Indonesia Timur Journal of Public Health ISSN xx Universitas Indonesia Timur Volume 1. Nomor 1. Desember 2022 Faktor yang Berhubungan dengan Kecelakaan Kerja pada Supir Tronton PT. Tirta Kencana Pratama di Terminal Petikemas Makassar Factors Associated with Work Accidents in Tronton Drivers of PT. Tirta Kencana Pratama at the Makassar Container Terminal Rahma Kartini*, 2Marhtyni, 3Hardi K, 4Rosdiana Rida, 5Suriati 1,2,3,4,5 Universitas Indonesia Timur Makassar (*)Email Korespondensi: rachmakartini@gmail. Abstrak Kecelakaan kerja merupakan suatu kejadian atau peristiwa yang tidak terencana dan terkontrol yang merugikan manusia dan disebabkan oleh faktor manusia, faktor lingkungan atau kombinasi dari kedua faktor tersebut yang mengganggu proses kerja, yang dapat menimbulkan cedera kesakitan, kematian, kerusakan properti dan kerugian lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kecelakaan kerja pada supir tronton di Terminal Petikemas Makassar. Jenis penelitian yang digunakan observasional dengan rancangan Cross Sectional Study. Pengambilan sampel dengan menggunakan metode total sampling. Analisis data yaitu univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi-squareHasil penelitian berdasarkan analisis bivariat menyatakan ada hubungan waktu kerja dengan kelelahan dengan nilai p= 0,000, kelelahan kerja= 0,000, sedangkan kendaraan servis berkala tidak berhubungan terhadap kecelakaan kerja dengan nilai p= 0,650, penggunaan sabuk pengaman tidak berhubungan dengan kecelakaan kerja dengan nilai p= 670. Kesimpulan pada penelitian ini adalah ada hubungan waktu kerja dan kelehan kerja dengan kecelakaan kerja, tidak ada hubungan servis kendaraan berkala dan penggunaan sabuk pengaman. Kata Kunci: Kecelakaan Kerja. Waktu Kerja. Servis Kendaraan Berkala. Penggunaan Sabuk Pengaman. Kelelahan Kerja Abstract A work accident is an unplanned and controlled event or event that is detrimental to humans and is caused by human factors, environmental factors or a combination of the two factors that interfere with work processes, which can cause injury to illness, death, property damage and other losses. This study aims to determine the factors associated with workplace accidents at the Tronton driver at Makassar Container Terminal. This type of research is observational with the Cross Sectional Study design. Sampling using the total sampling method. Data analysis is univariate and bivariate using chi-square The results of research based on bivariate analysis stated there was a relationship between working time and fatigue with a value of p = 0,000, work fatigue = 0,000, while periodic service vehicles were not related to work accidents with a value of p = 0. 650, the use of Seat belts are not associated with work accidents with a value of p = 670. The conclusion in this study is there is a relationship between work time and workload with work accidents, there is no relationship between periodic vehicle service and the use of seat belts. Keywords: Work Accident. Working Time. Periodic Vehicle Service. Seat Belt Use. Work Fatigue 24 | P a g e Indonesia Timur Journal of Public Health ISSN xx Universitas Indonesia Timur Volume 1. Nomor 1. Desember 2022 PENDAHULUAN Kecelakaan kerja adalah kejadian atau peristiwa yang tidak diinginkan terjadi ditempat kerja yang akan merugikan manusia, harta benda atau kerugian proses. Menurut data dari International Labour Organization (ILO) tahun 2017, 2,78 juta pekerja meninggal setiap tahun karena kecelakaan akibat kerja dan penyakit akibat kerja. Sekitar 2,4 juta . ,3 perse. dari kematian ini dikarenakan penyakit kerja, sementara 380. ,7 perse. dikarenakan kecelakaan kerja. Berdasarkan data dari Kementrian Ketenagakerjaan menunjukan kecelakaan kerja di Indonesia, pada triwulan satu tahun 2018 terdapat 5. 318 kasus. Direktorat Bina Kesehatan kerja dan Olahraga. Kementrian Kesehatan mencatat tahun 2014. Jumlah kasus kecelakaan akibat kerja tahun 2011-2014, yang paling tinggi pada tahun 2013 yaitu 39. 