ISSN 1907-5839 E-ISSN 25990403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 1, 31 Mei PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETERNAK SAPI POTONG DI KABUPATEN MANOKWARI Household Income of Beef Cattle Farmer in Manokwari Maria Herawati. Oeng Anwarudin Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari Jl. SPMA Reremi Kotak Pos 143 Kelurahan Manokwari Barat. Manokwari-Papua Barat E-mail: herawatimaria@yahoo. Diterima: 18 Februari 2023 Direvisi akhir: 11 Mei 2023 Disetujui terbit: 31 Mei 2023 ABSTRACT The purpose of this study was to determine the household income of beef cattle farmer in Manokwari Regency. The samples used were 173 beef cattle farmer. Data analysis used quantitative data to determine farmer household income. The results of this study show that the average income of beef cattle farmer from on farm in Manokwari Regency is the largest in cattle ownership of more than 10 tails, followed by 5-10 tails and less than 5 tails. It show that the more the number of livestock so that the higher the income. Beef cattle farmer income in Manokwari Regency comes from on farm, off farm and non farm. Income from on farm has a higher contribution compared to income from off farm and non farm. Keywords: beef cattle, contribution, farmer, household, income ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pendapatan rumah tangga peternak sapi potong di Kabupaten Manokwari. Sampel yang digunakan sebanyak 173 orang peternak sapi potong. Analisis data menggunakan data kuantitatif untuk mengetahui pendapatan rumah tangga peternak. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa rata-rata pendapatan dari usaha ternak yang diperoleh per peternak sapi potong di Kabupaten Manokwari terbesar yaitu pada kepemilikan ternak lebih dari 10 ekor, diikuti oleh peternak dengan kepemilikan ternak 5-10 ekor dan peternak dengan kepemilikan ternak kurang dari 5 ekor dengan demikian menunjukkan, semakin banyak jumlah ternak yang dimiliki oleh peternak, maka akan semakin besar jumlah pendapatan yang diterima oleh peternak. Pendapatan peternak sapi potong di Kabupaten Manokwari bersumber dari usahatani sapi potong, usaha tani lainnya dan pendapatan dari non pertanian. Perolehan pendapatan dari usaha ternak memiliki kontribusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan dari usaha tani lainnya dan pendapatan dari non pertanian. Kata kunci: kontribusi, pendapatan, peternak, rumah tangga, sapi Avaliable online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 25990403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 1, 31 Mei PENDAHULUAN METODE PENELITIAN Pemerintah Indonesia merumuskan program swasembada daging sapi untuk mewujudkan kedaulatan pangan asal ternak. Program swasembada daging sapi telah dicanangkan beberapa kali, saat ini pengembangannya dilaksanakan melalui Program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomanda. sejak tahun 2020. Sulitnya mencapai swasembada daging sapi antara lain disebabkan karena jumlah populasi ternak sapi potong belum mencukupi. Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan populasi sapi potong agar terjadi peningkatan populasi dan konsumsi daging sapi. Usaha peternakan yang dijalankan secara efektif dan efisien maka semakin besar keuntungan yang diperolehnya (Suresti dan Wati 2. Usaha ternak sapi potong dikatakan berhasil apabila pendapatan yang diperoleh peternak dapat memenuhi sehari-hari (Sundari dan Triatmaja 2. Pendapatan merupakan tolak ukur untuk melihat kesejahteraan rumah tangga petani, sebab beberapa aspek dari kesejahteraan rumah tangga tergantung dari tingkat pendapatan yang diperoleh untuk memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan, kesehatan dan Pendidikan. Kabupaten Manokwari populasi sapi potong pada tahun 2019 987 ekor kemudian pada tahun 2020 memiliki populasi ternak sebanyak 234 ekor (BPS Papua Barat 2. , artinya peternakan sapi potong di Kabupaten Manokwari memiliki prospek usaha yang baik Melihat adanya potensi peternakan sapi potong di Kabupaten Manokwari, yang dijalankan oleh peternak sebagai mata pencaharian peternak selain berusahatani, baik