JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. 2, (September 2. 194 - 208 POLA KOMUNIKASI TERAPIS GURU PADA ANAK AUTIS DI SPECIAL SCHOOL SPECTRUM Ardan Achmad. Jordan Jeremy Fakultas Ilmu Komunikasi Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragam. drardana@gmail. Abstract This study aims at . To find out the application of therapist interpersonal communication and teachers with autistic children in Special School Spectrum. To find out the obstacles faced by therapists and teachers in dealing with, directing, and teaching autistic children who aim to form independent living children. To find out the reason for giving therapy that is in accordance with the abilities of each child or the level they have obtained at Special School Spectrum. The method used in this writing is descriptive qualitative approach and data collection using the interview method. Interpersonal communication of teachers and therapists to autistic children in Special School Spectrum is an example of communication with different special stages of communication in general and how these specific stages help overcome the limitations that exist in learning communication and education in autistic children. Communication between teachers and therapists for autistic children uses methods and tools that are different from communication in general. Keywords: Communication. Interpersonal Communication. Autism Abstrak Penelitian ini bertujuan . Untuk mengetahui penerapan komunikasi interpersonal terapis dan guru dengan anak autis di Special School Spectrum. Untuk mengetahui kendala yang di hadapi terapis dan guru dalam menghadapi, mengarahkan, dan mengajarkan anak autis yang bertujuan untuk membentuk anak hidup mandiri. Untuk mengetahui alasan dari pemberian terapi yang sesuai dengan kemampuan masingmasing anak atau tingkat yang telah mereka peroleh pada Special School Spectrum. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan dan pengumpulan data mengunakan metode interview. Komunikasi interpersonal guru dan terapis kepada anak autis di Special School Spectrum adalah contoh dari komunikasi dengan tahapan khusus yang berbeda dari komunikasi pada umumnya dan bagaimana tahapan-tahapan khusus tersebut membantu menanggulangi keterbatasan-keterbatasan yang ada dalam pembelajaran komunikasi dan Pendidikan pada anak autis. Komunikasi guru dan terapis terhadap anak autis menggunakan metode dan alat bantu yang berbeda dari komunikasi pada umumnya. Kata Kunci: Komunikasi. Komunikasi Interpersonal. Autisme PENDAHULUAN Autisme merupakan suatu gangguan gangguan pervasif dan bukan suatu penyakit Anak autis memiliki 3 gangguan yaitu perilaku, interaksi sosial, komunikasi dan bahasa (Yuwono dalam Margono. Jurnal Communicare, 2012:. Karena mereka seperti hidup dalam dunianya sendiri dan memiliki imajinasinya sendiri, maka tidak heran jika mereka dapat tiba-tiba tersenyum, tertawa, menangis, atau bahkan mengamuk tanpa kita ketahui penyebabnya. Komunikasi dan bahasa anak autis sangat berbeda dari kebanyakan anak seusia-nya. Anak-anak autis memiliki kesulitan dalam memahami komunikasi baik verbal maupun non-verbal. Sebagai contoh ketika anak autis diminta untuk melakukan tugas tertentu. AuAmbil, masukan puzzle bintang!Ay. Anak autis sulit merespon tugas tersebut karena kesulitan memahami konsep AuambilAy. AumasukanAy, dan Aupuzzle bintangAy. Anak-anak autis memiliki kesulitan untuk berkomunikasi dalam bahasa, sekalipun dalam bahasa isyarat atau gestur. Mereka kesulitan untuk menyampaikan pesan Print ISSN: 2614-8153 Online ISSN: 2614-8498 dan menerima pesan. Beberapa ciri perilaku stereotipikal dari Anak yang memiliki gangguan autisme beberapa diantaranya adalah seperti senang tepuk-tepuk, mengepak-ngepakan tangan, memukul berlari, menggerakan badannya kedepan dan kebelakang secara cepat, hingga bersuara, baik seperti mengulang-ulang perkataan ataupun sekedar mengeluarkan suara. Hal tersebut semakin lama semakin keras jika tidak dihentikan. Psikolog Klinis Universitas Gajah Mada. Dr. Indria Laksmi Gamayanti. Si. menuturkan dalam situs resmi UGM bahwa Jumlah penyandang autisme di Indonesia terus mengalami peningkatan, namun jumlah tenaga profesional maupun terapis masih sangat terbatas. Walapun belum ada angka pasti tentang jumlah anak penyandang autisme di Indonesia, namun pemerintah merilis data jumlah anak penyandang autisme di kisaran 000 jiwa pada tahun 2010 lalu. Sementara prevalensi autisme meningkat dari 1:1. 000 kelahiran di awal tahun 2000 menjadi 1,68:1. 000 kelahiran di tahun 2008. Menurutnya, kebutuhan lingkup penelitian dan pembelajaran dalam area autism cukup besar di Indonesia, terutama untuk tenaga ahli terapis dan tenaga pendidik sehingga jumlahnya perlu ditingkatkan lagi. id/id/new. Pola komunikasi dapat dipahami sebagai pola hubungan antara dua orang atau lebih dalam pengiriman dan penerimaan pesan dengan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami (Djamarah, 2. Orang tua, guru, dan terapis mengalami kendalanya saat melakukan kegiatan terapi dan sistem pembelajarannya dikarenakan setiap anak autisme memiliki kondisi yang berbeda-beda. Dalam hal ini pola komunikasi yang diterapkan terapis menjadi sangat penting salah satunya pada perubahan perilaku, berkomunikasi, kemandirian dan berinteraksi. Diharapkan anak autis dapat berkembang. Dengan melihat bahwa pentingnya mempelajari ilmu komunikasi dari berbagai aspek dan jenis-jenis hambatan, dan juga mengingat ranah bidang ilmu komunikasi yang memilik area luas, termasuk dalam komunikasi pada orang-orang berkebutuhan khusus, maka permasalahan yang sudah di jabarkan di atas menumbuhkan rasa ketertarikan penulis untuk membahas AuKomunikasi Interpersonal Terapis dan Guru dengan Anak Autis di Special School SpectrumAy LITERATUR DAN METODOLOGI Pola Komunikasi Menurut Tubbs dan Moss . mengatakan bahwa: AuPola komunikasi atau hubungan itu dapat diciptakan oleh komplementaris atau simetri. Dalam hubungan komplementer, satu bentuk perilaku akan diikuti oleh lawannya. Seperti, perilaku dominan dari satu partisipan mendatangkan perilaku tunduk dan lainnya. Sedangkan perilaku simetri tingkatan sejauh mana orang berinteraksi atas dasar kesamaan. Dominasi bertemu dengan dominasi, atau kepatuhan dengan kepatuhanAy. Adapun Pola komunikasi terdiri atas beberapa macam yaitu: . Pola komunikasi Primer. AuPola ini merupakan suatu proses penyampaian pikiran oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan suatu simbol sebagi media atau saluran. Dalam pola ini terbagi menjadi dua lambang yaitu Lambang verbal. bahasa paling banyak dan paling sering digunakan karena bahasa mampu mengungkapkan pikiran komunikator. Lambang non-verbal yaitu lambang yang digunakan dalam berkomunikasi yang bukan bahasa, merupakan isyarat dengan anggota tubuh antara lain mata, kepala, bibir, tangan dan jari. Selain itu gambar juga sebagai lambang komunikasi nonverbal, sehingga dengan memadukan keduannya maka proses komunikasi dengan pola ini akan lebih efektif. Pola komunikasi secara Sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. 2, (September 2. 194 - 208 Karena proses komunikasi sekunder ini merupakan sambungan dari komunikasi primer untuk menembus dimensi ruang dan waktu, maka dalam menata lambang-lambang untuk memformulasikan isi pesan komunikasi, komunikator harus memperhitungkan ciri-ciri atau sifat-sifat media yang akan digunakan. Penentuan media yang akan dipergunakan sebagai hasil pilihan dari sekian banyak alternatif perlu didasari pertimbangan mengenai siapa komunikan yang akan dituju. Komunikan media surat, poster, atau papan pengumuman akan berbeda dengan komunikan surat kabar, radio, televisi atau film. Dengan demikian, proses komunikasi secar sekunder itu menggunakan media massa . assa medi. dan media non massa . on-massa medi. (Effendy, 2009:. Pola komunikasi Linier, mengandung makna lurus yang berarti perjalanan dari satu titik ketitik lain secara lurus, yang berarti penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan sebagai titik terminal. Jadi dalam proses komunikasi ini biasanya terjadi dalam komunikasi tatap muka . ace to fac. , tetapi juga ada kalanya komunikasi bermedia. Dalam proses komunikasi ini pesan yang disampaikan akan efektif apabila ada perencanaan sebelum melaksanakan komunikasi. Pola komunikasi sirkular. Sirkular secara harfiah berarti bulat atau dalam proses sirkular itu terjadinya feedback atau umpan balik, yaitu terjadinya arus dari komunikan ke komunikator, sebagai penentu utama keberhasilan komunikasi. Dalam pola komunikasi yang seperti ini proses komunikasi berjalan terus yaitu adanya umpan balik antara komunikator dan komunikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa pola komunikasi dapat dilakukan dengan melalui pengiriman pesan yang dilakukan terapis terhadap anakanak autisme dalam memberikan terapi serta pengetahuan secara langsung, baik dengan menggunakan bahasa lisan dan isyarat supaya dalam penyampaian pesan kepada anak-anak autisme diruangan dapat mengerti, sehingga pesan tersebut dapat diterima dan proses komunikasi dapat berjalan dengan baik. Komunikasi Verbal Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan bahasa lisan . ral communicatio. dan bahasa tulisan . ritten communicatio. (Ronald B. Adler dan George Rodman dalam Sasa Djuarsa 1994:. Dalam penyampaian pesan, biasanya komunikator lebih banyak menggunakan pesan verbal yakni Adapun bentuk- bentuk pesan verbal terdiri dari: . Struktur pesan: ditunjukkan oleh pola penyimpulan . ersirat atau tersura. , pola urutan argumentasi . ana yang lebih dahulu, argumentasi yang disenangi atau yang tidak disenang. , pola obyektivitas . atu sisi atau dua sis. Gaya pesan: menunjukkan pesan . erulangan, mudah dimengerti, perbendaharaan kat. Daya tarik pesan: mengacu pada motif-motif psikologis yang dikandung pesan . asional-emosional, daya tarik ketakutan, daya tarik ganjara. Komunikasi Non-Verbal Komunikasi Non-Verbal mencakup semua rangsangan . ecuali rangsangan verba. dalam suatu komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai potensial bagi pengirim atau penerima. Definisi ini mencakup perilaku yang disengaja maupun tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara (Larry A. Samovar dan Richard Porter dalam Mulyana, 2010:. Komunikator berkomunikasi dengan mengandalkan pesanpesan verbal karena tidak semua konsep diwakili oleh sebuah kata atau bahkan kalimat. Untuk itu dibutuhkan dukungan pesan Ada tiga bentuk pesan nonverbal, yaitu : . Kinesik. Pesan - pesan kinesik berkaitan dengan pesan yang disampaikan melalui gerakan tubuh / anggota tubuh, misalnya emblem, illustrator, adaptor, regulator dan affect display. Proksemik Pesan-pesan proksemik pada prinsipnya ditunjukkan melalui pemeliharaan jarak fisik dalam berkomunikasi. Print ISSN: 2614-8153 Online ISSN: 2614-8498 seperti jarak intim, pribadi, kelompok, dan jarak dengan khalayak. Termasuk didalamnya adalah penataan ruang dan pilihan waktu. Paralinguistik. Pesan-pesan paralinguistik melalui penampilan kualitas suara, ciri-ciri vokal, pembatasan vokal, dan pemisahan vokal. Komunikasi Interpersonal Secara umum komunikasi interpersonal dapat diartikan sebagai suatu proses pertukaran makna antara orang-orang yang saling berkomunikasi. Menurut Devito dalam buku Komunikasi Antarmanusia . , komunikasi interpersonal adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera. Adapun ciri-ciri komunikasi interpersonal menurut Suranto AW . 