Paradigma. Vol. No. 1, 2025, pp. Rasionalitas Pola Tindakan Masyarakat pada Budaya Kirab Kebo Bule Malam Satu Suro di Surakarta Paksi Seta Wira Buana1* dan Arief Sudrajat2 Program Studi Sosiologi. Jurusan Ilmu Sosial. FISIP-Unesa 18043@mhs. Absctract The Kirab Kebo Bule Culture is a tradition by the Surakarta Kasunanan Palace to commemorate one Suro. This study aims to . Identify the mindset of the community in the Kirab Kebo Bule on the night one Suro . Identify the action patterns of the community in the Kirab Kebo Bule on the night one Suro . Analyze the rationality of the community in the Kirab Kebo Bule one Suro. This study used qualitative approach method of phenomenological study. The determination subjects in this study used purposive technique. The data collection techniques use observation, interviews, and documentation. The data analysis technique use the Miles and Huberman. The results show mindset of the community in the Kirab Kebo Bule tradition is diverse, which the mindset of the action of ngalap berkah, namely fighting over Kebo Bule feces because have blessing. The rationality, community in the Kirab Kebo Bule can be seen among others. Instrumental rationality, attending the Kirab KeboBule Culture to preserved culture. Value rationality, believing that pick items that fall from Kebo Bule will get blessings. Traditional rationality, showed phenomenon of Kirab Kebo Bule held every year. Affective rationality, full belief in seeking blessings, the action appears emotional drive from within the individual. Keywords: Rationality. Action Patterns. Society. Tradition. Kebo Bule Abstrak Budaya Kirab Kebo Bule merupakan tradisi yang dilaksakankan oleh Keraton Kasunanan Surakarta untuk memperingati satu suro. Penelitian ini bertujuan untuk . Mengidentifikasi pola berpikir masyarakat pada Budaya Kirab Kebo Bule malam satu suro . Mengidentifikasi pola tindakan masyarakat pada Budaya Kirab Kebo Bule malam satu suro . Menganalisis rasionalitas masyarakat pada Budaya Kirab Kebo Bule malam satu suro. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif studi fenomenologi yang menekankan pada pengalaman individu. Penentuan subjek dalam penelitian ini dilakukan menggunakan teknik purposive. Teknik penggumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pikir masyarakat pada pelaksanaan tradisi Kirab Kebo Bule sangat beragam salah satunya erat kaitannya dengan pola pikir tindakan ngalap berkah yaitu berebut kotoran Kebo Bule karena dianggap mencari berkah. Rasionalitas masyarakat dalam Kirab Kebo Bule satu suro terlihat diantaranya. Rasionalitas instrumental, pada tindakan menghadiri Budaya Kirab KeboBule sebagai budaya yang dilestarikan. Rasionalitas nilai, pada tindakan mempercayai mengambil barang yang jatuh dari Kebo Bule akan mendapatkan berkah. Rasionalitas tradisional, menunjukkan fenomena Kirab Kebo Bule dilaksanakan setiap tahun. Rasionalitas afektual, pada kepercayaan secara penuh tentang ngalap berkah, tindakan tersebut muncul sebagai suatu dorongan emosional dari dalam individu. Kata Kunci: Rasionalitas. Pola Tindakan. Masyarakat. Tradisi. Kebo Bule Pendahuluan Keberagaman menjadi ciri khas negara Indonesia sebagai suatu bangsa. Keberagaman merupakan suatu keadaan masyarakat yang berbeda-beda dalam segala aspek hingga menjadi harmonis. Keberagaman tersebut terbentuk dari kebiasaan- kebiasaan masyarakat yang dilakukan secara terusmenerus secara berkesinambungan. Kebiasaan-kebiasaan kemudian membentuk suatu tradisi dalam masyarakat[ 1 ] . Tradisi atau adat istiadat tersebut dilakukan sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal yang diwariskan oleh nenek moyang. Pelaksanaan adat istiadat dilakukan secara sakral dan Paradigma. Vol. No. 1, 2025, pp. hikmat berdasarkan pada perhitungan-perhitungan tertentu. Untuk itu pelaksanaan adat istiadat tidak serta merta dapat dilakukan melainkan tanpa adanya syarat-syarat yang melandasi. Salah satu suku di Indonesia yang terkenal dengan adat istiadatnya adalah Suku Jawa khususnya karena salah satunya terdapat Keraton Kasunanan di Jawa Tengah yang terletak di Kota Surakarta. Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat merupakan keraton tertua di Nusantara yang masih utuh tentang tata cara kehidupan budaya keratonnya . Keraton Kasunanan Surakarta merupakan istana Kasunanan Surakarta yang terletak di Kota Surakarta. Jawa Tengah tepatnya di Kelurahan Baluwarti. Kecamatan Pasar Kliwon. Kota Surakarta. Tradisi yang masih dilakukan dan dilaksanakan sangat beragam lsetiap tahunnya di Kota salah satunya adalah Kirab Kebo Bule. Islamisasi di Jawa berjalan pesat berkat akulturasi antara budaya Jawa dan Islam. Tradisi Kirab Pusaka 1 Suro, yang berakar dari nilai-nilai Islam, menjadi bagian penting dari budaya Jawa. Kirab merupakan kegiatan arak-arakan yang dilakukan oleh masyarakat dengan cara berjalan secara bersama-sama. Kirab Kebo Bule dilaksanakan pada malam datangnya tanggal satu suro. Satu suro adalah tahun hijriah atau tahun baru Islam. Kirab Kebo Bule merupakan kegiatan ritual yang bertujuan untul menyambut tahun baru Islam. Kegiatan Kirab Malam 1 Suro diadakan dengan tujuan sebagai suatu perenungan tentang kesalahan yang pernah dilakukan pada tahun sebelumnya, dan berharap dapat menjalani hidup kedepannya menjadi lebih baik. Penamaan Kebo berasal dari Bahasa Jawa yang berarti kerbau, sedangkan Bule didasarkan pada warna kulit dan bulu yang berwarna putih karena kerbau tersebut albino. Albino merupakan suatu keadaan dimana produksi melanin yang berkurang sehingga kulit dari kerbau berwarna putih Sejarah mencatat pada tahun 1742 M. Kebo Bule pertama adalah pemberian dari Adipati Surobroto pada saat Sunan Pakubuwono II melarikan diri ke Ponorogo. Kebo Bule yang diberikan oleh Adipati Surobroto adalah sepasang yakni laki-laki dan perempuan . Kebo Bule merupakan keturunan dari kerbau Kyai Slamet, sehingga masyarakat biasa menyebut Kebo Bule Kyai Slamet. Diyakini juga bahwa Kebo Bule adalah cucuk lampah . pusaka keraton yang bernama Kyai Slamet . Kyai Slamet tersebut berasal dari Tegalsari Ponorogo. Acara Kirab Kebo Bule dianggap sakral oleh masyarakat Surakarta, hal tersebut dapat menimbulkan perilaku berlebihan. Masyarakat Surakarta mengistimewakan Kebo Bule hingga mempercayai bahwa Kebo Bule mempunyai kekuatan gaib yang dapat mendatangkan kebaikan. Sehingga, segala hal yang berhubungan dengan Kebo Bule dipercayai selalu mendatangkan berkah. Seperti bunga melati yang dikenakan jatuh saat kirab, sisa makanan, sisa minuman, hingga kotoran Kebo Bule. Pola pikir masyarakat yang mempercayai bahwa Kebo Bule dapat mendatangkan berkah menjadikan Budaya Kirab Kebo Bule Malam Satu Suro Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebagai acara untuk ngalap berkah . eraih berka. Berkah didapatkan dengan cara mengambil segala sesuatu yang jatuh dari tubuh Kebo Bule pada saat acara kirab. Masyarakat Surakarta sebagian mempercayai adanya keberkahan yang akan didapat pada Kirab Kebo Bule, sedangkan sebagian lain tidak mempercayai. Keberkahan akan didapatkan oleh masyarakat apabila mengambil sesuatu yang jatuh dari tubuh Kebo Bule. Seperti kotoran Kebo Bule, masyarakat meyakini bahwasannya akan mendatangkan kesehatan, keselamatan, dan panjang umur. Bagi masyarakat yang percaya, kotoran Kebo Bule diambil dan dibawa pulang ke rumah, untuk kemudian dijadikan pupuk pertanian. Tindakan masyarakat tersebut dipengaruhi oleh kepercayaan secara penuh bahwasannya Kebo Bule adalah hewan keramat. Sedangkan masyarakat modern yang tidak mempercayainya biasanya mengikuti Kirab Malam 1 Suro untuk turut serta menyambut dengan Paradigma. Vol. No. 1, 2025, pp. antusias terhadap budaya yang telah berjalan dan untuk melestarikan kebudayaan yang telah ada tersebut namun tidak ikut mengambil kotoran yang jatuh dari kebo bule. Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk meneliti tentang rasionalitas pola tindakan masyarakat pada Budaya Kirab Kebo Bule malam satu suro. Kajian Pustaka 1 Teori Rasionalitas dan Worldview Max Weber Menurut Max Weber, tindakan merupakan sesuatu yang dilakukan oleh individu yang memiliki motif dan tujuan tertentu . Kemudian dilakukan penafsiran tindakan dari makna subjektifnya, sehingga tindakan tersebut memberikan pemaknaan dalam diri individu yang melakukan. Segala tindakan yang dilakukan oleh individu akan memiliki makna subjektif, karena pemaknaan subjektif tidak dapat dihilangkan pada diri individu. Individu cenderung melakukan tindakan sesuai dengan prioritas kepentingan dan dampak yang dihasilkan dari tindakan tersebut. Kepentingan ini nantinya lebih ditujukan pada individu-individu bukan kepada kepentingan kolektif sesuai dengan sosiologi tindakan. Terdapat empat macam tindakan rasional menurut Weber yaitu rasionalitas instrumental, rasionalitas nilai, rasionalitas tradisional, dan rasionalitas afektual. Rasionalitas instrumental adalah tindakan yang berupa pengharapan-pengharapan yang digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan secara rasional. Sedangkan rasionalitas nilai adalah tindakan kepercayaan dengan perilaku etis, estetis, dan religius yang tidak berdasarkan pada keberhasilan. Terdapat satu tindakan yang menjadi perhatian Weber yaitu tindakan tradisional. Rasionalitas tradisional adalah tindakan yang dilakukan secara lazim dan biasa. Jika terdapat satu tindakan yang menjadi perhatian Weber, maka terdapat tindakan yang tidak banyak menjadi perhatiannya. Tindakan yang tidak mendapat perhatian Weber adalah tindakan afektual. Rasionalitas afektual adalah tindakan yang berasal dari emosional individu . Worldview merupakan pandangan hidup sebagai hasil dari perilaku manusia seperti aktivitas melihat, memperhatikan, dan sebagainya. Worldview terbentuk melalui pengalaman, pengetahuan baik kodrati maupun adikodrat . Worldview juga dapat dianggap sebagai sistem prinsip, pandangan, dan keyakinan yang menentukan arah tindakan individu, kelompok sosial, kelas, atau Terdapat hubungan antara worldview dengan rasionalitas pola tindakan masyarakat pada budaya Kirab Kebo Bule malam satu suro di Surakarta. Pola tindakan yang dilakukan oleh masyarakat dalam kirab akan menghasilkan suatu pandangan hidup yaitu magis, spiritual, ilmu Sehingga tindakan yang dilakukan oleh masyarakat akan membentuk suatu worldview atau pandangan hidup dengan cara menganggap tindakan yang dilakukan sebagai suatu tindakan yang benar. 2 Penelitian Terdahulu Penelitian pertama berjudul Fenomena Kebo Bule Kyai Slamet dalam Kirab 1 Suro Keraton Kasunanan Surakarta (Studi Persepsi Masyarakat Surakarta terhadap Miskomunikasi di Balik Fenomena Kebo Bule Kyai Slamet dalam Kirab Malam 1 Suro Keraton Kasunanan oleh Purnamasari dan Utari menyatakan bahwa terdapat tiga persepsi tentang fenomena Kebo Bule dalam Kirab 1 Suro yang berasal dari masyarakat Surakarta, masyarakat awam, masyarakat ahli, hingga miskomunikasi di balik fenomena kirab . Penelitian kedua berjudul Kajian Makna Simbolik Budaya dalam Kirab BudayaMalam 1 Suro Keraton Kasunanan Surakarta yang ditulis oleh Arganta menyatakan bahwa perlengkapan sesajen dalam kirab pusaka memiliki makna sendiri-sendiri. Terdapat delapan perlengkapan sesajen antara Paradigma. Vol. No. 1, 2025, pp. lain: arang, cambuk, alat penerangan, ketan empat warna, ingkung ayam, jenang pathi, jenang grendul dan jenang abang putih . Penelitian ketiga berjudul Makna Spiritual dalam Perayaan Kirab 1 Suro (Keraton Kasunanan Surakart. yang ditulis oleh Muthoharoh tahun 2022 menyatakan bahwa terdapat dua makna spiritual yang terkandung dalam perayaan Kirab Malam 1 Suro yaitu terdapat pemaknaan umat agama Islam terhadap bulan Muhharam . Penelitian keempat berjudul Akulturasi Budaya Jawa dan Islam (Kajian Budaya Kirab Pusaka Malam 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada Masa Pemerintahan Paku Buwono XII) oleh Uswatina menyatakan bahwa peringatan malam satu suro pada masa pemerintahan Paku Buwono XII dilaksanakan satu minggu sekali pada hari jumat dengan mengelilingi bagian keraton atas permintaan Presiden Soeharto . Penelitian kelima berjudul Kesenian Kebo Bule (Media Penyiaran Agama Islam di Ponorog. yang ditulis oleh Rudianto menunjukkan bahwa makna simbolik hubungan