917 kasus kecelakaan kerja (Tahun 2011=9. Tahun 2012= 21. Tahun 2014= 24. Provinsi dengan jumlah kasus kecelakaan akibat kerja tertinggi pada tahun 2011 adalah Provinsi Banten. Kalimantan Tengah dan Jawa Timur. tahun 2012 adalah Provinsi Jambi. Maluku dan Sulawesi Tengah. tahun 2013 adalah Provinsi Aceh. Sulawesi Utara dan Jambi, tahun 2014 adalah Provinsi Sulawesi Selatan. Riau dan Bali 1. Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Wilayah Sulawesi dan Maluku memperlihatkan, kecelakaan kerja tiga tahun terakhir mengalami peningkatan drastis, pada 2015 terdapat 780 kasus, 2016 terdapat 747 kasus, dan pada tahun 2017 terdapat 943 kasus. Berdasarkan penjelasan diatas peneliti ingin mengetahui faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada supir tronton PT. Tirta Kencana Pratama di Terminal Petikemas Makassar METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah Observasional dengan pendekatan cross sectional study, yaitu variabel independen dan dependen diamati pada periode waktu yang sama dengan tujuan untuk mengetahui Faktor yang berhubungan dengan kecelakaan kerja pada supir tronton PT. Tirta Kencana Pratama di Terminal Petikemas Makassar. Penelitian ini akan dilakukan di Terminal Petikemas Makassar sedangkan waktu penelitiannya mulai dari bulan Agustus 2019. Penelitian ini dilaksanakan selama 1 Bulan. Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan dari variabel yang menyangkut masalah yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah semua Supir Tronton PT. Tirta Kencana Pratama di Terminal Petikemas Makassar sebanyak 50 Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian supir tronton PT. Tirta Kencana Pratama. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan Purposive Sampling Data primer yaitu data yang diperoleh peneliti pada saat melakukan observasi langsung dengan menggunakan lembar observasi . Pengolahan Data digunakan dengan system komputerisasi melalui alat bantu program SPSS untuk memperoleh nilai statistik dalam bentuk tabel dari data hasil observasi melalui HASIL PENELITIAN Hasil analisis univariat diketahui bahwa dari 50 supir tronton yang mengalami kecelakaan 54,0%, dan yang tidak pernah mengalami kecelakaan kerja sebanyak 46,0%, kelelahan sebanyak 56,0%, dan yang tidak mengalami kelelahan sebanyak 44,0%, tidak rutin melakukan servis kendaraan berkala yaitu sebanyak 6,0% dan yang rutin melakukan servis kendaraan berkala sebanyak 94,0 %, memiliki waktu kerja tidak normal sebanyak 72,0%, dan waktu kerja normal sebanyak 28,0%, tidak menggunakan sabuk pengaman yaitu sebanyak 36,0%, dan yang Menggunakan sebanyak 64,0%. Hubungan Penggunaan Sabuk Pengaman dengan Kecelakaan Kerja Tabel 1. Hubungan Penggunaan Sabuk Pengaman dengan Kecelakaan Kerja pada Supir Tronton PT. Tirta Kencana Pratama di Terminal Petikemas Kota Makassar Tahun 2019 Kecelakaan Kerja Penggunaan Sabuk Pengaman Pernah Tidak Pernah Jumlah 25 | P a g e Universitas Indonesia Timur Volume 1. Nomor 1. Desember 2022 Indonesia Timur Journal of Public Health ISSN xx Tidak menggunakan 1,034 Menggunakan . Jumlah Sumber : Data Primer Dari tabel 1 menunjukkan bahwa variabel penggunaan sabuk pengaman tidak ada hubungan dengan kecelakaan kerja dengan nilai p= 0. Hubungan Waktu Kerja dengan Kecelakaan Kerja Tabel 2. Hubungan Waktu Kerja dengan Kecelakaan Kerja Pada Supir Tronton PT. Tirta Kencana Paratama di Terminal Petikemas Kota Makassar Tahun 2019 Kecelakaan Kerja Jumlah Pernah Tidak Pernah Waktu Kerja Waktu kerja tidak normal Waktu kerja normal Jumlah 7,786 . Sumber : Data Primer Dari tabel 2 menunjukkan bahwa variabel waktu kerja ada hubungan dengan kecelakaan kerja dengan nilai p= 0. Hubungan Servis Kendaraan Berkala dengan Kecelakaan K erja Tabel 3. Hubungan Servis kendaraan Berkala dengan Kecelakaan Kerja Pada Supir Tronton PT. Tirta Kencana Pratama di Terminal Petikemas Kota Makassar Tahun 2019 Kecelakaan Kerja Jumlah Pernah Tidak Pernah Servis Berkala Tidak Rutin 0,081 Rutin Jumlah Sumber : Data Primer Dari tabel 3 menunjukkan bahwa variabel servis kendaraan berkala tidak ada hubungan dengan kecelakaan kerja dengan nilai p= 0. 