Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 POTENSI USAHATANI TERPADU DI LAHAN PEKARANGAN DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN PANGAN RUMAH TANGGA MASYARAKAT DESA OBESI KECAMATAN MOLLO UTARA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN (The Potency of Integrated Lawn Farm to Fullfil HouseholdAos Needs at Desa Oebesi. Kecamatan Millo Utara. Kabupaten Timor Tengah Utar. Oleh: Ramla Natalia Mou. I Wayan Nampa. Lika Bernadina. Paulus Un Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Nusa Cendana Alamat E-mail Korespondensi: nataliamouramla@gmail. Diterima : 19 Juli 2024 Disetujui : 30 Juli 2024 ABSTRACT This research was conducted in Obesi Village. North Mollo District. South Central Timor Regency. The purpose of this study is to find out the potential of integrated farming if applied in household yards, to find out the fulfillment of food availability and diversity of household food consumption of the people of Obesi Village, to find out the contribution of integrated farming in Lawn to the fulfillment of household food needs. The data used in this study used primary data and secondary data. The research method uses the formula of food availability and food diversity. The results of this study show that, on average, the yard area owned by the people of Obesi Village is 20 acres and has great potential in carrying out integrated farming because it produces various types of staple food crops, namely taro, sweet potatoes, and cassava with a total production of 679 kg/year. Types of horticultural plants are kale, spinach, mustard greens, eggplant. Chayote, chili, paria with a total production of 168 kg/month. Furthermore, biopharmaceutical plantains, namely lemongrass, leeks, celery, galangal, basil, turmeric with a total production of 11. 34 kg/month. And plantation crops, namely coffee, oranges, avocados, hazelnuts, mangoes, bananas, areca nuts, papaya with a total production of 308 kg/year and the last type of livestock cultivated in the yard is chickens, pigs, cows and goats with a total production of 14 heads. /year Furthermore, it can provide basic food of 340 kg/year. In addition, it is able to provide diversity of food consumption in households with a diversity coefficient of 18%. And integrated farming on Lawn contributes to the fulfillment of food needs, which is 25,483 kcal/cap/month. keywords: integrated agriculture, lawn, staple food, diversity of food consumption, contribution. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan Di Desa Obesi Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi usahatani terpadu jika diterapakn di lahan pekarangan rumah tangga, untuk mengetahui pemenuhan ketersediaan pangan dan keragaman konsumsi pangan rumah tangga masyarakat Desa Obesi. Untuk mengetahui kontribusi usahatani terpadu di lahan pekarangan terhadap pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga. Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Metode penelitian menggunakan rumus ketersediaan pangan dan keragaman pangan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, rata Ae rata luas lahan pekarangan yang dimiliki oleh masyarakat desa obesi 20 are dan sangat berpotensi dalam melakukan usahatani terpadu karena menghasilkan berbagai jenis tanaman pangan pokok yaitu talas, ubi jalar, dan singkong dengan total produksi sebesar 679 kg/tahun. Jenis tanaman holtikulturah yaitu kangkung, bayam, sawi, terong, labu siam,cabe, paria dengan total produksi 168 kg/bulan. Selanjutnya tanman biofarmaka yaitu sereh, daun bawang, seledri, lengkuas,kemangi, kunyit dengan total produksi 11,34 kg/bulan. Dan tanaman perkebunan yaitu kopi, jeruk alpukat kemiri, mangga, pisang, pinang, pepaya dengan total produksi sebanyak 308 kg/tahun dan yang terahir jenis ternak yang diusahakan dilahan pekarangan adalah ayam, babi, sapi dan kambing dengan total hasil produksi yaitu 14 ekor. /tahun Selanjutnya dapat menyediakan pangan pokok sebasar 340 kg/tahun. selain itu mampu memberikan keragaman konsumsi pangan pada rumah tangga dengan koefisien keragaman sebesar 18%. Dan usahatani terpadu di lahan pekarangan berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan pangan yaitu sebesar 25. 