BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin DOI: https://doi. org/10. 62667/begibung. E-ISSN: 3025-7743 Vol. No. Sept. Hal. Homepage: https://berugakbaca. org/index. php/begibung INDONESIA SEBAGAI IDENTITAS NASIONAL: ANTARA PELESTARIAN DAN PERUBAHAN Abdurrozak1. Wahidatul Murtafi'ah2 Pendidikan Bahasa Indonesia. Instititut Pendidikan Nusantara Global Informasi Artikel ABSTRAK Sejarah Artikel: Diterima 9 Juli. Perbaikan 12 Sept. Disetujui 18 Sept. Kata kunci: Indonesia. Identitas nasional, pelestarian bahasa. Bahasa Indonesia memegang peran sentral sebagai simbol identitas nasional dan alat pemersatu bangsa di tengah keragaman etnis dan budaya Nusantara. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika peran Bahasa Indonesia dalam konteks historis dan kontemporer, serta menelaah tantangan yang dihadapinya di era digital dan globalisasi. Menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, penelitian ini mengupas peran strategis Bahasa Indonesia dalam membentuk kesadaran kebangsaan, upaya pelestariannya melalui kebijakan dan partisipasi masyarakat, serta ancaman yang timbul akibat pergeseran gaya berbahasa generasi muda. Hasil kajian menunjukkan bahwa pelestarian Bahasa Indonesia memerlukan pendekatan yang adaptif dan kolaboratif, yang mampu menjaga nilai dan struktur bahasa tanpa menolak Dengan demikian. Bahasa Indonesia diharapkan tetap hidup dan relevan, tidak hanya dalam ranah formal, tetapi juga dalam ruang-ruang digital dan ekspresi sehari-hari. Bahasa Indonesia harus menjadi bahasa yang lentur, dinamis, dan tetap berakar pada nilai-nilai kebangsaan. A 2025 BEGIBUNG *Surat elektronik penulis: rozakbantek@gmail. PENDAHULUAN Sejak dikukuhkannya dalam ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Bahasa Indonesia tidak hanya menjadi alat komunikasi resmi dalam pemerintahan, pendidikan, dan media massa, tetapi juga berfungsi sebagai representasi identitas nasional. Ia adalah bahasa yang memuat nilai-nilai kebangsaan, jejak sejarah perjuangan, serta cita-cita kolektif bangsa Indonesia. Namun demikian, seiring masuknya Indonesia ke dalam era globalisasi dan revolusi digital. Bahasa Indonesia kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Masuknya kosakata asing, penetrasi budaya luar melalui media sosial, serta pergeseran gaya berbahasa di kalangan generasi muda menjadi fenomena yang tidak dapat diabaikan. Bahasa Indonesia yang dahulu menjadi lambang kebanggaan nasional kini mulai terdesak oleh dominasi bahasa asing yang kerap dianggap Page 19 lebih modern, praktis, atau bahkan Aukeren (Erikha 2. Perubahan dalam cara berbahasa ini bukan hanya menjadi persoalan linguistik, melainkan juga menyentuh dimensi sosial dan kultural Di satu sisi, adaptasi terhadap perkembangan zaman adalah sesuatu yang wajar dan bahkan diperlukan. Namun di sisi lain, tanpa kesadaran kolektif akan pentingnya pelestarian bahasa, jati diri bangsa dapat perlahan-lahan Oleh karena itu, pelestarian Bahasa Indonesia harus menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya oleh lembaga negara atau institusi pendidikan, tetapi juga oleh seluruh lapisan masyarakat (Panuju 2. Bertolak dari latar belakang tersebut, tulisan ini bertujuan untuk mengkaji posisi dan peran Bahasa Indonesia sebagai identitas nasional di tengah dinamika zaman. Dengan menganalisis aspek pelestarian serta tantangantantangan yang dihadapi, diharapkan artikel ini dapat memberikan pemahaman mendalam serta kontribusi nyata terhadap upaya menjaga eksistensi Bahasa Indonesia baik sebagai warisan budaya maupun sebagai simbol pemersatu bangsa. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk mengeksplorasi, memahami, dan menganalisis peran serta tantangan Bahasa Indonesia sebagai simbol identitas nasional dalam konteks historis maupun kekinian. (Nurhasanah. Yahdini, et al. 2024: 256-. Data dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai sumber literatur seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, dokumen kebijakan, serta sumber digital terpercaya yang relevan dengan Seluruh data dianalisis secara kualitatif. BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin yaitu dengan menelaah isi dan makna dari masing-masing sumber untuk merumuskan pemahaman yang utuh mengenai posisi Bahasa Indonesia dalam dinamika kebangsaan dan era (Astutik. , & Hariyati. 