JURNAL MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN Vol 34 No 1. Maret 2024 ASPERGILLOMA PADA TUBERKULOSIS PARU: LITERATURE REVIEW Aspergilloma in Pulmonary Tuberculosis: Literature Review Wily Arianto1*. Rohani Lasmaria2 Program Pendidikan Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi. Fakultas Kedokteran. Universitas Riau Fakultas Kedokteran. Universitas Riau *Email: wilyarianto146@gmail. ABSTRACT Indonesia ranking among the top six countries with the highest TB burden. In the aftermath of pulmonary TB, fungal infections, particularly those caused by Aspergillus species, have emerged as a notable complication. The predominant species. Aspergillus fumigatus, is responsible for a spectrum of conditions ranging from invasive to noninvasive aspergillosis. This literature review aims to provide an exhaustive analysis of post-TB pulmonary aspergilloma, a clinical condition characterized by the growth of Aspergillus fungal balls within pre-existing lung cavities. Utilizing databases such as PubMed. Science Direct. EBSCO. Emerald. Scopus, and Google Scholar, and employing keywords such as "tuberculosis," "aspergillus," "aspergilloma," and "pulmonary," we meticulously applied the PICO framework and the CRAAP (Currency. Relevance. Authority. Accuracy, and Purpos. criteria to select 20 pertinent articles. The findings indicate that pulmonary aspergilloma manifests in approximately 11% to 17% of individuals post-TB treatment, presenting a clinical spectrum from asymptomatic to severe, life-threatening hemoptysis. Classification into simple and complex aspergilloma is based on specific clinical and radiological criteria. Diagnosis is contingent upon the identification of clinical symptoms, assessment of risk factors, and the corroboration of Aspergillus infection through radiological . hest X-ray and CT sca. and serological or microbiological evidence. Management of pulmonary aspergilloma entails non-operative and operative strategies, with surgical intervention being the definitive treatment, especially in cases of recurrent or massive hemoptysis. The review underscores the persistent challenge of TB in Indonesia, exacerbated by secondary fungal infections such as aspergillosis among pulmonary TB survivors. Aspergillus fumigatus is identified as the primary fungal pathogen, leading to pulmonary aspergilloma. Keywords : aspergilloma classification, diagnosis and management, pulmonary aspergilloma, tuberculosis ABSTRAK Indonesia berada di antara enam negara dengan beban TB tertinggi. Komplikasi yang sering muncul setelah TB paru adalah infeksi jamur, terutama yang disebabkan oleh spesies Aspergillus, dengan Aspergillus fumigatus sebagai penyebab utama aspergilosis invasif maupun non-invasif. Review ini bertujuan untuk menyajikan analisis komprehensif tentang aspergilloma paru pasca-TB, dengan menggunakan basis data seperti PubMed. Science Direct. EBSCO. Emerald. Scopus, dan Google Scholar. Pencarian literatur dilakukan dengan menggunakan kata kunci "tuberkulosis," "aspergillus," "aspergilloma," dan "paru. " Berdasarkan kriteria PICO dan metode CRAAP, 20 artikel dipilih untuk ditinjau. Hasil review menunjukkan bahwa aspergilloma paru, yang merupakan salah satu bentuk klinis aspergilosis dengan ciri pembentukan bola jamur di dalam rongga paru, terjadi pada sekitar 11% hingga 17% pasien yang pulih JURNAL MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN Vol 34 No 1. Maret 2024 dari TB paru. Kondisi ini diklasifikasikan menjadi tipe sederhana dan kompleks berdasarkan kriteria klinis dan radiologis. Manifestasi klinisnya bervariasi, mulai dari asimptomatik hingga kasus berat dengan hemoptisis masif. Diagnosis aspergilloma paru didasarkan pada identifikasi gejala klinis dan faktor risiko, disertai dengan bukti radiologi . oto toraks dan CT scan torak. serta konfirmasi serologis atau mikrobiologis spesies Aspergillus. Strategi penatalaksanaan dibagi menjadi pendekatan non-operatif dan operatif, dengan intervensi bedah dianggap sebagai standar emas untuk mengelola hemoptisis berulang atau masif. Kesimpulan dari review ini adalah bahwa Indonesia masih menghadapi beban tinggi TB, yang diperparah oleh infeksi sekunder seperti aspergilosis pada pasien TB paru. Aspergillus fumigatus adalah patogen jamur paling umum, khususnya yang menifestasikan sebagai aspergilloma paru. Pemahaman mendalam tentang epidemiologi, manifestasi klinis, kriteria diagnosis, dan modalitas penatalaksanaan sangat penting untuk pengelolaan aspergilloma paru secara efektif. Kata kunci : aspergilloma paru, diagnosis dan tatalaksana, klasifikasi aspergilloma. PENDAHULUAN Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah kesehatan global dan merupakan penyebab kematian kedua akibat penyakit infeksi di seluruh dunia setelah penyakit human immunodeficiensy virus (HIV). WHO wilayah Asia Tenggara menyatakan bahwa populasi Asia Tenggara adalah 26 % dari populasi dunia dengan 43 % beban kejadian TB. Pada tahun 2023 diperkirakan hampir 10,6 juta orang menderita TB diseluruh dunia dan diperkirakan 1,3 juta orang meninggal akibat TB. Jumlah kasus Rifampicin resistant TB (RR-TB) dan Multi Drug Resistant-TB (MDR-TB) adalah sekitar 2 dari 5 penderita TBC yang resistan terhadap obat yang mengakses pengobatan dari kejadian global. Enam negara dengan beban TB tertinggi secara global berada di Bangladesh. Tiongkok. Republik Demokratik Kongo. India. Indonesia. Nigeria. Pakistan, dan Filipina . Indonesia saat ini memiliki beban TB yang tinggi, diperkirakan 809. 