Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 Indonesian Journal of Health and Medical ISSN: 2774-5244 (Onlin. Journal Homepage: http://ijohm. org/index. php/ijohm PENERAPAN FISIOTERAPI DADA PADA ANAK DENGAN BRONKOPNEUMONIA DI RSUD ARJAWINANGUN Lesti Azahra*. Ayu Yuliani S. Zaitun3 Program Studi Keperawatan Kampus Cirebon. Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Author: * lestiazahra22@gmail. ABSTRAK Latar Belakang : Tujuan : Mengetahui gambaran karakteristik. Mengidentifikasi penerapan teknik fisioterapi dada, dan Menganalisa perbedaan hasil teknik fisioterapi dada pada anak dengan bronkopneumonia. Metode : Desain yang digunakan yaitu kualitatif dan deskriptif. Pada penelitian ini Subjek yang digunakan yaitu 2 anak dengan usia berbeda, pada subjek 1 . dan subjek 2 . diagnosa medis bronkopneumonia. Hasil : Penelitian menunjukkan hasil dari kedua subjek yaitu ini adanya perbedaan respon sebelum dan Antara waktu pemberian intervensi pada subjek 1 dan 2 berbeda, subjek 1 . dan subjek 2 . Hasil rata-rata penerapan fisioterapi dada pada subjek 1 dan subjek 2 sebelum tindakan pada aspek yang dinilai tidak terjadi perbaikan. Setelah Tindakan terjadi perbaikan pada aspek yang dinilai dalam batas normal kecuali subjek 2 sekret dan batuk ada. Setelah intervensi pada subjek 1 terjadi perubahan pada aspek yang dinilai di hari kedua sedangkan pada subjek 2 pada hari ketiga. Kesimpulan : Penerapan fisioterapi dada pada anak dapat memberikan perbaikan pada status suhu, nadi, respirasi. SaO2, ronkhi, sekret, batuk dalam batas normal. Saran : Hasil penelitian mengenai fisioterapi dada pada anak dengan gangguan sistem pernapasan khususnya bronkopneumonia dapat dijadikan referensi pengetahuan tindakan yang dilakukan secara mandiri. Kata Kunci : Bronkopneumonia. Bersihan Jalan Napas. Anak. Fisioterapi Dada PENDAHULUAN Keperawatan adalah kegiatan pemberian asuhan keperawatan yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik dalam keadaan sakit maupun sehat (Undang-undang no 38 tahun, 2. Keperawatan juga merupakan dasar pemikiran yang harus dimiliki perawat sebagai kerangka dalam berfikir (Risnah dan Irwan, 2. Diatur dalam Undang-Undang no 38 tahun 2014 pasal 29 bahwa perawat memiliki kewenangan dalam memberi asuhan keperawatan yang dapat dilakukan secara mandiri. Dalam pasal 30 juga dijelaskan bahwa tugas sebagai pemberi asuhan keperawatan secara mandiri mencakup untuk melakukan pengkajian, merumuskan diagnosa keperawatan, merencanakan tindakan. Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 melakukan implementasi, serta mengevaluasi tindakan, hingga melakukan rujukan Keperawatan anak merupakan pelayanan kesehatan yang sasarannya yaitu anak. Tujuan dari keperawatan anak diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan bagi anak sebagai dari bagian pelayanan kesehatan di keluarga (Damanik dan Sitorus, 2. Menurut Infodatin Status Kesehatan Anak Di Indonesia tahun 2015 penyakit yang banyak diderita oleh anak yaitu dengan permasalahan dengan status gizi, kurang energi protein, kurang vitamin A. ISPA, pneumonia, demam, dan diare. Kemenkes RI mengemukakan dalam data Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2019 menyebutkan bahwa pneumonia merupakan penyakit menular dengan angka kematian tertinggi pada balita usia 1 bulan - 59 bulan dibandingkan dengan penyakit kelainan saluran cerna, kelainan saraf, malaria, tetanus dan lainnya. Bronkopneumonia sering juga disebut sebagai penyakit AuPandemi yang terlupakanAy karena kurang perhatiannya pada penyakit tersebut. Klasifikasi pneumonia yang banyak terjadi di anak yaitu bronkopneumonia. Berdasarkan hasil data dari Riskesdas . kelompok anak usia 1-4 tahun atau yang sering disebut dengan kelompok usia toddler dan anak usia dibawah 1 tahun . merupakan periode Bronkopneumonia yang tinggi. Gejala yang sering timbul pada anak dengan Bronkopneumonia yaitu seperti sesak nafas karena adanya sekret, demam dengan suhu tubuh >38Ac, adanya bunyi napas tambahan serta terdapat nyeri pada bagian dada dan beberapa bagian tubuh lainnya. Sehingga timbul masalah atau diagnosa keperawatan yang sering muncul