1:14-. , sebagai berikut: . Arus pesan dua arah. Komunikasi interpersonal menempatkan sumber pesan dan penerima dalam posisi yang sejajar, sehingga memicu terjadinya pola penyebaran pesan mengikuti arus dua arah. Artinya komunikator dan komunikan dapat berganti peran secara . Suasana nonformal. Komunikasi interpersonal biasanya berlangsung dalam suasana nonformal. Dengan demikian, apabila komunikasi itu berlangsung antara para pejabat di sebuah instansi, maka para pelaku komunikasi itu tidak secara kaku berpegang pada herarki jabatan dan prosedur birokrasi, namun lebih memilih pendekatan secara individu yang bersifat pertemanan. Umpan balik segera. Oleh karena komunikasi interpersonal biasanya mempertemukan para pelaku komunikasi secara bertatap muka, maka umpan balik dapat diketahui dengan segera. Seorang komunikator dapat segera memperoleh balikan atas pesan yang disampaikan dari komunikan, baik secara verbal maupun nonverbal. Peserta komunikasi berada dalam jarak yang dekat. Komunikasi interpersonal merupakan metode komunikasi antarindividu yang menuntut agar peserta komunikasi berada dalam jarak dekat, baik jarak dalam arti fisik maupun psikologis. Jarak yang dekat dalam arti fisik, artinya para pelaku saling bertatap muka, berada pada satu lokasi tempat tertentu. Sedangkan jarak yang dekat secara psikologis menunjukan keintiman hubungan antarindividu. Peserta komunikasi mengirim dan menerima pesan secara simultan dan spontan, baik secara verbal maupun Untuk meningkatkan keefektifan komunikasi interpersonal, peserta komunikasi dapat memberdayakan pemanfaatan kekuatan pesan verbal maupun nonverbal secara Peserta komunikasi berupaya saling meyakinkan, dengan mengoptimalkan penggunaan pesan verbal maupun maupun nonverbal secara bersamaan, saling mengisi, saling memperkuat sesuai tujuan komunikasi. Terapis Kata terapi sendiri berasal dari bahasa Yunani a A berarti treatment, yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai perawatan atau pengobatan. Dalam dunia medis, kata terapi dijabarkan sebagai tindakan remediasi kesehatan yang mengacu pada diagnosa . Dalam memulihkan kondisi kesehatan seseorang, terapi dibagi menjadi 2 yakni terapi supportive dan terapi abortive. Terapi supportive adalah suatu bentuk terapi yang tidak dilakukan dengan merawat atau memperbaiki kondisi yang mendasarinya, melainkan meningkatkan kenyaman pasien Sedangkan terapi Abortive adalah tindakan pengobatan yang dimaksudkan untuk menghentikan kondisi medis dari perburukan lebih lanjut. Diluar konteks medis, kata terapi juga digunakan pada dunia psikologi dan pendidikan. Istilah terapi yang mengacu pada psikoterapi seperti terapi profilaksis misalnya terapi ini juga disebut dengan terapi pencegahan, yakni tindakan pengobatan yang dimaksud untuk mencegah munculnya kondisi medis tertentu. Sedangkan dalam konteks pendidikan, terapi diartikan sebagai kaedah untuk JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. 2, (September 2. 194 - 208 membantu seseorang murid merespon suatu aktifitas atau perlakuan. Konsep terapi dalam konteks pendidikan ini lebih menitikberatkan pada individu yang berkebutuhan khusus dan mengalami masalah dalam pengembangan aspek kognitif, emosional, sosial, dan psikomotor mereka. Guru Dalam tulisannya. Djamarah dan Zain . mendefinisikan arti Guru sebagai suatu posisi yang strategis dalam Pendidikan dan pembelajaran suatu bangsa, posisi guru sangatlah penting dan tidak bisa digantikan dengan posisi apapun dalam kehidupan sebuah bangsa sejak dahulu. Semakin penting andil guru dalam menjalankan peran dan tugasnya maka akan semakin terjamin terwujudnya kehandalan dan terbinanya kesiapan seseorang. Dapat disimpulkan bahwa peran dan keahlian seorang guru sangat menentukan kemampuan seorang manusia dalam dinamika kehidupan di masa depannya. Autisme Secara etimologis kata autisme berasal dari kata auto dan isme, auto artinya diri sendiri, sedangkan isme berarti suatu aliran atau paham. Autisme bisa diartikan sebagai suatu paham yang hanya tertarik pada dunianya sendiri (Yosfan Azwandi, 2005: . Menurut Lumbantobing (Pamuji, 2007:. , anak autis mengalami gangguan perkembangan fungsi otak yang mencakup bidang sosial dan afektif, komunikasi verbal dan nonverbal, imajinasi, fleksibelitas, minat, kognisi dan atensi. Ini suatu kelainan dengan ciri perkembangan yang terlambat atau yang abnormal dari hubungan sosial dan bahasa. Jenis-Jenis Autisme Autisme yang dikenal sering muncul sebagai bentuk dari kelompok disorder yang dikelompokkan dalam Pervasif Development Disorders (PDD). Kelompok gangguan perkembangan ini dikelompokkan menjadi beberapa bagian, yaitu: . Autistic Disorder (Autisme Classi. Muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan aktivitas. AspergerAos Syndrome. Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat serta aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata. Pervasive Developmental Disorder Ae Not Otherwise Specified (PDDNOS). Merujuk pada istilah atypical autism, diagnose PDD- NOS berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnose tertentu (Autisme. Asperger atau Rett Syndrom. RettAs Syndrome:Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya . ehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1-4 tahu. , . Childhood Disintegrative Disorder (CDD). Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tibatiba kehilangan kemampuan- kemampuan yang telah dicapai sebelumnya. Diagnosa Pervasive Developmenmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD Ae NOS) umumnya digunakan atau dipakai di Amerika Serikat untuk menjelaskan adanya beberapa karakteristik autisme pada seseorang. National Information Center for Children and Youth with Disabilities (NICHCY) di Amerika Serikat menyatakan bahwa Autisme dan PDD Ae NOS adalah gangguan perkembangan yang cenderung memiliki karakteristik serupa dan gejalanya muncul sebelum usia 3 tahun. Keduanya merupakan gangguan yang bersifat neurologis yang mempengaruhi kemampuan berkomunikasi, pemahaman bahasa, bermain Print ISSN: 2614-8153 Online ISSN: 2614-8498 dan kemampuan berhubungan dengan orang Ketidakmampuan beradaptasi pada perubahan dan adanya respon-respon yang tidak wajar terhadap pengalaman sensoris seringkali juga dihubungkan pada gejala autisme Karakteristik Anak Autis Menurut Faisal (Suryana, 2004: . , autis ditandai oleh ciri-ciri utama yaitu: . Tidak peduli dengan lingkungan sosial. Tidak dapat bereaksi normal dalam pergaulan sosialnya. Perkembangan bahasa dan berbicara tidak . Reaksi atau pengamatan terhadap lingkungan terbatas serta berulang-ulang. Secara umum gejala autisme yang muncul ketika anak mencapai usia 3 tahun, yaitu :. Gangguan Persepsi Sensoris. Anak tidak mau disentuh atau dipeluk. Anak ketakutan bila mendengar suara tertentu atau sebaliknya mencari suara-suara tertentu, mencium-cium semua benda, menghindari benda dengan tekstur tertentu . unak, halus, kasa. , . Gangguan Perilaku. Acuh terhadap lingkungan dan asyik dengan duniannya sendiri, perilaku tidak umum, tidak terarah dan tanpa tujuan . lapping, berputar - putar, dl. Agresif terhadap orang lain dan diri sendiri. Gangguan dalam Interaksi Sosial. tidak ada kontak mata, tidak menengok ketika dipanggil, tidak dapat merasakan empati. Gangguan Emosi. Temper tantrum bila keinginan tidak terpenuhi, rasa takut yang berlebihan, suka tertawa, menangis, atau marah-marah tanpa jelas. Gangguan Komunikasi Verbal dan Non-Verbal. Terlambat bicara, dalam hal ini anak cenderung tidak berusaha berkomunikasi dengan gerak dan mimic, meracau dengan bahasa yang tidak dimengerti. Echolalia . engulang perkataan orang lai. , seringkali bila menginginkan sesuatu cenderung menarik tangan orang lain. Hambatan Komunikasi Pada Autisme Ada beberapa hambatan yang terjadi dalam cara berkomunikasi para penderita autisme. Berdasarkan penelitiannya. Paul . menjabarkan ada 6 jenis gangguan komunikasi yang sering terjadi pada anak autis, yaitu: . Respon yang minim dalam berkomunikasi. Sulit berkonsentrasi. Rendahnya frekuensi komunikasi, . Adanya fungsi komunikasi yang terbatas, biasanya komunikasi hanya berfungsi untuk meminta . atau menolak . Echolalia, yaitu sebuah kondisi di mana penyandang autisme menirukan berulang-ulang kata-kata yang didengar atau diingat meskipun tidak mengetahui maknanya. Penggunaan kata-kata yang tidak lazim . diosyncratic word. Komunikasi Pada Anak Autisme Augmentative Alternative Communication (AAC) merupakan alat yang digunakan dalam melakukan komunikasi pada anak dengan berkebutuhan khusus seperti pada anak dengan autisme. Komunikasi dapat diberikan berupa gambar atau kata-kata dengan memperhatikan komponen AAC yang meliputi: Teknik komunikasi. Sistem symbol. Kemampuan berkomunikasi. Anak dengan autisme sering mengalami kesulitan dalam berbicara, kurang lebih sekitar 50% dari anak autis tidak berbicara, mereka cenderung sangat Di beberapa Negara berkembang, sekolah kebutuhan khusus dengan anak autis telah menerapkan program AAC visual, baik menggunakan komunikasi visual maupun suara-output bantuan komunikasi atau disebut juga dengan istilah voice-output communication aid (VOCA. Perangkat Elektronik Augmentative and Alternative Communication (AAC) adalah alat yang dibuat sedemikian rupa untuk menarik perhatian anak-anak dan memberikan motivasi untuk berpartisipasi dan fokus pada berbagai keterampilan dan kegiatan selama di kelas. Setiap jenis sistem representasi visual dapat ditempatkan pada perangkat output suara sederhana untuk anak-anak untuk mengakses dengan dorongan sederhana. Sebagian besar perangkat ini dioperasikan dengan baterai dan mudah dioperasikan untuk merekam pesan JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. 2, (September 2. 194 - 208 AutombolAy. Sistem Augmentative and Alternative Communication (AAC) dalam bentuk software telah diciptakan guna memudahkan anak- anak yang telah mencoba program pengembangan bahasa tetapi masih merasa sulit untuk berbicara dengan cara yang dimengerti. ACC dapat menjadi cara yang efektif bagi anak untuk belajar kata-kata awal karena mereka menaruh kata yang diucapkan bersama-sama dengan gambar atau isyarat yang mewakili kata itu, sebagai contoh, dengan mengatakan AoapelAo dan menahan gambar apel. Menggunakan prompt visual dapat mendorong anak untuk melakukan kontak mata dengan mendapatkan perhatian mereka. Kontak mata adalah bagian penting dari komunikasi dan seringkali perlu diajarkan kepada anak-anak dengan autisme. Sistem software AAC dapat mengurangi stres bagi orang tua dan anak karena orang tua dapat memahami perilaku anak dengan ASD (Yuliani, dalam pkko. id/). Teori Interaksi Simbolik Sesuai dengan pemikiran-pemikiran Mead definisi dari tiga ide dasar dari interaksi simbolik adalah: . Mind (Pikira. Menurut Mead Pikiran adalah proses percakapan seseorang dengan dirinya sendiri, tidak ditemukan di dalam diri individu. pikiran adalah fenomena Pikiran muncul dan berkembang dalam proses sosial dan merupakan bagian integral dari proses sosial. Kita telah melihat bahwa manusia mempunyai kemampuan khusus untuk memunculkan respon dalam dirinya sendiri. Mead juga melihat pikiran secara pragmatis, yakni pikiran melibatkan proses berpikir yang mengarah pada penyelesaian masalah. Self (Dir. Pada dasarnya diri adalah kemampuan untuk menerima diri sendiri sebagai sebuah Diri adalah kemampuan khusus untuk mendapat subjek maupun objek. Kemampuan untuk merefleksikan diri tiap individu dari penilaian sudut pandang orang lain, dan teori interaksi simbolik adalah salah satu cabang dalam teori sosiologi yang mengemukakan tentang diri sendir . he sel. dan dunia luar. Masyarakat Mead menggunakan istilah masyarakat . yang berarti proses sosial tanpa henti yang mendahului pikiran dan diri. Masyarakat penting perannya dalam membentuk pikiran dan diri. Hubungan sosial yang diciptakan, dibangun, dan dikonstruksikan oleh tiap individu ditengah masyarakat, dan tiap individu tersebut terlibat dalam perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela, yang pada akhirnya mengantarkan manusia dalam proses pengambilan peran ditengah Metodologi Dalam penelitian ini paradigma yang digunakan adalah paradigma konstruktivisme. Menurut Hidayat . Paradigma konstruktivisme adalah paradigma yang hampir merupakan antitesis dari paham yang meletakkan pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas atau ilmu Menurut Patton . 