Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 10 Nomor 3 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Efektifitas Model Pembelajaran Collaborative Learning Berbasis Catur Paramita Terhadap Pemahaman Mahasiswa Pada Teks Geguritan I Gusti Agung Rai Jayawangsa*. I Wayan Juliana Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan. Singaraja. Indoensia *agungraijayawangsa@gmail. Abstract Geguritan, as an integral part of Balinese literature taught in higher education, plays a strategic role in preserving identity and passing down noble cultural values to the younger generation. However, based on observations conducted on students of the Balinese Language and Religious Literature Education Study Program, it was found that student understanding of the meanings embedded within geguritan texts remains relatively low. This study aims to determine the effectiveness of implementing a catur paramita-based collaborative learning model in improving students' comprehension of geguritan texts. This study employed a quantitative method with a Pre-Experimental Design, conducted on sixth-semester students as research subjects. The results demonstrated that the average pre-test score of 75. 00 increased to an average post-test score of 88. Furthermore, the hypothesis testing using a paired sample t-test yielded a significance value of . <0. In conclusion, the implementation of catur paramitabased collaborative learning is effective in enhancing students' understanding of the meanings contained in geguritan texts. Keywords: Collaborative Learning. Catur Paramita. Geguritan Comprehension. Balinese Literature Learning. StudentsAo Understanding Abstrak Geguritan sebagai bagian dari sastra Bali yang diajarkan di perguruan tinggi berperan strategis dalam melestarikan identitas serta mewariskan nilai-nilai luhur budaya kepada generasi muda. Namun, berdasarkan hasil observasi pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali (PSABB), ditemukan bahwa pemahaman mahasiswa terhadap makna yang terkandung dalam teks geguritan masih relatif rendah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas penerapan model collaborative learning berbasis catur paramita dalam meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap teks geguritan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan model Pre-Experimental Design yang dilakukan terhadap subjek mahasiswa semester VI. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa nilai rata-rata pretest sebesar 75,00 meningkat menjadi rata-rata 88,00 pada nilai post-test. Hasil uji hipotesis menggunakan paired sample t-test menunjukan nilai signifikansi . < 0,. Kesimpulanya penerapan collaborative learning berbasis catur paramita efektif meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap makna yang terkandung dalam teks Kata Kunci: Collaborative Learning. Catur Paramita. Pemahaman Geguritan. Pembelajaran Sastra Bali. Pemahaman Mahasiswa Pendahuluan Sastra Bali merupakan salah satu pilar utama warisan budaya yang memiliki peran strategis dalam menjaga serta memperkuat identitas kolektif masyarakat Bali. Keberadaan sastra Bali tidak sekadar berfungsi sebagai media ekspresi estetis, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH melainkan juga sebagai instrumen vital dalam transmisi nilai-nilai luhur yang perlu diwariskan secara berkelanjutan kepada generasi penerus. Melalui ragam karya sastra tradisional seperti geguritan, kakawin, tutur, dan gending masyarakat Bali mengartikulasikan nilai moral, etika, serta filosofi hidup yang berakar kuat pada ajaran agama Hindu dan kearifan lokal (Sukartha, 2. Lebih jauh lagi, karya sastra ini merepresentasikan identitas sosial sekaligus merekam dinamika perkembangan peradaban masyarakat Bali dalam lintas sejarah (Dewi et al. , 2. Dalam perspektif yang lebih luas, kedudukan sastra Bali bertransformasi menjadi sebuah arsip hidup yang menyimpan memori kolektif dan struktur berpikir Di tengah arus globalisasi yang masif, sastra Bali berperan sebagai filter kebudayaan yang menjaga agar nilai-nilai lokal tetap relevan tanpa kehilangan jati diri. Dengan demikian, kajian terhadap sastra Bali bukan sekadar upaya romantisme masa lalu, melainkan sebuah langkah strategis untuk memahami sistem epistemologi dan ontologi masyarakat Bali dalam merespons tantangan zaman. Keberlanjutan sastra Bali menjadi jaminan bahwa akar filosofis kehidupan masyarakatnya akan tetap kokoh sebagai fondasi dalam membangun tatanan sosial yang harmonis dan beradab. Selain memiliki nilai estetika . eni keindaha. , sastra Bali juga mengandung ajaran spiritual, nilai