000 kasus pada 2023 meningkat dibandingkan tahun 2022 yaitu 724. 000 kasus . Masalah yang muncul dalam perjalan penyakit TB paru yaitu infeksi jamur. Pasien dengan paska infeksi TB paru memiliki kondisi daya tahan tubuh yang rendah sehingga rentan terhadap infeksi jamur paru. Aspergillus sp merupakan jenis jamur yang paling sering ditemukan sebagai penyebab infeksi paska TB paru. Saat ini terdapat lebih dari 200 spesies Aspergillus sp. yang sudah teridentifikasi dan salah satunya adalah Aspergillus fumingatus yang menyebabkan aspergillosis invasif maupun non-invasif . Aspergilloma paru sering dijumpai pada pasien paska tuberkulosis paru, baik yang baru sembuh maupun yang telah sembuh dalam periode waktu yang lama. Sebagian besar studi melaporkan bahwa kavitas paru yang disebabkan oleh TB paru menjadi tempat tumbuh terbaik untuk Aspergillus sp. Aspergilloma paru adalah infeksi jamur saprofit berupa kolonisasi di dalam kavitas paru yang dapat disebabkan oleh berbagai penyakit dasar sebelumnya. Kolonisasi ini membentuk formasi seperti massa yang disebut fungus ball atau mycetoma . Review ini bertujuan untuk menyajikan analisis komprehensif tentang aspergilloma paru pasca-TB, dengan menggunakan basis data seperti PubMed. Science Direct. EBSCO. Emerald. Scopus, dan Google Scholar. Penulisan tinjauan pustaka ini dilatar belakangi oleh tingginya kejadian aspergilloma paru pada pasien paska TB paru, sehingga pembahasan mengenai aspergilloma paru paska TB secara komprehensif sangat diperlukan. JURNAL MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN Vol 34 No 1. Maret 2024 METODE Penelitian ini menggunakan metode tinjauan pustaka karena data diambil dari penelitian yang sudah dilakukan dan bukan dari pengamatan secara langsung. Pencarian literatur dilakukan dengan menggunakan kata kunci "Tuberkulosis," "Aspergillus," "Aspergilloma," dan "Paru. " Berdasarkan kriteria PICO dan metode CRAAP, 20 artikel dipilih untuk ditinjau. Artikel penelitian yang dicari dan dipilih adalah jurnal yang diterbitkan pada tahun 2018 sampai 2023. Strategi pencarian pada literatur penelitian ini menggunakan kata kunci dalam bahasa inggris dengan menggunakan kombinasi boolean dari setiap elemen PICOS yaitu yaitu (AuTuberkulosisAy OR AuTBCAy OR AuTBA. and (AuAspergillusAy OR AuAspergillomaAy OR Aupulmonary aspergillom. Study type yang digunakan terdiri dari bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pembatasan tahun publikasi yaitu lima tahun terakhir dan jenis penelitian literatur review. Artikel yang dipilih merupakan artikel yang dapat menjawab pertanyaan review dan telah disaring berdasarkan metode kriteria evaluasi CRAAP yang merupakan singkatan dari Currency. Relevance. Authority. Accuracy, dan Purpose yaitu dalam pemilihan sampel, riviewer menggunakan kriteria evaluasi CRRAP: Currency. Relevance. Authority. Accuracy, dan Purpose yaitu sumber informasi harus diperbarui (Currenc. , relevan dengan topik (Relevanc. , memiliki kredibilitas (Authorit. , akurat (Accurac. , dan tujuannya jelas (Purpos. Dengan mempertimbangkan kriteria-kriteria ini, riviewer dapat memilih sumber informasi yang paling sesuai untuk mendukung literatur riview dimana sebanyak 84 artikel yang tidak sesuai pada penyaringan pertama dan penyisihan 53 artikel pada penyaringan tahap kedua. Artikel yang tidak dipilih adalah artikel penelitian yang dinilai tidak dapat menjawab pertanyaan penelitian setelah ditinjau menggunakan metode kriteria evaluasi CRRAP (Currency. Relevance. Authority. Accuracy. Purpos. maka 10 artikel yang sesuai dengan tujuan penelitian dan dapat menjawab pertanyaan penelitian. HASIL Alur pemilihan artikel dapat dilihat pada gambar 1. Literatur teridentifikasi dalam pencarian Google Schoolar. Emerald. PubMed. Science Direct. Semantic Scholar. Researchgate. BMC n=137 Artikel yang tidak sesuai dengan tujuan penelitian n=84 Skrining dan penapisan n=53 16 artikel berupa skripsi dan thesis 21 artikel di eksclude karena keluar dari lingkup review 6 artikel tidak memenuhi kriteria Full-text dinilai kelayakannya n=10 Artikel yang sesuai dengan tujuan penelitian dimasukkan dalam kajian literatur n=10 Gambar 1. Alur Pemilihan Artikel JURNAL MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN Vol 34 No 1. Maret 2024 Dalam pencarian literatur yang dilakukan, teridentifikasi berbagai desain studi yang berkontribusi pada pemahaman aspergilloma paru pasca-tuberkulosis. Hasil pencarian menghasilkan empat laporan studi kasus dan empat penelitian kuantitatif dengan desain