Makna Pastoral Keluarga dalam Tradisi Adat Nyurong Buis Pekain Suku Dayak Sekubang Junita Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak Email: yunitaeta91@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana makna pastoral keluarga di dalam tata upacara dan simbol yang digunakan dalam upacara perkawinan adat Nyurong Buis Pekain Dayak Sekubang dan dalam perayaan perkawinan menurut iman Katolik, serta ingin melihat makna-makna apa saja yang terkandung di dalam tata upacara perkawinan adat Dayak tersebut. Perayaan perkawinan menurut iman Katolik, mengetahui persamaan dan perbedaan makna yang terdapat dalam perkawinan adat Dayak Sekubang dan dalam perkawinan menurut iman Katolik. Dengan demikian pembahasan dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkawinan menurut iman Katolik dan perkawinan menurut adat Dayak Sekubang memiliki persamaan dan perbedaan dilihat dari segi rangkaian upacara dan simbol-simbol yang digunakan. Pemahaman pada persamaan dan perbedaan yang baik membuat masyakat Dayak Sekubang dapat mengimani agama Katolik dengan melihat persamaan yang ada. Persamaan itu dapat dilihat dari makna dan maksud yang sama untuk mencapai tujuan kebahagiaan dan keluhuran dari sebuah perkawinan tersebut untuk dapat mencapai kepenuhan hidup dalam imannya kepada Allah. Secara praktis temuan dalam penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan persiapan katekese perkawinan Katolik bagi masyarakat Dayak Sekubang. Kata kunci: Pastoral Keluarga. Nyurong Buis Pekain. Dayak Sekubang Abstract This research aims to find out the pastoral meaning of the family in the ceremonies and symbols used in traditional marriage ceremonies Nyurong Buis Pekain Dayak Sekubang and its relation to wedding celebrations according to the Catholic faith, and what meanings are contained in the dayak traditional wedding ceremony. Celebrating marriages according to the Catholic faith, knowing the similarities and differences in meaning contained in traditional Dayak Sekubang marriages and in marriages according to the Catholic Faith. Thus, the discussion is carried out descriptively. The results of this research show that marriage according to the Catholic faith and marriage according to the Dayak Sekubang tradition have similarities and differences in terms of the series of ceremonies and symbols Understanding these similarities and differences will certainly enable the Dayak Sekubang community to live out their faith by seeing the existing similarities. This equality can be seen from the same meaning and purpose, to achieve the goal of happiness and nobility, from marriage to achieve the fullness of one's life of faith in God. Practically, it is hoped that the findings in this research can be used as preparation material for Catholic marriage catechesis for the Dayak Sekubang Key words: Family Pastoral. Nyurong Buis Pekain. Dayak Sekubang PENDAHULUAN Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk karena terdiri atas berbagai suku bangsa, adat istiadat, bahasa daerah, serta agama yang berbeda-beda. Walaupun setiap suku atau etnis di Indonesia memiliki kebiasaan yang berbeda yang menjadi budaya serta ciri khas suku atau etnis bangsa tertentu, namun dalam istilah AuAntropologi budayaAy perbedaan itu ditiadakan. Satu di antara keberagaman kebudayaan itu terlihat dalam keharmonisan suku atau etnis di Kalimantan yang merupakan tempat hidup masyarakat Suku Dayak. Suku Dayak menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan suku bangsa yang mendiami daerah Kalimantan. Salah satunya suku Dayak ialah suku Dayak Sekubang. Dayak Sekubang adalah salah satu sub Suku Dayak terbilang sangat kecil yang tersebar di tiga desa di Kalimantan Barat. Suku Dayak Sekubang memiliki berbagai adat dan budaya, salah satunya adat perkawinan. Perkawinan merupakan upacara sakral yang akan selalu dialami oleh semua manusia. Perkawinan menjadi hal menarik untuk dikaji dari berbagai segi, salah satunya pelaksanaan perkawinan. Setiap daerah memiliki cara atau adat tersendiri dalam melakukan prosesi setelah pemberkatan perkawinan di Gereja. Adat atau cara ini memiliki nilai tersendiri agar perkawinan yang dilakukan dapat menjadi keluarga yang bahagia dan sejahtera. Khususnya dalam masyarakat Dayak Sekubang, ada berbagai macam cara atau adat yang dilakukan setelah