2021:619638. Analisis dilakukan melalui tahapan interpretasi isi, serta penarikan kesimpulan berdasarkan pola-pola tematik yang muncul dalam data pustaka. Metode ini memungkinkan peneliti untuk meninjau secara kritis bagaimana Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat pelestariannya dilakukan, serta tantangan yang dihadapi dalam menjaga eksistensinya di tengah arus globalisasi dan transformasi digital. Mulyana. Asep, et al. Dengan menggunakan metode ini, diharapkan penelitian dapat memberikan kontribusi pemikiran yang konstruktif terhadap penguatan fungsi dan makna Bahasa Indonesia sebagai identitas nasional yang dinamis dan relevan sepanjang zaman. ALASAN PEMILIHAN JUDUL Bahasa Indonesia sebagai identitas Saya memilih Bahasa Indonesia karena perannya sangat penting sebagai pemersatu bangsa. Di tengah banyaknya suku dan bahasa daerah. Bahasa Indonesia menjadi simbol yang Indonesia sejak Sumpah Pemuda 1928. Fokus pada pelestarian dan perubahan: Saya mengangkat tema ini karena saat ini Bahasa Indonesia sedang berada di antara dua tantangan: harus tetap dilestarikan, tapi juga harus mampu Banyak mencampur bahasa Indonesia dengan Page 20 bahasa asing di media sosial, dan ini patut dikaji. Pentingnya Penelitian menyadarkan kita bahwa bahasa adalah bagian dari jati diri bangsa. Kalau kita kehilangan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, kita juga bisa kehilangan rasa Penelitian ini diharapkan bisa membuka mata kita bahwa menjaga bahasa berarti menjaga budaya dan Kutipan pendukung: AuBahasa adalah cerminan budaya. Ketika bahasa berubah, maka citra bangsa pun ikut Ay (Kridalaksana, 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan kajian dan analisis terhadap berbagai literatur, dapat disimpulkan bahwa Bahasa Indonesia memiliki peran vital sebagai simbol identitas nasional dan alat pemersatu bangsa. Peran ini telah teruji sejak era pra-kemerdekaan hingga saat ini, dan menjadi fondasi yang kokoh dalam membangun rasa kebangsaan di tengah keberagaman etnis dan budaya. (Agustin. Tantimin. , and Situmeang. Upaya pelestarian Bahasa Indonesia telah dilakukan melalui berbagai jalur, seperti kebijakan pemerintah, peran institusi pendidikan, serta partisipasi masyarakat dan Namun, efektivitas upaya tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam konteks perkembangan teknologi, globalisasi, dan perubahan gaya hidup generasi muda. Fenomena penggunaan istilah asing yang berlebihan. BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin serta maraknya bahasa informal dalam media sosial mencerminkan adanya pergeseran dalam sikap berbahasa masyarakat. Meskipun hal ini menunjukkan dinamika bahasa yang hidup dan adaptif, kondisi ini juga mengandung risiko terkikisnya nilai dan mutu Bahasa Indonesia (Rahmawati et al. Dengan pendekatan yang seimbang antara pelestarian dan adaptasi. Bahasa Indonesia harus tetap dijaga kemurniannya dalam konteks resmi dan akademik, namun juga diberi ruang untuk berkembang secara alami di ruang-ruang informal, tanpa kehilangan identitasnya sebagai representasi bangsa. Bahasa Indonesia sebagai Simbol Persatuan dan Identitas Nasional Bahasa Indonesia merupakan elemen krusial dalam pembentukan dan pemeliharaan identitas nasional Indonesia. Dalam konteks negara yang sangat majemuk seperti Indonesia, dengan lebih dari 700 bahasa daerah dan ratusan kelompok etnis, kehadiran Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu menjadi pilar utama yang menyatukan keberagaman tersebut dalam satu entitas Pengukuhan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dalam ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 bukanlah kebetulan sejarah, melainkan pilihan sadar dan strategis oleh generasi muda Indonesia pada masa itu, yang menyadari pentingnya bahasa bersama dalam perjuangan menuju kemerdekaan dan pembentukan identitas (Kahmad and Muhammadiyah 2. Sejak masa kemerdekaan