kohort retrospektif, serta dua tinjauan literatur yang berfokus pada studi Analisis ini menunjukkan bahwa desain studi yang paling sering digunakan dalam penelitian terkait aspergilloma paru adalah laporan studi kasus dan penelitian kohort Kedua desain studi ini memberikan insight penting mengenai karakteristik klinis, manajemen, dan outcome pasien dengan aspergilloma paru pasca-tuberkulosis. Tabel 1 di bawah ini menyajikan daftar artikel hasil pencarian dengan ringkasan desain studi yang digunakan. Tabel 1. Daftar Artikel Hasil Pencarian Penulis dan judul Tujuan Metode Bongomin. Post- Meneliti Literature chronic karakteristik klinis review pulmonary aspergillosis: An dan epidemiologi klinis emerging public health aspergilosis paru PLOS Pathogens, kronis 16. , https://doi. org/10. 1371/jour telah mengalami . Dewi. Dewi. Iswanto. Djatioetomo. Darwin. , & Permatasari. Pulmonary coexisting with hamartoma tuberculosis: A case report. Respiratory Medicine Case Reports, https://doi. org/10. 1016/j. Mengevaluasi Laporan studi Kasus diagnostik yang Seorang efektif laki berusia 46 untuk mendeteksi tahun datang ke dan membedakan IGD aspergilloma dan keluhan sesak hamartoma pada nafas, pasca dan dada terasa tuberkulosis paru sesak. Harmouchi. Sani. Issoufou. Lakranbi. Ouadnouni. , & Smahi. Pulmonary Asian Cardiovascular Thoracic Annals, 28. , 33Ae https://doi. org/10. 1177/021 Untuk Literature manajemen yang paru, termasuk Hasil Hubungan antara CPA . hronic pulmonary aspergillosi. dan TB . telah dikonfirmasi. CPA menyulitkan kondisi TB pasca pengobatan karena sisasisa lesi struktural. Sekitar sepertiga pasien bekas TB paru memiliki rongga paru residu. Pemeriksaan mikrobiologis diperlukan untuk membedakan CPA dari TB paru aktif. TB paru berulang, dan PTBLD . ost-tuberculosis lung Kesesuaian antara aspergilloma paru dan hamartoma merupakan suatu kejadian yang jarang terjadi. Diagnosis bergantung pada gejala klinis, pemeriksaan radiologi, dan uji Biasanya, hamartoma paru tidak menunjukkan gejala. Pada kasus ini, hamartoma melalui pemeriksaan patologi. Diagnosis yang cepat dan akurat dengan manajemen terapeutik yang efektif dapat menghasilkan hasil yang positif. Aspergilloma paru merupakan bentuk aspergilosis yang ditandai oleh kolonisasi pada rongga paru yang sudah ada, biasanya berasal dari tuberkulosis. Gejala klinis yang dominan adalah hemoptisis yang dapat mengancam jiwa, dan tomografi komputer toraks dapat membedakan aspergilloma paru JURNAL MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN Vol 34 No 1. Maret 2024 Ying L. Su-Yue S. Xiao-Yan G. Chun-Mei H. Chronic aspergillosis after posttuberculosis lung disorders tuberculosis, acquiring more attention: Case series and literature review. J Clin Images Med Case Rep, 4. https://doi. org/10. 52768/27 66-7820/2422 . Untuk merangkum poinpoin kunci dalam aspergilosis paru dan tuberkulosis, kesadaran klinisi tentang diagnosis banding antara Jenis penelitian dengan desain Kohort pasien dicurigai TB paru Klinting. Laursen. , & Titlestad. Incidence Chronic Pulmonary Aspergillosis in Patients with Suspected or Confirmed NTM and TBAiA Population-Based Retrospective Cohort Study. Journal of Fungi, 8. , 301. https://doi. org/10. 3390/jof8 030301 . Untuk Aspergilosis Paru Kronis (CPA) terdiri dari pasien TB dan NTM yang terkonfirmasi atau Jenis dengan desain Kohort non-intervensi. Analisis data uji ANOVA Willim. Munthe. Mujono. Pulmonary presenting with recurrent hemoptysis, in a patient with pulmonary tuberculosis: a case report from a rural Ketapang Regency. Journal Indonesia Vascular Access 3. : 23-28. DOI : 51559/jinava. Menilai karakteristik klinis aspergilloma paru yang menyajikan gejala hemoptisis berulang setelah tuberkulosis paru Laporan studi pria 32 tahun berat badan. Tes scan CT thorax aspergilloma di paru-paru kiri. Diberikan Hemoptisis terus berulang Dari terdiagnosis dengan penyakit paru tanpa tuberkulosis. Dari 4397 pasien ini, 659 mengalami kekambuhan tuberkulosis. Dari 659 pasien yang kambuh, 273 dengan tuberkulosis berulang yang BTA-negatif. 5 pasien di CPA. Diagnosis banding antara CPA dan PTB bergantung pada uji terutama pada smear-PTB negatif. Sensitivitas dan spesifisitas uji lavage Galactomannan (GM) lebih tinggi daripada GM serum. Tidak ditemukan CPA di antara pasien TB sebaliknya terjadi insiden sebesar 8,2% . = . pada pasien yang terinfeksi NTM. Kami investigasi yang mungkin dalam protokol penyaringan sampel darah Aspergillus tergantung pada NTM atau TB, yang dimulai di Departemen Pernapasan Rumah Sakit Universitas Odense. Protokol investigasi yang difokuskan pada pasien NTM dengan gejala yang kecurigaan CPA Aspergilloma paru merupakan tantangan terbesar dalam hal Hemoptisis yang berulang atau masif, yang merupakan gejala khas kondisi ini, memerlukan perhatian yang cermat pada individu yang memiliki riwayat tuberkulosis paru. JURNAL MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN Vol 34 No 1. Maret 2024 Nguyen. Le Ngoc, . Nguyen. Dinh. Van. Nguyen. Van. Nguyen. , & Denning, . Chronic Pulmonary Aspergillosis Situation Post Tuberculosis Patients in Vietnam: An Observational Study. Journal of Fungi, 7. , https://doi. org/10. 