HUBUNGAN EFIKASI DIRI DAN MOTIVASI DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN HIPERTENSI DI UPT PUSKESMAS RANDUAGUNG KABUPATEN LUMAJANG Ade Erma Surya1. Endro Sulistyono 2. Rizka Yunita3 Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo Fakultas Keperawatan Universitas Jember *Email Korespondensi: adeirmasurya06@gmail. ABSTRAK Hipertensi merupakan penyebab kematian kardiovaskular utama baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan peningkatan angka kejadian morbiditas dan mortalitas penderita hipertensi adalah ketidakpatuhan pasien dalam meminum obat antihipertensi yang dianjurkan oleh dokter. Keberhasilan pengobatan hipertensi sangat bergantung pada kepatuhan seseorang dalam mengkonsumsi obat-obatan. Untuk meningkatkan kepatuhan minum obat, diperlukan efikasi diri dan motivasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan efikasi diri dan motivasi dengan kepatuhan minum obat pasien hipertensi di UPT Puskesmas Randuagung. Desain penelitian menggunakan desain penelitian korelasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Juli-Agustus terhadap pasien hipertensi. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien hipertensi di puskesmas Randuagung Kabupate Lumajang pada bulan Januari-Mei 2024 yaitu 152 pasien. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan non probability sampling dengan metode purposive sampling. Sampel pada penelitian ini yaitu 110 responden. Penelitian ini menggunakan kuesioner MASES-R, motivasi dan MMAS. Penelitian ini dianalisis menggunakan uji spearmanAos rho. Penelitian ini telah diajukan dan lolos etika di KEPK Unhasa. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki efikasi diri rendah sebanyak 66 responden . %), sebagian besar responden memiliki motivasi rendah sebanyak 68 responden . ,8%), dan sebagian besar responden memiliki kepatuhan minum obat rendah sebanyak 70 responden . ,6%) Analisa data yang digunakan yaitu Spearman Rho. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan efikasi diri dengan kepatuhan minum obat pasien hipertensi p= 0,000 . <=0,. dengan kekuatan korelasi . yaitu 0,535 yang berarti kekuatan korelasi kuat dengan arah korelasi . yaitu searah dan terdapat hubungan antara motivasi dengan kepatuhan minum obat pasien hipertensi p= 0,000 . <=0,. dengan kekuatan korelasi . yaitu 0,518 yang berarti kekuatan korelasi kuat dengan arah korelasi . yaitu searah. Kepatuhan dalam pengobatan pada pasien hipertensi sangat penting karena hipertensi merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan tetapi harus terus dikendalikan untuk mencegah komplikasi yang dapat berakibat fatal. Efikasi dan motivasi memiliki peranan penting dalam kepatuhan minum obat pasien. Efikasi dan motivasi tinggi akan membuat pasien cenderung lebih patuh dalam meminum obat begitu juga sebaliknya. Kata Kunci: Efikasi Diri. Motivasi. Kepatuhan Minum Obat. Hipertensi Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc ABSTRACT Hypertension is the main cause of cardiovascular death both in Indonesia and throughout the world. One of the risk factors that can cause an increase in the incidence of morbidity and mortality in hypertension sufferers is patient non-compliance in taking antihypertensive medication recommended by health workers. The success of hypertension treatment depends on a person's compliance with taking medication. To increase adherence to taking medication, self-efficacy, and motivation are needed. This research aims to analyze the correlation between self-efficacy and motivation with adherence to medication in hypertensive patients at the Randuagung Health Center. The research design used a correlational research design with a cross-sectional approach. The research on hypertensive patients was conducted in July-August 2024. The population in this study were all hypertensive patients at the Puskesmas Randuagung Health Center in January-May 2024, namely 152 patients. The sampling technique in this research used non-probability sampling with a purposive sampling The sample in this study was 110 respondents. This research used the MASES-R, motivation, and MMAS questionnaires. This research was analyzed using Spearman's rho test. This research has been submitted and passed ethics at KEPK Unhasa. The results showed that the majority of respondents had low self-efficacy, 66 respondents . %), the majority of respondents had low motivation, 68 respondents . 8%), and the majority of respondents had low medication adherence, 70 respondents . 6%). The data analysis used is Spearman Rho. The results of this study show that there is a correlation between self-efficacy and adherence to taking medication for hypertensive patients, p= 0. <=0. , a correlation strength . 535, which signifies a strong positive correlation. Additionally, there is a correlation between motivation and adherence to taking medication for hypertension patients, p= 0. <=0. and a correlation strength . 