483 kkal/kap/bulan. kata kunci: pertanian terpadu, lahan pekarangan, makanan pokok, keragaman konsumsi makanan. Mou, et all. Efisiensi Usatahu Terpadu di Lahan Pekarangan, aPage 97 PENDAHULUAN Sistem pertanian terpadu merupakan sistem pertanian yang mengintegrasikan kegiatan sub sektor pertanian, tanaman, ternak, ikan, untuk meningkatkan efisiensi dan produktifitas sumberdaya . ahan, manusia, dan faktor tumbuh lainny. kemandirian dan kesejahteraan petani secara berkelanjutan Arimbawa . Menurut Salikin . dalam Mukhlis et al . , sistem pertanian terpadu merupakan sistem yang mengkombinasikan berbagai spesies tanaman dan hewan serta menerapkan beraneka ragaman teknik untuk menciptakan kondisi yang sesuai untuk melindungi lingkungan. Pertanian terpadu dapat menjadi model pertanian siklus yang tidak menghasilka limbah dan semua komponen di dalamnya dapat dimanfaatkan secara optimal. Dengan menerapkan sistem pertanian terpadu bukan hanya untuk meningkatkan kualitas serta kuantitas akan tetapi dapat meningkatkan dan memenuhi kebutuhan pangan bagi masyarakat. Nusa Tenggara Timur adalah salah satu daerah di Indonesia yang merupakan daerah kepulauan dengan topografi yang berbukit dan memiliki lahan kering yang lebih banyak dibandingkan dengan lahan basah . , dengan luas lahan kering pertanian menurut data BPS (Badan Pusat Statisti. tahun 2019 852 726 hektar. Pertanian Lahan kering di NTT mempunyai potensi yang besar untuk mendukung perekonomian dan ketahanan pangan bagi masyarakat. Selain itu dengan menerapkan sistem pertanian terpadu dapat menghasilkan pangan yang beragam dan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dari segi jumlah maupun gizi. Namun Nusa Tenggara Timur merupkan salah satu provinsi di Indonesia dengan prevalensi kurang gizi yang tinggi. Berdasarkan data dari riset kesehatan dasar tahun 2018, masyarakat di NTT terkhususnya balita menempati posisi puncak yakni sebesar 42,6%, prevelensi balita kurang gizi/stanting jika dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia NTT masih manjadi provinsi dengan presentase kekurangan gizi yang tergolong cukup tinggi dan menempati posisi ketiga di bawah Papua dan Papua Barat Bps Provinsi, n. Hal utama penyebab terjadinya gizi buruk di NTT adalah kemiskinan. Hal ini terjadi karena rendahnya daya beli masyarakat sehingga kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan. Selain pembangunan ekonomi yang belum mampu mengatasi penduduk miskin, pembangunan sarana dan prasarana pun belum maksimal sehingga masyarakat khususnya petani masih kesulitan dalam mendistribusikan hasil usahatani mereka dan pemerintah pun masih susah dalam menyalurkan bantuan. Oleh sebab itu diharapkan masyarakat dapat mandiri dan mampu memanfaatkan sumberdaya alam yang dimiliki sehingga masyrakat dapat memenuhi kebutuhan pangan sendiri baik dari segi jumlah maupun gizi. Dengan menerapkan sistem pertanian terpadu bisa menjadi salah satu solusi pemenuhan kebutuhan Dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah atau lahan yang tidak terlalu besar dengan sistem pertanian terpadu yang menggabungkan sub sistem pertanian dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga baik dari segi jumlah maupun gizi. Namun di NTT, khususnya Desa Obesi Kecamatan Mollo Utara Kabupaten TTS menjadi salah satu desa yang belum terlalu banyak menerapkan sistem pertanian terpadu dilahan pekarangan, oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian di daerah tersebut dengan judul Ay Potensi Usahatani Terpadu Di Lahan Pekarangan Dalam Memenuhi Kebutuhan Pangan Rumah Tangga Masyarakat Desa Obesi Kecamatan Mollo Utara Kabupaten TTSAy METODE Dengan menerapkan sistem pertanian terpadu di mana, sistem pertanian tepadu adalah sistem menggabungkan sub sistem pertanian yaitu petanian, peternakan, perikanandan perkebunan dalam satu lahan yang saman. Menurut Nurhaedah . dalam Mukhlis et al . , sistem pertanian terpadu adalah suatu sistem pengelolaan tanaman, hewan ternak dan ikan dengan lingkungannya untuk menghasilkan suatu produk yang optimal. Oleh karena itu, dengan menerapkan sistem pertanian siklus yang tidak menghasilkan limbah pertanian dapat membantu petani dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga baik dari segi ketersediaan pangan pokok maupun dapat memenuhi kebutuhan konsumsi pangan rumah Pengumpulan data dalam penelitian ini Desa OAobesi. Kecamatan Mollo Utara. Kabupaten TTS. Penelitian dilakukan pada bulan mei - juni 2023. Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan mengunakan metode purposive sampling. Menurut Dana P. Turner . Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel yang digunakan ketika peneliti sudah punya target individu dengan karakteristik yang sesuai dengan penelitian. Diketahui bahwa Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rumah tangga yang ada di Desa OAobesi Kecamatan Mollo kabupatan TTS. Dengan jumlah populasi sebanyak 70 KK dan berdasarkan pengertian di atas maka yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah 30 rumah tangga, dengan pertimbangan Mou, et all. Efisiensi Usatahu Terpadu di Lahan PekaranganaPage 98 bahwa rumah tangga tersebut telah menerapkan atau telah melakukan usahatani terpadu di lahan pekarangan dan metode pengumpulan data digunakan dalam penelitian ini adalah metode surfey yang wawancara, observasi dan dokumentasi. Data yang telah diperoleh ditabulasi dan dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian yang telah diajukan. Untuk menjawab tujuan pertama yaitu mengetahui potensi usahatani terpadu jika diterapkan di lahan pekarangan rumah tangga. Sumber data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari Metode analisis data yang digunakan adalah analisis data kuantitatif deskriptif, dimana data yang diperoleh ditabulasi kemudian dideskripsikan atau digambarkan berdasarkan data variabel pemangamatan. Untuk menjawab tujuan kedua yaitu mengetahui ketersediaan pangan, metode yang digunakan dalam analisis data ketersediaan pangan pokok yang diperoleh dari hasil produksi, pemberian dan penerimaan atau bantuan dari pihak lain. kemudian dianalisis mengunakan rumus sebagai s = yeOyeayecyenyei( ycyycycuyccycycoycycn ycycycaEayca ycycaycuycn ycyyceycoycayceycoycnycaycu ycyyceycoycayceycycnycaycu ) Oe ycyenyeiyecyenyei. ijual pemberian ycaycoycycnycycnycycayc ycycuycycnycayco ) Keterangan : : ketersediaan pangan pokok rumah tangga petani . g/tahu. Input : sumber pangan pokok dari hasil usahatani, pembelian, pemberian . g/tahu. Output: output pangan pokok yang dijual, aktivitas sosial, diberikan kepada pihak lain . g/tahu. A Keragaman pangan rumah tangga masyarakat desa Obesi maka metode analisis yang digunakan adalah, dengan menghitung penyebaran data berapa banyak jenis bahan makan yang dimasak dan dikonsumsi . ram/har. dihitung nilai ratarata, standar deviasi dan koefisen keragaman dengan rumus nya sebagai berikut: Rumus Ocycu ycU ycn Nilai rata-rata ycu I = ycn=1 ycu Dimana ycu I = rata-rata Ocycuycn=1 ycUycn = Jumlah skor n = jumlah data Nilai Standar Deviasi (SD) . cuycn Oe ycuI )2 ycuOe1 Nilai Koefisien Keragaman (KK) ycIya yaya = ycu100% ycuI ycIya = Oo Untuk menjawab tujuan ketiga yaitu mengetahui kontribusi usahatani terpadu di lahan pekarangan terhadap pemenuhan kebutuhan pangan rumah Sumber data yang digunakan adalah data yang di peroleh dari responden berdasarkan pertanyaan yang diberikan. Metode analisis yang digunakan adalah dengan menghitung komposisi nilai gizi dari bahan pangan yang diperloleh dari usahatani pekarangan dan dibagi dengan kebutuhan kalori dari setiap indivudu dengan menghitung presentase kilokalori/kapita/bulan . kal/kap/bula. Rumus yaycuycoycyycuycycnycycn ycuycnycoycaycn yciycnycycn yaAyceycycayc yaAycaEaycaycu ycEycaycuyciycaycu yaycaycuyccycycuyciycaycu yaycnycycn . Kemudian menghitung kontribusi kilo kalori per kapita per bulan yaAyceycycayc yaycnycoycu yaycaycoycuycycn yaAycaEaycaycu ycEycaycuyciycaycu ycu 100% yayceycaycycycEaycaycu yaycaycoycuycycn yaycuyccycnycycnyccyc ycyyceyc yaAycycoycaycu HASIL DAN PEMBAHASAN Potensi Usahatani Terpadu Apabila di Terapkan di Lahan Pekarangan Rumah Tangga Sajogyo . mendefinisikan