Journal of Divinity. PeaceStudies and Conflict Studies Journal of Divinity. Peace and Conflict Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. Submitted: 21 Januari 2026 Accepted: 6 Februari 2026 Published: 6 Maret 2026 Menenun Relasi Antara Manusia. Alam, dan Yang Ilahi Sebuah Refleksi Teologi Ekologi Melalui Sesajen dan Worldview Masyarakat Jawa dengan Model Teologi Kontekstual Menurut Bevans Nethania Ranitta Adventie Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta melophentie@gmail. DOI: 10. 21460/aradha. Abstract The ecological crisis is a phenomenon that is currently occurring widely in various parts of the world, including Indonesia. Natural disasters are a common phenomenon and already part of the natural cycle, but they are different from anthropogenic disasters caused by human In this article, the author starts from concern about the separation of the relation between human and nature, who are fellow creatures of God. Through this concern, the author attempts to review the shift of the relation between human, nature and the Divine, and strive to reconnect through the sesajen tradition of offerings in the worldview of Javanese This review utilizes Contextual Theology developed by Stephen B. Bevans and builds upon Aloysius PierisAo Asian Theology. Through writing this article, it was found that Western Theology, which is dominant in Christian religious teaching, has had a significant impact on disconnection between human and nature. This is vastly different from Asian Theology that is represented by the worldview of Javanese society, namely the close relationship between human and nature which is connected with the Divine through sesajen tradition. Robert P. Borrong stated that the world is dominated by the technosphere and must be balanced by the ethosphere, human ethics in relation to the environment. Recognizing this, the ethics of solidarity becomes a Christian ecological ethic that seeks to weave harmony into the relationship between human and nature. Keywords: nature, ecology, ethic, sesajen, relation, contextual theology. Javanese tradition. Menenun Relasi Antara Manusia. Alam, dan Yang Ilahi: Sebuah Refleksi Teologi Ekologi Melalui Sesajen dan Worldview Masyarakat Jawa dengan Model Teologi Kontekstual Menurut Bevans Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. Abstrak Krisis ekologi merupakan fenomena yang sedang banyak terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Bencana alam merupakan fenomena yang lumrah dan sudah merupakan bagian dari siklus alam, namun berbeda dengan bencana antropogenik yang disebabkan oleh ulah manusia. Dalam artikel ini, penulis berangkat dari keresahan akan keterpisahan relasi antara manusia dengan alam yang merupakan sesama makhluk ciptaan Allah. Melalui keresahan ini, penulis berusaha meninjau pergeseran relasi antara manusia, alam, dan Yang Ilahi dan berupaya menenun kembali melalui tradisi sesajen dalam pandangan dunia masyarakat Jawa. Peninjauan ini menggunakan Teologi Kontekstual yang dikembangkan oleh Stephen B. Bevans dengan mengangkat Teologi Asia oleh Aloysius Pieris. Melalui penulisan artikel ini, ditemukan bahwa Teologi Barat yang dominan dalam pengajaran Agama Kristen banyak memberikan dampak terhadap keterputus-hubungan antara manusia dengan alam. Hal ini jauh berbeda dengan Teologi Asia yang direpresentasikan oleh pandangan dunia masyarakat Jawa, yakni relasi erat antara manusia dengan alam yang juga terhubung dengan Yang Ilahi melalui tradisi sesajen. Robert P. Borrong menyebutkan bahwa dunia sekarang didominasi teknosfer dan harus diimbangi oleh etosfer, etika manusia dalam berhubungan dengan lingkungan. Menyadari hal tersebut, maka etika solidaritas menjadi etika ekologi Kristen yang berusaha menenun keharmonisan relasi antara manusia dengan alam. Kata-kata kunci: alam, ekologi, etika, sesajen, relasi, teologi kontekstual, tradisi Jawa. Pendahuluan Indonesia adalah negara dengan seribu keindahan. Indonesia terdiri dari ribuan pulau dengan wisata alam dengan ciri khas yang beragam. Keindahan alam Indonesia tidak hanya diakui oleh penduduk domestik melainkan mendunia bahkan diakui oleh UNESCO. Namun di balik keindahan yang dimiliki oleh alam Indonesia, dewasa ini negara dengan julukan Aoparu-paru duniaAo sedang menghadapi krisis ekologi. Isu ekologi menjadi masalah yang familiar bagi masyarakat Indonesia seperti pencemaran sungai, fenomena buang sampah tidak pada tempatnya, penebangan pohon, alih fungsi hutan menjadi ladang, dan lain sebagainya. Namun, isu mengenai ekologi jarang sekali diberi perhatian khusus bahkan oleh gereja sekalipun. Beberapa gereja memang terlihat mengadakan event go-green, namun dalam kehidupan bergereja, individu-individu di dalamnya tidak sungguh-sungguh go-green. Go-green hanya dipandang sebagai acara tertentu yang tidak sepenuhnya terinternalisasi ke dalam kehidupan Nethania Ranitta Adventie Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Gereja kurang menyadari keterkaitan antara manusia dengan alam, sehingga kemudian spiritualitas manusia terhadap alam menjadi dimensi yang terabaikan. Di sisi yang lain, terdapat tradisi kebudayaan pada beberapa daerah termasuk pada daerah Jawa yang memiliki relasi erat dengan alam dan tercermin dalam salah satu budaya yakni, menyediakan sesajen. Sesajen adalah persembahan kepada leluhur yang terdiri oleh beberapa jenis makanan dan minuman (Afrilia, 2. Sesajen menjadi bentuk penghormatan, bentuk harapan, dan juga bentuk ucapan syukur. Melalui sesajen ini terdapat dimensi penghormatan terhadap seluruh ciptaan baik makhluk hidup dan tak hidup. Dalam beberapa pandangan, seseorang dengan penganut agama tertentu yang tetap menyiapkan sesajen, kerap dipandang sebagai bentuk sinkretisme, yakni pencampuran antara unsur yang berada pada agama dan budaya (Sejarah dan Sosial, 