518, indicating a strong positive correlation as Compliance with treatment in hypertensive patients is very important because hypertension is a disease that cannot be cured but must continue to be controlled to prevent complications that can be fatal. Efficacy and motivation have an important role in patient medication adherence. High efficacy and motivation will make patients more compliant in taking medication. Keywords: Self-efficacy. Motivation. Medication adherence. Hypertension Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc PENDAHULUAN Hipertensi merupakan penyakit degeneratif yang menjadi salah satu penyebab utama kematian prematur di dunia (Kemenkes RI, 2. Hipertensi didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana terjadi kenaikan tekanan darah sistolik mencapai Ou 140 mmHg dan diastolik Ou 90 mmHg setelah pemeriksaan berulang (Unger et al. , 2. Hipertensi merupakan penyebab kematian kardiovaskular utama baik di Indonesia maupun di seluruh dunia (PERHI, 2. Ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat antihipertensi yang diresepkan dokter dapat meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas pada pasien hipertensi (Ulhaq et al. , 2. Peningkatan tekanan darah yang terus-menerus dapat menyebabkan berbagai komplikasi (Astri et al. , 2. Komplikasi yang mungkin terjadi meliputi penyakit jantung, stroke, penyakit ginjal, retinopati, penyakit pembuluh darah perifer, gangguan saraf, dan gangguan serebral (Kemenkes RI, 2. Komplikasi akibat hipertensi dapat menurunkan kualitas hidup penderita dan dalam kasus terburuk, dapat menyebabkan kematian akibat komplikasi tersebut (Chendra. WHO mengestimasikan saat ini prevalensi hipertensi secara global sebesar 22% dari total penduduk dunia. Prevalensi hipertensi Afrika sebesar 27%. Mediterani 26 %. Asia Tenggara 25%. Eropa 23%. Pasifik Barat 19% dan Amerika 18 % (Kemenkes RI, 2. Angka prevalensi hipertensi di Indonesia pada penduduk usia >18 tahun berdasarkan pengukuran secara nasional sebesar 34,11% (Riskesdas, 2. Prevalensi penduduk dengan hipertensi di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2018 mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu sebesar 36,3% dibandingkan tahun 2013 sebesar 26,4% (Riskesdas, 2. Di kabupaten Lumajang memiliki jumlah pasien hipertensi , yaitu sebanyak 282. 769 (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, 2. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Randuagung didapatkan jumlah kunjungan pasien hipertensi pada bulan Januari - Mei tahun 2024 yaitu sebanyak 152 pasien. Pengambilan data di Wilayah kerja UPT Puskesmas Randuagung Lumajang pada tanggal 26 Januari 2024 dilakukan observasi pada 10 pasien yang mengalami hipertensi dan didapatkan hasil pasien memiliki efikasi diri rendah sebanyak 7 . %), pasien mengatakan tidak yakin bahwa hipetensi yang dialami bisa sembuh atau terkontrol dengan minum obat. Sedangkan 3 pasien lainnya . %) memiliki efikasi diri tinggi dimana pasien yakin bahwa dengan minum obat tekanan darahnya bisa sembuh atau terkontrol. Didapatkan hasil dari 10 pasien terdapat 8 . %) pasien memiliki motivasi rendah, pasien mengatakan bosan untuk minum obat terus-menerus, kadang pasien lupa untuk minum obat dan keluarga tidak ada yang menginggatkan dan terdapat 2 pasien lainnya . %) memiliki motivasi yang tinggi dimana pasien mengatakan pasien percaya dengan minum obat dapat mengontrol tekanan darah, keluarga sering mengingatkan dan mengantarkan saat pasien kontrol, pasien mengatakan semangat ingin sembuh dan pasien percaya dengan minum obat dapat mencegah kondisi yang lebih buruk. Didapatkan hasil dari 10 pasien terdapat 8 pasien . %) kepatuhan minum obat rendah, pasien mengatakan hanya kontrol dan minum obat saat terdapat gejala dan berhenti saat keadaan sudah lebih baik. Sedangkan 2 pasien lainnya . %) memiliki kepatuhan minum obat tinggi dimana pasien mengatakan selalu minum obat sesuai dengan anjuran dokter dan kontrol ketika obat habis. Hipertensi terjadi melalui pembentukan Angiotensin II dari Angiotensin I oleh Angiotensin Converting Enzyme (ACE). ACE memiliki peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati. Hormon renin, yang diproduksi oleh ginjal, mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin I, yang kemudian diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II memiliki peran kunci dalam meningkatkan tekanan darah melalui dua mekanisme utama. Pertama, dengan meningkatkan sekresi Anti Diuretik Hormone (ADH) dan rasa haus. ADH, yang diproduksi di hipotalamus . elenjar pituitar. , bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc Peningkatan ADH menyebabkan urin yang dikeluarkan sangat sedikit . , menjadi pekat dan tinggi osmolitasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler ditingkatkan dengan menarik cairan dari bagian intraseluler, sehingga volume darah meningkat dan tekanan darah naik. Kedua, angiotensin II menstimulasi sekresi aldosteron . ormon steroid yang penting untuk ginja. dari korteks adrenal. Aldosteron mengatur volume ekstraseluler dengan mengurangi sekresi NaCl . melalui reabsorpsi dari tubulus ginjal. Pengurangan ekskresi NaCl menyebabkan peningkatan konsentrasi NaCl, yang