antara kerajaan dan masyarakat tani sehingga pusaka kebo bule dianggap sebagai simbol hubungan pemerintahan dengan petani . Penelitian keenam berjudul Javanese Culture Digitalization in a Knowledge Management Framework at Kasunanan Surakarta Palace yang ditulis oleh Tanaamah dan menyatakan bahwa dibutuhkan sistem pengelolaan yang memadai untuk mengelola file budaya fisik atau non fisik berbasis web yang dimiliki . Penelitian ketujuh berjudul Seeking for Berkah: The Celebration of Kiai Slamet yang dibuat oleh Imamah pada tahun 2017 membawakan hasil bahwa berkah dalam Islam merupakan individu yang melakukan kegiatan berdasarkan nilai agama. Sehingga, terdapat hubungan vertikal . dan horizontal . Penelittian kedelapan berjudul The Local Cultural Wisdom of Surakarta City in the Globalization era yang ditulis oleh Purwadhani menyatakan bahwa era globalisasi sangat memungkinkan dilakukannya sinergi antara teknologi dan kearifan budaya lokal . Penelitian kesembilan berjudul Indonesian Speaking and Learning Material Development Based on Central Jawa Cultural Value oleh Nurlina menunjukkan bahwa penumbuhan budaya lokal dilakukan dengan pengembangan bahan ajar yang dilakukan dengan kegiatan belajar mengajar oleh guru melalui pembelajaran BIPA dimana peserta didik dapat menumbuhkan komunikasi budaya sesuai dengan konteks materi yang dibahas . Penelitian kesepuluh berjudul Symbolic Meaning in Kirab Kebo Bule Kyai Slamet on the Night of One Sura oleh Amal dan menunjukkan bahwa Kebo Bule pemberian Pakubuwono II sebagai simbol mata pencaharian petani . Sepuluh penelitian diatas relevan dengan penelitian ini. Penelitian terdahulu menjelaskan tentang fenomena budaya khususnya Budaya Kebo Bule Kyai Slamet. Sepuluh penelitian tersebut juga menjelaskan tentang makna spiritual Kebo Bule. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk memahami rasionalitas pola tindakan masyarakatt pada kirab kebo bule malam 1 suro di Surakarta. Fokus penelitian ini pada individu dan intensionalitas yang diteliti menggunakan studi fenomenologi yang menunjukkan pola tindakan yang berbeda pada setiap masyarakat dalam menyikapi budaya Kirab Kebo Bule malam 1 suro. Lokasi penelitian ini dilakukan di Jalan Soedirman dan Jalan Slamet Riyadi Kota Surakarta. Penelitian dilakukan pada Juli 2023 setelah proposal penelitian disetujui oleh dosen pembimbing dan dosen penguji untuk melakukan penelitian. Penentuan subjek penelitian dilakukan dengan teknik purposive dengan memilih subjek yang memiliki pengalaman dalam mengikuti kirab agar dapat dilakukan penggalian data secara mendalam. Paradigma. Vol. No. 1, 2025, pp. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui proses observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk menjawab permasalahan dalam penelitian. Observasi dilakukan melalui pengamatan pada objek kirab kebo bule menggunakan indra peneliti. Wawancara dilakukan secara langsung dengan subjek penelitian untuk mendapatkan data konkret pada saat pelaksanaan kirab kebo bule malam satu suro. Peneliti menggunakan wawancara terstruktur dengan menyiapkan pedoman wawancara kepada informan. Dokumentasi dalam penelitian ini dilakukan terbagi menjadi dua yaitu berasal dari data primer dan data sekunder. Data yang diambiil diperoleh dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara dan observasi sedangkan data sekunder diperoleh dari dari buku, ebook, jurnal, dan berita online yang dapat dipertanggung jawabkan. Teknik alanisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi data pada observasi awal kirab kebo bule, display data yang disajikan sesuai dengan tindakan subjek, dan penarikan kesimpulan menggunakan temuan baru yaitu rasionalitas subjek terhadap kirab. Hasil dan Pembahasan 1 Hasil Pola Pikir Masyarakat Pola pikir masyarakat Surakarta sangat beragam begitu juga dengan cara pandang masyarakatnya pada suatu kebudayaan. Terdapat lima subjek dalam penelitian yang menyatakan pola pikirnya tantang budaya Kirab Kebo Bule Malam 1 Suro. Terdapat pendapat positif, pendapat netrral, dan pendapat negatif