CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. com/index. php/caradde Volume 8 | Nomor 2 | Desember . 5 e-ISSN: 2621-7910 dan p-ISSN: 2621-7961 DOI: https://doi. org/10. 31960/caradde. Pendampingan Partisipatif Revitalisasi Rumah Panggung Tahan Bencana Berbasis Arsitektur Lokal untuk Penguatan Komunitas Tangguh Citra Persada1*. Ika Kustiani 2. Ayu Komalasari Dewi 3. Suci Lestari 4. Lielianie Pratiwi Ruslie5 . Isabel Friskilla 6 Kata Kunci: Rumah Panggung. Revitalisasi. Tahan Bencana. Keywords: Stilt House. Revitalization. Disaster-Resilient. Corespondensi Author Arsitektur. Universitas Lampung Jl. Soemantri Brojonegoro No. Bandarlampung Email: citrapersada65@gmail. Article History Received: 10-09-2025. Reviewed: 12-10-2025. Accepted: 24-11-2025. Available Online: 15-12-2025. Published: 29-12-2025 Abstrak. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat Desa Hanura yang memiliki kerentanan tinggi terhadap banjir akibat curah hujan intens, sistem drainase yang kurang memadai, dan tekanan ekologis pada kawasan permukiman padat. Upaya dilakukan melalui edukasi dan perancangan rumah panggung tahan bencana berbasis arsitektur lokal dan prinsip keberlanjutan. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui pelatihan teknis, lokakarya desain, diskusi kelompok terarah, serta pembangunan prototipe rumah panggung adaptif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai prinsip hunian tahan bencana dan tumbuhnya kesadaran kolektif mengenai pentingnya mitigasi berbasis Prototipe yang dihasilkan bersifat fungsional, adaptif, dan mudah direplikasi sebagai model hunian aman di wilayah rawan. Secara keseluruhan, kegiatan ini berkontribusi dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko iklim serta mendukung terwujudnya permukiman yang lebih aman dan berkelanjutan. Abstract. This community engagement initiative aims to strengthen the capacity of residents in Hanura Village, an area highly vulnerable to flooding due to intense rainfall, inadequate drainage systems, and ecological pressures surrounding dense settlements. The program focuses on education and the design of disaster-resilient stilt houses grounded in local architectural values and sustainability A participatory approach was employed through technical training, design workshops, focus group discussions, and the construction of an adaptive stilt-house prototype. The results demonstrate improved community understanding of resilient housing principles and growing collective awareness of the importance of community-based mitigation. The resulting prototype is functional, adaptive, and easily replicable, serving as a model for safe housing in vulnerable Overall, the initiative contributes to enhancing community preparedness for climate-related risks and supports the development of safer and more sustainable settlements. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International License @2025 by Author Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 baik (Sastika et al. , 2. Selain itu, ruang fleksibilitas untuk fungsi sosial dan ekonomi masyarakat pesisir, serta menjadi buffer ruang pada saat banjir. Dengan demikian, revitalisasi rumah panggung bukan sekadar menghidupkan kearifan lokal, tetapi bentuk adaptasi arsitektural berbasis bukti yang mendukung ketahanan permukiman. Urgensi masyarakat terletak pada kebutuhan untuk membangun kapasitas teknis, meningkatkan pemahaman terhadap desain hunian tanggap bencana, dan mengintegrasikan kearifan lokal dengan praktik konstruksi kontemporer. Partisipasi komponen kunci dalam menciptakan model hunian adaptif yang tidak hanya fungsional dan replikatif, tetapi juga