6 : . , para peneliti konstruktivis mempelajari beragam realita yang terkonstruksi oleh individu dan implikasi dari kontruksi tersebut bagi kehidupan mereka dengan yang lain. Dalam konstruksivis, setiap individu memiliki pengalaman yang Dengan demikian, penelitian dengan strategi seperti ini menyarankan bahwa setiap cara yang diambil individu dalam memandang dunia adalah valid, dan perlu adanya rasa menghargai atas pandangan tersebut. Pendekatan Penelitian Pada penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif dalam menentukan jenis penelitian. Istilah penelitian kualitatif menurut Kirk and Miller, pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan Penelitian kuantitatif melibatkan diri pada perhitungan atau angka atau kuantitas, sedangkan penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilakn prosedur Print ISSN: 2614-8153 Online ISSN: 2614-8498 analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistic atau cara kuantifikasi lainnya. Penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif supaya penelitian dapat dipahami dan dimaknai secara mendalam dan komprehensif, tanpa menggunakan rumus-rumus atau angkaangka statistic. Dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara, penelitian akan menghasilkan jawaban yang lebih subyektif, mendalam, dan lebih mendetail. Jenis/Format Penelitian Dalam melakukan penelitian ini, jenis/ format penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif merujuk kepada data-data deskriptif yang diperoleh oleh peneliti. Menurut Mardalis . 6, p. penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan apa saja yang saat ini berlaku. Di dalamnya terdapat upaya mendeskripsikan, mencatat, analisis dan menginterpretasikan kondisi yang sekarang ini terjadi atau ada. Dengan kata lain penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk memperoleh informasi- informasi mengenai keadaan yang ada. Metode Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan fenomenologi. Kata fenomenologi berasal dari Bahasa Yunani. Phenomenon, yaitu sesuatu yang tampak, terlihat karena Penulis fenomenologi, karena mengacu kepada analisis kehidupan sehari-hari dari sudut pandang orang yang terlibat didalamnya. Tradisi ini member penekanan yang besar pada persepsi dan interprestasi orang mengenai pengalaman mereka sendiri. Fenomenologi melihat komunikasi sebagai sebuah proses membagi pengalaman personal melalui dialog atau Teknik Keabsahan Data Untuk memperoleh data yang valid/akurat maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan triangulasi sebagai teknik untuk menguji keterpercayaan data . emeriksa keabsahan data atau vertifikasi dat. , atau dengan istilah lain dikenal dengan AuTrustworthinessA dengan memanfaatkan hal-hal yang lain ada diluar data tersebut untuk keperluan mengadakan pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data yang telah dikumpulkan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan Triangulasi Metode sebagai Teknik untuk keabsahan data. Hal ini dirasa akan membantu penelitian untuk mendapatkan data yang memiliki validitas baik untuk digunakan dalam Analisa guna mendapatkan jawaban dan kesimpulan dalam penelitian ini. Teknik Analisis Data Dalam penelitian ini, peneliti berpatokan pada pendapat Matthew B. Milles, dimana analisis data dibagi menjadi tiga alur kegiatan yang terjadi pada saat yang bersamaan, yaitu: . Reduksi Data (Data Reductio. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencari bila diperlukan. Penyajian Data (Data Displa. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian seingkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Miles & Huberman . menyatakan Authe most frequent from the display data for qualitative research data in the past has been narrative textAy. ang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah text Dengan menyampaikan data, maka akan mempermudah untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. 2, (September 2. 194 - 208 Selanjutnya disarankan, dalam melakukan display data, selain dengan teks yang naratif, juga dapat digunakan grafik, matriks. Network . ejaring kerj. , dan chart. Penarikan Kesimpulan (Conclusion Drawin. Sugiyono . kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti- bukti kuat yang mendukung pada tahapan pengumpulan data Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Dengan demikian, kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti yang telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti berada dilapangan. TEMUAN DAN DISKUSI Pola Komunikasi Terapis Dan Guru dengan Anak Autis di Special School Spectrum Pola komunikasi yang diterapkan terapis menjadi salah satu upaya terapis dalam membentuk perubahan perilaku, kemandirian dan cara berinteraksi anak, upaya ini diharapkan agar anak autis dapat berkembang. Terapis akan memberikan pembekalan dalam dunia pendidikan, maksudnya dalam bidang pendidikan melibatkan komunikasi antara terapis dan siswa, antara terapis dan orang tua siswa, ataupun antara orang tua dan anaknya maka satu sama lain dapat menyampaikan pesan, maksud dan tujuan menurut caranya masing-masing. AuOh ya jelas berbeda, karena kalau anak yang bukan autism kan kita dalam berkomunikasi ya selayaknya kita berbicara gitu. dua arah dengan anak pada umumnya, karena untuk anak pada umumnya itu