Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 10 Nomor 3 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Konstruksi Perilaku Keagamaan Anak Melalui Interaksi Pola Asuh Orang Tua dan Lingkungan Sosial Budaya Heny Perbowosari*. I Nyoman Kiriana Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Indonesia *henysari74@uhnsugriwa. Abstract Children's religious behavior is an important foundation in the formation of character and morals, which is influenced not only by internal factors, but also by the family environment and socio-cultural surroundings. In a modern context, social and cultural changes demand an understanding of how religious values are constructed from an early Therefore, this study aims to analyze the influence of parenting styles and the sociocultural environment, as well as the interaction between the two, in shaping children's religious behavior. This research uses a quantitative approach with a correlational design. Data collection was carried out using a Likert-scale questionnaire that had been tested for validity and reliability. Data analysis employed multiple regression to determine the partial and simultaneous effects between variables. The findings show that children's religious behavior is formed and develops through the mutually influential relationship between parenting styles and the surrounding socio-cultural environment. Children raised with a democratic parenting style, accompanied by a religious and open environment, tend to have more moderate and tolerant attitudes, and are able to demonstrate empathy in their daily In addition, the analysis also shows that the interaction between parenting styles and the socio-cultural environment plays a significant role in strengthening the internalization of religious values in children. Children who receive positive support from both aspects demonstrate consistency in practicing religious rituals, have a deeper understanding of religious teachings, and are able to adapt to evolving social dynamics. The novelty of this research lies in its integrative approach, namely by examining the interrelationship between the role of the family, local culture, and modern social dynamics simultaneously in shaping children's religious behavior. Therefore, the interaction between parenting styles and the socio-cultural environment is crucial in strengthening the internalization of religious values in children. Keywords: Religious Behavior. Parenting Styles. Socio-Cultural Environment. Children Abstrak Perilaku keagamaan anak merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter dan moral, yang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal, tetapi juga oleh lingkungan keluarga dan sosial budaya. Dalam konteks modern, perubahan sosial dan budaya menuntut adanya sebuah pemahaman terkait dengan nilai keagamaan dikonstruksi sejak usia dini. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pola asuh orang tua dan lingkungan sosial budaya serta interaksi keduanya dalam membentuk perilaku keagamaan Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner skala Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan regresi berganda untuk mengetahui pengaruh https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH parsial dan simultan antarvariabel. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perilaku keagamaan anak terbentuk dan berkembang dari hubungan yang saling memengaruhi antara pola asuh orang tua dan lingkungan sosial budaya di sekitarnya. Anak yang tumbuh dalam pola asuh demokratis, disertai lingkungan yang religius dan terbuka, cenderung memiliki sikap yang lebih moderat, toleran, serta mampu menunjukkan empati dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, hasil analisis juga memperlihatkan bahwa interaksi antara pola asuh dan lingkungan sosial budaya berperan signifikan dalam memperkuat internalisasi nilai-nilai keagamaan pada anak. Anak-anak yang mendapatkan dukungan positif dari kedua aspek tersebut menunjukkan konsistensi dalam menjalankan praktik keagamaan, memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap ajaran agama, serta mampu beradaptasi dengan dinamika sosial yang berkembang. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan integratif yang digunakan, yakni dengan melihat keterkaitan antara peran keluarga, budaya lokal, dan dinamika sosial modern secara bersamaan dalam membentuk perilaku keagamaan Oleh karena itu interaksi antara pola asuh dan lingkungan sosial budaya dalam memperkuat internalisasi nilai keagamaan pada anak. Kata Kunci: Perilaku Keagamaan. Pola Asuh Orang Tua. Lingkungan Sosial Budaya. Anak Pendahuluan Perilaku keagamaan anak sebagai suatu tindakan yang penting dalam membentuk karakter serta pribadi individu yang berkelanjutan. Dalam perspektif pendidikan dan psikologi perkembangan, perilaku keagamaan mencakup dimensi kognitif, afektif, dan perilaku yang terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai keagamaan berfungsi sebagai pedoman moral yang mengarahkan individu dalam bertindak dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya (Santrock, 2. Oleh karena itu, pembentukan perilaku keagamaan sejak usia dini menjadi sangat penting dalam menciptakan generasi yang berkarakter dan Konstruksi perilaku keagamaan anak merupakan