PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin 2023. Vol. No. 2, 165-178 https://doi. org/10. 55681/primer. IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KEWIRAUSAHAAN MELALUI BUDIDAYA KOPI DI PONDOK PESANTREN Amri Dhimas Maulana1*. Farchan Mushaf Al Ramadhani2. Herlin Ika Nafilasari3 1Institut Agama Islam Tazkia 2Universitas Pekalongan 3Universitas Negeri Malang amridhimas@nplecturer. e-ISSN: 2985-7996 Article History: Received: 28-02-2023 Accepted: 01-04-2023 Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi pembelajaran kewirausahaan melalui budidaya kopi yang ada di pondok pesantren At-Tanwir Kabupaten Jember. Metode dalam penelitian ini yaitu menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe studi kasus. Data dalam penelitian ini yaitu data primer dan sekunder, data primer diambil dari pak kyai, ustadz, manajemen pesantren kopi, santri dan petani kopi, serta data sekunder didapatkan dari arsip-arsip dan dokumentasi pondok pesantren. Teknik pengambilan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model interaktif. Hasil penelitian ini Perencanaan kewirausahaan melalui budidaya kopi meliputi tahap persiapan, tahap pengorganisasian, dan tahap pelaksanaan. Kemudian dalam pelaksanaannya pembelajaran kewirausahaan dengan budidaya kopi di Pondok Pesantren At-Tanwir menggunakan metode pembelajaran kooperatif model PBI (Problem Based Introductio. dan gotong royong yang melibatkan pimpinan, santri pengurus pesantren kopi, dan petani kopi. Kata Kunci : Kewirausahaan. Budidaya Kopi. Pesantren Kopi This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 02 (April, 2. : 165-178 e-ISSN 2985-7996 PENDAHULUAN Perkembangan teknologi dan informasi yang canggih dalam beragam aspek kehidupan menghadirkan tantangan bagi masyarakat untuk terus berinovasi, khususnya dalam dunia pendidikan. Pendidikan merupakan wadah untuk menjembatani dan memperkenalkan ilmu dan pembaharuan guna mencetak generasi masa depan yang unggul dan matang. 1 Pembaharuan sistem pendidikan dengan mengikuti siklus zaman diproyeksikan dapat memberikan pelayanan maksimal yang mengutamakan efektifitas dan efisiensi peserta didik sehingga memberikan kesempatan bagi mereka untuk terus mengasah kemampuannya dengan baik. Oleh sebab itu, lembaga pendidikan harus dapat mengantisipasi perkembangan itu melalui terus mengupayakan program yang sesuai terhadap perkembangan anak, zaman, situasi, kondisi serta kebutuhan siswa. Masalah pendidikan tidak lepas dari adanya kurikulum yang diimplementasikan oleh setiap lembaga pendidikan. Kurikulum yang diimplementasikan oleh lembaga pendidikan harus mampu memproyeksikan pengajaran yang kompetitif dalam hal teori dan praktik yang dikemas dalam metode atau model pembelajaran yang menarik serta Model pembelajaran yang dilaksanakan diharapkan selaras dengan tujuan pendidikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 yaitu Aupendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawa. Ay Bersandar dari hal tersebut maka melalui pendidikan diharapkan dapat merubah pola pikir dari masa remaja hingga dewasa yang bisa dilihat dari perubahan gaya hiup serta perubahan dalam sikap dalam hidup. Memasuki revolusi industri 4. 0, tampaknya dunia pendidikan harus mulai melakukan terobosan besar dalam hal ekonomi kreatif. Dalam berbagai pertemuan. Presiden Jokowi selalu menyampaikan fokusnya pada penguatan sumber daya manusia sebagai modal untuk mewujudkan visinya bagi Indonesia sebagai negara maju dan berdaya saing. Menyikapi hal tersebut sebagai modal Indonesia memasuki era digitalisasi yang terintegrasi IoT (Internet of Thin. lazimnya sistem pendidikan kita sudah harus membentuk dan mempersiapkan para peserta didik yang unggul dalam pemanfaatan kreativitas berbasis digitalisasi. Dalam konteks ini pembelajaran kewirausahaan dapat dikatakan sebagai solusi dan wadah untuk melatih generasi muda yang kreatif dan terampil. Peran pemuda dalam mengasah keterampilan di bidang kewirausahaan diproyeksikan dapat meningkatkan kreativitas yang dapat memberikan peluang untuk menciptakan lapangan kerja, sehingga dapat membantu tingkat pengangguran di Indonesia yang masih banyak. Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2022 sejumlah 5,83, prosentase tersebut turun sejumlah 0,43 persen dibandingkan dengan Februari 2021 yaitu sebesar 6,26 persen. 3 Melihat data tersebut maka pendidikan di Indonesia harus bisa memberikan bekal kepada peserta didik agar mereka dapat menjadi lulusan yang kreatif, kompeten, dan berdaya saing agar dapat terus mengurangi tingkat Maka dari itu, sangat strategis apabila pemerintah mengarahkan sekolah supaya dapat menyediakan tenaga terdidik dengan kemampuan menciptakan lapangan kerja 1Nana Syaodih dan Erliana Syaodih. Kurikulum & Pembelajaran Kompetensi, (Bandung. PT. Refika Aditama, 2. , hlm. 2Udin Saefudin. Inovasi Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2. , hlm. 3https://w. id/ (Diakases pada tanggal 10 September 2. https://ejournal. id/index. php/primer/article/view/64 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 02 (April, 2. : 165-178 e-ISSN 2985-7996 serta menjawab tantangan kebutuhan kerja lewat model pendidikan entrepreneur atau Model tersebut diharapkan bisa menyelesaikan dua permasalahan yakni pendidikan serta pengangguran. 