BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 01. No. 5 (Oktober Ae Novembe. 2022 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 860-870 Penerapan Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Peserta Didik Hilmiah Roskawati Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. PPG Prajabatan. Universitas Swadaya Gunung Jati. Cirebon. Indonesia Email: Hilmiahrskwt@email. Abstrak Oe Penelitian ini dilaksanakan untuk meningkatkan keaktifan belajar peserta didik pada materi biaya Peneliti menerapkan model Problem Based Learning (PBL) dengan subjek penelitian 20 peserta Teknik pengumpulan data penelitian ini dilaksanakan secara sistematis dengan menggunakan angket Berdasarkan pengamatan pembelajaran pada siklus pertama, tingkat keaktifan peserta didik 40%. Pada siklus kedua, pembelajaran disesuaikan dengan hasil refleksi siklus pertama mampu meningkatkan keaktifan belajar peserta didik hingga 60%. Pada siklus ketiga, dampaknya mampu meningkatkan keaktifan belajar peserta didik yakni mencapai 95% dari jumlah peserta didik dinyatakan aktif dalam pembelajaran. Dari temuan dan hasil pengamatan siklus pertama sampai siklus ketiga dapat dilihat terjadi kenaikan yang dominan dan telah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan peneliti. Peneliti menarik kesimpulan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran PBL dapat meningkatkan keaktifan belajar peserta didik. Dengan hasil ini, diharapkan mampu menjadi salah satu referensi bagi peneliti lain guna meningkatkan keaktifan belajar peserta Kata Kunci: Keaktifan Belajar. Problem Based Learning Abstract OeThis research was conducted to increase the activeness of students' learning on the material of production costs. The researcher applies the Problem Based Learning (PBL) model with 20 students as research subjects. This research data collection technique was carried out systematically by using an observation questionnaire. Based on learning observations in the first cycle, the level of student activity is 40%. In the second cycle, learning adjusted to the results of the reflection of the first cycle was able to increase the active learning of students up to 60%. In the third cycle, the impact was able to increase the learning activity of students, which reached 95% of the number of students who were declared active in learning. From the findings and observations of the first cycle to the third cycle, it can be seen that there is a dominant increase and has reached the indicators of success set by the researcher. The researcher draws the conclusion that by applying the PBL learning model, it can increase the active learning of students. With these results, it is hoped that it can become a reference for other researchers to increase the learning activity of students. Keywords: Active Learning. Problem Based Learning PENDAHULUAN Pembelajaran di Indonesia banyak yang terfokus dan berpusat pada guru, sedangkan peserta didik kurang diperhatikan keberadaannya. Akibatnya peserta didik kurang aktif selama proses belajar mengajar berlangsung karena peserta didik hanya mendengarkan ceramah dari guru. Rendahnya tingkat keaktifan belajar peserta didik mengakibatkan rendahnya pula prestasi yang diperoleh peserta didik. Pada dasarnya belajar mengajar merupakan aktivitas dimana terjadi hubungan timbal balik antara guru dengan peserta didik. Menurut Sardiman, keaktifan adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berfikir sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan (Sinar, 2018:. Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para peserta didik sibuk bekerja dan bergerak di dalam kelas, padahal seharusnya aktif mentallah yang lebih diutamakan dari pada aktif fisik dalam proses pembelajaran. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental (Mardianto, 2. Untuk merangsang aktifitas dan kreatifitas para peserta didik, guru dituntut untuk mengurangi model dan strategi pembelajaran yang monoton. Guru harus menggantinya dengan model dan strategi pembelajaran yang aktif . earning activit. dengan mengkombinasikan beberapa strategi pembelajaran yang dapat merangsang aktifitas dan kreatifitas peserta didik. Hilmiah Roskawati | https://journal. id/index. php/bullet | Page 860 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 01. No. 5 (Oktober Ae Novembe. 