Jurnal Agrotek UMMAT p-ISSN 2356-2234 | e-ISSN 2614-6541 | SINTA accredited Volume 11, issue 1, 2024 Adaptasi padi sawah lokal asal Sumatera Barat pada pertumbuhan, hasil, dan ketahanan hama dan penyakit Adaptation of local lowland rice from West Sumatra on growth, yield, and pest and disease resistance Salfiati1. Oktaviandra Putra1. Ediwirman2* 1Balai Pengawas Sertifikasi Benih Sumatera Barat. Indonesia 2Program Studi Magister Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Tamansiswa Padang. Indonesia *corresponding author: ediwirman@unitas. Received: 1st December, 2023 | accepted: 16th January, 2024 ABSTRAK Padi merupakan komoditi pangan strategis yang perlu dijaga stabilitas produksi. Hal ini dapat dilakukan dengan menguji berbagai aspek baik produktivitas dan ketahanan terhadap hama dan panyakit. Sumatera Barat memiliki sumberdaya genetik padi sawah yang dapat dikembangkan menjadi varietas unggul. Genotipe padi sawah yang sudah dilepas menjadi varietas seperti Batang Anai. Anak Daro. Bakwan, dan Marapulai. Namun juga masih banyak yang belum dijadikan varietas, diantaranya Bujang Marantau. Kuriak Kusuik. Kuriak Putiah, masih tetap dibudidayakan oleh petani Oleh sebab itu uji daya adaptasi genotipe padi sawah lokal merupakan salah satu strategi awal. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi berdasarkan aspek agronomi dan ketahanan terhadap hama dan penyakit fenotipe padi sawah lokal. Percobaan dilaksanakan pada lahan sawah pada 2 . Tolatang Kamang dan Ampek Angkek Kabupaten Agam. Propinsi Sumatera Barat, dari bulan Februari sampai Juni 2022. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3 kelompok. Perlakuan terdiri dari 5 . fenotipe yang terdiri dari . Kusuik Putiah. Kuriak Kusuik. Kuriak Putiah. Ampek Bulan Putiah, dan Cantik Manis. Variabel yang diamati di lapangan selama pertumbuhan tanaman mulai fase vegetatif, generatif hingga panen dan, ketahanan wereng batang coklat, serta penyakit hawar daun bakteri. Hasil penelitian menunjukkan Kusuik Putih merupakan salah satu padi sawah lokal asal Sumatera Barat yang dapat diajukan sebagai calon varietas unggul baru dengan bobot gabah kering mencapai 6,95 t. ha-1, namun ketahanan penyakit hawar daun bakteri yang masih tergolong rentan sampai agak rentan. diikuti padi lokal yang lain seperti Kuriak Putiah . ,92 t. Cantik Manis . ,55 t. Ampek Bulan Putiah . ,30 t. , dan Kuriak Kusuik . ,95 t. , yang agak tahan wereng batang coklat dan penyakit hawar daun bakteri. Kata kunci : Fenotipe. wereng coklat How to cite: Salfiati. Putra. , & Ediwirman. Adaptasi padi sawah lokal asal Sumatra Barat pada pertumbuhan, hasil, dan ketahanan hama dan penyakit. Jurnal Agrotek Ummat, 11. , 38-50 Copyright A Salfiati. Putra, & Ediwirman . ABSTRACT Rice is a strategic food commodity that needs to be maintained for production This can be done by testing various aspects of both productivity and resistance to pests and diseases. West Sumatra has genetic resources of paddy rice that can be developed into superior varieties. Rice paddy genotypes that have been released into varieties such as Batang Anai. Anak Daro. Bakwan, and Marapulai. But there are also many that have not been made into varieties, including Bujang Marantau. Kuriak Kusuik. Kuriak Putiah, which are still cultivated by farmers. Therefore, testing the adaptability of local paddy rice genotypes is one of the initial