4 Sekolah selaku insititusi diharapkan bisa menumbuhkan dan memupuk jiwa serta sikap kewirausahaan para siswanya, schoolpreneurship mindset selaku langkah awal menuju kemandirian. Mindset tersebut ialah jembatan pengetahuan untuk membangkitkan kognisi tiap siswa dalam berpikir serta berperilaku sampai akhirnya mempunyai budaya wirausaha. Oleh karena itu, daya saing wirausaha akan membuat kreativitas dan inovasi sebagai nilai tambah dari sumber daya individu dalam menciptakan bisnis peluang. Pada program pendidikan dan pembelajaran kewirausahaan tersebut tidak cukup hanya memberi teori ataupun konsep kewirausahaan saja. Selama proses pendidikan dan pembelajaran kewirausahaan, siswa diberi sejumlah pelatihan aplikatif yang bekerja pada aspek-aspek aplikatif kewirausahaan dalam kehidupan. Keterampilan berwirausaha adalah bentuk pendidikan yang menggarap aspek keterampilan aplikatif yang bisa menjadi bekal bagi siswa. Inilah yang sebenarnya sedang diusahakan pada dunia pendidikan kita. Kewirausahaan ialah program khas untuk siswa agar masyarakat dapat secara langsung memberdayakan kemampuan anak selaku pencipta barang ataupun jasa untuk kebutuhan hidup masyarakat. Terkait dengan pendidikan dan kurikulum di suatu lembaga pendidikan di negeri ini, ada lembaga pendidikan yang merupakan produk murni negeri ini yang memiliki keunikan dari segi kurikulum. Lembaga yang dimaksud yakni pesantren. Secara substansial, pesantren adalah lembaga keagamaan yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat, terutama di pedesaan. Lembaga tersebut tumbuh maupun berkembang dari dan untuk orang-orang yang memposisikan diri selaku bagian dari masyarakat dalam arti Pada konteks ini, pada dasarnya pendidikan pesantren adalah pendidikan yang sarat dengan nuansa transformasi sosial. Pesantren berupaya menempatkan visi dan pekerjaannya untuk kerangka sosial pelayanan yang pada awalnya ditekankan pada pembentukan moral agama serta selanjutnya dikembangkan pada inisiatif pembangunan yang lebih sistematis dan terintegrasi. Akhir-akhir ini banyak pesantren yang mencoba menerapkan pendidikan kewirausahaan yang dilaksanakan di bidang usaha. Pendidikan kewirausahaan ini diproyeksikan akan menghasilkan output pesantren yang berkompeten di bidang kewirausahaan dan mampu bersaing dari permainan pasar ekonomi digital yang mulai mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat rakyat. Oleh karena itu, dengan pembaharuan ini diharapkan lulusan pesantren menjadi mampu bertahan serta mengamalkan ilmu dalam tantangan hidup yang lebih kompleks serta lulusan pesantren berbasis kewirausahaan seperti ini yang akan menjadi transisi dan pembaharuan dalam Salah satu pondok pesantren yang mulai mengoptimalkan pembelajaran kewirausahaan yaitu Pondok Pesantren At-Tanwir. Pondok pesantren salaf ini dijuluki AuPesantren KopiAy karena pihak pondok pesantren yang mengintegrasikan pengajaran nilai-nilai Islam sesuai dengan ahlussunnah waljamaah dengan pengelolaan potensi kopi. Ajaran Islam yang diterapkan di pesantren ini mulai diaktualisasikan dengan pembelajaran modern yang mengedepankan kreativitas, inovasi, dan religiusitas santri. Akan tetapi menurut peneliti, pesantren ini mempunyai keunikan dan karakteristik yang Barnawi dan Mohammad Arifin. Schoolpreneurship Membangkitkan Jiwa dan sikap kewirausahaan Siswa, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2. , hlm. Gray. Matear. , & Matheson. Improving service firm performance. Journal of Services Marketing. Vol. 16 No. Abd. AAola. Pembaruan Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2. , hlm. https://ejournal. id/index. php/primer/article/view/64 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 02 (April, 2. : 165-178 e-ISSN 2985-7996 berbeda dibandingkan dengan pesantren secara umum. Karakteristik yang berbeda tersebut ada pada aspek pemanfaatan aset . otensi daera. yang terdapat di lingkungan Potensi daerah yang dimanfaatkan oleh pondok pesantren ini adalah Kopi yang memang menjadi potensi unggulan di daerah tersebut. Lokasi pondok pesantren ini berada di lereng gunung Raung Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember. Lokasi yang sangat strategi ini dimanfaatkan oleh pondok pesantren untuk mulai mengembangkan potensi kopi yang dimiliki dengan melakukan pengelolaan dan pemasaran yang lebih modern sehingga hasil kopi yang dimiliki oleh pondok pesantren ini dalam bersaing di Keuntungan hasil penjualan kopi yang dilakukan oleh pesantren ini 50% digunakan untuk membiayai keperluan operasional pesantren seperti pembangunan infrastruktur, penggajian guru, serta membiayai kehidupan sehari-hari santri. Hal inilah yang menjadi keunikan tersendiri yang dimiliki oleh pesantren ini karena mereka dapat berdiri secara mandiri dalam membiayai kebutuhan operasional dan memberikan pendidikan gratis serta fasilitas gratis bagi santrinya berkat penjualan kopi yang Pesantren ini tumbuh dan berkembang dengan mengedepankan visi kedisiplinan dan kemandirian santri. Dengan demikian, kedisiplinan dan kemandirian santri menjadi prioritas dalam pengajaran berbasis karakter dan karakter yang baik di masa depan. Pesantren At-Tanwir memiliki orientasi tidak hanya membekali santrinya dengan ilmu-ilmu agama, namun pula berupaya membekali santrinya dengan kemampuan berpikir dan bertindak kreatif, inovatif, pantang menyerah serta tidak bergantung kepada orang lain . ental entrepreneu. Orientasi tersebut diimplementasikan pada tradisi keseharian para pengurus dan santrinya. Terdapat sejumlah bidang usaha yang dijadikan sebagai media aktualisasi mental ataupun jiwa yakni pertanian, perkebunan, pemberdayaan, koperasi pesantren dan lain-lain. Selain itu santri di pesantren ini memiliki latar belakang dari kalangan keluarga kelas menengah kebawah. Jadi selama proses belajar di pesantren, santri disini bebas biaya apapun dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, semua biaya SPP dan kebutuhan pangan semua ditanggung pihak pesantren dari pengelolaan budidaya kopi dan pemasaran produk kopi yang dikelola oleh santri dan Tim Pesantren Kopi. Berangkat dari kerangka berpikir dan masalah tersebut, peneliti tertarik dan berkeinginan untuk meneliti terkait implementasi pembelajaran kewirausahaan yang diterapkan di pondok pesantren At-Tanwir yang memanfatkan budidaya potensi kopinya sebagai bisnis mandiri pesantren. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan dengan memakai pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus yang bertujuan untuk mengungkapkan impelementasi pembelajaran kewirausahaan berbasis potensi daerah melalui budidaya kopi di Pondok Pesantren At-Tanwir Kabupaten Jember. Penelitian kualitatif bisa digunakan untuk mengungkap serta memahami sesuatu di balik fenomena yang tidak banyak diketahui. Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren At-Tanwir Desa Slateng Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember. Data yang didapatkan pada penelitian ini yakni data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan dari informasi dari informan utama dan informan pendukung yaitu pimpinan pondok . , guru kewirausahaan, tim Pesantren Kopi. Petani Kopi, dan masyarakat sekitar pondok pesantren. Kemudian data Strauss. A dan Corbin. Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. https://ejournal. id/index. php/primer/article/view/64 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 02 (April, 2. : 165-178 e-ISSN 2985-7996 sekunder diperoleh dari arsip dan dokumen dari pondok pesantren, data-data dari sekolah, arsip pengurus kelompok tani, dan data BPS. Teknik pengumpulan data memakai observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi partisipan dilaksanakan peneliti secara intensif selama enam bulan dengan tinggal langsung bersama para santri dan ustadz, keluarga petani kopi, kelompok tani, dan Teknik selanjutnya adalah dengan melakukan wawancara mendalam, peneliti menentukan beberapa informan kunci berjumlah 18 informan yang terdiri dari kyai pondok pesantren, dua pengurus pondok pesantren, tiga tim Pesantren Kopi, enam santri yang konsentrasi dalam masalah perkopian, empat petani kopi, dua ketua dan wakil kelompok tani kopi. Teknik pengumpulan data selanjutnya adalah dokumentasi. Berdasarkan temuan yang telah dilakukan, peneliti menemukan beberapa catatan lapangan dan melakukan dokumentasi berupa foto-foto dengan informan di lokasi Kemudian peneliti juga memperoleh beberapa arsip yang dimiliki oleh petani kopi, kelompok tani, dan data BPS. Teknik analisis data yang digunakan adalah model interaktif, yang meliputi reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan Teknik keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi penyuluhan partisipasi, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Yayasan Pendidikan Islam At-Tanwir (YPI) merupakan pondok pesantren yang terletak di lereng gunung Raung Kabupaten Jember. Keberadaan pondok pesantren dengan nuansa pedesaan masih kental dan terasa saat berkunjung kesana. YPI AtTanwir adalah salah satu pondok pesantren di Desa Slateng tepatnya di Dusun Sumbergadung Kecamatan Ledokombo. Pesantren ini dikenal sebagai pusat pengembangan pendidikan bagi anak-anak di sekitar lingkungan pondok pesantren yang menekankan aspek akademik dan nonakademik yang terintegrasi dengan nilainilai keislaman dalam sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Keberadaan YPI At-Tanwir sendiri sebagai terobosan dan pengembangan kualitas pendidikan bagi warga sekitar serta mewadahi generasi muda yang berada di Sumbergadung lebih berwawasan luas dan menekankan pada tingkat religiusitas Islam Pesantren ini didirikan di bawah asuhan K. H Zainul Wasik (Kyai Dani. bawah asuhannya pengembangan kualitas pendidikan telah selalu menjadi prioritas agar mampu bersaing, kontributif, dan lulusan pesantren yang komunikatif langsung lulus dari pesantren. Pesantren At-Tanwir dikenal dengan julukan Aupesantren kopiAy karena mereka fokus dalam pengelolaan dan budidaya kopi sebagai kemandirian untuk membiayai dan memberdayakan pesantren dari hasil kopi yang memang menjadi potensi unggulan disana. Pesantren ini dalam mengelola dan merawat kopi juga melibatkan semua pihak pesantren, mulai dari pengasuh, agama guru, siswa, petani kopi, bekerjasama dengan tim Pesantren Kopi dari Kota Malang. Oleh karena itu, ada pembelajaran manajemen kopi yang intensif di pondok pesantren ini sebagai pengembangan softskill tambahan bagi santri sebagai bekal mereka ketika sudah lulus dalam proses pendidikan. Pada perihal ini pendidikan yang diselenggarakan oleh pondok pesantren AtTanwir memiliki tanggung jawab yang besar khususnya dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang tangguh di wilayah Sumbergadung agar mampu hidup selaras dengan perubahan zaman. Pengasuh pesantren menjadikan pendidikan sebagai investasi jangka panjang yang hasilnya tidak bisa dilihat serta dirasakan secara instan, sehingga menjadikan pondok pesantren selaku ujung tombak di lapangan yang harus mempunyai arah pembangunan jangka panjang dengan tahapan pencapaian https://ejournal. id/index. php/primer/article/view/64 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 02 (April, 2. : 165-178 e-ISSN 2985-7996 yang jelas serta tetap mengakomodir tuntutan permasalahan faktual saat ini di Merespon tantangan tersebut piminan pondok pesantren At-Tanwir ingin memberikan terobosan dengan memanfaatkan potensi kopi yang dimiliki yang dikemas dalam proses Pendidikan Kewirausahaan yang terdapat di pesantren. Pembelajaran kewirausahaan ialah salah satu pelajaran yang digunakan untuk memperkenalkan para santri ke dunia bisnis. Pembekalan pelajaran kewirausahaan di Pondok Pesantren At-Tanwir merupakan salah satu usaha untuk membina minat santri dalam berwirausaha sehingga nantinya ketika lulus, mereka dapat memiliki keberanian untuk berwirausaha secara mandiri. Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti dengan pengasuh K. H Zainul Wasik, bahwa proses pembelajaran kewirausahaan berbasis potensi daerah dengan budidaya kopi di Pondok Pesantren At-Tanwir ini dimulai dari kepekaan pihak pesantren yang melihat potensi kopi yang melimpah di kebun, bahkan keberadaan kopi disini bisa dikatakan sebagai primadona dan hasil bumi yang sangat baik sehingga kita dapat mengangkat tema kopi sebagai awal untuk belajar bersama dan menggali bagaimana kopi bisa tumbuh dan menghasilkan buah yang baik. H Zainul Wasik selaku pimpinan pesantren juga memaparkan bahwa pesantren harus bertransformasi dan beradaptasi di era perubahan yang semakin kompleks, para santri juga harus dibekali dan dituntun untuk menikmati kemudahan teknologi yang Awal fokusnya pesantren At-Tanwir dalam budidaya kopi yaitu ketika para pimpinan, guru-guru, dan para santri sudah mulai menikmati budaya ngopi yang sudah mulai banyak diminati semua kalangan. Bahkan beliau menilai bahwa sekarang sudah mulai banyak kedai kopi atau cafe yang berserakan disetiap sudut keramaian. Beliau menilai bahwa hal tersebut ialah peluang besar yang dapat dimanfaatkan oleh pihak pondok pesantren untuk bisa merespon dan meningkatkan pengelolaan kopi yang dimiliki sesuai dengan minat masyarakat. Berdasarkan pemaparan dari guru Kewirausahaan yaitu Ustadz Hafi, beliau mengatakan bahwa pembelajaran kewirausahaan berbasis potensi daerah melalui budidaya kopi dimulai dengan konsep 3M yaitu man, material, dan money. Pertama adalah man . umber daya manusi. SDM disini terdiri dari guru, siswa, petani kopi, tim Pesantren Kopi. Pada dasarnya kualitas manusia yang baik atau sumber daya yang mumpuni akan mempengaruhi hasil yang baik juga. Kedua material, yaitu materi, metode, dan teknik pembelajaran terkait kopi yang harus spesifik dalam proses pembelajarannya, mulai dari merencanakan cara menanam kopi, merawat kopi, pemupukan, hingga cara memetik buah yang baik dalam proses panen. Ketiga adalah money yaitu uang atau modal awal yang harus disiapkan untuk dijalankan semua program yang telah direncanakan terkait dengan pembiayaan dan pembelian alat produksi yang dapat menopang dalam proses budidaya kopi. Dalam proses pembelajaran kewirausahaan berbasis potensi daerah melalui budidaya kopi yang diaktualisasikan oleh pihak pesantren sangatlah sederhana, mereka menyediakan modul terlebih dahulu dan menyediakan materi sebagai bahan awal untuk memahami materi dasar bagaimana proses budidaya kopi. Namun, mereka sangat menekankan praktik langsung di lapangan sebagai pematangan bagi santrinya untuk memahami dengan benar. Dalam proses ini, intinya para guru menekankan pada santri untuk bisa merencanakan dengan baik dengan memanfaatkan kopi sebagai bahan dasar kemudian bisa dijual dan dijual di Masyarakat. Penerapan pembelajaran kewirausahaan dengan pemanfaatan kopi ini memiliki pengaruh penting bagi pondok pesantren At-Tanwir dalam menentukan masa depan sikap kewirausahaan para santrinya. Hal ini juga berkaitan dengan penyiapan output https://ejournal. id/index. php/primer/article/view/64 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 02 (April, 2. : 165-178 e-ISSN 2985-7996 atau lulusan dari pesantren yang diharapkan bisa mandiri dan siap menghadapi dunia Penerapan pembelajaran kewirausahaan berbasis kopi ini juga sejalan dengan kemandirian pesantren yang dapat menghasilkan keuntungan dari penjualan produk kopi yang dinamai AuPesantren KopiAy. Dalam hal ini peran kyai, guru, serta petani kopi memiliki peranan penting pada proses pembelajaran ataupun menanamkan nilai-nilai kewirausahaan kepada santri yang dibimbing agar mereka dapat mengusai dunia perkopian baik secara budidaya maupun dari segi pemasaran. Selain mendapatkan materi dan praktik dilapangan, para santri bebrapa kali juga aktif untuk mengikuti diklat SLPHT (Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpad. yang diselenggarakan oleh pemerintah Kabupaten Jember. Dari sana para santri diajarkan untuk memahami secara detail dan spesifik tentang bagaimana mengelola kopi dengan benar. Mulai dari awal menanam pembibitan, perawatan, hingga cara pemupukan, dan terakhir tentu saja cara kita memetik buah kopi itu sendiri dengan Merespon dari hal tersebut salah satu petani kopi yaitu Pak Jono menambahkan bahwa pada dasarnya sebagian besar santri di pondok pesantren At-Tanwir ini sudah sangat familiar dengan kopi karena kebanyakan dari mereka juga sering membantu orang tua mereka menanam kopi di kebun orang tuanya. Jadi lebih mudah diatur, kemudian mereka dibuatkan semacam tim khusus yang fokus untuk melakukan pengelolaan kopi di pesantren dan para santri bisa berkolaborasi dengan tim Riset Pesantren Kopi yang berasal dari Kota Malang untuk bisa mendalami keilmuannya perihal budidaya kopi yang modern. Kemudian Pak Hisyam yang merupakan salah satu petani kopi juga menambahkan bahwa waktu panen disana umumnya bulan Juli dan Agustus, bulan itu bisa disebut panen raya. Durasi panen jika dimulai dari bibit . enanaman awa. sampai dapat dipanen, durasinya lebih lama atau kurang dari tiga tahun, baru bisa dipanen. Dalam proses panen mereka bisa sampai tiga kali proses panen sekaligus dan tinggal meihal kebutuhan pasar saja. Kemudian K. H Zainul Wasik selaku pimpinan juga menambahkan bahwa penjualan kopi sebagian besar akan dijual kepada Tengkulak atau Pengepul karena lebih mudah dan simpel. Hal ini disebabkan karena para tengkulak/pengepul hanya membeli atau memborong kopi curah atau campuran, halk ini tidak seperti permintaan kopi yang diselenggarakan oleh Tim Riset Pesantren Kopi yang hanya ingin mengambil hasil panen dari kualitas kopi unggulan yang berwarna merah atau dalam istilah kualitas terbaik. Untuk pengolahan pasca panen, dari situlah tim Riset Pesantren Kopi yang berasal dari kota Malang masuk untuk melakukan kerjasama dengan pihak pesantren dan Pertama mereka melakukan sortasi kopi dari hijau, kuning, hingga