religius, serta pesan-pesan pedagogis yang relevan bagi pembentukan karakter generasi muda. Sastra Bali klasik bahkan dipandang sebagai cermin kehidupan masyarakat Bali karena di dalamnya terkandung berbagai nilai didaktik dan kearifan lokal yang dapat dijadikan pedoman dalam pembentukan moral generasi muda (Duija, 2. Selain itu, kajian terhadap sastra Bali juga menunjukkan bahwa teks-teks sastra tradisional mengandung berbagai nilai pendidikan karakter seperti religiusitas, tanggung jawab, kerja keras, dan sikap cinta damai yang dapat diinternalisasikan melalui proses pembelajaran (Trismatika et al. , 2. Oleh karena itu, pembelajaran sastra Bali di perguruan tinggi tidak hanya berorientasi pada apresiasi estetika karya sastra, tetapi juga diarahkan pada upaya memahami, menafsirkan, dan menginternalisasi nilai-nilai moral, budaya, dan spiritual yang terkandung di dalamnya sehingga mahasiswa dapat mengembangkan kesadaran budaya sekaligus memperkuat identitas lokal. Salah satu karya sastra Bali tradisional yang dipelajari pada tingkat perguruan tinggi adalah karya sastra geguritan. Geguritan adalah bentuk karya sastra tradisional Bali yang susunanya dalam struktur tembang (Gunada, 2. Geguritan ditampilkan dalam bentuk bait-bait puisi yang lahir dari imajinasi serta kreativitas pengarang Sujiwo et al. , . kemudian diungkapkan melalui rangkaian tuturan yang khas dengan penggunaan bahasa yang puitis, penuh kiasan, dan memiliki keindahan diksi. Setiap bait dalam geguritan disusun menggunakan pupuh yang diikat oleh aturan padalingsa (Adi, 2. Padalingsa berasal dari dua suku kata jawa kuna, yaitu pada yang artinya baris dan lingsa yang artinya bunyi bagian akhir sebuah kata, sehingga merujuk pada aturan bunyi akhir pada setiap baris dalam satu bait pupuh (Sari et al. , 2. Berdasarkan pengertian tersebut dapat diartikan geguritan adalah karya sastra Bali tradisional yang disusun atas kumpulan bait-bait pupuh yang terikat pada kaidah padalingsa. Dalam konteks pembelajaran sastra di perguruan tinggi, geguritan memiliki potensi besar untuk mengembangkan kemampuan apresiasi sastra mahasiswa. Melalui pembelajaran geguritan, mahasiswa diharapkan mampu memahami makna yang terkandung didalam teks sastra tersebut. Salah satu perguruan tinggi yang masih mempelajari geguritan adalah IAHN Mpu Kuturan khususnya pada program studi Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali (PSABB). Prodi PSABB merupakan program studi yang mencetak Guru Bahasa Bali. Oleh sebab itu, materi geguritan wajib Namun demikian berdasarkan observasi terhadap mahasiswa semester IV https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH yang telah mendapat matakuliah Kesusastraan Bali, berdasarkan analsis data terhadap nilai pemahaman siswa pada materi geguritan tergolong rata-rata 75 yang berarti masih rendah, dalam praktik pembelajaran masih ditemukan berbagai kendala dalam memahami makna yang terkandung dalam geguritan. Banyak mahasiswa sulit memahami makna yang terkandung dalam teks, serta mengaitkan pesan moral dalam geguritan dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, pemahaman mahasiswa terhadap geguritan sering kali hanya terbatas pada pemahaman teks secara literal tanpa mampu menggali makna yang lebih Sebab permasalahan tersebut terjadi karena kurang pahamnya mahasiswa terhadap struktur geguritan. Selain itu, secara heterogen pengetahuan dan daya tangkap mahasiswa pada materi pemahaman geguritan masih banyak yang kurang. Permasalahan tersebut juga dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran yang masih berpusat pada dosen atau teacher centerd learning. Pembelajaran seharusnya mengarah pada pendekatan student centered learning yang menempatkan mahasiswa sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran (Halimah et al. , 2025. Sarnoto, 2. Guna mengatasi permasalahan tersebut, peneliti mengimplementasikan model collaborative learning berbasis catur paramita. Secara teoretis, collaborative learning menekankan pada pentingnya sinergi dan kolaborasi aktif antara peserta didik, pengajar, serta berbagai sumber daya pendidikan guna menciptakan ekosistem pembelajaran yang dinamis dan efektif (Munafiatik, 2. Melalui interaksi kelompok yang intensif ini, siswa tidak hanya dituntut untuk berpikir kritis secara mandiri, tetapi juga belajar menghargai keragaman perspektif di dalam kelas. Pendekatan ini kemudian diintegrasikan dengan nilai filosofis dalam agama hindu yaitu catur paramita. Catur Paramita yaitu empat budi luhur yang menuntun manusia dalam mencapai kesempurnaan hidup (Paramita et al. , 2. Nilai-nilai