3390/jof7 070532 . Menyajikan data epidemiologi dan klinis CPA pada s di Vietnam Penelitian dengan desain Kohort catatan medis Rumah Sakit Paru Nasional Vietnam tahun Analisis STATA Kwizera. Katende. Bongomin. Nakiyingi. & Kirenga. Misdiagnosis of chronic pulmonary aspergillosis as pulmonary tuberculosis at a tertiary care center in Uganda: a case series. Journal of Medical Case Reports, 15. , https://doi. org/10. 1186/s13 256-021-02721-9 . Penelitian bertujuan untuk dan menganalisis kasus-kasus diagnosis antara aspergilosis paru tuberkulosis paru perawatan tingkat lanjut di Uganda Setianingrum, . Untuk menentukan Rozaliyani. Adawiyah, insiden . Syam. Tugiran. Aspergilosis Paru Sari. Nandipinto. Kronis (CPA) pada Ramnath. Arifin. , pasien yang diobati Handayani. Burhan. , untuk Tuberkulosis Rumende, , (TB) di Indonesia. Wahyuningsih, , sebuah Rautemaa-Richardson. , dengan & Denning. A kejadian TB yang longitudinal tinggi. study of chronic pulmonary aspergillosis in pulmonary tuberculosis in Indonesia (APICAL). Thorax, 77. , 821Ae828. https://doi. org/10. 1136/thor axjnl-2020-216464 . Laporan studi Tiga Uganda /HIV 53/positif HIV dan 18/negatif HIV negati. , riwayat batuk. Jenis dengan desain Kohort Secara total, 34 dari 38 kasus . ,5%) IgG Aspergillus dengan densitas optik Ou 1, dan pada 2 kasus, nilainya antara 0,9Ae 1,0 . %), menunjukkan hasil positif borderline. Pada sembilan pasien . ,7%), berhasil diisolasi Aspergillus fumigatus dari sputum. CPA merupakan isu yang kurang dikenali di Vietnam dan negaranegara dengan beban TB tinggi lainnya, sehingga memerlukan Penggunaan HRCT dan uji serum Aspergillus IgG sebagai alat diagnostik awal untuk mengidentifikasi CPA. Temuan kesalahan diagnosis antara CPA dan Tuberkulosis Paru dapat memiliki dampak serius terhadap manajemen penyakit dan hasil Lebih lanjut, studi ini memiliki kriteria diagnosa klinis yang sederhana dan uji deteksi cepat (LFD) guna mengurangi terutama di lingkungan perawatan kesehatan dengan sumber daya Dari 216 peserta, 128 . %) diawasi hingga selesai terapi TB. Pada . %) menunjukkan bukti mikrobiologis TB. IgG spesifik Aspergillus positif pada 64 . %) pasien, dan pada 16 . %) pasien, hasilnya berubah selama terapi TB. Insiden CPA terkonfirmasi dan mungkin pada masing-masing . dan 2% . , sementara pada akhir terapi TB berturut-turut menjadi 8% . dan 5% . Enam pasien, termasuk 2 dengan mengembangkan aspergilloma. JURNAL MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN Vol 34 No 1. Maret 2024 Soewondo, . Menilai Kusumaningrum. , karakteristik klinis Hanafi. Adiputri. , & pasien, termasuk Hayuningrat. Co-existing active diagnostik, pulmonary tuberculosis with faktor risiko yang aspergilloma in a diabetic terkait patient: A rare case report. Radiology Case Reports, tuberkulosis paru 1136Ae1142. dan aspergilloma https://doi. org/10. 1016/j. Laporan studi wanita usia 48 selama 7 hari Aspergilloma terkait dengan tuberkulosis dan menyebabkan infeksi patogen lain karena oksigen yang mencukupi dan jaringan nekrosis. Seorang wanita 48 tahun mengalami sesak napas dan batuk selama 7 bulan tuberkulosis paru 9 bulan lalu. Foto rongga berdinding tebal dengan tanda kresen udara di lobus atas paru kiri, menunjukkan adanya aspergilloma dan tuberkulosis paru aktif. CT scan dada dengan kontras mengonfirmasi temuan ini. Pemeriksaan nekrosis, dan struktur hifa dengan Aspergillus sp. PEMBAHASAN Aspergillosis dan Aspergilloma Paru: Sebuah Tinjauan Epidemiologi dan Faktor Risiko Aspergillosis: Pengenalan dan Spesies Penyebab Aspergillosis merujuk pada infeksi yang disebabkan oleh spesies jamur Aspergillus, di mana lebih dari 300 spesies telah diidentifikasi. Sebagian besar kasus aspergillosis, lebih dari 90%, disebabkan oleh Aspergillus fumigatus. Infeksi ini seringkali dijumpai pada pasien dengan TB paru. Selain A. fumigatus, spesies lain seperti A. flavus, dan A. nidulans juga diketahui dapat menyebabkan aspergillosis. Aspergillus sp. umumnya hidup di tanah, debu, dan bahan organik yang membusuk. Konidia dari Aspergillus memiliki diameter yang kecil . -3 AA. , memungkinkannya untuk mencapai alveoli paru . Aspergilloma Paru: Pembentukan dan Prevalensi Aspergilloma paru, sebuah kondisi yang berkembang dalam kavitas paru dengan diameter lebih dari 2 cm, terjadi pada 15-20% kasus. Proses pembentukan aspergilloma dapat diawali oleh respons imun inang yang terlalu kuat atau lemah terhadap antigen dari Aspergillus sp. Epidemiologi dan Faktor Risiko Aspergilloma Paru Dilaporkan bahwa aspergilloma paru terjadi pada sekitar 11 sampai 17% pasien paska TB paru yang memiliki lesi kavitas pada parenkim. WHO wilayah Asia Tenggara menyatakan bahwa populasi Asia Tenggara adalah 26 % dari populasi dunia dengan 43 % beban kejadian TB. Pada tahun 2023 diperkirakan hampir 10,6 juta orang menderita TB diseluruh dunia dan diperkirakan 1,3 juta orang meninggal akibat TB . Indonesia saat ini memiliki beban TB yang tinggi, diperkirakan 809. 