Bahasa ekspresifnya ada Bahasa reseptifnya ada, jadi kita bisa ngobrol dengan baik. Tapi kalau untuk anak yang Autis, kan komunikasi arahnya ga ada, susah untuk komunikasi dua arah jadi berbeda cara kita untuk berkomunikasi dengan anak yang memang autism, dengan cara tadi yang saya sampaikanAy. Komunikasi Antara Guru dengan Anak Autis di Special School Spectrum Seperti yang dikatakan oleh Lilis Rosliah Psi. selaku guru Special School Spectrum mengungkapkan situasi kegiatan belajar mengajar pada anak autis di lingkup kelas sebagai berikut. AuKalo kita kan ini sekolah khusus, sekolah khusus kita lebih ke classical, kalo klinik lebih ke 1 on 1, jadi 1 terapis 1 anak, tapi kalo di sekolah kan kita lebih ke classical class, jadi kelasnya kelas classical, kayak di sekolah umum diluar, cuma memang bobot materinya yang beda. Mungkin kalo sekolah umum diluar untuk kasih instruksi materi itu cukup satu kali instruksi, tapi kalo kita disini harus dengan pengulangan yang terus menerus, baik untuk instruksi anak ini untuk belajar dipanggil nama gitu kan, ga semuanya bisa langsung respond gitu kan. Jadi manggil anak itu ga sekali dua kali begituAy. Sedangkan Tuharto selaku Kepala Sekolah Special School Spectrum secara mendetail menjelaskan bagaimana situasi kegiatan belajar mengajar secara jelas, seperti berikut : AuTerus yang lain lagi kalo di klinik itu pembelajarannya adalah individual, satu lawan satu, cuman kalo di sekolah selain satu lawan satu tapi juga ada penanaman tentang sosialisasi karena diberlakukan pengajarannya adalah classical bukan individual. Dalam classical itu nanti bisa dilakukan secara individual sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak tetapi kalo di klinik itu adalah individual murni karena hanya satu muridnya. Kalo disekolah itu adalah diutamakan dan dititikberatkan secara komunikasi yang lebih Print ISSN: 2614-8153 Online ISSN: 2614-8498 luas kemudian lingkungan yang lebih banyak kemudian sosialisasi antara satu dengan yang lain itu terbentuk di sekolahAy. Komunikasi Guru dengan Anak Autis NonVerbal di Special School Spectrum Komunikasi antarpribadi adalah proses pengiriman pesan dan penerimaan pesan baik secara langsung maupun tidak langsung, yang memungkinkan terjadinya interaksi komunikasi dengan menggunakan bahasa verbal maupun nonverbal yang berdampak pada umpan balik Seperti halnya yang diutarakan oleh Lilis Rosliah S. Psi. selaku guru Special School Spectrum, yang mengatakan bahwa : AuJadi ya itu, kalau misalnya dia sudah verbal dia kan bisa mengungkapkan nih, ngomong langsung, tapi kalo yang belum verbal biasanya dibantu ada yang pake gambar, jadi pake gambar (Communication Pi. misalnya dia mau makan, ada kartu dia tinggal pilih mau gambar . an kartu ada gambar-gamba. Dia mau yang mana gitu. Tinggal nanti misal dia mau apa dia mau minum, dia ambil kartu minum, dia kasih ke terapisnya. tapi kalo disini sama juga, nanti diliat aja autisnya itu autis yang bisa bicara apa yang belum bisa bicaraAy. Untuk membantu perkembangan komunikasi anak autis non-verbal digunakan suatu alat bantu komunikasi yang disebut Augmentative and alternative communication (AAC). Jenis AAC yang digunakan pada Special School Spectrum berupa media visual syncer yang bernama Picture Exchange Communication System (PECS), serangkaian kartu bergambar yang digunakan untuk membantu berkomunikasi anak autis non-verbal. Sebagai contoh jika seorang anak autis non-verbal ingin minum, ia diajarkan untuk mengambil kartu PECS yang bergambar minuman untuk diberikan kepada guru sebagai cara berkomunikasi bahwa ia ingin minum. AuKendala yang pertama kalau emosinya lagi kurang bagus. Karena kalau dari awal datang misal dia sudah marah nih, sampai keluar ya pasti akan marah-marah terus. Dan tiap anak kan beda-beda semua, misalnya ada yang kayak gini sabtu minggu libur, sabtu minggunya dia langsung makan apa aja, hari senin datang udah marah-marah udah nangis udah segala macam udah nyubit misalnya. Ya itu akan tidak efektif selama 1 hari itu biasanya. Tapi ada juga yang awalnya kayak gitu marah-marah tapi nanti sejam dua jam bagus juga ada. Jadi memang tiap anak itu beda-beda kalau anak autis, lebih memang dipengaruhi dari faktor dalam dirinya juga ya. kayak yang dimakan apa, terus dia misalnya orang salah tegur aja sama dia, misalnya dia pengen apa tapi kita salah nanya apa segala macam mungkin beda lagi tuh biasanya udah berubah lagi gitu. Ay Komunikasi Terapis dengan Anak Autis Verbal di Special School Spectrum Pelaksanaan pola komunikasi terapis dalam berinteraksi dengan anak autis di Special School Spectrum dilakukan secara sistematik sehingga dapat diukur kualitas dan kinerja para terapis dalam menyampaikan pesan, sehingga dapat diketahui dan jika diperlukan dapat diperbaiki secara bertahap, efektif dan efesien. Seperti diutarakan oleh Rahmania Widiastuti. Psi. Si bahwa AuUntuk komunikasi berbeda antara komunikasi terhadap anak-anak yang memang non-verbal dengan yang verbal, kalau yang verbal kita bisa seperti biasanya saja kita berbicara dengan mereka menggunakan response sesuai dengan pemahamannya merekaAy. Jadi dapat disimpulkan bahwa berkomunikasi dengan anak penyandang autis dapat berbicara seperti biasa dengan menggunakan response sesuai dengan pemahamannya mereka tanpa menggunakan media alat bantu seperti Visual Syncer. AuKemudian Bahasa ekspresifnya dia bagus ada anak autism yang high-function atau yang dinamakan Asperger, itu adalah anak autism tapi yang memiliki kemampuan Bahasa yang tidak ada masalah. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. 2, (September 2. 