kemudian diencerkan dengan peningkatan volume cairan ekstraseluler, sehingga meningkatkan volume dan tekanan darah (Hikmah, 2. Hipertensi dapat dikendalikan melalui pengobatan non-farmakologis dan farmakologis. Penatalaksanaan farmakologis melibatkan penggunaan obat antihipertensi untuk menurunkan tekanan darah (Sarumaha dan Diana, 2. Keberhasilan pengobatan hipertensi sangat bergantung pada kepatuhan seseorang dalam mengkonsumsi obat-obatan (Walanda & Makiyah, 2. Untuk meningkatkan kepatuhan minum obat, diperlukan efikasi diri dan motivasi (Falah & Ariani, 2022. Febyanti, 2. Efikasi diri merupakan salah satu faktor internal pasien yang dapat mempengaruhi perubahan perilaku kepatuhan terhadap pengobatan hipertensi yang sedang dijalani (Kawulusan et al. , 2. Semakin tinggi keyakinan diri yang dirasakan dan ditamkan, semakin besar kemungkinan seseorang untuk menjaga dan meningkatkan perilaku sehat. (Susanti et al. , 2. Efikasi diri membantu pasien memahami dengan lebih baik cara melakukan perubahan perilaku kesehatan. Pasien hipertensi perlu memiliki efikasi diri yang baik agar mereka memiliki keyakinan dalam diri mereka sendiri, yang memotivasi mereka untuk meningkatkan kesehatan dengan mengendalikan hipertensi melalui kepatuhan minum obat (Amila et al. , 2. Faktor lain yang mempengaruhi kepatuhan minum obat yaitu motivasi diri (Febyanti, 2. Motivasi diri sangat memengaruhi pasien hipertensi dalam menjalankan pengobatan. Motivasi adalah kekuatan yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan, yaitu sembuh dari penyakitnya. Kepatuhan terhadap perilaku pengobatan hipertensi merupakan aspek penting dalam melaksanakan program pengobatan Motivasi dapat meningkatkan semangat dan kedisiplinan pasien dalam menjalankan program pengobatan (Merlis & Alfiah, 2. Pasien dengan motivasi tinggi cenderung lebih patuh dalam minum obat dan memiliki keinginan kuat untuk sembuh, sehingga mereka akan terus mengikuti rencana pengobatan hingga selesai tanpa terputus (Alwi et al. , 2. Kepatuhan terhadap pengobatan sangat penting bagi pasien hipertensi, karena meskipun hipertensi tidak dapat disembuhkan, pengendalian yang konsisten diperlukan untuk mencegah komplikasi serius yang bisa berakibat fatal. (Mangendai et al. , 2. Kepatuhan dalam minum obat dengan teratur mempengaruhi keberhasilan pengobatan. Sebaliknya pasien yang tidak patuh dalam minum obat dapat menyebabkan kegagalan terapi dan menimbulkan efek samping yang merugikan serta berakibat fatal (Ayuchecaria et al. , 2. Dampak serius yang muncul apabila seseorang tidak patuh terhadap pengobatan hipertensi yaitu kecacatan, kualitas hidup yang buruk, komplikasi dan bahkan kematian (Setyoningsih & Zaini, 2. Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan efikasi diri dan motivasi dengan kepatuhan minum obat hipertensi pada pasien hipertensi di UPT Puskesmas Randuagung Kabupaten Lumajang tahun 2024. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan efikasi diri dan motivasi dengan kepatuhan minum obat pasien hipertensi di UPT Puskesmas Randuagung tahun 2024. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif dengan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional dengan tujuan mengungkapkan hubungan korelatif antara variabel independen dan dependen. Dalam hal ini adalah AuHubungan efikasi Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc diri dan motivasi dengan kepatuhan minum obat pasien hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Randuagung LumajangAy. Populasi pada penelitian ini adalah pasien hipertensi di UPT Puskesmas Randuagung Kabupaten Lumajang pada bulan Januari-Mei 2024 yaitu sejumlah 152 pasien. Sampel pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus slovin, didapatkan yaitu 110 responden. Dalam penelitian ini, teknik pengambilan sampel menggunakan metode non probability sampling dengan pendekatan purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner yang sudah valid dan reliabilitas. Data dianalisis menggunakan uji Spearman Rho untuk menentukan hubungan antara variabel independen dan dependen. Apabila Pvalue O 0,05 maka ada hubungan dan jika Pvalue > 0,05 maka tidak terdapat hubungan. Setelah itu, kesimpulan ditarik berdasarkan hasil analisis dari uji HASIL PENELITIAN Tabel 1. Karakteristik Responden di UPT Puskesmas Randuagung Kabupaten Lumajang Karakteristik Frekuensi Presentase (%) Umur 65 ke atas Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Status Pernikahan Belum menikah Menikah Duda/janda Pendidikan Tidak sekolah SD/ sederajat SMP/ sederajat SMA/ sederajat Perguruan Tinggi Pekerjaan Tidak bekerja/IRT PNS Wiraswasta Buruh tani Lama Menderita O5 tahun >5 tahun Fasilitas Kesehatan Puskesmas Jarak Fasilitas Kesehatan 5-10 km 11-20 km Sumber: Data Primer, 2024 Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc Tabel 1 menunjukan bahwa mayoritas umur responden berumur 56 Ae 65 tahun dengan jumlah 41 responden . ,1%), mayoritas jenis kelamin perempuan dengan jumlah 88 responden . %), mayoritas status pernikahan yaitu menikah 63 responden . , mayoritas pekerjaan responden