melangsungkan perkawinan atau pemberkatan perkawinan di Gereja. Ada adat atau tradisi yang selalu dilakukan secara turun temurun sampai sekarang yaitu adat Nyurong Buis Pekain. Jika adat atau tradisi tidak dilakukan atau belum dilakukan setelah selesai pemberkatan Perkawinan di Gereja, maka proses perkawinan tersebut tidak atau belum sah secara adat karena salah satu fungsi pelaksanaan adat tersebut agar kedua belah keluarga merasa puas dan tidak ada hutang atau bebas dari hutang adat. Masyarakat Suku Dayak Sekubang tetap menjaga adat ini karena merupakan warisan dari nenek moyang yang harus dan wajib untuk terus dilaksanakan ketika ada pernikahan di kampung atau desa Bagi masyarakat suku Dayak Sekubang Nyurong Buis Pekain adalah suatu hal yang penting dalam proses gawai adat perkawinan dimana pihak keluarga pengantin laki-laki mengantarkan adat dan mas kawin sebagaimana telah di atur dalam hukum adat sekubang. Pelaksanaan Tradisi Nyurong Buis Pekain dalam Perkawinan adat Suku Dayak Sekubang merupakan suatu ikatan antara pria dengan wanita sebagai suami istri bermaksud untuk mendapatkan keturunan dan membangun serta membina kehidupan keluarga rumah tangga, namun dalam hal lain ikatan keluarga ini tidak hanya antara suami istri saja akan teapi juga berarti suatu hubungan hukum adat yang menyangkut para anggota kerabat dari pihak istri dan dari pihak suami. Pihak-pihak yang terlibat dalam tradisi ini di antaranya: . Orang tua yang menyiapkan segala keperluan dalam acara adat Nyurong Buis Pekain sesuai ketentuan yang berlaku, . Pendamping mempelai laki-laki dan perempuan yang dipercayai oleh pihak keluarga, diserahi tanggung jawab oleh pihak keluarga untuk mendampingi kedua mmempelai selama upacara adat Nyurong Buis Pekain tersebut, . Kepala adat dan dewan adat Yang mengemban tugas untuk memberi nasihat bagi kedua mempelai, . Anggota masyarakat tugasnya membantu mempersiapkan arena yang akan digunakan untuk upacara adat Nyurong Buis Pekain dan menyemarakkan acara adat tersebut, . Sahabat yang ikut serta menyemarakkan dan juga membantu. Upacara adat Nyurong Buis Pekain merupakan puncak dari upacara perkawinan suku Dayak Sekubang, dalam upacara tersebut dijelaskan makna perkawinan sebagai sesuatu yang sakral bagi suku Sekubang. Dijelaskan bahwa dalam membina hubungan keluarga bukanlah hal yang bisa dibuat mainmain tetapi merupakan hal yang penting. Ajaran ini sangat sesuai dengan ajaran tentang perkawinan dalam gereja Katolik. Perkawinan dibangun oleh Allah dan dibaharui oleh Tuhan Yesus. Itulah ajaran Kitab Suci dan tradisi suci dan konsili Trente . Walaupun perkawinan itu lembaga ilahi, perkawinan ini juga memuat unsur-unsur manusiawi, karena terbentuknya perkawinan sah diawali dengan kesepakatan kedua belah mempelai itu sendiri . Setelah kedua belah mempelai mengadakan kontrak perkawinan dengan kehendak bebas mereka, kemudian mereka terikat pada hukum-hukum perkawinan . Kesepakatan nikah itu membentuk ikatan perkawinann yang menurut ketetapan Tuhan bersifat Suci dan tak dapat diputuskan atau tak terceraikan . Hanya kuasa Gereja, dengan wewenang ilahi, mempunyai hak dan kewajiban untuk menghalagi bentuk-bentuk perkawinan yang bertentangan dengan akal dan kodrat . Jika dlihat dari makna upacara perkawinan adat Nyurong Buis Pekain dan kaitannya dengan ajaran perkawinan Katolik. Sebagai seorang pemimpin umat tentu diharuskan untuk ikut ambil bagian dalam rangkaian upacara tersebut. Pertama tentunya membuka dan menutup upacara dengan doa Katolik, kedua pemimpin umat bisa ambil bagian dalam memberi pengajaran kepada kedua mempelai tentang makna perkawinan dilihat dari sudut pandang agama Katolik. Dalam hal ini Pelayanan pastoral juga memiliki peran yang sangat penting karena pelayan pastoral merupakan pelayan penggembalaan yang memberi diri untuk melayani umatnya dengan sepenuh hati. Pelayanan pastoral tidak hanya dilakukan oleh gembala saja, namun pelayan ini dapat dilakukan semua orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Tujuan pelayanan pastoral untuk mengarahkan orangorang untuk mengenal Yesus Kristus secara pribadi. METODE Untuk mencapai tujuan penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Data yang diperlukan dalam penelitian ini berupa kata-kata tertulis dan lisan dari orang-orang dan perilaku informan yang dapat diamati. oleh