194 - 208 maksudnya dia bisa berbicara. Nah itu yang kita lakukan sebagaimana kita berkomunikasi terhadap orang normal pada umumnyaAy. Komunikasi Terapis dengan Anak Autis Non-Verbal di Special Spectrum Bentuk-bentuk komunikasi baik verbal maupun nonverbal sangat penting dalam kegiatan belajar di dalam kelas. Karena karakter dari pada anak autisme sendiri berbedabeda, ada yang langsung dapat memahami melalui pembicaraan, tidak sedikit yang menggunakan dengan gerakan atau bahasa isyarat, supaya dapat memudahkan dalam proses berkomunikasi terapis dengan anakanak autisme AuKalau yang non-verbal itu lebih kepada autism yang classic, maksudnya gini yang low-function, jadi kalau yang low-function itu secara bahasa non-verbal, nah maka biasanya untuk anak autis yang low-function atau yang classic biasanya komunikasinya kita latih dengan visual learner, kayaknya kan apa-apa bahasanya menggunakan visual ya visual syncer, jadi kita menggunakan PECS. PECS itu adalah Picture Exchange Communication. Jadi pakai kartu-kartu bergambar card untuk menggantikan cara dia dapat memahami Bahasa. Nah tapi tahapan-tahapan perkembangan bahasanya sendiripun kita bisa melatih menggunakan imitasi verbal dan sebagainya yang mengharapkan dia bisa komunikasi, selain dia menggunakan komunikasi non-verbal atau menggunakan gestur atau isyarat dan sebagainyaAy. Dari hasil interview yang dilakukan terhadap Rahmania Widiastuti M. Psi. Psi. selaku Terapis dan Psikolog pada Special School Spectrum, terapis berpendapat bahwa dikarenakan anak penyandang autis nonverbal (Sebutan lainnya adalah Classic Autism atau Low-Functional Autis. memiliki keterbatasan dalam kemampuan bidang kemampuan komunikasi Bahasa verbal, maka untuk berkomunikasi dengan anak penyandang Autis Non-Verbal harus dilatih dengan cara Visual Learning (Mempelajari sesuatu secara visua. , media bantu yang digunakan disebut Visual Syncer yang disebut Picture Exchange Communication System (PECS). Kendala dan Hambatan dalam Komunikasi pada Anak Autis Dalam melakukan interaksi dengan para penyandang Autis, tentunya banyak kendala yang dihadapi para terapis dalam menghadapi anak-anak autisme, para terapis harus mempunyai kesabaran yang khusus. Kemudian terapis secara pelan-pelan akan memberikan contoh . materi yang akan Karena terapis sudah dibekali dengan pemahaman yang cukup serta tidak adanya penolakan dalam diri seorang terapis dalam menangani hal tersebut. Sehingga terapis dapat mendidik dan membantu anakanak autisme dalam memilih terapi yang sesuai dengan karakter mereka dan membuat anak mampu beradaptasi lebih baik. AuKalau misalnya hambatan ya ketika Bahasa reseptifnya juga kurang ya. pemahamannya juga rada kurang sehingga komunikasinyapun juga susah. kalau anak-anak yang kayak di SCU sini dia sebenarnya ngerti cuman karena emosinya atau perilakunya itu lebih dominan sehingga kita untuk lebih komunikasi ke dia pun juga jadi sulit, karena punya tingkatan-tingkatan permasalahan di setiap autis itu berbeda-beda sehingga kalau sulit pada saat memang anak ini tidak tertreatment sejak dini misalnya, sehingga ketika sudah besar dia tidak tahu bagaimana harus berkomunikasi dengan orang, bagaimana normative, bagaimana aturan sehingga kita lebih sulit lagi untuk Tapi kalau anak autis yang sudah tertreatment dari sejak dini dari TK sudah kelihatan mungkin ada masalah dengan kebutuhan khusus itu akan lebih mudah untuk kita hadapi. Itu untuk yang classic ya, tapi kalau yang anak-anak Asperger, itu juga tidak terlalu susah untuk kita bisa berkomunikasi dengan diaAy. Print ISSN: 2614-8153 Online ISSN: 2614-8498 Alasan Dari Pemberian Terapi Yang Sesuai Pemberian terapi yang sesuai dan pengajaraan oleh guru dan terapis untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi kepada anak penyandang autis sedikit berbeda Hal ini akan dijabarkan oleh Guru Menurut para guru special school spectrum, untuk mengajarkan komunikasi pada anak penyandang autis bermula dari memunculkan eye contact pada anak autis tersebut, karena menurut para guru, semua anak autis tidak menunjukan eye contact pada awal komunikasi tanpa pelatihan, dan eye contact adalah awal mula dari terbentuknya pelatihan komunikasi pada anak penyandang autis. Hal ini diungkapkan oleh Lilis Rosliah S. Psi. AuTapi kalo anak autis kan tiap anak bedabeda nih, dia kenanya di bagian mananya. Apa komunikasi luarnya dia kena, yang pasti sih di komunikasi luarnya pasti dia kena, karena kan awalnya autis itu pasti dimulai dari eye contactnya nggak ada, karena kalau mulai ngajarin anak autis, pasti dari eye contact, eye contactnya itu dia ada nggak, kalaupun ada berapa detik dia eye contact ke kita, buat kita panggil dia nengok nih misalnya dipanggil Ausiapa namanya?Ay belum tentu langsung respons ke kita kan yang manggil. Kalau anak autis harus berulang-ulang begitu, kalau yang dasar bangetAy. Terapis Menurut Rahmania Widiastuti. Psi. Psi. AuTahapan-tahapannya kita lihat dulu ya, anak ini punya masalah di Bahasa reseptif atau anak ini punya masalah di Bahasa ekspresif. Kalau misal dia memahami Bahasa reseptif artinya dia paham perintah, paham aturan, paham kalau kita ngomong tu dia ngerti gitu, maka yang bisa kita lakukan adalah kita terus melatih untuk pemahaman reseptifnya untuk semakin dia memahami apa yang kita Kemudian kalo misalnya Bahasa ekspresifnya dia bagus ada anak autism yang high-function atau yang dinamakan Asperger, itu adalah anak autism tapi yang memiliki kemampuan Bahasa yang tidak ada masalah, maksudnya dia bisa berbicara. Nah itu yang kita lakukan sebagaimana kita berkomunikasi terhadap orang normal pada umumnya. Tapi kalau anak yang memang autism classic ya memang yang harus kita lakukan adalah terus distimulasi perkembangan Bahasanya, menggunakan yang konkrit maka dari itu kalau anak-anak ini belajar selalu menggunakan barang-barang yang konkrit yang berupa Kenapa ? karena itu akan lebih mudah dipahami pada otaknya dibandingkan pemahaman Bahasa abstrak, karena mereka untuk Bahasa abstrak Bahasa analitik atau Bahasa logic itu rada kurang bisa berkembang, tetapi kalau penggunaan Bahasa yang konkrit dia akan lebih mudah pahamiAy. Diskusi Komunikasi Interpersonal pada Anak Autis Penulis interpersonal anak penyandang autis dengan teori karakteristik komunikasi Interpersonal yang dikemukakan oleh Judy C. Pearson dalam buku Suranto AW . 1:14-. sebagai berukut:. Komunikasi interpersonal dimulai dengan diri pribadi . Dalam hal berkomunikasi dengan anak penyandang autis, diri sang terapis dan guru harus mau untuk lebih dekat dan membuat nyaman anak autis tersebut, karena tanpa mereka percaya dengan terapis dan guru, peningkatan dalam pembelajaran mereka terhadap komunikasi dan kemampuan sosial pun tidak akan berkembang. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Rahmania Widiastuti. Psi. Psi. , sebagai berikut. AuJadi gini, kalau anak non-verbal itu bentuk komunikasinya kan tadi saya sudah jelaskan bahwa mereka ini dia melihat ekspresi wajah kita, pertama dia melihat juga bagaimana kita JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. 2, (September 2. 194 - 208 dekat dengan dia, karena diapun merasa kita memang tidak nyaman dengan dia itu yang Jadi pada saat kita memiliki hubungan yang baik dengan anak-anak ini, anak-anak ini akan merespon dengan baik pada kita sehingga yang pertama adalah perlu memang pendekatan yang tadi disampaikan, kita harus mengenal dia, kita harus menerima dia dengan kondisinya kemudian berlanjut kepada komunikasi seperti yang tadi disampaikan. Jadi memang benar pendekatan interpersonal kita harus mengenal dia kondisinya seperti apa itu perlu kita kedepankanAy. Komunikasi interpersonal bersifat transaksional. Ciri komunikasi seperti ini terlihat dari kenyataan bahwa komunikasi interpersonal bersifat dinamis, merupakan pertukaran pesan secara timbal balik dan berkelanjutan. Bentuk Komunikasi pada Anak Autis Penggunaan komunikasi non-verbal adalah hal yang sangat penting untuk berkomunikasi dengan anak penyandang autis, hal ini dikarenakan bentuk-bentuk komunikasi nonverbal seperti gestur, illustrator, dan emblem adalah faktor-faktor penunjang yang sangat efektif dalam berkomunikasi dengan anak PECS sendiri diciptakan berbentuk nonverbal, dalam hal ini illustrator dikarenakan keterbatasan kemampuan dan cara kinerja otak anak autis yang lebih dapat menerima bentuk komunikasi non-verbal dibandingkan bentuk komunikasi verbal. Pola Komunikasi pada Anak Autis Djamarah . Pola komunikasi dapat diartikan sebagai bentuk atau pola hubungan dua orang atau lebih dalam proses pengiriman dan penerimaan dengan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksudkan dapat dipahami. Adapun Djamarah juga mengemukakan bahwa Pola Komunikasi terdiri dari beberapa macam. Macam Pola Komunikasi yang terjadi pada komunikasi antara guru dan terapis terhadap anak penyandang autis adalah sebagai berikut:. Pola Komunikasi Primer: Pola Komunikasi Primer terjadi dalam komunikasi guru dan terapis pada anak penyandang autis baik yang berupa lambang verbal maupun lambang nonverbal. Lambang verbal yang dilakukan oleh guru dan terapis lebih bersifat lugas, konkrit, sederhana, jelas, dan berulang-ulang. Hal ini dilakukan untuk melatih pemahaman sang anak penyandang autis dalam mendengar dan mengerti komunikasi yang terjadi . Lambang non-verbal sangatlah sering digunakan oleh guru dan terapis untuk berkomunikasi dengan anak penyandang autis dikarenakan anak penyandang autis lebih dapat menerima bentuk non-verbal dibandingkan verbal di awal pembelajaran komunikasi. Hal ini dilakukan oleh guru dan terapis dengan komunikasi menggunakan PECS dan gesturgestur tubuh. Pola komunikasi Linier: dilakukan oleh guru dan terapis kepada anak penyandang autis, tatap muka (Dalam hal ini memicu eye-contac. sangatlah perlu dalam memicu timbulnya komunikasi yang efektif antara guru dan terapis kepada anak penyandang autis. Komunikasi kepada anak penyandang autis sangatlah susah dilakukan tanpa tatap muka. Pola Komunikasi Sirkular: Dalam pola komunikasi yang seperti ini proses komunikasi berjalan terus yaitu adanya umpan balik antara komunikator dan komunikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa pola komunikasi dapat dilakukan dengan melalui pengiriman pesan yang dilakukan terapis terhadap anakanak autisme dalam memberikan terapi serta pengetahuan secara langsung, baik dengan menggunakan bahasa lisan dan isyarat supaya dalam penyampaian pesan kepada anak penyandang autis dapat mengerti, sehingga pesan tersebut dapat diterima dan proses komunikasi dapat berjalan dengan baik. SIMPULAN Berdasarkan dari hasil data-data yang telah dikumpulkan dan melalui Analisa dengan melibatkan data primer, data sekunder, studi pustaka, dan observasi, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: . Dari hasil Print ISSN: 2614-8153 Online ISSN: 2614-8498 temuan di lapangan, bahwa komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh terapis dan guru terhadap anak penyandang autis dengan menggunakan komunikasi verbal maupun non verbal. Komunikasi verbal dan non verbal dilakukan oleh guru dan terapis sesuai dengan kemampuan daya tangkap setiap anak dalam memahami dan merespon. Komunikasi yang dilakukan oleh terapis pun dilakukan berbeda-beda sesuai kebutuhan perindividu yang berbeda-beda sehingga komunikasi yang terjadi adalah komunikasi interpersonal antara 2 orang, yaitu antara terapis dan perindividu anak penyandang autis sendiri. Program dan materi pembelajaran yang diberikan pada masing-masing individu pun berbedabeda didalam satu kelas yang sama. Hal ini dapat dilihat dari penerapan IEP (Individual Education Progra. dan IET (Individual Education Touc. sehingga bentuk kegiatan pembelajaran yang terjadi dikelas Special School Spectrum lebih mengarah pada kegiatan belajar mengajar individual antara pengajar dan anak penyandang autis, walaupun disebut sebagai classical class. DAFTAR PUSTAKA