000 kasus pada 2023 meningkat dibandingkan tahun 2022 yaitu 724. 000 kasus . Selain pada penyakit TB paru, aspergilloma juga dapat komplikasi pada berbagai penyakit paru lain yang ditandai dengan lesi berupa kavitas, seperti fibrosis kistik, bronkiektasis kronik, pneumokoniosis. JURNAL MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN Vol 34 No 1. Maret 2024 kavitas paru pasca infark atau radiasi, sarkoidosis, kista bronkial, bula paru, abses paru kronik, keganasan paru, dan spondilitis ankilosa . Faktor risiko lain yang meningkatkan kerentanan terhadap aspergillosis paru meliputi gangguan lokal pertahanan bronkopulmoner, malnutrisi, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), penyakit hati kronik, pasca transplantasi organ atau sel punca, pasien yang menjalani kemoterapi, neutropenia, penggunaan jangka panjang kortikosteroid. HIV, dan sindrom imunodefisiensi primer . Klasifikasi Aspergilloma Paru Klasifikasi Aspergilloma Paru dan Jenis-Jenis Aspergillosis Infeksi jamur Aspergillus sp. memiliki spektrum klinis yang luas, tergantung pada respons imun individu dan kondisi klinis yang mendasarinya. Berdasarkan karakteristik klinis dan riwayat medis pasien, infeksi Aspergillus dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok utama: Allergic Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA): ABPA merupakan reaksi hipersensitivitas terhadap Aspergillus yang terutama mempengaruhi pasien dengan asma atau fibrosis kistik. Kondisi ini ditandai dengan eksaserbasi asma, infiltrat paru yang berfluktuasi, dan peningkatan IgE serum. Chronic Pulmonary Aspergillosis (CPA): CPA adalah bentuk aspergillosis yang berlangsung lebih dari tiga bulan, menunjukkan berbagai manifestasi klinis dan CPA sendiri dapat dibagi menjadi lima subkategori: Chronic Cavitary Pulmonary Aspergillosis (CCPA): Juga dikenal sebagai aspergilloma kompleks. CCPA ditandai dengan satu atau lebih kavitas paru yang berisi massa jamur . Chronic Fibrosing Pulmonary Aspergillosis (CFPA): CFPA merupakan bentuk progresif dari CPA, dengan fibrosis paru yang luas dan menetap, seringkali menyebabkan penurunan fungsi paru yang signifikan. Aspergilloma Sederhana/Mycetoma Paru: Aspergilloma sederhana adalah formasi massa jamur dalam kavitas paru tanpa tanda-tanda infeksi aktif atau progresif Nodul Aspergillus: Pembentukan nodul atau massa paru yang padat tanpa kavitas. Subacute Invasive Pulmonary Aspergillosis (SIPA): SIPA adalah bentuk invasif aspergillosis yang lebih lambat dan kurang agresif, biasanya terjadi pada pasien dengan imunosupresi moderat. Invasive Pulmonary Aspergillosis (IPA): IPA adalah infeksi Aspergillus yang paling serius, biasanya terjadi pada pasien dengan imunosupresi berat, seperti penerima transplantasi, pasien dengan neutropenia berat, atau pasien yang menerima pengobatan imunosupresif. IPA ditandai dengan invasi jamur ke dalam jaringan paru dan organ lain, seringkali dengan prognosis yang buruk. Pembedaan antara jenis-jenis aspergillosis ini dapat didasarkan pada temuan radiologis, khususnya dengan menggunakan computed tomography (CT) scan toraks. CT scan memainkan peran kunci dalam mengidentifikasi ciri-ciri khas dari masingmasing kondisi, seperti kavitas, massa jamur . , infiltrat, atau tanda-tanda fibrosis paru. Pemahaman yang baik tentang klasifikasi aspergillosis paru ini penting untuk diagnosis yang akurat dan manajemen yang tepat dari pasien dengan infeksi Aspergillus seperti pada gambar 2. JURNAL MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN Vol 34 No 1. Maret 2024 Gambar 2. Jenis Aspergillosis Berdasarkan Riwayat Medis Pasien Dikutip dari . Gambar 3. CT scan toraks (A) Aspergilloma paru sederhana, (B) chronic cavitary pulmonary aspergillosis (CCPA) / Aspergilloma paru kompleks, (C) chronic fibrosing pulmonary aspergillosis (CFPA) dan (D) Nodul Aspergillus. Dikutip dari . Aspergilloma paru kompleks dengan ciri proses penyakit yang lebih agresif dan Kondisi ini selain terdapat kavitas didapatkan juga parenkim paru yang rusak. Kavitas paru berdinding tebal karena infeksi berulang dan disertai kerusakan lobus paru yang luas. Pleura yang berdekatan juga mengalami kerusakan dalam beberapa kasus, sehingga pasien dengan aspergilloma komplek sering mengalami penurunan fungsi Patogenesis Aspergilloma Paru Spektrum klinis penyakit yang disebabkan oleh Aspergillus sp bergantung pada status kekebalan inangnya. Aspergilloma paru merupakan kelanjutan dari chronic pulmonary aspergillosis (CPA) setelah terjadinya paparan berulang oleh konidia pada lesi kavitas yang sudah ada sebelumnya. Aspergillus sp juga ditemukan di dalam JURNAL MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN Vol 34 No 1. Maret 2024 ruangan yang lembab baik di rumah maupun fasilitas kesehatan. Ruangan yang lembab dapat berfungsi sebagai media alami bagi pertumbuhan jamur . , . , . Respons Sistem Imunitas Bawaan Pertahanan alami seperti sistem pembersihan