berkelanjutan secara sosial dan ekologis (Agustinus Hamek et al. Oleh karena itu, revitalisasi konsep rumah panggung di Desa Hanura merupakan intervensi strategis untuk memperkuat terwujudnya permukiman yang lebih aman, kontekstual, dan berorientasi masa depan. PENDAHULUAN Desa Hanura di Kecamatan Teluk Pandan. Kabupaten Pesawaran, merupakan salah satu kawasan dengan tingkat kerentanan banjir yang tinggi, sebagaimana tercermin dari peristiwa 4 Juli 2023 ketika hujan intens menyebabkan luapan sungai yang merusak permukiman di Dusun B (Pemerintah Desa Hanura, 2. Kondisi empiris ini mengindikasikan lemahnya ketahanan infrastruktur kawasan terhadap tekanan hidrometeorologi ekstrem, yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Secara etiologis, kerentanan banjir di Hanura dipengaruhi oleh kombinasi faktor fisik dan lingkungan seperti intensitas curah permukiman dengan badan sungai, kapasitas drainase yang terbatas, serta kepadatan bangunan yang tidak terencana (Wulandari et , 2. Dalam konteks yang lebih luas, perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan magnitude banjir, sehingga memunculkan kesehatan, ekonomi lokal, hingga kualitas hidup masyarakat (Adi et al. , 2. Dengan demikian, banjir bukan hanya fenomena alamiah, tetapi persoalan sistemik yang Kondisi ini diperburuk oleh minimnya kemampuan masyarakat dalam merancang hunian adaptif. Sebagian besar rumah di Hanura dibangun secara konvensional tanpa mempertimbangkan elevasi lantai, perkuatan struktur, atau material yang sesuai karakter hidrologi kawasan. Rendahnya kapasitas teknis, lemahnya kesadaran mitigasi, serta belum hadirnya model rekayasa rumah pengetahuan dan teknologi yang signifikan (Rizani et al. , 2. Akibatnya, respons masyarakat terhadap banjir cenderung bersifat reaktif, bukan preventif. Dalam konteks kebutuhan akan mitigasi struktural yang kontekstual, rumah panggung menjadi solusi yang secara arsitektural maupun ekologis relevan. Tradisi arsitektur vernakular Indonesia menunjukkan bahwa elevasi lantai mampu mengurangi paparan hunian terhadap banjir, sekaligus menciptakan kenyamanan termal yang lebih METODE Metode pengabdian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif partisipatif masyarakat pada setiap tahapan kegiatan. Pendekatan ini dipilih karena karakteristik permasalahan banjir di Desa Hanura mengenai kondisi lingkungan, pengalaman warga, serta kebutuhan hunian adaptif yang realistis dan dapat diterapkan secara mandiri. Seluruh proses dilakukan melalui observasi dokumentasi visual, serta diskusi bersama warga dan pemerintah desa. Dalam pelaksanaannya, pengabdian ini menerapkan model kualitatif partisipatif, di mana masyarakat berperan sebagai mitra utama dalam penyediaan informasi dan analisis situasi. Data terkait banjir, kerusakan rumah panggung, pola genangan, serta praktik adaptasi tradisional digali langsung dari pengalaman warga. Pendekatan ini rumah panggung adaptif yang tidak hanya Persada, et al. Pendampingan Partisipatif Revitalisasi Rumah Panggung Tahan. berorientasi pada prinsip teknis, tetapi juga selaras dengan karakter sosial budaya lokal. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi sistematis pada aliran sungai, kondisi rumah terdampak, titik genangan, kerusakan struktural bangunan, serta material kayu dan penyangga yang Wawancara mendalam dilakukan kepada lima informan kunci, yaitu Kepala Desa. Sekretaris Desa. Kepala Dusun, tokoh masyarakat, dan warga terdampak, menggunakan pedoman semiterstruktur. Dokumentasi berupa foto, video, peta desa, dan catatan lapangan digunakan untuk memperkuat validitas data dan memvisualisasikan kondisi aktual. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membaca ulang seluruh catatan lapangan, hasil wawancara, dan dokumentasi visual. Proses ini digunakan untuk memahami pola permasalahan secara menyeluruh, termasuk hubungan antara kondisi lingkungan dengan arah aliran air, tingkat kerusakan rumah panggung, serta potensi risiko saat banjir. Data wawancara memperkaya pemahaman tentang sejarah banjir, strategi adaptasi lokal, kemampuan masyarakat memperbaiki rumah, hingga hambatan ekonomi yang mereka hadapi. Dokumentasi visual berfungsi sebagai verifikasi kondisi lapangan, memperlihatkan penyangga, kondisi kolong rumah, serta titik Keseluruhan data kemudian dipadukan melalui penalaran deskriptif untuk merumuskan kebutuhan hunian adaptif yang sesuai dengan karakter banjir di Hanura, mendukung ketahanan struktur. Tahapan Pelaksanaan Pengabdian Pelaksanaan pengabdian dilakukan melalui tiga tahapan utama yang saling berkaitan dan disusun secara sistematis agar kegiatan berjalan efektif serta selaras dengan kebutuhan masyarakat. Tahap Persiapan dan Koordinasi Pada tahap awal, dilakukan pertemuan formal dengan pemerintah Desa Hanura, aparat dusun, dan tokoh masyarakat untuk menyelaraskan tujuan pengabdian serta Tim mengumpulkan data sekunder berupa peta wilayah, histori banjir, dan informasi penunjang lainnya. Instrumen pengumpulan data seperti lembar observasi, pedoman wawancara, serta perangkat dokumentasi fotoAevideo juga dipersiapkan. Tahap ini memastikan seluruh pihak memahami peran dan alur kegiatan sebelum turun ke lapangan. Tahap Survei Lapangan dan Analisis Informasi Tahap ini menjadi inti pengumpulan data primer. Tim melakukan observasi langsung terhadap kondisi fisik lingkungan, aliran sungai, titik genangan, kerusakan struktur rumah panggung, serta material yang Wawancara dilakukan kepada informan kunciAiKepala Desa. Sekretaris Desa. Kepala Dusun, tokoh masyarakat, dan warga terdampakAiuntuk menggali pengalaman mengenai banjir dan strategi adaptasi yang dilakukan. Data observasi, wawancara, dokumentasi visual, dan catatan lapangan dianalisis secara deskriptif untuk mengidentifikasi pola kerentanan dan kebutuhan desain hunian Gambar 1: Observasi langsung Dusun B yang terdampak banjir . Tahap Sosialisasi Perancangan Prototype dan Masyarakat Pada tahap ini, tim merancang berdasarkan hasil analisis sebelumnya. Desain meliputi elevasi aman terhadap banjir, penguatan struktur panggung, penggunaan material kayu yang lebih tahan lembap, dan integrasi teknologi ekologis seperti biopori, drum adaptif, serta elemen Prototype disosialisasikan melalui forum warga, presentasi visual, serta demonstrasi teknis. Warga mendapatkan pelatihan mengenai cara perawatan material, pemasangan elemen adaptif, dan pemanfaatan ruang kolong. Tahap ini bertujuan agar masyarakat mampu Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 menerapkan konsep hunian adaptif secara mandiri dalam proses pembangunan atau renovasi rumah mereka. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengabdian masyarakat di Desa Hanura menunjukkan perubahan signifikan dalam pemahaman, keterampilan, serta kapasitas adaptif warga terhadap risiko banjir yang secara historis menjadi ancaman tahunan bagi wilayah tersebut. Penguatan kapasitas ini tercermin melalui peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai hunian adaptif, kemampuan teknis dalam mitigasi lingkungan, serta terciptanya produk berupa prototipe rumah panggung adaptif yang geografis dan sosial budaya desa. Temuan ini menegaskan bahwa penanganan banjir tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan struktural, tetapi membutuhkan kombinasi pendekatan teknis, ekologis, dan sosial yang saling