2. Namun di dalam tradisi ini justru terdapat nilai spiritual manusia dan relasinya dengan alam. Tradisi ini jauh berbeda dengan bagaimana respon gereja yang kurang mengakui keberadaan alam dan relasinya dengan manusia. Tradisi sesajen justru lebih menunjukkan spiritualitas ekologis yang membuat manusia lebih menghormati dan menghargai keberadaan alam sebagai sesama makhluk hidup. Artikel ini berangkat dari pertanyaan, bagaimana tradisi sesajen, terkhusus nilai spiritualitas di dalamnya dapat memberdayakan gereja dalam melihat keterhubungan manusia dengan makhluk ciptaan lain? Guna menjawab pertanyaan tersebut, penulis memandang peran penting teologi kontekstual sebagai pendekatan dalam merumuskan teologi ekologis yang menekankan hubungan antara manusia dengan ciptaan. Teologi kontekstual membantu menjawab pertanyaan bukan berdasarkan pada doktrin maupun dogma gereja, melainkan berdasarkan kepada pengalaman hidup maupun konteks realita kehidupan manusia. Maka teologi kontekstual pada artikel ini akan berusaha untuk menguraikan bagaimana tradisi sesajen yang penting dalam kebudayaan Jawa menjadi konteks realita kehidupan manusia yang membantu orang Kristen menghayati spiritualitas terhadap alam dengan menyadari keterhubungan di Berteologi Kontekstual Manusia adalah makhluk hidup yang dibentuk dan dipengaruhi oleh berbagai aspek kehidupan. Manusia tidak hanya terdiri dari air dan darah yang mengalir di dalam tubuh, melainkan juga pengalaman hidup baik secara individual maupun komunal yang mempengaruhi bagaimana manusia dalam menjalani kehidupannya. Pengalaman hidup manusia ini bisa disesuaikan dengan konteks realita kehidupannya, baik konflik lingkungan di sekitar, kebudayaan atau kepercayaan yang dianut, isu lingkungan, sejarah, atau isu - isu lain yang turut membentuknya Menenun Relasi Antara Manusia. Alam, dan Yang Ilahi: Sebuah Refleksi Teologi Ekologi Melalui Sesajen dan Worldview Masyarakat Jawa dengan Model Teologi Kontekstual Menurut Bevans Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. menjadi manusia seperti sekarang. Pengalaman atau konteks tersebut yang dapat menjadi sumber berteologi. Pandangan ini diutarakan oleh seorang teolog bernama Stephen B. Bevans yang tentu berbeda dengan pandangan teologi klasik. Teologi klasik memandang bahwa sumber berteologi adalah pada Kitab Suci dan Tradisi, sedang Bevans melihat bahwa selain Kitab Suci dan Tradisi, terdapat pengalaman hidup manusia yang juga dapat menjadi sumber berteologi (Bevans, 2002: . Teologi haruslah relevan dengan kehidupan, yang artinya memang teologi harus sesuai dengan konteks kehidupan umat. Melalui penyertaan pengalaman kehidupan manusia yang berteologi, pandangannya terhadap Allah juga akan berbeda. Hal ini berpengaruh terhadap bagaimana seseorang berteologi. Kesadaran akan pentingnya konteks dalam pembahasan mengenai teologi memberikan penegasan bahwa selain konteks tidak hanya mencakup pengalaman tetapi juga mencakup konteks atau latar belakang Kitab Suci dan Tradisi. Kitab Suci dan tradisi juga bagian dari produk manusia yang tersusun serta dipengaruhi oleh konteks realita pada masa itu (Bevans, 2002: Oleh karena itu dalam berteologi kontekstual, haruslah memperhatikan konteks aktual dari Kitab Suci dan tradisi serta memperhatikan konteks pengalaman masa kini sehingga teologi menjadi lebih autentik menjadi milik kita sendiri (Bevans, 2002: . Bevans merumuskan 6 elemen yang memungkinkan terjadinya proses berteologi yang kontekstual, yaitu: . Kitab Suci, . Tradisi, . Kebudayaan, . Perubahan Sosial, . Pengalaman Personal, . Pengalaman Komunal (Bevans, 2002: . Artikel ini akan berusaha berteologi kontekstual dengan tetap memperhatikan Kitab Suci dan Tradisi dalam menanggapi konteks kebudayaan. Fokus tulisan ini adalah pada kebudayaan Jawa, khususnya tradisi sesajen dalam menanggapi krisis ekologi yang berakar pada kurangnya spiritualitas manusia yang terhubung dengan alam. Model teologi kontekstual yang akan diolah di dalam artikel ini adalah model praksis. Hal ini sejalan dengan tujuan artikel ini untuk mewujudkan transformasi pemahaman gereja masa kini sehubungan dengan relasi manusia dan alam dalam menanggapi krisis ekologi yang semakin menjadi trend. Konteks Budaya Asia Membahas mengenai kebudayaan di Indonesia tidak terlepas dari karakteristik Benua Asia. Konteks Benua Asia harus dipahami dengan keberadaannya sebagai dunia ketiga dan karakteristik yang menjadi kekhasan Asia (Pieris, 1988: . Pieris menyebutkan bahwa dalam keberadaan Asia sebagai dunia ketiga. Asia juga turut dipengaruhi oleh kebudayaan yang kemudian membuat Asia selalu terbentuk seperti itu. Maka sebenarnya konteks kebudayaan di AsiaAiyang sangat kuat dan berpengaruh iniAiharus terlebih dahulu diuraikan dan diperjelas. Pieris menyebutkan bahwa terdapat tiga ciri khas agama-budaya Asia yang berpengaruh dalam keberadaannya sebagai dunia ketiga (Pieris, 1988: . Pertama adalah adanya Nethania Ranitta Adventie Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies keberagaman linguistik. Terdapat satu konsep umum mengenai linguistik yang mengatakan bahwa sebenarnya ketika satu orang atau satu kelompok memahami suatu kebenaran secara intuitif, maka hasil dari ungkapannya atau ungkapan mereka adalah bahasa. Hal ini dapat kita pahami dengan keberadaan perbedaan bahasa juga menunjukkan adanya perbedaan kebenaran, karena ada perbedaan pandangan atau pemahaman. Lalu Pieris berpendapat bahwasanya sebenarnya, bahasa adalah pengalaman dan agama sebagai ekspresi dari bahasa tersebut, karena bahasa menjadi awal dari adanya agama. Melalui bahasa dan juga simbol, kebudayaan berusaha menjelaskan bagaimana pandangan mereka terhadap dunia, seperti halnya tulisan-tulisan, upacara ritual, lagu-lagu, termasuk dengan mitos. Semua itu bentuk perjuangan kepada kemanusiaan yang seutuhnya (Pieris, 1988: . Bahasa dan simbol ini terkadang justru diabaikan dan teolog Asia cenderung menggunakan bahasa InggrisAibahasa Barat, bahasa yang tentu menetralkan sisi kebudayaan Asia yang memiliki ciri khasnya sendiri (Pieris, 1988: . Realita ini menunjukkan alasan mengapa terkadang teologi Asia kurang menunjukkan ciri Asia yang multikultural. Ciri kedua adalah integrasi kosmik dan metakosmik dalam religiusitas Asia (Pieris, 1988: . Ciri ini akan menjadi dasar yang kuat untuk mendukung pembahasan mengenai tradisi sesajen. Pada ciri ini juga terdapat unsur yang selaras dengan bagaimana kebudayaan Jawa memandang kosmik. Pieris menyebutkan bahwa Asia memiliki pemahaman mengenai agama kosmis. Agama kosmis adalah suatu tanggapan psikologis dalam diri kita yang muncul secara tidak sadar terhadap misteri kehidupan (Pieris, 1988: . Misteri kehidupan yang dimaksud adalah mengenai kekuatan alam seperti api, lautan, hujan, banjir, dimana kekuatan itu dibutuhkan namun di saat yang sama juga menimbulkan ketakutan. Maka respon dari diri manusia oleh agama kosmis adalah menjadikan kekuatan alam ini sebagai simbol-simbol yang menjaga keseimbangan kosmik (Pieris, 1988: . Agama kosmik menunjukkan bahwa leluhur kita memandang manusia memiliki keterhubungan dengan alam yang menjadi penyeimbang Meski begitu, agama kosmik tidak berdiri sendiri karena Asia memasukkan agama kosmik ke dalam kerangka tiga soteriologi metakosmik, yakni Hinduisme. Buddhisme, dan sampai batas tertentu Taoisme (Pieris, 1988: . Apabila diuraikan, soteriologi metakosmik adalah ajaran mengenai soter, keselamatan, yang meta = melampaui, kosmik = dunia. Pieris turut menyebutkan bahwa melalui integrasi agama kosmik dengan ketiga ajaran itu menghasilkan pemahaman bahwa kebaikan tertinggi atau tujuan yang paling akhir adalah dapat melampaui dunia fisik dengan spiritual yang lebih tinggi (Pieris, 1988: . Hal ini menunjukkan bahwa memang terdapat penekanan terhadap spiritualitas antara manusia terhadap alam dengan tujuan mencapai titik yang lebih mulia di luar dunia. Ciri ketiga yang disebutkan oleh Pieris adalah kehadiran ajaran mengenai keselamatan non-Kristen yang sangat banyak. Hal ini dikarenakan banyak agama yang lahir dan berkembang Menenun Relasi Antara Manusia. Alam, dan Yang Ilahi: Sebuah Refleksi Teologi Ekologi Melalui Sesajen dan Worldview Masyarakat Jawa dengan Model Teologi Kontekstual Menurut Bevans Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. di Asia, salah satunya adalah Kristen. Namun, karena Kristen yang terkemudian terputus dari konteks Asia dan lebih terintegrasi dengan budaya Barat, maka corak dari teologi Kristen kurang sesuai dengan bagaimana konteks Asia. Hal ini tentu memberikan tantangan tersendiri bagi agama Kristen untuk menghadirkan Kekristenan yang lebih kontekstual dengan cara yang baru (Pieris, 1988: . Ketiga ciri khas konteks kebudayaan Asia yang diutarakan oleh Pieris dalam bukunya. An Asian Theology of Liberation membantu memberi petunjuk bagaimana pengertian orang Asia terdahulu terhadap hubungan mereka dengan makhluk ciptaan. Selain itu, ketiga ciri khas ini menunjukkan alasan mengapa Kristen kurang berbicara sesuai dengan konteks Asia dan kurang memiliki penekanan terhadap spiritualitas terhadap alam. Alasannya adalah adanya keterputusan konteks, baik secara linguistik, pemahaman keterhubungan manusia dengan alam yang terputus akibat budaya Barat yang lebih pada gagasan dualistik, dan juga banyaknya ajaran keselamatan non-Kristen yang turut mempengaruhi Asia. Realita konteks Asia ini menjadi pengantar yang cukup menjadi latar belakang pengetahuan untuk melihat bagaimana Kebudayaan Jawa memandang dunia. Orang Jawa Memandang Dunia Dalam melihat tradisi sesajen yang merupakan bagian dari kebudayaan Jawa, perlu diketahui terlebih dahulu bagaimana sebenarnya masyarakat Jawa memiliki konsep terhadap dunia. Karena, konsep pemikiran masyarakat Jawa menjadi fondasi bagaimana masyarakat memahami dan memaknai pengalamannya. Masyarakat Jawa memiliki konsep bahwa dunia itu tidak terpisah antar bidang melainkan memiliki keterhubungan satu sama lain sehingga membentuk kesatuan yang menyeluruh (Magnis-Suseno, 1984: . Bagi orang Jawa, tidak ada perbedaan antara sikap religius dan yang bukan, antara interaksi sosial maupun interaksi terhadap alam (Magnis-Suseno, 1984: . Tidak hanya itu, pandangan dunia menurut masyarakat Jawa bukanlah sesuatu yang abstrak. Dunia dalam pandangan Jawa adalah sarana untuk berhasil menghadapi segala hal di dalam kehidupan (Magnis-Suseno, 1984: . Implikasinya adalah, bagi orang Jawa, makna kehidupan di dunia adalah ketika mencapai ketenangan, ketentraman, dan keseimbangan batin. Karena adanya keterhubungan antara segala sesuatu, maka konsep masyarakat Jawa mengenai dunia dan bagaimana tindak tanduknya di dunia juga merupakan Magnis-Suseno memberikan perbedaan empat lingkaran bermakna dalam pandangan dunia Jawa. Pertama adalah adanya kesatuan spiritual antara alam, masyarakat, dan alam lingkaran kedua adalah mengenai penghayatan kekuasaan politik yang menjadi ekspresi dari dunia spiritual. lingkaran ketiga adalah pengalaman keakuan untuk menuju Nethania Ranitta Adventie Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies persatuan dengan Yang Ilahi itu. terakhir adalah lingkaran keempat yang menjadi penentuan semua lingkaran oleh Sang Ilahi (Magnis-Suseno, 1984: . Pada tulisan ini, fokusnya adalah membahas mengenai bagaimana orang Jawa memandang mengenai keterhubungan dengan alam, baik fisik maupun metafisik, yakni lebih banyak membahas pada lingkaran pertama. Pada lingkaran pertama ini, orang Jawa melihat bahwa masyarakat dan alam adalah lingkup kehidupan yang sudah ada dan familiar sejak kecil. Masyarakat menjadi tempat dimana orang Jawa menemukan identitas dan mendapatkan keamanan. Lalu, karena bergaul dan berdinamika bersama