mukosiliar dan refleks batuk mampu dilewati oleh konidia Aspergillus sp. Epitel trakea dan bronkus yang mengalami kerusakan akan menjadi lebih mudah untuk konidia jamur masuk ke saluran pernapasan bagian bawah. Pada pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah beberapa konidia bisa berkembang dan secara metabolik menjadi aktif setelah hilangnya lapisan terluar dari rodlet. Konidia ini kemudian berkembang menghasilkan hifa jamur dan menyebabkan penyakit yang lebih luas . Gambar 4. Respons Sistem Imunitas Bawaan Dikutip dari . Saat konidia Aspergillus sp. yang terhirup masuk ke paru akan berinteraksi dengan berbagai komponen larut pada paru termasuk antibodi, faktor komplemen dan senyawa anti mikroba seperti pada gambar 3. Konidia yang membesar akan mengalami perkecambahan selanjutnya berinteraksi dengan berbagai jenis sel imun bawaan termasuk makrofag alveolar, sel dendritik dan sel natural killer (NK). Perekrutan neutrofil sangat penting untuk pembersihan Aspergillus sp yang efektif dalam menyerang konidia yang berkecambah dan hifa ekstraseluler yang telah terlepas dari pengawasan Neutrofil akan memanfaatkan toll like receptor 2 (TLR. , toll like receptor 4 (TLR. dan dectin-1 untuk mengidentifikasi dan merespons Aspergillus sp. JURNAL MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN Vol 34 No 1. Maret 2024 Respons Sistem Imunitas Adaptif Gambar 5. Respons sistem imunitas adaptif Dikutip dari . Pada respons imunitas adaptif terhadap infeksi Aspergillus sp. terjadi proses pengenalan antigen Aspergillus sp. oleh sel dendritik dan makrofag seperti pada gambar Proses pengenalan ini akan berlanjut diteruskan ke sel T naif di organ limfoid perifer oleh sel dendritik dan makrofag yang selanjutnya akan memicu respons inflamasi dengan respons koevolusi T helper (T. Th 2 dan Th 17. Respon imunitas yang dimediasi oleh sel Th 2 bersama dengan Th 1 dan Th 17 akan memicu inflamasi kronis pada paru menyebabkan CPA dan kerusakan paru yang signifikan. Tanda dan Gejala Klinis Aspergilloma Paru Tanda dan gejala klinis aspergilloma paru secara umum bervariasi mulai dari kasus tanpa gejala hingga hemoptisis masif yang dapat berakibat fatal. Menurut seperempat penduduk dunia telah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis 10% akan berkembang menjadi TB aktif, dan 90% dalam bentuk infeksi TB laten, sekitar 5-10% infeksi TB laten akan berkembang menjadi TB aktif . Gejala klinis lainnya juga tidak spesifik seperti batuk, dispneu, kelemahan umum, demam, penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan. Bentuk aspergillosis paru yang paling sering menyebabkan hemoptisis yaitu aspergilloma paru dan CCPA diikuti oleh IPA. Diagnosis Aspergilloma Paru Diagnosis pasti untuk menegakkan aspergilloma paru adalah berdasarkan pemeriksaan histopatologi yang merupakan standar baku emas, namun jarang Penegakan diagnosis aspergilloma paru yang sering digunakan saat ini adalah dengan kombinasi dari gejala klinis, faktor resiko, pemeriksaan radiologi . oto toraks atau CT Scan torak. serta bukti hasil pemeriksaan serologi atau pemeriksaan mikrobiologi dari Aspergilus sp. Foto toraks Aspergilloma paru sering didapatkan pada lobus superior dikarenakan sebagian besar terjadi pada penderita TB paru. Pada pemeriksaan foto toraks juga ditemukan tanda adanya ruang udara berbentuk bulan sabit yang memisahkan bola jamur dari dinding toraks yang dikenal sebagai Auair cresent signAy seperti pada gambar 5 dan 6. JURNAL MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN Vol 34 No 1. Maret 2024 Gambar 6. Foto toraks menunjukan air cresent sign Computed Tomography Scan (CT Sca. Toraks Computed Tomography Scan (CT sca. toraks dapat membantu menegakkan diagnosis pada kasus aspergilloma paru jika gambaran foto toraks kurang mendukung CT scan bisa memberikan gambaran yang lebih baik dan memiliki beberapa temuan khas dari pasien aspergilloma paru seperti pada gambar 6, yaitu terdapat lesi berbentuk bulat padat di dalam ruang kavitas . Gambar 7. CT scan toraks menunjukan Monod Sign Pemeriksaan Kultur Sputum. Jaringan dan Pemeriksaan Serologi Pemeriksaan lebih lanjut dalam membantu penegakan diagnosis aspergilloma bisa dilakukan dengan pemeriksaan kultur sputum, jaringan, pemeriksaan serologi, dan polymerase chain reaction (PCR). Hal ini disebabkan kultur sputum juga dapat dijumpai dengan hasil negatif pada lebih dari 50% kasus sehingga kadang-kadang dibutuhkan tindakan biopsi dengan video assisted thoracoscopy (VATS) untuk membantu memastikan diagnosis. Pemeriksaan antibodi yang mengendap pada antigen Aspergillus sp. es precipiti. di serum ditemukan pada 95% penderita aspergilloma paru, namun pada beberapa penderita yang menerima kortikosteroid dapat menyebabkan hasilnya sero negatif. Tes presipitin positif sangat membantu dalam membedakan aspergilloma paru dari penyakit paru lainnya seperti kanker paru. Wegener granulomatosis, bekuan darah pada kavitas yang sudah ada sebelumnya, kista hidatid yang pecah dan abses paru. Tindakan biopsi paru dapat