melengkapi. Hal ini sejalan dengan gagasan penanggulangan banjir melalui penanganan saat kejadian, serta pemulihan yang melibatkan kolaborasi aktif seluruh pemangku kepentingan (Jamilah et al. , 2. Peningkatan pengetahuan masyarakat terlihat setelah sesi edukasi dan diskusi interaktif mengenai prinsip hunian adaptif. Sebelum memaknai banjir sebagai peristiwa rutin tanpa Ketika materi tentang elevasi lantai panggung, pemilihan material tahan lembap, serta fungsi ruang kolong rumah dipaparkan melalui visualisasi dan simulasi meningkat secara signifikan. Warga mulai mampu mengidentifikasi kekurangan struktur rumah masing-masing dan memberikan masukan desain terhadap prototipe yang Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan reflektif serta kesadaran mitigatif masyarakat berada pada kategori tinggi. Proses ini mendukung pandangan bahwa pengetahuan teknis hunian di kawasan sungai harus mencakup aturan elevasi bangunan, material tahan cuaca, serta perencanaan ruang adaptif untuk menghadapi dinamika banjir (Rizki , 2. Pada aspek keterampilan, kegiatan pelatihan berhasil meningkatkan kapasitas kerusakan struktural rumah panggung, mengimplementasikan material lokal yang lebih tahan terhadap kelembapan. Pelatihan mencakup teknik pengawetan bambu, penggunaan kayu keras lokal, serta pengaplikasian beton berpori. Selain itu, kemampuan warga dalam melakukan mitigasi ekologis turut meningkat melalui pembuatan biopori, identifikasi jalur limpasan air, pembuatan sumur resapan, dan konstruksi retaining wall sederhana. Beberapa warga terdampak yang menjadi informan kunci menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterampilan teknis lingkungan, terutama pada pengukuran debit air menggunakan indikator manual yang dipasang pada retaining wall. Indikator ini memperkuat kapasitas adaptif karena memberikan warga kemampuan untuk mengamati kenaikan permukaan air secara real time, sebagaimana krusial dalam konsep adaptive capacity yang menekankan kemampuan komunitas untuk mengantisipasi dan merespons perubahan lingkungan (Qorib, 2. Dengan demikian, keterampilan masyarakat berada pada kategori sedang menuju tinggi, terutama untuk keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri. Hasil paling substansial dari kegiatan ini adalah pengembangan prototipe rumah panggung adaptif sebagai wujud penerapan arsitektur adaptif. Prototipe memiliki elevasi lantai 1,5Ae2,5 meter, struktur kayu keras diperkuat, dan dinding ringan seperti GRC serta anyaman bambu. Sistem ventilasi silang dirancang untuk mendukung kenyamanan termal, sedangkan atap seng ringan dengan sudut 35Ae40 derajat digunakan untuk memaksimalkan aliran air hujan. Prinsipprinsip ini selaras dengan konsep arsitektur amfibi yang menekankan kemampuan bangunan untuk beradaptasi dengan kondisi menggunakan material yang tersedia di lingkungan lokal (Rizani et al. , 2. Integrasi kearifan lokal dan teknologi sederhana menjadikan prototipe mudah direplikasi, meskipun aspek penggunaan kayu keras dan keterampilan konstruksi tetap Persada, et al. Pendampingan Partisipatif Revitalisasi Rumah Panggung Tahan. menjadi tantangan. Pendekatan desain yang mengakomodasi kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas dengan jalur akses landai dan ruang aman, juga sesuai dengan prinsip arsitektur inklusif dalam mitigasi bencana (Hayati et al. , 2. Pengembangan teknologi biopori juga memberikan hasil yang signifikan sebagai strategi mitigasi banjir berbasis ekosistem. Biopori tidak hanya meningkatkan infiltrasi dan mengurangi limpasan permukaan, tetapi juga berfungsi memperbaiki kualitas tanah melalui proses dekomposisi sampah organik konservasi air tanah (Brata, 