Sebagai Solusi Tantangan Identitas Generasi Saat Ini: Desain Demokratis Dan Multikulturalis Peran guru dalam kedua pendekatan ini sangat penting. Dalam pendekatan demokratis, guru berperan sebagai fasilitator dialog dan pembimbing dalam memahami nilai-nilai, bukan sekadar penyampai materi. Dalam pendekatan multikultural, guru harus menjadi teladan sikap inklusif serta mendorong siswa untuk menghargai perbedaan di Lingkungan belajar pun harus disesuaikan. Dalam pendekatan demokratis, ruang kelas dikondisikan agar siswa merasa aman untuk menyampaikan pendapat dan menghargai pandangan orang lain. Sedangkan dalam pendekatan multikultural, lingkungan belajar diharapkan mampu mendorong interaksi lintas latar belakang siswa dan meminimalisasi diskriminasi. Akhirnya, keberhasilan desain ini sangat bergantung pada dukungan institusional. Dalam pendekatan demokratis, dibutuhkan kurikulum yang fleksibel, pelatihan guru secara berkala, dan kebijakan sekolah yang mendukung nilai-nilai demokrasi. Sementara pendekatan multikultural memerlukan kerja sama antara sekolah dengan komunitas lokal, program pertukaran budaya, serta kegiatan inklusif yang memperkaya pengalaman siswa. IMPLIKASI DAN TANTANGAN IMPLEMENTASI DESAIN PEMBELAJARAN PAI BERBASIS DEMOKRASI DAN MULTIKULTURAL Menerapkan pendekatan demokratis dan multikultural dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) membawa dampak positif dalam menciptakan ruang belajar yang lebih terbuka dan menghargai perbedaan. Siswa diajak untuk aktif berdiskusi, berani menyampaikan pendapat, dan belajar menghormati perspektif orang lain. Di saat yang sama, nilai-nilai multikultural yang diajarkan membantu mereka memahami keberagaman sebagai bagian penting dari hidup bersama dalam masyarakat yang majemuk (Hadi, 2. Hal ini memperkaya pengalaman belajar siswa, sekaligus memperkuat karakter mereka sebagai warga yang inklusif (Ahyani & Abdulloh, 2022. Huda et al. , 2022. Malla et al. , 2. Meski begitu, salah satu kendala terbesar adalah kesiapan guru. Banyak guru masih terbatas dalam pemahaman tentang pendidikan yang demokratis dan multikultural. Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena guru seharusnya menjadi penggerak utama dalam membangun suasana kelas yang dialogis dan inklusif (Abduloh et al. , 2022. Ahyani & Abdulloh, 2. Tanpa pelatihan yang cukup, mereka kesulitan menerjemahkan konsep tersebut dalam praktik pembelajaran sehari-hari (M. Huda et al. , 2022. Ridho et al. , 2. Kurikulum PAI juga menjadi tantangan lain. Banyak materi pelajaran yang masih berfokus pada hafalan dan belum menyentuh konteks sosial kehidupan siswa secara Ini membuat siswa sulit mengaitkan nilai-nilai agama dengan realitas mereka sehari-hari (Blumer, 2007. Rahmawati et al. , 2. Oleh karena itu, materi ajar perlu disesuaikan dengan isu-isu aktual yang dekat dengan kehidupan siswa, agar mereka bisa belajar agama secara lebih relevan (Mahmud, 2. Lingkungan sekolah pun memainkan peran penting dalam mendukung keberhasilan Sekolah yang terbuka terhadap keberagaman akan mendorong siswa merasa nyaman mengekspresikan identitas dan keyakinannya. Namun, masih banyak sekolah yang belum memiliki budaya yang mendukung hal tersebut, terutama karena minimnya kebijakan yang pro-keberagaman (WartiAoah, 2. Selain itu, sikap homogen dalam institusi pendidikan juga sering kali menghambat pembentukan ruang yang inklusif (Hamid Ghani, 2024. Wijaya et al. , 2. Dalam praktiknya, pendekatan ini tidak jarang mendapat penolakan. Beberapa kalangan memandang bahwa mengaitkan agama dengan nilai-nilai demokrasi dan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pendidikan Agama Islam Sebagai Solusi Tantangan Identitas Generasi Saat Ini: Desain Demokratis Dan Multikulturalis multikultural merupakan bentuk penyimpangan dari ajaran Islam. Padahal, jika dipahami lebih