terkait dengan penelitian. Pendapat positif terdiri dari pelestarian budaya dimana beberapa orang melihat tradisi kirab kebo bule sebagai bentuk pelestarian budaya yang penting sebagai cara untuk merayakan dan mewarisi nilai-nilai tradisional dari generasi ke generasi, penguatan komunitas dimana partisipasi dalam tradisi ini dapat memperkuat ikatan komunitas, menciptakan rasa persatuan, dan memperdalam keterikatan antaranggota komunitas, dan keindahan dan keunikan dimana beberapa orang menghargai keindahan dan keunikan. Pada pendapat netral, orang melihat tradisi ini sebagai bagian dari konteks budaya tertentu yang sulit dimengerti oleh orang lain yang tidak akrab dengan tradisi tersebut. Dan pendapat negatif pada pola pikir dihadirkan melalui pemahaman etis terhadap perlakuan hewan dimana beberapa orang menyuarakan kekhawatiran terkait etika perlakuan terhadap hewan, khususnya jika kebo bule dihias dan diarak di tengah keramaian. Pola Tindakan Masyarakat Pola tindakan masyarakat bukan hanya pada masyarakat yang mengikuti kirab tetapi juga masyarakat yang menonton kirab. Pola tindakan masyarakat tentunya beragam dan pada tahapan ini akan dijelaskan fenomena di lapangan terkait tindakan masyarakat. Pola tindakan masyarakat dalam pelaksanaan kirab kebo bule malam 1 suro mengutamakan makna dan keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaannya yaitu untuk memperingati tahun baru Jawa Islam dan melestarikan kebudayan Jawa khususnya Keraton Keraton Kasunanan Surakarta agar tidak hilang digerus zaman. Makna selanjutnya yang dipercaya oleh mayarakat Kota Surakarta mengenai ritual Kirab Kebo Bule yakni sebagai simbol kesuburan dan panen, ritual pembersihan dan perlindungan dari energi negatif, perlambangan keberuntungan, upaya pariwisata, serta pelestarian budaya dan identitas lokal Rasionalitas Masyarakat pada Kirab Kebo Bule Rasionalisme muncul karena perbedaan sudut pandang pada suatu hal. Namun, intensitas masyarakat terhadap rasionalisme ini cukup beragam. Rasionalitas diadakannya Paradigma. Vol. No. 1, 2025, pp. Kirab Kebo Bule setiap tahunnya yakni melihat dari sisi tradisionalitas atau nilai lokal yang dipegang oleh masyarakat jawa khususnnya Surakarta. Kebo atau kerbau seringkali dihubungkan dengan pertanian dan kehidupan pedesaan. Kirab kebo bule memiliki akar dalam upacara atau perayaan yang berkaitan dengan musim tanam atau panen. Hal ini bisa menjadi manifestasi dari hubungan manusia dengan hewan dan alam. Kirab kebo bule telah menjadi bagian dari atraksi wisata lokal atau pertunjukan budaya yang menarik bagi wisatawan dan penduduk setempat. Kirab kebo bule juga melibatkan unsur kreativitas dan inovasi, di mana masyarakat setempat mencoba menciptakan pengalaman yang unik dan menarik untuk mempertahankan daya tarik tradisi. Manfaat kotoran Kebo Bule sangat beragam sesuai dengan Dikarenakan Kebo Bule ini adalah hewan keramat, sehingga manfaatnya lebih banyak dibanding dengan hewan lainnya. Terdapat makna mistis yang ada dalam Kebo Bule dan berkaitan dengan elemen kesucian. 2 Pembahasan Pola Berpikir Masyarakat Pada Budaya Kirab Kebo Bule Malam Satu Suro Pola pikir diartikan sebagai cara menilai dan memberikan kesimpulan terhadap sesuatu berdasarkan sudut pandang tertentu. Setiap orang maupun masyarakat mempunyai pola pikir yang berbeda-beda, terbentuknya pola pikir ini dapat dipengaruhi oleh berbagai hal. Selaras dengan pernyataan diatas diketahui dari hasil penelitian bahwa masyarakat asli Kota Surakarta yang menjadi subjek dalam penelitian ini mempunyai pemikiran yang berbeda terhadap budaya Kirab Kebo Bule Malam Satu Suro. Budaya Kirab Kebo Bule diartikan sebagai arak-arakan kerbau bule yang dilakukan oleh Kraton Kasunanan Surakarta pada malam satu suro. Berdasarkan hasil wawancara masyarakat Kota Surakarta mempunyai pola pikir bahwa Kebo Bule ini merupakan kebo keturunan Kyai Slamet dari Kraton Kasunanan Surakarta yang berbeda dengan kerbau pada umumnya. Masyarakat hadir dalam kegiatan Kirab Kebo Bule, menyatakan bahwa untuk memperingati malam satu suro atau tahun baru