tersebut meliputi maitri . , karuna . asih sayan. , mudita . mpati/ turut berbahagia atas keberhasilan orang lai. , dan upeksa . oleransi/keseimbangan bati. (Paramita et al. , 2023. Suartini, 2. Beberapa penelitian relevan yang telah menguji efektivitas model collaborative learning dan nilai-nilai catur paramita secara terpisah. Menurut Darmawan . melaporkan bahwa implementasi collaborative learning memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa baik pada level pendidikan dasar maupun menengah. Sejalan dengan itu. Wardani . dalam penelitianya yang menerapkan model Jigsaw yang diintegrasikan dengan nilai catur paramita mampu mengoptimalkan kompetensi pengetahuan siswa secara Implementasi catur paramita dalam pembelajaran dengan model discovery learning memberikan pengaruh positif terhadap kompetensi pengetahuan IPS (Dewi et , 2. Selanjutnya pengaruh model pembelajaran resolusi konflik berbasis catur paramita memberikan pengaruh positif pada hasil belajar agama Hindu. Berdasarkan kajian pustaka tersebut, dapat ditarik kesamaan bahwa model pembelajaran collaborative learning dan catur paramita memberikan dampak positif terhadap hasil belajar siswa (Wahyuni et al. , 2. Meskipun kelima studi tersebut menunjukkan adanya korelasi positif antara variabel collaborative learning dan catur paramita terhadap capaian belajar, terdapat celah penelitian . esearch ga. yang mendasar. Sebagian besar penelitian terdahulu cenderung mengkaji kedua variabel tersebut secara Sejauh pengamatan literatur, belum ditemukan kajian yang secara spesifik mensinergikan collaborative learning dengan basis filosofis catur paramita dalam satu model pembelajaran yang utuh. Ketiadaan model integratif ini menyebabkan adanya ruang kosong dalam pengembangan desain instruksional yang berbasis pada nilai hindu. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki nilai kebaruan . yang kuat, karena https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH berupaya mengintegrasikan metodologi kerja kelompok dengan nilai etis keagaamaan untuk menciptakan model pembelajaran yang tidak hanya unggul secara kognitif, tetapi juga matang secara karakter. Metode Penelitian ini dilakukan dengan jenis penelitian kuantitatif. Design yang digunakan adalah Pre-Experimental Design dengan rancangan One-Group PretestPosttest Design. Penggunaan Pre-Experimental Design dengan rancangan One-Group Pretest-Posttest Design didasarkan pada tujuan untuk mengetahui bagimanakah pengaruh penerapan model pembelajaran kolaboratif berbasis catur paramita terhadap pemahaman mahasiswa dalam memahami makna yang terkandung dalam teks geguritan melalui perbandingan hasil pretest dan posttest pada kelompok yang sama, serta disesuaikan dengan kondisi populasi penelitian yang terbatas sehingga hanya memungkinkan penggunaan satu kelompok tanpa kelompok kontrol. Sampel dalam penelitian ini ditentukan secara purposive . ertimbangan tertent. yaitu mahasiswa semester VI . yang berjumlah 18 orang dengan pertimbangan mahasiswa tersebut telah menempuh matakuliah Kesusastraan Bali. Metode pengumpulan data dalam penelitian berupa observasi partisipan, wawancara . ak terstruktur, dengan teknik penentuan narasumber secara purposive samplin. , dokumentasi, dan test soal pilihan ganda 20 butir yang bertujuan untuk mengukur kemampuan mahasiswa dalam memahami makna yang terkandung dalam teks geguritan. Selain itu digunakan juga angket untuk mengetahui nilai-nilai catur paramita yang diimplementasikan mahasiswa. Soal, dan angket sebelum diberikan kepada mahasiswa, dilakukan uji validitas isi oleh 2 orang ahli dibidang evaluasi dan di bidang sastra, selanjutnya dilakukan uji validitas butir soal dan angket. Uji validitas menggunakan uji validitas gregory dengan alasan karena sesuai dengan penggunakan 2 orang ahli. Instrumen penelitian yang digunakan yakni perangkat pembelajaran, lembar observasi, instrumen soal dan angket. Selanjutnya, setelah dilakukan tes, data kemudian dianalisis secara kuantitatif. Analisis data diawali dengan uji prasyarat analisis, yakni uji normalitas yang fungsinya untuk mengetahui apakah data yang diperoleh terdistribusi normal. Setelah uji prasyarat terpenuhi, analisis dilanjutkan dengan uji hipotesis menggunakan uji pired sample t-test. Uji ini bertujuan agar dapat diketahui efektivitas pemahaman mahasiswa pada teks Hasil dan Pembahasan Untuk mendeskripsikan hasil dan pembahasan, peneliti akan menjabarkanya menjadi tiga sub yakni . Uji Validitas Isi, . Uji Validitas Butir Soa dan Angket, . Penerapan Model Pembelajaran Collaborative Berbasis Catur Paramita, . Uji Normalitas, . Uji