yaitu tidak bekerja/ ibu rumah tangga 57 responden . ,8%), mayoritas pasien yang lama mengalami hipertensi yaitu >5 tahun 66 responden . ,9 %), semua responden 110 . %) menggunakan fasilitas kesehatan puskesmas dan mayoritas jarak fasilitas kesehatan yaitu dengan jarak 5-10 km 109 responden . ,3%). Tabel 2. Kategori efikasi diri pasien hipertensi di UPT Puskesmas Randuagung Kabupaten Lumajang Efikasi Diri Frekuensi Tinggi Rendah Total Sumber: Data Primer, 2024 Presentase (%) Berdasarkan tabel 2 diatas menunjukkan bahwa dari 110 responden yang dieteliti ditemukan sebagian besar responden memiliki efikasi diri rendah sebanyak 66 responden . %). Tabel 3. Kategori motivasi pasien hipertensi di UPT Puskesmas Randuagung Kabupaten Lumajang Motivasi Jumlah Presentase (%) Tinggi Total Sumber: Data Primer, 2024 Berdasarkan tabel 3 diatas menunjukkan bahwa dari 110 responden yang dieteliti ditemukan sebagian besar responden memiliki motivasi rendah sebanyak 68 responden . ,8%). Tabel 4. Kategori kepatuhan minum obat pasien hipertensi di UPT Puskesmas Randuagung Kabupaten Lumajang Kepatuhan Minum Jumlah Presentase (%) Obat Tinggi Rendah Total Sumber: Data Primer, 2024 Berdasarkan tabel 4 diatas menunjukkan bahwa bahwa dari 110 responden yang dieteliti ditemukan sebagian besar responden memiliki kepatuhan minum obat rendah sebanyak 70 responden . ,6%). Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc Tabel 5. Hubungan efikasi diri dengan kepatuhan minum obat pasien hipertensi di UPT Puskesmas Randuagung Kabupaten Lumajang Kepatuhan Minum Obat Efikasi Diri Tinggi Rendah Jumlah Jumlah Tinggi Sedang Rendah P value = 0,000 dengan = 0,05. R 0,535 Sumber: Data Primer, 2024 BerdasarkanTabel 5 diatas menunjukkan Hasil uji statistik menggunakan uji Spearman Rank menunjukkan nilai p < 0,05 . value = 0,. , yang berarti Ha tidak dapat ditolak. Hal ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara efikasi diri dan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Randuagung Kabupaten Lumajang. Kekuatan korelasi . sebesar 0,535 menunjukkan adanya korelasi yang kuat dan positif, yang berarti keduanya berhubungan searah. Tabel 6. Hubungan motivasi dengan kepatuhan minum obat pasien hipertensi di UPT Puskesmas Randuagung Kabupaten Lumajang Kepatuhan Minum Obat Efikasi Diri Tinggi Sedang Rendah Tinggi Rendah Jumlah P value = 0,000 dengan = 0,05. R 0,518 Sumber: Data Primer, 2024 Jumlah Berdasarkan Tabel 6 diatas menunjukkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji Spearman Rank menunjukkan nilai p < 0,05 . value = 0,. , yang berarti Ha tidak dapat Ini mengindikasikan adanya hubungan yang signifikan antara motivasi dan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Randuagung Kabupaten Lumajang. Kekuatan korelasi . sebesar 0,518 menunjukkan adanya korelasi yang kuat dan positif, artinya keduanya berhubungan searah. PEMBAHASAN Efikasi Diri Hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui sebagian besar responden memiliki efikasi diri rendah sebanyak 66 responden . %). Sebagian besar sangat tidak yakin atau ragu-ragu konsumsi obat seumur hidup, minum obat saat berpergian, minum obat hipertensi meskipun merasa baik-baik saja, minum obat hipertensi meskipun terdapat efek obat yang membuat saya merasa tidak nyaman, rutin minum obat tepat waktu setiap hari. Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc Usia mempengaruhi efikasi diri pasien hipertensi dengan cara yang berbeda. Pasien yang lebih muda biasanya lebih terbuka terhadap informasi dan teknologi baru, yang dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam mengelola kondisi sebaliknya, pasien yang lebih tua sering kali memiliki pengalaman hidup yang lebih banyak, yang dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka. Namun, tantangan fisik yang terkait dengan penuaan, seperti penurunan fungsi fisik, dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk menerapkan strategi pengelolaan kesehatan secara efektif (Mulyana & Irawan, 2. Efikasi diri dapat berdampak signifikan pada pendekatan pria dan wanita terhadap pengobatan hipertensi. Pria mungkin lebih fokus pada solusi langsung dan tindakan tegas, sementara perempuan dapat lebih mempertimbangkan aspek emosional dan dukungan sosial dalam perjalanan pengobatan mereka (Gani et al. , 2. Pendidikan yang lebih tinggi sering kali memberikan individu pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan hidup, termasuk pengelolaan Dengan pemahaman yang lebih baik tentang informasi kesehatan, individu berpendidikan tinggi cenderung merasa lebih percaya diri dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan kesehatan mereka. Hal ini berkontribusi pada tingkat efikasi diri yang lebih tinggi, memungkinkan mereka untuk lebih proaktif dalam menjaga dan mengelola kondisi kesehatan mereka, seperti hipertensi. Pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan juga dapat meningkatkan kemampuan individu untuk mencari dan memahami sumber daya kesehatan yang tersedia (Mulyana & Irawan, 2. Efikasi diri merujuk pada keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya untuk menyelesaikan tugas tertentu, yang pada gilirannya memperkuat rasa percaya diri dalam mengadopsi perilaku yang sehat (Sukmaningsih et al. , 2. Efikasi diri memengaruhi bagaimana seseorang melihat kemungkinan untuk mengubah perilaku secara positif. Efikasi diri merupakan faktor kunci dalam menentukan kemampuan seseorang untuk melakukan perubahan perilaku (Dasuki et al. , 2. Semakin tinggi tingkat efikasi diri seseorang, semakin kuat keyakinan mereka dalam mengelola hipertensi dengan efektif. Bagi penderita hipertensi, memiliki efikasi diri yang tinggi sangat penting untuk mendukung pengobatan yang dilakukan melalui penerapan pola hidup sehat. Ini dapat membantu mengurangi masalah kesehatan yang mereka hadapi serta meningkatkan upaya penyembuhan dan kualitas hidup mereka. Oleh karena itu, edukasi tentang perilaku perawatan diri sangat penting untuk meningkatkan efikasi diri, sehingga mendorong pemahaman yang positif dalam melakukan perubahan perilaku sehat. Masalah cenderung lebih cepat terpecahkan ketika seseorang memiliki keyakinan diri yang kuat terhadap kemampuannya, sementara mereka yang memiliki keyakinan diri rendah mungkin kesulitan atau bahkan tidak dapat menyelesaikannya (Kendu et al. , 2. Individu dengan efikasi diri yang tinggi cenderung lebih efektif dalam menjalani pengobatan, mengikuti diet rendah garam, berolahraga, menghindari rokok, dan memantau berat badan mereka sesuai dengan harapan. Sebaliknya, seseorang yang memiliki efikasi diri rendah akan merasa tidak yakin akan kemampuannya untuk mencapai hasil yang diinginkan. Efikasi diri dapat mempengaruhi persepsi seseorang secara positif dalam mengubah perilaku. Semakin tinggi efikasi diri, semakin kuat keyakinan individu untuk mengelola hipertensi secara Penderita hipertensi perlu memiliki efikasi diri yang tinggi untuk mendukung pengobatan melalui pola hidup sehat, sehingga dapat mengurangi masalah kesehatan yang dihadapi, meningkatkan upaya penyembuhan, dan memperbaiki kualitas hidup mereka (Rasdiyanah et al. , 2. Efikasi diri adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan tugas yang berperan penting dalam perilaku sehat dan mengelola kondisi seperti hipertensi. Tingkat efikasi diri yang tinggi meningkatkan keyakinan seseorang dalam mengelola. Individu dengan efikasi diri tinggi lebih cenderung berhasil dalam mengikuti pengobatan dan perubahan Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc gaya hidup, sedangkan mereka dengan efikasi diri rendah mungkin mengalami kesulitan dalam mencapai hasil yang diinginkan. Motivasi Hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki motivasi rendah sebanyak 68 responden . ,8%). Sebagian besar merasa bosan minum obat terlalu banyak dan terus-menerus, merasa tanpa minum obat teratur saya bisa sembuh, tidak yakin akan sembuh sekalipun minum obat, dan merasa kurangnya dukungan dari keluarga saat proses pengobatan. Usia seseorang berperan penting dalam mempengaruhi motivasi individu, termasuk dalam pengobatan hipertensi. Seiring bertambahnya usia, individu biasanya memiliki lebih banyak pengalaman hidup yang membantu mereka memahami pentingnya kesehatan. Pada usia yang lebih matang, motivasi untuk sembuh seringkali meningkat, karena individu menyadari tanggung jawab mereka terhadap kesehatan diri dan keluarga. Mereka cenderung lebih peka terhadap konsekuensi dari penyakit, sehingga lebih patuh dalam mengikuti pengobatan dan menjaga gaya hidup sehat. Keinginan untuk menikmati kehidupan lebih lama dan mencapai keberhasilan dalam pengelolaan kesehatan mendorong mereka untuk aktif berpartisipasi dalam proses pengobatan, menjadikan motivasi sebagai faktor kunci dalam kesuksesan pengobatan hipertensi (Sulistyarini et al. , 2. Fasilitas kesehatan memainkan peran penting dalam meningkatkan motivasi pasien untuk mematuhi pengobatan, terutama dalam konteks penyuluhan dan dukungan dari tenaga Ketika fasilitas kesehatan menyediakan lingkungan yang mendukung dan akses yang baik untuk penyuluhan, pasien merasa lebih dihargai dan terinformasi. Dukungan yang diberikan oleh petugas kesehatan, seperti antusiasme dalam menyampaikan informasi dan penghargaan positif, dapat meningkatkan motivasi pasien untuk mengadopsi perilaku sehat. Ketika pasien merasa didukung dan diperhatikan, mereka lebih cenderung untuk berkomitmen pada program pengobatan mereka, karena mereka memahami bahwa kesehatan mereka sangat Dengan demikian, fasilitas kesehatan yang baik tidak hanya menyediakan layanan medis, tetapi juga berkontribusi pada motivasi dan kepatuhan pasien dalam menjaga kesehatan mereka (Sulistyarini et al. , 2. Motivasi adalah dorongan yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan guna mencapai tujuan tertentu. Istilah motivasi berasal dari kata "motif," yang berarti "dorongan" dalam diri seseorang. Dengan demikian, motivasi yang paling kuat berasal dari dalam diri individu itu sendiri. Motivasi pribadi untuk menjaga kesehatan memiliki pengaruh signifikan pada faktor-faktor yang berkaitan dengan perilaku pasien dalam menghadapi penyakit mereka (Hanum