26 | P a g e Universitas Indonesia Timur Volume 1. Nomor 1. Desember 2022 Indonesia Timur Journal of Public Health ISSN xx Hubungan Kelelahan Kerja dengan Kecelakaan Kerja Tabel 4. Hubungan Kelelahan Kerja dengan Kecelakaan Kerja Pada Supir Tronton PT. Tirta Kencana Pratama di Terminal Petikemas Kota Makassar Tahun 2019 Kecelakaan Kerja Jumlah Pernah Tidak Pernah Kelelahan Kerja Lelah 11,298 Tidak Lelah Jumlah Sumber : Data Primer Dari tabel 4 menunjukkan bahwa variabel kelelahan kerja ada hubungan dengan kecelakaan kerja dengan nilai p= 0. PEMBAHASAN Hubungan Penggunaan Sabuk Pengaman dengan Kecelakaan kerja Sabuk pengaman yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sabuk keselamatan yang dirancang untuk melindungi pengendara mobil. Penggunaan sabuk pengaman yang baik dan benar pada saat berkendara meningkatkan tingkat keselamatan/perlindungan dari pengendara mobil. Penggunaan sabuk pengaman dapat memberikan perlindungan pada beberapa kondisi. Menggunakan sabuk pengaman dapat mengurangi risiko cedera ketika kecelakaan dan sabuk pengaman juga dapat membuat pengendara lebih aman dan tidak terguncang ketika berkendara yang mengakibatkan pengemudi bisa lebih fokus dan tenang dalam berkendara. Berdasarkan hasil analisis bivariat antara penggunaan sabuk pengaman dengan kecelakaan kerja, yang tidak menggunakan sabuk pengaman pernah mengalami kecelakaan kerja sebanyak 44,4% hal ini dikarenakan supir tronton berkendara dengan keadaan posisi tidak seimbang yang menyebabkan supir menyetir tidak keadaan Supir tronton yang tidak menggunakan sabuk pengaman tidak pernah mengalami kecelakaan sebanyak 55,6%, hal ini dikarenakan supir tronton bisa lebih berhati-hati dalam berkendara dan berkendara dengan kecepatan rata-rata. Supir tronton yang menggunakan sabuk pengaman pernah mengalami kecelakaan kerja sebanyak 59,4%, hal ini dikarenakan adanya faktor kelalaian dari supir yang tidak memperhatikan jalur alat berat lainnya yang mengakibatkan kecelakaan terjadi dan selalu memperhatikan kesehatan dan keselamatan pada saat bekerja. Supir tronton yang menggunakan sabuk pengaman tidak pernah mengalami kecelakaan kerja sebanyak 40,6%, hal ini dikarenakan supir berkendara deangan mematuhi aturan-aturan dalam berkendara. Dari uji chi-square antara penggunaan sabuk pengaman dengan kecelakaan kerja dapat diketahui nilai X 2 hitung (,. < X2 tabel . dan nilai p . < . artinya tidak ada hubungan penggunaan sabuk pengaman dengan kecelakaan kerja. Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Engriana Handayani dkk . menyatakan bahwa terdapat hubungan antara penggunaan alat pelindung diri dengan kecelakaan kerja pada pekerja bagian Rustic di PT. Borneo Melintang Buana Eksport Yogyakarta2. Hubungan Waktu Kerja Dengan Kecelakaan Kerja Jam kerja merupakan bagian paling umum yang harus ada pada sebuah perusahaan. Jam kerja karyawan umumnya ditentukan oleh pemimpin perusahaan berdasarkan kebutuhan perusahaan, peraturan pemerintah, kemampuan karyawan bersangkutan. Berdasarkan hasil distribusi frekuensi diperoleh dari 50 supir tronton tertadap tertinggi waktu kerja tidak normal sebanyak 56,0% dan yang waktu kerja normal sebanyak 44,0%. 27 | P a g e Indonesia Timur Journal of Public Health ISSN xx Universitas Indonesia Timur Volume 1. Nomor 1. Desember 2022 Dalam penelitian ini ditemukan supir tronton yang memiliki waktu kerja tidak normal pernah mengalami kecelakaan kerja sebanyak 71,4%, hal ini dikarenakan waktu kerja yang tidak normal akan mengakibatkan tidak fokusnya pengemudi dan juga supir meras lelah. Supir tronton memiliki waktu kerja tidak normal tidak pernah mengalami kecelakaan sebanyak 28,6%, hal ini dikarenakan supir tronton bekerja sesuai waktu kerja dan memiliki waktu istirahat yang cukup. Supir tronton memiliki waktu kerja normal yang pernah mengalami kecelakaan kerja sebanyak 31,8%, hal ini dikarenakan faktor lingkungan seperti suhu yang cukup panas. Supir yang memiliki waktu kerja normal tidak pernah mengalami kecelakaan sebanyak 68,2%, hal ini dikarenakan waktu kerja normal yang membuat kerja masih semangat bekerja dan bisa berkendara dengan baik. Hasil uji chi-square antara waktu kerja dengan kecelakaan kerja dapat diketahui nilai X2 hitung . < X2 tabel . dan nilai p . < . artinya ada hubungan waktu kerja dengan kecelakaan kerja. Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Ewin Aswar dkk . menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara durasi kerja dengan kecelakaan kerja pada pekerja bengkel mobil Kota Kendari tahun 20163. Hubungan Servis Kendaraan Berkala Dengan Kecelakaan Kerja Servis kendaraan berkala yang dimaksud dalam penelitian ini adalah servis yang dilakukan secara rutin setiap 6 bulan sekali. Berdasarkan hasil distribusi frekuensi diperoleh dari 50 supir tronton terdapat mengalami melakukan servis kendaraan berkala tidak rutin sebanyak 20,0% dan melakukan servis kendaraan berkala secara rutin sebanyak 80,0%. Dalam penelitian ini ditemukan supir tronton yang melakukan servis kendaraan berkala tidak rutin yang pernah mengalami kecelakaan kerja sebanyak 50,0%, hal ini disebabkan karena kondisi mobil yang bermasalah mengakibatkan rem mobil rusak dan menyebabkan kecelakaan. Supir tronton yang melakukan servis kendaraan berkala tidak rutin yang tidak pernah mengalami kecelakaan sebanyak 50,0%, hal ini dikarenakan walaupun kendaraan tidak diservis secara rutin tetapi supir tidak mengalami kendala saat mengemudi. Supir tronton yang melakukan servis kendaraan berkala secara rutin yang pernah mengalami kecelakaan kerja sebanyak 55,0%, hal ini dikarenakan walaupun dilakukan servis kendaraan berkala tetapi supir tronton berkendara setelah mengkonsumsi alkohol. Supir tronton yang melakukan servis kendaraan berkala secara rutin yang tidak pernah mengalami kecelakaan kerja sebanyak 45,0%, hal ini dikarenakan kondisi mobil baik karena dilakukan servis berkala rutin dan supir tronton mematuhi lalu lintas didalam terminal. Hasil uji chi-square antara servis berkala dengan kecelakaan kerja dapat diketahui nilai X2 hitung . < X2 tabel . dan nilai p . < . artinya tidak ada hubungan servis berkala dengan kecelakaan Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Windy Pranita Sari dkk . menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kondisi kendaraan dengan kecelakaan kerja pada pengemudi truk di PT. Berkat Nugraha Sinar Lestari tahun 20154. Hubungan Kelelahan dengan Kecelakaan Kerja Kelelahan kerja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah faktor gejala kelelahan yang dialami oleh supir tronton. Berdasarkan hasil distribusi frekuensi diperoleh dari 50 supir tronton yang mengalami kelelahan kerja sebanyak 44,0% dan yang tidak mengalami kelelahan kerja sebanyak 56,0%. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa supir tronton lelah dan pernah mengalami kecelakaan kerja sebanyak 75,0%, hal ini dikarenakan supir tronton mengemudi pada saat lelah dan memaksaan untuk terus Supir tronton yang lelah tidak pernah mengalami kecelakaan kerja sebanyak 25,0%, hal ini dikarenakan ketika mengalami lelah supir melakukan istirahat dan mengemudi ketika sudah lebih baik. Supir tronton tidak lelah yang pernah mengalami kecelakaan kerja sebanyak 27,3%, hal ini dikarenakan ketika supir tronton lelah ia akan beristrahat. Supir tronton tidak lelah yang tidak mengalami kecelakaan kerja sebanyak 72,7%, hal ini dikarenakan supir tronton memiliki waktu kerja normal dan memiliki isirahat yang Hasil uji chi-square antara kelelahan kerja dengan kecelakaan kerja dapat diketahui nilai X2 hitung . < X2 tabel . dan nilai p . < . artinya ada hubungan kelelahan kerja dengan kecelakaan kerja. 28 | P a g e Indonesia Timur Journal of Public Health ISSN xx Universitas Indonesia Timur Volume 1. Nomor 1. Desember 2022 Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ewin Aswar dkk . menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kelelahan kerja dengan kecelakaan kerja pada pekerja bengkel mobil Kota Kendari KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakasanakan dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara waktu kerja, kelelahan kerja dengan kecelakaan kerja pada supir Tronton PT. Tirta Kencana Pratama di Terminal Petikemas Makassar. Perlunya dibuat dan ditaati aturan tentang waktu kerja supir agar dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja dan memperhatikan kesehatan fisik agar tidak mengalami kelelahan kerja ketika sedang bekerja. DAFTAR PUSTAKA