sebagai usaha sampingan ataupun sebagai mata pencaharian utama bagi rumah tangga peternak, maka tentunya hal ini menarik untuk dapat jadikan sebagai bahan Dimana hasilnya diharapkan dapat memberikan kontibusi bagi masyarakat di wilayah Kabupaten Manokwari dan sekitarnya Penelitian dilaksanakan Kabupaten Manokwari Papua Barat selama 5 . bulan pada bulan Maret sampai dengan Juli 2022. Lokasi ini dipilih secara sengaja dengan pertimbangan yaitu salah satu sentra peternakan sapi potong. Selanjutnya dari beberapa distrik di Kabupaten Manokwari, dipilih tiga distrik yaitu Distrik Prafi. Masni dan Sidey. Ketiganya mewakili populasi sapi potong yang tertinggi di Kabupaten Manokwari. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data Pengumpulan wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD). Data sekunder dikumpulkan melalui Instrumen penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data primer terdiri atas kuesioner dan panduan Kuesioner terdiri atas daftar pernyataan/pertanyaan tertutup dan terbuka untuk wawancara terstruktur dan panduan digunakan untuk wawancara mendalam. Populasi dalam penelitian ini adalah peternak sapi potong sebanyak 305 Kepala Keluarga (KK). Penentuan jumlah sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin (Kurniullah et al. 1 (N x e2 ) Keterangan : n = ukuran sampel N = ukuran populasi e = galat . %). Berdasarkan populasi, jumlah sampel diperoleh sebanyak 173 orang peternak sapi Potong. Selanjutnya propotional random sampling yang digunakan berdasarkan porsinya yang ada di masingmasing distrik. Analisis data kuantitatif digunakan untuk mengetahui pendapatan rumah tangga peternak dengan rumus sebagai berikut: Avaliable online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 25990403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 1, 31 Mei Pendapatan usahatani (Mardia et. TR = P x Q Keterangan : TR = Total Revenue . P = Price . Q = Quantity . umlah produks. A = TR-TC Keterangan : A = Pendapatan TR = Total Revenue . TC = Total Cost . otal biay. Q = Quantity . umlah produks. Pendapatan rumah tangga petani (Putri, , 2. Prt = P on farm P off farm P non farm Dimana : Prt = Pendapatan rumah tangga P on farm = Pendapatan dari usahatani P off farm =. Pendapatan dari non usahatani P nonfarm=. Pendapatan dari luar usahatani HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Peternak Responden Beberapa peternak dapat dilihat dari jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pengalaman usahatani sapi potong, jumlah anggota keluarga dan jumlah ternak dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Karakteristik Peternak Responden No. Karakteristik Peternak Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Tingkat Pendidikan Tidak sekolah SLTP SLTA Sarjana Usia . >65 Pengalaman Usahatani . <10 10 Ae 20 >20 Jumlah ternak sapi . >10 Jumlah Anggota Keluarga . Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa, rata-rata peternak sapi potong berjenis kelamin laki-laki . ,28%). Hal tersebut mengindikasikan bahwa beternak sapi potong lebih banyak diusahakan oleh laki-laki sebagai kepala keluarga, namun tidak menutup kemungkinan beternak sapi potong juga dilakukan oleh perempuan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari et Jumlah Responden (%) 87,28 12,72 4,05 52,60 14,45 26,59 2,31 93,64 6,36 15,03 49,71 35,26 44,51 49,13 6,35 12,72 60,69 26,59 bahwa dalam keluarga peternak sapi potong suami lebih banyak berperan dalam pekerjaan yang berkaitan dengan luar Rumah . , dan istri hanya bekerja pada sektor domestik yaitu sebagai ibu rumah Tingkat merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi usaha peternakan pada Tabel 1 memerlihatkan bahwa mayoritas tingkat Avaliable online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 25990403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 1, 31 Mei pendidikan peternak masih rendah yaitu pengalaman usaha ternak lebih dari 20 tahun 52,60% merupakan lulusan SD dan bahkan namun demikian ada pula peternak yang masih terdapat peternak yang tidak memiliki pengalaman dalam usahatani sapi menempuh pendidikan . ,05%). Rendahnya potong kurang dari 