hingga saat ini. Bahasa Indonesia telah berkembang dari simbol perjuangan menjadi instrumen resmi pendidikan, hukum, ekonomi, dan kehidupan sosial budaya. Ia menjadi media utama dalam Page 21 membentuk wacana publik dan menjadi standar komunikasi lintas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Hal ini menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia tidak hanya memiliki fungsi instrumental sebagai alat komunikasi, tetapi juga fungsi simbolik sebagai representasi dari nilai-nilai persatuan, kesetaraan, dan kebangsaan. (Desiana et al. Dalam sehari-hari, penggunaan Bahasa Indonesia yang konsisten di ruang publik, seperti di sekolah, kantor, media massa, bahkan di platform digital, memperkuat eksistensinya sebagai perekat Bahasa ini menjadi identitas kolektif yang menembus batas-batas lokalitas dan menciptakan rasa memiliki terhadap bangsa. Identitas nasional tidak hanya dibentuk oleh simbol-simbol visual seperti bendera atau lambang negara, tetapi juga oleh bahasa yang menghubungkan warga negara dalam satu narasi bersama sebagai "orang Indonesia". Namun, eksistensi ini bukan sesuatu yang dapat dibiarkan mengalir tanpa upaya Dalam era globalisasi dan dominasi budaya luar. Bahasa Indonesia perlu terus dipertahankan dan dikembangkan, baik dari segi kualitas maupun penggunaannya. (Betawi 2. Pemilihan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi harus disertai dengan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang dikandungnya, serta upaya penguatan literasi kebahasaan di berbagai lapisan Dengan demikian. Bahasa Indonesia bukan hanya sekadar sarana komunikasi, melainkan juga tonggak utama pembentukan dan penguatan identitas nasional. Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, bahasa ini harus dijaga tidak hanya sebagai warisan sejarah, tetapi juga sebagai aset strategis bangsa yang menyatukan dan mencerminkan BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin ke-Indonesia-an dalam setiap kata yang Upaya Pelestarian Bahasa Indonesia dalam Berbagai Sektor Pelestarian Bahasa Indonesia bukanlah tugas tunggal pemerintah semata, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen Namun demikian, pemerintah tetap menjadi motor utama dalam merancang dan menerapkan strategi pelestarian bahasa melalui lembaga resmi seperti Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Salah satu bentuk konkretnya adalah pembakuan tata bahasa dan ejaan melalui penerbitan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), yang menjadi standar dalam dunia pendidikan, administrasi pemerintahan, dan publikasi ilmiah. (Saputra 2. Lebih dari sekadar ejaan, upaya pelestarian juga terlihat melalui programprogram literasi, kampanye kebahasaan, dan pembinaan masyarakat bahasa. Pemerintah rutin mengadakan Bulan Bahasa, lomba debat dan pidato berbahasa Indonesia, serta penyuluhan tentang penggunaan bahasa yang baik dan benar. Kurikulum pendidikan nasional pun terus mengalami penyesuaian agar Bahasa Indonesia tidak hanya diajarkan sebagai mata pelajaran, tetapi juga ditanamkan sebagai nilai kebangsaan. (Asfiati Di sektor pendidikan, guru dan dosen memiliki peran strategis sebagai agen pelestari bahasa. Mereka tidak hanya mengajarkan kaidah, tetapi juga menanamkan sikap positif terhadap Bahasa Indonesia. ranah media, baik media cetak, elektronik. Bahasa Indonesia yang sesuai kaidah sangat menentukan kualitas informasi yang diterima Sayangnya, praktik di lapangan sering kali bertolak belakang: banyak media Page 22 justru mengejar aspek komersial dengan mengabaikan ketepatan berbahasa. Judul berita yang bombastis, penggunaan istilah asing tanpa padanan, dan gaya bahasa yang hiperbolis menjadi hal yang kian lazim. Tak hanya itu, pelestarian Bahasa Indonesia di era digital juga menuntut pendekatan yang lebih adaptif. Munculnya platform media sosial, vlog, podcast, hingga TikTok mengalami transformasi bentuk dan fungsi. Di satu sisi, ruang-ruang ini bisa dijadikan wahana kreatif untuk mempopulerkan Bahasa Indonesia di kalangan generasi muda. Namun di sisi lain, tanpa pengawasan dan literasi yang memadai, ruang digital juga