2022 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 860-870 Salah satu penilaian proses pembelajaran adalah melihat sejauh mana keaktifan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran. Nana Sudjana (Endang, 2. menyatakan keaktifan peserta didik dapat dilihat dalam hal : . turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya. terlibat dalam pemecahan masalah. bertanya kepada peserta didik lain atau guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya. berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah. melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru. menilai kemampuan diri dan hasil-hasil yang diperoleh. melatih diri dalam memecahkan permasalahan yang sejenis. kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang diperoleh untuk menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapi. Berdasarkan hasil observasi di SMK Negeri 1 Bone terkhusus pada mata pelajaran produk kreatif dan kewirausahaan kelas XI jurusan akuntansi dan keuangan lembaga (AKL), dilihat dari proses kegiatan belajar peserta didik, kurang aktifnya peserta didik selama kegiatan belajar berlangsung dikarenakan guru menggunakan model pembelajaran yang kurang merangsang keaktifan belajar peserta didik. Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan berpusat pada guru sehingga peserta didik cenderung pasif, tidak memperhatikan penjelasan guru serta peserta didik jadi kurang tertantang untuk berfikir kritis, analis, solutif dan aktif selama proses pembelajaran. Dari model pembelajaran yang ada, salah satu model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan adalah pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning/PBL). Secara umum PBL dapat dijelaskan sebagai model pembelajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai bahan untuk membelajarkan peserta didik dalam proses belajar, sehingga mampu mengembangkan pengetahuan dan kemampuan berfikir kritis serta keterampilan memecahkan masalah (Arie et al. , 2. Menurut Arends (Muis, 2. bahwa pembelajaran berdasarkan masalah adalah model pembelajaran yang berlandaskan konstruktivisme dan mengakomodasikan keterlibatan peserta didik dalam belajar serta terlibat dalam pemecahan masalah di mana masalah tersebut dialami langsung oleh peserta didik atau merupakan pengalaman sehari-hari peserta didik. Dengan menggunakan model PBL, peserta didik dapat diarahkan untuk berdiskusi dengan temannya mengenai berbagai masalah. Peserta didik diberikan suatu permasalahan yang harus dipecahkan bersama kelompoknya melalui tahapan-tahapan ilmiah. Di akhir tahapan akan ada peserta didik yang menyampaikan hasil dikusinya sehingga peserta didik lainnya memperhatikan dan memberi respon jika ada yang belum peserta didik padami sehingga keaktifan dalam proses pembelajaran dapat terlihat. Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan. Abuddin (Trian, 2. mengemukakan kelebihan model pembelajaran berbasis masalah adalah . dapat membuat pendidikan di sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dengan dunia kerja, . dapat membiasakan peserta didik menghadapi dan memecahkan permasalahan secara terampil, yang selanjutnya mereka dapat menggunakannya saat menghadapi permasalahan yang sesungguhnya di masyarakat kelak dan . dapat merangsang pengembangan kemampuan berfikir peserta didik secara kreatif dan menyeluruh, hal ini dikarenakan pada proses pembelajarannya peserta didik banyak melakukan kegiatan mental dengan menyoroti permasalahan dari berbagai aspek. Sedangkan Abuddin berpendapat bahwa kekurangan pembelajaran berbasis masalah adalah . terjadinya kesulitan dalam menemukan permasalahan yang sesuai dengan tingkat berfikir peserta didik, . perlunya waktu yang lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan metode konvensional, dan . mengalami kesulitan dalam merubah kebiasaan belajar dari semula belajar mendengar, mencatat, dan menghafal informasi yang disampaikan oleh guru, menjadi belajar dengan cara mencari data, menganalisis, menyusun hipotesis kemudian memecahkan permasalahan dengan sendiri. Dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah guru berperan sangat penting dalam mendampingi peserta didik sehingga diharapkan hambatan-hambatan yang ditemuui oleh peserta didik dalam proses pembelajaran dapat teratasi. Upaya meningkatkan keaktifan belajar peserta didik dituangkan dalam penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini difokuskan ke proses pembelajaran yang dapat mengatasi permasalahan belum terlihatnya keaktifan belajar peserta didik selama proses pembelajaran. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model problem based learning (PBL) yang ditujukan untuk Hilmiah Roskawati | https://journal. id/index. php/bullet | Page 861 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 01. No. 5 (Oktober Ae Novembe. 2022 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 860-870 meningkatkan keaktifan belajar peserta didik pada materi biaya produksi dalam mata pelajaran produk kreatif dan kewirausahaan kelas XI AKL 1 di SMKN 1 Bone. METODE Jenis penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas (PTK). Menurut Kemmis dan MC Taggart . alam Toharudin, 2. PTK sebagai studi yang dilakukan untuk memperbaiki diri sendiri, pengalaman kerja sendiri yang dilaksanakan secara sistematis, terencana dan dengan sikap mawas Penelitian Tindakan Kelas ini melalui tiga siklus perbaikan. Tiap siklus terdapat 4 tahapan utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan atau observasi dan reflkesi. Tahap perencanaan merupakan tahapan dimana peneliti menyusun dan menetapkan RPP berdasarkan rumusan hipotesis. RPP dilengkapi dengan scenario tindakan yang akan dilaksanakan oleh peneliti dan peserta didik selama proses pembelajaran yang sesuai alur pembelajaran dengan model problem based learning. Tahap pelaksanaan merupakan tahapan implementasi dari perencanaan yang telah dibuat dan telah tercantum dalam RPP. Tahap pengamatan atau observasi merupakan tahapan yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan, dalam tahap ini juga dilakukan pengumpulan data serta pengamatan difokuskan pada aspek : keaktifan belajar peserta didik dalam pembelajaran. Tahap refleksi merupakan tahap dimana peneliti melakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran dan hasil tes yang telah dilaksanakan serta peneliti mengidentifikasi hal-hal yang sudah dicapai dan belum dicapai sehingga dapat dilakukan perbaikan tindakan di siklus berikutnya. Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI AKL 1 SMK Negeri 1 Bone. Subjek penelitian ini adalah 20 peserta didik yang terdiri dari 5 peserta didik laki-laki dan 15 peserta didik perempuan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data primer dilakukan dengan cara menggunakan metode observasi dan angket yaitu pelaksanaan pengamatan secara langsung terhadap fenomena-fenomena yang berkaitan dengan focus penelitian. Instrument observasi keaktifan peserta didik adalah alat untuk mengamati keaktifan peserta didik selama pembelajaran. Tabel 1. Instrumen Observasi Keaktifan Peserta Didik Nilai 1 2 3 4 5 Aspek yang dinilai Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya Terlibat dalam pemecahan masalah Bertanya kepada guru atau peserta didik lainnya apabila tidak memahami persoalan yang Antusias dalam mengikuti pelajaran Percaya diri Berusaha mencari informasi yang diperlukan sebagai bahan untuk pemecahan Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru Mengeluarkan pendapat Menerapkan atau menggunakan apa yang diperoleh dalam menyelesaikan permasalahan Memiliki rasa tanggung jawab Jumlah Skor Nilai Keterangan : Pernah Jarang Hilmiah Roskawati | https://journal. id/index. php/bullet | Page 862 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 01. No. 5 (Oktober Ae Novembe. 