10 tahun. Hal ini tingkat pendidikan peternak disebabkan oleh menandakan bahwa peternak responden ratamasih rata telah cukup berpengalaman dalam hal pentingnya pendidikan dan tingginya tingkat beternak sapi potong. Beberapa penelitian kemiskinan pada saat itu. Tingkat pendidikan melaporkan bahwa sebagian besar petani yang memadai akan berdampak pada memiliki pengalaman usaha bertani relatif kemampuan manajemen usaha peternakan cukup lama. Hal ini disebabkan oleh usia yang dijalankan. Hal tersebut terlihat dari petani saat ini yang sudah menua. Oleh manajemen pemeliharaan sapi potong yang karena itu menurut Harniati dan Anwarudin rata-rata peternaknya masih memelihara . Anwarudin et al. Anwarudin ternaknya dengan sistem semi intensif atau et al. , dan Anwarudin et al. ternak sapi digembalakan dan pada sore hari penting untuk dilakukan regenerasi petani ternak tersebut dibawa pulang dan diikat di sehingga petani muda dapat menggantikan lokasi rumah karena peternak tidak memiliki dan melanjutkan usaha petani tua yang sudah kandang khusus untuk usaha ternaknya. Oleh menjelang purna karya. peternak, sistem ini sudah dijalankan sejak Besar kecilnya jumlah ternak yang lama dan dianggap sebagai sistem usaha dipelihara oleh peternak dapat berpengaruh yang cukup efisien dalam hal tenaga, waktu terhadap pendapatan peternak karena dan biaya. Fitrini et,al. juga melaporkan semakin banyak jumlah ternak yang bahwa keberhasilan dalam beternak tidak dipelihara, maka akan semakin banyak hanya diperoleh dari ilmu peternakan yang kemungkinan ternak yang dapat dijual. Jumlah diperoleh secara formal melainkan dari kepemilikan ternak sapi potong yang paling pengalaman selama memelihara ternak banyak dipelihara oleh peternak adalah maupun pengalaman orang lain dalam berjumlah kurang dari 5 ekor, ada pula yang memiliki ternak antara 5-10 ekor, bahkan ada Usia akan mempengaruhi seseorang dalam pula peternak yang memiliki ternak diatas 10 ekor meskipun jumlahnya paling sedikit. Usia juga dapat memengaruhi Peternak responden paling banyak memiliki jumlah keluarga 3-4 orang, kemudian terdapat dilakukan seseorang. Usia responden peternak yang memiliki jumlah keluarga diatas peternak pada penelitian ini paling banyak 5 orang dan paling sedikit memiliki jumlah berada pada rentang 15-64 tahun yang keluarga 1-2 orang. Hal ini menunjukkan merupakan usia produktif, dimana pada usia bahwa, jumlah anggota keluarga yang harus tersebut memiliki semangat yang tinggi ditanggung oleh peternak tidak terlalu banyak. termasuk semangat dalam mengembangkan Besar kecilnya jumlah anggota keluarga dapat Pengalaman memengaruhi besarnya kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, sehingga hal ini keberhasilan dalam usaha yang digeluti. mendorong peternak untuk mendapatkan Peternak yang memiliki pengalaman tambahan penerimaan. Berdasarkan hasil lebih lama biasanya akan lebih terampil dan wawancara, peternak selain beternak sapi cenderung akan menghasilkan hasil yang mereka juga bertani atau berkebun atau lebih baik dibandingkan peternak yang melakukan pekerjaan lainnya. Jumlah anggota keluarga juga dapat memengaruhi Berdasarkan hasil wawancara dengan ketersediaan tenaga kerja untuk mengelola peternak, lama usaha responden mayoritas usaha ternak miliknya. Menurut Suratman berada pada rentang waktu 10-20 tahun, . dengan adanya tenaga kerja dalam kemudian terdapat peternak yang memiliki keluarga itu, sejumlah biaya yang seharusnya Avaliable online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 25990403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 1, 31 Mei dikeluarkan sebagai upah biaya tenaga kerja pendapatan keluarga petani. Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa kegiatan usaha ternak sapi potong seluruhnya berasal dari tenaga kerja dalam keluarga Pendapatan Usahatani Sapi Potong Tingkat keuntungan usaha ternak sangat dipengaruhi oleh produktivitas ternak dan biaya produksi. Berdasarkan observasi lapangan. Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara kepada peternak sapi potong di Distrik Prafi. Masni dan Sidey diperoleh hasil bahwa, biaya produksi yang di keluarkan oleh peternakan sapi potong pertahun antara lain adalah penyusutan peralatan dan kendaraan, pembelian bibit, pembelian garam, dan tenaga kerja dalam keluarga, dan biaya pakan (Tabel Rata-rata biaya penyusutan peralatan dan kendaraan per tahun peternak dengan kepemilikan ternak kurang dari 5 ekor, 5-10 ekor dan lebih dari 10 ekor berturut-turut sebesar Rp. Rp. 897 dan Rp. Peralatan yang digunakan oleh peternak antara lain ember, parang dan tali. Mayoritas peternak tidak menggunakan ternaknya, meskipun ada beberapa peternak yang menggunakan motor sebagai kendaraan operasional yang digunakan untuk mengambil rumput ataupun mengawasi ternaknya. Bibit merupakan faktor utama dalam suatu usaha peternakan sapi potong. Ratarata biaya pembelian bibit untuk peternak yang memiliki ternak kurang dari 5 ekor, 5-10 ekor dan lebih dari 10 ekor sebesar Rp. Rp. Rp. Berdasarkan hasil wawancara, sebagian besar bibit yang digunakan oleh peternak responden adalah sapi bakalan dengan jenis sapi Bali yang dibeli dengan Rp. 000Rp. 000 per ekor tergantung dari besar kecilnya bibit yang dibeli. Peternak umumnya membeli bibit sapi untuk menggantikan ternak yang telah mereka jual atau berasal dari hasil perkawinan alami dari induk yang dimiliki. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa sebagian besar peternak responden tidak menggunakan sistem perkawinan Inseminasi Buatan (IB), hal tersebut karena kegiatan IB dianggap peternak sering tidak berhasil. Menurut Putri et al. , . , faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan IB pada sapi diantaranya adalah umur sapi, jarak waktu pelaporan hingga pelaksanaan IB dan jenis Hasil penelitian di lapangan menunjukkan, keberhasilan IB yang rendah dapat disebabkan karena seluruh peternak tidak memiliki pencatatan atau recording ternak sebagai sumber informasi ternak terutama umur, kemudian manajemen pemeliharaan peternak yang masih semi intensif sehingga memungkinkan peternak kurang mengawasi ternaknya, dan juga jenis pakan yang diberikan peternak hanya berupa hijauan yang berasal dari ternak merumput ditambah dengan rumput biasa dan rumput gajahan tanpa pakan tambahan lainnya sehingga memengaruhi kecukupan nutrisi Pemberian garam untuk ternak sapi dilakukan oleh peternak dengan mencampur garam pada air minum. Tujuan pemberian garam ini yaitu untuk meningkatkan nafsu makan dan menambah mineral bagi ternak. Hasil penelitian menunjukkan, biaya pembelian garam rata-rata pertahun untuk jumlah kepemilikan ternak kurang dari 5 ekor sebesar Rp. 707, kemudian untuk kepemilikan ternak 5-10 ekor sebesar Rp. 000 dan untuk kepemilikan ternak lebih dari 10 ekor sebesar Rp. Peternak memberi pakan ternaknya dengan hijauan yang tersedia di ladang atau padang penggembalaan, meskipun demikian biaya pakan tetap diperhitungkan dalam penelitian ini dengan cara mengonversi jumlah konsumsi harian ternak per ekor per hari dikalikan dengan harga pakan. Diasumsikan bobot rata-rata ternak sapi bali siap potong di Kabupaten Manokwari berkisar antara 200250 kg (Junaidi et al. dan kebutuhan pakan hijauan untuk ternak sapi sebanyak 1012% dari bobot badan ternak (Nurhakiki dan Halizah 2. , sehingga kebutuhan hijauan untuk ternak dalam penelitian ini sebesar 24 kg per ekor per hari, dengan asumsi harga rumput sebesar Rp. 100 per kg maka biaya Avaliable online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 25990403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 1, 31 Mei penggunaan pakan per tahun berdasarkan kepemilikan ternak masing-masing sebesar Rp. 965 (<5 eko. Rp. dan Rp. 182 (> 10 eko. Tenaga kerja digunakan dalam usaha ternak sapi potong ini dikerjakan oleh Oleh karena itu tenaga kerja dalam hal ini tidak diupah namun diasumsikan berdasarkan jam kerja yang mereka curahkan untuk memelihara ternaknya dan dihitung berdasarkan biaya kerja umumnya di Manokwari. Rata-rata biaya tenaga kerja dalam keluarga yang dikeluarkan oleh peternak per tahun berdasarkan kepemilikan ternak masing-masing sebesar Rp. (<5 eko. Rp. -10 eko. dan Rp. 636 (>10 eko. Tabel 2 memperlihatkan bahwa untuk biaya yang dikeluarkan oleh peternak dengan kepemilikan ternak lebih dari 10 ekor menghabiskan biaya produksi rata-rata Rp. 773 per tahun. Peternak dengan kepemilikan ternak sebanyak 5-10 ekor menghabiskan biaya produksi rata-rata Rp20. 