bisa menjadi ladang penyimpangan bahasa yang tidak terkendali. Perlu dicatat bahwa pelestarian bahasa tidak identik dengan pelarangan inovasi. Justru tantangannya terletak pada bagaimana Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, komunitas kreatif, dan sektor Misalnya, perusahaan dapat didorong untuk menggunakan Bahasa Indonesia secara tepat dalam iklan dan promosi, sementara konten kreator bisa diberikan insentif untuk membuat konten edukatif yang memperkaya (Udayana 2. Dengan kata lain, pelestarian Bahasa Indonesia harus bersifat dinamis dan Ia bukan tugas administratif, tetapi misi kultural yang memerlukan kreativitas, konsistensi, dan komitmen dari seluruh lapisan masyarakat. Ancaman dan Tantangan Bahasa Indonesia di Era Digital Globalisasi perkembangan teknologi informasi telah memicu pergeseran yang signifikan dalam BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin sikap dan perilaku berbahasa masyarakat Indonesia, terutama di kalangan generasi Transformasi memengaruhi pilihan kosakata, tetapi juga mencerminkan pergeseran identitas linguistik yang lebih luas. Fenomena seperti penggunaan bahasa campuran atau codemixing antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris kini telah menjadi bagian dari keseharian, terutama di media sosial. Kalimatkalimat seperti AuGue lagi meeting bareng clientAy atau AuMood gue today nggak enakAy bukan lagi hal yang asing, melainkan menjadi bentuk ekspresi umum dalam komunikasi (Nugroho 2. Penggunaan model bahasa campuran tersebut, meskipun mencerminkan dinamika dan kreativitas berbahasa, juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Dalam jangka panjang, fenomena ini dapat berdampak pada penurunan kesadaran terhadap norma kebahasaan yang baku. Terutama pada generasi digital native, keakraban dengan struktur bahasa asing yang bercampur dengan Bahasa Indonesia ketepatan, kejelasan, dan bahkan keluhuran Padahal. Bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai representasi nilai-nilai kultural dan nasional. Budaya digital yang mendewakan kecepatan dan ekspresi spontan turut melahirkan bentuk-bentuk baru dalam kosakata dan struktur kalimat. Singkatan ekstrem, istilah gaul, dan neologisme digital sering kali muncul tanpa melalui proses Kosakata seperti AugabutAy. AuhealingAy. AubestieAy. AuspillAy, dan AucringeAy misalnya, menjadi bagian dari leksikon sehari-hari generasi muda. Meskipun katakata ini memperkaya ekspresi, keberadaannya yang tak terarah dan tak terstandar menimbulkan pertanyaan: sejauh mana Page 23 Bahasa Indonesia mampu mempertahankan struktur dan identitasnya di tengah derasnya arus inovasi bahasa informal? Namun, dalam menghadapi tantangan ini, pendekatan yang diambil tidak boleh bersifat represif. Bahasa adalah organisme sosial yang senantiasa berubah. Oleh karena itu, pendekatan pelestarian harus bersifat Pemerintah, pendidik, dan pelaku kebudayaan perlu melihat media digital sebagai ruang potensial untuk mempromosikan Bahasa Indonesia yang kreatif namun tetap menjaga norma. Literasi kebahasaan digital menjadi urgensi baru: bukan hanya tentang kemampuan membaca dan menulis di platform digital, tetapi juga kemampuan untuk memilih bentuk bahasa yang tepat sesuai konteks dan tujuan (Anggara S 2. Dengan demikian, tantangan era digital terhadap Bahasa Indonesia bukan sesuatu yang harus ditolak mentah-mentah. Justru, ini menjadi momentum untuk menegaskan kembali posisi Bahasa Indonesia di tengah dunia yang terus berubah. Pengembangan bahasa harus membuka ruang untuk inovasi tanpa melupakan akar nilai dan Bahasa Indonesia harus menjadi milik semua, di ruang formal maupun informal, di dokumen negara maupun di kolom komentar. Menjaga Keseimbangan Pelestarian dan Perubahan Bahasa bukanlah artefak mati yang dibingkai dalam museum kebudayaan. adalah organisme hidup yang tumbuh, bergerak, dan berubah seiring zaman. Bahasa Indonesia pun demikian ia terus mengalami transformasi mengikuti dinamika sosial, teknologi, dan budaya. Oleh karena itu. Bahasa Indonesia BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin membekukannya dalam bentuk baku yang