Jawa. Selain itu kegiatan kirab ini dilakukan setiap tahunnya guna melestarikan kebudayaan Jawa khususnya Keraton Kasunanan Surakarta. Selain hal tersebut bagi sebagian masyarakat mempercayai bahwa Kirab Kebo Bule Stu Suro ini membawa banyak keberkahan, dianggap sebagai simbol kesuburan dan panen, ritual persembahan dan perlindungan, serta pengenalan terhadap generasi muda Pola pikir merupakan sebuah cara berpikir yang mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang yang akhirnya dapat menentukan sebuah kesuksesan. Beberapa kepercayaan yang akhirnya menjadi pola pikir pada masyarakat asli Kota Surakarta dalam pelaksanaan kirab Kebo Bule malam satu suro adalah dipercayainya bahwa kotoran Kebo Bule dapat mendatangkan banyak keuntungan. Namun, tidak semua masyarakat mempercayai hal tersebut dan mempunyai pola pikiran yang sama. Selain kepercayaan kotran Kebo Bule mendatangkan keberuntungan, masyarakat juga mempercayai bahwa Kirab Kebo bule satu suro dianggap sebagai bentuk persembahan untuk memohon kesuburan dan hasil panen yang baik. Setidaknya empat hal yang mempengaruhi pola pikir seseorang menurut Sogiharto . diantaranya yaitu lingkungan keluarga, pergaulan masyarakat, pendidikan dan Lingkungan Keluarga, keluarga merupakan tahap pertama seseorang melakukan sosialiasai dan mengembangkan kebiasaan. Pola kebiasaan seperti makan bersama, membaca buku dan lains sebagainya merupakan salah satu contoh pembentukan pola pikir positif dalam keluarga. Dalam hubungan dengan pola pikir melakukan Kirab Kebo Bule dalam Paradigma. Vol. No. 1, 2025, pp. masyarakat Surakarta, sedari kecil masyarakat lokal Surakarta sudah disuguhkan dan diikut sertakan dalam tradisi-tradisi yang ada termasuk tradisi Kirab Kebo Bule dengan melihat keluarganya berpartisipasi maka kegiatan ini juga dianggap sebagai kegiatan keluarga secara turun menurun. Pergaulan Masyarakat, sesorang akan cenderung memiliki pola pikir yang sama dengan pergaulan yang diikutinya. Misalnya, seseorang yang banyak berteman dengan pengusaha akan cenderung memiliki pola pikir seperti pengusaha. Dalam kegiatan Kirab Kebo Bule ini bersama-sama dilakukan oleh warga setempat, jadi pergaulan tidak menjadi faktor dominan dalam pola pikir mengikuti kegiatan Kirab Lebo Bule malam satu suro ini. Pendidikan, salah satu tempat terbaik untuk membentuk pola pikir yang positif bagi seseorang. Pendidikan atau sekolah mempunyai pengaruh besar dalam proses pembelajaran seseorang. Peraturan, pembelajaran yang diberikan oleh guru dapat memperkaya pola pikir seseorang. Dalam pembelajaran di sekolah terdapat mata pelajaran muatan lokal, dimana disini belajar mengenai hal-hal yang bersifat kedaerahan, mempelajari budaya, bahasa dan adat daerah, namun dalam tradisi Kirab Kebo Bule ini dan segala pola pikir di dalamnya mengenai ngalap berkah tidak diajarkan secara spesifik melalui dunia pendidikan atau dalam hal ini sekolah. Sistem Kepercayaan, faktor kepercayaan menjadi faktor yang paling dominan mempengaruhi pola pikiran seseorang. Sistem kepercayaan dalam hal ini erat kaitannya dengan trasisionalitas dan spiritual, dimana mempercayai hal-hal yang sifatnya spiritual dan Hal ini terlihat dalam pola pikir masyarakat lokal Surakarta dalam pelaksanaan Kirab Kebo Bule malam satu suro, sistem kepercayaan yang mendasari pola pikir dari masyarakat untuk melakukan kegiatan ngalap berkah seperti contonya, mengikuti tradisi Kirab Kebo Bule dan ngalap berkah di malam satu suro ini dapat mendatangkan kesuburan dan panen, keberuntungan, serta percaya akan adanya kebaikkan lainnya jika melakukan tradisi ini. Pola Tindakan Masyarakat pada Budaya Kirab Kebo Bule Malam Satu Suro Pola tindakan masyarakat diartikan sebagai bentuk sikap seseorang yang tertata yang dilakukan secara berulang-ulang dalam hidup bermasyarakat yang tinggal dalam suatu daerah. Nilai dan pola pikiran yaang dianut oleh sebagaian masyarakat Kota Surakarta dalam tradisi Kirab Kebo Bule Malam Satu Suro adalah mempercayai Kotoran Kebo Bule dipercaya membawa berkah. Kotoran yang jatuh ke jalan akan menjadi rebutan