E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 032-050 Preferensi Konsumen Terhadap Kue Wingko Babat Produksi UMKM di Lamongan Umi Khoiriah*. Elys Fauziyah Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Trunojoyo Madura. Indonesia Corresponding author: umikhoiriahdua@gmail. Abstrak UMKM Wingko Babat merupakan salah satu UMKM yang memproduksi makanan tradisional dan diproduksi oleh industri rumah tangga di Wilayah Kecamatan Babat tepatnya di Kabupaten Lamongan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan UMKM Wingko Babat adalah dengan memperhatikan preferensi konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi konsumen terhadap produk wingko buatan UMKM di Lamongan dan menganalisis atribut yang dianggap penting dalam membeli produk wingko. Sampel dalam penelitian ini 96 orang, yang diambil dengan menggunakan metode accidental sampling. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis konjoin untuk menilai preferensi Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelian wingko babat, atribut yang menjadi preferensi yaitu produk wingko dengan harga Rp. Rasa Original/kelapa. Ukuran besar . , kemasan alumunium foil, tekstur lunak, diferensiasi wingko basah, bentuk bulat pipih dan layanan penjualan pesan antar. Kata kunci: wingko babat, konjoin, preferensi konsumen. UMKM Abstract Wingko Babat MSME is one of the MSMEs that produces traditional food, which is mostly produced by home industries in the Babat District area, specifically in Lamongan Regency. One effort that can be made to develop Wingko Babat MSMEs is to pay attention to consumer This research aims to analyze consumer preferences for wingko products made by MSMEs in Lamongan and analyze the attributes that are considered important in purchasing wingko products. The sample in this study was 96 people, taken using the accidental sampling method. The analytical tool used in this research is conjoint which is used to assess consumer preferences. The results of the research show that when purchasing wingko tripe, the preferred attributes are wingko products with a price of Rp. 2000, original/coconut taste, large size . , aluminum foil packaging, soft texture, wet wingko differentiation, flat round shape and sales service delivery order. Keywords: wingko babat, konjoin, preference consumer. UMKM Pendahuluan Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memiliki peranan dalam pertumbuhan dan pembangunan ekonomi nasional, sehingga pemberdayaan UMKM saat ini dapat mendorong perekonomian nasional. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) pada Maret 2021, jumlah UMKM mencapai 64,2 juta dengan E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 032-050 kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 61,07% atau senilai Rp. triliun (Damayanti et al. , 2. UMKM juga berkontribusi di ASEAN, dimana sekitar 88,8% sampai 99,9% bentuk usaha di ASEAN adalah UMKM yang menyerap tenaga kerja sebesar 51,7% sampai 97,2% (Apip & Erna, 2. Lamongan merupakan salah satu kabupaten yang tercatat memiliki 7. 635 UMKM yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan adanya indeks pertumbuhan perekonomian di Lamongan dari -2,43% menjadi 5,56%. Lamongan menempati posisi keempat sebagai kabupaten dengan jumlah UMKM terbanyak di Provinsi Jawa Timur dengan total mencapai 43,740 usaha. Sebagian besar UMKM di daerah ini adalah usaha di bidang pembuatan jajanan tradisonal yaitu wingko. Wingko merupakan jajanan tradisional yang terbuat dari tepung ketan yang dicampur dengan parutan kelapa muda dengan rasanya yang khas dan gurih (Lazuardi & Eviana, 2. Produk wingko babat menjadi produk unggulan daerah lamongan dengan total jumlah UMKM Wingko sebanyak 36 (Fadhillah Putri & Trilaksana, 2. Maskipun UMKM pembuat jajanan tradisional, wingko babat memiliki berbagai inovasi dan ciri khas tersendiri yang membuatnya