dalam penyakit Bronkopneumonia menurut Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 yaitu bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang tertahan, hipertermi berhubungan dengan proses infeksi dan nyeri akut berhubungan dengan peradangan jaringan pleura. Diagnosa utama pada penyakit bronkopneumonia yaitu bersihan jalan nafas tidak Diagnosa tersebut dapat dilakukan dengan intervensi utama keperawatan yaitu manajemen jalan nafas. Intervensinya dapat dilakukan secara terapeutik dan Intervensi secara mandiri seperti pengaturan posisi menjadi semi fowler atau fowler, pemberian minum hangat, fisioterapi dada, dan penghisapan lendir. Selain itu juga dapat dilakukan secara kolaborasi dan edukasi seperti pemberian obat, oksigen dan batuk efektif. Sehingga tindakan fisoterapi dada merupakan golongan tindakan mandiri keperawatan (SIKI, 2. Terapi fisioterapi dada seringkali digunakan sebagai intervensi fisik dan mekanikal yang berperan dalam pelaksanaan pada kelainan respiratori akut dan kronik (Rahajoe, dkk, 2. Fisioterapi dada merupakan kumpulan teknik terapi atau tindakan pengeluaran sekret yang dapat digunakan, baik mandiri, kombinasi, supaya tidak terjadi penumpukan sekret yang mengakibatkan tersumbatnya jalan nafas dan komplikasi penyakit lain sehingga menurunkan fungsi ventilasi paru-paru (Hidayati, 2. Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 Fisioterapi dada terdiri dari kumpulan teknik atau tindakan pengeluaran sputum yang digunakan, baik secara mandiri maupun kombinasi agar tidak terjadi penumpukan sputum yang mengakibatkan tersumbatnya jalan napas dan komplikasi penyakit lain sehingga menurunkan fungsi ventilasi paru-paru (Hidayati, 2. Fisioterapi dada dapat digunakan di berbagai penyakit pernapasan baik yang bersifat akut, kronis maupun neuromuskuler seperti asma. TBC. Inspeksi saluran nafas atas (ISPA). Bronkopneumonia, penyakit paru dan penyakit pada saluran nafas lainnya. Selain itu juga fisioterapi dada dapat digunakan di berbagai usia seperti bayi, anakanak, dan dewasa terutama pada anak usia dibawah usia 1 tahun yang memiliki penyakit pernapasan untuk membantu pengeluaran sekret (Syafiati. Immawati dan Nurhayati, 2. Pelaksanaan fisioterapi dada dapat dilakukan selama 2 kali dalam sehari dengan waktu pemberian setiap 8-12 jam tergantung pada kebutuhan anak. Waktu yang tepat pada pagi sebelum makan / 45 menit sesudah makan dan malam hari menjelang tidur atau sore hari (Rohajoe dkk, 2. Diberikan saat pagi hari dengan tujuan mengurangi sekret yang menumpuk pada malam hari dan saat sore hari untuk mengurangi batuk pada malam hari dengan frekuensi waktu selama 3-5 menit (Melati. Nurhaeni dan Chodidjah, 2. Penerapan fisioterapi dada di beberapa negara sudah diterapkan seperti dalam penelitian Abdelbasset dan Elnegamy . di negara Cairo bahwa tindakan fisioterapi dada dapat menghasilkan perbaikan pernafasan dan saturasi oksigen yang lebih cepat serta lebih besar pada responden yang sudah diberikan tindakan fisioterapi dada pada anak dengan masalah bersihan jalan napas. Selain itu juga hasil dalam penelitian Maidartati . yaitu setelah penerapan tindakan fisioterapi dada pada anak usia 1-5 tahun dapat menurunkan frekuensi napas dan membersihkan jalan napas. Dalam penelitian Astuti & Dewi . tindakan fisioterapi dada yang dilakukan pada anak usia dibawah 1 tahun didapatkan hasil bahwa untuk melihat perubahan pengeluaran sputum dan status respiration rate menurun setelah penerapan intervensi memerlukan waktu kurang lebih 3 hari. METODE Desain yang digunakan oleh peneliti untuk penelitian ini yaitu kualitatif. Metode kualitatif merupakan prosedur yang dilakukan untuk menghasilkan data deskriptif sederhana berupa kata-kata atau lisan dari seseorang dan perilaku yang dapat Metode kualitatif ini membahas mengenai perspektif partisipan dengan strategi yang bersifat interaktif dan fleksibel (Siyoto dan Sodik, 2. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pendekatan studi kasus merupakan suatu model dari suatu rancangan penelitian. Studi kasus ini akan membahas mengenai masalah yang dialami responden untuk dianalisis secara mendalam baik yang berhubungan dengan keadaan kasus, faktorfaktor yang mempengaruhi, kejadian khusus yang berhubungan dengan kasus, maupun respon dari intervensi yang diberikan yaitu fisioterapi dada. Pada penelitian ini peneliti menggunakan 2 subjek dengan diagnosa medis yang sama dan Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 menerapkan intervensi yang sama. Selanjutnya membandingkan respon dari 2 subjek dengan kesenjangan peneliti sebelumnya. Subjek penelitian yang digunakan awal proposal peneliti merencanakan subjek usia toddler . -3 tahu. , pada saat penelitian, subjek mengalami perubahan menjadi 2 subjek dengan usia toddler . -3 tahu. dan bayi . -12 bula. dengan diagnosa medis yang sama yaitu Bronkopneumonia dengan kondisi sadar dan keluarga anak bersedia menjadi responden yang diberikan intervensi fisioterapi dada. Ada juga beberapa kondisi yang menjadi kontraindikasi dari fisioterapi dada seperti tension pneumotoraks, aritmia jantung dan fraktur. Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dalam penyusunan penelitian diantaranya : Wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisa data dalam penelitian ini dilakukan saat peneliti melakukan pengumpulan data hingga seluruh data Analisa data adalah sekumpulan teknik yang terdiri atas reduksi data . engumpulkan dan memilah dat. , display atau penyajian data, dan konklusi atau verifikasi (Hidayat, 2. Dalam penelitian ini peneliti menganalisa data dengan melakukan pengkajian pada dua subjek dengan diagnosa medis yang sama yaitu Bronkopneumonia atau dengan diagnosa keperawatan yang sama yaitu bersihan jalan napas tidak efektif diberikan penerapan intervensi fisioterapi dada pada subjek 1 dengan umur 8 bulan . dan subjek 2 21 bulan . Selanjutnya respon subjek dibandingkan sesudah diberikan intervensi fisioterapi dada selama 6 hari pada subjek 1 dan 7 hari pada subjek 2 dengan kesenjangan yang terjadi dibandingkan dengan teori peneliti sebelumnya. Data-data tersebut akan dijabarkan pada opini pembahasan dan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengambilan data dilakukan di RSUD Arjawinangun Jalan By Pass Palimanan Jakarta Kebonturi. Kecamatan Arjawinangun. Kabupaten Cirebon. RSUD Arjawinangun termasuk ke dalam golongan Rumah Sakit Kelas B. Pelayanan yang terdapat di RSUD Arjawinangun antara lain perawatan rawat inap, rawat jalan . IGD 24 jam, farmasi, laboratorium. Gambaran Subjek Studi Kasus Tempat pengambilan sampel yang digunakan dari ruangan rawat inap Ade Irma Suryani dengan 18 ruangan yang terdiri dari kelas 1, kelas 2 dan kelas 3. Subjek yang diambil sebanyak 2 sampel diambil dari ruangan kelas 2 dan kelas 3. Subjek dalam studi kasus ini diambil 2 sampel. Data yang diambil dari sampel yaitu dengan keluhan gangguan sistem pernapasan dengan diagnosa medis bronkopneumonia dan masalah keperawatan bersihan jalan napas dengan gejala batuk, pilek, sesak, bunyi napas tambahan Subjek yang diambil dalam penelitian ini dengan usia yang berbeda. Pada subjek 1 . dan subjek 2 . Tindakan yang diberikan untuk fokus dalam menangani keluhan peneliti mengambil tindakan fisioterapi dada dengan dibandingkan respon hasil dari tindakan tersebut. Data diambil melalui teknik wawancara dan observasi. Hasil didapatkan melalui respon subjek dari sebelum dan Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 sesudah intervensi. Adapun hasil dari pemeriksaan pada subjek 1 dan subjek 2 sebagai berikut: Subjek 1 Subjek 1, jenis kelamin laki-laki berumur 8 bulan . dan diagnosa medis bronkopneumonia disertai kejang demam. Masuk ruang rawat tanggal 19 mei 2022. Tanggal pengkajian 20 mei 2022. Keluhannya yaitu batuk dengan dahak yang sulit dikeluarkan disertai kejang demam. Hasil anamnesa anak mengalami demam, batuk dahak sulit dikeluarkan dari 4 hari sebelum masuk rumah sakit, disertai takipnea dan Riwayat sakit sebelumnya subjek pernah mengalami demam dan diusia 3 hari baru lahir. Di keluarga tidak ada yang memiliki riwayat penyakit pernapasan. Riwayat imunisasi belum lengkap yang sudah diberikan adalah hb0. BCG. DPT 1 dan DPT 2. Riwayat nutrisi anak mendapatkan asi eksklusif hingga usia 6 bulan dan dilanjutkan dengan susu formula hingga sekarang. Pemeriksaan fisik : Anak batuk, sesak, demam, keadaan umum lemah, sekret di hidung dan mulut, ronkhi pada lapang paru kanan dan kiri, menggunakan otot bantu napas, takipnea, ekstermitas lemah. Frekuensi RR 65x/mnt. Nadi 170x/mnt. Suhu 38,9. SP02 95%. Pemeriksaan 22-05-2022. 