merah. Setelah itu ada beberapa cara proses setelah panen, yang pertama adalah proses basah . ull was. dan proses kering . roses alami/kerin. Setelah melakukan proses ini, mulailah menentukan jenis kopinya yaitu Kopi Robusta atau Kopi Lanang. Untuk membedakan kopi Robusta atau Lanang sederhana saja, bisa kita lihat dari struktur buah kopinya, jika kopinya saat dibuka biji kopi ada dua berarti kopi tersebut jenis Robusta, sedangkan pada kopi Lanang kondisi buahnya beda, keadaan kopinya satu buah hanya ada satu biji kopi ataupun utuh. Karena tumbuh berbeda, biji kopi lanang akhirnya mempunyai rasa yang lebih kuat dari kopi biasanya. Setelah melakukan proses tersebut, para santri diarahkan untuk melakukan proses pengeringan kopi di lapangan yang berlangsung kurang lebih seminggu dengan bantuan sinar matahari. Setelah kopi telah kering dilanjutkan prses selanjutnya yaitu Roasting yang kemudian langsung dilanjutkan pada proses Packaging yang dibuat https://ejournal. id/index. php/primer/article/view/64 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 02 (April, 2. : 165-178 e-ISSN 2985-7996 sangat sederhana, mereka mengemas produk kopi dengan menggunakan standing pouch yang unik dan menarik, dan diberikan stiker dan memberikan brand kopi dengan nama AuPesantren KopiAy dan jenis kopi yang tersedia seperti Robusta Medium. Robusta Premium, atau Lanang. Kemudian peneliti menanyakan harga kopi yang dijual oleh Tim Pesantren Kopi kepada Pak Irham yang merupakan founder, adapun daftar harganya sebagai berikut: Tabel 1. Daftar Harga Kopi di Pesantren Kopi Jenis Kopi Kuantitas Harga (R. Robusta Medium 100 gram Robusta Premium 100 gram Lanang 100 gram Sumber: Manajemen Pesantren Kopi Berkaitan dengan teknik pemasaran, peneliti menanyakan hal tersebut kepada Pak Irham selaku founder pesantren kopi, yang mana beliau menambahkan bahwa kerjasama telah dilakukan selama ini yaitu dengan Tanoker Ledokombo yang merupakan organisasi komunitas yang berfokus pada budaya dan pendidikan anakanak atau pemuda setempat. Tanoker ini merupakan akses untuk para pemuda desa untuk berinteraksi dan berkomunikasi perihal pendidikan atau budaya setempat. Jadi selain mereka mempromosikan budaya setempat, kita juga meminta bantuan mereka untuk dapat mempromosikan produk unggulan dari Pesantren Kopi. Selain itu, proses pemasaran yang lain juga dilakukan dengan bekerja sama dengan kedai kopi, cafy, atau beberapa outlet yang ada di area kampus Jember ataupun di Kota Malang. Berkitan dengan dampak positif yang diterima selama proses pengelolaan kopi ini yaitu dari segi pendidikan, sosial, dan ekonomi. Jika untuk santri, mungkin santri bisa lebih komunikatif dan aktif, dan menjadi bekal luar biasa bagi santri untuk mempersiapkan masa depannya secara mandiri terkait pengelolaan kopi, pengemasan kopi, hingga pemasaran. Kedua dari sudut pandang sosial ekonomi, pimpinan pondok pesantren dapat menghilangkan semua biaya pendidikan untuk santri dan menyediakan makanan gratis setiap hari untuk santri, dan mereka juga dapat memberikan gaji guru dari penjualan kopi. Intinya penjualan kopi yang optimal akan membantu mereka dalam proses pendirian pondok pesantren dari mulai bangun ini, hingga saat ini. Untuk dampak positif yang diterima masyarakat, tentunya ilmu baru yang mereka dapatkan dari proses pengelolaan kopi yang lebih modern, seperti kopi Robusta dan Lanang. Lalu dari hasil kopi ini mereka juga sering mendatangkan pakar kesehatan untuk memberikan workshop kepada masyarakat terkait pengenalan penyakit dan cara pencegahannya. Dampak negatif yang mungkin diterima yaitu banyaknya petani yang mengeluh karena proses pengelolaan kopi modern dari Tim Pesantren Kopi yang sangat ribet dan membutuhkan proses yang panjang. Permintaan biji kopi berwarna merah dinilai menyulitkan petani dalam proses pemilahan . , kedua terkait pemasaran kopi yang kurang optimal. Mereka kesulitan memasarkannya karena harga kopi menurut konsumen terlalu mahal. Ketiga, permasalahannya adalah kemasan yang kurang menarik dan penjualan yang kurang aktif untuk berjualan secara online. Kemudian dampak negatif yang terakhir yaitu pengelolaan yang menangani kopi hanya tiga orang Jadi perlu adanya evaluasi untuk menambah tim yang dapat fokus dalam proses pemasaran online maupun offline. Pembahasan Manusia pada hakikatnya adalah pribadi yang berkembang menurut hukum dan kekuatan alam yang dikaruniakan Tuhan. Fungsi pendidikan ialah memberi kondisi https://ejournal. id/index. php/primer/article/view/64 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 02 (April, 2. : 165-178 e-ISSN 2985-7996 yang mendukung pengembangan potensi serta kapasitas yang ada. Yang perlu ditekankan bahwa yang dimaksudkan dengan pendidikan yaitu upaya membantu pengembangan seluruh aspek kepribadian manusia agar manusia bisa mengusahakan kehidupan mereka sendiri. Pendidikan ini bersifat formal . aitu melalui sekolah dari SD sampai perguruan tingg. , nonformal . elalui kursus, pondok pesantre. , dan informal . isalnya, pendidikan orang tua atau keluarga di ruma. Soemanto . mengemukakan bahwa Ausatu-satunya perjuangan ataupun cara guna mewujudkan manusia yang memiliki moral, sikap serta keterampilan kewirausahaan ialah dengan pendidikan. Dengan pendidikan, wawasan seseorang menjadi lebih percaya diri, mampu memilih maupun membuat keputusan yang tepat, meningkatkan kreativitas serta inovasi, menumbuhkan moral, karakter, intelektual, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia lainnya agar akhirnya bisa berdiri sendiri. Masalah peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak semata-mata diterapkan dalam pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi, pesantren ialah salah satu pendidikan nonformal yang saat ini juga berlomba-lomba