dengan masyarakat Jawa, orang Jawa mengenal dan berhubungan dengan alam (Magnis-Suseno, 1984: . Relasinya dengan alam diawali dari pola teratur yang diberikan oleh alam seperti siang dan malam, musim hujan dan musim kemarau. Kemudian, orang Jawa akan mengikuti pola alam sehingga ia terhubung dengan alam, termasuk dalam keteraturan Masyarakat Jawa memandang bahwasanya kekuatan alam bisa dimaknai sebagai suatu berkat, namun di saat yang sama juga kekuatan alam dapat menjadi ancaman bagi Maka dari itu, kekuatan alam menentukan keselamatan dan kehancuran manusia (Magnis-Suseno, 1984: . Selain alam yang dapat terlihat oleh kasat mata, orang Jawa memandang bahwa alam secara fisik memiliki keterhubungan dengan alam metafisik yang disebut dengan istilah, alam gaib. Antara alam fisik dan alam metafisik itu sudah saling meresapi, sehingga Magnis-Suseno menyebutkan bahwa isi pengalaman orang Jawa tidak hanya secara empiris melainkan diresapi oleh yang metaempiris (Magnis-Suseno, 1984: . Hal ini menjadi dasar kemudian kelahiran tradisi dalam kebudayaan Jawa dalam bentuk upacara ritual dan banyaknya mitos yang bermunculan terkait dengan peristiwa penting seperti perkawinan, kesuburan, penanaman padi, dan masih banyak lagi (Magnis-Suseno, 1984: 86Ae. Kesatuan antara masyarakat dengan alam merupakan wujud hormat orang Jawa terhadap nenek moyang. Salah satu bentuk penghormatan ini tercermin melalui tradisi mengunjungi makam orang yang sudah meninggal terlebih dahulu dengan tujuan memohon berkah, meminta bantuan dalam membuat keputusan, untuk meminta naik jabatan, dan lain sebagainya (Magnis-Suseno, 1984: . Di sinilah sifat alam gaib yang sebenarnya dinyatakan melalui roh-roh halus seperti, roh pelindung desa, roh yang menakut-nakuti manusia . , ada pula roh yang diam di antara persimpangan atau pohon atau tempat tertentu yang dapat masuk ke dalam manusia dan menjadikan manusia tersebut gila . , dan masih banyak roh-roh halus lain (Magnis-Suseno, 1984: . Roh-roh ini dianggap menjadi pemicu terjadinya segala sesuatu baik hal baik maupun hal buruk. Hal ini menunjukkan bahwa orang Jawa memiliki pandangan bahwa untuk mendapatkan kesejahteraan, seseorang harus dapat menyelaraskan kehidupannya dengan roh-roh halus yang ada di sekitarnya (MagnisSuseno, 1984: . Sebagai upaya menyelaraskan diri dan kehidupannya dengan kekuatan roh-roh halus itu, orang Jawa memberikan sesembahan berupa sesajen pada waktu tertentu Menenun Relasi Antara Manusia. Alam, dan Yang Ilahi: Sebuah Refleksi Teologi Ekologi Melalui Sesajen dan Worldview Masyarakat Jawa dengan Model Teologi Kontekstual Menurut Bevans Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. (Magnis-Suseno, 1984: . Maka dari itu, sesajen merupakan satu tradisi yang penting bagi orang Jawa sehubungan dengan upaya mereka dalam menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan yang adikodrati. Sesajen. Tradisi dalam Kebudayaan Jawa Sesajen merupakan bentuk persembahan kepada leluhur. Sesajen ini dipersembahkan kepada leluhur dan orang yang telah meninggal dengan banyak peruntukan, salah satunya adalah upaya untuk mendapatkan keselamatan. Meskipun begitu, dasar utama memberikan sesajen bukanlah semata-mata hanya karena manusia membutuhkan hal-hal yang baik, namun untuk menjaga keselarasan dengan roh-roh halus. Maka dari itu, sesajen sebenarnya mencerminkan nilai spiritualitas orang Jawa yang mengusahakan keselarasan dan keterhubungan manusia dengan alam secara serius. Sesajen dibuat dan dipersembahkan pada waktu-waktu tertentu dan sesuai dengan daerah masing-masing. Contohnya pada tradisi Nadran, pelemparan sesajen ke laut dilakukan di pesisir utara Jawa. Sesajen yang dipersembahkan merupakan bentuk terima kasih/ucapan syukur selama satu tahun dan berharap mendapatkan peningkatan secara ekonomi (Daniswari, 2. Isian dari sesajen umumnya terdiri dari makanan. Namun tak jarang juga ada komponen lain yang disesuaikan dengan kepunyaan dari yang akan membuat sesajen atau disesuaikan dengan kebutuhan ritual. Karena sesajen berisi dengan harapan dan juga penghormatan, maka isian dari sesajen memiliki filosofi tersendiri sehingga sesajen ini bisa AoditerimaAo oleh nenek moyang. Pertama adalah bunga yang menjadi bagian dari perlengkapan ritual. Bunga menjadi unsur penting dalam sesajen karena harumAienergi spiritual dipercaya mudah melekat dengan sesuatu yang memiliki wewangianAidan menjadi simbol harapan. Bungabunga yang dapat dipakai untuk sesajen adalah bunga tujuh rupa yakni, kantil, melati, mawar merah, mawar putih, kenangan, sedap malam, dan melati gambir. Bunga tujuh rupa memang sangat kental dengan tradisi seperti sesajen atau untuk ritual - ritual tertentu. Setelah bunga, ada kelapa yang umumnya terdapat di dalam sesajen dengan filosofi simbol kesejahteraan dan juga semoga niat yang sudah dibulatkan itu segera tercapai. Lalu ada pisang yang merupakan simbol kemakmuran. Kemudian terdapat kopi hitam yang merupakan minuman favorit nenek Kopi hitam ini disertakan di dalam sesaji supaya arwah nenek moyang berkenan untuk berkomunikasi dan hadir mengunjungi keluarga dengan itu kopi hitam menjadi simbol akan penghargaan terhadap leluhur. Lalu, ada ayam ingkung yakni ayam utuh yang sudah disembelih namun tidak dipotong-potong. Makna dari ayam ingkung ini adalah sebagai pengayom saat manusia berdoa. Lalu yang terakhir adalah beras yang merepresentasikan kehidupan manusia yang makanan pokoknya adalah nasi (Yohanes Adi, 2. Setiap isian Nethania Ranitta Adventie Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies sesajen merepresentasikan masing-masing harapan manusia sehingga tidak sembarangan dan sesuka hati dalam memilih isian. Setiap daerah atau bahkan setiap desa bisa saja memiliki isian sesajen yang berbeda. Hal ini sejalan dengan pemahaman mengenai desa mawa cara, negara mawa tata yang artinya