masyarakat. Kegiatan mengambil kotoran atau semua yang jatuh dari Kebo Bule sebagai tradisi ngalap berkah Kyai Slamet. Pola tindaakan pengambilan kotoran Kebo Bule ini merupakan hasil pola pikiran sebagian masyarakat Kota Surakarta yang mempercayai bahwa Kotoran Kebo Bule mendatangkan keberuntungan. Pola tindakan lainnya yang dilakukan masyarakat Kota Surakarta dalam Kirab Kebo Bule satu suro, dalam kegiatan Kirab Kebo Bule satu suro terdapat tidakan ngalap berkah yang dilakukan oleh warga Kota Surakarta. Tradisi ngalap berkah ini merupakan, tradisi yang berkembang dikalangan masyarakat Kota Surakarta namun bukan anjuran dari pihak keraton, tradisi ini mempercayai bahwa segala sesuatu yang berasal dari kerbau atau Kebo Bule dalam tradisi Kirab Kebo Bule satu Suro dapat mempunyai khasiat atau manfaat dan keberkahan Beberapa tindakan ngalap berkah yang dilakukan oleh masyarakat Kota Surakarta sebagai informan dalam penelitian ini pada Kirab Kebo Bule satu suro diantaranya: Paradigma. Vol. No. 1, 2025, pp. Berebut telethong atau kotoran Kebo Bule dalam acara Kirab karena dianggap untuk mencari berkat. Berebut kalung bunga milik Kebo Bule . Berebut sisa makanan dan minuman dalam acara Kirab Kebo Bule dengan pengharapan atau dipercayai untuk kesembuhan . Berebut segala kelengkapan dan sisa pada upacara malam satu suro seperti, dupa dan janur yang dianggap dapat menjadi perantara keberkahan. Rasionalitas Masyarakat Pada Budaya Kirab Kebo Bule Malam Satu Suro Rasionalitas merupakan percaya bahwa alam semesta . mengikuti hukum-hukum alam yang rasional, aturan-aturannya sesuai dengan logika. Rasional diartikan pula sebagai pernyataan kebenaran ilmu pengetahuan didasarkan atas pemikiran yang sehat, wajar serta masuk akal. Weber mengemukakan rasionalitas dalam empat tipe dalam tindakam sosial yang mempengaruhi sistem dan struktur sosial masyaraka, yakni tindakan rasional instrumental, tindakan rasional nilai, tindakan rasional tradisional, dan tindakan afektif. Berdasarkan keempat tindakan rasional tersebut, fenomena ini ngalap berkah meliputi semua aspek Rasionalitas instrumental, merupakan tindakan yang dilakukan berdasarkan pada pertimbangan dan pilihan yang sadar dalam kaitannya dengan tujuan suatu tindakan untuk meraih tujuan yang ada. Rasionalitas instrumental dalam penelitian ini terlihat pada tindakan ini individu pada bagian ini adalah menyatakan bahwa menghadiri dan menonton Budaya Kirab Kebo Bule malam satu suro merupakan suatu kegiatan budaya yang harus Cara melestarikan budaya tersebut bukan hanya mengadakan setiap tahun saja, tetapi mendukung secara penuh suksesnya acara tersebut dengan menghadiri dan menonton secara langsung Kirab Kebo Bule malam satu suro. Rasionalitas nilai, adalah tindakann rasional yang berorientasi pada tindakan dimana tujuan telah ada dalam hubungannya dengan individu yang dipertimbangkansecara sadar untuk mencapai tujuan. Pada kegiatan Kirab Kebo Bule dalam penelitian ini tindakan rasionalitas nilai terlihat pada tindakan individu yang mempercayai bahwa setelah mengambil barang yang jatuh dari Kebo Bule akan mendapatkan berkah seperti kesehatan, rezeki, dihindari dari marah bahaya, dan dijauhkan dari hal-hal buruk, kesuburan dan lainnya. Rasionalitas tradisional merupakan tindakan yang dilakukan karena kebiasaan , adat atau Tindakan tersebut dilakukan tanpa adanya refleksi yang sadar dan perencanaan. Pada tradisi Kirab Kebo Bule ini menunjukkan rasionalitas tradisional pada tradisi yang dilakukan setiap tahun tersebut merupakan suatu fenomena yang biasa diselenggarakan oleh Keraton Surakarta setiap tahunnya, acara ini diselengarakan sebagai acara adat tahunan bagi pihak keraton dan diikuti oleh masyarakat, dan masyarakat sebagai pihak yang ikut meramaikan. Rasionalitas afektual, tindakan rasional ini didasarkan pada perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar. Tanpa diikuti dengan pertimbangan rasional, logis, dan ideologis, ditentukan oleh sisi emosional individu. Hal tersebut terlihat pada saat keterlibatan dalam Budaya Kirab Kebo Bule. Kepercayaan