kaku, melainkan sebagai proses aktif untuk mengelola perubahan tanpa kehilangan jati (Name et al. Dalam konteks ini, keseimbangan antara pelestarian dan perubahan menjadi Di satu sisi. Bahasa Indonesia perlu tetap teguh pada nilai-nilai fundamentalnya sebagai simbol persatuan, alat komunikasi nasional, dan media pemersatu keberagaman. Di sisi lain, ia juga harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman: dari tren kosakata digital, istilah teknologi, hingga ragam bahasa visual di media sosial. Tantangannya bukan untuk memilih salah satu, tetapi menyatukan keduanya dalam harmoni yang berkelanjutan. Pendidikan menjadi garda terdepan dalam upaya menjaga keseimbangan ini. Edukasi kebahasaan tidak cukup hanya mengajarkan kaidah PUEBI atau struktur kalimat efektif, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa bahasa mencerminkan cara berpikir dan cara memaknai dunia. (Asyari and Dewi 2. Pembelajaran bahasa harus membawa peserta didik untuk mencintai dan menghidupi Bahasa Indonesia, bukan sekadar Literasi digital, penulisan kreatif, dan proyek multimedia berbahasa Indonesia pembelajaran yang relevan dengan konteks Di luar dunia pendidikan formal, ruang digital menyimpan potensi besar sebagai ladang persemaian Bahasa Indonesia yang segar dan dinamis. (Ummah 2. Konten kreator, influencer, dan komunitas daring memiliki kekuatan untuk membentuk selera dan gaya berbahasa masyarakat. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, pelaku media, pendidik, dan pengguna media sosial harus dibangun secara sinergis. Kampanye kreatif, lomba vlog berbahasa Indonesia. Page 24 penguatan konten edukatif di platform streaming, serta penyediaan glosarium teknologi dalam Bahasa Indonesia adalah pelestarian dan inovasi dapat berjalan Kunci dari semua ini adalah kesadaran Bahasa Indonesia tidak bisa dipertahankan hanya melalui regulasi atau ia harus dihidupi, dirayakan, dan ditransformasikan bersama. Sebab hanya dengan itu, bahasa ini akan tetap relevan di tengah pusaran zaman, tanpa kehilangan akar, makna, dan marwahnya sebagai simbol SIMPULAN Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan fondasi kebangsaan yang menyatukan keragaman etnis, budaya, dan bahasa di Nusantara. Sejak dikukuhkan dalam Sumpah Pemuda. Bahasa Indonesia telah berperan sebagai simbol persatuan dan identitas nasional yang tak tergantikan. Namun, di tengah dinamika zaman yang terus berubah terutama dengan hadirnya era digital dan globalisasi bahasa ini dihadapkan pada berbagai tantangan yang menguji kelestarian dan relevansinya. Pelestarian Bahasa Indonesia bukan hanya tugas negara, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh masyarakat. Pemerintah, lembaga pendidikan, media massa, hingga konten kreator memiliki peran strategis dalam membentuk dan menjaga kualitas berbahasa Meski perkembangan teknologi dan budaya populer memunculkan gaya bahasa baru, hal itu tidak semestinya dianggap sebagai ancaman, melainkan peluang untuk merangkul inovasi tanpa melepaskan akar nilai kebangsaan. Dengan mengedepankan pendekatan adaptif dan kolaboratif. Indonesia dapat menjaga keseimbangan antara pelestarian dan BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin perubahan bahasa. Bahasa Indonesia harus tetap hidup bukan hanya dalam buku pelajaran dan dokumen resmi, tetapi juga dalam dinamika digital, ruang-ruang publik, dan ekspresi Hanya demikian. Bahasa Indonesia akan tetap menjadi napas kebangsaan yang segar, lentur, namun tetap mengakar kuat sebagai simbol keindonesiaan sejati. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pengampu mata kuliah yang telah memberikan arahan, mengeksplorasi topik mengenai Bahasa Indonesia sebagai identitas nasional. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan masukan serta diskusi yang konstruktif selama proses penyusunan artikel ini. Tak lupa, penulis juga berterima kasih kepada berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas dukungan moril maupun referensial yang sangat Semoga artikel ini dapat memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan kebangsaan di kalangan pembaca. DAFTAR PUSTAKA