karena itu data primer yang diperlukan berupa hasil wawancara dengan para informan. Dalam wawancara ini penulis memilih Desa Bernayau. Kecamatan Sepauk. Kabupaten Sintang sebagai lokasi penelitian, karena lokasi tersebut memang tepat untuk menjadi lokasi penelitian dengan masalah yang akan diteliti. Subyek dari penelitian yang akan diteliti ini adalah masyarakat Dayak Sekubang dan dewan adat serta para tetua-tetua atau sesepuh Desa Bernayau, termasuk para perempuan yang membantu keluarganya demi kelancaran upacara adat Nyurong Buis Pekain. Untuk melengkapi data yang diperlukan, maka perlu digali informasi dari Pemuka Masyarakat dan aparat desa lainnya, yang dianggap mengetahui secara baik tentang keadaan dan tradisi yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Suku sekubang khususnya di Desa Bernayau. Kecamatan Sepauk. Kabupaten Sintang. Teknik observasi yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan pengamatan mata pada subyek maupun obyek yang diteliti. Selain itu wawancara merupakan salah satu alat pengumpulan data dalam penelitian, wawancara dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung dan terbuka oleh pewawancara kepada sumber data. Alat yang digunakan dalam melakukan wawancara mendalam adalah pedoman wawancara yang sudah disiapkan sebelumnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Teori Kebudayan Melalui Konsili Vatikan II. Gereja menyatakan kesadaran untuk memperbaharui diri dan semakin terbuka dalam peranan dan hubungan dengan dunia dewasa ini. Salah satu yang merupakan tanda pembaharuan diri Gereja itu antara lain tampak dalam pernyataannya mengenai hubungan timbal balik atau interaksi antara agama dan kebudayaan, secara tajam antara moralitas dan agama, yang diungkapkan dalam dokumen Gaudium et Spes. Dokumen tersebut menjelaskan bahwa kebudayaan merupakan sarana dan upaya manusia untuk menyempurnakan dan mengembangkan diri secara utuh. Manusia akan mengungkapkan seluruh pengalaman rohani melalui karya yang berguna bagi banyak Kebudayaan merupakan salah satu buah pikiran baik berupa benda ataupun suatu tindakan yang senantiasa perlu dilestarikan guna menjaga sejarah yang telah ada. Widjaja dalam Ranjabar . 6: . menjelaskan bahwa pelestarian bukanlah kegiatan yang hanya dilakukan sekali saja tetapi kegiatan yang dilakukan secara terus menerus, terarah dan terpadu serta bersifat dinamis, luwes dan selektif guna mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut Koentjaraningrat . 5: . berpendapat bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar. Dilihat dari asal katanya, kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah, bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau Dengan demikian dapat kita pahami bahwa kebudayan memiliki kaitan dengan akal budi manusia. Dalam gambaran yang berbentuk kebudayaan atau budaya, tampaklah suatu kenyataan bahwa manusialah yang menciptakan kebudayaan itu bagi dirinya sendiri dan bagi masyarakat. Hal ini merupakan perkembangan dan kesadaran manusia tentang dirinya serta ikut mengubah sifat dan perkembangan kebudayaan yang diciptakan baik secara perorangan maupun dalam kelompok masyarakat dimanapun berada. Secara umum budaya diartikan sebagaiAykeseluruhan warisan social yang dapat dipandang sebagai hasil karya yang tersusun menurut tata tertib teratur, biasanya terdiri atas pikiran dan gagasan, kebiasaan dan nilai-nilai tertentuAy. Kebudayaan adalah refleksi dari perkembangan kehidupan kodrati manusia yang mempunyai citra, karya dan karsa. Melalui pengertian tersebut dapat dipahami bahwa dalam kebudayaan selalu ada dinamika sesuai dengan nilai-nilai dan paham ataupun lingkungan yang mempengaruhi serta menuntun bangsa atau suku itu sendiri. Kebudayan itu dapat berkembang melalui hubungan yang terjalin dari generasi ke generasi dengan menyesuaikan perubahanperubahan. Jika terdapat kesenjangan atau terputusnya hubungan antar generasi dapat membawa akibat besar bagi perkembangan kebudayaan. Kebudayaan memberi pengaruh yang besar bagi kehidupan sosial masyarakat bahkan sering dipandang sebagai seluruh cara hidup atau way of the life. Taneko . mengatakan bahwa melalui budaya, setiap kelompok budaya menghasilkan jawaban-jawaban khusus terhadap tantangan-tantangan Ini menunjukkan pentingnya budaya dalam hidup manusia. Boleh dikatakan bahwa