Hipotesis Uji Validitas Isi Uji validitas dilakukan oleh dua ahli dengan menggunakan uji gregory (Gregory. Adapun hasil validasi ahli pada instrumen soal sebagai berikut. Tabel 1. Uji Ahli Pada Instrumen Soal Aspek yang Diukur Memahami konsep geguritan Indikator Soal Mengidentifikasi pengertian dan ciri-ciri No. Soal Skor Ahli 1 Skor Ahli 2 Ket. Relevan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Memahami struktur geguritan Mengidentifikasi pupuh dan fungsinya dalam Menentukan kontekstual dalam bait isi Menentukan tema dan gagasan utama geguritan Menafsirkan makna bait serta maksud pengarang Relevan nilai Mengidentifikasi moral dan pesan yang Relevan nilai Mengidentifikasi budaya serta kaitannya dengan kehidupan nilai Mengidentifikasi spiritual dalam geguritan Memahami makna kata Memahami Menafsirkan makna geguritan Memahami Memahami Memahami Menganalisis Menentukan utama dan antar bait Mengaitkan Menghubungkan pesan makna geguritan geguritan dengan kehidupan kehidupan sehari-hari Relevan Relevan Relevan Relevan Relevan Relevan Relevan Sumber: Peneliti, 2026 Setelah dilakukan uji validitas pada instrument soal, dilanjutkan dengan uji ahli pada angket. Adapun hasilnya sebagai berikut Tabel 2. Uji Ahli pada Instrumen Angket Variabel / Dimensi Indikator Perilaku Mahasiswa No. Butir Skor Ahli 1 Skor Ahli 2 Ket. Maitri 1 Menunjukkan sikap ramah dan (Persahabata komunikatif Menghargai pendapat antar anggota kelompok tanpa memicu permusuhan. Relevan Relevan Relevan Karuna (Kasih Sayan. Relevan Relevan 1 Membantu rekan kelompok memahami materi teks geguritan. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Mudita (Simpat. Upeksa (Tolerans. 2 Menunjukkan kepedulian terhadap kendala teknis atau personal anggota tim. Relevan 1 Memberikan apresiasi atau pujian atas ide/pendapat yang disampaikan teman. 2 Mendukung keberhasilan dan kontribusi aktif anggota kelompok Relevan Relevan Relevan Menerima masukan, koreksi dari anggota kelompok dengan lapang dada. 2 Tetap tenang, objektif, dan adil dalam menyelesaikan perbedaan atau konflik saat diskusi. Relevan Relevan Relevan Sumber: Peneliti, 2026 Berdasarkan hasil penilaian pada tabel 1 dan 2, seluruh butir soal . dan butir angket . termasuk dalam kategori relevan karena berada pada rentang skor Terdapat 20 butir soal yang dinilai relevan oleh kedua ahli secara bersamaan. Karena seluruh butir soal dinilai relevan oleh kedua ahli, dengan demikian diperoleh koefisien validitas soal dan angket sebagai berikut. Nilai koefisien soal dan angket sebesar 1,00 berada pada rentang koefisien 0,801,00. Nilai tersebut menunjukkan bahwa instrumen yang dirancang memiliki tingkat validitas isi yang sangat tinggi, sehingga seluruh butir soal maupun angket layak digunakan sebagai instrumen penelitian untuk mengukur pemahaman mahasiswa terhadap makna teks geguritan. Uji Validitas dan Reliabilitas Butir Soal dan Angket Untuk menilai apakah soal dan angket kualitasnya layak digunakan maka dilakukan pula uji validitas butir soal maupun angket (Sugiyono, 2. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa seluruh butir soal dan angket memiliki nilai koefisien korelasi rhitung yang lebih besar daripada nilai rtabel. Pengujian terhadap sampel soal sebanyak 20 menghasilkan nilai rtabel sebesar 0,44, dan nilai rhitung terkecil terdapat pada butir soal nomor 9 yaitu sebesar 0,54, sedangkan nilai tertinggi terdapat pada butir soal nomor 8 sebesar 0,65. Hasil analisis uji validitas terhadap 12 butir pernyataan angket menunjukkan bahwa seluruh butir memiliki nilai koefisien korelasi rhitung yang lebih besar daripada nilai rtabel 0,44. Nilai rhitung terkecil terdapat pada butir nomor 7 yaitu sebesar 0,54, sedangkan nilai tertinggi terdapat pada butir nomor 8 sebesar 0,66. Karena seluruh butir soal memenuhi kriteria rhitung > rtabel, maka dapat disimpulkan bahwa butir soal dan butir angket tersebut dinyatakan valid dan layak digunakan sebagai instrumen pengumpulan data penelitian. Setelah seluruh butir soal dan angket dinyatakan valid melalui uji korelasi Pearson, langkah pengujian dilanjutkan dengan uji reliabilitas menggunakan metode Cronbach's Alpha. Uji ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana instrumen memiliki konsistensi dan keajegan jika digunakan berulang kali (Sugiyono, 2. Kriteria yang digunakan adalah instrumen dinyatakan reliabel jika nilai Cronbach's Alpha lebih besar dari 0,60 (>0,. Hasilnya sebagai berikut. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Tabel 3. Uji Reliabilitas Soal Jumlah Nilai Batas Butir Cronbach's Keterangan Minimal Soal Alpha 0,82 0,60 Reliabel Sumber: Peneliti, 2026 Tabel 4. Uji Reliabilitas Angket Jumlah Nilai Batas Butir Cronbach's Keterangan Minimal Valid Alpha 0,81 0,60 Reliabel Sumber: Peneliti, 2026 Berdasarkan hasil analisis data pada tabel 3 dan 4, diperoleh nilai Cronbach's Alpha untuk soal 0,82 dan angket sebesar 0,81. Karena nilai Cronbach's Alpha yang diperoleh jauh lebih besar dari ambang batas minimal 0,60, maka dapat disimpulkan bahwa instrumen soal dan angket ini dinyatakan reliabel. Hal ini menunjukkan bahwa alat ukur yang digunakan memiliki keajegan yang tinggi dan sangat layak digunakan untuk mengumpulkan data penelitian di lapangan. Penerapan Model Pembelajaran Collaborative Berbasis Catur Paramita Penerapan model pembelajaran collaborative berbasis catur paramita terhadap pemahaman mahasiswa pada materi teks geguritan dilakukan dengan tiga tahap yakni . Tahap Persiapan, . Tahap Pelaksanaan, dan . Evaluasi. Untuk memperjelas tahap tersebut, penulis jelaskan sebagai berikut. Persiapan Pada tahap ini peneliti melakukan observasi untuk mengetahui kondisi awal Berdasarkan hasil observasi, pemahaman mahasiswa terhadap teks geguritan masih rendah. Hal tersebut dipertegas dengan hasil wawancara terhadap tiga orang mahasiswa yang menyatakan pemahaman akan teks geguritan masih kurang baik, yang dikarenakan, masih ada mahasiswa yang kurang mengerti bahasa didalam geguritan yang penuh diksi. Kondisi heterogen kemampuan mahasiswa membuat mahasiswa tidak secara seragam paham akan teks geguritan. Selain itu dilakukan pula pre-test untuk mengetahui kemampuan awal Hasil dari pre-test yang telah dilakukan didapatkan hasil nilai rata-rata mahasiswa terhadap pemahan teks geguritan adalah 75 yang berarti masih pada nilai Merujuk pada temuan tersebut, kemudian dilanjutkan dengan studi dokumentasi berupa rancangan model colaborative learning yang yang berbasis pada nilai-nilai catur paramita yakni maitri . inta kasih/persahabata. , karuna . aling membant. , mudita . , dan upeksa . Collaborative learning adalah model pembelajaran yang dapat digunakan khususnya oleh mahasiswa di perguruan tinggi untuk meningkatan keaktifan dalam proses pembelajaran (Respati, 2. Sementara itu nilai catur paramita digunakan untuk menstimulus mahasiswa agar bekerja menggunakan maitri . inta kasih/persahabata. , karuna . aling membant. , mudita . , dan upeksa . sehingga dalam proses kolaborasi nilai-nilai tersebut terinternalisasi dengan baik yang berakibat pada pemahaman teks geguritan menjadi lebih baik. Nilai catur paramita diinternalisasikan kedalam sintaks collaborative learning. Adapun sintaks model pembelajaran collaborative berbasis catur paramita sebagai berikut. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Tabel 5. Sintaks Model Pembelajaran Collaborative Berbasis Catur Paramita Tahap Sintaks Nilai Catur Paramita Aktivitas Dosen Aktivitas mahasiswa Orientasi Pembelajaran Maitri (Persahabata. Dosen menjelaskan pentingnya kerja sama dan sikap saling menghargai dalam Dosen persahabatan dan suasana belajar yang harmonis. Mahasiswa menyimak Dosen, teman, dan siap bekerja sama dalam kegiatan Pembentukan Kelompok Kolaboratif Maitri (Persahabata. Dosen mahasiswa ke dalam kelompok kecil secara menjelaskan tugas atau permasalahan yang harus Mahasiswa bergabung dalam kelompok, saling mengenal peran masingmasing, kerja sama yang baik. Diskusi dan Karuna (Kasih Dosen Eksplorasi Sayan. materi, sumber belajar. Kelompok atau permasalahan untuk diskusi kelompok. Mahasiswa berdiskusi, saling bertukar ide, menolong teman yang bekerja sama dalam memahami materi atau Presentasi dan Mudita Berbagi Hasil (Simpat. Dosen menyajikan hasil diskusi lain untuk menanggapi. Mahasiswa hasil kerja kelompok, memberikan tanggapan secara santun, serta terhadap hasil kerja kelompok lain. Refleksi dan Upeksha Penguatan (Tolerans. Dosen memimpin refleksi memberikan umpan balik, serta menegaskan nilainilai catur paramita yang muncul selama proses Mahasiswa menyampaikan refleksi terhadap proses belajar, yang dipelajari. Sumber: Peneliti, 2026 https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Secara substansial, empat nilai catur paramita diinternalisasikan ke dalam sintaks collaborative learning sebagai berikut: Maitri (Persahabatan/Cinta Kasi. , diwujudkan sebagai pengelolaan indikator perilaku mahasiswa yang ramah, komunikatif, serta membangun suasana belajar kelompok yang harmonis tanpa memicu konflik atau permusuhan. Secara instruksional, nilai ini diintegrasikan pada tahap orientasi pembelajaran dan pembentukan kelompok untuk menurunkan hambatan afektif mahasiswa. Karuna (Kasih