000 per tahun dan selanjutnya untuk peternak yang memiliki ternak kurang Rp. 842 per tahun. Total penerimaan tertinggi peternak Rp. 000 per tahun dengan jumlah kepemilikan ternak lebih dari 10 ekor per peternak. , sedangkan untuk kepemilikan ternak 5-10 ekor penerimaannya mencapai Rp. 532 per tahun dan penerimaan terendah adalah Rp. per tahun dengan jumlah ternak kurang dari 5 Harga sapi potong di Kabupaten Manokwari berkisar antara Rp. 000 per ekor, tergantung dari besar kecilnya ternak. Penerimaan peternak berasal dari penjualan ternak dan stok ternak yang belum terjual, artinya semakin banyak ternak yang dimiliki maka akan semakin banyak ternak yang dapat dijual dan semakin banyak stok ternak yang dimiliki sehingga penerimaan semakin meningkat. Tabel 2 memperlihatkan bahwa untuk biaya yang dikeluarkan oleh peternak dengan kepemilikan ternak lebih dari 10 ekor menghabiskan biaya produksi ratarata Rp. 773 per tahun. Peternak dengan kepemilikan ternak sebanyak 5-10 ekor menghabiskan biaya produksi rata-rata Rp20. 000 per tahun dan selanjutnya untuk peternak yang memiliki ternak kurang Rp. 842 per tahun. Total penerimaan tertinggi peternak Rp. 000 per tahun dengan jumlah kepemilikan ternak lebih dari 10 ekor per peternak. , sedangkan untuk kepemilikan ternak 5-10 ekor penerimaannya mencapai Rp. 532 per tahun dan selanjutnya peternak dengan penerimaan terendah adalah Rp. 000 per tahun dan jumlah ternak kurang dari 5 ekor. Harga sapi potong di Kabupaten Manokwari berkisar antara Rp. 000 per ekor, tergantung dari besar kecilnya ternak. Penerimaan peternak berasal dari penjualan ternak dan stok ternak yang belum terjual, artinya semakin banyak ternak yang dimiliki maka akan semakin banyak ternak yang dapat dijual dan semakin banyak stok ternak yang dimiliki dan penerimaan semakin meningkat. Tabel 2 Rata-rata Biaya. Penerimaan dan Pendapatan Usahatani Sapi Potong (Rp/tahu. No. Jumlah Ternak . >10 Biaya Tetap (R. Penyusutan peralatan dan kendaraan Biaya Variabel (R. Biaya bibit Biaya pembelian garam Biaya pembelian pakan Biaya tenaga kerja dalam keluarga Total Biaya (R. Penerimaan (R. Pendapatan (R. R/C Ratio 2,40 2,93 3,48 Uraian Avaliable online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 25990403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 1, 31 Mei Berdasarkan penerimaan yang diperoleh dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan peternak (Mardia et al. , maka diperoleh pendapatan per peternak sapi potong terbesar pada kepemilikan ternak lebih dari 10 ekor yaitu sebesar Rp. 227 per tahun. Pendapatan peternak dengan kepemilikan ternak 5-10 ekor menghasilkan pendapatan Rp. 533 per tahun dan selanjutnya perolehan pendapatan yang terkecil yaitu peternak dengan kepemilikan ternak kurang dari 5 ekor sebesar Rp. 158 per tahun. Nilai R/C peternak sapi potong di Kabupaten Manokwari berdasarkan jumlah kepemilikan ternak secara keseluruhan menunjukkan nilai lebih besar dari satu (R/C>. , menunjukkan bahwa usaha yang dijalankan oleh peternak menguntungkan karena penerimaan lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan. Secara berurutan masing-masing dengan kepemilikan ternak kurang dari 5 ekor dengan nilai R/C 2,40. kepemilikan ternak 5-10 ekor dengan nilai R/C 2,93. dan kepemilikan ternak lebih dari 10 ekor dengan nilai R/C 3,48, dengan demikian menunjukkan, semakin banyak jumlah ternak yang dimiliki oleh peternak maka akan semakin besar jumlah pendapatan yang diterima oleh peternak. Pendapatan Rumah Tangga Peternak Sapi Potong Selain beternak sapi potong terdapat sebagian peternak yang memiliki usahatani lainnya seperti usahatani padi, jagung, hortkultura, ternak kambing dan ternak ayam. Sedangkan untuk non pertanian, sebagian peternak bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), pangkas rambut, tukang bangunan, ojek, berdagang dan lainnya. Tabel 3 memperlihatkan rata-rata pendapatan peternak per tahun dari usahatani lainnya berdasarkan kepemilikan ternak masingmasing