proses yang kompleks dan multidimensional yang melibatkan interaksi berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Salah satu faktor utama yang berperan signifikan adalah pola asuh orang tua. Keluarga sebagai lingkungan pertama anak memiliki fungsi sebagai agen sosialisasi primer yang memperkenalkan nilai-nilai agama melalui pembiasaan, keteladanan, dan komunikasi interpersonal (Bronfenbrenner & Morris, 2. Dalam konteks ini, pola asuh orang tua tidak hanya memengaruhi perkembangan emosional dan sosial anak, tetapi juga menjadi fondasi dalam pembentukan religiusitas. Penelitian menunjukkan bahwa pola asuh orang tua memiliki hubungan yang signifikan dengan pembentukan perilaku keagamaan anak, dimana orang tua memiliki pola yang konsisten serta berbasis nilai religius untuk meningkatkan kesadaran anak dalam menjalankan ajaran agama secara lebih bermakna (Sari & Handayani, 2. Pola asuh merupakan pola konsisten perilaku, sikap, dan strategi dalam mengarahkan anak, yang mencakup dimensi kontrol, kehangatan, dan responsivitas. Dalam konteks ini, interaksi yang hangat dan komunikatif antara orang tua dan anak menjadi kunci dalam proses internalisasi nilai keagamaan, sehingga anak tidak hanya memahami ajaran agama secara kognitif, tetapi juga menghayatinya secara afektif dan mengimplementasikannya dalam perilaku nyata. Pola asuh demokratis . dianggap paling efektif dalam mendukung perkembangan anak karena mampu menyeimbangkan antara kontrol dan kebebasan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH (Syahfitri & Rakhmawati, 2. Keluarga yang memiliki religiusitas tinggi memberikan pengaruh kuat terhadap praktik pengasuhan dan perkembangan anak. Selain itu, religiusitas orang tua berkorelasi dengan cara mereka mendisiplinkan dan membimbing anak dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menyatakan bahwa anak tidak hanya diarahkan untuk mematuhi aturan agama, tetapi juga diberi ruang untuk memahami makna di balik praktik keagamaan tersebut. Sebaliknya, pola asuh otoriter lebih banyak menghasilkan kepatuhan yang bersifat formal dan cenderung kurang bertahan dalam pembentukan kesadaran religius jangka panjang. Di sisi lain, pola asuh yang tidak tepat dapat berdampak pada lemahnya internalisasi nilai keagamaan. Pola asuh otoriter biasanya cenderung menghasilkan perilaku keagamaan yang bersifat formalitas karena anak menjalankan ajaran agama berdasarkan tekanan, bukan kesadaran (Bernier et al. , 2. Orang tua yang memiliki komitmen religius tinggi cenderung konsisten dalam memberikan teladan, pembiasaan ibadah, serta komunikasi bernilai moral kepada anak. Beberapa penelitian sebelumnya terkait hubungan linear antara pola asuh dan perilaku keagamaan tanpa melihat bagaimana pengaruh tersebut dipengaruhi oleh konteks sosial budaya yang lebih luas. Akibatnya, perilaku keagamaan anak sering dipahami hanya sebagai hasil pendidikan keluarga, padahal anak juga hidup dalam lingkungan sosial yang aktif membentuk cara berpikir dan bertindak. Faktor lingkungan terkait sosial dan budaya menjadi sebuah hal yang tidak kalah penting dalam membentuk perilaku keagamaan anak. Lingkungan sosial budaya mencakup norma, nilai, kebiasaan, serta praktik keagamaan yang berkembang dalam Dalam perspektif sosiologis, anak belajar melalui proses imitasi dan internalisasi terhadap nilai-nilai yang ada di sekitarnya (Pulungan, 2. Oleh karena itu, lingkungan yang religius akan memperkuat nilai-nilai yang telah ditanamkan dalam keluarga. Penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sosial memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan karakter religius anak, bahwa masyarakat sebagai lingkungan sosial juga memiliki kontribusi penting dalam membentuk sikap dan perilaku religius anak melalui interaksi sosial dan partisipasi dalam kegiatan keagamaan (Ayunira. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang mendukung praktik keagamaan cenderung memiliki tingkat religiusitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang berada dalam lingkungan yang kurang kondusif. Dari beberapa penelitian sebelumnya masih berfokus pada hubungan linear antara pola asuh dan perilaku keagamaan tanpa melihat bagaimana pengaruh tersebut dipengaruhi oleh konteks sosial budaya yang lebih luas. Akibatnya, perilaku keagamaan anak sering dipahami hanya sebagai hasil pendidikan keluarga, padahal anak juga hidup dalam lingkungan sosial yang aktif membentuk cara berpikir dan bertindak mereka. Dalam perspektif ekologi perkembangan, interaksi antara gaya pengasuhan dan lingkungan sosial serta budaya dapat dipahami sebagai hubungan antara berbagai sistem yang saling mempengaruhi dalam kehidupan anak. Bronfenbrenner menekankan bahwa perkembangan individu dipengaruhi oleh interaksi antara mikrosistem . dan makrosistem . (Bronfenbrenner & Morris, 2. Dengan demikian, perilaku keagamaan anak merupakan hasil konstruksi sosial yang melibatkan berbagai faktor yang saling berinteraksi. Lebih lanjut, dikatakan bahwa lingkungan sosial budaya memberikan pengaruh pada perkembangan moral dan emosional anak (Riaz, 2. Hal ini menunjukkan bahwa konstruksi perilaku keagamaan tidak bersifat universal, melainkan dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya tempat anak tumbuh dan berkembang. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Di era globalisasi dan digitalisasi, tantangan dalam pembentukan perilaku keagamaan anak semakin kompleks. Pada saat ini anak-anak sangat mudah terbawa arus informasi dan nilai-nilai global yang beragam. Kondisi tersebut sering memunculkan benturan antara nilai agama yang diajarkan keluarga dengan budaya populer yang berkembang di ruang digital. Tidak sedikit anak yang mengalami kebingungan nilai karena menerima informasi keagamaan secara instan tanpa pendampingan yang memadai. Situasi ini membuat peran orang tua dan lingkungan sosial menjadi semakin penting, bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai fasilitator dialog keagamaan yang lebih terbuka, moderat, dan Dengan demikian perlu adanya kerjasama yang baik antara peranan orang tua serta lingkungan sosial dalam memberikan bimbingan dan penguatan nilai keagamaan (Steinberg, 2. Konstruksi perilaku keagamaan anak merupakan hasil interaksi kompleks antara pola pengasuhan orang tua dan lingkungan sosial budaya. Kedua faktor tersebut saling melengkapi dalam membentuk perilaku keagamaan yang autentik dan berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis interaksi pola asuh orang tua dan lingkungan sosial budaya dalam membentuk perilaku keagamaan anak. Penelitian ini diharapkan dapat memperkuat pengembangan karakter berbasis nilai keagamaan, baik secara teoretis maupun Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional untuk menganalisis hubungan dan interaksi antara pola asuh orang tua serta lingkungan sosial budaya dalam membentuk perilaku keagamaan anak. Populasi penelitian adalah siswa sekolah menengah pertama usia 12-15 tahun dengan jumlah sampel sebanyak 120 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Responden berasal dari tiga sekolah menengah pertama yang berada di wilayah Kabupaten Badung dengan karakteristik lingkungan sosial budaya yang berbeda. Dari total responden, sebanyak 62 siswa berjenis kelamin perempuan dan 58 siswa laki-laki. Berdasarkan latar belakang sosial ekonomi, sebagian besar responden berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi menengah, sementara sisanya berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah dan tinggi yang dilihat dari pekerjaan serta tingkat pendidikan orang tua. Selain itu, responden juga berasal dari lingkungan masyarakat yang memiliki tingkat aktivitas keagamaan yang cukup beragam, mulai dari lingkungan dengan budaya religius yang kuat hingga lingkungan yang lebih heterogen secara sosial dan budaya. Variabel penelitian terdiri dari pola asuh orang tua (X. , lingkungan sosial budaya (X. , dan perilaku keagamaan anak (Y). Indikator pola asuh meliputi kontrol, kehangatan, komunikasi, dan keteladanan, sedangkan lingkungan sosial budaya diukur melalui norma sosial, praktik keagamaan masyarakat, interaksi sosial, dan budaya lokal. Perilaku keagamaan anak diukur berdasarkan praktik ibadah, sikap religius, internalisasi nilai moral, dan konsistensi perilaku. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert 1-5 yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya melalui uji product moment dan CronbachAos Alpha. Pengumpulan data dilakukan secara langsung di sekolah dengan tetap memperhatikan etika penelitian, seperti persetujuan responden dan kerahasiaan Analisis data menggunakan regresi berganda, uji t, uji F, dan koefisien determinasi (RA) untuk mengetahui pengaruh variabel secara parsial maupun simultan. Penelitian ini juga mempertimbangkan interaksi antara pola asuh orang tua dan lingkungan sosial budaya sebagai faktor yang saling memengaruhi dalam konstruksi perilaku keagamaan anak secara lebih komprehensif. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Hasil dan Pembahasan Deskripsi Data Pola Asuh Orang Tua (X. Lingkungan Sosial Budaya (X. dan Perilaku Keagamaan (Y) Deskripsi data terkait pola asuh orang (X. dengan indikator kontrol, kehangatan, komunikasi, dan keteladanan. Adapun hasil rata-rata skor Pola Asuh Orang Tua seperti tabel berikut ini: Tabel 1. Rata-Rata skor Pola Asuh Orang Tua Indikator Skor Rata-rata Kategori 1 Kontrol Baik 2 Kehangatan Sangat Baik 3 Komunikasi Sangat Baik 4 Keteladanan Sangat Baik Hasil menunjukkan bahwa indikator keteladanan memiliki skor tertinggi . , yang berarti orang tua cenderung memberikan contoh langsung dalam praktik keagamaan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa keteladanan merupakan faktor paling efektif dalam internalisasi nilai religius (Basri et al. , 2. Indikator kontrol memiliki skor paling rendah . , menunjukkan bahwa pengawasan masih perlu ditingkatkan agar perilaku keagamaan anak lebih konsisten. Deskripsi data lingkungan sosial budaya dengan indikator norma sosial, praktik keagamaan masyarakat, interaksi sosial anak, budaya lokal. Hasil rata-rata skor untuk data lingkungan sosial budaya tertera pada tabel berikut ini: Tabel 2. Skor Rata-Rata Lingkungan Sosial Budaya Indikator Skor Rata-Rata Kategori 1 Norma sosial Baik 2 praktik keagamaan Sangat Baik 3 Interaksi teman sebaya Baik 4 Budaya lokal Sangat Baik Indikator praktik keagamaan masyarakat memiliki skor tertinggi . menunjukkan bahwa lingkungan memberikan kontribusi kuat terhadap pembiasaan religius Namun, indikator interaksi teman sebaya memiliki skor relatif lebih rendah . yang menunjukkan adanya pengaruh teman yang tidak selalu sejalan dengan nilai Hal ini sejalan dengan penelitian Zuhri . bahwa peer group dapat menjadi faktor penguat atau pelemah religiusitas. Deskripsi data perilaku keagamaan anak diukur melalui dimensi praktik ibadah, sikap religius, internalisasi nilai moral dan konsistensi Adapun hasil rata-rata untuk data perilaku keagamaan seperti tabel seperti dibawah Tabel 3. Skor Rata-Rata Perilaku Keagamaan Indikator Skor Rata-rata Kategori 1 Praktik ibadah Baik 2 Sikap religius Sangat Baik 3 Internalisasi nilai moral Sangat Baik 4 Konsistensi perilaku Baik Indikator internalisasi nilai moral memiliki skor tertinggi . , menunjukkan bahwa nilai agama telah terinternalisasi dalam perilaku sosial anak. Namun, indikator konsistensi memiliki skor lebih rendah . , yang berarti anak belum sepenuhnya stabil dalam menjalankan perilaku keagamaan secara berkelanjutan. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perilaku Keagamaan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh orang tua memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku keagamaan anak dengan nilai koefisien sebesar = 0,48 . < 0,. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik kualitas pola asuh, maka semakin tinggi pula tingkat perilaku keagamaan anak. Pola asuh orang tua merupakan suatu sikap dan kebiasaan orang tua yang diterapkan dalam mengasuh, mendidik, dan membesarkan anak di rumah, di mana orang tua mengarahkan pada pembentukan perilaku pada anak. Berdasarkan analisis indikator, aspek keteladanan memperoleh skor tertinggi, yang menunjukkan bahwa perilaku keagamaan anak terbentuk terutama melalui proses imitasi terhadap perilaku orang Dalam teori belajar sosial, anak cenderung meniru perilaku figur signifikan yang diamati secara langsung, terutama orang tua (Firmansyah & Saepuloh, 2. Keteladanan menjadi faktor dominan karena internalisasi nilai agama tidak hanya berlangsung melalui nasihat verbal, tetapi juga melalui pengamatan terhadap praktik keagamaan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Pola asuh berbasis keteladanan memiliki hubungan positif dengan perkembangan moral dan religiusitas anak di berbagai konteks budaya (Riaz, 2. Orang tua yang konsisten menjalankan ajaran agama dan melibatkan anak dalam aktivitas keagamaan cenderung membentuk kebiasaan religius yang lebih kuat. Hal ini menunjukkan bahwa keteladanan berfungsi tidak hanya sebagai proses pembelajaran, tetapi juga sebagai mekanisme pembiasaan nilai. Dalam konteks perubahan sosial, konsistensi religiusitas keluarga tetap menjadi faktor protektif terhadap pengaruh negatif lingkungan eksternal (Ahmed & Salas, 2. Oleh karena itu, peran orang tua tidak hanya sebatas memberikan arahan, tetapi juga menjadi model perilaku yang membentuk karakter dan sikap keagamaan anak secara berkelanjutan. Dalam mengajarkan keteladanan kepada anak sebaiknya mencakup aspek tindakan ritual serta sikap moral seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian integral dari ajaran agama yang tercermin dalam perilaku sehari-hari. Studi menunjukkan bahwa orang tua yang menunjukkan perilaku moral yang konsisten cenderung memiliki anak dengan tingkat religiusitas dan empati yang lebih tinggi (Hardy et al. , 2. Konsistensi menjadi kunci efektivitas keteladanan. Anak akan lebih mudah menginternalisasi nilai keagamaan ketika terdapat kesesuaian antara apa yang diajarkan dan apa yang dilakukan oleh orang tua. Apabila terjadi adanya inkonsistensi perilaku pada orang tua dapat menyebabkan kebingungan nilai dan menurunkan efektivitas pendidikan religius dalam keluarga (Zammit & Taylor, 2. Orang tua juga menjadi model dalam membangun hubungan sosial yang harmonis. Sikap toleransi, menghargai perbedaan, dan perilaku prososial merupakan bagian dari nilai keagamaan yang dapat diteladani oleh anak. Dengan adanya interaksi sosial yang positif dalam keluarga berkontribusi pada pembentukan karakter religius yang inklusif dan adaptif (Kurniawan & Prasetyo, 2. Cara orang tua dalam menghadapi konflik dan mengambil keputusan juga menjadi bagian penting dari keteladanan. Orang tua yang menunjukkan sikap bijaksana, sabar, dan berlandaskan nilai agama dalam menghadapi masalah akan memberikan contoh nyata kepada anak dalam mengelola emosi dan bertindak secara religius. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa pengalaman emosional dalam keluarga berperan dalam pembentukan identitas dan perilaku religius anak (Steinberg. Keteladanan orang tua berfungsi sebagai mekanisme utama dalam proses internalisasi nilai keagamaan. Melalui contoh nyata yang konsisten, akan memberikan dampak yang lebih jelas perubahan perilaku keagamaan, dimana anak akan mulai dengan memahami ajaran https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH agama dengan baik, kemudian akan mengaplikasikan ajaran agama tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, indikator komunikasi juga menunjukkan kontribusi yang tinggi. Hubungan emosional yang positif antara orang tua dan anak memungkinkan terjadinya proses internalisasi nilai secara lebih mendalam. Pola asuh demokratis . uthoritative parentin. memiliki hubungan positif dengan perkembangan moral dan religius anak (Riaz. Komunikasi orang tua yang terbuka dan dialogis