Sayang/Saling Membant. , diwujudkan melalui tindakan nyata mahasiswa untuk menolong rekan sekelompok yang mengalami kesulitan kognitif dalam membedah makna leksikal maupun kontekstual teks geguritan. Nilai ini menjadi motor penggerak pada tahap diskusi dan eksplorasi kelompok. Mudita (Simpati/Apresiati. , diwujudkan melalui sikap menghargai, memberikan pujian, dan memberikan apresiasi yang santun atas kontribusi pemikiran atau presentasi kelompok lain. Nilai ini diinternalisasikan secara kuat pada tahap presentasi dan berbagi hasil untuk menumbuhkan iklim kompetisi yang sehat. Upeksa (Tolerans. , diwujudkan melalui kemampuan mahasiswa dalam mengelola emosi, menerima kritik atau koreksi secara lapang dada, serta bersikap adil/objektif saat menghadapi perbedaan pendapat atau jalan buntu diskusi. Nilai ini menjadi penutup esensial pada tahap refleksi dan penguatan. Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan dibagi menjadi lima tahap yakni sebagai berikut. Orientasi Pembelajaran Pada tahap ini dosen membuka pembelajaran dengan doa, serta presensi. Selanjutnya disampaikan tujuan pembelajaran membaca teks geguritan. Teks geguritan yang dibaca adalah teks geguritan panca yadnya. Pemilihan teks tersebut didasari pada nilai-nilai moral yang terkandung didalamnya. Dosen menjelaskkan pentingnya kerja sama saling menghargai dan sikap harmonis. Penjelasan ini sekaligus menjadi jembatan untuk menginternalisasikan nilai-nilai catur paramita, seperti maitri . dan karuna . asih sayan. , yang akan mendasari interaksi mereka nanti. Dosen menekankan bahwa pemahaman teologis dalam teks panca yadnya hanya bisa digali secara optimal jika mahasiswa mampu menumbuhkan rasa simpati . dalam kelompok. Arahan awal ini berfungsi mengkondisikan kesiapan mental mahasiswa agar proses kolaborasi berjalan secara humanis. Sementara itu, mahasiswa menyimak apa yang disampaikan oleh dosen. Setelah pemaparan konsep awal, dosen mulai membacakan contoh bait geguritan untuk memberikan pemahaman kontekstual kepada mahasiswa. Demonstrasi pembacaan tersebut berfungsi sebagai pemodelan . yang esensial untuk menjembatani antara teori sastra dan praktik apresiasi secara nyata. Melalui intonasi dan penghayatan yang dicontohkan, mahasiswa diajak untuk tidak hanya memahami struktur linguistik teks, tetapi juga merasakan kedalaman makna filosofis yang terkandung dalam konsep panca yadnya. Pendekatan instruksional ini menciptakan fondasi kognitif yang kuat, sehingga mahasiswa memiliki kerangka acuan yang jelas sebelum mereka mulai mengeksplorasi teks tersebut secara berkelompok. Dengan demikian, proses transmisi pengetahuan berlangsung secara interaktif. Pembentukan Kelompok Dalam praktik pembelajaran di ruang kelas, mahasiswa diarahkan untuk belajar secara kolaboratif . ollaborative learnin. guna menciptakan ruang dialektika yang interaktif dan dinamis (Gea et al. , 2. Pembentukan kelompok sengaja disusun secara heterogen yang terdiri dari 3-4 orang dalam satu kelompok sehingga siswa yang secara akademis lebih baik mampu bekerja sama dan saling membantu antar anggota https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dan juga dosen. Pola ini tidak hanya memecah kekakuan hierarki belajar, tetapi juga memastikan bahwa transfer pengetahuan terjadi secara organik di antara mahasiswa dengan berbagai level pemahaman. Penerapan model ini sejalan dengan pendapat Munfiatik . yang menyatakan bahwa collaborative learning mengembangkan keterampilan sosial, seperti kemampuan berkomunikasi, negosiasi, dan bekerja sama. Melalui interaksi yang intensif, mahasiswa dilatih untuk menyampaikan gagasan secara efektif sekaligus menghargai perspektif orang lain. Fokus pembelajaran tidak lagi hanya pada penguasaan materi secara individual, melainkan pada pengembangan kompetensi interpersonal yang menjadi bekal krusial dalam dunia profesional maupun sosial. Landasan emosional dan spiritual dalam kolaborasi ini diperkuat dengan nilai maitri yang mendorong siswa bekerja secara bersungguh-sungguh dan membangun relasi sosial yang harmonis (Bawana et al. , 2. Relasi yang harmonis ini menjadi prasyarat bagi terciptanya lingkungan belajar yang minim konflik destruktif. Ketika mahasiswa merasa aman dan diterima dalam kelompoknya, hambatan afektif dalam belajar akan menurun, sehingga ruang kelas berubah menjadi ekosistem yang suportif. Keharmonisan yang berakar pada nilai maitri ini memungkinkan setiap individu untuk berani bereksperimen dengan ide-ide baru tanpa rasa takut akan penghakiman, yang pada gilirannya akan mempercepat pencapaian tujuan pembelajaran secara kolektif. Diskusi