banyak diminati untuk membuka cabang atau outlet, beberapa UMKM yang memproduksi diantaranya Wingko Kelapa Muda. Wingko 354. Wingko Abdul Aziz. Wingko Arjuno. Wingko Monalisa dan lainnya. Dengan perkembangan inovasi produk yang dilakukan oleh UMKM menjadikan wingko babat sebagai jajanan tradisonal yang diminati masyarakat maupun wisatawan. Permasalahan umum yang terdapat pada UMKM Wingko Babat dan menjadi kelemahannya bersumber dari aspek internal maupun eksternal. Beberapa kendala yang dihadapi oleh UMKM di Lamongan seperti kurangnya kemampuan dalam menginovasikan produk yang dijual, sulitnya menyerap tenaga kerja yang kompeten, dan kurangnya dalam mengakselerasi serta beradaptasi pada lingkungan eksternal yang sering terjadi dalam memenangkan persaingan Pandemi Covid 2019 telah melumpuhkan hampir 70 persen UMKM Wingko Babat. Dalam tiga tahun terakhir, kondisi tersebut berangsur pulih, dengan semakin banyaknya UMKM Wingko Babat yang dapat berproduksi kembali. Namun disisi lain UMKM ini harus bersaing dengan produk-produk camilan kekinian yang berbasis pada jajanan tradisional misalnya serabi toping oreo, mocci es krim, nugget pisang goreng, kue cubit aneka rasa, dan masih banyak lagi. RPJPD (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daera. Kabupaten E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 032-050 Lamongan Tahun 2005-2025 menjelaskan terdapat upaya yang dilakukan untuk mempertahankan eksistensi dan mengembangkan UMKM di Kabupaten ini, salah satunya yaitu Wingko Babat (Purwanti & Suyanto, 2. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperinda. Lamongan menuturkan bahwa hingga saat ini target utama Kabupaten Lamongan dalam pengembangan UMKM yaitu memperluas pasar baik pada pasar dalam negeri 2-maupun luar negeri ekspor (Purwanti & Suyanto, 2. Oleh karena itu, perlu ajakan untuk menyukai makanan tradisional dengan mempertimbangkan perilaku atau preferensi Preferensi konsumen dalam pembelian produk dipengaruhi oleh beberapa faktor, untuk mengetahui hal tersebut perusahaan harus merancang strategi untuk lebih mengetahui tingkat kesukaan konsumen (Fachri et al. , 2. Keputusan pembelian konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu pelayanan, citra/image, kualitas dan lainnya (Leonard & Ferdianand. Preferensi konsumen juga mengacu kepada pilihan suka dan tidak suka terhadap suatu produk (Tamiang, 2. Preferensi konsumen terjadi karena adanya pilihan maupun selera konsumen yang berbeda terhadap atribut-atribut dari suatu produk. Atribut produk merupakan salah satu elemen yang dianggap penting dalam keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen (Artanti, 2. Beberapa atribut yang menempel pada produk makanan yang menjadi presepsi penting konsumen yaitu rasa, aroma, warna, tekstur dan lain-lain (Faradhilla et al. , 2. Persepsi konsumen perlu diketahui oleh produsen untuk dapat meningkatkan kinerja produk yang dinilai oleh konsumen. Oleh karena itu. UMKM Wingko Babat perlu mengetahui keinginan konsumen untuk meningkatkan pembelian Wingko sekaligus menjadikan makanan tradisional Wingko semakin berkembang dan diminati oleh masyarakat maupun wisatawan. Berdasarkan persoalan di atas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi konsumen terhadap produk wingko buatan UMKM di Lamongan dan menganalisis atribut yang dianggap penting dalam membeli produk wingko. Tinjauan Pustaka Daya guna dari suatu produk akan berdampak pada kepuasan konsumen, dan kepuasan tersebut berbeda pada setiap individu yang dapat diukur dengan dua ilmu teori yaitu ordinal dan E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 032-050 kardinal (Humairoh et al. , 2. Pendekatan kardinal yaitu tinggi rendahnya nilai guna suatu barang tergantung pada subjek yang akan memberikan penilaian sedangkan pendekatan ordinal adalah nilai guna yang dapat diukur dan dihitung dengan