2022 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 860-870 Kadang-kadang Sering Selalu Peserta didik dikatakan aktif, jika mendapatkan nilai 75. Hasil observasi tersebut kemudian dimasukkan kedalam tabel pengamatan di bawah ini : Tabel 2. Instrumen Rekapitulasi Hasil Observasi Keaktifan Peserta Didik Nama Nilai I II i Keaktifan II i Dst Jumlah Rata-rata Jumlah keaktifan Jumlah belum aktif Presentase keaktifan Presentse belum aktif Teknik pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara melakukan . studi kepustakaan yaitu dengan mengumpulkan data dan informasi melalui literature yang relevan dengan judul peneitian dan . studi dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumen yang ada di lokasi penelitian seperti petunjuk pelaksana, petunjuk teknis, dan sumber-smber lain yang relevan dengan objek Analisis data dilaksanakan sejak awal penelitian hingga data terkumpul, kemudian dianalisis untuk memastikan bahwa model problem based learning dapat meningkatkan keaktifan belajar peserta didik pada materi biaya produksi di kelas XI AKL 1 SMK Negeri 1 Bone. Jenis data yang dikumpulkan peneliti merupakan jenis data kualitatif. Setelah menganalisis data yang didapatkan, selanjutnya data tersebut dievaluasi dengan tujuan untuk mengetahui hasil analisis tersebut. Jika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan, maka setelah dievaluasi dilakukan revisi dan penyempurnaan untuk siklus berikutnya. Indikator kinerja dan kriteria keberhasilan Penelitian Tindakan Kelas ditentukan oleh keaktifan belajar peserta didik. Penelitian dinyatakan berhasil jika 75% peserta didik dapat dikategorikan aktif . dalam pembelajaran dengan mendapatkan nilai minimal 75. Persentase keaktifan peserta didik diperoleh dengan rumus berikut (Suseno et al. , 2. Kriteria = Keterangan : 75% - 100% 51% - 74% 25% - 50% 0% - 24% ycycycoycoycaEa ycycoycuyc ycycaycuyci yccycnycyyceycycuycoyceEa ycycoycuyc ycoycaycoycycnycoycyco x 100% : Tinggi : Sedang : Rendah : Sangat Rendah HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Siklus 1 Pada siklus 1 telah menerapkan model pembelajaran problem based learning (PBL) untuk membantu peserta didik memahami materi biaya produksi. Perencanaan Peneliti menyusun dan menetapkan RPP berdasarkan rumusan hipotesis. RPP dilengkapi dengan skenario tindakan yang akan dilaksanakan oleh peneliti dan peserta didik selama proses pembelajaran siklus pertama yang sesuai alur pembelajaran dengan model problem Hilmiah Roskawati | https://journal. id/index. php/bullet | Page 863 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 01. No. 5 (Oktober Ae Novembe. 2022 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 860-870 based learning. Terkait dengan RPP peneliti mempersiapkan lembar observasi untuk akhir tindakan pada siklus pertama ini. Pelaksanaan Tahapan ini merupakan implementasi dari perencanaan yang telah dibuat dan telah tercantum dalam RPP. Berdasarkan RPP guru melaksanakan pembelajaran dengan langkahlangkah sebagai berikut : Orientasi peserta didik pada masalah : peserta didik mengamati gambar/foto yang terdapat pada buku atau melalui penayangan video yang disajikan guru mengenai kegiatan produksi yang akan mengeluarkan biaya . Mengorganisasikan peserta didik : Guru memberi kesempatan peserta didik untuk mengidentifikasi biaya produksi prototype produk barang/jasa secara berkelompok . Membimbing penyelidikan : Peserta didik dalam kelompok yang telah dibagikan mengumpulkan data dari berbagai sumber mengenai pengertian biaya produksi dan jenisjenis biaya produksi . Mengembangkan dan menyajikan hasil karya : Peserta didik menyampaikan materi yang belum dipahami dan ditanggapi secara aktif oleh kelompok lain . Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah : Guru memberikan penguatan materi mengenai materi yang kurang dipahami oleh peserta didik. Kemudian peserta didik menyimpulkan hasil diskusi . Pengamatan atau Observasi Tahap observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Dalam tahap ini juga dilakukan pengumpulan data. Pengamatan difokuskan pada aspek : keaktifan belajar peserta didik dalam pembelajaran. Observasi dilakukan oleh peneliti selaku guru mata pelajaran produk kreatif dan kewirausahaan. Observer menggunakan lembar observasi untuk mengamati keaktifan belajar peserta didik. Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Observasi Keaktifan Peserta Didik Siklus 1 Statistik Nilai Subjek Skor Tertinggi Skor Terendah Skor Rata-rata Jumlah Peserta Didik Aktif Jumlah Peserta Didik Belum Aktif Presentase Keaktifan Presentase Belum Aktif Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat dari 20 peserta didik, ada 8 peserta didik kelas XI AKL 1 telah menunjukkan keaktifannya pada pembelajaran. Peserta didik lebih aktif mengikuti pembelajaran, interaksi antar peserta didik pun semakin terlihat dengan memecahkan kasus secara bersama-sama di dalam kelompok yang telah dibagikan guru. Namun masih ada beberapa peserta didik yang belum terbiasa dengan model PBL, sehingga masih tampak selama proses pembelajaran 12 peserta didik kurang aktif. Hal ini dibuktikan dengan hasil pengamatan keaktifan peserta didik, peneliti menemukan kenyataan bahwa pada siklus 1 persentase keaktifan peserta didik yakni 40% atau ada 8 peserta didik yang telah mengalami peningkatan keaktifan belajar. Persentase ini belum memenuhi target dari indicator keberhasilan yang ditetapkan oleh peneliti yaitu minimal 75% peserta didik kelas XI AKL 1 memiliki keaktifan pada pembelajaran. Refleksi Hilmiah Roskawati | https://journal. id/index. php/bullet | Page 864 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 01. No. 5 (Oktober Ae Novembe. 2022 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 860-870 Pada tahap ini dilakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran dan hasil tes yang telah dilaksanakan dan mendiskusikan berbagai masalah yang terjadi di kelas penelitian. Selain itu juga untuk mengidentifikasi hal-hal yang sudah dicapai atau yang belum dicapai. Dengan demikian, refleksi dapat ditentukan sesudah adanya pelaksanaan tindakan dan hasil observasi sehingga dapat dilakukan perbaikan tindakan di siklus berikutnya. Adapun permasalahan yang ditemukan yakni . pada siklus 1 beberapa peserta didik belum berani mengajukan pertanyaan terkait materi yang belum mereka pahami dan belum aktif dalam menjawab pertanyaan yang diajukan guru, . beberapa peserta didik belum percaya diri dalam menyampaikan pendapatnya dan belum berani mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas, . serta kerjasama dan keaktifan beberapa peserta didik perlu ditingkatkan. Berdasarkan hasil refleksi disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran siklus 1 belum memberikan hasil yang maksimal, maka perlu dilaksanakan siklus selanjutnya dengan beberapa revisi yang didasari dari hasil refleksi siklus 1. 2 Siklus 2 Pada siklus kedua ini, pembelajaran telah dipersiapkan lebih maksimal dengan penerapan model PBL. Pembelajaran diarahkan dengan menekankan pada kegiatan peserta didik secara berkelompok dan bekerja sama, sehingga memiliki pengalaman belajar secara langsung serta peserta didik memiliki rasa penasaran dan rasa ingin tau dalam mempelajari materi biaya produksi. Perencanaan Peneliti menyusun dan menetapkan RPP berdasarkan rumusan hipotesis. RPP dilengkapi dengan skenario tindakan yang akan dilaksanakan oleh peneliti dan peserta didik selama proses pembelajaran siklus kedua yang sesuai alur pembelajaran dengan model pembelajaran problem based learning. Terkait dengan RPP peneliti mempersiapkan lembar observasi untuk akhir tindakan pada siklus kedua ini. Pada siklus 2 ini peserta didik yang belum berani mengajukan pertanyaan pada siklus 1 diperbolehkan mengajukan pertanyaan secara pribadi ke guru, untuk kemudian guru sampaikan di depan kelas sehingga dapat ditanggapi oleh semua peserta didik. Setelah mendiskusikan bersama pertanyaan dari peserta didik yang mengajukan pertanyaan, barulah guru mengkonfirmasi kepahaman peserta didik tersebut atas penjelasan dari teman-temannya dan guru. Pelaksanaan Pada pelaksanaan tindakan siklus kedua ini awal pembelajaran biasa dilakukan dengan mengadakan apersepsi dan motivasi dengan memberi pertanyaan pada peserta didik untuk mengingatkan pelajaran pada pertemuan sebelumnya. Pada siklus kedua ini peneliti lebih menekankan pada pendalaman materi dengan lebih mengarahkan pada hasil pembelajaran yaitu peningkatan keaktifan belajar peserta didik selama pembelajaran berlangsung. Secara garis besar kegiatan ini masih sama dengan siklus sebelumnya. Namun, pada siklus ini peneliti menekankan adanya interaksi antar peserta didik dengan guru dan peserta didik dengan peserta didik lainnya sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif. Diharapkan peserta didik mengalami peningkatan keaktifan belajar. Tahapan ini merupakan implementasi dari perencanaan yang telah dibuat dan telah tercantum dalam RPP. Berdasarkan RPP guru melaksanakan pembelajaran dengan langkahlangkah sebagai berikut : Orientasi peserta didik pada masalah : peserta didik mengamati melalui penayangan video yang disajikan guru mengenai kegiatan produksi yang akan mengeluarkan biaya . Mengorganisasikan peserta didik : Peserta didik dalam kelompok yang telah dibagikan diberikan masing-masing 1 kasus untuk tiap kelompok pecahkan Hilmiah Roskawati | https://journal. id/index. php/bullet | Page 865 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 01. No. 5 (Oktober Ae Novembe. 