dan Eksplorasi Kelompok Pada tahap ini mahasiswa diminta untuk membaca teks geguritan pada setiap kelompok melakukan diskusi dan eksplorasi untuk menemukan struktur intrinsik dari teks tersebut. Melalui penerapan nilai karuna berfungsi sebagai landasan etis yang mendorong mahasiswa untuk saling membantu dalam mengatasi hambatan kognitif, sehingga menciptakan ekosistem kelas yang suportif, inklusif, dan berorientasi pada keberhasilan bersama (Paramita et al. , 2. Dalam suasana pembelajaran seperti ini, mahasiswa tidak lagi merasa berjuang sebaliknya, mereka merasa menjadi bagian dari komunitas belajar yang saling Keberhasilan seorang mahasiswa dianggap sebagai keberhasilan seluruh kelompok, sehingga dukungan moral dan intelektual mengalir secara organik, yang pada akhirnya meningkatkan percaya diri mahasiswa dan kualitas capaian pembelajaran secara holistik. Secara lebih mendalam, internalisasi nilai karuna ini tidak hanya berdampak pada pencapaian akademik jangka pendek, tetapi juga membentuk karakter . Presentasi dan Berbagi Hasil Mahasiswa menyajikan hasil diskusi kelompoknya, yakni bagaimanakah struktur instriksik teks geguritan tersebut. Dosen menfasilitasi presentasi mahasiswa yang menyajikan hasil dan memberikan kelompok lain untuk menanggapi. Dinamika diskusi di dalam kelas dikelola secara bijaksana melalui nilai mudita yang memupuk sikap apresiatif mahasiswa terhadap pencapaian rekan sejawatnya. Berkembangnya nilai sikap penting untuk menumbuhkan suasana yang kompetitif dan sehat di mana prestasi orang lain dipandang sebagai motivasi, bukan sebagai ancaman (Yuniasih et al. , 2. Dengan adanya rasa bangga atas keberhasilan sesama, potensi munculnya gesekan sosial atau rasa iri dalam kerja kelompok dapat diminimalisir secara efektif. Lebih jauh lagi, integrasi nilai mudita dalam ruang lingkup akademik ini menciptakan ekosistem pembelajaran yang suportif, yang mana proses dialektika tidak hanya berfokus pada penguasaan materi kognitif semata. Keberhasilan mahasiswa dalam membedah struktur intrinsik geguritan menjadi cerminan keberhasilan kolektif, sehingga umpan balik yang diberikan oleh kelompok lain cenderung bersifat membangun daripada menjatuhkan. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH . Refleksi dan Penguatan Pada tahap ini dosen memimpin refleksi tentang apa yang telah didiskusikan. Mahasiswa menjawab menganai apa saja inti dari pembelajaran yang telah dilakukan. Refleksi ini sebagai pelengkap dari seluruh rangkaian interaksi yang terlaksana selama Adapun kegiatan ini merupakan penerapan nilai upeksa yang memiliki dampak pada sikap . mahasiswa dalam menghadapi tantangan. Mahasiswa mulai dapat bersikap adil, mengelola emosi, dan tidak saling menyalahkan ketika kelompok menghadapi jalan buntu atau kegagalan. Kematangan emosional ini membantu mereka tetap objektif dan tenang dalam mencari solusi. Keberhasilan nilai catur paramita pada akhirnya tercermin dengan meningkatnya kesadaran mahasiswa akan kebijaksanaan dalam bertindak dan berinteraksi (Bawana et al. , 2. Proses refleksi ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengonstruksi ulang pemahaman mereka melampaui sekadar konten Dengan mengintegrasikan nilai upeksa, mahasiswa diajak untuk mengembangkan keseimbangan batin dalam menghadapi dinamika kerja kelompok yang heterogen. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pendidikan berbasis nilai lokal mampu mentransformasi kecerdasan emosional menjadi tindakan nyata yang etis (Priyatna, 2. Mahasiswa tidak lagi melihat perbedaan pendapat sebagai konflik, melainkan sebagai bagian dari proses dialektika yang memperkaya perspektif kolektif Evaluasi Evaluasi dilakukan setelah proses pelaksanaan materi pembelajaran telah Tahap evaluasi seperti yang telah dijelaskan pada metode penelitian, dilakukan dengan post-test untuk mengetahui efektifitas model-pembelajaran collaborative berbasis catur paramita. Hasil dari post-test menunjukan terjadinya peningkatan ratarata nilai mahasiswa dari rata-rata 75 menjadi 88. Perbandingan hasil pretest dan posttest dapat dilihat pada tabel sebagai berikut Tabel 6. Hasil Pre-test dan Post-test PrePostGain Indikator Statistik (Selisi. Mean (Rata-rat. 75,00 88,00 13,00 Nilai Minimum 70,00 85,00 12,00 Nilai Maksimum 80,00 92,00 15,00 Std. Deviation 2,81 2,11 0,84 Sumber: Peneliti, 2026 Berdasarkan tabel diatas, nilai pre-test menunjukkan kemampuan awal mahasiswa dalam memahami teks geguritan sebelum diberikan perlakuan . model collaborative learning berbasis catur paramita dengan rata-rata skor 75,00, setelah diberikan tindakan, terjadi peningkatan yang signifikan dengan rata-rata skor mencapai 88,00, dengan kenaikan sebesar 13,00. Selain dilakukanya post-test dilakukan pula pemberian angket yang hasilnya sebagai berikut. Tabel 7. Hasil Angket Total Rata-rata Dimensi / Variabel Kategori Skor Dimensi 1 Maitri (Cinta Kasi. 4,50 Sangat Baik 2 Karuna (Kasih Sayan. 