budaya memberikan solusi-solusi yang berguna untuk memecahkan semua masalah-masalah yang ada dalam masyarakat dengan menetapkan pola-pola hubungan, dan cara-cara memelihara kohesi dan konsensus Dalam hidup sosial, manusia menggunakan kebudayaan untuk menginterprestasikan dan memahami lingkungan yang dihadapi. Pada hakikatnya kebudayaan adalah suatu mekanisme adaptif terhadap lingkungan. Teori Adat Istiadat Masyarakat Dayak seperti masyarakat pada umumnya hidup dalam teritorial atau wilayah tertentu dengan sistem sosial, institusi, kebiasaan dan hukum adat tersendiri. Hukum adat dalam masyarakat Dayak merupakan kumpulan normaAcnorma atau aturan-aturan yang bersumber pada perasaan keadilan masyarakat. Norma-norma ini selalu berkembang meliputi tingkah laku manusia dalam kehidupan sehariAchari. Norma ini senantiasa ditaati dan dihormati sebagai norma sah. Hukum adat memiliki keterkaitan dengan hukum, tetapi tidak semua adat bisa disebut hukum. Adat yang mempunyai sifat hukum hanya adat yang memiliki sanki seperti yang dikatakan oleh Surojo Wignjodipuro. SH dalam Pengantar dan AzasAcazas Hukum Adat . 3: . Pada kenyataannya. Masyarakat Dayak tidak bisa dipisahkan dari adat istiadat yang sudah berlaku turun temurun. Hal ini disebabkan tradisi adat masih hidup, tumbuh dan berkembang di dalam dan sesuai dengan masyarakat-nya sampai sekarang ini. Hukum adat selalu digunakan dalam menyelesaikan permasalahan yang ada karena mampu menimbulkan rasa keadilan dalam masyarakat. Tradisi Adat Perkawinan AuNyurong Buis PekainAy Suku Dayak Sekubang Indonesia memiliki banyak sekali macam ragamnya adat termasuk adat perkawinan. Setiap suku yng ada di Indonesia memiliki adat perkawinan masing-masing. Adat perkawinan tersebut memiiki kemiripan satu dengan yang lain terutama pada suku-suku yang berdekatan. Adat perkawinan suku-suku yang ada di Indonesia memiliki dasar pemahaman yang sama yaitu bahwa perkawinan adalah suatu ikatan yang sakral dan merupakan salah satu kodrat yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Pernikahan dalam hal ini bukan hanya sekedar ikatan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan saja, akan tetapi juga merupakan proses penyatuan antara dua keluarga besar. Selain itu, perkawinan juga merupakan proses peralihan dari masa remaja menuju kehidupan berkeluarga. Dalam perkembangannya, tradisi adat dan kebudayaan sebagai produk kerja manusia, banyak mengalami pergeseran seiring dengan pergeseran sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat. Perkawinan dalam Gereja Katolik dirumuskan secara baik dalam Kitab Hukum Kanonik Nomor 1983, bahwa tujuan dari sebuah perkawinan ialah kebaikan pasangan atau suami istri. Dalam ajaran Gereja Katolik, perkawinan adalah sebuah sakramen, perkawinan bukan hanya perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk membentuk kehidupan bersama tetapi juga sebagai tanda cintah kasih Allah kepada umat manusia. Perkawinan dalam Gereja Katolik menurut Kitab Suci Perjanjian Lama ditafsir berdasarkan beberapa penggalan teks yang berbicara khusus mengenai perkawinan. Teks Kejadian 1: 26-28 memahami perkawinan sebagai suatu bentuk persatuan antara seorang pria dan wanita yang diberkati. Dalam Kitab Kejadian 2: 18-25 disebutkan perkawinan itu merupakan sebagai kesatuan antara seorang pria dan seorang wanita, atas dorongan Allah sendiri sehingga suami mampu dan mau meninggalkan ayahibunya serta hidup bersatu dengan istrinya demikian erat sehingga keduanya menjadi manusia baru. Pada Perjanjian Baru tertulis bahwa perkawinan Katolik tercermin dalam Surat Santo Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Rasul Paulus dalam surat pertamanya kepada jemaat di Tesalonika mengatakan supaya umat Kristen menghayati dan menghargai perkawinan dengan menjauhkan diri dari percabulan dan seks bebas . Tes 4:3-. Rasul Paulus sangat mengecam hal tersebut karena bertentangan dengan etika Kristen dan kekudusan perkawinan, ini dikatakannya dalam sura pertamanya kepada jemaat di Korintus . Kor 5-. Sebagai negara yang memilki keberagaman suku dan budaya, tentunya masyarakat yang ada di Indonesia memilki bentuk dan tata cara perkawinan menurut adat tradisi dan budaya mereka masingmasing. Sama halnya yang terjadi pada masyarakat adat suku Dayak Sekubang di Desa Bernayau. Kecamatan Sepauk. Kabupaten