memungkinkan anak untuk mengembangkan pemahaman yang lebih rasional terhadap nilai-nilai keagamaan. Anak tidak hanya menerima aturan, tetapi juga diajak untuk memahami alasan dan makna dari praktik keagamaan tersebut. Hal ini sejalan dengan konsep authoritative parenting, di mana orang tua mengombinasikan kontrol dengan responsivitas yang tinggi, sehingga mampu mendorong perkembangan moral dan religius anak secara optimal (Awiszus et al. , 2. Dalam konteks keagamaan, komunikasi ini berperan dalam menjelaskan nilai-nilai agama secara kontekstual, sehingga anak tidak hanya memahami secara tekstual, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Kualitas komunikasi dalam keluarga memiliki hubungan positif dengan perkembangan religiusitas anak. Orang tua yang secara aktif berdialog tentang nilai-nilai moral dan spiritual cenderung memiliki anak dengan tingkat religiusitas yang lebih tinggi (Lei & Traylor, 2. Selain itu, komunikasi yang suportif juga mampu meningkatkan keterikatan emosional anak terhadap nilai-nilai yang diajarkan, sehingga memperkuat komitmen dalam menjalankan ajaran agama. Berdasarkan dari hasil penelitian bahwa pola komunikasi orang tua yang dilakukan melalui nasihat, petuah, dan dialog bersama memiliki relevansi yang kuat dalam pembentukan perilaku anak. Orang tua yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mandiri, melibatkan anak dalam pengambilan keputusan, serta membangun komunikasi yang hangat cenderung mampu membentuk sikap anak yang lebih sopan, bertanggung jawab, dan menghormati nilai-nilai sosial maupun keagamaan. Dalam konteks budaya Jawa, komunikasi melalui sesuluh atau nasihat menjadi bagian penting dalam proses pengasuhan karena tidak hanya berfungsi sebagai kontrol sosial, tetapi juga sebagai media penanaman nilai moral dan Dalam kaitan ini orang tua memiliki falsafah sebagai sembur-sembur adas, siramsiram bayam yang berarti bahwa orang tua menjadi penyejuk anak-anaknya karena petuah atau petunjuk yang diberikan (Fausi et al. , 2. Nilai ini relevan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak yang mendapatkan pendampingan komunikatif dari orang tua memiliki kecenderungan lebih mampu mengontrol emosi, menghargai orang lain, dan menjaga perilaku dalam lingkungan sosial. Selain itu, ungkapan mendhem jero lan mikul dhuwur juga memperlihatkan adanya pendidikan karakter berbasis budaya yang menanamkan sikap hormat kepada orang tua serta menjaga nama baik keluarga. Hasil penelitian menguatkan bahwa internalisasi nilai budaya melalui komunikasi keluarga mampu membentuk perilaku anak yang lebih santun, bertanggung jawab, dan memiliki kesadaran moral yang tinggi. Dengan demikian, pola asuh komunikatif yang dipadukan dengan nilai-nilai budaya lokal Jawa menjadi faktor penting dalam konstruksi perilaku anak, terutama dalam membentuk sikap sosial dan keagamaan yang positif (Diananda, 2. Komunikasi yang baik dan hubungan yang hangat antara orang tua dan anak mampu meningkatkan religiusitas serta membentuk karakter keagamaan yang lebih kuat (Hidayati, 2. Anak yang merasa dihargai dan didukung oleh orang tua cenderung memiliki motivasi intrinsik yang lebih tinggi dalam menjalankan ajaran agama, adanya komunikasi https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH terbuka dan bimbingan yang konsisten, menjadi dasar yang kuat agar anak memahami nilainilai religius. Anak yang memiliki hubungan emosional yang baik dengan orang tua cenderung lebih patuh dan memiliki kesadaran internal dalam menjalankan nilai-nilai agama. Sebaliknya, kurangnya komunikasi dan kehangatan dapat menyebabkan anak menjalankan praktik keagamaan hanya sebagai kewajiban formal tanpa pemahaman yang mendalam. Dalam perspektif ekologi perkembangan, komunikasi dan kehangatan orang tua merupakan bagian dari mikrosistem yang memiliki pengaruh langsung terhadap perkembangan anak (Bronfenbrenner & Morris, 2. Pengaruh ini menjadi semakin kuat ketika didukung oleh lingkungan sosial yang sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Namun demikian, dalam era digital saat ini, komunikasi antara orang tua dan anak menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Interaksi langsung seringkali tergantikan oleh penggunaan teknologi, sehingga kualitas komunikasi menjadi menurun. Oleh karena itu, orang tua perlu mengembangkan pola komunikasi yang adaptif, dengan tetap menjaga kedekatan emosional dan keterbukaan dalam berinteraksi dengan anak. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunikasi dan kehangatan orang tua merupakan faktor penting dalam membentuk perilaku keagamaan anak. Komunikasi yang efektif dan hubungan emosional yang hangat mampu memperkuat proses internalisasi nilai keagamaan serta meningkatkan konsistensi perilaku religius. Oleh karena itu, upaya pembinaan perilaku keagamaan anak perlu menekankan pada peningkatan kualitas komunikasi dan kehangatan dalam keluarga sebagai bagian dari strategi pendidikan karakter berbasis nilai keagamaan. Dengan adanya pemberian pendidikan agama yang dimulai dari sejak kecil dalam keluarga secara konsisten serta berulang-ulang maka akan terjadi adanya pembiasaan pada anak, terutama dalam membentuk perilaku keagamaanya. Pengaruh Lingkungan Sosial Budaya Terhadap Perilaku Keagamaan Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sosial budaya juga berpengaruh signifikan terhadap perilaku keagamaan anak dengan nilai koefisien sebesar = 0,37 . < 0,. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan sosial memiliki peran penting dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan yang telah ditanamkan oleh keluarga. Lingkungan sosial budaya merupakan lingkungan dimana terdapat hubungan sesama manusia baik secara individu maupun kelompok dan saling mempengaruhi baik mengenai kepercayaan, kesusilaan, kesiapan dan hukum. Hasil analisis menunjukkan bahwa indikator praktik keagamaan memperoleh skor paling tinggi. Hal ini menegaskan bahwa keterlibatan anak dalam praktik keagamaan di lingkungan sekitar memberikan kontribusi besar terhadap penguatan sikap dan perilaku Praktik dalam keagamaan menjadi bentuk yang nyata dalam menerapkan nilai religius dalam aktivitas sehari-hari. Adapun kegiatan yang dilaksanakan antara lain sembahyang, keterlibatan dalam kegiatan keagamaan, serta partisipasi dalam tradisi religius yang berkembang dalam keluarga dan masyarakat. Untuk membentuk perilaku keagamaan perlu adanya pemahaman yang mendalam sehingga anak akan melakukan aktivitas tersebut dengan dilakukan secara konsisten dan berulang-ulang kemudian terbentuk suatu pembiasaan yang tertanam pada anak (Basri et al. Selain itu budaya lokal juga menjadi media penting dalam internalisasi nilai Tradisi adat, ritual keagamaan, dan aktivitas sosial berbasis komunitas membantu anak memahami ajaran agama secara kontekstual melalui pengalaman langsung. Nilai budaya seperti kebersamaan, tanggung jawab, saling menghormati, dan kepedulian sosial memiliki keterkaitan erat dengan nilai religius sehingga membentuk pola pikir dan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH identitas keagamaan anak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan budaya religius cenderung memiliki tingkat religiusitas dan perilaku sosial yang lebih baik karena nilai agama tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembiasaan ibadah secara rutin, seperti doa harian dan kegiatan ritual keagamaan, berperan dalam membentuk struktur perilaku yang menetap pada anak. Praktik yang dilakukan secara berulang akan menjadi kebiasaan yang terinternalisasi dalam diri anak. Pembiasaan praktik keagamaan sejak dini mampu membentuk sikap disiplin, kepatuhan, dan kesadaran spiritual anak secara berkelanjutan (Basri et al. , 2. Praktik yang dilakukan secara rutin tetapi tanpa pemahaman cenderung menghasilkan perilaku yang bersifat Sebaliknya, praktik yang disertai dengan pemaknaan dan refleksi akan menghasilkan internalisasi nilai yang lebih mendalam (Smith et al. , 2. Praktik keagamaan tidak hanya berdampak pada aspek ritualistik, tetapi juga pada perkembangan empati, kontrol diri, dan prososialitas anak. Praktik keagamaan ini mencakup penerapan ritual dan nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab, dan sopan santun. Nilai-nilai tersebut terwujud melalui aktivitas sehari-hari yang dipandu oleh ajaran agama. Studi menunjukkan bahwa pengembangan nilai agama yang terintegrasi dalam kehidupan anak berkontribusi langsung terhadap pembentukan karakter dan moralitas (Netri, 2. Perilaku keagamaan anak terbentuk melalui sinergi antara keluarga, lingkungan sosial budaya, dan praktik keagamaan yang dilakukan secara berulang. Internalisasi nilai agama akan lebih efektif ketika didukung oleh budaya lokal yang relevan, keterlibatan komunitas, dan pembelajaran kontekstual. Dengan demikian, integrasi nilai agama dan budaya lokal menjadi strategi penting dalam membangun perilaku religius, moral, dan sosial anak secara Oleh karena itu, peran orang tua dan lingkungan sangat penting dalam memberikan pemahaman yang kontekstual terhadap praktik keagamaan. Dalam memperkuat praktik keagamaan selain dari pihak keluarga, lingkungan pendidikan dan komunitas juga memperkuat efek praktik keagamaan. Keterlibatan dalam institusi seperti sekolah berbasis agama atau kelompok keagamaan anak terbukti meningkatkan konsistensi perilaku religius. Dengan adanya kombinasi antara keyakinan, perilaku, dan rasa memiliki menghasilkan efek sinergis terhadap pembentukan identitas religius anak (Ghayas & Batool, 2. Akan tetapi pada era moden saat ini praktik keagamaan juga menghadapi berbagai tantangan akibat perubahan sosial dan perkembangan Anak-anak cenderung memiliki alternatif aktivitas yang lebih menarik sehingga keterlibatan dalam kegiatan keagamaan dapat menurun. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang inovatif dan kontekstual agar praktik keagamaan tetap relevan bagi anak. Partisipasi anak dalam kegiatan keagamaan di sekolah maupun masyarakat memperkuat pengalaman religius secara sosial. Lingkungan yang menyediakan aktivitas keagamaan memungkinkan anak belajar melalui interaksi dan pengalaman kolektif. Keterlibatan dalam praktik keagamaan secara sosial meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama secara lebih kontekstual. Integrasi antara aspek kognitif, afektif, dan perilaku dalam praktik keagamaan terbukti lebih efektif dalam membentuk perilaku religius anak. Pembelajaran yang tidak hanya menekankan teori, tetapi juga praktik langsung, mampu meningkatkan pemahaman sekaligus pengamalan nilai keagamaan secara seimbang (Sobah et al. , 2. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang masih mempertahankan tradisi keagamaan berbasis budaya cenderung memiliki tingkat religiusitas yang lebih tinggi. Partisipasi dalam praktik https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH keagamaan berbasis budaya lokal berkontribusi terhadap perkembangan perilaku prososial, seperti empati dan kepedulian sosial. Proses ini terjadi karena nilai-nilai keagamaan tidak hanya diajarkan secara kognitif, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari melalui aktivitas budaya (Zammit & Taylor, 2. Praktik keagamaan yang dilakukan secara rutin, seperti keterlibatan dalam kegiatan keagamaan, dan partisipasi dalam tradisi budaya religius, membentuk kebiasaan yang akhirnya menjadi bagian dari karakter anak. Budaya lokal turut memperkuat proses tersebut karena nilai agama disampaikan melalui tradisi, norma sosial, dan aktivitas komunitas yang dekat dengan kehidupan anak. Dengan demikian, anak tidak hanya memahami agama secara teoritis, tetapi juga menghayati dan menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. Pembentukan perilaku keagamaan akan lebih efektif apabila terdapat keselarasan antara pendidikan keluarga, lingkungan masyarakat, dan budaya lokal. Ketika nilai-nilai religius yang diajarkan di rumah didukung oleh lingkungan sosial yang religius dan budaya yang positif, maka proses internalisasi nilai berlangsung lebih kuat, konsisten, dan berkelanjutan. Sebaliknya, ketidaksesuaian antara lingkungan keluarga dan sosial dapat menghambat perkembangan perilaku keagamaan anak. Interaksi Pola Asuh Orang Tua dan Lingkungan Sosial Budaya Terhadap Perilaku Kegamaan Hasil analisis memperlihatkan adanya hubungan interaktif yang cukup berarti antara pola asuh orang tua dan lingkungan sosial budaya terhadap perilaku keagamaan anak. Hal ini terlihat dari nilai koefisien interaksi sebesar = 0,29 dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Sementara itu, nilai koefisien determinasi (RA) sebesar 0,68 menunjukkan bahwa sekitar 68% variasi dalam perilaku keagamaan anak bisa dijelaskan oleh kombinasi kedua faktor tersebut. Temuan ini memberi gambaran bahwa pola asuh orang tua dan lingkungan sosial budaya tidak berdiri sendiri dalam membentuk perilaku keagamaan anak. Keduanya saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lain. Pola asuh yang sudah baik cenderung akan memberikan hasil yang lebih kuat jika berada dalam lingkungan sosial yang mendukung nilai-nilai keagamaan. Sebaliknya, jika lingkungannya kurang mendukung, pengaruh positif dari pola asuh orang tua bisa menjadi tidak maksimal. Interaksi antara keluarga dan lingkungan sosial merupakan faktor kunci dalam membentuk perilaku keagamaan anak, karena keduanya saling melengkapi dalam proses sosialisasi nilai-nilai Keluarga sebagai lingkungan pertama memberikan dasar nilai dan norma, sedangkan lingkungan sosial berperan dalam memperkuat serta mengaktualisasikan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, perilaku keagamaan anak tidak terbentuk secara tunggal, tetapi melalui proses interaksi yang kompleks antara berbagai lingkungan sosial. Keluarga memiliki peran sebagai fondasi utama dalam pembentukan perilaku religius, karena anak pertama kali belajar nilai, norma, dan praktik keagamaan dari orang tua. Interaksi dalam keluarga, termasuk komunikasi orang tua dengan anak, memiliki pengaruh signifikan terhadap sikap keberagamaan anak (Siregar, 2. Komunikasi yang terbuka dan suportif memungkinkan anak memahami nilai keagamaan secara lebih mendalam. Pola asuh orang tua merupakan hal yang penting dalam penanaman nilai religius melalui keteladanan, pembiasaan ibadah, komunikasi, dan pemberian nasihat. Anak yang tumbuh dalam pola asuh demokratis cenderung menunjukkan perilaku keagamaan yang lebih positif karena orang tua tidak hanya mengajarkan aturan agama, tetapi juga memberikan ruang dialog, pengawasan, dan dukungan emosional (Kurniasari et al. , 2. Proses ini membuat anak memahami makna nilai agama secara lebih https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH mendalam sehingga perilaku religius berkembang bukan sekadar karena tuntutan, akan tetapi sebagai sebuah kesadaran yang tumbuh dari diri anak tersebut. Lingkungan sosial turut memberikan kontribusi penting sebagai ruang aktualisasi nilai. Anak yang hidup dalam lingkungan yang religius akan mendapatkan pengalaman sosial yang memperkuat nilai-nilai yang telah ditanamkan dalam keluarga. Keterlibatan aktif orang tua dalam kehidupan spiritual anak akan semakin efektif ketika didukung oleh komunitas religius di lingkungan sosialnya (Rosela & Putri, 2. Ketika nilai yang diajarkan dalam keluarga selaras dengan nilai yang berkembang di masyarakat, maka internalisasi nilai keagamaan akan berlangsung lebih kuat dan konsisten. Sebaliknya, ketidaksesuaian antara keduanya dapat menimbulkan konflik nilai yang berdampak pada inkonsistensi perilaku anak. Lingkungan yang religius, budaya lokal yang masih mempertahankan tradisi keagamaan, serta keterlibatan anak dalam kegiatan sosial berbasis agama memberikan pengalaman nyata yang memperkuat pembiasaan religius (Safitri & Wirdati, 2. Praktik keagamaan yang dilakukan secara kolektif, seperti kegiatan ibadah, tradisi adat religius, dan aktivitas sosial masyarakat, membantu anak belajar melalui pengalaman sosial dan imitasi perilaku. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku keagamaan anak terbentuk melalui proses interaksi sosial yang berlangsung terus-menerus antara keluarga, masyarakat, dan budaya lokal. Perilaku keagamaan anak tidak terbentuk secara parsial, melainkan melalui sinergi antara pola asuh dalam keluarga dan pengalaman sosial di lingkungan masyarakat. Keluarga memberikan dasar nilai, seperti keyakinan, moral, dan praktik ibadah, sementara lingkungan sosial menyediakan ruang aktualisasi nilai tersebut dalam interaksi sosial seharihari. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam pembentukan perilaku anak, karena dari lingkungan inilah anak pertama kali belajar mengenal nilai dan norma kehidupan. Keterlibatan aktif keluarga dalam kehidupan keagamaan anak akan semakin efektif ketika didukung oleh lingkungan sosial yang religius dan kondusif. Interaksi ini menciptakan proses penguatan . yang berulang, sehingga nilai-nilai keagamaan tidak hanya dipahami, tetapi juga dipraktikkan secara konsisten (Rosela & Putri, 2. Sinergi antara keluarga dan lingkungan juga berperan penting dalam membentuk sikap moderasi beragama pada anak. Dalam konteks masyarakat multikultural, keluarga berfungsi sebagai penanam nilai toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan, sementara lingkungan sosial memberikan pengalaman langsung dalam berinteraksi dengan Interaksi ini juga dapat dijelaskan melalui teori ekologi perkembangan, di mana perkembangan anak dipengaruhi oleh hubungan antara berbagai sistem lingkungan. Pada tingkat mikrosistem, keluarga menjadi lingkungan terdekat yang memberikan pengaruh langsung terhadap pembentukan perilaku keagamaan anak melalui pola asuh, keteladanan, dan komunikasi religius. Lingkungan sekolah, teman sebaya, serta komunitas keagamaan juga termasuk mikrosistem yang membentuk kebiasaan dan pengalaman religius anak dalam kehidupan sehari-hari. Pada tingkat mesosistem, adanya hubungan antara lingkungan, seperti keterkaitan antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Perilaku keagamaan anak berkembang lebih kuat ketika terdapat keselarasan nilai antara keluarga dan lingkungan sosial budaya. Ketika nilai religius yang diajarkan orang tua didukung oleh budaya masyarakat yang religius, proses internalisasi nilai berlangsung lebih efektif dan konsisten (Nursyahada. Kemudian tingkat eksosistem, perkembangan teknologi, media sosial, dan perubahan sosial modern turut memengaruhi perilaku keagamaan anak meskipun tidak selalu dialami https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH secara langsung. Modernisasi dapat mengurangi keterlibatan anak dalam aktivitas religius karena munculnya berbagai alternatif hiburan dan perubahan pola interaksi sosial. Namun, lingkungan sosial yang tetap mempertahankan tradisi budaya religius mampu menjadi faktor protektif dalam menjaga identitas dan perilaku keagamaan anak. Sementara itu, pada tingkat makrosistem, budaya lokal, nilai sosial, norma masyarakat, dan keyakinan agama menjadi kerangka besar yang membentuk pola perilaku religius anak. Tradisi budaya yang mengintegrasikan nilai agama, seperti gotong royong, penghormatan kepada sesama, dan ritual keagamaan berbasis komunitas, menjadi sarana pewarisan nilai religius secara turun-temurun (Sadeli et al. , 2. Dengan demikian, budaya lokal tidak hanya berfungsi sebagai identitas sosial, tetapi juga sebagai media pendidikan religius yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan anak. Dengan demikian bahwa penelitian ini memperkuat pandangan bahwa perilaku keagamaan anak merupakan hasil interaksi multidimensional antara faktor internal keluarga dan faktor eksternal lingkungan sosial budaya. Kontribusi teoritik penelitian ini terletak pada penegasan bahwa pembentukan perilaku keagamaan tidak dapat dipahami secara parsial, melainkan harus dilihat sebagai proses ekologis yang melibatkan hubungan dinamis antara keluarga, sekolah, masyarakat, budaya lokal, dan perubahan sosial modern. Dengan demikian, penguatan perilaku keagamaan anak memerlukan pendekatan integratif yang melibatkan seluruh lingkungan perkembangan anak secara berkelanjutan. Kesimpulan Penelitian menunjukkan bahwa perilaku keagamaan anak terbentuk melalui interaksi yang kuat antara pola asuh orang tua dan lingkungan sosial budaya. Pola asuh yang ditandai dengan keteladanan, komunikasi, kehangatan, dan pembiasaan religius menjadi fondasi utama dalam internalisasi nilai agama pada anak. Sementara itu, lingkungan sosial budaya yang religius, termasuk praktik keagamaan masyarakat dan budaya lokal, berperan memperkuat penghayatan serta penerapan nilai religius dalam kehidupan sehari-hari. Keselarasan antara nilai yang diajarkan dalam keluarga dan lingkungan sosial budaya menghasilkan perilaku religius yang lebih konsisten, sedangkan ketidaksesuaian keduanya dapat melemahkan internalisasi nilai keagamaan. Perkembangan perilaku anak merupakan hasil interaksi berbagai sistem lingkungan yang saling memengaruhi. Penelitian ini juga menegaskan pentingnya pendekatan integratif yang menghubungkan keluarga, budaya lokal, masyarakat, dan sekolah dalam membangun karakter religius anak secara berkelanjutan. Daftar Pustaka