menggunakan pendekatan relatif melalui order atau rangking misalnya tingkat kepuasan yang diurutkandari rendah, sedang, tinggi (Fradani, 2. Analisis perilaku konsumen dengan menggunakan atribut pertama kali diperkenalkan oleh Kevin Lancaster menggunakan analisis utilitas yang di gabungkan dengan analisis kurva idenferens, dan dikenal dengan pendekatan atribut Tayibnapis & Sundari, . Pendekatan atribut menyebutkan bahwa karateristik produk atau atribut-atribut dari produk menciptakan utility, sehingga konsumen lebih suka pada satu merek tertentu dibandikan merk lain berkaitan dengan atribut yang dimiliki. Utility atau kepuasan konsumen didefinisikan sebagai nilai kegunaan suatu barang serta kepuasan yang didapatkan dari kegiatan konsumsi penggunaan barang maupun jasa yang diharapkan keinginan konsumen dapat terpenuhi melaui produk yang dikonsumsi (Vannia, 2. Usaha Mikro Kecil Menengah atau disingkat UMKM merupakan unit usaha produktif yang berdiri sendiri dikelola oleh perorangan atau badan usaha disemua sektor ekonomi (Kustanto. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia NO. 20 Tahun 2008 tentang UMKM menyatakan definisi UMKM adalah usaha produktif milik orang perorangan dan badan usaha perorangan yang memiliki kriteria usaha mikro yang bukan merupakan anak perusahan (Mahalizikri, 2. UMKM dalam pembangunan ekonomi memiliki peran penting dan solusi dari sistem perekoniman yang sehat, hal ini dikarenakan tingginya angka penyerapan tenaga kerja berkat keberadaan UMKM diberbagai wilayah serta UMKM adalah peluang dengan biaya modal yang relatif rendah dibandingkan dengan industri lainnya (Syal, 2. Preferensi merupakan kepuasan atau pilihan konsumen terhadap suatu produk, barang dan jasa yang akan dibeli (Hayati, 2. Preferensi dapat mencakup berbagai aspek seperti makanan, produk, hobi dan lainnya yang bisa dijadikan kegemaran atau pilihan suka tidak suka dari pribadi seseorang itu sendiri. Preferensi Konsumen berkaitan dengan kesukaan konsumen terhadap produk yang akan dibeli (Febrianti & Ariyani, 2. Preferensi konsumen juga dapat diartikan sebagai selera konsumen itu sendiri. Keputusan suka atau tidak suka dalam membeli E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 032-050 suatu barang atau jasa juga dapat diartikan preferensi konsumen yang dapat mewakili preferensi konsumen dalam memilih produk yang akan dibeli (Anindhita et al. , 2. Preferensi konsumen memiliki tujuan yang merupakan keputusan akhir dalam suatu proses pembelian yang akhirnya menjadi kepuasan konsumen, hal tersebut dapat diasumsikan jika konsumen ketika membeli produk atau jasa membuat pilihannya secara rasional, konsumen akan memaksimalkan kepuasan setelah mereka memiliki . Preferensi konsumen berati kesukaan, pilihan atau segala sesuatu yang lebih disukai oleh konsumen Andriani & Setiawan, . Dalam melakukan keputusan pembelian tentunya konsumen akan membeli berdasarkan apa yang mereka suka atau tidak sukai dan pada prinsipnya konsumen memiliki kebutuhan yang diharapkan dapat memberikan kepuasan . , sehingga untuk memenuhi kebutuhan maupun keingginan tersebut konsumen akan mencari produk yang paling sesuai yang dapat memenuhi kebutuhan secara efektif dan efisien. Pendekatan tersebut berpusat pada konsumen, yang dipandang sebagai ahli yang mengoptimalkan preferensinya. Preferensi konsumen terhadap produk akan mempengaruhi pengambilan keputusan dalam pembelian konsumen, yakni akan menjadi penentu terhadap konsumen yang akan melakukan keputusan pembelian dalam memilih produk (Wardhani et al. Preferensi konsumen dipengaruhi berbagai faktor yang kompleks misalnya merek, kualitas, presepsi harga, tren dan liannya yang dapat mempengaruhi konsumen dalam melakukan keputusan pembelian. Dalam penelitian Sudirjo et al. , . menyebutkan bahwa merek dan produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian Penelitian yang dilakukan oleh Hanifa & Khoiriyah . pada pembelian jajanan tradisional, menggunakan variabel harga, kualitas produk, cita rasa, kemasan, penampilan, dan lokasi. Variabel yang memiliki nilai kepentingan tertinggi adalah daya simpan, kedua cita rasa, ketiga harga, ke empat kemasan, kelima penampilan sedangkan variabel dengan nilai kepentingan rendah yaitu lokasi. Penelitian serupa dilakukan oleh oleh Sundari & Umbara . mengenai preferensi konsumen terhadap produk agroindustri abon ikan dengan menggunakan analisis konjoin dan 4 atribut yaitu rasa, warna, tekstur dan harga abon ikan. Hasil penelitian tergambar bahwa preferensi konsumen lebih mementingkan atribut rasa yang menunjukkan presentase nilai tertinggi. Selain preferensi terhadap produk agroindustri terdapat juga penelitian Saefudin E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 032-050 mengenai kajian pembandingan preferensi konsumen dua kedai kopi di Cibinong. Hasil menunjukkan Jigana Coffe Shop unggul dalam tujuh atribut dibandingkan dengan Kedai Inspirasi. Ketujuh atribut tersebut adalah kualitas produk, kualitas pelayanan, harga yang ditawarkan, fasilitas yang ditawarkan, kebersihan dan kerapihan kedai, suasana kedai, dan kestrategisan lokasi kedai. Sedangkan dari atribut kualitas produk, kualitas pelayanan, kebersihan dan kerapihan. Jigana Coffe Shop tidak lebih baik dari Kedai Inspirasi. Sementara itu pada atribut harga, fasilitas dan suasana tidak ada perbedaan yang nyata antara Jigana Coffe Shop dan Kedai Kopi inspirasi. Metode Penelitian ini dilakukan pada Wingko Babat yang berlokasi di Kabupaten Lamongan. Penentuan lokasi dilakukan secara . atau sengaja pertimbangan karena daerah tersebut adalah pelopor Wingko pertama dan tertua yang didirikan sejak abad ke-20. Jenis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data primer yang diperoleh dari observasi, wawancara dan kuisioner. Observasi pengamatan mengenai pengolahan wingko secara langsung di lokasi disertai pencatatan terhadap keadaan obyek sasaran. Cara mendapatkan responden yaitu melalui platfrom seperti google froms dan menyebarkan secara online serta dengan melakukan wawancara secara langsung yaitu tanya jawab kepada responden dibeberapa lokasi UMKM wingko babat. Berdasarkan hasil sebesar 30% melalui offline sedangkan 70% melalui penyebaran kuisioner secara online konsumen wingko babat. Metode pemilihan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Pada metode accidental sampling digunakan untuk penentuan sample secara kebetulan, yaitu konsumen Wingko Babat yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti (Rakhmad, 2. Kriteria responden pada penelitian ini adalah konsumen yang umur di atas 17 tahun dan pernah mengkonsumsi wingko babat. Jumlah populasi pada penelitian ini tidak diketahui, sehingga jumlah sampel penelitian dihitung menggunakan rumus Lemeshow (Imam Suprapta & Siti Solikha, 2. Berikut ini adalah formula dari Lemeshow untuk mengetahui jumlah sampel : Keterangan : E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 032-050 N = jumlah sampel yang dicari Z = skor z pada kepercayaan 90% = 1,96 P = fokus kasus/ maksimal estimasi = 0,5 e = alpha . atau sampling error 10% N merupakan jumlah sampel minimal. Z adalah nilai standar dari distribusi normal sesuai tingkat kepercayaan yang diinginkan . isalnya, untuk tingkat kepercayaan 95%,Z = 1. adalah nilai maksimal estimasi yang tidak diketahui maka dipertimbangkan nilainya yaitu 0,5 dan e atau sampling erornya adalah 10% atau 0,10. Dengan tingkat kepercayaan 90% dan nilai Z adalah 1,64, dan nilai maksimal estimasi 0,5, maka jumlah sampel dapat dihitung sebagai Berdasarkan pada perhitungan di atas jumlah sampel yang dipergunakan yaitu sebanyak 96 Jumlah responden ditingkatkan sebanyak 4 orang sehingga totalnya menjadi 100, penambahan jumlah responden membantu mengurangi potensi bias dan variabilitas dalam data serta penambahan jumlah responden merupakan langkah yang baik untuk memastikan bahwa hasil penelitian lebih akurat, dapat diandalkan, dan relevam untuk pengambilan keputusan Dalam penelitian ini menggunakan analisis konjoin yang merupakan analisis multivariat digunakan untuk memahami preferensi konsumen mengenai atribut (Puspitaningrum & Setiawati, 2. Atribut yang diteliti dalam penelitian ini tertera pada Tabel 1. E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 032-050 Tabel 1. Atribut dan Level Atribut Wingko Babat Atribut Level atribut Rp. Harga Rp. Rp. Original/Kelapa Rasa Nangka Durian Kecil . ,4 gr. Ukuran Sedang ( 350 gr. Besar ( 400 gr. Kertas Plastik Alumunium Foil Keras/Kasar (Menggunakan kelapa Lunak (Menggunakan kelapa mud. Wingko Basah Wingko Kering Kemasan Tekstur Diferensiasi Bentuk Wingko Layanan Penjualan Sumber Rujukan (Crystallography, 2. (Rudiyanto, 2. (Widyani, 2. (Nugroho et al. , 2. (Sholikhah & Nurlaela, (Putri & Trilaksana, 2. (Rudiyanto, 2. (Buchori et al. , 2. (Rudiyanto, 2. ( Yunianto, 2. Bulat pipih (Widyani, 2. Kotak Segitiga ( Yunianto, 2. Pesan antar ( Sani, & Fachreza, 2. Sosial media OTS (Membeli secara langsun. Sumber : Data diolah, . Analisis ini menggunakan skala likert dengan skor 1-5 . meliputi Sangat tidak suka (STS) skor 1. Tidak suka (TS) skor 2. Ragu (R) skor 3. Suka (S) skor 4. Sangat Suka (SS) skor 5. Model yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut U=b0 b1X1 b1X2 b2X3 b2X4 b3X5 b3X6 b4X7 b4X8 b5X9 b6X10 b7X11 b7X12 b8X13 b8X 14 e . Dimana : = Nilai preferensi = Nilai konstan b1 Ae b8 = Nilai utility E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 032-050 = 1 jika harga Rp 2000. , 0 jika lainnya = 1 jika harga Rp. 000,0 jika lainnya = 1 jika rasa origibal/kelapa, 0 jika lainnya = 1 jika rasa nangka, 0 jika lainnya = 1 jika ukuran kecil . ,4gr. , 0 jika lainnya = 1 jika ukuran sedang . , 0 jika lainnya = 1 jika kemasan kertas,0 jika lainnya = 1 jika kemasan plastik, 0 jika lainnya = 1 jika tekstur keras/kasar, 0 jika lainnya X10 = 1 jika diferensiasi wingko basah, 0 jika lainnya X11 = 1 jika bentuk wingko bulat pipih, 0 jika lainnya X12 = 1 jika bentuk wingko kotak, 0 jika lainnya X13 = 1 jika layanan penjualan pesan antar, 0 jika lainnya X14 = 1 jika layanan penjualan sosial media, 0 jika lainnya Hasil dan Pembahasan Preferensi Konsumen Tahapan awal analisis konjoin adalah mengetahui tingkat akurasi dari model yang akan dipergunakan, dengan menggunakan Uji PearsonAos R dan KendallAo Tau. Uji korelasi PearsonAos dan korelasi Kendall. s digunakan untuk melihat seberapa kuat hubungan perkiraan dengan fakta (Anna et al. , 2. Hasil estimasi dari kedua uji tersebut ditunjukkan dalam Tabel 2. Dimana hasil analisis menunjukkan bahwa penelitian ini dianggap valid karena angka predictive accurancy pada nilai PearsonAos R dan KendallAos Tau memberikan hasil korelasi yang signifikan yaitu lebih kecil dari taraf kesalahan sebesar 0. Sedangkan pada nilai uji PearsonAos R dan KendallAos Tau lebih dari 0. 5 maka akurasi prediksi dianggap kuat atau valid. Nilai signifikansi dari PearsonAos R dan KendallAos Tau sebesar 0. 00, menandakan bahwa setiap atribut dalam wingko babat memiliki hubungan yang signifikan. Hasil validitas menunjukkan nilai korelasi PearsonAos R sebesar 0,885 dan KendallAos Tau sebesar 0. ebih dari 0. menggambarkan adanya keterkaitan yang kuat antara perkiraan dan kenyataan. Maka preferensi terhadap wingko babat sebanyak 88,5% dipengaruhi oleh kombinasi atribut dalam model, sementara 11,5% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model analisis. E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 032-050 Tabel 2. Nilai Signifikansi dan Atribut-atribut yang Digunakan Value Sig PearsonAos R 0,885 KendallAo tau 0,648 Sumber: Data primer diolah, . Analisis konjoin dapat digunakan untuk menunjukkan nilai utility pada masing-masing atribut dan level atribut. Nilai utility bertujuan untuk memperlihatkan tingkat kesukaan konsumen terhadap level atribut yang telah dipilih. Sehingga dari nilai level atribut tersebut dapat diketahui bentuk stimuli yang paling disukai oleh konsumen (Tabel 3. Tabel 3. Nilai Koefisien Utility Kue Wingko Babat Setiap Atribut dan Level Atribut Atribut Level Utility Estimate Harga Rp. 0,063 Rp. -0,009 Rp. -0,054 Rasa Original/kelapa 0,129 Nangka 0,001 Durian -0,130 Ukuran Kecil . ,4 gr. -0,053 Sedang ( 350 gr. -0,005 Besar ( 400 gr. 0,058 Kemasan Kertas -0,021 Plastik -0,044 Alumunium Foil 0,066 Tekstur Keras/kasar -0,083 Lunak 0,083 Diferensiasi Wingko basah 0,002 Wingko kering -0,002 Bentuk Bulat pipih 0,017 Kotak -0,015 Segitiga -0,002 Layanan Penjualan Pesan antar 0,020 Sosial Media -0,035 OTS (On the spo. 0,014 (Constan. 3,613 Data: Primer diolah,2023 Dikutip dari penelitian Dewati & Saputro . , utility merupakan suatu istilah yang menggambarkan kepuasan konsumen dalam mengkonsumsi barang atau jasa. Sehingga nilai utility menyatakan bahwa ketika konsumen mengkonsumsi suatu barang, seberapa banyak E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 032-050 kenikmatan yang mereka dapatkan. Menurut penelitian (Aydin & Mansour, 2. harga menjadi pertimbangan paling utama dalam membeli barang atau jasa. Pada atribut harga Kue Wingko Babat, level atribut yang paling disukai oleh responden yaitu dengan harga Rp. dengan utility 0,063 lebih besar dari nilai untuk atribut lainnya, karena itu dapat disimpulkan bahwa wingko dengan harga Rp. 2000 lebih memberikan kepuasan pada responden dibandingkan dengan harga alternatif lain. Menurut penelitian Berdasarkan fakta yang ada, sebesar 54,77% konsumen yang menjadi responden penelitian ini memilih level harga Rp. Alasan konsumen memilih harga tersebut karena harga terjangkau, dan sesuai dengan pendapatan yang mereka punya. Dalam penelitian ini sebanyak 64% responden berpendapatan di bawah UMR (Tabel 4. Tabel 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan Tingkat Pendapatan Jumlah 1 Di bawah UMR 2 sama dengan UMR 2 diatas UMR Jumlah Sumber: Data Primer Diolah, 2023 Persentase (%) Hasil penelitian ini mendukung penelitian Dewi et al. , mengenai preferensi konsumen terhadap pembelian kerupuk di kota Semarang. Penelitian itu menjelaskan bahwa atribut harga yang murah dan terjangkau menjadi pertimbangan yang paling penting oleh konsumen. Menurut penelitian Andrew & Charly . , cita rasa merupakan faktor terpenting dalam sebuah makanan, karena akan menjadi ciri khas dari makanan tersebut. Pada atribut rasa, responden lebih banyak memilih Kue Wingko Babat dengan rasa Original/kelapa karena nilai utilitasnya sebesar 0,129 lebih tinggi dari nilai tingkat atribut rasa lainnya. Rasa original dari kue wingko tersebut sudah menjadi favorit masyarakat sejak dulu. Data hasil kuesioner menunjukkan bahwa 57,88% konsumen memilih rasa original/kelapa. Dapat disimpulkan bahwa konsumen lebih menyukai rasa original/kelapa karena cita rasa original/kelapa yang ada di dalam Kue Wingko tersebut tetap lebih terasa kuat dari pada wingko dengan varian rasa yang merusak rasa orinya kue wingko. Cita rasa wingko original sangat penting karena rasanya E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 032-050 yang autentik dan konsisten memberikan pengalaman yang diharapkan oleh para penikmat dengan rasa yang khas pada kelapanya. Sejalan dengan penelitian Widya et al. , . , yang menyatakan bahwa rasa menjadi faktor utama dan terpenting konsumen dalam mempertimbangkan memilih produk makanan yang akan dikonsumsi. Atribut ukuran Kue Wingko Babat, responden memilih kue wingko babat dengan ukuran besar . Dengan utility sebesar 0,058. Alasan konsumen memilih ukuran besar karena mereka membeli untuk dikonsumsi secara bersama