strategies. This research aims to obtain information based on agronomic aspects and resistance to pests and diseases of local rice paddy phenotypes. The experiment was conducted on paddy fields in 2 . Tolatang Kamang and Ampek Angkek Agam Regency. West Sumatra Province. The experiment was conducted from February to June 2022. The experiment used a Randomised Block Design with 3 blocks. Treatments consisted of 5 . phenotypes including. Kusuik Putiah. Kuriak Kusuik. Kuriak Putiah. Ampek Bulan Putiah, and Cantik Manis. Variables observed in the field during plant growth from the vegetative, generative phase to harvest include. plant height, number of productive tillers per clump, panicle length, flowering age, number of grains per panicle, number of full grains per panicle, harvest age, weight of 1,000 grains, dry grain weight per ha, resistance to brown stem leafhopper, and bacterial leaf blight. Observational data were analyzed statistically using the STATISTIX ver 8. 0 program. Brown planthopper pest attack was observed by referring to the criteria set by IRRI. The results of the study can be concluded. Kusuik Putih is one of the local paddy rice genotypes from West Sumatra that can be proposed as a candidate for new superior varieties with dry grain weight reaching 6. 95 t per ha, but, bacterial leaf blight resistance is still classified as susceptible to moderately vulnerable, followed by other local rice such as Kuriak Putiah . 92 t. Cantik Manis . 55 t. Ampek Bulan Putiah . 30 t. , and Kuriak Kusuik . 95 t. , which are moderately resistant to brown stem leafhopper and bacterial leaf blight. Keywords : brown planthopper. PENDAHULUAN Indonesia memiliki ketergantungan terhadap padi sebagai sumber pangan utama. Padi menjadi komoditi pangan strategis dalam menjaga stabilitas pangan nasional. Kebutuhan Menurut Ali & Wani . , diperkirakan kebutuhan beras global pada tahun 2050 mencapai 70% lebih dibandingkan kebutuhan beras saat Oleh sebab itu perlu dilakukan berbagai upaya untuk mencapai swasembada beras. Menurut Badan Pusat Statistika . , produksi padi secara nasional tahun 2019 . ,60 juta to. , tahun 2020 . ,65 juta to. , tahun 2021 . ,42 juta to. , dan tahun 2022 mencapai 54,75 juta ton, dengan produktivitas 5,24 ton/ha. Produksi secara nasional cenderung melanda dan berfluktuasi, bahkan tahun 2019 terjadi penurunan yang mencapai 7,75%. Faktor yang mempengaruhi produksi padi adalah perubahan Iklim dan serangan hama penyakit. Sudewi et , . menjelaskan, faktor penting yang mempengaruhi produksi padi Copyright A Salfiati. Putra, & Ediwirman . terutama musim hujan dan kemarau. Selain juga serangan hama seperti werang batang coklat dan hawar daun bakteri. Upaya yang dapat pengembangan varietas unggul yang memiliki daya adaptasi terhadap faktor iklim, ketahanan hama dan Pemanfaatan sumberdaya genetik padi sawah lokal merupakan salah satu strategi pengembangan varietas unggul baru. Menurut Ediwirman, et , . Sumberdaya genetik lokal perlu dieksploitasi. Genotipe padi sawah belum banyak dikembangkan hama dan penyakit. Padi sawah lokal memiliki daya adaptasi lingkungan dan ketahanan hama dan penyakit yang lebih baik dari varietas unggul Padi termasuk tanaman menyerbuk menyerbuk silang bisa terjadi Bekis et , . Salah satu keuntungan tanaman menyerbuk sendiri adalah menghasilkan keturunan yang bersifat homozigot, sehingga variasi atau sifat unggul yang diperoleh dari seleksi dipertahankan dan dijadikan galur murni dan varietas. Menurut (Ediwirman. Salfiati, 2. Sumatera Barat memiliki banyak genotipe padi sawah lokal potensial, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Padi sawah lokal yang keunggulan dari aspek agronomi dan ketahanan terhadap hama dan Namun padi sawah yang dilepas sebagai varietas unggul lokal masih terbatas, diantaranya Batang Anai. Anak Daro. Bakwaan, dan Marapulai, sedangkan yang belum Bujang Marantau. Kuriak Kusuik. Kuriak Putiah yang masih tetap dibudidayakan oleh Genotipe dijadikan sebagai varietas unggul. Menurut Flavio & Guedes . , pengujian dan daya adaptasi galur merupakan kegiatan penting dalam pemuliaan sebelum dijadikan sebagai varietas unggul. Menurut Flavio & Guedes . , perbedaan sifat atau penampilan galur padi sawah yang diuji berdasarkan karakter agronomi perlu dipertimbangkan untuk dijadikan tanaman budidaya. Selain ketahanan terhadap hama dan penyakit. Padi sawah umumnya peka terhadap hama seperti wereng batang coklat, penyakit blast, dan penyakit hawar daun bakteri. Hal ini merupakan ancaman terhadap produksi beras Penelitian mendapatkan informasi berdasarkan aspek agronomi dan ketahanan fenotipe padi sawah lokal. Hal ini diharapkan menghasilkan varietas unggul lokal baru. METODOLOGI Penelitian dilaksanakan pada lahan sawah pada 2 . Tolatang Kamang Ampek Angkek Kabupaten Agam. Propinsi Sumatera Barat. Percobaan dilakukan dari bulan Februari sampai Juni 2022. Copyright A Salfiati. Putra, & Ediwirman . Bahan dan alat yang digunakan terdiri dari : benih genotipe padi Kusuik Putiah. Kuriak Kusuik. Kuriak Putiah. Ampek Bulan Putiah, dan Cantik Manis. NPK Phonska, dan Urea. Peralatan yang digunakan, meteran, timbangan, dan alat tulis. Percobaan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 . ima ) kelompok. fenotipe yang terdiri dari . Kusuik Putiah. Kuriak Kusuik. Kuriak Putiah. Ampek Bulan Putiah, dan Cantik Manis. Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 22 hari seteleh semai. Bibit berukuran 4 x 5 m. Jarak tanam 35 x 35 m dengan 2 bibit per rumpun. Pupuk yang diberikan adalah NPK dan Urea. Urea diberikan 100 kg per ha, yang diberikan 2 . tahap yakni, saat tanaman 50 kg per ha, dan sisanya . dilakukan 50 hst. NPK diberikan 7 hari setelah tanam . sebanyak 150 kg per ha. Gambar 1. Bagan alur proses pembentukan varietas lokal Kusuik Putiah Perubah parameter agronomi meliputi . tanaman, jumlah anakan produktif per rumpun, panjang malai, umur berbunga, dan parameter produksi jumlah gabah per malai, jumlah gabah bernas per malai, umur panen, bobot 1. 000 butir, bobot gabah kering per ha. Data dianalisis program STATISTIX ver 8. Serangan hama wereng batang coklat diamati dengan mengacu pada kriteria yang telah ditetapkan oleh IRRI. Copyright A Salfiati. Putra, & Ediwirman . Tabel 1. Kriteria penilaian serangan hama dan penyakit Skor Kriteria Serangan Reaksi Tidak ada terinfeksi Sangat Tahan Infeksi<1 % Tahan Infeksi 1 Ae 5 % Agak Tahan Infeksi 6- 25 % Agak Rentan Infeksi 26 Ae 50 % Rentan Infeksi > 50 % Sangat Rentan Sumber : International Rice Research Institute,1996. HASIL DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan dan hasil padi Sidik ragam tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, panjang malai berpengaruh nyata pada setiap penampilan padi lokal yang diuji dan disajikan pada Tabel 2. Tabel 2 menunjukkan bahwa fenotipe padi sawah lokal memiliki perbedaan dilihat dari tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, panjang malai. Tinggi tanaman merupakan salah satu penampilan tanaman yang memilik perbedaan, fenotipe Cantik Manis memiliki secara berturut-turut diikuti oleh Ampek Bulan Putiah, dan kusuik Putiah, sedangkan Kuriak Kusuik dan Kuriak Putiah memiliki pertumbuhan relatif sama . ,97 cm dan 110,83 c. Jumlah anakan produktif juga memiliki perbedaan. Kusuik Putiah sebagai Tabel 2. Tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, umur berbunga dan umur panen fenotipe padi sawah lokal asal Sumatera Barat. MT 2022. Kusuik Putiah Tinggi . 118,16 c Kuriak Kusuik 108,97 d 16,63 bc 23,99 c 117,50 146,00 Kuriak Putiah 110,83 d 17,43 b 25,16 b 121,50 155,00 Ampek Bulan Putiah 122,21 b 16,04 c 24,20 c 120,50 Cantik Manis 128,54 a 15,97 c 24,25 c 133,50 162,50 padi lokal sawah Jumlah anakan Umur Panjang malai . 19,20 a 26,15 a 123,50 LSD 5% 1,02 0,44 0,21 LSD 1 % 1,41 0,61 0,29 KK (%) 1,45 4,31 1,43 Umur . 155,00 Angka pada kolom diikuti huruf kecil sama berbeda tidak nyata menurut LSD pada taraf 5 %. Jumlah anakan produktif yang lebih banyak . ,20 anaka. , diikuti Kuriak Putiah . ,43 anaka. , selanjutnya Kuriak Kusuik. Ampek Bulan Putiah dan Cantik Manis dengan jumlah anakan produktif Copyright A Salfiati. Putra, & Ediwirman . berturut-turut 16,63, 16,04, dan 15,97 Panjang malai genotipe padi juga berbeda. Kusuik Putiah memiliki malai terpanjang . ,15 c. , diikuti genotip Kuriak Putiah . ,16 c. Cantik Manis . ,25 c. Ampek Bulan Putiah . ,20 c. , dan Kuriak Kusuik menghasilkan malai yang lebih pendek . ,99 Sedangkan umur berbunga dari 5 genotip yang diuji berkisar 117,5 sampai 133,5 hst, dan umur panen 146 sampai 162,5 hst. Tinggi tanaman, jumlah anakan produktif merupakan salah satu memiliki hubungan yang erat. Perbedaan yang terjadi sangat dipengaruhi oleh faktor genetik. Menurut IRRI . , genotipe padi dilihat dari pertumbuhan tinggi dikelompokan atas tiga, yaitu pendek (< 110 c. , sedang . 130 c. , dan tinggi > 130 cm. Dilihat dikelompokan pada pertumbuhan (Kuriak Kusui. , kelompok genotip pertumbuhan sedang adalah Kusuik Putih. Kuriak Putiah. Ampek Bulan Putiah, dan Cantik Manis. Menurut (Nazirah et , 2. , faktor genetik merupakan salah satu faktor yang penting bagi pertumbuhan tinggi tanaman padi. Menurut (Kadir et al. , 2. , tinggi tanaman padi merupakan salah Kusuik Putiah tergolong pertumbuhan sedang, sehingga lebih tahan terhadap kerebahan. Jumlah genotipe yang diuji berkisar 15,97 sampai 19,20 anakan. Data itu produktif termasuk rendah (< 20 Umumnya genotipe lokal memiliki anakan produktif yang lebih sedikit, tetapi menjadi salah Anakan Menurut (Muliarta A et al. , 2. menjelaskan, kegiatan pemuliaan tanaman padi lebih diarahkan pada anakan produktif. Anakan menghasilkan malai yang lebih banyak, dan anakan tidak produktif Anakan tidak produktif cenderung merugikan, karena bersaing dalam mendapatkan hara dan cahaya bagi tanaman padi. Selain tinggi tanaman dan anakan produktif, panjang malai dari padi lokal yang diuji juga berbeda. Kusuik Putiah memiliki malai lebih panjang . ,15 c. , diikuti Kuriak Putiah . ,16 c. , sedangkan Cantik Manis. Ampek Bulan Putiah dan Kuriak Kusuik memiliki panjang malai yang relatif sama, berturutturut adalah 24,50 cm, 24,20 cm, dan 23,99 cm. Menurut (Li. Zhang, et al. , 2. , perbedaan panjang malai sangat dipengaruhi oleh faktor genetik. Lebih lanjut (Lu et , 2. menjelaskan, ukuran malai berpengaruh pada gabah yang Umur berbunga berbeda. Kuriak Kusuik berbunga lebih cepat . ,5 hs. , sedangkan Cantik Manis yang Copyright A Salfiati. Putra, & Ediwirman . ,5 Berdasarkan standar berbunga, lima genotipe bertipe lambat (> 100 Umur berbunga penting dalam penentuan umur panen Menurut (Nasution et al. , perbedaan umur berbunga dipengaruhi oleh faktor eksternal . seperti suhu, cahaya, kelembaban, dan faktor internal berkaiatan dengan faktor genetik. Umumnya genotipe padi sawah lokal memiliki umur berbunga yang lebih lama. Perbedaan umur panen juga tentu berhubungan dengan umur berbunga. Rata-rata umur panen tanaman padi 25 sampai 35 hari setelah berbunga. (Wijayanto berkorelasi dengan umur berbunga. Sidik ragam jumlah gabah per malai, jumlah gabah bernas per malai, bobot 1000, dan bobot gabah kering per ha berpengaruh Hasil uji lanjut pada Tabel 3. Tabel 3. Jumlah gabah per malai, dan jumlah gabah bernas per malai, bobot 1000 biji, dan boot gabah kering per ha genotipe padi sawah lokal asal Sumatera Barat, pada musim tanam 2022. Genotipe padi sawah Jumlah gabah Jumlah gabah Bobot 1000 biji Bobot gabah per malai . kering per ha . Kusuik Putiah 262,57 a 245,00 a 26,01 b 6,95 a Kuriak Kusuik 186,27 b 166,77 b 27,06 a 4,95 d Kuriak Putiah 183,57 b 163,33 b 26,05 b 5,92 b Ampek Bulan Putiah 188,57 b 168,83 b 25,25 c 5,30 cd Cantik Manis 193,53 b 174,10 b 24,86 d 5,55 bc LSD 5% 7,71 7,15 0,09 0,26 LSD 1 % 10,62 9,86 0,12 0,36 KK (%) 6,34 6,50 0,55 7,61 Angka pada kolom diikuti huruf kecil sama berbeda tidak nyata menurut LSD pada taraf 5 %. Tabel 3 menunjukkan bahwa. Kusuik Putiah menghasilkan jumlah gabah 262,57 biji, diikuti Cantik Manis . ,53 bij. Ampek Bulan Putiah . ,57 bij. Kuriak Kusuik . ,27 bij. dan Kuriak Putiah . ,57 bij. Jumlah gabah per malai, jumlah gabah bernas juga berbeda diantara genotipe. Jumlah gabah bernas berkorelasi dengan jumlah gabah per malai. Kuriak Kusuik menghasilkan gabah bernas yang lebih banyak dibandingkan dengan Cantik Manis . ,10 bij. Ampek Bulan Putiah . ,83 bij. Kuriak Kusuik . ,77 bij. dan Kuriak Putiah . ,33 bij. Persentase gabah hampa Kusuik Putiah ,67%) Cantik Manis. Kuriak Kusuik. Ampek Bulan Putiah, dan Kuriak Putiah dengan 10,03% 11,03%Kuriak Kusuik menghasilkan bobot 1000 biji lebih berat . ,06 . , diikuti Kuriak Putiah . ,05 . dan Copyright A Salfiati. Putra, & Ediwirman . Kusuik Putiah . ,01 . Ampek Bulan Putiah . ,25 . , dan Cantik Manis menghasil-kan biji lebih ringan . ,86 . Menurut (Lu et dipengarauhi oleh faktor genetik. Lebih lanjut Li. Tang, et al. , . berat butir ditentukan oleh ukuran butir . anjang, lebar, dan tebal serta kecepatan pengisian butir. Gambar 2. Penampilan bulir dan malai genotipe padi sawah lokal asal Sumatera Barat . Kuriak Putiah (A). Cantik Manis (B). Kusuik Putiah (C). Kuriak Kusuik (D), dan Ampek Bulan Putiah (E). Tabel 3 menunjukkan bahwa bobot gabah kering berbeda nyata. Kusiak Putiah menghasilkan bobot gabah kering mencapai 6,95 t per ha, diikuti Kuriak Putiah . ,92 t per h. Cantik Manis . ,55 t per h. Ampek Bulan Putiah . ,30 t per h. , dan Kuriak Kusuik . ,95 t per h. Bobot gabah kering berhubungan dengan jumlah anakan produktif, jumlah gabah per malai, dan jumlah gabah bernas dan bobot 1000 gabah. Komponen agronomi langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap gabah kering. Menurut Li. Zhang, et , . , hasil padi merupakan suatu sifat kompleks yang secara perkalian ditentukan oleh tiga faktor utama, yaitu bobot gabah, jumlah Copyright A Salfiati. Putra, & Ediwirman . malai per tanaman, dan jumlah gabah per malai. biotipe 1, 2, 3 dan 4 memiliki respon yang berbeda. Hasil uji ketahanan genotipe padi sawah disajikan pada Tabel 4. Ketahanan terhadap hama wereng batang coklat Uji ketahanan padi sawah lokal asal Sumatera Barat yang dilakukan terhadap hama wereng batang Tabel 4. Ketahanan beberapa genotip padi sawah lokal asal Sumatera Barat terhadap wereng batang coklat yang tergolong Biotipe 1,2,3, dan 4. Genotipe padi sawah Biotipe 1 Biotipe 2 Biotipe 3 Biotipe 4 Skor Kriteria Skor Kriteria Skor Kriteria Skor Kriteria Kusuik Putih Ampek Bulan Putih Cantik Manis Kuriek kusuik Kuriak Putiah Keterangan : AT = Agak Tahan. AR = Agak Rentan. R = Rentan Tabel ketahanan padi terhadap biotipe wereng batang coklat, mulai dari rentan sampai agak tahan. Kusuik Putiah dan Ampek Bulan Putiah agak rentan pada biotipe 1, agak tahan pada biotipe 2, rentan pada biotipe 3 dan 4. Cantik Manis agak tahan Biotipe 1, 2 dan 3, tetapi agar rentan Biotipe 4. Kuriak Kusuik agar tahan Biotipe 1, tetapi agak rentan Biotipe 2, 3, dan 4. Kuriak Putiah agak tahan Biotipe 1, agak rentan Biotipe 2 dan 3, tetapi rentan Biotipe 4. Ketahanan dipengaruhi oleh faktor Menurut (Fatimah & Prasetiyono, 2. , ketahanan tanaman padi wereng batang coklat dipengaruhi faktor Menurut (Putra et al. , 2. ketahanan padi terhadap wereng batang coklat bervariasi setiap Biotipe. Antioksidan salah satu mekanisme ketahanan tanaman terhadap wereng batang coklat. Menurut (Ling & Weilin, 2. , ketahahan terhadap wereng batang coklat bagian dari dari mekanisme biokimia sebagai kontribusi dari faktor genetik. Menurut (Singh et al. , ketahanan tanaman terhadap wereng matang coklat didasarkan menghasilkan senyawa antioksidan yang bersifat enzimatik seperti katalase yang dapat menghambat pencernaan senyawa seperti protein pada hama. Ketahanan terhadap hawar daun Ketahanan terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB) menggunakan Xoo Patotipe i. IV dan Vi pada stadia bibit memiliki ketahanan berbeda. Copyright A Salfiati. Putra, & Ediwirman . Ketahanan berdasarkan skor adalah 1, 3, 5, 7, dan 9 dengan kriteria mulai dari agak rentan (AR), agak tahan (AT), dan tahan (T). Ketahanan penyakit HDB disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Uji ketahanan padi lokal sawah asal Sumatera Barat terhadap penyakit HDB dengan menggunakan Xoo patotipe i. IV dan Vi pada stadia bibit . Genotipe padi Patotipe i Rerata Skor Kuriak Putiah 5,50 Kusuik Putiah 13,89 Ampek Bulan Putiah 9,15 Kuriak Kusuik 4,67 Cantik Manis 5,78 Patotipe IV Kriteria Patoripe Vi Rerata Skor Kriteria Rerata Skor Kriteria 9,43 8,02 13,80 8,09 7,76 7,21 5,52 7,46 5,79 6,35 Keterangan : T = Tahan. AT = Agak tahan. AR = Agak Rentan. R = Rentan Tabel 4 menunjukkan bahwa. Kuriak Putiah tahan Patotipe i, agak tahan Patotipe IV dan Vi. Kusuik Putiah agak rentan Patotipe II dan IV, dan agak tahan Patotipe Vi. Ampek Bulan Putiah agak tahan Patotipe i. IV dan Vi. Kuriak Kusuik dan Cantik Manis tahan Patotipe i dan IV, tetapi agak tahan Patotipe Vi. Perubahan menjadi indikator respon genotipe padi terhadap penyakit HDB yang disebabkan Xanthomonas oryzae pv. Oryzae. Menurut (Fatimah & Prasetiyono, penyakit HDB dipengaruhi faktor genetik tanaman. Selain itu juga disebabkan tingkat patogenitas. Menurut Dianawati . Sudir & Yuliani . Putra et al. , . berbedanya karakter Xanthomonas oryzae pv. Oryzae. Xanthomonas oryzae pv. Oryzae membentuk patotipe baru yang memiliki tingkat patogenitas lebih tinggi. Ketahanan genotipe padi sawah lokal terhadap penyakit HDB dengan menggunakan patotipe i. IV. Vi pada stadia generatif secara umum memiliki skor 1, dan 7 ke dalam 3 kriteria yaitu, rentan, agak rentan, dan tahan. Hasil Ketahanan padi sawah lokal terhadap penyakit HDB patotipe i. IVC dan Vi pada stadia generatif disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Uji ketahanan genotipe padi sawah lokal asal Sumatera Barat terhadap penyakit HDB dengan menggunakan Xoo patotipe i. IV dan Vi pada generatif . Genotipe Padi Kuriak Putiah Kusuik Putiah Ampek Bulan Putiah Kuriak Kusuik Cantik Manis Patotipe i Rerata Skor Kriteria 5,16 23,40 4,46 4,09 4,67 Patotipe IV Rerata Skor Kriteria 4,99 1 22,72 7 4,16 1 3,85 1 4,95 1 Patotipe Vi Rerata Skor Kriteria 5,05 35,67 5,42 4,39 4,81 Keterangan: T =Tahan. AR = Agak Rentan. R = Rentan Copyright A Salfiati. Putra, & Ediwirman . Tabel ketahanan genotipe membentuk 2 Kelompok pertama Kuriak Putiah. Ampek Bulan Putiah. Kuriak Kusuik, dan Canting Manis memiliki kriteria tahan Patotipe. Kelompok kedua. Kusuik Putiah dengan tingkat ketahanan, agak rentan Patotipe i dan IV dan rentan Patotipe Vi. Selain Patotipe, ketahanan dipengaruhi stadia pertumbuhan. Ketahanan pada stadia dewasa . lebih baik, kecuali genotipe Kuriak Kusuik. Hal ini sesuai menurut Sudir & Yuliani, . dan (Mumpuni & Rohmah, 2. , serangan mulai dari stadia vegetatif, dan stadia Stadia merupakan suatu fase aktivitas pembelahan sel tinggi pada jaringan seperti akar, batang dan sedangkan pada stadia generatif, aktivitas pembelahan sel semakin berkurang, sebagian diarahkan generatif seperti malai dan bulir. Penampilan genotipe padi sawah lokal terhadap penyakit HDB pada 49 his disajikan pada Gambar 2. Gambar 3. Penampilan fenotipe padi sawah lokal terhadap penyakit HDB (Xoo patotipe i. IV dan V. pada stadia dewasa . Kuriak Kusuik (A). Empat Bulan Putiah (B). Cantik Manis (C). Kuriak Putiah (D), dan Kusuik Putiah (E) SIMPULAN Berdasarkan uraian di atas dapat agronomi padi lokal. Kusuik Putiah memiliki tinggi tergolong sedang, anakan produktif lebih banyak, malai lebih panjang, jumlah gabah per malai dan gabah per malai yang lebih banyak dan mampu menghasilkan bobot gabah kering yang lebih berat . ,95 t per h. Ketahanan terhadap wereng batang coklat pada stadia bibit Biotipe 1, 2, 3, dan 4 termasuk kriteria rentan dan agak rentan. Kusuik Putiah dan Ampek Bulan putiah agak tahan pada Biotipe 2. Cantik Manis agak tahan Biotipe 1, 2, dan 3. Kuriak Kusuik dan Kuriak Putiah agak tahan Biotipe 1. Ketahanan terhadap HDB pada stadia bibit . umumnya sedangkan pada stadia generatif . termasuk kriteria tahan, kecuali Kusuik Putiah pada kriteria agak rentan. Kusuik Putih yang dapat diajukan Copyright A Salfiati. Putra, & Ediwirman . sebagai calon varietas unggul, namun rentan sampai agak rentan terhadap penyakit hawar daun bakteri. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Sumatera Barat. Bupati Kabupaten Agam yang telah memfasilitasi dalam pengujian genotip lokal padi sawah. DAFTAR PUSTAKA