dilakukan pada kasus aspergilloma paru jika sangat diperlukan. Pemeriksaan lain untuk membantu penegakan diagnosis adalah pemeriksaan terhadap antigen galaktomanan. JURNAL MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN Vol 34 No 1. Maret 2024 Pemeriksaan antigen galaktomanan yang merupakan komponen polisakarida dinding sel memiliki spesifisitas dan sensitivitas tinggi . Tatalaksana Aspergilloma Paru Algoritma tatalaksana pasien dengan aspergilloma paru yang didiagnosis berdasarkan pemeriksaan radiologi dan pemeriksaan serologi atau mikrobiologi dapat dilihat seperti pada gambar 7. Berdasarkan pedoman dari Infectious Diseases Society of America (IDSA) 2016 tindakan pembedahan adalah tatalaksana utama pada kasus aspergilloma paru. Tatalaksana dengan pemberian obat anti jamur (OAJ) adalah tatalaksana alternatif . Gambar 8. Algoritma tatalaksana pasien dengan aspergilloma paru. Dikutip dari . Tatalaksana Non Operatif Pemberian Obat Anti Jamur Terapi pemberian obat anti jamur (OAJ) pada kasus aspergilloma paru adalah tatalaksana alternatif berdasarkan Infectious Diseases Society of America (IDSA) Pemberian OAJ golongan azol seperti itrakonazol dan vorikonazol memiliki tingkat keberhasilan pengobatan sekitar 53% - 85%. Dosis itrakonazol oral yang digunakan adalah 200 - 400 mg / hari selama 6 - 18 bulan. Obat anti jamur (OAJ) lain yang dianjurkan adalah vorikanazole 150 - 200mg dua kali / hari atau bisa juga posaconazole 300 mg satu kali / hari. Kelemahan yang dimiliki itrakonazol adalah waktu kerja yang lama sehingga hal ini memungkinkan memberikan efek samping serta sering kali terjadi kekambuhan jika obat ini dihentikan . Instilasi obat anti jamur (OAJ) intrakavitas JURNAL MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN Vol 34 No 1. Maret 2024 Pemberian obat anti jamur (OAJ) intra kavitas secara langsung telah dilaporkan sejak tahun 1964 oleh Brouet dkk. Pemberian secara langsung OAJ intra kavitas akan meningkatkan penetrasi langsung terhadap aspergilloma. Penempatan kateter secara akurat dan relatif mudah dipandu dengan CT scan seperti pada gambar 8. Tindakan ini bisa menjadi alternatif yang baik bagi pasien dengan fungsi paru yang terbatas yang tidak dapat dilakukan pembedahan. Gambar 9. Pemberian obat anti jamur secara perkutan langsung ke rongga aspergilloma melalui kateter pigtail. Dikutip dari . Tatalaksana Operatif Hal yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan tindakan pembedahan pada pasien aspergilloma paru adalah pengkajian tentang apakah layak dilakukan operasi atau tidak serta mengantisipasi berbagai komplikasi yang mungkin akan terjadi paska operasi dengan mengevaluasi fungsi paru dan penyakit penyerta. Nilai volume ekspirasi paksa pada satu detik pertama lebih rendah dari 80%, maka pemeriksaan harus dilanjutkan dengan penilaian berikutnya berupa kapasitas konsumsi oksigen puncak pasien saat aktivitas fisik. Nilai prediksi volume ekspirasi paksa satu detik pertama paska operasi dapat dihitung dengan mengetahui jumlah segmen paru yang direseksi pada CT . Pengambilan keputusan reseksi bedah pada Aspergilloma paru sering terhambat akibat kondisi fungsi cadangan paru yang buruk. Alur pendekatan bedah untuk kasus aspergilloma paru dapat dilihat pada gambar 9. Aspergilloma paru yang tidak mungkin dilakukan pembedahan baik reseksi anatomis atau sub-lobar dapat dipertimbangkan untuk tindakan kavernostomi dengan atau tanpa torakoplasti. Gambar 10. Pendekatan bedah untuk kasus aspergilloma. Dikutip dari . Segmentektomi dan Reseksi Anatomis (Lobektomi atau Pneumonektom. Tindakan segmentektomi dilakukan jika seluruh aspergilloma paru dapat dihilangkan dengan reseksi yang lebih kecil untuk melakukan konservasi terhadap paru. Tindakan reseksi anatomi . obektomi atau pneumonektom. biasanya dilakukan untuk aspergilloma sederhana dengan ukuran besar yang menempati hampir seluruh lobus atau untuk aspergilloma kompleks . JURNAL MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN Vol 34 No 1. Maret 2024 Gambar 11. Tindakan lobektomi untuk konfirmasi histopatologi (Tanda panah menunjukan lesi Aspergillom. Dikutip dari . Kavernostomi dan Torakoplasti terbatas Tindakan kavernostomi dan torakoplasti ini diperuntukkan pada pasien aspergilloma kompleks yang berisiko tinggi. Tindakan ini dilakukan pada pasien yang secara fungsional tidak dapat mentolerir reseksi anatomi. Tujuan dari operasi kavernostomi dan torakoplasti terbatas ini adalah untuk mengangkat lesi aspergilloma dengan menutup rongga bronkiolus yang kolaps dengan menghubungkannya melalui apikolisis kemudian melakukan torakoplasti terbatas untuk menghilangkan ruangan yang dihasilkan tersebut . Peran Video Assisted Thoracoscopic Surgery (VATS) pada Aspergilloma paru Video Assisted Thoracoscopic Surgery (VATS) diindikasikan untuk Aspergilloma paru sederhana tanpa fibrosis paru atau kerusakan pleura yang berat dan parenkim paru disekitarnya masih sehat serta tidak adanya kelenjar getah bening di dekat pembuluh Beberapa peneliti menganjurkan VATS karena