Sintang. Budaya perkawinan adat dalam masyarakat Dayak Sekubang disebut AuNyurong Buis PekainAy. Tujuan diadakannya acara adat AuNyurong Buis PekainAy ini bukan hanya untuk menyatukan kedua mempelai dalam ikatan perkawinan tetapi juga untuk mempererat hubungan dan tali persaudaraan antar keluarga serta saudara dan saudari. Dalam upacara perkawinan AuNyurong Buis PekainAy. Suku Dayak Sekubang Desa Bernayau, seperti upacara adat pada umumnya mengenakan pakaian adat sebagai pakaian pengantin. Bukan hanya menyediakan uang, tempayan yang berisi tuak saja akan tetapi juga harus ada beras yang dimasukan ke dalam piring dan perlengkapan-perlengkapan yang lainnya seperti daging panggang dan lemang yang dimasak ke dalam buluh atau bambu. Sebelum upacara pelaksanaan perkawinan adat Nyurong Buis Pekain, mereka juga melaksanakan ritual-ritual adat seperti dikipas-kipas di atas kepala kedua mempelai laki-laki dan wanita dengan menggunakan ayam kampung. Setelah itu pemuka adat baik dari pihak lakilaki maupun perempuan sama-sama memberikan pituah atau wejangan kepada Mereka. Dalam pituah tersebut, kedua mempelai diberi bekal dalam menjalani hidup berumah tangga. Dalam tradisi upacara perkawinan adat Nyurong Buis Pekain Suku Dayak Sekubang. Desa Bernayau. Kecamatan Sepauk. Kabupaten Sintang ini juga sangat diatur tegas dalam hukum adat. Upacara adat Nyurong Buis Pekain ini melibatkan seluruh masyarakat setempat demi tercipta dan kelancaran kegiatan tersebut. Masyarakat Adat pada umumnya, terutama Masyarakat adat Dayak di Kalimantan Barat pasti memiliki aturan atau hukum adat yang diwariskan dari para leluhur. Adat istiadat ini bermacam-macam, mulai dari upacara adat perkawinan, upacara selingkuh/zinah sampai ke upacara adat pembunuhan atau pati nyawa. Upacara adat juga mengatur tentang cara bagaimana mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam, seperti pemanfaatan rimba Masyarakat Dayak sekubang adalah salah satu suku yang hidup dalam tradisi adat yang kuat Di mana komunitas ini juga memiliki pemangku adat yang berperan untuk menjaga dan melestarikan adat istiadat. Pemangku adat memiliki peran yang sangat penting dalam membangun budaya damai dan mekanisme adat Dayak melalui peradilan adat efektif membangun budaya damai. Pengertian Pastoral Keluarga Di dalam masyarakat, kita sering mendengar istilah keluarga. Istilah ini memiliki arti yang bermacam-macam, antara lain dapat diartikan sebagai saudara-saudara, kaum kerabat, orang seisi Jika dipahami berdasarkan pengertian di atas, dapat kita simpulkan bahwa keluarga adalah siapa saja yang ada di dalam lingkungan rumah tangga, atau orang-orang yang memiliki hubungan dan tinggal dalam satu rumah. Kruyut . 5: . , menganalogikan keluarga berdasarkan manusia pertama ciptaan Allah. Menurutnya, kisah penciptaan Adam dan Hawa menandai munculnya sebuah keluarga. Sebab kepada Adam dan Hawa, diberikan rahmat untuk memperoleh keturunan serta menjaga dan melestarikan alam beserta isinya telah diberikan oleh Allah. Dengan demikian dapat kita pahami bahwa keluarga bukan terjadi secara kebetulan dan di luar tanggung jawab manusia, melainkan terjadi oleh rahmat dan kehendak Allah. Manusia dituntut untuk bertanggungjawab atas kebutuhan jasmani dan rohani dalam keluarganya. Budyapranata mengartikan Pastoral keluarga sebagai kunjungan pribadi yang bertujuan melakukan pendampingan terhadap saudara atau sesama saudara seiman dalam rangka membangun paguyuban iman berdasarkan semangat Kristus yang tampil sebagai Sang Gembala Baik. Dapat dimengerti bahwa pastoral keluarga sebagai pendampingan kegembalaan (Budyapranata, 1994: . Sedangkan menurut Purwo Hadiwardoyo . 6: . , pastoral keluarga adalah pendampingan yang dijiwai dengan semangat Kristus. Sang Gembala yang baik. Dalam hal ini, pastoral keluarga juga diartikan sebagai pendampingan kegembalaan. Dalam prosesnya, pastoral keluarga diarahkan untuk mampu membawa semua keluarga-keluarga Kristiani untuk sungguh menyadari panggilan kasih Allah dan sekaligus menjadi perutusan sebagaimana yang dicita-citakan oleh keluarga-keluarga Kristiani pada Untuk itu perlu adanya penyadaran bahwa dalam Gereja, keluarga merupakan sel dasar atau vital dari Gereja Kristus atau bisa juga dikatakan bahwa setiap keluarga Kristiani merupakan Gereja Dalam hal ini, keluarga Kristiani berperan mendayai hidup