untuk bertransformasi menjadi lebih baik kualitas pembelajaran yang mereka terapkan. Pendidikan nonformal adalah pendidikan yang terorganisir dan kegiatan yang sistematis, di luar sistem persekolahan yang dilaksanakan untuk melayani siswa tertentu dalam mencapai tujuan belajarnya. Pendidikan nonformal adalah disediakan untuk warga negara yang membutuhkan pelayanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah serta pelengkap pendidikan formal. Dapat dipahami bahwa peran pendidikan nonformal adalah sebagai berikut:9 Sebagai pengganti, berarti pendidikan nonformal dapat menggantikan jalur pendidikan formal. Sebagai penambah, berarti pendidikan nonformal adalah ditambahkan untuk menambah pengetahuan serta keterampilan yang kurang di sekolah. Sebagai pelengkap, berarti pendidikan nonformal adalah dilakukan untuk melengkapi kurangnya pengetahuan dan keterampilan. Pendidikan kewirausahaan yang dipelajari di Pondok Pesantren At-Tanwir merupakan investasi bagi santri di masa mendatang agar menjadi pribadi yang mandiri dan berani terjun langsung dalam dunia wirausaha. Implementasi pendidikan kewirausahaan berbasis potensi daerah melalui budidaya kopi tersebut akan mengasah kreativitas dan mentalitas santri sehingga sikap kewirausahaan dapat tertanam kuat dalam diri setiap santri. Hal tersebut sejalan dengan yang di Zimmerer et al . menyatakan Aukewirausahaan merupakan hasil dari disiplin dan proses sistematis dari menerapkan kreativitas dan inovasi dalam memenuhi kebutuhan dan peluang pasar. Ay10 Dilihat dari skala makro, diharapkan kehadiran wirausahawan bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang dalam gilirannya menyerap tenaga kerja baru. Hal tersebut dibutuhkan karena pertumbuhan ekonomi saat ini belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan baru untuk pengangguran. 11 Dalam upaya menciptakan wirausahawan yang tangguh, pendidikan kewirausahaan yang telah diimplementasikan di pondok pesantren At-Tanwir memiliki peran penting dalam 8Wasty Soemanto. Pendidikan Wiraswasta. Jakarta : Bumi Aksara, 2. , hlm. 9Fauzi Ibrahim. Implementasi Model Homeschooling Di Komunitas Sekolah Rumah Pelangi Ciputat, (Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah: 2. , hlm. Thomas Zimmerer. Dkk. Kewirausahaan Dan Manajemen Usaha Kecil. Edisi 5 Buku 1. (Jakarta: Salemba Empat, 2. , hlm. 11Muh. Yunus. Islam dan Kewirausahaan Inovatif, (Malang. UIN Press, 2. , hlm. https://ejournal. id/index. php/primer/article/view/64 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 02 (April, 2. : 165-178 e-ISSN 2985-7996 membantu permasalahan perekonomian para santri di masa depan. Pada perihal ini, para santri dituntut untuk mampu menciptakan karya yang bisa memiliki nilai jual yang tinggi dengan memanfaatkan potensi kopi yang dimiliki, apalagi kemampuan santri dalam memahami cara budidaya kopi terbilang sudah bagus dan tinggal melakukan imnprovisasi ddalam proses pemasaran. Lebih bagus lagi apabila para santri bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain yang bisa memberikan kebermanfaatkan bagi lingkungan sekitarnya. Seperti perencanaan awal yang dilakukan oleh pondok pesantren At-Tanwir di menerapkan model pembelajaran kewirausahaan pesantren kopi untuk mengembangkan kemandirian pondok pesantren ada beberapa komponen yang digunakan untuk menyelaraskan tujuan bersama, yaitu unsur manajemen yang meliputi atas manusia, materi serta uang. Elemen-elemen manajemen ini berfungsi sebagai fondasi awal bagi pesantren sebelum menerapkan kewirausahaan kopi pesantren dan sebagai bentuk pengorganisasian awal sebelum terjun langsung ke Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Agustini . terkat unsurunsur manajemen yang terdiri dari manusia, bahan, mesin, metode, uang serta pasar. Adapun masing-masing unsur tersebut mempunyai penjelasan serta peran untuk pondok pesantren At-Tanwir untuk mengetahui bagaimana proses manajemen yang telah dilakukan, adapun penjelasannya sebagai berikut:12 Man (Sumber Daya Manusi. Manusia juga sering diistilahkan dengan sumber daya manusia di dunia manajemen, yang ialah faktor penting serta menentukan. Manusia yang merancang tujuan, menetapkan tujuan serta manusia juga yang akan melakukan proses pencapaian tujuan tersebut. Yang jelas, tanpa manusia tidak akan pernah ada proses kerja dikarenakan manusia adalah pada dasarnya makhluk yang bekerja. Dalam proses penerapannya. Pondok Pesantren At-Tanwir memiliki sumberdaya manusia yang meliputi kyai, guru, tim pesantren kopi, petani kopi, dan santri yang dalam proses pelaksanaannya akan ada koordinasi dan kerjasama dalam mencapai tujuan. Dalam hal ini gotong royong yang akan menjadi kekuatan inti dalam pelaksanaanya agar mudah dan lebih efisien. Material Pada proses pelaksanaan kegiatan, manusia memakai bahan ataupun material. Namun di pesantren kopi, dalam melaksanakan kegiatan materi dimaksud adalah materi atau pendidikan berupa konsep-konsep yang berkaitan dengan pembelajaran yang diberikan kepada santri. Materi dalam implementasinya yaitu berupa panduan pembelajaran atau konsep dasar yang berkaitan dengan kewirausahan dan bididaya kopi. Hal ini sangat diperlukan agar pemahaman santri bisa lebih matang sebelum terjun langsung ke kebun kopi untuk praktik langsung. Oleh sebab itu, materi juga dianggap sebagai alat ataupun sarana manajemen guna mencapai tujuan. Machine Pada implementasi pembelajaran kewirausahaan berbasis potensi daerah melalui budidaya kopi, mesin digunakan sebagai alat untuk membantu dalam melakukan proses budidaya maupun kegiatan pasca panen. Pondok pesantren At-Tanwir juga sudah menggunakan mesin ketika melakuakan pengelolaan kopi seperti mesin pengupas kulit kopi maupun mesin roaste yang digunakan menyangrai kopi. Namun dalam pelaksanaanya masih perlu