dengan keluarga maupun teman-temannya. Penelitian serupa oleh (Triyasari et al 2. menyatakan bahwa nilai utility dapat digambarkan konsumen lebih menyukai kripik singkong dengan ukuran besar . dari pada ukuran kecil . Dari hasil data kuesioner sekitar 58,57% konsumen juga lebih memilih ukuran besar, didukung dengan kondisi yang berada dilapang bahwa rata-rata pekerjaan konsumen adalah mahasiswa yang lebih menyukai wingko dengan ukuran besar yang dapat memberikan nilai secara ekonomis karena mahasiswa seringkali mencari makanan dengan harga terjangkau tetapi memiliki porsi lebih dan wingko dengan ukuran yang besar dapat memberikan rasa kenyang, wingko besar juga memudahkan untuk berbagi teman sesama mahasiswa seperti yang dijelaskan pada Tabel 5. Tabel 5. Karakteristik Responden Menurut Jenis Pekerjaan Jenis Pekerjaan Jumlah Mahasiswa Karyawan Wirausaha Ibu Rumah Tangga Freelance Polri Perawat Petani Guru SD Jumlah Sumber: Data Primer Diolah, . Persentase (%) E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 032-050 Berdasarkan atribut kemasan Kue Wingko Babat, responden lebih banyak memilih kemasan yang alumunium foil dengan nilai utility sebesar 0,066 dari hasil kuesioner menjukkan bahwa 49% konsumen juga lebih memilih kemasan alumunium foil. Konsumen menyukai kemasan alumunium foil karena kemasan tersebut dapat menjaga makanan agar tidak terkontaminasi dengan udara sehingga cita rasa Kue Wingko bertahan lebih lama. Sejalan dengan penelitian Rahayu et al. , . , dimana atribut bahan kemasan dengan level alumunium foil terpilih karena konsumen menilai bahwa alumunium foil pada produk telur asin, bisa tahan lama menahan hawa panas pada makanan yang dibungkus aluminium foil dibandingkan menggunakan bahan kemasan lainnya. Atribut tekstur kue wingko babat, nilai utility tertinggi pada level atribut tekstur adalah lunak sebesar 0,088, dan dari hasil kuesioner 62,16% konsumen juga memilih tekstur tersebut. Disimpulkan bahwa konsumen lebih memilih kue wingko dengan tekstur lunak dengan alasan lebih mudah untuk dikonsumsi apalagi konsumen pada usia yang lebih tua. Seperti penelitian yang dilakukan Jainuddin et al . menjelaskan bahwa tekstur suatu produk makanan berperan penting dalam proses penerimaan produk oleh konsumen, sehingga tekstur menjadi kriteria utama bagi konsumen untuk menilai mutu suatu produk makanan. Diferensiasi merupakan modifikasi produk agar menjadi menarik (Sahetapy, 2. Berdasarkan Taringan et al . , menjelaskan bahwa diferensiasi produk merupakan faktor penting untuk membuat konsumen tertarik dengan produk yang dijual. Tujuannya membuat perbedaan suatu produk dengan mengembangkan atau memodifikasi serta menciptakan keunggulan pada produk yang dijual pada konsumen. Atribut diferensiasi kue wingko babat, responden lebih memilih kue wingko dengan level atribut wingko basah karena nilai utility nya sebesar 0,002 lebih tinggi dari nilai atribut diferensiasi lainnya. Dari hasil data kuesioner menunjukkan bahwa 54,12% konsumen juga lebih memilih diferensiasi kue wingko basah, maka dapat disimpulkan bahwa konsumen lebih menyukai diferensiasi wingko basah karena kue wingko babat dengan diferensiasi wingko basah karena rasanya yang lebih lezat dan juga Menurut Akantu et al . atribut bentuk merupakan atribut yang dianggap penting oleh konsumen dalam membeli suatu produk makanan. Pada penelitian preferensi konsumen. E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 032-050 bentuk kue wingko babat, level atribut yang paling disukai oleh responden yaitu berbentuk bulat pipih dengan utility 0,017 lebih besar dari nilai untuk atribut bentuk kue wingko babat Sebaran data di lapang menunjukkan bahwa sekitar 55,87% konsumen lebih memilih bentuk kue wingko babat bulat pipih, karena itu dapat disimpulkan bahwa responden lebih menyukai kue wingko babat dengan bentuk bulat pipih dibandingkan