et al. , 2. Motivasi terdiri dari dua jenis utama: motivasi intrinsik dan motivasi Motivasi intrinsik berasal dari dalam diri seseorang dan sering kali muncul tanpa adanya pengaruh eksternal. Individu yang memiliki motivasi intrinsik umumnya lebih mudah terdorong untuk bertindak, dengan faktor-faktor seperti kebutuhan, harapan, dan minat berperan dalam mempengaruhinya. Sebaliknya, motivasi ekstrinsik timbul akibat dorongan dari faktor luar, seperti dukungan keluarga, lingkungan, dan imbalan, yang mempengaruhi seseorang untuk bertindak (Febyanti, 2. Motivasi merupakan faktor yang memicu atau berfungsi sebagai dorongan bagi seseorang untuk melakukan tindakan guna mencapai tujuannya. Indikator motivasi dalam mengendalikan penyakit seperti hipertensi meliputi hasrat atau keinginan untuk tetap sehat, dorongan dan kebutuhan untuk menjaga kesehatan, harapan dan cita-cita untuk bebas dari penyakit dan ketergantungan obat, penghargaan terhadap kehidupan, penerapan perilaku sehat, serta lingkungan sekitar yang mendukung dan kondusif untuk menjalani gaya hidup sehat (Naufal et al. , 2. Motivasi yang rendah dalam mengelola hipertensi dapat mempengaruhi tekanan darah pada pasien. Oleh karena itu, pasien hipertensi perlu memiliki motivasi dari Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc dalam diri mereka sendiri untuk secara konsisten mengontrol tekanan darah, sehingga dapat menjaga agar tekanan darah tetap dalam batas normal (Peronika et al. , 2. Peneliti berpendapat motivasi memainkan peran penting dalam pengelolaan hipertensi. Motivasi berfungsi sebagai dorongan bagi individu untuk mengambil tindakan yang diperlukan guna mencapai tujuan kesehatan mereka. Indikator motivasi meliputi keinginan untuk tetap sehat, kebutuhan untuk menjaga kesehatan, harapan untuk bebas dari penyakit, penghargaan terhadap kehidupan, penerapan perilaku sehat, dan dukungan lingkungan. Motivasi yang rendah dapat berdampak negatif pada tekanan darah pasien hipertensi. Oleh karena itu, penting bagi pasien hipertensi untuk memiliki dorongan internal yang kuat agar mereka dapat secara konsisten mengontrol tekanan darah dan mempertahankan tekanan darah dalam batas normal. Kepatuhan Minum Obat Hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa ditemukan sebagian besar responden memiliki kepatuhan minum obat rendah sebanyak 70 responden . ,6%). Sebagian besar responden kadang-kadang lupa minum obat, mengurangi minum obat tanpa sepengatahuan dokter, kadang-kadang lupa membawa obat saat bepergian, berhenti minum obat saat gejala yang dialami telah terkendali. Status pekerjaan memiliki dampak signifikan terhadap kepatuhan minum obat. Responden yang tidak bekerja atau pensiunan cenderung memiliki tingkat kepatuhan yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang masih aktif bekerja. Hal ini mungkin disebabkan oleh kesibukan yang dialami oleh individu yang bekerja, yang dapat mengganggu rutinitas minum obat mereka. Stres dan tanggung jawab di tempat kerja dapat menyebabkan mereka lebih rentan untuk melupakan jadwal minum obat atau melewatkan dosis (Sari et al. , 2. Lama mengalami hipertensi dapat berdampak negatif pada kepatuhan pasien dalam minum obat. Ketika pasien telah lama menjalani pengobatan tanpa mencapai hasil yang diharapkan, mereka sering merasa jenuh dan frustrasi. Penambahan jenis obat atau peningkatan dosis oleh dokter bisa menyebabkan pasien merasa terbebani dengan pengobatan yang semakin Akibatnya, rasa putus asa ini dapat menurunkan motivasi mereka untuk mematuhi regimen pengobatan yang direkomendasikan. Dalam situasi seperti ini, penting bagi tenaga kesehatan untuk memberikan dukungan dan penjelasan yang jelas tentang pentingnya kepatuhan, sehingga pasien dapat lebih memahami bahwa meskipun prosesnya lambat, pengobatan tetap penting untuk mengelola kondisi mereka secara efektif (Prihatin et al. , 2. Jarak antara rumah pasien dan fasilitas pelayanan kesehatan memiliki dampak signifikan terhadap kepatuhan minum obat. Semakin jauh jarak yang harus ditempuh, semakin besar kemungkinan pasien mengalami kesulitan dalam mengakses layanan kesehatan, baik dari segi waktu tempuh maupun biaya transportasi. Kondisi ini dapat menyebabkan pasien merasa malas atau terbebani untuk rutin menjalani kontrol kesehatan dan mengambil obat. Selain itu, kesulitan dalam mencapai fasilitas kesehatan juga dapat mengurangi kesempatan pasien untuk mendapatkan penyuluhan dan dukungan yang diperlukan. Oleh karena itu, aksesibilitas yang baik menjadi kunci untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam minum obat, karena semakin mudah mereka mengakses layanan, semakin tinggi kemungkinan mereka untuk mematuhi regimen pengobatan yang direkomendasikan (Prihatin et al. , 2. Kepatuhan adalah perilaku yang muncul dari interaksi antara petugas kesehatan dan pasien, di mana pasien memahami rencana pengobatan beserta konsekuensinya, menyetujui rencana tersebut dan kemudian mengikutinya. (Chasanah & Sugiman, 2. Kepatuhan dalam diri seseorang muncul ketika ada kemauan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam konteks pengobatan, kepatuhan pasien berarti menerapkan terapi yang direkomendasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kepatuhan dalam mengonsumsi obat sangat penting untuk membantu pasien pulih dari penyakitnya. Namun, kepatuhan ini tidak mudah dicapai karena memerlukan komitmen untuk terus mengikuti aturan dan tidak menghentikan pengobatan Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc sendiri tanpa instruksi dari dokter atau tenaga kesehatan (Sulistyarini et al. , 2. Kepatuhan dalam pengobatan sangat penting bagi pasien hipertensi karena penyakit ini tidak dapat disembuhkan dan perlu terus-menerus dikontrol untuk mencegah komplikasi serius yang bisa berakibat fatal (Chasanah & Sugiman, 2. Kepatuhan dalam mengonsumsi obat melibatkan pengambilan obat antihipertensi sesuai resep dokter dan dosis yang tepat. Jika tindakan ini dilakukan dengan benar, maka pengobatan akan menjadi efektif (Suyamto & Astuti, 2. Ketidakpatuhan dalam pengobatan adalah perilaku pasien yang kesulitan mengontrol diri untuk mengikuti semua langkah yang diperlukan dalam terapi demi mencapai keberhasilan pengobatan (Sunaringtyas & Habibah, 2. Ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat antihipertensi mengakibatkan berkurangnya penggunaan obat, sehingga pasien mungkin kehilangan manfaat dari terapi tersebut dan berisiko mengalami kemunduran kondisi kesehatan secara bertahap. Hal ini menjadi faktor utama dalam kegagalan terapi hipertensi (Sunaringtyas & Habibah, 2. Ketidakpatuhan dalam mengikuti terapi dapat menyebabkan kegagalan pengobatan yang pada akhirnya dapat memperburuk kondisi pasien dan menyebabkan komplikasi serta kerusakan pada organ tubuh lainnya (Chasanah & Sugiman, 2. Peneliti berpendapat bahwa kepatuhan dalam pengobatan hipertensi yang meliputi mengikuti resep dokter dan dosis yang tepat sangat penting untuk mengontrol penyakit hipertensi dan mencegah komplikasi serius. Ketidakpatuhan seperti kesulitan mengikuti rencana terapi dan mengonsumsi obat secara konsisten dapat mengurangi efektivitas pengobatan, memperburuk kondisi kesehatan dan menyebabkan komplikasi. Dengan demikian kepatuhan adalah kunci utama untuk keberhasilan terapi hipertensi dan pemeliharaan kesehatan Hubungan Efikasi Diri Dengan Kepatuhan Minum Obat Hasil penelitian menunjukkan hasil uji Spearman Rho didapatkan nilai p < 0,05 . value = 0,. yang berarti Ha gagal ditolak sehingga dapat diartikan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara efikasi diri pasien dengan kepatuhan minum obat pasien hipertensi di UPT Puskesmas Randuagung Kabupaten Lumajang. Efikasi berperan penting dalam perubahan perilaku kepatuhan seseorang terhadap pengobatan hipertensi. Tingkat efikasi yang tinggi akan membuat seseorang lebih percaya pada efektivitas pengobatan yang mereka jalani. Keyakinan ini akan memotivasi dan memperkuat harapan mereka untuk sembuh, sehingga akhirnya meningkatkan kepatuhan mereka dalam menjalani pengobatan hipertensi (Kawulusan et al. Individu dengan tingkat efikasi diri yang tinggi akan merasa yakin bahwa mereka mampu mencapai tujuan yang diinginkan, termasuk dalam hal kepatuhan terhadap konsumsi Keyakinan ini akan memotivasi mereka, meningkatkan harapan untuk sembuh dan mendorong mereka untuk secara konsisten mengikuti pengobatan hipertensi. Individu yang memiliki efikasi diri tinggi akan memandang kegagalan sebagai pengalaman yang terjadi akibat kurangnya usaha. Individu dengan efikasi diri yang tinggi cenderung menunjukkan tingkat kepatuhan yang lebih baik dalam mengonsumsi obat hipertensi dibandingkan dengan mereka yang memiliki efikasi diri rendah (Kendu et al. , 2. Pasien hipertensi dengan tingkat efikasi diri tinggi memiliki kemungkinan 11 kali lebih besar untuk menunjukkan kepatuhan yang baik terhadap pengobatan dibandingkan dengan mereka yang memiliki efikasi diri rendah. (Kawulusan et al. , 2. Individu dengan efikasi diri yang tinggi dapat memotivasi diri mereka untuk melakukan perilaku yang diinginkan melalui proses kognitif. Kemampuan ini memungkinkan mereka untuk memahami faktorfaktor yang mempengaruhi kesehatan dan memanfaatkan keterampilan pribadi mereka untuk menjaga kesehatan. Efikasi diri dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk pengalaman pribadi. Pengalaman mengalami kekambuhan penyakit hipertensi dapat dianggap sebagai kegagalan yang digunakan sebagai bahan evaluasi, di mana kekambuhan tersebut seringkali menunjukkan ketidakpatuhan dalam mengikuti pengobatan hipertensi (Kendu et al. , 2. Individu dengan Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc efikasi diri rendah seringkali menunjukkan kurangnya motivasi, kesulitan dalam mengubah perilaku, dan menghadapi tantangan dalam menjaga kesehatan mereka. Sebaliknya, mereka yang memiliki efikasi diri tinggi umumnya dapat mengatasi masalah dengan baik, mengurangi rasa takut akan kegagalan, dan menunjukkan motivasi yang tinggi dalam berbagai aktivitas (Susanti et al. , 2. Peneliti berpendapat efikasi diri berperan krusial dalam kepatuhan terhadap pengobatan Individu dengan efikasi diri tinggi cenderung lebih percaya pada efektivitas pengobatan, memberdiri mereka, dan secara konsisten mengikuti pengobatan, yang meningkatkan peluang mereka untuk sembuh. Mereka juga lebih mampu mengatasi kegagalan dan memandangnya sebagai pengalaman belajar. Sebaliknya, individu dengan efikasi diri rendah sering menunjukkan kurangnya motivasi dan kesulitan dalam menjaga kesehatan. Pengalaman pribadi, seperti kekambuhan penyakit, dapat mempengaruhi tingkat efikasi diri dan kepatuhan terhadap pengobatan Hubungan Motivasi Dengan Kepatuhan Minum Obat Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji Spearman Rho menghasilkan nilai p < 0,05 . value = 0,. , yang berarti Ha tidak dapat ditolak. Ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara motivasi pasien dan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di UPT Puskesmas Randuagung Kabupaten Lumajang. Motivasi diri memiliki dampak besar pada bagaimana pasien hipertensi mengikuti pengobatan mereka. Motivasi berfungsi sebagai kekuatan pendorong untuk mencapai tujuan, yaitu pemulihan dari penyakit. Kepatuhan terhadap pengobatan hipertensi merupakan faktor penting dalam keberhasilan program pengobatan, dan motivasi dapat meningkatkan semangat serta disiplin pasien dalam menjalankan terapi (Merlis & Alfiah, 2. Pasien dengan motivasi tinggi cenderung lebih patuh dalam minum obat dan memiliki keinginan kuat untuk sembuh, sehingga mereka akan terus mengikuti rencana pengobatan hingga selesai tanpa terputus (Alwi et al. , 2. Motivasi berperan penting dalam kepatuhan seseorang terhadap konsumsi obat antihipertensi, baik dari dorongan internal maupun eksternal. Semakin tinggi motivasi seseorang, semakin besar kemungkinan mereka untuk patuh pada penggunaan obat tersebut, karena motivasi berhubungan erat dengan keyakinan pribadi. Individu dengan keyakinan yang kuat cenderung dapat memanfaatkan keterampilan atau potensinya untuk mengatasi masalah yang ada. Sebaliknya, jika motivasi pasien rendah, hal ini dapat berdampak negatif pada pengobatan mereka, sehingga pengobatan mungkin tidak berjalan dengan efektif (Prasetyo et ,2. Motivasi yang kuat dapat muncul dari hubungan antara kebutuhan, dorongan, dan Ketika klien hipertensi memiliki kebutuhan untuk sembuh, mereka akan terdorong untuk patuh terhadap pengobatan. Tujuan untuk sembuh ini menjadi akhir dari siklus motivasi mereka (Merlis & Alfiah, 2. Motivasi adalah kondisi yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan dengan kesadaran penuh, sering kali dipengaruhi oleh perubahan emosi. Dalam konteks hipertensi, motivasi penderita untuk mengendalikan tekanan darah merupakan dorongan untuk menjalankan aktivitas dan pengobatan yang diperlukan (Chandra et al. , 2. Tujuan dari pengendalian tekanan darah adalah menjaga agar tetap stabil untuk menghindari gejala dan komplikasi yang mungkin timbul (Maharani & Syafrand, 2. Memiliki motivasi tinggi untuk sembuh akan memudahkan proses kontrol tekanan darah dan menunjukkan adanya keinginan untuk sembuh serta meningkatkan kualitas hidup (Cahyaningtias, 2. Motivasi diri memainkan peran penting dalam pengelolaan pengobatan hipertensi. Motivasi, sebagai kekuatan pendorong, membantu pasien untuk tetap berkomitmen pada pengobatan dan berusaha mencapai kesembuhan. Tingkat motivasi yang tinggi meningkatkan kepatuhan pasien dalam mengikuti rencana pengobatan, yang penting untuk efektivitas terapi. Motivasi dapat berasal dari dorongan internal dan eksternal serta berhubungan erat dengan Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc keyakinan pribadi dan kebutuhan untuk sembuh. Ketika motivasi kuat pasien cenderung lebih konsisten dalam mengonsumsi obat dan menjalani program pengobatan yang pada akhirnya membantu menjaga tekanan darah tetap stabil dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Sebaliknya motivasi yang rendah dapat berdampak negatif pada keberhasilan pengobatan dan pengendalian tekanan darah. SIMPULAN DAN SARAN Efikasi diri pasien di UPT Puskesmas Randuagung Kabupaten Lumajang sebagian besar responden memiliki efikasi diri rendah sebanyak 66 responden . %). Motivasi pasien di UPT Puskesmas Randuagung Kabupaten Lumajang sebagian besar responden motivasi rendah sebanyak 68 responden . ,8%). Kepatuhan minum obat di UPT Puskesmas Randuagung Kabupaten Lumajang sebagian besar responden memiliki kepatuhan minum obat rendah sebanyak 70 . ,6%). Terdapat hubungan antara efikasi diri dengan kepatuhan minum obat pasien hipertensi di UPT Puskesmas Randuagung Pvalue < dengan nilai Pvalue = 0. dan = 0. 05 dengan kekuatan korelasi . yaitu 0,535 yang berarti kekuatan korelasi kuat dengan arah korelasi . yaitu searah. Terdapat hubungan antara motivasi dengan kepatuhan minum obat pasien hipertensi di UPT Puskesmas Randuagung Pvalue < dengan nilai Pvalue = 0. 000 dan = 0. 05 dengan Kekuatan korelasi . yaitu 0,518 yang berarti kekuatan korelasi kuat dengan arah korelasi . yaitu searah. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada pembimbing atas dukungannya dalam penyusunan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA