ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29126-29135 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Budaya Religius Peserta Didik di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Medan Maimunah Munthe1. Syaukani2. Muhammad Rapono3 1,2,3 Pendidikan Agama Islam. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara e-mail: maimunah0301213154@uinsu. id1, syaukani@uinsu. muhammadrapono@uinsu. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya ketimpangan dalam penerapan budaya religius di Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan apa saja bentuk budaya religius dan bagaimana budaya itu terjadi, dan untuk mengetahui apa saja faktor yang mendukung dan menghambat atmosfer budaya religius peserta didik serta alasan mengapa budaya religius timbul di MTs Negeri 2 Medan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian Informan terdiri dari 19 orang yang meliputi kepala madrasah, guru rumpun PAI, dan peserta didik. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan Analisis data menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi. Keabsahan data diuji melalui perpanjangan pengamatan, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adapun bentuk budaya religius yang berkembang di MTs Negeri 2 Medan tampak dalam berbagai kegiatan keagamaan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di madrasah. Meliputi kegiatan Morning Smile. Murajah. Tadarus Al-QurAan. Shalat Dhuha. Shalat berjamaah. Tahfidz. Dakwah JumAat. Shalat JumAat, dan BTQ. Budaya religius tersebut di dukung juga oleh faktor pendukung antara lain profesionalitas atau dedikasi guru, ketersediaan fasilitas atau sarana dan prasarana yang lengkap, serta kerja sama antara pihak madrasah dan orang tua. Sementara itu, faktor penghambat meliputi keterbatasan waktu, latar belakang keluarga atau orang tua, rendahnya kesadaran diri, pengaruh lingkungan dan teman sebaya, serta penggunaan teknologi. Budaya religius ini muncul sebagai bagian dari visi dan misi, implementasi kurikulum, serta upaya pembinaan akhlak dan kedisiplinan peserta didik. Kata kunci: Budaya. Religius. Peserta Didik Abstract This research is motivated by the existence of inequality in the application of religious culture in This study aims to describe what are the forms of religious culture and how it occurs, and to find out what are the factors that support and hinder the atmosphere of the religious culture of students and the reasons why religious culture arises in MTs Negeri 2 Medan. This study uses a qualitative approach with a descriptive type of research. The informants consisted of 19 people including the head of the madrasah, teachers of the PAI cluster, and students. Data collection techniques are carried out through observation, interviews, and documentation. Data analysis uses the stages of data reduction, data presentation, conclusion drawn, and verification. The validity of the data was tested through observation extension, observation persistence, and triangulation. The results of the study show that the form of religious culture that develops in MTs Negeri 2 Medan is seen in various religious activities that are part of daily life in the madrasah. Including Morning Smile. Muraja'ah. Qur'anic tadarus. Dhuha prayer, congregational prayer. Tahfidz. Friday da'wah. Friday prayer, and BTQ. The religious culture is also supported by supporting factors, including the professionalism or dedication of teachers, the availability of complete facilities or facilities and infrastructure, and cooperation between the madrasah and parents. Meanwhile, inhibiting factors include time constraints, family or parental background, low self- awareness, environmental and peer influences, and the use of technology. This religious culture emerged as part of the vision and mission, curriculum implementation, and efforts to develop the morals and discipline of students. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29126-29135 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Keywords : Culture. Religious. Students PENDAHULUAN Pendidikan merupakan tranformasi ilmu pengetahuan, nilai-nilai budaya, dan cara berperilaku di masyarakat dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam hal ini, pendidikan agama memiliki peran penting dalam membentuk sifat dan kepribadian siswa di Indonesia. Hal ini sesuai dengan pernyataan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa tujuan utama pendidikan nasional adalah untuk membentuk peserta didik menjadi orang yang beriman, menjunjung tinggi Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak baik, sehat secara fisik dan mental, memiliki pengetahuan dan keterampilan, mandiri, kreatif, serta bertanggung jawab sebagai warga negara yang demokratis (Rahman et al. , 2021:. Sebagai pelaksana dari tujuan ini, lembaga pendidikan, terutama madrasah, memegang peranan penting dalam membangun budaya religius di lingkungan belajar. Pendidikan di Indonesia, terutama yang berdasarkan agama,berkontribusi besar dalam membentuk karakter dan sikap religius siswa (Salisah et al. , 2024:. Madrasah sebagai institusi pendidikan Islam bukan hanya bertugas mengajar ilmu, tetapi juga sebagai wadah untuk membangun nilai-nilai spritual dan sosial melalui budaya relgius. Di MTs Negeri 2 Medan, sebagai lembaga yang berada di bawah naungan Kementerian Agama, bertugas mencetak siswa yang cerdas secara akademis dan matang secara spiritual. Oleh karena itu, penerapan budaya religius menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan belajar dan pembinaan karakter siswa. (Izzati et al. , 2023:. Di lingkungan pendidikan, terutama di madrasah, pembentukan karakter melalui penanaman nilai-nilai keagamaan sangat penting, terutama di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang bisa menggeser nilai moral dan sosial generasi muda. Dengan demikian, institusi pendidikan tidak hanya bertugas mengajarkan ilmu, tetapi juga menjadi media pembentukan nilai-nilai spiritual dan etika yang akan diterapkan dalam kehidupan seharihari peserta didik. (Hamdani, 2024:. Penerapan budaya religius di lingkungan sekolah memberikan pengaruh besar dalam mengembangkan kepribadian siswa, khususnya dalam hal kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan sikap toleransi. Budaya religius ini diaplikasikan melalui berbagai kegiatan, baik formal maupun non-formal. Konsistensi dan kelanjutan dalam penerapan budaya religius mampu menciptakan suasana sekolah yang mendukung penanaman nilai-nilai Islam dalam diri siswa. Di MTs Negeri 2 Medan, budaya religius diterapkan melalui berbagai kegiatan keagamaan yang terstruktur, seperti morning smile yang mencakup senyum, salam, sapa, sopan, dan santun saat menyambut siswa di gerbang madrasah dan juga selama masih berada di lingkungan madrasah. Selain itu, di madrasah dalam praktiknya juga melaksanakan kegiatan murajah atau membaca Juz Amma setiap hari Selasa, kegiatan dakwah Jumat yang dimulai dengan membaca surah Yasin dan doa bersama guru dan siswa, program infaq Jumat, shalat Dhuha, serta shalat Dzuhur dan Ashar secara berjamaah. Madrasah juga mengadakan shalat Jumat berjamaah khusus untuk siswa lakilaki, program tahfiz, kegiatan baca tulis Al-QurAan (BTQ). Semua kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan secara terus-menerus dalam kehidupan siswa. Namun berdasarkan hasil observasi peneliti terkait budaya religius di MTs Negeri 2 Medan masih terdapat fenomena ketimpangan dalam penerapan budaya religius di madrasah yakni beberapa peserta didik masih menunjukkan perilaku yang kurang mencerminkan nilai-nilai keislaman, kurangnya internalisasi nilai-nilai religius dalam perilaku sehari-hari siswa, seperti masih adanya siswa yang berkata kasar, berbohong atau tidak berbicara jujur, kurang hormat kepada guru, tidak menghargai teman, tata cara berpakaian yang masih belum sepenuhnya sesuai dengan syariat Islam dan kebijakan atau peraturan madrasah seperti tidak memakai jilbab di rumah, kurangnya pasrtisipasi peserta didik dalam kegiatan keagamaan yang diadakan madrasah serta masih terdapat gejala yang menunjukkan adanya perbedaan tingkat pemahaman peserta didik terhadap nilai-nilai keagamaan, dimana masih ada beberapa peserta didik terlihat kurang konsisten dalam menjalankan kewajiban ibadah, seperti shalat berjamaah, membaca Al-QurAan dan kegiatan religius lainnya yang ada di madrasah. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29126-29135 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Budaya religius dapat diartikan sebagai pola hidup yang menunjukkan nilai-nilai agama dalam kehidupan individu maupun kelompok. Dalam dunia pendidikan, budaya ini ditanamkan melalui kegiatan yang membuat siswa semakin dekat dengan ajaran agama, seperti melakukan ibadah bersama, membaca Al-QurAan, berpakaian sopan, dan serta menghormati guru dan teman. Tingkat internalisasi budaya religius oleh siswa mencerminkan sejauh mana proses pendidikan berhasil dalam membentuk karakter religius melalui interaksi sehari-hari di sekolah. (Zamroji et al. Menurut KH. Ahmad Dahlan agama adalah panduan bagi manusia dalam pengaturan hidup, interaksi sosial, dan pengelolaan alam, yang telah ditentukan oleh Allah melalui nabi-Nya, serta sebagai petunjuk untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan mempersiapkan kebahagiaan di akhirat (Sulaiman, 2019:. Teori internalisasi nilai religius menjelaskan bahwa nilai-nilai keagamaan tidak serta-merta tertanam dalam diri individu, tetapi melalui proses pembelajaran dan pembiasaan, dalam hal ini, peserta didik menerima dan menghayati nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan melalui beberapa cara diantaranya adalah kegiatan keagamaan di sekolah, dalam pendidikan Islam, teori pembiasaan dikenal dengan istilah taAdib, yaitu proses pendidikan akhlak dan nilai melalui latihan terus-menerus. Ibnu Sina menekankan pentingnya pembiasaan perilaku baik sejak dini, karena anak cenderung meniru dan menanamkan apa yang dilihat secara konsisten. (Zubair et al. , 2024:. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa nilai-nilai religius yang diterapkan di kalangan siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Nurkholis . menyatakan bahwa lingkungan sosial dan dukungan dari keluarga sangat membantu dalam memperkuat budaya religius siswa. Sementara itu. Fadli . mengatakan bahwa pembelajaran agama di madrasah membantu meningkatkan kesadaran religius siswa, tetapi belum sepenuhnya mampu membentuk kebiasaan beragama yang teratur dan konsisten. Untuk itu, penelitian ini penting untuk mempelajari secara mendalam bagaimana budaya religius diterapkan di kalangan siswa di madrasah, khususnya di MTs Negeri 2 Medan. Mengingat tantangan di era sekarang semakin rumit, penguatan budaya religius menjadi bagian penting dalam membentuk karakter siswa bukan hanya baik pada aspek akademik, tetapi juga baik pada aspek keagamaan. Penelitian ini diharapkan bisa menunjukkan bagaimana budaya religius ditanamkan, dipertahankan, dan dikembangkan di madrasah, serta menjadi dasar evaluasi dan pengembangan kebijakan pendidikan karakter religius yang tidak hanya bersifat simbolik, tetapi benar-benar terlihat dalam perilaku siswa sehari-hari. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul AuBudaya Religius Peserta Didik di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Medan. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Menurut Moleong . penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain sebagainya secara holistic, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Nasution, 2023:. Informan dalam penelitian ini terdiri dari 19 orang yang meliputi kepala madrasah, guru rumpun PAI, dan peserta didik. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi. Keabsahan data diuji melalui perpanjangan pengamatan, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. (Sugiyono, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk Budaya Religius Peserta Didik dan Bagaimana Budaya itu di MTs Negeri 2 Medan Berdasarkan temuan peneliti, terdapat beberapa bentuk budaya religius di MTs Negeri 2 Medan. Menurut Chusnul Chotimah budaya religius adalah upaya terwujudnya nilai-nilai ajaran agama sebagai tradisi dalam berperilaku dan budaya organisasi yang diikuti oleh seluruh masyarakat di dalamnya, dimana dengan tradisi tersebut individu sudah melakukan ajaran agama. Budaya religius yang sudah dilaksanakan oleh warga sekolah di lingkungan sekolah yang memiliki Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29126-29135 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 program-program atau kegiatan-kegiatan yang dapat memberi dampak positif kepada siswa maupun guru dan staf atau karakter yang berciri khas sesuai dengan visi dan misi sekolah tersebut (Chusnul Chotimah, 2014:. Sesuai dengan pendapat Asmaun Sahlan . 0:117- . yang menyatakan bahwa wujud budaya religius dapat meliputi budaya senyum, salam sapa, hormat dan toleran, puasa senin kamis, sholat Dhuha, sholat Dzuhur berjamaah, tadarus Al-QurAan, budaya istighasah, dan doa bersama. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menemukan bahwa untuk membentuk kepribadian siswa sekolah tidak hanya melalui pembelajaran pendidikan agama Islam yang di ajarkan saat di dalam kelas, melainkan sekolah juga menguatkan dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat Aadapun bentuk budaya religius yang pertama adalah program Morning Smile merupakan kegiatan pembiasaan lima nilai utama, yaitu senyum, salam, sapa, sopan, dan santun . S). Morning Smile menjadi bentuk budaya religius karena merupakan salah satu dari ajaran agama Islam yang dianjurkan untuk dilakukan oleh setiap muslim kepada siapapun. Hal ini menunjukkan bahwa senyum, salam, sapa, sopan dan santun dapat membentuk akhlak 5S ini menjadi salah satu aspek yang diterapkan setiap pagi saat peserta didik memasuki lingkungan madrasah. Berdasarkan observasi dan wawancara, kegiatan ini dilakukan secara terstruktur, di mana guru-guru bertugas menyambut siswa di gerbang madrasah. Penyambutan dilakukan secara bergiliran dan dibedakan antara siswa laki-laki dan Pada kegiatan Morning Smile ini juga guru-guru menyambut dengan ramah, para guru juga memeriksa kerapian berpakaian peserta didik. Tujuan dari kegiatan ini adalah membentuk suasana religius yang hangat serta menanamkan nilai-nilai moral dalam interaksi sosial. Dari pengamatan langsung di MTs Negeri 2 Medan terlihat bahwa sebagian besar siswa telah terbiasa menerapkan budaya 5S dalam keseharian, seperti memberi salam kepada guru, menyapa saat berpapasan, serta menunjukkan sikap santun. Namun, masih terdapat sebagian siswa yang belum konsisten melaksanakannya. Dalam praktik keseluruhan di lingkungan madrasah budaya Morning Smile ini masih belum di terapkan secara maksimal, dimana masih terlihat bahwa siswa perempuan menyalami guru laki-lakinya, sehingga hal ini belum mencerminkan budaya religius atau budaya Islam, dimana tidak boleh antara yang bukan mahram bersalaman atau Budaya religius yang kedua adalah Murajah, menjaga hafalan melalui murajaah . tak kalah pentingnya agar hafalan tetap kuat dan tidak hilang. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang mencintai dan menjaga Al-QurAan. Kegiatan murajah di MTs Negeri 2 Medan dilaksanakan setiap hari Selasa pagi di lapangan madrasah. Kegiatan ini berupa pembacaan Juz Amma secara bersama-sama oleh seluruh warga madrasah, yang dipandu oleh guru penanggung jawab kegiatan keagamaan. Murajah menjadi bentuk implementasi nilai religius yang mengarah pada pembiasaan spiritual dan kedisiplinan. Kegiatan Murajah di MTs Negeri 2 Medan menunjukkan bahwa kegiatan tersebut berjalan secara terstruktur dan mendapat antusiasme yang cukup tinggi dari sebagian besar siswa. Mereka mengikuti dengan tertib dan membawa Juz Amma masing-masing. Namun, masih ditemukan beberapa siswa yang tidak membawa mushaf dan kurang aktif dalam pelaksanaan. Untuk mengatasi hal tersebut, guru menerapkan pendekatan edukatif dengan meminta siswa tersebut maju ke depan sebagai bentuk pembinaan langsung. Secara umum, murajah memberikan dampak positif, tidak hanya dalam hal peningkatan kemampuan membaca Al-QurAan, tetapi juga dalam membangun semangat spiritual dan kebersamaan di antara siswa. Namun dalam kaitannya dengan budaya religius atau budaya Islam sebenarnya MTs Negeri 2 Medan dalam kegiatan murajah masih terlihat antar siswa laki-laki dengan perempuan itu bergabung di lapangan, walaupun ada sekat yang memisahkan yaitu jalan untuk guru mengawasi anak-anak ketika proses murajaah berlangsung. Budaya religius yang ketiga adalah kegiatan tadarus atau membaca Al-QurAan yang dilaksanakan setiap hari sebelum dan sesudah pembelajaran di kelas. Kegiatan ini menjadi media spiritualisasi sekaligus upaya menyucikan hati siswa agar lebih siap menerima pelajaran. Madrasah juga menyediakan program tambahan seperti BTQ (Baca Tulis Al-QurAa. Tahfidz, dan Murajah untuk memperkuat kemampuan membaca Al-QurAan siswa. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29126-29135 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Dari hasil wawancara dengan peserta didik, diketahui bahwa sebagian besar dari mereka telah memiliki kebiasaan membaca Al-QurAan di rumah, terutama setelah Maghrib. Hal ini sangat mendukung kegiatan tadarus di sekolah. Namun demikian, beberapa siswa masih kurang aktif dan hanya membaca Al-QurAan ketika diminta oleh guru. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembiasaan yang efektif tidak hanya ditentukan oleh kegiatan di madrasah, tetapi juga dipengaruhi oleh kebiasaan religius di lingkungan keluarga. Kaitannya dengan budaya Islam di MTs Negeri 2 Medan masih belum ada peraturan untuk pemisahan antara siswa laki-laki dengan perempuan di dalam kelas, padahal berdasarkan budaya Islam tidak diperbolehkan seorang yang bukan muhrim berada di satu ruangan yang sama. Budaya religius yang keempat adalah pelaksanaan shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang dilakukan di pagi hari, dan memiliki banyak keutamaan, di antaranya sebagai sedekah untuk setiap sendi tubuh dan menjadi sebab dilapangkannya rezeki. Rasulullah Saw bersabda bahwa orang yang rutin melaksanakan shalat Dhuha akan dicukupkan kebutuhannya oleh Allah. Shalat Dhuha di MTs Negeri 2 Medan walaupun belum dijadwalkan secara formal, namun menjadi budaya religius yang ditanamkan melalui pendekatan pembiasaan. Guru-guru agama mendorong siswa untuk melaksanakannya secara sukarela, terutama pada waktu istirahat pertama. Terlihat sebagian siswa telah melaksanakan shalat Dhuha secara rutin, baik karena pembiasaan pribadi maupun pengaruh lingkungan madrasah. Beberapa siswa menyatakan bahwa mereka merasa lebih tenang dan bersemangat belajar setelah melaksanakan ibadah ini. Namun demikian, keterlibatan peserta didik masih bervariasi. Banyak siswa yang belum terbiasa, bahkan belum memahami pentingnya shalat Dhuha, terutama karena waktu pelaksanaan yang bertepatan dengan jam istirahat dan belum adanya ketentuan wajib dari pihak madrasah. Budaya religius yang kelima adalah pelaksanaan shalat berjamaah memiliki keutamaan luar biasa. Rasulullah Saw bersabda bahwa shalat berjamaah lebih utama 27 derajat dibandingkan dengan shalat sendirian. Selain mempererat ukhuwah Islamiyah, shalat berjamaah juga mendidik kita dalam kedisiplinan, kebersamaan, dan kepatuhan pada aturan. Shalat berjamaah di MTs Negeri 2 Medan telah dilakukan secara terstruktur, dengan jadwal bergilir untuk setiap kelas. Hal ini merupakan bentuk pembiasaan religius yang menekankan kedisiplinan waktu dan pembentukan sikap spiritual siswa. Sebagian besar siswa aktif mengikuti shalat berjamaah baik Dzuhur maupun Ashar, khususnya bagi siswa yang memiliki kegiatan hingga sore hari. Keikutsertaan dalam kegiatan ini juga menunjukkan bahwa siswa merasa lebih tenang dan nyaman saat melaksanakan ibadah secara berjamaah bersama teman-temannya. Namun demikian, tidak semua siswa mengikuti shalat berjamaah secara konsisten. Beberapa siswa mengaku sering shalat sendiri, bahkan ada yang tidak melaksanakan shalat karena lupa atau memilih bermain. Ini menunjukkan bahwa meskipun program telah dijalankan secara terencana, internalisasi nilai religius pada diri siswa masih memerlukan penguatan, terutama dari sisi pengawasan dan pembinaan karakter secara personal. Selain itu, partisipasi siswa dalam shalat hingga selesai doa juga bervariasi. Sebagian besar siswa menyelesaikan ibadah hingga doa bersama, namun sebagian lainnya meninggalkan masjid setelah salam. Hal ini menjadi perhatian penting karena keberhasilan pembentukan karakter religius tidak hanya ditentukan oleh keterlibatan dalam kegiatan, tetapi juga konsistensi dalam menjalankannya hingga tuntas. Budaya religius yang keenam adalah kegiatan Tahfidz, menghafal Al-QurAan . adalah amalan mulia yang menjadikan seseorang sebagai penjaga kalam Allah. Tahfidz merupakan salah satu program unggulan di MTs Negeri 2 Medan. Program ini dijalankan secara terstruktur dengan target hafalan juz 30 selama tiga tahun masa pendidikan. Kegiatan Tahfidz dilaksanakan setiap Senin hingga Kamis setelah jam pelajaran selesai. Berdasarkan wawancara dengan guru dan siswa, program ini memiliki standar evaluasi yang ketat, termasuk sebagai syarat kelulusan dan kenaikan kelas. Pelaksanaan Tahfidz tidak hanya menargetkan hafalan semata, tetapi juga mendorong kedisiplinan dan tanggung jawab siswa. Hasil observasi menunjukkan bahwa kegiatan ini dilakukan dengan sistem setoran hafalan kepada guru pembimbing, dan dicatat dalam buku laporan khusus. Program ini mendapat respon positif dari siswa, bahkan beberapa di antaranya menyampaikan bahwa kegiatan Tahfidz menjadi momen favorit karena dapat memperkuat hafalan dan mendekatkan diri kepada Al- QurAan. Namun, pemberlakuan sanksi yang ketat bagi siswa yang Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29126-29135 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 tidak mencapai target menjadi tantangan tersendiri. Meski efektif dari sisi pengendalian kedisiplinan, pendekatan ini perlu dibarengi dengan pembinaan yang berorientasi pada pemahaman nilai spiritual, agar siswa tidak merasa Tahfidz sebagai beban, melainkan sebagai bentuk kecintaan kepada Al-QurAan. Budaya religius yang ketujuh adalah kegiatan Dakwah JumAat, dakwah JumAat bukan hanya tentang ceramah, tapi juga bentuk pengingat bagi kita semua untuk terus memperbaiki diri, memperkuat iman, dan menebar kebaikan. Kegiatan ini menjadi momen untuk saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran sebagaimana perintah Allah dalam surah Al-AAshr. Di MTs Negeri 2 Medan dakwah JumAat dilaksanakan setiap hari JumAat pagi sebelum pelaksanaan shalat JumAat. Program ini melibatkan seluruh warga madrasah dalam pembacaan Surah Yasin, doa bersama, dan pengumuman infaq terbanyak mingguan. Kegiatan ini tidak hanya membangun kebersamaan spiritual, tetapi juga menanamkan nilai sosial dan kepedulian melalui penggalangan sedekah. Respon siswa terhadap kegiatan ini cukup positif. Mereka merasa kegiatan ini memperkuat kebiasaan ibadah yang sebelumnya telah ditanamkan di rumah. Namun, hasil observasi juga menunjukkan bahwa tantangan kedisiplinan muncul pada akhir kegiatan, ketika sebagian siswa mulai ribut dan kehilangan fokus. Budaya religius yang kedelapan adalah pelaksanaan shalat JumAat di madrasah yang diwajibkan bagi seluruh siswa laki-laki dan dijadikan sebagai bagian dari strategi pembinaan karakter sekaligus tindakan preventif terhadap perilaku negatif, seperti perkelahian antar pelajar. Kegiatan ini menciptakan suasana religius yang tertib, dengan pengawasan langsung dari guru. Pemilihan guru sebagai khatib juga menambah nuansa pembelajaran moral dan akhlak dalam khutbah yang disampaikan. Shalat JumAat merupakan kewajiban mingguan bagi laki-laki Muslim yang baligh dan berakal. Ia adalah momen istimewa untuk menguatkan iman melalui khutbah, dzikir, dan kebersamaan umat Islam. Dalam Qs. Al-JumuAah ayat 9. Allah memerintahkan untuk meninggalkan jual beli dan segera menuju shalat JumAat ketika adzan dikumandangkan. Budaya religius yang terakhir yakni yang kesembilan adalah kegiatan BTQ yang dilaksanakan setiap Sabtu dan dibimbing langsung oleh wali kelas. Siswa diarahkan untuk membaca dan menulis surah-surah pendek dari Juz 30. Kegiatan ini memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan membaca dan menulis Al-QurAan siswa. Selain itu, kegiatan BTQ memperkuat hubungan emosional antara guru dan siswa, karena dilakukan dalam suasana yang lebih personal dan santai. BTQ adalah fondasi dalam berinteraksi dengan Al-QurAan. Dengan belajar membaca dan menulis huruf hijaiyah dengan benar, kita membuka pintu untuk memahami, mengamalkan, dan menghafal Al- QurAan. Ini adalah langkah awal namun sangat menentukan dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Kegiatan-kegiatan tersebut juga menunjukkan bahwa pendidikan religius tidak hanya berkutat pada pembelajaran dalam kelas, tetapi juga pada praktik langsung yang sistematis dan Kegiatan seperti Morning Smile membentuk karakter sosial- religius, sementara murajah dan tadarus memperkuat aspek spiritual dan kedisiplinan. Sementara itu, shalat Dhuha meskipun belum terstruktur penuh, menunjukkan adanya dorongan pembiasaan dari guru yang berdampak positif pada peserta didik tertentu, tahfidz dan BTQ berperan penting dalam membentuk kedekatan siswa dengan Al- QurAan, sedangkan shalat berjamaah dan dakwah JumAat menjadi sarana pembinaan spiritual dan sosial. Dengan demikian, budaya religius yang diterapkan di madrasah ini telah berjalan sebagai suatu sistem pembentukan karakter yang utuh, meskipun masih terdapat tantangan yang harus terus diperbaiki secara berkelanjutan. Faktor yang Mendukung dan Menghambat Atmosfer Budaya Religius Peserta Didik di MTs Negeri 2 Medan Budaya religius merupakan bagian dari pembentukan karakter yang sangat penting di lingkungan pendidikan, terutama di lembaga berbasis keagamaan seperti Madrasah Tsanawiyah. Hasil penelitian yang dilakukan di MTs Negeri 2 Medan menunjukkan bahwa budaya religius di lingkungan madrasah ini telah diupayakan secara sistematis melalui berbagai program keagamaan, pembiasaan kegiatan ibadah, dan keteladanan dari guru. Dalam konteks ini, internalisasi nilai-nilai agama kepada peserta didik tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran formal, tetapi juga melalui kegiatan non-formal yang dirancang sebagai bagian dari kultur Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29126-29135 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Budaya religius yang terbentuk dalam lingkungan pendidikan tidak hanya tumbuh secara alami, melainkan juga merupakan hasil dari interaksi berbagai faktor, baik internal maupun Budaya religius yang dikembangkan di MTs Negeri 2 Medan merupakan bagian dari strategi pembentukan karakter peserta didik yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan. Berdasarkan hasil penelitian melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, budaya religius di madrasah ini diwujudkan dalam berbagai kegiatan keagamaan rutin maupun insidental, seperti morning smile, shalat berjamaah, tadarus atau membaca Al-QurAan, dan kegiatan keagamaan lainnya, serta pembiasaan sikap- sikap positif seperti sopan santun, kedisiplinan, dan tanggung Budaya religius tersebut tidak sekadar menjadi seremonial, melainkan terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari peserta didik di lingkungan madrasah. Hasil analisis menunjukkan beberapa faktor pendukung utama dalam keberhasilan implementasi budaya religius. Pertama, profesionalitas dan dedikasi guru menjadi faktor sentral. Guru tidak hanya berperan sebagai pendidik akademik, melainkan juga sebagai figur teladan dalam perilaku, tutur kata, dan praktik keagamaan. Keteladanan tersebut mendorong peserta didik untuk meniru dan membiasakan diri dalam berperilaku religius, para pendidik atau guru di MTs Negeri 2 Medan terlihat memang menunjukkan dedikasi tinggi dalam mendampingi siswa dalam menjalankan kegiatan keagamaan, dimana mereka ikut serta melakukan kegiatan hal ini memberikan contoh nyata kepada seluruh peserta didik. Temuan ini konsisten dengan pendapat Tilaar . dan Fathurrohman . 5:108-. terkait internalisasi nilai-nilai religius yang menyatakan bahwa budaya religius harus diwujudkan melalui praktik nyata, bukan hanya sebagai simbol atau suasana semata. Berdasarkan hasil observasi peneliti di lapangan yakni MTs Negeri 2 Medan menemukan bahwa guru turut serta dalam kegiatan keagamaan, seperti shalat berjamaah, bukan hanya bertindak sebagai pengarah tetapi juga sebagai contoh dan teladan yang dapat di ikuti oleh siswanya. Kedua, dukungan sarana dan prasarana yang memadai turut memperkuat pelaksanaan budaya religius. Keberadaan fasilitas seperti masjid, tempat wudhu, ruang kelas yang bersih dan tertata, serta lingkungan yang kondusif memungkinkan kegiatan keagamaan berjalan tertib dan Hal ini sejalan dengan pendapat Chotimah . dan Sahlan . bahwa pembentukan budaya religius memerlukan ekosistem atau infrastruktur pendukung agar nilai-nilai agama dapat diimplementasikan secara optimal dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, kolaborasi antara madrasah dan orang tua merupakan aspek penting dalam membentuk budaya religius peserta didik. Melalui komunikasi intensif, misalnya melalui grup WhatsApp kelas dan pelaporan kegiatan ibadah siswa, madrasah menjalin kemitraan dengan orang tua untuk mengawasi dan mendampingi perkembangan spiritual anak. Kerja sama ini menciptakan kesinambungan pembinaan antara lingkungan sekolah dan rumah, sesuai dengan pandangan Jalaluddin . yang menegaskan bahwa keluarga adalah madrasah pertama dalam kehidupan anak. Sehingga peran keluarga terutama orang tua sangat besar dalam membentuk budaya religius anak. Disisi lain, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa faktor penghambat dalam penerapan budaya religius, yakni keterbatasan waktu, kurangnya peran orang tua, rendahnya kesadaran diri siswa, pengaruh lingkungan dan teman sebaya, serta tantangan dari penggunaan Kelima faktor ini saling terkait dan memberikan dampak terhadap efektivitas pelaksanaan kegiatan religius dalam membentuk budaya religius peserta didik. Faktor pertama yang menjadi hambatan signifikan adalah keterbatasan waktu. Kegiatan pembelajaran di madrasah yang sudah tersusun dalam jadwal akademik yang padat sering kali menyulitkan integrasi program-program religius secara maksimal. Kegiatan seperti shalat Dhuha, tadarus, dan pembiasaan ibadah lainnya kerap dilakukan secara tergesa-gesa karena terbatasnya waktu, atau bahkan tidak dapat dilaksanakan karena berbenturan dengan kegiatan pembelajaran Oleh karena itu, keterbatasan waktu dapat menghambat