Rp. (<5 Rp. -10 eko. dan Rp. (>10 eko. , selain itu untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga, peternak sapi potong tidak tergantung pada usahatani lainnya, tetapi juga dari usaha non pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Rata-rata pendapatan peternak dari usaha non pertanian tertera pada Tabel 3. Tabel 3 Pendapatan Usahatani Lainnya dan Pendapatan Non Pertanian Per Tahun Jumlah Pendapatan Pendapatan Non No. Usahatani lainnya Total (R. Pertanian (R. (R. >10 Jumlah Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa, pendapatan rata-rata peternak dari non pertanian dengan kepemilikan ternak kurang dari 5 ekor sebesar Rp. 471 per tahun , kepemilikan ternak 5-10 ekor sebesar Rp. 909 per tahun dan kepemilikan lebih dari 10 ekor Rp. 364 per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas peternak memilih sektor pertanian sebagai sumber mata pencaharian dibandingkan dengan sektor non pertanian. Karena jumlah pendapatan sektor nonpertanian tidak bisa diperhitungkan dengan jelas setiap tahunnya. Beda hal nya dengan usaha di bidang pertanian yang bisa meberikan penghasilan kepada petani dalam jangka waktu yang lebih singkat di bandingkan dengan non pertanian. Maka dari itu pada umunya masyarakat di Kabupaten Manokwari ini masih memilih sector pertanian sebagai mata pencaharian Namun, usaha lain yang di kembangkan oleh petani di daerah ini adalah beternak sapi dimana pada table 3 diatas dapat dilihat bahwa dengan kisaran jumlah pendapatan 10-15 juta rupiah pertahun adalah yang memiliki ternak sapi 5-10 ekor. Avaliable online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 25990403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 1, 31 Mei Tabel 4. Pendapatan Rumah Tangga Peternak Sapi Potong Per Tahun Jumlah . >10 Jumlah Pendapatan Usaha Ternak Sapi Potong (R. Pendapatan Usahatani lainnya (R. Pendapatan Non Pertanian (R. Pendapatan Total (R. Tabel 4 memperlihatkan bahwa, pendapatan rumah tangga peternak sapi potong di Kabupaten Manokwari bersumber dari usahatani sapi potong, usaha tani lainnya dan pendapatan dari non pertanian. Ketiga sumber pendapatan tersebut diperoleh bahwa rata-rata pendapatan peternak dengan kepemilikan ternak kurang dari 5 ekor sebesar Rp. 687 per tahun, peternak dengan kepemilikan ternak 5-10 ekor sebesar Rp. 247 per tahun dan peternak dengan jumlah kepemilikan lebih dari 10 ekor sebesar Rp. 318 per tahun. Tabel 4 juga menyajikan perolehan pendapatan dari usaha ternak pada jumlah kepemilikan ternak kurang dari 5 ekor, 5-10 ekor dan lebih dari 10 ekor sama-sama memiliki kontribusi yang tinggi terhadap Besarnya kontribusi usaha ternak terhadap pendapatan rumah tangga masing-masing sebesar 55,62%, 65,60% dan 77,83%. Hal ini menunjukkan bahwa, kontribusi usaha ternak terhadap pendapatan rumah tangga lebih dari 50% yang berarti usaha ternak sapi potong menjadi cabang usaha dan dapat dijadikan usaha pokok bagi peternak Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Sunarto et. , bahwa usaha penggemukan ternak sapi potong di tingkat peternakan rakyat merupakan suatu bentuk usaha dan dapat dijadikan sebagai sumber utama pendapatan rumah tangga. Usaha ternak sapi potong ini bisa di jadikan alternatif usaha pokok karena kebutuhan masyarakat akan daging setiang tahunnya selalu tinggi. Kontribusi Usaha Ternak Pendapatan Rumah Tangga (%) 55,62 65,60 77,83 SIMPULAN Rata-rata pendapatan dari usaha ternak yang diperoleh per peternak sapi potong di Kabupaten Manokwari terbesar yaitu pada kepemilikan ternak lebih dari 10 ekor, diikuti oleh peternak dengan kepemilikan ternak 5-10 ekor dan peternak dengan kepemilikan ternak kurang dari 5 ekor dengan demikian menunjukkan, semakin banyak jumlah ternak yang dimiliki oleh peternak, maka akan semakin besar jumlah pendapatan yang diterima oleh peternak. Pendapatan peternak sapi potong di Kabupaten Manokwari bersumber dari usahatani sapi potong, usaha tani lainnya dan pendapatan dari non Perolehan pendapatan dari usaha ternak memiliki kontribusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan dari usaha tani lainnya dan pendapatan dari non UCAPAN TERIMA KASIH