secara penuh tentang ngalap berkah dengan cara mengambil sesuatu yang jatuh secara berebutan dengan individu Tindakan tersebut muncul sebagai suatu dorongan emosional dari dalam individu. Keempat tipe tindakan sosial yang dijelaskan Weber harus dilihat sebagai tipe-tipe ideal. Pola perilaku tertentu mungkin cocok dengan kategori tindakan sosial yang berbeda dalam situasi Paradigma. Vol. No. 1, 2025, pp. yang beragam, bergantung pada orientasi subjektif individu yang terlibat. Selain rasionalitas. Weber juga memiliki sebuah pandangan yang disebut dengan Worldview. Worldview merupakan sebuah pandangan hidup sebagai hasil dari perilaku manusia seperti aktivitas melihat, dan memperhatikan. Worldview terbentuk melalui pengalaman, pengetahuan baik kodrati maupun adikodrati . Worldview berkaitan dengan pola pikir magis. Dalam Budaya Kirab Kebo Bule Malam 1 Suro di Surakarta, aktivitas masyarakat yang dilihat sebagai pandangan hidup yang berkaitan dengan magis terlihat pada kegiatan mengambil kotoran kebo bule yang jatuh ketika sedang diadakan Kirab Malam 1 Suro. Masyarakat yang memiliki kepercayaan terhadap hal magis pada kebo bule mengambil kotoran kebo bule untuk menyuburkan tanah pertanian. Secara spiritual, kebo bule sebelum diarak sudah diberikan ritual doa-doa yang dipercaya sebagai hewan yang telah dikeramatkan sehingga seluruh hal yang ada dari kebo bule bermanfaat bagi masyarakat yang Kesimpulan Pola berpikir masyarakat pada Budaya Kirab Kebo Bule malam satu suro menghasilkan beragam pola. Kirab Kebo Bule diartikan sebagai sebuah tradisi arak-arakan kerbau albino yang dilakukan oleh Kraton Kasunanan Surakarta pada malam satu suro. Terdapat perbedaan pandangan antara individu lainnya, seperti pemberian makna yang lebih kaya terhadap tradisi ini. Beberapa masyarakat memandang Kirab Kebo Bule sebagai bentuk pelestarian budaya, penguatan komunitas, dan penghargaan terhadap keindahan serta keunikannya, sementara yang lain melihatnya dari sudut etis terkait perlakuan terhadap hewan. Pola tindakan masyarakat baik yang berpartisipasi maupun yang menonton kirab berkaitan erat dengan pola pikir. Kirab Kebo Bule juga memiliki makna yang penting bagi masyarakat seperti yang dilakukan dalam tradisi ngalap berkah. Kotoran Kebo Bule dianggap memiliki makna mistis dan sering dikaitkan dengan keberuntungan, elemen suci, pembersihan, perlindungan, dan hubungan dengan alam. Pola tindakan yang dilakukan oleh masyarakat dalam pelaksanaan kirab Kebo Bule satu suro erat kaitannya dengan pola pikir terutama tidakan ngalap berkah dalam tradisi ini seperti berebut kotoran Kebo Bule dalam acara Kirab karena dianggap untuk mencari berkah. Rasionalitas masyarakat dalam Kirab Kebo Bule satu suro ini juga terlihat diantaranya. rasionalitas instrumental, pada tindakan menyatakan menghadiri dan menonton Budaya Kirab Kebo Bule sebagai kegiatan budaya yang harus dilestarikan. Rasionalitas nilai, pada tindakan mempercayai bahwa setelah mengambil barang yang jatuh dari Kebo Bule akan mendapatkan Rasionalitas tradisional, menunjukkan fenomena Kirab Kebo Bule dilaksanakan setiap Rasionalitas afektual, terlihat pada kepercayaan secara penuh tentang ngalap berkah, tindakan tersebut muncul sebagai suatu dorongan emosional dari dalam individu. Selain rasionalitas, worldview terbentuk melalui pengalaman, pengetahuan baik kodrati maupun adikodrati. Worldview berkaitan dengan pola pikir magis. Dalam Budaya Kirab Kebo Bule Malam 1 Suro di Surakarta, aktivitas masyarakat yang dilihat sebagai pandangan hidup yang berkaitan dengan magis terlihat pada kegiatan mengambil kotoran kebo bule yang jatuh ketika sedang diadakan Kirab Malam 1 Suro. Masyarakat yang memiliki kepercayaan terhadap hal magis pada kebo bule mengambil kotoran kebo bule untuk menyuburkan tanah pertanian. Secara spiritual, kebo bule sebelum diarak sudah diberikan ritual doa-doa yang dipercaya sebagai hewan yang telah dikeramatkan sehingga seluruh hal yang ada dari kebo bule bermanfaat bagi Paradigma. Vol. No. 1, 2025, pp. masyarakat yang mendapatkannya. Daftar Pustaka