11,8. 9,8. hematokrit 30,7. Rontgen thorax tanggal 22-05-2022: Bronkopneumonia bilateral. Subjek 2 Subjek 2, jenis kelamin perempuan umur 21 bulan . , diagnosa medis bronkopneumonia masuk ruang rawat inap tanggal 24 mei 2022 dan langsung dilakukan pengkajian. Keluhannya yaitu batuk, demam dan sesak. Hasil anamnesa anak batuk dan sesak sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit disertai demam dan mual muntah saat malam sebelum masuk ke rumah sakit. Riwayat penyakit sebelumnya saat usia 10/11 bulan dengan penyakit dan keluhan yang sama. keluarga tidak ada yang mengalami riwayat penyakit pernapasan. Imunisasi sudah Pemenuhan nutrisi asi ekslusif hingga umur 6 bulan dan disertai mpasi hingga usia sekarang. Pemeriksaan fisik:Anak batuk, demam, sesak, keadaan umum lemah, terpasang O2 2 L/mnt, ada sekret di hidung dan mulut, ada cuping hidung, ronkhi pada lapang paru kanan dan kiri, menggunakan otot bantu napas, takipnea, nyeri dada, ekstermitas lemah, frekuensi TTV Nadi 122x/mnt. Suhu 38,6. 36x/mnt. SPO2 88%. Pemeriksaan penunjang:laboratorium tanggal 24-05-2022:leukosit 11,2. hemoglobin 10,4. trombosit 298, hematokrit 33,5. Rontgen thorax tanggal 24-052022 : Tidak tampak spesifik proses aktif ataupun pneumonia, tidak tampak pembesaran jantung Pemaparan Hasil Intervensi Fisioterapi Dada Hasil Identifikasi penerapan Fisioterapi Dada Data hasil pengamatan pada sebelum dan sesudah intervensi fisioterapi dada dapat dilihat pada tabel 1 : Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 Tabel 1 Sebelum intervensi Subjek Aspek Yang Suhu Nadi Napas SaO2 Ronkhi Ronkhi Ronkhi Ronkhi Ronkhi Ronkhi Tidak Subjek 1 Sebelum Intervensi Fisioterapi dada Pertemuan Ke Sekret Subjek 2 Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Batuk Ada Ada Ada Ada Ada Ada Takipnea Ada Ada Suhu Nadi Napas SaO2 Ronkhi Ronkhi Ronkhi Ronkhi Ronkhi Ronkhi Ronkhi Ronkhi Sekret Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Batuk Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Takipnea Ada Ada Ada Tabel 2 Sesudah intervensi Subjek Sesudah Intervensi Fisioterapi Dada Pertemuan ke Aspek Yang Subjek 1 Suhu Nadi Napas Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 SaO2 Ronkhi Ronkhi Ronkhi Ronkhi Samar Samar Tidak Sekret Tidak Keluar Keluar Sedikit Batuk Ada Tidak Ada Ada Ada Ada Tidak Subjek 2 Takipnea Ada Suhu Nadi Napas SaO2 Ronkhi Ronkhi Ronkhi Ronkhi Ronkhi Ronkhi Samar Tidak Sekret Tidak Tidak Sedikit Sedikit Batuk Ada Ada Ada Ada Takipnea Ada Ada Sedikit Tidak Tidak Ada Jarang Jarang Subjek 1 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa sebelum dan sesudah intervensi terjadi Sebelum intervensi didapatkan hasil : Pada hari ke-1 dan ke-2 terjadi penurunan pada suhu, nadi, napas dan peningkatan SaO2 walaupun tidak Bunyi nafas tambahan serta keluhan batuk dan takipnea masih ada. Pada hari ke-3 terjadi perubahan yang signifikan pada aspek yang dinilai dalam batas Pada hari ke-4 terjadi perbaikan pada aspek yang dinilai. Pada hari ke-5 dan ke-6 tanda-tanda vital dalam batas normal, dan di hari ke-6 sekret sudah tidak ada. Setelah pemberian intevensi didapatkan hasil : Pada hari ke-1 tidak terjadi perubahan yang signifikan pada aspek yang dinilai. Pada hari ke-2 dan ke-3 terjadi perubahan tanda-tanda vital dalam batas normal, ada ronkhi, sekret keluar, masih ada batuk, dan tidak ada takipnea. Pada hari ke-4 dan ke-5 tanda-tanda vital dalam batas normal, ronkhi samar, sekret keluar, batuk dan takipnea tidak ada. Pada hari ke-6 tanda-tanda vital normal dan keluhan sudah tidak ada. Subjek 2 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa terjadi perbaikan sebelum dan sesudah intervensi pada aspek yang dinilai. Sebelum intervensi didapatkan hasil : Pada hari Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 pertama, kedua, dan ketiga terjadi penurunan pada suhu, nadi, napas dan peningkatan SaO2 walaupun tidak siginifikan. Bunyi napas tambahan serta keluhan batuk dan takipnea masih ada. Pada hari ke-4 terjadi perubahan tanda-tanda vital secara signifikan dalam batas normal dan keluhan bunyi napas, sekret batuk dan takipnea berkurang. Pada hari ke-5, ke-6 dan ke-7 tanda-tanda vital dalam batas normal, takipnea sudah tidak ada, batuk dan sekret berkurang. Sesudah intervensi didapatkan hasil : Pada hari pertama dan kedua terjadi perbaikan tanda-tanda vital namun tidak signifikan, ronkhi, sekret tidak keluar, ada takipnea. Pada hari ke-3, ke-4 dan ke-5 mulai terjadinya perubahan tanda-tanda vital dalam batas normal, sekret keluar, ada ronkhi dan takipnea tidak ada. Pada hari 6 dan ke 7 tanda-tanda vital normal, ronkhi samar dan tidak ada, sekret tidak keluar dan batuk sudah jarang. Dari data kedua subjek diatas selama penerapan fisioterapi dada diatas peneliti membuat rata-rata dari kategori respirasi, nadi, suhu. SaO2, sekret, batuk, bunyi napas tambahan. Hasil rata-rata sebelum dan sesudah fisioterapi dada selama pelaksanaan ini dapat dilihat tabel 3 Aspek Suhu Nadi Respirasi SaO2 Ronkhi Sekret Batuk Takipnea Tabel 3 Hasil Identifikasi penerapan Fisioterapi Dada Subjek 1 Subjek 2 Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Tindakan Tindakan Tindakan Tindakan Rata-Rata Selama 6 Hari Rata-Rata Selama 7 Hari Intervensi Intervensi Ada Tidak ada Ada Tidak ada Ada Tidak ada Ada Ada Ada Tidak ada Ada Ada Ada Tidak ada Ada Tidak ada Data tabel diatas adalah data dari hasil observasi selama subjek dirawat kemudian dibuat rata-rata dari hasil tersebut. Pada subjek 1 dilakukan fisioterapi dada selama 6 hari dengan frekuensi Tindakan 1x/hari. Pada subjek 2 dilakukan fisioterapi dada selama 7 hari dan dilakukan 1x/hari. Berdasarkan tabel bahwa ada beberapa perubahan yang terjadi sebelum dan sesudah selama intervensi fisioterapi dilakukan. Pada tabel diatas hasil yang menunjukan sebelum dan sesudah yang signifikan adalah untuk perubahan respirasi karena data yang lain menunjukkan pada arah Pada subjek 1 terjadi perubahan suhu, nadi, respirasi. SaO2, bunyi napas tambahan, sekret, batuk pada arah perbaikan. Sementara pada subjek 2 aspek yang menjadi penilaian untuk suhu, nadi, respirasi. SaO2, bunyi napas tambahan terjadi perubahan yang signifikan. Tetapi untuk sekret dan batuk masih ada keluhan setelah intervensi fisioterapi dada. Hasil studi kasus pada 2 subjek tentang penerapan fisioterapi dada pada anak dengan gangguan sistem pernapasan diperoleh hasil adanya perubahan tanda-tanda Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 vital dan keluhan batuk serta sesak antara sebelum dan sesudah dilakukan fisioterapi Subjek yang digunakan pada penelitian ini yaitu anak dengan usia 8 bulan . dan 21 bulan . dengan diagnosa medis bronkopneumonia yang diberikan intervensi fisioterapi dada. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian Syafiati. Immawati dan Nurhayati . bahwa Fisioterapi dada dapat digunakan di berbagai penyakit pernapasan seperti asma. TBC. Inspeksi saluran napas atas (ISPA). PPOK. Bronkopneumonia. Selain itu juga fisioterapi dada dapat digunakan di berbagai usia seperti bayi, anak-anak, dan dewasa terutama pada anak usia dibawah usia 5 tahun yang memiliki penyakit pernapasan untuk membantu pengeluaran sekret. Karakteristik anak dengan bronkopneumonia pada subjek 1 dan 2 didapatkan hasil anak mengeluh batuk sulit dikeluarkan, napas cepat, demam, dan adanya bunyi napas tambahan . sesuai dengan indikasi dari tindakan fisioterapi dada yang berdasarkan teori Rahajoe, dkk . Waktu penerapan fisioterapi dada yang dianjurkan dalam buku Raharjoe . mengenai waktu pemberian fisioterapi dada yang baik yaitu pada anak setiap 8-12 jam, tergantung dengan kondisi kebutuhan anak 2x dalam sehari untuk waktu yang tepat dilakukan fisioterapi dada ini adalah setiap pagi hari yaitu sebelum atau 45 menit sebelum sarapan pagi dan 45 Ae 60 menit setelah sarapan pagi dan pada malam hari menjelang tidur. Namun dalam penelitian ini berbanding terbalik diberikan 1x sehari baik pada subjek 1 . 