berdasarkan rahmat Ilahi demi memperkembangkan keluarganya dan sesama keluarga Kristiani dalam hidup menggereja. Makna Pastoral Keluarga Jika kita membaca buku AuPastoral Care in Historical PerspectiveAy , kita memahami bahwa pendampingan pastoral dilakukan terhadap situasi kehidupan manusia. Pendampingan pastoral disebut juga sebagai pemeliharaan jiwa, artinya karya pastoral merupakan tindakan-tindakan pertolongan yang dilakukan atas nama gereja, yang terdiri dari penyembuhan, pendampingan, bimbingan dan perdamaian orang-orang yang bermasalah, khususnya berhubungan dengan masalah-masalah yang paling pokok dan mendasar dalam kehidupan manusia. Untuk membangun pertumbuhan keluarga yang bahagia, hal yang petama adalah impian pasangan suami isteri merupakan sesuatu yang diharapkan sampai akhir hayat. Kebahagiaan itu tidak bisa datang dengan sendirinya melainkan harus dibangun oleh kedua belah pihak yakni suami dan isteri. Ketika mereka benar-benar memainkan perannya sesuai dengan prinsip Firman Tuhan, maka kebahagiaan yang menghampiri mereka akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti. Yesaya 48:18. 1 Menurut Alkitab, keluarga yang lengkap sudah dimulai sejak rumah tangga itu dibentuk atau diberkati oleh Allah melalui sebuah penikahan yang resmi antara Adam dan Hawa menjadi suami istri (Kejadian 2: 22-. Konsep atau makna dari pemberkatan dan peneguhan pernikahan keluarga yang pertama di bumi terungkap melalui frasa bahasa Ibrani waybarek otam elohim artinya: AuDan Allah memberkati merekaAy. Dalam konteks perkawinan Adam dan Hawa dan semua pernikahan Kristen di dunia masa kini, kata barak berarti memberkati dan meneguhkan pernikahan secara sah, resmi dan sempurna. Allen Ross berkata dalam The Bible Knowledge Commentary sebagai berikut: AuBahwa Allah memberkati laki-laki dan perempuan Adam dan Hawa supaya mereka berkembang biak atau beranak cucu untuk memenuhi bumi. Tentulah perintah agung tersebut, yaitu beranak cucu dilaksanakan oleh Adam dan Hawa setelah mereka diberkati dalam pernikahan sebagai suami isteri yang sah, bukan sebelum pasangan itu menikah secara resmi. Pelayan pastoral bukan hanya pelayan yang berkata-kata tentang teori dan praktek pelayanan, tetapi juga melakukan tugas-tugasnya tentang pelayanan yang dijalankan oleh gereja. Pertama-tama pelayan pastoral akan menyampaikan hubungan timbal balik anara Allah Sang Pencipta dengan manusia ciptaan-Nya. Allah dan pemeliharaanNya akan manusia, lalu tentang manusia yang seutuhnya adalah manusia dari tubuh dan jiwa menerima atau mengalami pemeliharaan Allah. Teologia pastoral atau disebut juga teologia penggembalaan adalah bagian dari teologia praktika. Teologia praktika adalah teologia yang berbicara tentang pelayanan gereja di berbagai bidang. Adanya Pelayanan pastoral keluarga memberikan kontribusi bagi kesehatan mental, kesehatan jasmani dan rohani pasangan suami-istri. Dengan demikian pernikahan merupakan suatu bentuk yang diperlukan untuk pencegahan penyakit mental dan rohani yang pengaruhnya dapat berlanjut ke masa Pelayanan pastoral keluarga memberikan ketrampilan bagi pasangan suami istri guna mengatasi persoalan-persoalan keluarga yang mungkin muncul di masa depan, serta diberikan keterampilan mengenai bagaimana menjalin hubungan kerja yang sederajat yang didalamnya diperlukan komitmen dan kesetiaan. Makna dan Simbol-Simbol Perkawinan dalam Gereja Katolik Simbol-simbol yang terdapat dalam perayaan perkawinan Gereja Katolik merupakan salah satu bentuk komunikasi yang dikaitkan dengan tindakan manusia budaya yang berkembang dari tradisi Gereja yang sangat menjunjung tinggi sebuah perkawinan. Perkawinan merupakan sebuah tanda ikatan yang sangat resmi dan erat antara kedua mempelai pria dan wanita, maka Gereja dalam pelaksanaan perkawinan itu sendiri membuat tata perayaan dengan simbol-simbol yang mempunyai makna yang sangat mendalam bagi kehidupan perkawinan selanjutnya. Simbol yang ada didalam upacara perkawinan Gereja Katolik menekankan bagi setiap pasangan yang telah menikah harus tetap mempertahankan dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur perkawinan. Simbol-simbol dalam Sakramen perkawinan sebagai berikut: C Cincin Cincin ini melambangkan kasih abadi Tuhan yang sama seperti bentuk cincin yang tidak memiliki awal dan akhir. Makna cincin yakni sebagai