memberikan beberapa keuntungan bagi pasien dengan mengurangi komplikasi paska operasi seperti mengurangi nyeri dada, memungkinkan pemulihan yang cepat dan durasi rawatan di rumah sakit menjadi singkat . Komplikasi Paska Operasi Komplikasi paska operasi dapat diminimalisir dengan melakukan pemeriksaan yang cermat. Anemia sekunder akibat hemoptisis berulang mungkin memerlukan transfusi darah pra operasi dan bila ada infeksi dapat ditangani dengan pemberian Pasien yang dipersiapkan untuk pembedahan harus dijelaskan prosedur pembedahan dan berbagai kemungkinan komplikasi yang terjadi setelah intervensi serta tindak lanjut fisioterapi pernapasan yang bermanfaat. Komplikasi perdarahan paska pembedahan aspergilloma paru dikaitkan akibat adanya perlengketan pleura yang berat dan kalsifikasi kelenjar getah bening yang membuat diseksi elemen bronkus dan pembuluh darah menjadi sulit . SIMPULAN Indonesia masih menghadapi tingginya kasus tuberkulosis (TB) dengan permasalahan tambahan, seperti infeksi jamur terutama aspergilosis pada pasien TB Aspergillus fumigatus merupakan jenis jamur paling umum yang terlibat, khususnya dalam bentuk klinis aspergilloma paru. Diperlukan tatalaksana aspergilloma paru mulai dari pendekatan non operatif dan operatif. DAFTAR RUJUKAN World Health Organization (WHO). AuTBC,Ay Geneva. Nov. Kemenkes RI. AuKasus TBC Tinggi Karena Perbaikan Sistem Deteksi dan Pelaporan,Ay Jakarta. Jan. JURNAL MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN Vol 34 No 1. Maret 2024 Li. Lu, and G. Meng. AuPathogenic Fungal Infection in the Lung,Ay Front Immunol, vol. Jul. 2019, doi: 10. 3389/fimmu. Rozaliyani. Jusuf. Priyanti. Burhan, and D. Handayani. AuInfeksi Jamur Paru di Indonesia-Situasi aat Ini dan Tantangan di Masa Depan,Ay J Respir Indo, no. 39, pp. 210Ae 14, 2019. Wahyuningsih et al. AuSerious fungal disease incidence and prevalence in Indonesia,Ay Mycoses, vol. 64, no. 10, pp. 1203Ae1212. Oct. 2021, doi: 10. 1111/myc. Hasibuan and K. Hasibuan. AuTatalaksana Aspergilloma pada bekas TB paru,Ay Human Care Journal, vol. 6, no. 3, p. Sep. 2021, doi: 10. 32883/hcj. Soedarsono and E. Widoretno. AuAspergilloma pada Tuberkulosis Paru,Ay Jurnal Respirasi, vol. 3, no. 2, p. Apr. 2019, doi: 10. 20473/jr. v3-I. Lang. Lang. Chauhan, and A. Gill. AuNon-surgical treatment options for pulmonary aspergilloma,Ay Respir Med, vol. 164, p. Apr. 2020, doi: 1016/j. Soewondo. Kusumaningrum. Hanafi. Adiputri, and P. Hayuningrat. AuCoexisting active pulmonary tuberculosis with aspergilloma in a diabetic patient: A rare case report,Ay Radiol Case Rep, vol. 17, no. 4, pp. 1136Ae1142. Apr. 2022, doi: 1016/j. Kosmidis and D. Denning. AuThe clinical spectrum of pulmonary aspergillosis,Ay Thorax, vol. 70, no. 3, pp. 270Ae277. Mar. 2015, doi: 10. 1136/thoraxjnl-2014-206291. Chakraborty R. K and Krishna M. AuAspergilloma,Ay 2022. Moodley. Jehron, and D. Keertan. AuAspergilloma and the surgeon,Ay J Thorac Dis, vol. 6, no. 3, pp. 202Ae209, 2014. -N. Su. Qiu. -X. Lu. -P. Wu, and G. -X. Cheng. AuClinical Typing of Pulmonary Aspergillosis,Ay in Pulmonary Aspergillosis. Singapore: Springer Singapore, 2019, pp. 17Ae doi: 10. 1007/978-981-13-3435-1_7. Singh. Kanaujia, and S. Rudramurthy. AuImmunopathogenesis of Aspergillosis,Ay in The Genus Aspergillus - Pathogenicity. Mycotoxin Production and Industrial Applications. IntechOpen, 2022. doi: 10. 5772/intechopen. Russo. Tiseo. Falcone, and F. Menichetti. AuPulmonary Aspergillosis: An Evolving Challenge for Diagnosis and Treatment,Ay Infect Dis Ther, vol. 9, no. 3, pp. 511Ae524. Sep. 2020, doi: 10. 1007/s40121-020-00315-4. Harmouchi. Sani. Issoufou. Lakranbi. Ouadnouni, and M. Smahi. AuPulmonary aspergilloma: from classification to management,Ay Asian Cardiovasc Thorac Ann, vol. 1, pp. 33Ae38. Jan. 2020, doi: 10. 1177/0218492319895113. Karbito and S. Maisaroh. AuPrevalensi dan Faktor Risiko Infeksi TB Laten pada Anggota Keluarga Kontak Serumah dengan Pasien TB Aktif,Ay Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, vol. 22, no. 3, pp. 351Ae358. Oct. 2023, doi: 10. 14710/jkli. Senja. Medison, and R. Russilawati. AuAspergilloma Paru. Sebuah Laporan Kasus,Ay Jurnal Kedokteran YARSI, vol. 28, no. 2, pp. 032Ae040. Aug. 2020, doi: 33476/jky. Rozaliyani et al. AuChronic Pulmonary Aspergillosis in Post Tuberculosis Patients in Indonesia and the Role of LDBio Aspergillus ICT as Part of the Diagnosis Scheme,Ay Journal of Fungi, vol. 6, no. 4, p. Nov. 2020, doi: 10. 3390/jof6040318. Bashir et al. AuPulmonary aspergilloma,Ay QJM: An International Journal of Medicine, 113, no. 11, pp. 821Ae822. Nov. 2020, doi: 10. 1093/qjmed/hcaa032. Patterson et al. AuPractice Guidelines for the Diagnosis and Management of Aspergillosis: 2016 Update by the Infectious Diseases Society of America,Ay Clinical Infectious Diseases, vol. 63, no. 4, pp. e1Aee60. Aug. 2016, doi: 10. 1093/cid/ciw326. Petreanu et al. AuMonaldi cavernostomy for lung aspergillosis: A case report,Ay Exp Ther Med, vol. 22, no. 3, p. Jul. 2021, doi: 10. 3892/etm.