adalah setiap desa memiliki adatnya sendiri dan setiap negara memiliki hukumnya sendiri (Santosa, 2. Sesajen dianggap sebagai bentuk persembahan yang sakral. Kesakralan sesajen ini didukung dengan banyaknya narasi yang tersebar baik secara lisan maupun tulisan mengenai orang-orang yang akan terkena bala setelah memperlakukan sesajen dengan tidak hormat seperti ditendang atau diinjak. Kejadian ini bisa saja benar adanya sebagaimana orang Jawa memang meyakini akan hal tersebut. Sesajen memang dianggap sakral oleh masyarakat Jawa karena itu dipersiapkan dan dipersembahkan kepada leluhur dalam rangka menghormati. Maka apabila terdapat orang yang tidak memperlakukan sesajen dengan hormat, wajar saja bahwa leluhur dianggap AomarahAo dengan mengirimkan hal buruk kepada pelaku yang memperlakukan sesajen semena-mena. Peristiwa ini dapat didukung dengan pemahaman orang Jawa apabila sesajen diletakkan pada tempat-tempat yang mereka anggap memiliki AopenunggunyaAo, sebagaimana pandangan dunia orang Jawa bahwa terdapat dhemit di beberapa tempat yang memungkinkan untuk masuk ke dalam manusia dan mengganggu (Magnis-Suseno, 1984: . Namun, perilaku yang semena-mena terhadap sesajen ini mencerminkan bahwa ada stigma negatif terhadap tradisi sesajen. Stigma negatif dan perlakuan tidak hormat terhadap sesajen dan pelaku sesajen ini mungkin lahir berdasarkan pada kurangnya literasi terhadap informasi mengenai sesajen yang jarang sekali beredar baik secara lisan maupun tulisan di internet (Sabandar, 2. Implikasinya, dewasa ini, banyak orang yang tidak tahu menahu mengenai sesajen dan maknanya secara mendalam. Banyak juga orang yang kemudian menganggap bahwa sesajen adalah tradisi yang bertentangan dengan agama, maka sesajen bukanlah sesuatu yang penting. Namun sebenarnya, esensi sesajen tidak terletak bukan pada makanan minuman yang dipersembahkan dan diletakkan pada tempat-tempat tertentu, melainkan dimensi spiritualitas yang terdapat di sana (Prodi Bahasa. Sastra, dan Budaya Jawa Departemen Bahasa dan Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, 2. Masyarakat dengan Alam, dan Keterhubungannya dengan Yang Ilahi Bagi masyarakat Jawa, kesatuan tidak hanya dengan alam namun juga dengan yang Ilahi. Pada lingkaran kedua, dibahas bahwasanya penguasa seperti halnya raja keraton dianggap sebagai representasi dari kekuatan Ilahi. Namun. Magnis-Suseno menyatakan bahwa Sang Ilahi itu tidak hanya ada pada Sang Penguasa melainkan pada siapa saja, karena pada keakuan terdapat manusia yang menyatu / manunggal dengan Yang IlahiAitempat seseorang berasal Menenun Relasi Antara Manusia. Alam, dan Yang Ilahi: Sebuah Refleksi Teologi Ekologi Melalui Sesajen dan Worldview Masyarakat Jawa dengan Model Teologi Kontekstual Menurut Bevans Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. (Magnis-Suseno, 1984: . Maka inti jiwa dari mistik Jawa adalah untuk mencapai kesatuan dengan Yang Ilahi itu. Inti dari kebijaksanaan mistik Jawa termuat dalam Kisah Dewaruci (Magnis-Suseno, 1984: . Rangkuman dari kisah tersebut adalah saat Bima menemukan DewaruciAiyang merupakan gambaran Bima dalam wujud yang lebih kecilAidan dirinya menyadari bahwa pada dasarnya, dirinya satu dengan Yang Ilahi, keduanya adalah satu kesatuan yang tidak bisa Maka untuk menemukan Yang Ilahi itu. Bima perlu masuk ke dalam batinnya sendiri untuk menemukan bahwa asal usulnya adalah kesatuan antara hamba dan Tuhan (MagnisSuseno, 1984: . Maka persatuan dengan Allah ini yang menjadi tujuan mistik Jawa untuk memperoleh kesadaran. Kesadaran ini berbentuk pengertian, atau dalam Bahasa Jawa disebut dengan kawruh sangkan paraning dumadi . engetahuan akan asal dan tujuan mengenai segala yang telah diciptaka. (Magnis-Suseno, 1984: . Pengertian ini membantu manusia untuk berubah dan lebih mendalami realitas dirinya yang baru (Magnis-Suseno, 1984: . Artinya, di dalam mistik Jawa, ketika seseorang masuk kembali ke batin diri untuk menemukan dimensi Sang Ilahi, maka dirinya dapat mendapatkan pengetahuan yang membantunya untuk kembali mengatur hidupnya menjadi lebih baik. Melalui pemahaman ini, sebenarnya mistik Jawa tidak serta merta menekankan kepada sisi spiritualitas saja, namun bagaimana hasil dari penyatuan dengan Yang Ilahi itu membuahkan hasil, membuahkan makna, menjadi praksis dalam kehidupan sehari-hari (Magnis-Suseno, 1984: . Konteks Indonesia Masa Kini: Keterputus-Hubungan Antara Manusia dan Alam Indonesia masa kini sedang menghadapi berbagai isu krisis ekologi. Krisis ekologis ini semakin menjadi trend yang tidak kunjung selesai. Krisis ekologis ini disebabkan oleh tujuan pemerintah untuk membangun perekonomian Indonesia dengan proyek-proyek besar seperti halnya hilirisasi tambang (Lahay, 2. Cara-cara seperti ini tentu menunjukkan ketamakan manusia yang cenderung memandang alam sebagai sumber penghasilan yang subur. Manusia, lebih tepatnya pemerintah, lebih memilih cara-cara yang bersifat eksploitatif terhadap alam dengan alasan pembangunan Indonesia. Tidak hanya hilirisasi tambang, kerusakan ekosistem oleh pemerintah juga tercermin melalui pembangunan proyek jalan tol (Lahay, 2. Kerusakan ini dapat dilihat dari pembangunan jalan tol yang lebih sering melewati sawah-sawah milik penduduk setempat. Kerusakan ekosistem dengan cara yang demikian membawa kelestarian alam Indonesia semakin menurun. Selain proyek-proyek besar seperti hilirisasi tambang dan pembangunan jalan tol, deforestasi hutan juga dilakukan oleh pihak tertentu. Deforestasi hutan memberikan banyak dampak yang tentu mengarah pada ketidakseimbangan ekosistem, seperti hilangnya habitat bagi hewan-hewan di hutan dan negara yang akan kehilangan Nethania Ranitta Adventie Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies paru-parunya. Krisis ekologi yang tertulis sebagai konteks artikel ini adalah sebagian kecil dari demikian banyak