2. Temuan lapangan memperlihatkan bahwa praktik biopori berhasil mengurangi genangan kecil di area yang sebelumnya sering tergenang setelah hujan intensitas sedang. Penerapan biopori memperkuat konsep Eco-DRR karena memanfaatkan proses ekologis sebagai sistem pendukung mitigasi risiko banjir. Teknologi retaining wall yang dikembangkan juga menunjukkan luaran yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan Retaining wall berpori berfungsi mempercepat infiltrasi, sementara retaining wall berbentuk undakan batu memberikan perlambatan aliran air dan menjadi indikator visual kenaikan debit. Integrasi alat pengukur debit air berbasis visual menjadikan temuan ini sangat penting dalam penguatan sistem peringatan dini. Kemampuan warga dalam memperkuat konsep adaptive capacity karena tindakan cepat sebelum kondisi kritis terjadi (Qorib, 2. Dengan demikian, retaining wall tidak hanya menjadi infrastruktur fisik, tetapi juga alat edukatif yang meningkatkan literasi banjir masyarakat. Sosialisasi dan edukasi lanjutan yang dilaksanakan pada 23 September 2025 memperlihatkan bahwa proses transfer pengetahuan berlangsung sangat efektif. Penggunaan infografis, serta demonstrasi biopori dan retaining wall memperkuat pemahaman Tingginya masyarakat dalam diskusi menunjukkan bahwa warga tidak hanya menerima informasi, tetapi mulai mengembangkan kesadaran kritis mengenai mitigasi banjir sebagai upaya kolektif. Kondisi ini sejalan dengan teori community resilience yang menekankan pentingnya pembelajaran sosial, kerja sama komunitas, dan kemampuan untuk bangkit serta beradaptasi setelah mengalami tekanan lingkungan (Qorib, 2. Warga mulai mengidentifikasi peran masingmasing dalam strategi mitigasi, termasuk keterlibatan kelompok ibu rumah tangga, pemuda, dan perangkat desa. Gambar Sosialisasi Selain fokus pada mitigasi struktural dan ekologis, kegiatan pengabdian juga menghasilkan potensi pengembangan wisata edukatif berbasis sungai dan mangrove. Lingkungan mangrove yang berada di pesisir Hanura memiliki fungsi ekologis penting sekaligus potensi ekonomi berbasis edukasi Pemanfaatan ruang air sebagai hubungan antara konservasi ekosistem. Pendekatan ini mendukung gagasan integrasi Eco-DRR berkelanjutan berbasis komunitas. Secara keseluruhan, hasil pengabdian memperlihatkan keterhubungan kuat antara temuan empiris dan kerangka teori yang Gambar 2: Contoh implementasi retaining waal tahan banjir sebagai alat pengukur debit air Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 Peningkatan pengetahuan dan adaptive capacity. Keberhasilan praktik biopori dan retaining wall memperkuat pendekatan Eco-DRR. Prototipe rumah panggung adaptif memperkuat penerapan konsep adaptive architecture. Peningkatan kerja kolaboratif dan interaksi warga Keseluruhan hasil tersebut menjadi dukungan nyata bahwa pengabdian ini tidak hanya menghasilkan perubahan teknis, tetapi juga membangun fondasi sosial, ekologis, dan struktural menuju Desa Hanura yang lebih adaptif dan resilien terhadap risiko banjir. SIMPULAN DAN SARAN Saran untuk keberlanjutan program perlu diarahkan langsung pada temuan kegiatan di Desa Hanura. Peningkatan pengetahuan warga mengenai hunian adaptif, kemampuan mereka dalam menerapkan biopori, serta pemahaman mengenai fungsi menunjukkan bahwa masyarakat telah memiliki pondasi awal untuk membangun ketahanan permukiman. Oleh karena itu, pemerintah desa dan BPBD setempat disarankan melakukan pendampingan teknis lanjutan untuk memastikan bahwa prototipe rumah panggung adaptif benar-benar dapat diimplementasikan dalam pembangunan atau renovasi rumah warga, terutama di zona dengan risiko banjir tinggi. Perguruan tinggi, melalui