pilihan bentuk lainnya. Alasan konsumen memilih bentuk tersebut karena bulat pipih adalah ciri khas bentuk wingko pertama kali dibuat sebelum memiliki bentuk lainnya dan bentuk bulat pipih juga sering ditemui pada toko-toko wingko yang ada. Didukung dengan kondisi yang ada dilapang bahwa responden yang mengkonsumsi kue wingko mayoritas domisili Lamongan karena bentuk wingko pertama kali adalah bulat pipih yang banyak dijual di Kabupaten Lamongan tepatnya di Babat sebelum dikota-kota lainnya oleh sebab itu konsumen tidak ingin meninggalakan ciri khas bentuk kue wingko pertama kali ditemukan. Indra & Rahmat . , menjelaskan bahwa pelayanan merupakan upaya pemenuhan kebutuhan konsumen, karena atas pelayanan yang nyata mereka peroleh dan inginkan maka pelayanan akan diapresiasi oleh konsumen. Berdasarkan atribut layanan, responden lebih banyak memilih layanan penjualan kue wingko babat pesan antar dengan nilai utility sebesar 0,20 lebih tinggi dari nilai tingkat atribut layanan penjualan lainnya. Alasan lebih menyukai layanan penjualan pesan antar karena lebih menghemat waktu yang seharusnya dihabiskan untuk berbelanja dan lebih praktis. Sama dengan penelitian (Dika, 2. yang menjelaskan bahwa pelayanan yang disediakan oleh toko merupakan atribut yang penting karena akan mempengaruhi konsumen dalam memesan produk. Hal ini juga didukung dengan data hasil kuesioner sebesar 53,11% konsumen juga lebih memilih layanan penjualan pesan antar. Tabel 6. Tingkat Kepentingan Atribut Atribut Rasa Harga Bentuk LayananPenjualan Kemasan Ukuran Tekstur Diferensiasi Sumber: Data Primer Diolah, . Nilai Kepentingan Atribut E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 032-050 Berdasarkan dari hasil yang diperoleh dari Analisis Konjoin, tingkat kepentingan atribut dapat dilihat dari yang tertinggi ke terendah (Tabel . Atribut dengan nilai tingkat kepentingan tertinggi adalah rasa yang memiliki nilai sebesar 22. 884 persen. Artinya konsumen lebih mengutamakan rasa dibandingkan atribut yang lain, maka Ketika konsumen membeli kue wingko babat hal pertama yang dilihat adalah rasa untuk mendapatkan kue wingko babat. Sejalan dengan penelitian Rohmah & Subari . , bahwa atribut rasa dianggap penting karena akan menjadi pertimbangan selanjutnya bagi konsumen dalam memutuskan pembelian, hal tersebut dikarenakan pertimbangan rasa terhadap suatu produk dapat menjadi indikator bagi konsumen untuk meyukai produk yang akan dikonsumsi. Pertimbangan kedua adalah atribut harga yang memiliki nilai sebesar 14. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa atribut harga menjadi pertimbangan terpenting setelah rasa karena konsumen ingin memperoleh produk kue wingko babat dengan kualitas yang maksimal dan harga terjangkau. Pertimbangan atribut ketiga adalah bentuk yang memiliki nilai sebesar Artinya Ketika konsumen membeli kue wingko babat akan mempertimbangkan bentuk setelah rasa. Kesimpulan Atribut yang menjadi preferensi konsumen dalam pembelian kue wingko babat adalah memiliki harga berkisar Rp 2. 000, rasa Original/kelapa, ukuran besar, kemasan alumunium foil, tekstur lunak, diferensiasi wingko basah, bentuk bulat pipih dan layanan penjualan pesan Sedangkan dari atribut yang dipertimbangkan oleh konsumen saat membeli kue wingko babat dari tertinggi sampai terendah yaitu rasa, harga, bentuk, layanan penjualan, kemasan, ukuran, tekstur, dan diferensiasi. Saran yang dapat diberikan adalah diharapkan pelaku UMKM wingko babat di Kabupaten Lamongan sebaiknya memproduksi wingko dengan kisaran harga yang murah yaitu sekitar Rp 2000, memperbanyak yang berasa original, memiliki ukuran besar, dikemas dengan menggunakan aluminium foil, wingko yang diproduksi memiliki tekstur lunak dan basah, berbentuk bulat pipih dan melayani penjualan pesan antar. E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 032-050 Daftar Pustaka