2022 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 860-870 . Membimbing penyelidikan : Peserta didik mengumpulkan data dari berbagai sumber menngenai cara menghitung biaya-biaya produksi sebagai bahan menyelesaikan . Mengembangkan dan menyajikan hasil karya : Peserta didik secara berkelompok menyampaikan hasil diskusi yang telah mereka tuangkan pada LKPD dan ditanggapi secara aktif oleh kelompok lainnya . Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah : Guru memberikan penguatan materi mengenai materi yang kurang dipahami oleh peserta didik. Kemudian peserta didik menyimpulkan hasil diskusi . Pengamatan atau Observasi Observer melaksanakan pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran untuk membantu peneliti merekam semua kegiatan dengan menggunakan format observasi yang telah Pelaksanaan observasi ini berlangsung selama proses pembelajaran. Refleksi Pada pelaksanaan kegiatan pertemuan pertama, sebanyak 8 peserta didik aktif dalam bekerja kelompok. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan keaktifan belajar secara maksimal kepada seluruh peserta didik yang mengikuti pembelajaran. Dengan melaksanakan perencanaan pada siklus 2 ini, peserta didik jadi lebih percaya diri dalam hal mengajukan pertanyaan karena merasa jawaban dari banyak orang . eserta didik lainnya dan gur. lebih dapat membuatnya paham dengan materi dan dapat mengetahui hal lain yang terkait dengan materi dibandingkan hanya bertanya pada guru saja. Keaktifan peserta didik lebih meningkat dibandingkan siklus 1 sebagaimana tertera dalam tabel berikut: Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Observasi Keaktifan Peserta Didik Siklus 2 Statistik Nilai Subjek Skor Tertinggi Skor Terendah Skor Rata-rata Jumlah Peserta Didik Aktif Jumlah Peserta Didik Belum Aktif Presentase Keaktifan Presentase Belum Aktif Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat dari 20 peserta didik, ada 12 peserta didik sudah dikategorikan aktif dalam pembelajaran. Hasil ini dilihat dari hasil angket keaktifan peserta didik yang menunjukkan ketercapaian aktivitas belajar peserta didik mencapai 60%. Dan ditemukan 8 peserta didik yang belum aktif selama pembelajaran berlangsung. Penerapan model PBL pada pembelajaran materi biaya produksi di kelas XI AKL 1 telah berhasil meningkatkan keaktifan peserta didik, namun belum memenuhi target dari indicator keberhasilan yang ditetapkan oleh Adapun permasalahan yang ditemukan yakni sebagian besar peserta didik sudah terlihat aktif selama proses pembelajaran, namun beberapa diantaranya masih ada peserta didik yang belum percaya diri dalam hal menyampaikan hasil diskusi kelompoknya serta beberapa peserta didik belum berani mengajukan pertanyaan pada guru di depan peserta didik yang lainnya. Berdasarkan hasil refleksi disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran siklus 2 sudah tampak memberikan pengaruh terhadap keaktifan peserta didik, namun belum memenuhi persentase yang diharapkan Maka perlu dilaksanakan siklus selanjutnya dengan beberapa revisi yang didasari dari hasil refleksi siklus 2. Hilmiah Roskawati | https://journal. id/index. php/bullet | Page 866 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 01. No. 5 (Oktober Ae Novembe. 