dalam, prinsip-prinsip demokrasi seperti keadilan dan kesetaraan sangat selaras dengan ajaran Islam (Ahmad Reza Maulana et al. , 2024. Amalia et al. , 2023. Storer & Torre. Kebutuhan edukasi dan komunikasi yang intensif agar pendekatan ini dipahami sebagai bagian dari penguatan karakter Islam rahmatan lil alamin (K. Huda & Abid, 2025. Putra et al. , 2. Lebih jauh, pendekatan ini juga dinilai efektif dalam mencegah radikalisme. Ketika siswa terbiasa berdialog dan berpikir terbuka, mereka akan memiliki daya kritis terhadap informasi atau ideologi ekstrem yang menyimpang. Nilai toleransi yang dibangun dalam kelas menjadi benteng yang kuat bagi mereka dalam menghadapi tekanan sosial atau propaganda intoleransi (Supian, 2. Bahkan, sekolah-sekolah yang telah menerapkan pendekatan ini mengalami peningkatan sikap empatik dan kolaboratif di antara siswa (Ghani, 2. Implementasi juga menuntut kolaborasi berbagai pihak. Dukungan dari pemerintah melalui kebijakan kurikulum, pelatihan guru, hingga penguatan komunitas sekolah sangat dibutuhkan untuk mewujudkan kelas yang demokratis dan multikultural. Tanpa sinergi ini, desain pembelajaran yang progresif akan sulit dijalankan secara optimal (Ulumuddin et al. Melibatkan komunitas lokal juga penting untuk membumikan nilai-nilai keberagaman dalam konteks yang lebih nyata (Masyitoh et al. , 2. Untuk menjamin efektivitasnya, implementasi pembelajaran PAI berbasis demokrasi dan multikultural perlu diiringi evaluasi yang menyeluruh. Evaluasi tidak hanya berfokus pada nilai akademik, tetapi juga pada perkembangan sikap sosial siswa, seperti empati, kemampuan kerja sama, dan keterbukaan terhadap perbedaan (Salis Irvan Fuadi & Robingun Suyud El Syam, 2. Hasil evaluasi ini penting sebagai dasar perbaikan kurikulum dan metode ajar di masa mendatang (Hamka, 2. KESIMPULAN Di era yang penuh perubahan cepat akibat globalisasi, kemajuan teknologi, dan keragaman sosial yang semakin kompleks. Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki tantangan dan peluang yang besar. Sudah saatnya pendekatan PAI tidak lagi hanya berfokus pada aspek ritual dan hafalan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran yang mengajarkan pentingnya keadilan, tanggung jawab, toleransi, dan keterbukaan. Pendekatan berbasis demokrasi dan multikultural dalam pembelajaran agama memberikan landasan kuat bagi generasi muda untuk membentuk jati diri yang religius sekaligus menghargai perbedaan di tengah masyarakat. Implementasi pendekatan ini membawa dampak nyata, baik dalam mengubah peran guru menjadi pembimbing yang mendampingi proses reflektif siswa, maupun dalam menciptakan suasana kelas yang inklusif, penuh dialog, dan menghormati kebhinekaan. Meski demikian, berbagai hambatan masih perlu diatasi, seperti keterbatasan pemahaman guru, materi ajar yang belum sepenuhnya kontekstual, serta kurangnya dukungan kebijakan yang menyeluruh. Semua ini membutuhkan kerja sama lintas pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, hingga keluarga dan masyarakat luas. Lebih dari sekadar metode pembelajaran, pendekatan ini adalah bentuk nyata dari misi pendidikan Islam yang ingin menghadirkan nilai-nilai agama dalam kehidupan seharihari. Pendidikan agama yang dirancang secara demokratis dan multikultural akan membantu peserta didik menjadi pribadi yang tidak hanya taat secara spiritual, tetapi juga Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pendidikan Agama Islam Sebagai Solusi Tantangan Identitas Generasi Saat Ini: Desain Demokratis Dan Multikulturalis mampu berdialog, bersikap adil, dan hidup damai dalam keragaman. Dengan penerapan yang konsisten dan dukungan semua pihak, desain pembelajaran ini dapat menjadi pondasi kuat dalam membentuk generasi yang religius, terbuka, dan siap menghadapi tantangan dunia modern secara bijak dan beradab. REFERENSI