evaluasi dalam pengadaan mesin bagi pondok pesantren agar dalam pelaksanaan budidaya bisa berlangsung dengan mudah dan George. Terry dan Leslie. Rue. AuDasar-Dasar ManajemenAy. (Jakarta: Bumi Aksara, 1. , hlm. https://ejournal. id/index. php/primer/article/view/64 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 02 (April, 2. : 165-178 e-ISSN 2985-7996 Method Untuk melangsungkan kegiatan secara efektif dan efisien, manusia diharapkan sejumlah alternatif metode bagaimana melaksanakan pekerjaan sehingga cara mereka lakukan bisa menjadi sarana ataupun alat manajemen guna mencapai Metode baru yang digunakan oleh pesantren kopi yaitu berkaitan dengan kegiatan pasca panen yang melakukan tindak lanjut dengan melakukan sortasi biji yang merah. Hal ini dilakukan untuk memilih kopi unggulan sesuai dengan minat pasar yang nantinya akan diproses menjadi kopi Robusta dan kopi Lanang. Money Uang sebagai alat manajemen yang harus digunakan untuk menunjang tujuan supaya bisa tercapai. Kegiatan dalam proses manajemen sedikit banyak dipengaruhi oleh manajemen keuangan. Dalam proses manajemen keuangan yang dilakukan AtTanwir proses manajemen keuangan yang dilakukan di kelola secara mandiri oleh para pimpinan pondok pesantren dan tim pesantren kopi. Terkait keuntungan dari hasil panen kopi dan penjualan kopi sebagian besar digunakan untuk pengelolaan pesantren dari segi operasional, pembangunan, dan digunakan sebagai modal lagi untuk melakukan budidaya ditahun selanjutnya. Market Berkaitan dengan pasar penjualan kopi, pondok pesantren At-Tanwir selalu melakukan penjualan kopi campuran/gelondongan kepada tengkulak atau pengepul dalam jumlah besar. Untuk kopi super yang dikelola khusus oleh Tim Pesantren Kopi, target pasar yang dituju yaitu dengan melakukan penjualan secara online dan offline. Penjualan online dilakukan dengan memanfatkan media sosial seperti WA. Facebook, dan Instagram. Sedangkan penjualan secara offline dilakukan dengan melakukan kemitraan dan kunjungan langsung ke kedai kopi atau cafy yang ada di Jember dan Malang. Pembelajaran kewirausahaan kopi pesantren yang selama ini yang dilakukan dalam hal pemasaran masih belum optimal karena akses untuk menjual kopi sangat terbatas, dengan adanya santri yang tinggal di pondok pesantren menghalangi mereka untuk mengetahui segmen pasar dengan baik dari sisi digital marketing karena larangan santri untuk membawa handphone. Sebenarnya dari pimpinan sudah pernah berdiskusi tentang pembelajaran digital marketing menggunakan handphone, namun pengasuh masih tidak mengizinkan santri karena takut menyalahgunakan handphone untuk mengakses konten negatif. Berdasarkan pembahasan di atas, peneliti mencoba untuk menganalisis secara rinci terkait permasalahan yang dimiliki oleh pondok pesantren At-Tanwir, dari beberapa evaluasi yang telah dianalisis oleh peneliti, ditemukan permasalahan yang harus dievaluasi secara optimal yaitu manajemen pemasaran yang kurang optimal. Menindaklanjuti permasalahan tersebut peneliti mencoba mengevaluasi dengan menghubungkan masalah manajemen pemasaran di At-Tanwir dengan menggunakan teori dari Philip Hotler yaitu bauran pemasaran yang dikenal sebagai 7P . roduk, promosi, price, place, people, process, packagin. 13 Marketing mix menurut Kotler dan Armstrong adalah satu set variabel pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mengajarkan target penjualan yang diinginkan. Kotler berpendapat bahwa pemasaran memiliki tujuan untuk membangun kepuasan bersama dalam jangka panjang dengan mengutamakan kepantingan pelanggan, pemasok, distributor untuk mendapatkan dan mempertahankan bisnis secara keberlanjutan. Product 13Philip Kotler. Manajemen Pemasaran Edisi Millinium 1, (Jakarta: PT Prehindo, 1. , hlm. 14Kotler Philip dan Keller K Lane. Manejemen Pemasaran. (New Jersey: Prentice Hall, 2. ,hlm. https://ejournal. id/index. php/primer/article/view/64 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 02 (April, 2. : 165-178 e-ISSN 2985-7996 Evaluasi produk terhadap penjualan kopi di At-Tanwir peneliti meninjau kualitas rasa kopi, nama produk, dan perizinan produk. Dari beberapa pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dalam hal penjualan produk rasa kopi dari produk kopi pesantren ini memiliki kualitas yang baik dan nikmat, sehingga cocok untuk dipasarkan dan bersaing dengan kopi lainnya. Kedua dari segi nama, berdasarkan konsultasi yang dilakukan oleh peneliti beberapa waktu lalu dengan Dinas Koperasi Kota Malang terkait dengan nama produk bernama "Pesantren Kopi" dari Dinas Koperasi Kota Malang menyarankan untuk membedakan antara nama perusahaan dan nama produk, mereka juga menyarankan agar nama Pesantren Kopi lebih baik digunakan sebagai nama perusahaan dan membuat nama baru untuk produk kopi yang dimiliki. Melihat beberapa penjualan yang peneliti amati, beberapa toko/outlet tidak bisa menerima produk kopi dari pesantren kopi karena nama produknya mengusung identitas keagamaan yaitu AuPesantrenAy. Sebagian besar toko mempertanyakan ini dalam kaitannya dengan nama, sehingga nama pesantren dianggap tidak pantas jika dijual di toko Cina karena nama produknya kurang umum. Evaluasi selanjutnya terkait dengan legalitas produk kopi pesantren. Produk kopi pesantren sudah memiliki izin legalitas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jember terkait P-IRT (Produk Industri Rumah Tangg. yang skalanya hanya produk daerah dan belum memiliki izin dari BPOM yang bisa berskala provinsi/nasional. Terkait dengan legalitas, beberapa tim kemarin sulit memasarkan di toko-toko besar seperti indomaret dll. karena tidak memiliki P-IRT dari Dinas Kesehatan Kota Malang. Sebenarnya itu dapat dipasarkan di toko-toko besar di wilayah Malang walaupun menggunakan P-IRT Jember, namun produknya harus terkenal atau terkenal di daerah Jember. Dan juga terkait dengan sertifikat halal MUI yang belum diurus oleh manajemen yang juga menghambat penjualan produk. Promotion Tujuan dari promosi adalah untuk menginformasikan dan membujuk pelanggan. Promosi yang sudah dilakukan tim pesantren kopu masih belum maksimal karena pihak manajemen hanya melakukan pemasaran atau promosi dari WhatsApp, teman dekat, dan door to door di kedai kopi atau kafe wilayah Jember dan Malang. Manajemen belum memanfaatkan promosi dengan menggunakan iklan berbayar di Instagram dan Facebook atau memaksimalkan penjualan menggunakan situs web. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan dan ketidakcukupan sumber daya yang akan mempengaruhi tingkat pemasaran dan minimnya repeat order dari konsumen. Price Harga merupakan sejumlah uang yang harus dibayarkan oleh konsumen guna memperoleh produk yang ditawarkan. Melalui kata lain, seseorang akan memakai jasa ataupun melakukan pembelian produk yang kita tawarkan, apabila terjadi pengorbanan . ang atau wakt. sesuai dengan manfaat yang ingin diperoleh dari produk ataupun jasa tersebut yang dikeluarkan oleh perusahaan. Berdasarkan pengamatan dan diskusi peneliti dengan beberapa anggota tim pesantren kopi dan konsumen mengenai harga yang telah ditentukan, peneliti menilai harga produk pesantren kopi terlalu mahal dibandingkan produk kopi lain yang dipasarkan dipasaran sehingga penjualannya kurang dari optimal. Manajemen harus menurunkan harga sesuai harga pasar sehingga penjualan dapat berjalan dengan lancar dan maksimal. Place Tempat pengelolaan tim pesantren kopi terletak di perumahan Tidar Estate Malang. Manajemen juga melakukan promosi produk diarea Malang dan sekitanya. https://ejournal. id/index. php/primer/article/view/64 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 02 (April, 2. : 165-178 e-ISSN 2985-7996 Namun yang perlu dipertimbangkan lagi adalah kedai Pesantren Kopi yang masih belum terletak di pusat keramaian sehingga konsumen susah untuk menjangkaunya karena didaerah perumahan elit pinggir kota. Hal ini perlu dipertimbangkan lagi agar kedepannya Pesantren Kopi bisa memiliki kedai yang berlokasi strategis di dekat kampus atau pusat keramaian di Kota Malang. KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Pondok Pesantren At-Tanwir merupakan salah satu lembaga pendidikan nonformal nonformal yang memanfaatkan potensi kopi sebagai pendongkrak ekonomi dan kemandirian pondok pesantren. Hal ini diaktualisasikan dengan mengembangkan model pembelajaran kewirausahaan pesantren kopi yang berangkat dari adanya program pemberdayaan yang lebih modern dan tepat guna. Dengan demikian implementasi pembelajaran kewirausahaan pesantren kopi berbasis budidaya kopi dalam penelitian ini membahas tentang perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, dengan rangkuman sebagai berikut: Perencanaan pembelajaran kewirausahaan melalui budidaya kopi di Pondok Pesantren At-Tanwir menggunakan beberapa tahapan diantaranya tahap persiapan, tahap pengorganisasian, dan tahap pelaksanaan. Hal ini diintegrasikan dengan konsep 3M (Man. Material. Mone. sebagai dasar untuk mengoptimalkan pengelolaan, perawatan, dan penjualan kopi. Dalam perencanaannya model pembelajaran kewirausahaan pesantren kopi terintegrasi dengan mata pelajaran, ekstrakurikuler, dan kegiatan pesantren. Pelaksanaan model pembelajaran kewirausahaan pesantren kopi kopi di pondok pesantren dilakukan langsung di lapangan yang difokuskan pada produksi dan Dalam pelaksanaannya, model pembelajaran kewirausahaan dengan budidaya kopi yang digunakan oleh Pondok Pesantren At-Tanwir adalah metode pembelajaran kooperatif model PBI (Problem Based Introductio. dan gotong royong yang melibatkan pimpinan, santri pengurus pesantren kopi, dan petani kopi. Evaluasi implementasi model pembelajaran kewirausahaan melalui budidaya kopi di Pondok Pesantren At-Tanwir dari segi pengemasan, pemasaran dan penjualan yang harus ditingkatkan lagi. Dari segi pengemasan, pihak pengelola dapat memperbaiki desain kemasan yang lebih unik dan kreatif. Kemudian dari segi pemasaran harus dilakukan dengan memanfaatkan teknologi digital marketing pada Website. WhatsApps. Instagram Ads, dan Facebook Ads sehingga kedepannya dapat meningkatkan penjualan yang lebih optimal. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti selama tujuh bulan, terdapat beberapa saran untuk perbaikan ke depannya, antara lain: Manajemen Pesantren Kopi dalam mengelola penjualan harus melibatkan santri secara secara masif, sehingga santri lebih maksimal dalam mengetahui bagaimana mekanisme penjualan menggunakan digital marketing secara efektif dan efisien, sehingga setelah lulus mereka dapat menerapkan secara mandiri meskipun membuat produk yang berbeda. Hal yang harus diperbaiki dari segi sumber daya manusia dari pihak manajemen pesantren kopi yang terlalu minim, sehingga pengelolaan penjualan kopi tidak terorganisir dengan baik. Kurangnya sumber daya manusia yang memadai di setiap tugas, maka perlu dilakukan perekrutan sumber daya baru terutama dari yang menguasai bidang IT dan digital marketing. https://ejournal. id/index. php/primer/article/view/64 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 02 (April, 2. : 165-178 e-ISSN 2985-7996 Masalah inti yang harus diperbaiki secara serius adalah dalam hal pemasaran offline dan pemasaran secara online. Pemasaran secara offline harus lebih efektif dengan sering mengikuti event-event UMKM atau dapat meningkatkan distribusi kerjasama di kedai kopi atau kafe agar brand pesantren kopi lebih dikenal oleh masyarakat Dari segi online dapat melakukan improvisasi dalam pemasaran digital dengan memanfaatkan website, intagram ads, facebook ads, dan status media sosial lainnya. DAFTAR PUSTAKA