ikatan cinta dan kesetiaan yang abadi . dan tidak terbatas . di antara kedua mempelai. Jari manis di tangan kiri akan tertuju langsung ke C Cadar atau Veils Cadar atau Veils ini melambangkan kesucian dan kesederhanaan seorang wanita. Seorang wanita harus tunduk dan menuruti keinginan suaminya, sebagaimana diketahui bahwa suami telah dipilih C oleh Kristus sebagai kepala Gereja yang memiliki tanggungjawab untuk memimpin keluarganya didalam Kristus. Sebagai simbol penyerahan perempuan sepenuhnya kepada sang suami. Lilin Persatuan Lilin ini memiliki makna sebagai penyatuan dua individu ke dalam ikatan pernikahan. Gairah dari setiap jiwa atau individu untuk pasangannya. Kehidupan kedua mempelai bersatu serta memiliki fungsi sebagai terang cahaya dan terang bagi orang-orang di sekitar mereka agar pernikahan mereka menjadi kesaksian besar, kasih setia Allah dan kasih sayang Alkitab Kitab Suci ini melambangkan bahwa seorang pria menerima peran dan tugasnya menjadi seorang pemimpin rohani di dalam keluarga, dimana pada saat dirinya sudah menjadi suami dan seorang ayah, tentunya dia harus mampu memimpin keluarga rohaninya dalam mengajarkan apa yang tertulis di dalam Alkitab, serta mengajak keluarganya untuk pergi ke Gereja serta melayani. Simbol ini merupakan bagian yang sangat penting dalam pernikahan Gereja Katolik. Merpati Burung merpati ini merupakan salah satu simbol kehadiran Roh Kudus yang melambangkan bukti cinta kasih, kesucian serta keromantisan. Ini berhubungan langsung dari sifat merpati itu sendiri, merpati ini merupakan burung yang sangat setia kepada pasangannya karena mereka hanya memiliki seorang kekasih untuk seumur hidup. Burung merpati identiknya sekali dengan kesetiaannya terhadap pasangannya. Simbol perdamaian dan kedamaian yang dilandasi oleh kekuatan dan kemampuan untuk membela diri apabila perdamaian dan kedamaian tersebut Makna-Makna yang Terkandung dalam Perayaan Perkawinan Katolik dan Perkawinan Adat Nyurong Buis Pekain Suku Dayak Sekubang Sebelum melangsungkan perkawinan adat, kedua mempelai terlebih dahulu melangsungkan pernikahan di Gereja. Tata perayaan perkawinan dilaksanakan dengan membawa kedua mempelai memasuki Sakramen Perkawinan. Sakramen Perkawinan ini untuk mempersatukan suami-istri. Persatuan antara suami-istri ini merupakan tanda misteri kesatuan dan tanda cinta kasih yang subur antara Kristus dengan Gerejanya. Dalam hidup berkeluarga tentunya status hidup baru yang mereka hayati sesudahnya dan dalam menerima dan mendidik anak dilakukan oleh suami-istri untuk menjadi Kedudukan hidup sebagai suami-istri dalam keluarga seperti itu merupakan karunia yang khas di tengah umat Allah. Berdasarkan ajaran iman inilah liturgi atau upacara pemberkatan perkawinan memiliki peranan yang meneguhkan dan menguatkan iman mereka. Sebagaimana telah diketahui bahwa Perkawinan di dalam Gereja Katolik merupakan sakramen yang berarti tanda dan sarana keselamatan yang di dalamnya Kristus hadir dan memberikan rahmat-Nya. Peneguhan perkawinan dalam perayaan perkawinan disebutkan oleh Imam. Peneguhan itu berupa penerimaan kesepakatan perkawinan. Imam memberikan penekanan kata AuA Yang telah dipersatukan Allah. Janganlah diceraikan manusia. Ay di bagian akhir peneguhannya. Kata ini dimaknai bahwa perkawinan adalah hal sakral dan kudus di hadapan Allah dan umat yang hadir. Dari kedua upacara perkawinan antara Perkawinan Katolik dan perkawinan adat Nyurong Buis Pekain ini merupakan bentuk peneguhan dan penguatan. Di mana upacara perkawinan adat nyurong buis pekai diadakan sebagai wujud peneguhan dan pengukuhan dari Petara (Petara yang dimaksud adalah Allah sendir. Tata Perayaan Perkawinan adat Nyurong Buis Pekain ini juga tidak terlepas dari suatu peranan peneguhan dan penguatan dari Tuhan, karena perkawinan merupakan tanda dan sarana keselamatan yang di dalamnya Kristus sendiri hadir dan memberi rahmat-Nya kepada kedua mempelai. Kedua upacara ini merupakan upacara peneguhan perkawinan yang bersumber dari Yang Maha Kuasa Yaitu Tuhan Allah sendiri. Tata Cara yang biasa dilakukan untuk mencapai sahnya sebuah perkawinan ditunjukkan dengan bentuk yang berbeda, akan tetapi memiliki tujuan yang sama pula: yaitu untuk meneguhkan dan menguatkan iman mereka. Perlengkapan atau benda yang digunakan dalam acara kawin adat Nyurong Buis Pekain salah satunya adalah tempayan pemali, piring putih berjumlah 14 biji ditambah 1 piring lagi untuk banyu kaki, baju pemuka semut . aju kebay. , dan 1 pasang pakaian untuk orang tua perempuan. Semua ini melambangkan simbol peneguhan pada tradisi adat suku Sekubang serta melambangkan kesatuan, kesetiaan, dan pengikat antara pasangan suami-istri. Kesepakatan Perkawinan pada perayaan perkawinan adat Nyurong Buis Pekain, prosesi pengesahan secara keseluruhan dilakukan oleh ketua adat dan anggota dewan adat lainnya. Ketua adat memulai doanya setelah kedua mempelai melakukan gerakan saling menyuapkan nasi, kemudian ketua adat menyampaikan doa yang memberi tahukan bahwa kedua mempelai sudah selesai adatnya boleh jalan bersama, boleh makan bersama dan tidur bersama, hidup bersama hingga akhir hanyatnya. Dapat dilihat dari kedua perkawinan ini antara perkawinan Katolik dan perkawinan adat, keduanya meiliki Perbedaan yang terletak pada pertama Tata Perayaan Perkawinan yang harus dilaksanakan oleh semua umat Allah yang beragama Katolik. Di mana Tata Perayaan Perkawinan Gereja Katolik tidak memandang kasta, atau tingkatan, semua dianggap sama. Sedangkan upacara adat Nyurong Buis Pekain harus dilaksanakan oleh seluruh masyarakat suku Dayak Sekubang. Seluruh rangkaian, dan simbol benda adat perkawinan orang tua diturunkan kepada anaknya yang nantinya akan menikah dan akan melaksanakan kawin adat. Pemimpin utama Tata Perayaan Perkawinan adalah pelayan atau Imam. Imam hanya bertindak sebagai pelaksana kehendak Allah, karena Imam adalah Kristus yang tampak, sedang kedua mempelai adalah mempelai gereja yang tampak. Pemimpin utama dalam upacara adat Nyurong Buis Pekain adalah ketua adat. Ketua adat ini adalah yang dikukuhkan secara khusus untuk membantu Kepala agar semua pelaksanaan adat berjalan lancar sesuai dengan harapan. KESIMPULAN Perkawinan adat dalam suku Dayak bukan hanya janji suci untuk hidup bersama yang diucapkan tetapi merupakan suatu AyikatanAy sakral, yang tidak hanya mengikat seorang laki-laki dengan seorang wanita saja, tetapi juga mengikat kaum kerabat baik antara si laki-laki dengan kaum kerabat si wanita dalam suatu hubungan keluarga besar. Perkawinan dalam hal ini. Selain saling melengkapi dan memiliki keturunan, juga bertujuan untuk menciptakan kebahagian. Meski bukan tidak mungkin akan ada likaliku dalam berumah tangga, namun berbagai tantangan itu bisa semakin memperkuat pernikahan, bila kedua pasangan saling mencintai dan berusaha memahami satu sama lain. Manusia dibentuk oleh adanya interaksi sosial. Dalam interaksi sosial ini terdapat sejumlah norma yang merupakan warisan dari nenek moyang. Salah satu bentuk interaksi sosial yang menentukan pola hidup manusia yaitu kebudayaan. Melalui kebudayaan, maka manusia dapat mengungkapkan dan mengekspresikan diri. Melalui kebudayaan ini manusia juga dapat memahami betapa pentingnya nilainilai hidup yang terealisasi dengan alam. Salah satu bentuk kebudayaan manusia yakni adalah Budaya perkawinan yang ada di Indonesia sangat beranekaragam jenisnya dan mempunyai keunikan tersendiri misalnya, budaya perkawinan adat masyarakat desa Bernayau. Masyarakat desa Bernayau ini sangat yakin bahwa dalam budaya perkawinan adat Nyurong Buis Pekain tersebut adalah merupakan sebuah ikatan cinta suami-isteri secara resmi dikukuhkan menjadi satu dalam balutan budaya suku dayak sekubang masyarakat Desa Bernayau. Mereka mendapat pengakuan dari masyarakat setempat. Pengakuan ini diperlukan guna menghindari perspektif negatif masyarakat luas. Oleh sebab itu, budaya atau tradisi perkawinan adat Nyurong Buis Pekain suku dayak sekubang ini dilaksanakan dengan pelbagai ritual menurut tradisi yang sudah turun-temurun dilaksanakan masyarakat Dayak Sekubang Desa Bernayau tersebut. Pelaksaan ritual dalam perkawinan adat masyarakat Desa bernayau ini, mempunyai makna yang tersirat di dalamnya. Sebelum melaksanakan ritual perkawinan adat, masyarakat desa Bernayau ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satu yang menjadi perhatian utama yakni urutan dan tahap demi tahap sebelum dan sesudah pernikahan. Ini merupakan bagian terpenting, karena setiap tahap dalam perkawinan adat tersebut mempunyai pesan moral guna semakin meneguhkan ikatan cinta di antara pasangan suami-istri dan demi keberlangsungan rumah tangga baru. DAFTAR PUSTAKA