program pengabdian atau KKN tematik, dapat berperan sebagai mitra dalam pemantauan kinerja prototipe, mengevaluasi efektivitas biopori yang telah dipasang, dan memberikan pelatihan tambahan mengenai pemilihan material tahan air serta teknik konstruksi berbasis adaptive architecture. Selain itu, pemerintah daerah perlu mempertimbangkan integrasi pedoman teknis hasil program ini ke dalam dokumen perencanaan desa seperti RPJMDes atau Rencana Tata Ruang Mikro penerapannya bersifat struktural, bukan hanya berbasis inisiatif komunitas. Dengan memperkuat aspek teknis serta regulatif, program ini dapat memberikan kontribusi ketahanan permukiman dan pengelolaan kawasan rawan banjir secara menyeluruh. DAFTAR RUJUKAN Prayoga. , & Ahdika. Pemodelan Kerugian Bencana Banjir Akibat Curah Hujan Ekstrem Menggunakan EVT dan Copula. Jurnal Aplikasi Statistika Komputasi Statistik, 13. , 35-46. Wulandari. Sari. , & Sabila. Faktor-Faktor Kerentanan dan Upaya Mitigasi Bencana Banjir di SubDaerah Aliran Sungai. Kasus: Kecamatan Tangse. Kabupaten Pidie. Uniplan: Journal of Urban and Regional Planning, 4. , 95-109. Rizani. Setiawan. Sa'dianoor. Syarif. Alim. Wahyuni. , & Chomah. Fleksibilitas Lantai Hunian: Alternatif Konsep Mitigasi Banjir di Kota Barabai. Buletin Profesi Insinyur, 6. , 1-6. Driknianto. Salsabila. Meilani, . Maulana. , & Aliyan. Adaptasi Rumah Panggung Kampung Mahmud terhadap Kondisi Geografis sebagai Mitigasi Bencana Gempa Bumi. Media Komunikasi Geografi, 25. , 81-96. Sastika. Agustina. , & Purnama. Arsitektur Rumah Rakit di Muara Sungai Ogan Palembang. Jurnal Tekno Global, 11. Hamek. Sinong. , & Adiputra. PERSPEKTIF ARSITEKTUR RESILIENSI BANGUNAN. Jurnal Anala, 11. Satata. Cendana. , & Harijono. Kesejahteraan Psikologi (Psychological Wellbein. Ditinjau Dari Teknik Desain Arsitektur Ruang. Jurnal Teknologi, 14. , 16-21. Persada, et al. Pendampingan Partisipatif Revitalisasi Rumah Panggung Tahan. Qorib. Tantangan dan peluang kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam program pengabdian di Indonesia. Journal of Indonesian Society Empowerment, 2. , 46-57. Kota Barabai. Buletin Insinyur, 6. , 1-6. Profesi Thoyibah. , & Pamungkas. Prinsip permukiman kawasan bencana banjir di Desa Centini Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan (Doctoral Sepuluh Nopember Institute of Technolog. Wazir. , & Anwar. Adaptasi Arsitektural Rumah Panggung di Palembang. Arsir, 3. Hayati. Bararatin. Rizqiyah. Defiana. , & Erwindi. Mitigasi bencana bagi masyarakat penyandang disabilitas. Sewagati, 5. Arifah. Mokodenseho. Ahmad. Sari. Panu. Pobela. , & Maku, . Meningkatkan pengabdian masyarakat di provinsi jawa tengah: pendekatan inklusif dan berbasis teknologi. Jurnal Pengabdian West Science, 2. , 442-450. Brata. Kamir R. , & Nelistya. Anne. Lubang Resapan Biopori. Syam. Aris. Patmasari. , & Erna. Edukasi Hak dan Kewajiban Masyarakat Pelayanan Publik melalui Sosialisasi Undangundang No. 25 Tahun 2009. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (JurDikMa. Sosiosaintifik, 4. , 4348. Wahyuningsih. Widiati. Melinda. & Abdullah. Sosialisasi pemilahan sampah organik dan nonorganik serta pengadaan tempat sampah organik dan non-organik. DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2. , 7-15. Jamilah. Priono. Jumriadi. Aisyah, , & Amani. Peduli Bencana Banjir dan Sosialisasi Pencegahan Penularan Covid 19 kepada Masyarakat Terdampak Banjir di Desa Antasan Sutun Kecamatan Martapura Barat Kabupaten Banjar. Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1. , 49-55. Rizani. Setiawan. Sa'dianoor. Syarif. Alim. Wahyuni. , & Chomah. Fleksibilitas Lantai Hunian: Alternatif Konsep Mitigasi Banjir di