krisis ekologi di Indonesia yang membutuhkan perhatian khusus. Krisis ekologi ini perlu untuk sesegera mungkin ditanggapi oleh masyarakat Indonesia termasuk gereja di dalamnya. Tesis White: Krisis Ekologi Disebabkan Agama Tesis White merupakan gagasan yang disampaikan oleh Lynn T. White Jr. Tesis White ini telah dirangkum oleh Todd LeVasseur dan Anna Peterson yang kemudian dikutip oleh Singgih dalam bukunya. Pengantar Teologi Ekologi (Singgih, 2021: 76Ae. Tesis White berusaha mengemukakan bahwasanya agama dan budaya menjadi alasan terjadinya krisis ekologi. Agama yang disebutkan juga bukan keseluruhan. White yang merupakan seorang Protestan justru mengatakan bahwa Agama Kristen Barat adalah penyebab kerusakan ekologi karena agama ini sifatnya berpusat pada manusia. Pemahaman yang lebih mengarah kepada antroposentrik ini disebabkan oleh pengertian mereka bahwa manusia berpihak kepada Allah yang menjadi AoatasanAo dari alam (Singgih, 2021: . Mereka memandang bahwa yang didiami roh hanyalah manusia, sedangkan alam tidak didiami oleh roh-roh. Pemahaman tersebut tentu berbanding terbalik dengan bagaimana kebudayaan Timur memandang unsur-unsur alam yang memiliki kekuatan tersendiri. Pada akhirnya. White memberikan jalan keluar untuk berusaha belajar dari nilai-nilai teologi Fransiskus dari Assisi yang menganggap alam sebagai saudara saudari. Singgih, dalam buku ini juga ikut menanggapi bahwa diperlukan kesadaran untuk kembali melihat bahwa Tuhan tidak hanya transenden. Ia juga imanen (Singgih, 2021: Imanensi Sang Ilahi ini perlu untuk diperhatikan sebagai jalan untuk berdialog dengan Kebudayaan Timur (Singgih, 2021: . Keterhubungan Manusia dengan Bumi sebagai Rumah Dimensi keterhubungan antar ciptaan di dalam Kebudayaan Jawa membuka diskusi baru sehubungan dengan Teologi Ekologi. Ekologi . erasal dari bahasa Yunani dimana oikos: rumah dan logos: ilm. , secara umum dipahami sebagai pengetahuan atau ilmu tentang planet bumi sebagai lingkungan hidup (Borrong, 1999: . Apabila disesuaikan dengan asal katanya, planet bumi dianggap sebagai rumah, menjadi tempat kehidupan bagi manusia dan makhluk ciptaan yang lainnya. Mengutip dari artikel yang ditulis oleh NASA, sampai saat ini, bumi menjadi satusatunya planet yang memiliki kehidupan di dalamnya (Brennan, 2. Lingkungan hidup itu dibagi menjadi beberapa kelompok dasar yakni lingkungan fisik . ebih tepatnya lingkungan anorganik, segala sesuatu yang ada di sekitar manusi. , lingkungan biologis . ingkungan organi. , dan lingkungan sosial . esama manusi. , dan lingkungan teknologi . iptaan manusia yang Menenun Relasi Antara Manusia. Alam, dan Yang Ilahi: Sebuah Refleksi Teologi Ekologi Melalui Sesajen dan Worldview Masyarakat Jawa dengan Model Teologi Kontekstual Menurut Bevans Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. berkontribusi dalam kerusakan lingkungan hidu. (Borrong, 1999: 18Ae. Seluruh kelompok dalam lingkungan hidup ini saling terhubung karena apabila salah satunya merusak kelompok yang lain, maka akan memunculkan ketidakseimbangan ekosistem, terlebih dengan keberadaan lingkungan teknologi yang banyak berkontribusi dalam kerusakan lingkungan hidup, baik fisik maupun biologi. Maka. Borrong dalam bukunya mengusulkan bahwa selain keempat kelompok lingkungan hidup, manusia harus memiliki yang dinamakan etosfer, yakni etika manusia dalam berhubungan dengan lingkungan (Borrong, 1999: . Namun, dewasa ini, teknosfer kian melukai keberlangsungan dan keseimbangan lingkungan hidup secara keseluruhan. Di sisi lain, etosfer tidaklah dianggap penting oleh manusia. Maka, dalam berusaha kembali menstabilkan keseimbangan lingkungan hidup, etosfer menjadi nilai yang perlu kembali dimunculkan ke permukaan supaya dapat menyeimbangkan teknosfer. Karena, apabila teknosfer tidak dibarengi dengan nilai etosfer, maka sifatnya akan menjajah atau lebih kepada eksploitatif. B o r r o n g , dalam bukunya mencoba untuk menguraikan bagaimana hubungan antara manusia dengan alam, sesuai dengan gagasan Tyler Miller. Pertama adalah mengenai kesetaraan manusia dengan alam (Borrong, 1999: . Sesuai dengan pembahasan tulisan ini terkait dengan kebudayaan Asia dan pandangan Orang Jawa terhadap dunia, manusia selalu berusaha untuk menyelaraskan kehidupannya dengan alam. Tidak sebatas itu, alam memang dianggap memiliki kekuatan tersendiri yang bagi masyarakat berkaitan dengan alam gaib dan layak untuk dihormati. Hubungan yang setara antara manusia dan alam ini juga tercipta karena sifat manusia yang tidak memaksa alam, sehingga apa yang diperoleh manusia melalui alam itu secukupnya (Borrong, 1999: . Namun kesetaraan ini berubah setelah teknosfer mulai masuk ke dalam relasi antara manusia dan alam. Manusia menggunakan teknologi untuk mengeksploitasi alam untuk kepentingannya sendiri tanpa mempertimbangkan nilai etosfer (Borrong, 1999: . Hubungan antara manusia dengan alam yang selanjutnya adalah dimana manusia menguasai dan mengeksploitasi alam (Borrong, 1999: . Hubungan seperti ini yang seringkali ditemukan di alam kita dewasa ini, termasuk di Indonesia. Apabila manusia dengan teknologi yang diciptakannya mengeksploitasi alam, kegiatan eksploitasi itu tidak akan berhenti apabila manusia belum sampai pada titik puas (Borrong, 1999: . Lalu hubungan antara manusia dengan alam yang ketiga adalah di mana alam menguasai manusia. Artinya adalah, alam dengan potensinya membuat manusia tidak berdaya, sehingga manusia terhipnotis untuk mengambil manfaat dari alam (Borrong, 1999: 38Ae. Namun, kedua hubungan ini tidaklah menjadi fokus utama. Karena, hubungan antara manusia dengan alam ciptaan haruslah setara, tidak ada yang saling menguasai, namun bagaimana dengan keberadaannya masing-masing saling berdaya guna. Manusia dan alam dalam pandangan ekologi memang sedang dalam relasi yang tidak Oleh karena itu, etosfer, istilah