4,54 Sangat Baik 3 Mudita (Simpat. 4,52 Sangat Baik 4 Upeksa (Tolerans. 4,56 Sangat Baik Rata-Rata Kumulatif 4,53 Sangat Baik Sumber: Peneliti, 2026 https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Berdasarkan tabel 7, hasil rekapitulasi data capaian angket pengukuran nilai catur paramita menunjukkan hasil yang sangat merata dan tinggi di setiap dimensinya. Nilai rata-rata untuk keempat dimensi tersebut berada pada rentang 4,50 hingga 4,56, yang seluruhnya termasuk dalam kategori sangat baik. Dimensi upeksa . menduduki raihan rata-rata tertinggi dengan skor 4,56, disusul berturut-turut oleh dimensi karuna . asih sayan. sebesar 4,54, dimensi mudita . sebesar 4,52, dan dimensi maitri . inta kasi. sebesar 4,50. Tingginya perolehan pada dimensi upeksa dan karuna mengindikasikan secara kuat bahwa model collaborative learning yang diterapkan berhasil memicu kedewasaan sikap mahasiswa, terutama dalam mengelola konflik diskusi, menerima kritik, serta saling membantu saat membedah teks geguritan. Secara menyeluruh, rata-rata kumulatif sebesar 4,53 menjadi bukti empiris yang valid bahwa model pembelajaran collaborative learning berbasis catur paramita ini sangat diterima oleh subjek penelitian dalam menginternalisasikan nilai catur paramita ke dalam sistem pembelajaran mahasiswa. Uji Normalitas Setelah dilakukan pretest dan post-test, dilanjutkan dengan uji normalitas. Hasilnya sebagai berikut. Tabel 8. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov Shapiro-Wilk Variabel -Smirnov Sig. Sig. Statistic Statistic Pre-test 0,132 0,200 0,958 0,562 Post-test 0,147 0,200 0,949 0,410 Sumber: Peneliti, 2026 Hasil uji normalitas menggunakan metode Shapiro-Wilk menunjukkan nilai signifikansi Pre-test sebesar 0,562 dan Post-test sebesar 0,410. Karena nilai signifikansi tersebut lebih besar dari 0,05 . >0,. , maka disimpulkan bahwa data penelitian berdistribusi normal dan layak untuk diuji dengan statistik parametrik. Terpenuhinya asumsi normalitas ini menjadi landasan krusial untuk melakukan analisis inferensial lebih lanjut, seperti uji-t berpasangan . aired sample t-tes. , guna mengukur signifikansi pengaruh model pembelajaran yang diterapkan. Secara metodologis, distribusi data yang normal menunjukkan bahwa sebaran kemampuan mahasiswa baik sebelum maupun sesudah perlakuan tidak mengalami bias ekstrem, sehingga hasil perhitungan statistik nantinya dapat dianggap representatif dan memiliki tingkat akurasi yang tinggi. Uji Hipotesis Setelah dilakukan uji normalitas, dilanjutkan dengan uji pired sample t-test sebagai berikut: Tabel 9. Hasil Uji Paired Sample t-Test Paired Differences Mean Pre-test - -13,000 Post-test Std. Std. Deviat Error Mean 95% CI Lower 95% CI Upper 0,840 -13,419 -12,581 0,198 df Sig. -65,662 17 0,001 Sumber: Peneliti, 2026 https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Berdasarkan hasil analisis data menggunakan paired sample t-test, diperoleh nilai signifikansi . -taile. sebesar 0,001, yang mana nilai tersebut lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05 . ,001<0,. Hal ini menunjukkan bahwa Hipotesis Nol (H. ditolak dan Hipotesis Alternatif (H. Secara substansial, keputusan ini memberikan bukti empiris yang kuat bahwa model pembelajaran collaborative learning berbasis catur paramita efektif meningkatkan pemahaman mahasiswa pada materi teks Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model collaborative learning berbasis catur paramita terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap makna teks Hal ini didukung oleh peningkatan rata-rata nilai mahasiswa dari 75,00 pada tahap pre-test menjadi 88,00 pada tahap post-test, dengan hasil uji paired sample t-test menunjujkan signifikansi 0,001 . <0,. Keberhasilan ini tidak terlepas dari internalisasi nila-nilai catur paramita yang secara kuantitatif tercermin dari hasil angket yang menunjukan rata-rata komulatif 4,53 (Sangat Bai. Melalui model collaborative learning berbasis catur paramita ini, konstruksi pemahaman teks geguritan menjadi lebih optimal. Oleh karena itu untuk selanjutnya disarankan pembelajaran teks geguritan dilakukan dengan berbagai inovasi, salah satunya dengan mengambil modelmodel pembelajaran inovatif yang dikombinasikan dengan nilai-nilai teologis yang hidup di masyarakat. Daftar Pustaka