konsistensi dalam pembentukan nilai religius, terutama jika kegiatan keagamaan hanya dijadikan sisipan dalam jadwal belajar-mengajar. Faktor kedua adalah rendahnya kesadaran diri peserta didik terhadap pentingnya menjalankan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian besar siswa diketahui mengikuti kegiatan religius hanya sebatas formalitas, bukan atas dasar pemahaman dan Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29126-29135 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 kesadaran spiritual. Hal ini dapat dianalisis melalui pendekatan psikologi pendidikan, yang menyebutkan bahwa motivasi internal sangat penting dalam menentukan perilaku dan sikap individu terhadap suatu nilai atau ajaran. Minimnya kesadaran diri ini berdampak pada kurangnya kedisiplinan dan ketidakterlibatan siswa dalam kegiatan keagamaan di madrasah. Hal ini menandakan bahwa meskipun kegiatan telah dirancang oleh pihak sekolah, namun jika tidak ditopang oleh kemauan dan kesadaran dari dalam diri siswa, maka proses pembentukan budaya religius tidak akan optimal. Faktor ketiga adalah kurangnya keterlibatan keluarga, khususnya orang tua, dalam mendukung pembinaan budaya religius anak. Berdasarkan wawancara dengan kepala madrasah dan guru, ditemukan bahwa sebagian besar orang tua peserta didik belum memberikan perhatian yang cukup terhadap pendidikan agama di rumah. Kesibukan pekerjaan dan kurangnya pemahaman mengenai pentingnya pembinaan spiritual menjadi alasan utama. Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan antara pendidikan formal di sekolah dengan pendidikan nonformal di lingkungan keluarga. Padahal, keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam proses internalisasi nilai. Ketika tidak ada kesinambungan antara nilai yang ditanamkan di sekolah dan yang dipraktikkan di rumah, maka proses pembentukan budaya religius tidak berjalan secara menyeluruh. Faktor keempat yang menjadi penghambat adalah pengaruh lingkungan sosial dan teman Remaja cenderung lebih mudah terpengaruh oleh kelompok sosial di sekitarnya, terutama dalam lingkungan pergaulan di luar madrasah. Ketika siswa berinteraksi dengan teman yang memiliki nilai-nilai religius yang lemah, maka besar kemungkinan mereka akan terbawa oleh pola perilaku negatif tersebut. Dalam konteks ini, teman sebaya menjadi model perilaku yang kuat, dan jika tidak diarahkan, maka dapat menjauhkan peserta didik dari nilai-nilai keagamaan yang telah ditanamkan di sekolah. Faktor kelima adalah pengaruh teknologi, terutama penggunaan gawai dan media sosial yang berlebihan. Di satu sisi, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran dan Namun pada kenyataannya, penggunaan handphone oleh siswa lebih banyak mengarah pada konsumsi hiburan yang tidak mendidik. Tanpa adanya pengawasan dari guru maupun orang tua, penggunaan teknologi dapat mengganggu konsentrasi, menurunkan semangat belajar, dan menjauhkan siswa dari aktivitas ibadah. Fenomena ini sejalan dengan realitas digitalisasi yang membawa dampak ganda pada saat ini yakni berpotensi memberikan pembelajaran yang edukatif namun sekaligus memberikan ancaman terhadap moral dan spiritual anak-anak jika tidak dikendalikan secara bijak. Oleh karena itu, literasi digital dan penguatan control terhadap penggunaan teknologi menjadi penting dalam menjaga budaya religius peserta didik. Secara keseluruhan, kelima faktor tersebut menunjukkan bahwa tantangan dalam membentuk atmosfer budaya religius di madrasah tidak dapat diatasi hanya dengan pendekatan internal dari sekolah semata. Diperlukan sinergi antara madrasah, keluarga, dan lingkungan sosial yang lebih luas dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan. Selain itu, perlu adanya penyesuaian kebijakan pendidikan yang lebih memberi ruang bagi pembinaan karakter, tidak hanya terfokus pada pencapaian akademik. Pendekatan yang holistik, berkelanjutan, dan kolaboratif menjadi kunci utama dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam aspek spiritual dan moral. Budaya Religius Timbul di MTs Negeri 2 Medan Budaya religius yang berkembang di MTs Negeri 2 Medan tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari proses bertahap yang melibatkan berbagai faktor internal dan eksternal yang saling mendukung. Hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi menunjukkan bahwa penerapan budaya religius di madrasah ini terus mengalami perkembangan signifikan dalam lima tahun terakhir. Perkembangan ini berkaitan erat dengan peningkatan fasilitas madrasah serta komitmen bersama dari seluruh warga sekolah dalam menciptakan lingkungan yang religius. Salah satu alasan utama yang melatarbelakangi munculnya budaya religius di MTs Negeri 2 Medan adalah adanya visi dan misi madrasah yang secara tegas menekankan pentingnya pembentukan karakter Islami peserta didik. Visi yang berfokus pada pembentukan peserta didik Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29126-29135 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia menjadi landasan dalam penyusunan programprogram pendidikan. Misi yang mendukung visi tersebut diwujudkan melalui kegiatan-kegiatan keagamaan