yang disampaikan oleh Borrong, memang diperlukan untuk kembali menjadi bagian dari manusia dalam berdinamika dengan lingkungan hidup. Nethania Ranitta Adventie Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Dalam konteks ini, etika lingkungan hadir sebagai hasil dari refleksi kritis mengenai keterputushubungan manusia dengan alam (Borrong, 1999: . Etika lingkungan lebih banyak menyoroti perilaku manusia yang bersifat eksploitatif dan destruktif terhadap alam. Maka, melalui paper ini akan diuraikan beberapa pendekatan etis yang dapat merepresentasikan kondisi etika lingkungan masa kini dan menawarkan arah yang seharusnya dapat mulai ditempuh. Etika Ekologi Kristen Menjadi Praksis Kehidupan Terdapat banyak ragam teori etika ekologi yang menjadi hasil dari refleksi kritis manusia terhadap perilaku manusia sehubungan dengan relasinya terhadap alam. Pertama adalah etika antroposentris, penekanannya adalah manusia yang menjadi pusat dari etika lingkungan ini (Borrong, 1999: . Etika ini yang sekarang menjadi praktik dalam kehidupan bersama, terlebih di Indonesia. Banyak pertambangan yang mulai dibuka, pengalihfungsian hutan menjadi ladang untuk kelapa sawit, dan semua itu hanya untuk kepentingan-kepentingan manusia tanpa pernah memikirkan kesejahteraan alam. Etika ini hasil dari refleksi keterpisahan manusia dengan alam, sehingga manusia seolah-olah menjadi subjek atas alam. Pada akhirnya, etika antroposentris melanggengkan praktik eksploitatif-destruktif yang selama ini dilakukan oleh manusia. Selain etika antroposentris, terdapat etika ekosentris yang fokusnya adalah kepada Pada etika ini, alam dipandang memiliki nilainya sendiri dan patut untuk diperlakukan dengan adil (Borrong, 1999: . Implikasi dari etika ini bukan berarti manusia sama sekali tidak menggunakan potensi alam. Melalui etika ini, manusia tetap diperbolehkan untuk mengambil manfaatnya, namun juga dengan tetap menjaga alam dan menjaga keseimbangannya untuk kebaikan bersama antara manusia dan alam. Etika ini dapat benar-benar menjadi praksis kehidupan apabila manusia terlebih dahulu memandang bahwa alam bukanlah sebagai objek, alam juga layak untuk dipandang berharga sebagaimana selama ini sudah menopang kehidupan (Borrong, 1999: . Etika ekosentris ini perlu dilengkapi dengan etika ekologi Kristen. Etika ekologi Kristen ini akan berlandaskan pada Alkitab. Pada buku Etika Bumi Baru karya Borrong, terdapat tiga etika ekologi yang berdasar pada Alkitab, namun penulis akan lebih menyoroti kepada etika solidaritas. Etika solidaritas adalah etika dimana manusia memiliki kewajiban untuk menjaga dan melestarikan alam adalah karena dirinya juga menjadi bagian dari alam (Borrong, 1999: . Etika ini sangat menekankan adanya kesetaraan antara manusia dengan alam yang memampukan manusia melihat manusia adalah menyatu dengan alam. Maka, etika ini menyatakan bahwa manusia boleh saja menguasai atau memanfaatkan sumber daya alam dengan tetap menyadari akan keberadaan dirinya yang satu dengan alam . Relasi antara manusia dengan alam bukan sebatas pada sesama ciptaan namun juga secara biologis, karena manusia juga berasal dari debu Menenun Relasi Antara Manusia. Alam, dan Yang Ilahi: Sebuah Refleksi Teologi Ekologi Melalui Sesajen dan Worldview Masyarakat Jawa dengan Model Teologi Kontekstual Menurut Bevans Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. tanah (Kej. (Borrong, 1999: . Kata solidaritas membawa pemahaman mengenai relasi antara manusia dan alam itu saling bergantung dan saling mempengaruhi, maka memang selain tanggung jawab untuk melindungi, di dalamnya juga terdapat kemauan untuk menghargai alam sebagaimana adanya dia sebagai makhluk ciptaan (Borrong, 1999: . Karena penekanannya adalah pada solidaritas, terdapat dimensi dimana ketika manusia melakukan sesuatu terhadap alam, alam akan menanggungnya dan apabila alam sudah terlihat kurang lestari maka manusia memiliki kemauan untuk mencarikan solusinya (Borrong, 1999: . Intinya adalah terdapat keharmonisan antara manusia dengan alam. Reflesi Kritis Teologis Tradisi Sesajen merupakan tradisi yang terkadang masih penulis jumpai di tempat-tempat Penulis mengetahui betul bahwa sesajen adalah persembahan kepada leluhur yang sangatlah sakral dan tidak dapat diperlakukan semena-mena. Banyak larangan yang menurut penulis menjadi sangat relevan dengan penulisan paper ini. Larangan tersebut antara lain, tidak boleh memakan makanan yang dipersembahkan sebagai sesajen dan tidak boleh menginjak sesajen tersebut. Beberapa tahun yang lalu, ketika nenek dari sepupu penulis berpulang ke dalam pangkuan Bapa, penulis melihat bahwa di dalam lemari peninggalan almarhumah, diisi dengan sesajen yang disiapkan oleh keluarga. Hal ini yang membawa penulis berupaya menguraikan nilai - nilai sesajen yang sekiranya dapat membantu memberdayakan gereja masa kini. Paper ini membantu penulis menguraikan nilai-nilai sesajen yang pada akhirnya membawa penulis mengenal konteks kebudayaan Asia dan konteks kebudayaan Jawa. Penulis merasa kemudian sebenarnya dimensi spiritualitas manusia terhadap alam bukan semata- mata pada tradisi sesajennya melainkan pada worldview masyarakat Jawa. Worldview masyarakat Jawa mengenai keterhubungan manusia dengan alam lah yang menjadi dasar munculnya tradisi Sesajen sebagai bagian dari ritual-ritual yang penting. Penulis melihat bahwa tradisi Sesajen dan worldview masyarakat Jawa ini menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut dalam upaya berusaha menanggapi krisis ekologi yang semakin lama semakin merambah di Indonesia. Penulis memahami bahwa terkadang sesajen dianggap tidak sesuai dengan agama, namun esensi dari tradisi Sesajen bukanlah pada ritualnya melainkan nilai-nilai spiritualitas yang terkandung di dalamnya. Nilai spiritualitas pada tradisi sesajen menghantarkan masyarakat Jawa tidak