pekarangan sebagai sebidang tanmah disekitar rumah yang masi diusahakan secara sambilan. Sementara itu mardikanto . pekarangan diartikan sebagai tanah sekitar perumahan, kebanyakan berpagar keliling, dan biasanya ditanami tanman dengan beranega macam tanaman semusim maupun tanaman tahunan unutk keperluan sehari Ae hari. Pada Desa Obesi Kecamatan Mollo Utara Kabupaten TTS, lahan pekarang yang dimiliki oleh masyarakan desa dinilai cukup luas, dengan ditandai pagar yang diskitar lahan pekarangan mengubakan tanaman Ae tanaman hias sehingga dapat diketahui dengan jelas bahwa lahan tersebut adalah lahan pekarangan. Berbeda dengan lahan yang dijadikan sebagai kebun, di mana jarak antara rumah dan kebun bisa berjarak A 1 Ae 2 Km jauhnya dan seringknya digunakan menanam tanaman umur panjang dan juga tanaman Ae tanaman pangan dengan skala yang lebih besar. Berikut salah rata Ae rata luas lahan pekarangan dan luas banguan rumah yang di miliki oleh masyarakat desa OAobesi. Mou, et all. Efisiensi Usatahu Terpadu di Lahan PekaranganaPage 99 Tabel 1. Data Rata Ae Rata Luas Lahan Pekarangan Dan Luas Banguan Rumah Masyarakat Desa OAobesi Luas lahan Lahan pekarangan Lahan bangunan rumah Jumlah Sumber: Analisis Data Primer, 2024 Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa rata Ae rata luas lahan pekarangan yang dimiliki oleh adalah 20 are atau sama dengan 0,20 hektar. Lahan pekarangan tersebut dapat sangat bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga apabila dimanfaatkan secara optimal kerena lahan pekarangan sangat berpotensi untuk dilakukanya usahatani, seperti pemanfaatan lahan dengan berbagai macam usaha baik pertanian maupun peternakan yang siring disebut sebgai pertanian terpadu atau sistem usahatani terpadu. Ketersediaan Pangan pokok Dan Keragaman Konsumsi Pangan Rumah Tangga Masyarakat Desa Obesi. Ketersediaan pangan merupakan kondisi dimana tersedianya pangan baik dari hasil produksi dalam negri maupun pangan hasil import dari luar. Ketersediaan pangan yang dibahas dalam penelitian Rata Ae rata luas lahan . 0,47 20,47 Presentase (%) 97,70 2,30 ini terbatas pada ketersediaan pangan pokok yang diproduksi di lahan pekarangan, karena lahan pekarangan merupakan lahan yang berada dalam area tempat tinggal, sehingga jika diusahakan dengan baik dapat memenuhi kebutuhan konsumsi pangan rumah tangga. Makanan pokok rata Ae rata masyarakat desa Obesi adalah beras, namun tidak bisa dipungkiri bahwa sumber energi/kalori tidak hanya tersedia pada makanan pokok beras saja, melainkan ada Macam Ae macam makanan pokok yang dapat memenuhi kebutuhan sumber kalori sehari - hari bagi manusia, sumber kalory tersebut dapat diperloleh juga dari jagung, ubi, singkong, gandum, sagu dan Dalam memenuhi ketersediaan pangan pokok dapat di lahan dari hasil produksi pangan pokok yaitu input . roduksi, pembelian,pemberian ) Ae output . ijual, pemberian, aktifitas sosia. Tabel 2. Data Ketersediaan Pangan Pokok Dalam Satu Bulan Yang Dihasilkan Di Lahan Pekarangan. Jenis Tanaman Talas Ubi jalar Rata-Rata Produksi Pangan Pokok (Kg/Tahu. Total Pemberian (Kg/Tahu. Ketersediaan Pangan Pokok Presentase (%) Sumber: Analisis Data Primer, 2024 Berdasarkan data tabel di atas dapat dilihat bahwa pada lahan pekarangan, pangan pokok yang dapat diproduksi yaitu talas, ubi jalar dan singkong. Dikarenakan luas lahan yang tidak terlalu besar sehingga jangkawan produksi tidak dapat memproduksi padi, jagung dll. Dari data di atas dapat di lihat bahwa jenis pangan pokok yang hasil produksi paling banyak yaitu singkong dengan rata Ae rata ketersediaan pangan pokok sebanyak 266 kg/tahun, dengan prsentase sebanyak 78%. Berdasarkan data rata Ae rata luas lahan pekarangan yakni 20 are dapat diusahakan berbagai jenis pangan pokok yang dapat memenuhi ketersediaan pangan dalam rumah tangga, baik dari segi keterjangkauan pangan, keamanan pangan dan juga dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan pangan pokok rumah Kontribusi Usahatani Terpadu Di lahan Pekarangan Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Pangan Rumah Tangga Berikut adalah data kontribusi usahatani di lahan pekaranga terhadap pepenuhan kebutuhan pangan rumah tangga. Kebutuhan pangan rumah tangga merupakan kebutuhan pangan yang berkaintan dengan kebutuhan akan pangan pokok, kebutuhan pangan sayuran, buah Ae buhanan dan daging. Total kalori yang dihasilkan kemusian dibagi dengan Mou, et all. Efisiensi Usatahu Terpadu di Lahan PekaranganaPage 100 jumlah kalori yang dibutuhkan oleh setiap anggota rumah tangga. Tabel 3. Data Rata-Rata Kilo Kalori Yang Dihasilkan Dari Pangan Yang Diusahakan Di Lahan Pekarangan Kebutuhan Pangan Total Kkal Presentase % Bahan Pangan pokok 3,66 Bahan pangan Sayuran 3,16 Bahan pangan Buah Ae Buahan 29,35 Pangan Daging 63,83 Total Sumber: Analisis Data Primer, 2024 Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa total kalori yang dihasilkan dari bahan pangan yang diusahakan dilahan pekarangan adalah sebasar 101 Kkal. Kalori yang dibutuhkan oleh setiap individu adalah 2. 125 - 2. 725 Kkal/kap/hari. Dengan demikian untuk menentukan kontribusi usahatani terpadu dalam memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, maka kalori yang dihasilkan dari pangan yang diusahakan di lahan pekarangan dibagi kalori yang dihutuhkan dalam satu bulan. Dengan demikian kebutuhan kal/kap/hari yang kemudian dikali dengan 30 hari seningga memperoleh hasil 81750 kal/kap/bulan dan kemudian dibagi dengan total kilokalori yang dihasilkan maka kontribusi yang dihasilkan adalah 25,4936 kkal/kap/bulan. Dengan demikin dapat dilihat bahwa usahatani di lahan pemenuhan kenutuhan pangan. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan kesimpulan yang diperoleh adalah: Rara-rata luas lahan pekarangan yang dimiliki oleh masyarakat desa obesi adalah 20 are dan rata- rata luas bangunan rumah yaitu 0,47 are. Berdasarkan luas lahan tersebut sangat berpotensi untuk melakukan usahatani terpadu dengan hasil produksi yang telah dilakukan adalah jenis tanaman pangan pokok yaitu talas, ubi jalar, dan singkong dengan total produksi sebesar 679 kg/tahun. Jenis tanaman holtikultura yaitu kangkung, bayam, sawi, terong, labu siam,cabe, paria dengan total produksi 168 kg/bulan. Selanjutnya tanaman biofarmaka yaitu sereh, daun bawang, seledri, lemgkuas, kemangi, kunyit dengan total produksi 11,34 kg/bulan. Dan tanaman perkebunan yaitu kopi, jeruk, alpukat, kemiri, mangga, pisang, pinang, pepaya dengan total produksi sebanyak 308 kg/tahun. Terahir jenis ternak yang diusahakan di lahan pekarangan adalah ayam, babi, sapi dan kambing dengan total hasil produksi yaitu 14 ekor/tahun. Dengan demikian dalah pekarangan sangat berpotensi untuk diterapkan sistem usahatani Ketersediaan pangan pokok dan keragaman konsumsi pangan Lahan pekarangan dapat memberikan dan masyarakat desa dalam satu tahun, walaupun bukan pangan pokok utaman yaitu beras, melainkan pangan yang ada di lahan pekarangan berupa umbi Ae umbian, akan tetapi dapat dilihat dari rata-rata hasil produksi keseluruhan pangan pokok yang dihasilkan dari pengurangan antara input dan output yakni sebasar 340 kg/tahun dapat memenuhi ketersediaan pangan pokok. koefisien keragaman konsumsi pangan pada rumah tangga masyarakat desa Obesi ada pada tingkatan keragaman konsumsi pangan pada kategori tingkat keragaman yang tinggi dikarenakan koefisien keragamanya berada pada Berdasarkan hasil penelitihan kontrisubi usahatani terpadu di lahan pekarangan dapat memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga adalah sebesar 25. 483 kkal/kap/bulan. Saran Berdasarkan data diatas menunjukan bahwa: Lahan pekarangan dapat berpotensi untuk lakukan Usahatani terpadu, maka diharapkan agar semua masyarakat dapat memanfaatkan lahan pekaranganya agar dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga. Untuk pemerintah Desa OAobesi, diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan lahan Mou, et all. Efisiensi Usatahu Terpadu di Lahan PekaranganaPage 101 pekarangan untuk menerapkan usahatani Untuk peneliti selanjutnya, diharapkan dapat melengkapi kekurangan dalam penelitian ini, baik dari data primer dan melakukan penelitian Ae penelitian serupa agar dapat bermanfaat bagi banyak orang DAFTAR PUSTAKA