seperti shalat berjamaah, tadarus Al-QurAan, peringatan hari besar Islam, dan pembiasaan sikap-sikap positif. Kepala madrasah menyampaikan bahwa kurikulum madrasah mengintegrasikan ilmu pengetahuan umum dan agama untuk mendukung tujuan tersebut, yang pada akhirnya melahirkan budaya religius yang tumbuh secara konsisten. Faktor kedua yang turut mendorong munculnya budaya religius adalah struktur kurikulum yang diterapkan di madrasah. Kurikulum di MTs Negeri 2 Medan mencakup tidak hanya mata pelajaran keagamaan secara formal, tetapi juga kegiatan non- akademik yang sarat dengan nilainilai religius. Program-program seperti shalat berjamaah, tadarus sebelum pelajaran dimulai, serta peringatan hari besar Islam merupakan bagian dari kurikulum yang dirancang untuk membentuk kebiasaan dan karakter religius dalam diri peserta didik. Kurikulum ini disusun sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan kondisi madrasah, serta mengikuti arahan dari Kementerian Agama yang menjadi payung hukum penyelenggaraan pendidikan Islam. Selanjutnya, upaya untuk meningkatkan akhlak dan disiplin peserta didik juga menjadi faktor yang melatarbelakangi diterapkannya budaya religius di madrasah ini. MTs Negeri 2 Medan menyadari bahwa pembinaan karakter melalui pendekatan keagamaan adalah langkah strategis dalam menghadapi berbagai tantangan social yang dihadapi peserta didik saat ini. Kepala madrasah menegaskan bahwa budaya religius juga dijadikan sebagai benteng dalam menghadapi pengaruh negatif dari lingkungan luar seperti media sosial dan pergaulan bebas. Dari hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa budaya religius di MTs Negeri 2 Medan timbul karena adanya arah kebijakan lembaga yang jelas melalui visi dan misi, penerapan kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan, serta kebutuhan untuk membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia dan disiplin. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan tentang budaya religius peserta didik di MTs Negeri 2 Medan, dapat disimpulkan bahwa bentuk budaya religius peserta didik dan bagaimana budaya itu terjadi di madrasah ini mencakup berbagai praktik keagamaan dan pembiasaan nilai-nilai akhlakul karimah yang dilaksanakan secara terstruktur maupun nonstruktural. Budaya religius tersebut terbentuk melalui proses pembiasaan yang dilakukan secara konsisten oleh guru dan siswa dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan madrasah. Adapun bentuk-bentuk budaya religius yang sudah rutin di lakukan di MTs Negeri 2 Medan meliputi Morning Smile yakni kegiatan yang dilakukan setiap pagi sebagai implementasi budaya 5S guna membentuk sikap hormat serta sopan dan santun. lalu ada kegiatan Murajah yang dilakukan setiap hari selasa dengan membaca Juz Amma sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan hafalan peserta didik, namun kegiatan ini masih dilakukan dengan menggabungkan siswa laki-laki dengan perempuan walaupun ada sekat untuk jalan yang memisahkan tempatnya, selanjutnya kegiatan tadarus/membaca Al-QurAan sebelum dan sesudah belajar yang dilakukan 15 menit sebelum belajar di dalam kelas, namun karena di madrasah tersebut masih belum ada peraturan terkait pemisahan kelas antara siswa laki-laki dan perempuan sehingga dalam kegiatan ini masih bercampur antara siswa laki- laki dan perempuan di dalam kelas, shalat Dhuha yang dilakukan pada waktu bel istirahat sebagai salah satu upaya pembiasaan religius serta memberikan dampak yang positif bagi diri peserta didik, selanjutnya shalat berjamah baik itu shalat Dzuhur dan Ashar di Masjid madrasah dilakukan agar anak senantiasa ikut shalat berjamaah dan tidak meninggalkan shalat, hal ini didukung oleh fasilitas yang disedikan seperti mukena, sarung dan lain sebagainya, dakwah JumAat dan shalat JumAat yang dilakukan setiap minggu pada hari JumAat sebagai salah satu upaya agar anak selalu shalat JumAat dan sebagai upaya dalam mendidik kedisiplinan serta ketertiban peserta didik, yang terakhir kegiatan Tahfidz dan BTQ sebagai salah satu upaya yang dilakukan madrasah untuk meningkatkan kualitas bacaan, hafalan dan tulisan Al-QurAan peserta didik selama menempuh pendidikan di madrasah. Sejumlah faktor penting atau yang mendukung, seperti peran dan profesionalitas guru, ketersediaan fasilitas yang lengkap dan memadai, serta kerja sama antara guru dan orang tua. Terdapat pula sejumlah faktor yang menghambat seperti keterbatasan waktu, kurangnya peran keluarga, rendahnya kesadaran siswa, serta pengaruh Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29126-29135 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 lingkungan, teman sebaya, dan teknologi, yang menjadi tantangan nyata dalam pelaksanaan budaya religius secara optimal. Adapun alasan mengapa budayareligius timbul di MTs Negeri 2 Medan pada dasarnya merupakan hasil dari perencanaan strategis dan pelaksanaan yang konsisten, yang berlandaskan pada visi- misi madrasah, kurikulum yang mendukung, serta kesadaran bersama akan pentingnya pembinaan akhlak dan kedisiplinan siswa atau sebagai upaya dalam peningkatan akhlak dan disiplin siswa. DAFTAR PUSTAKA