sekedar menghargai alam dengan memberikan persembahan. Namun, manusia tidak ada niat untuk berlaku semena-mena dengan alam, karena terdapat ketakutan merusak keseimbangan antara alam fisik dan alam metafisik. Antara penghormatan, menjaga keseimbangan, dan lebih lagi adalah untuk menyatu dengan Allah. Hal ini sangat menarik, karena keterhubungan antara manusia, alam, dan Allah adalah cara pandang akan kehidupan yang asing bagi penulis. Bagi masyarakat Jawa, keterhubungan manusia dengan Nethania Ranitta Adventie Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies alam itu merupakan cara untuk mencapai ketentraman supaya di dalam kehidupan terdapat Upaya untuk menjaga keseimbangan itu dilakukan dengan sesajen sebagai bentuk penghormatan dan juga ucapan syukur. Lalu, selain hubungan manusia dengan alam, manusia juga terhubung dengan Tuhan atau Sang Ilahi yang menjadi asal- usul dari diri manusia. Penulis melihat bahwa kesatuan antara diri dengan Yang Ilahi . rang Jawa menyebutkannya dengan Manunggaling Kawula Gust. dapat membawa manusia untuk mengalami perubahan karena sudah menemukan pandangan hidup yang benar. Maka, melalui kesatuan dengan Yang Ilahi, manusia dapat menyadari realitas dirinya dan berusaha menjadi lebih baik lagi. Hal ini menjadi praksis kehidupan bagi masyarakat Jawa. Setelah penulis melihat konteks dari kebudayaan Jawa dan tradisinya, penulis melihat bahwa spiritualitas yang saling terhubung satu sama lain ini sangatlah baik untuk kemudian Namun, stigma negatif terhadap sesajen belum dapat memandang dimensi spiritualitas yang menunjukkan penghargaan terhadap alam ini karena informasi yang tersebar mengenai sesajen juga sulit untuk diakses. Penulis melihat bahwa melalui tradisi sesajen, dimensi keterhubungan ini dapat nampak dan menjadi diskusi yang menarik. Penulis juga merasa bahwa keterhubungan antara manusia dan alam ini sudah semakin terkikis dan hal ini menjadi penyebab krisis ekologi yang semakin merajalela. Maka kemudian, penulis mencoba untuk melihat kembali kepada bagaimana Teologi unjuk suara terkait dengan krisis ekologi dan kaitannya dengan kebudayaan Jawa. Tesis White memberikan kemungkinan yang baru bahwa sebenarnya yang menjadi alasan keterputus-hubungan antara manusia dengan alam adalah agama Kristen Barat. Hal ini membuat penulis kemudian menyadari bahwa doktrin mengenai agama Kristen Barat harus ditafsirkan ulang karena tidak sesuai dengan konteks kebudayaan Asia. Setelah menguraikan etika ekologi baik secara umum maupun yang berlandaskan pada Alkitab, penulis mulai memahami titik temu antara worldview masyarakat Jawa dengan etika ekologi yang berusaha mendobrak batasan pemahaman yang bersifat antroposentrik dan berusaha untuk mulai menghargai alam sebagaimana ada dirinya dalam kehidupan. Intinya adalah pada etika solidaritas yang dapat menjadi landasan dalam konteks yang baru. Penulis melihat bahwa etika solidaritas dapat menjadi dasar yang kuat untuk kemudian mencoba mentransformasikan pemahaman lama yang memisahkan diri antara manusia dengan alam, menjadi lebih memandang kesetaraan antara manusia dan alam dan solider terhadap satu sama lain. Tulisan ini kemudian sungguh-sungguh berusaha untuk menerapkan model praksis dalam rangka membawa kembali nilai keterhubungan manusia terhadap alamAidan dengan TuhanAiuntuk menanggapi krisis ekologi. Penulis melihat bahwa melalui paper ini, konteks baru mengenai pemahaman gereja masa kini terhadap hubungan manusia dengan alam haruslah solider dapat menjadi pembaharuan yang berdaya guna. Menenun Relasi Antara Manusia. Alam, dan Yang Ilahi: Sebuah Refleksi Teologi Ekologi Melalui Sesajen dan Worldview Masyarakat Jawa dengan Model Teologi Kontekstual Menurut Bevans Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. Aksi Pastoral Hasil dari paper ini menunjukkan bahwa ada idea atau gagasan terhadap keterhubungan manusia dengan alam yang seharusnya menyatu-padu melahirkan beberapa saran bagi gereja masa kini. Sebelumnya, penulis sempat berpendapat bahwa gereja seringkali terlihat berfokus hanya mengadakan event-event yang bertemakan go-green, namun hanya bertahan sementara waktu. Hal ini tentu bertentangan dengan etika solidaritas, karena itu menunjukkan penghargaan terhadap alam sesaat. Dalam mengusahakan keterhubungan antara manusia dengan alam, gereja haruslah mencoba untuk membuka diskusi-diskusi yang membuka pemikiran terkait dengan hal tersebut. Karena, dalam konteks ini, yang menjadi fokus utamanya adalah bagaimana mencoba merubah gagasan yang selama ini direngkuh oleh manusia mengenai relasi manusia dengan alam menjadi lebih terbuka dan inklusif. Ruangruang diskusi yang dibuka dapat diawali dengan pengadaan seminar yang berkaitan dengan topik ini, lalu mengangkat pembahasan ini sebagai tema khotbah, atau mempublikasikan tema ini dalam bentuk renungan-renungan. Melalui upaya-upaya ini, umat yang sering mendengar dan juga ikut berpendapat untuk menggeluti tema ini memiliki gagasan yang baru. Penutup Paper ini berupaya untuk mencoba menafsirkan nilai-nilai sesajen untuk melihat spiritualitas keterhubungan antara manusia dengan alam dan pada akhirnya dengan Yang Ilahi dalam kaitannya untuk melihat krisis ekologi sebagai isu yang sedang menjadi tren di Indonesia. Melalui paper ini, rupanya tradisi sesajen dapat memberikan nilai keterhubungan antara manusia dengan alam yang dapat diwujudkan melalui praksis kehidupan. Dengan demikian, pembacaan teologi kontekstual terhadap sesajen tidak sebatas pada sisi konteks kebudayaannya saja melainkan dapat menjadi praksis kehidupan bagi siapapun tanpa terbatas latar belakang Sebagai penutup, melalui budaya, krisis ekologis menyingkap retaknya relasi manusia dengan alam yang berusaha dipulihkan dengan etika solidaritas sebagai kerangka baru dalam relasi yang harmoni antara manusia dengan alam. Daftar Pustaka