00 sehabis neb. dan 2 (Pukul 14. 00 sehabis neb. karena keterbatasan kondisi subjek seperti kurangnya kooperatif selama pelaksanaan, waktu pemberian makan dari makan pagi ke siang ke malam yang berdekatan, dan menyesuaikan kebutuhan subjek. Tahap prosedur pelaksanaanya seperti dalam buku Hidayati . Kyle & Carman . Rahajoe . yang terdiri dari tahap orientasi, tahap kerja berupa rangkaian kegiatan seperti memberikan minum air hangat, auskultasi bagian thorax untuk mengetahui letak sekret, memberikan posisi sesuai sekret atau postural drainage dan dilakukan dengan dipangku, perkusi 25 kali dalam 10 detik, pada neonatus dapat menggunakan alat tambahan cpt cup dan vibrasi dengan jumlah 3-5 kali getaran yang dapat menggunakan 1 atau 2 tangan dan dibatukkan serta tahap terminasi yang sejalan dengan prosedur pelaksanaan pada penelitian ini. Ada persamaan letak sekret pada kedua subjek yaitu pada segmen superior paru sehingga anak diposisikan tengkurap dan dipangku oleh orang tua ataupun peneliti. Namun pada subjek ke-2 dihari ke-7 posisi postural drainage tidak diposisikan dalam pangkuan orang tua maupun peneliti dikarenakan anak menolak memilih untuk langsung ditempat tidur yang sejalan dengan penelitian Melati. Nurhaeni dan Chodidjah . yang dilakukan pada anak usia toddler dengan diposisikan langsung ditempat tidur. Pekusi dan vibrasi dilakukan secara bersamaan dan kedua subjek memiliki persamaan letak sekret di pada bagian bronkus superior maka di perkusi dan vibrasi pada bagian lebar bahu di masing-masing sisinya. Perkusi yang dilakukan juga sesuai dengan teori dengan menggunakan tangan . idak dengan ala. Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 selama 25 kali dalam 10 detik. Kedua subjek juga diterapkan vibrasi oleh 1 tangan dikarenakan kedua subjek memiliki badan yang kecil. Hasil dari penerapan fisioterapi dada pada subjek 1 sebelum dilakukan terdapat hasil tanda-tanda vital mengalami peningkatan, batuk sulit dikeluarkan, ronkhi, dan Selain itu juga subjek 1 tidak ada riwayat penyakit bronkopneumonia Setelah pemberian fisioterapi dada selama 6 hari tanda-tanda vital dan keluhan ronkhi, batuk, dan sesak teratasi. Pada hari ke-1 tidak terjadi perubahan yang signifikan dalam aspek yang dinilai yaitu suhu, nadi, respirasi 61x/mnt . SaO2, ronkhi, sekret tidak keluar, dan masih ada batuk. Peneliti menduga hal ini terjadi dikarenakan anak yang belum di nebu, belum kooperatif dan beradaptasi dengan fisioterapi dada. Hari ke-2 suhu turun dikarenakan anak saat demam dikompres disertai obat. Setelah dilakukan fisioterapi dada frekuensi nadi terjadi penurunan menjadi 160x/mnt, napas 49 x/mnt. SaO2 98x/menit, sekret keluar, namun ronkhi dan batuk masih ada. Terjadi perbaikan ini dikarenakan anak telah diberikan nebulizer dan Namun oksigen dilepas setelah dilakukannya nebulizer 1x24 jam. Pada hari ke-3 dan ke-4 setelah dilakukan fisioterapi dada frekuensi ttv, ronkhi, sekret, dan batuk mengarah perbaikan. Peneliti menduga hal ini terjadi dikarenakan orang tua mengikuti arahan dari peneliti untuk memposisikan anak semi fowler dan minum air hangat sehingga sekret keluar lebih efektif disertai dengan terapi nebulizer. Subjek telah diijinkan untuk pulang. Pada hari ke-5 dan ke-6 dilakukan kunjungan rumah. Hari ke-5 frekuensi nadi, napas. SaO2 sebelum dan setelah dalam batas normal. Ronkhi, batuk masih ada, dan sekret keluar sedikit setelah dilakukannya fisioterapi Pada hari ke-6 setelah dilakukan fisoterapi dada frekuensi ttv dalam batas normal, tidak ada ronkhi, batuk tidak ada dan sekret sudah tidak keluar. Peneliti menyimpulkan pada hari ke-6 ini menganggap bahwa fisioterapi dada telah diselesaikan dan masalah teratasi. Lama pemberian fisioterapi dada ini sejalan dengan penelitian Astuti dan Dewi . tindakan fisioterapi dada yang dilakukan pada anak usia dibawah 1 tahun didapatkan hasil bahwa untuk melihat perubahan pengeluaran sputum dan status respiration rate menurun setelah penerapan intervensi memerlukan waktu 3 hari dengan frekuensi pemberian 2x/hari dan mulai terjadi perbaikan tanda-tanda vital dalam batas normal dan keluhan menurun pada hari kedua. Peneliti menduga anak lebih lama mengalami keluhan tersebut disebabkan oleh imunisasi yang belum lengkap, belum maturnya organ-organ tubuh, pemberian intervensi menjadi 1 hari/1x dan juga faktor lingkungan dari sekitar dan sejalan dengan teori Van dan Huijts . dan Kemenkes RI . bahwa Imunisasi juga dapat menjadi salah satu faktor penyebab anak mengalami bronkopneumonia. Pemberian terapi nebulizer juga dapat mempengaruhi dalam pengeluaran sekret seperti pada penelitian Sena Sentriana . dengan hasil pemberian nebulizer pada usia dibawah 1 tahun dengan anak kooperatif dapat membantu dalam pengeluaran dahak. Hasil penerapan fisioterapi dada pada subjek 2 sebelum dilakukan fisioterapi dada tanda-tanda vital mengalami peningkatan, batuk sulit dikeluarkan, ronkhi, dan Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 Setelah pemberian fisioterapi dada selama 7 hari tanda-tanda vital dan keluhan ronkhi, batuk, dan sesak menurun. Anak terpasang oksigen hingga 3 hari di rawat inap. Pada hari pertama dan kedua terjadi perbaikan tanda-tanda vital namun tidak signifikan, ronkhi, sekret tidak keluar, ada takipnea dengan respirasi hari ke-1 setelah tindakan 34 dan respirasi hari ke-2 setelah tindakan 31 dan belum dalam batas normal. Hal ini terjadi karena subjek kurang kooperatif selama pelaksanaan, kadang-kadang mengganggu teknik yang diberikan dan menyebabkan stress pada Selain itu juga anak kurang nyaman dengan copot pasangnya oksigen dan pemberian terapi nebulizer yang diberikan 3x/24 jam namun pemasangan oksigen dan pemberian nebu tidak sesuai dengan anjuran dikarenakan anaknya melepaskan selang oksigen dan orang tua yang menolak di hari awal untuk di nebu sehingga nebu tidak diberikan 3x/24 jam sesuai dengan anjuran dokter. Hari ke-3, ke-4 dan ke-5 tanda-tanda vital dalam batas normal, sekret keluar, ronkhi dan takipnea tidak ada. Terjadinya perubahan tanda-tanda vital dan pengeluaran sekret ini kemungkinan disebabkan anak yang mulai kooperatif saat tindakan, terlaksananya terapi nebulizer sesuai jadwal, mengikuti arahan dari peneliti untuk minum air hangat dan diposisikan semi fowler dan pada hari ke-3 tidak terpasang selang oksigen dikarenakan respirasi anak dalam batas normal. Namun saat hari ke-5 orang tua subjek meminta diberhentikannya terapi nebu dan menandatangani pulang paksa. Pada hari 6 dan ke 7 pelaksanaan fisioterapi dada dilakukan dengan kunjungan rumah. Hari ke-6 didapatkan hasil tanda-tanda vital normal, ronkhi samar, sekret tidak keluar dan batuk sudah jarang. Dikarenakan kondisi subjek yang belum membaik maka peneliti memperpanjang penerapan fisioterapi dada di hari ke-7 dengan hasil pada aspek yang dinilai dalam batas normal kecuali sekret dan batuk yang masih ada. Hal tersebut berbanding terbalik dengan penelitian Melati. Nurhaeni dan Chodidjah . mengatakan bahwa terapi fisioterapi dada pada anak toddler . -3 tahu. dapat mempengaruhi status heart rate (HR). RR dan SaO2 dengan perbedaan nilai HR. RR dan SaO2 sebelum dan sesudah tindakan dan mengalami perubahan pada hari ke-2 dan pemberian intervensi fisoterapi dada 3 hari dengan frekuensi 2x/hari. Peneliti menduga hal ini terjadi karena tidak terlaksananya terapi dirumah sakit sesuai anjuran sehingga ronkhi masih terdengar samar, batuk masih ada namun jarang yang disebabkan jika minum tidak air hangat, posisi tidak semi fowler seperti yang peneliti anjurkan dan serta subjek memiliki riwayat penyakit bronkopneumonia dengan keluhan yang sama pada umur 10/11 bulan dan dirawat di rumah sakit selama 3 hari sehingga peneliti menduga pada subjek 2 kurang efektifnya fisioterapi dada dan terjadi perbaikan dalam TTV serta keluhan batuk, sesak dan bunyi napas tambahan disebabkan oleh kurang kooperatifnya anak dan orang tua dalam pemberian terapi fisioterapi dada serta terapi penunjang yang diberikan dari rumah Selain itu juga riwayat penyakit bronkopneumonia sebelumnya menjadikan salah satu faktor penyebab lebih lama dalam proses pemulihan. Pengeluaran sekret pada subjek 1 lebih cepat dibanding subjek 2 dikarenakan umur relatif lebih muda . daripada subjek 2 . yang memungkinkan Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 untuk lebih mudah dalam mengikuti terapi yang diberikan. Kurang kooperatifnya anak pada usia toddler sesuai dengan hasil penelitian Enarson dan Gie . menjelaskan bahwa nilai TTV kurang signifikan karena anak-anak sulit bekerjasama dengan peneliti pada usia lebih dari 12 bulan sehingga kadang-kadang mengganggu teknik yang diberikan dan menyebabkan stress. Santos . juga upaya yang dilakukan meminta orang tua untuk membantu menenangkan anak dengan digendong dan jalan-jalan disekitar ruangan atau memberikan distraksi melalui mainan yang disukai dan membuat anak merasa Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Gonzalves . dimana hasil penelitiannya terdapat peningkatan SaO2 secara signifikan tetapi ada penurunan HR walau tidak bermakna. Namun penelitian tersebut tidak menjelaskan alasan mengapa nilai HR yang didapatkan tidak signifikan. Penelitian yang dilakukan pada subjek 1 dilakukan selama 6 hari dan pada subjek 2 selama 7 hari berturut-turut ini menjelaskan bahwa pada pertemuan pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh ada satu subjek pada subjek ke-2 mendapatkan hasil yang tidak signifikan dan sekret kurang maksimal keluar namun secara umum pada akhir pengukuran TTV mengalami penurunan sementara SaO2 mengalami peningkatan dalam batas normal. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa ada hubungan positif antara fisioterapi dada terhadap status pernapasan HR dan SaO2 yang sejalan dengan penelitian Mardiyanti . menjelaskan secara umum pada akhir dalam pengukuran TTV mengalami penurunan dan SaO2 mengalami peningkatan dalam batas normal pada anak yang berumur di bawah dua tahun yang dilakukan fisioterapi pada anak dengan gangguan sistem pernapasan di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta. Indrayeni . juga menjelaskan ada hubungan positif antara fisioterapi dada terhadap perubahan status pernapasan walaupun hasil dari penelitian ini didapatkan perubahan yang tidak terlalu signifikan diakarenakan berbagai faktor seperti anak yang kurang kooperatif, pengetahuan orang tua mengenai tindakan dan penolakan terhadap terapi penunjang lainnya. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan mengenai perbandingan mengenai aspek yang dinilai sebelum dan sesudah penerapan fisioterapi dada pada subjek dapat disimpulkan Waktu penerapan fisioterapi dada yang diberikan 1x sehari pada kedua subjek. Persamaan letak sekret pada kedua subjek yaitu pada segmen superior paru sehingga anak diposisikan tengkurap dan dipangku oleh orang tua ataupun Perkusi dan vibrasi dilakukan secara bersamaan dan kedua subjek memiliki persamaan letak sekret di pada bagian bronkus superior maka di perkusi dan vibrasi pada bagian lebar bahu di masing-masing sisinya. Perkusi yang dilakukan juga sesuai dengan teori dengan menggunakan tangan . idak dengan ala. selama 25 kali dalam 10 detik. Kedua subjek juga diterapkan vibrasi oleh 1 tangan dikarenakan kedua subjek memiliki badan yang kecil. Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 Hasil aspek yang dinilai bahwa indikator dari data yang diobservasi yaitu suhu, nadi, napas. SaO2, keluhan batuk, bunyi nafas tambahan, dan takipnea adanya perbaikan dalam rentang batas normal. Pada subjek 1 sebelum dilakukan fisioterapi dada TTV abnormal dan keluhan batuk masih ada serta sesudah dilakukan fisioterapi dada selama 6 hari berturut-turut TTV dalam batas normal sesuai usianya dan keluhan batuk teratasi Pada subjek 2 sebelum dilakukan fisioterapi dada TTV abnormal dan keluhan batuk masih ada serta sesudah dilakukan fisioterapi dada selama 7 hari berturutturut TTV dalam batas normal dan keluhan membaik. Hasil yang didapatkan setelah dilakukan fisioterapi dada pada subjek 1 lebih cepat dibandingkan subjek 2 disebabkan oleh faktor usia. Riwayat penyakit bronkopneumonia, serta kooperatifnya anak dan orang tua dalam tindakan fisioterapi dada maupun terapi penunjang yang diberikan dari rumah sakit. Terdapat perbedaan hasil setelah dilakukan fisioterapi dada dimana subjek-1 terjadi perubahan pada hari kedua dan subjek-2 terjadi perubahan pada hari DAFTAR PUSTAKA