2022 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 860-870 3 Siklus 3 Pada siklus ketiga ini, pembelajaran telah dipersiapkan lebih maksimal. Pembelajaran diarahkan dengan menekankan pada kegiatan peserta didik secara berkelompok dan bekerja sama, sehingga memiliki pengalaman belajar secara langsung. Perencanaan Peneliti menyusun dan menetapkan RPP berdasarkan rumusan hipotesis. RPP dilengkap dengan scenario tindakan yang akan dilaksanakan oleh peneliti dan peserta didik selama proses pembelajaran siklus ketiga yang sesuai alur pembelajaran dengan model pembelajaran problem based learning. Terkait dengan RPP peneliti mempersiapkan lembar observasi untuk akhir tindakan pada siklus ketiga ini. Untuk membangun tingkat kepercayaan diri peserta didik yang pada siklus 2 masih kurang berani mengajukan pertanyaan, guru memberikan saran kepada peserta didik tersebut untuk mencatat terlebih dahulu pertanyaan yang akan ia ajukan untuk kemudian ia bacakan di depan guru dan peserta didik lainnya sehingga peserta didik tidak gugup saat mengajukan pertanyaan. Pada pelaksanaan pembelajaran, setelah membahas penyelesaian masalah yang diberikan pada tiap kelompok, peserta didik yang pada dua pertemuan sebelumnya dinyatakan belum aktif diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Pelaksanaan Pada pelaksanaan tindakan siklus ketiga ini awal pembelajaran biasa dilakukan dengan mengadakan apersepsi dan motivasi dengan memberi pertanyaan pada peserta didik untuk mengingatkan pelajaran pada pertemuan sebelumnya. Pada siklus ketiga ini peneliti lebih terfokus pada peserta didik yang dianggap kurang aktif selama proses pembelajaran berlangsung sehingga keaktifan belajar dapat merata pada tiap peserta didik. Secara garis besar kegiatan ini masih sama dengan siklus sebelumnya. Namun, pada siklus ini peneliti menekankan adanya interaksi antar peserta didik dengan guru dan peserta didik dengan peserta didik lainnya sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif. Diharapkan peserta didik mengalami peningkatan keaktifan belajar. Tahapan ini merupakan implementasi dari perencanaan yang telah dibuat dan telah tercantum dalam RPP. Berdasarkan RPP guru melaksanakan pembelajaran dengan langkah-langkah sebagai . Orientasi peserta didik pada masalah : Guru menayangkan video mengenai kegiatan produksi yang akan mengeluarkan biaya dan disimak oleh peserta didik . Mengorganisasikan peserta didik : Guru memberikan kasus ke peserta didik untuk dipecahkan dalam kegiatan berkelompok . Membimbing penyelidikan : Guru membimbing peserta didik mengumpulkan data dari berbagai sumber mengenai HPP dan HJP sebagai bahan menyelesaikan permasalahan . Mengembangkan dan menyajikan hasil karya : Guru meminta peserta didik menentukan perwakilan kelompok secara musyawarah untuk mempresentasikan hasil diskusi yang telah mereka tuangkan pada modul dan ditanggapi secara aktif oleh kelompok lainnya . Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah : Guru memberikan penguatan materi mengenai materi yang kurang dipahami oleh peserta didik. Kemudian peserta didik menyimpulkan hasil diskusi . Pengamatan atau Observasi Observer melaksanakan pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran untuk membantu peneliti merekam semua kegiatan dengan menggunakan format observasi yang telah disiapkan. Pelaksanaan observasi ini berlangsung selama proses pembelajaran. Refleksi Pada kegiatan refleksi berdasarkan perolehan data, peneliti dapat membuat simpulan dan tindak Pada kegiatan ini peneliti mampu menyusun simpulan tentang keberhasilan dari penelitian sesuai indikator kinerja dan kriteria yang telah ditentukan. Sesuai dengan perencanaan siklus 3 ini dimana peserta didik yang dinyatakan belum aktif diberi tanggung jawab untuk menyampaikan hasil diskusi kelompoknya sehingga membuat peserta didik yang dinyatakan belum Hilmiah Roskawati | https://journal. id/index. php/bullet | Page 867 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 01. No. 5 (Oktober Ae Novembe. 2022 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 860-870 aktif pada 2 siklus yang berlalu dapat merasa memiliki tanggung jawab untuk menjadi perwakilan dari kelompoknya menyampaikan hasil diskusi dan termotivasi untuk lebih antusias dalam memecahkan masalah bersama kelompoknya untuk Ia presentasikan di hadapan guru dan semua peserta didik. Penerapan model PBL dapat mendorong peserta didik untuk lebih aktif dalam memahami materi dilihat dari siklus 1 sampai siklus 2 terjadi peningkatan keaktifan peserta didik. Tabel 5. Rekapitulasi Hasil Observasi Keaktifan Peserta Didik Siklus 3 Statistik Nilai Subjek Skor Tertinggi Skor Terendah Skor Rata-rata Jumlah Peserta Didik Aktif Jumlah Peserta Didik Belum Aktif Presentase Keaktifan Presentase Belum Aktif Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat dari 20 peserta didik, ada 19 peserta didik kelas XI AKL 1 dikategorikam aktif dalam pembelajaran. Hasil ini dilihat dari hasil angket keaktifan belajar peserta didik yang menunjukkan ketercapaian aktivitas belajar peserta didik mencapai 95%. Hasil tersebut tentu telah memenuhi batasan keberhasilan perbaikan pembelajaran ini. Pada siklus 3 peserta didik sudah tampak berani menyampaikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas, lebih aktif dalam ikut serta memecahkan permasalahan serta peserta didik sudah berani mengajukan pertanyaan terkait materi yang belum mereka Untuk lebih jelasnya, peneliti membuat tabel rekapitulasi peningkatan keaktifan belajar peserta didik pada pembelajaran materi biaya produksi dengan penerapan model PBL pada tabel berikut : Tabel 6. Rekapitulasi Persentase Keaktifan Peserta Didik Siklus I. II, dan i Uraian Aktif Belum aktif Frekuensi Frekuensi Siklus I Siklus II Siklus i Berdasarkan data keaktifan peserta didik diatas, maka penelitian ini dinyatakan berhasil karena telah memenuhi indicator kinerja dan criteria keberhasilan dari penelitian ini. Peningkatan keaktifan belajar peserta didik tersebut dikarenakan peserta didik lebih mudah memahami materi biaya produksi dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning(PBL). Dalam sintak pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah dapat merangsang keterbukaan pikiran serta memotivasi peserta didik untuk melakukan pembelajaran yang lebih kritis dan aktif serta memberikan tantangan ke peserta didik untuk menyelesaikan suatu permasalahan sehingga ketika permasalahan tersebut mereka pecahkan mereka merasa memperoleh kepuasan tersendiri dan menemukan pengetahuan baru bagi dirinya sendiri. Peningkatan keaktifan peserta didik terjadi pada tiap siklus setelah penerapan model problem based learning dengan tiap siklusnya mendapatkan perbaikan sesuai dengan hasil refleksi di tiap akhir siklus seperti terlihat pada diagram batang berikut ini : Hilmiah Roskawati | https://journal. id/index. php/bullet | Page 868 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 01. No. 5 (Oktober Ae Novembe. 2022 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 860-870 Gambar 1. Diagram Batang Peningkatan Keaktifan Peserta Didik Siklus I. II dan i Berdasarkan hasil penelitian, terlihat bahwa penerapan model problem based learning dapat meningkatkan keaktifan belajar peserta didik. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Sukirman & Moch Solikin . mengenai penerapan model pembelajaran problem based learning untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik, yang menyatakan bahwa dengan menerapkan model PBL dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik. Temuan itu selaras dengan hasil penelitian Iwan Ramadhan . tentang penggunaan metode problem based learning dalam meningkatkan keaktifan belajar siswa pada kelas XI IPS 1, dengan hasil penelitian menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah (PBL) cukup efektif di dalam mengembangkan kemampuan peserta didik serta dalam pembelajaran ini, peserta didik juga memiliki nilai-nilai karakter yang terdapat dalam kegiatan pembelajaran seperti nilai tanggung jawab, kerjasama, demokrasi, dan lain-lain, serta peserta didik dapat berpartisipasi aktif dalam mengemukakan pendapat dan masukkannya terkait isi pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik tersebut. KESIMPULAN Berdasarkan hasil observasi pada penelitian tindakan kelas (PTK) yang telah dilaksanakan selama 3 siklus terlihat adanya peningkatan keaktifan belajar peserta didik dilihat dari peserta didik sudah dapat lebih berani untuk menyampaikan pendapatnya, mengajukan pertanyaan terkait materi yang belum peserta didik pahami dan peserta didik dapat bekerjasama dengan baik dalam pembelajaran dengan menggunakan model problem based learning. Hasil dari penelitian yang dilakukan bahwa pembelajaran menggunakan model PBL efektif di dalam meningkatkan keaktifan belajar peserta didik pada materi biaya produksi di kelas XI AKL 1 SMK Negeri 1 Bone. Hal ini dibuktikan oleh hasil peningkatan nilai dari skor rata-rata 58,4 pada siklus 1, skor rata-rata 76,5 pada siklus 2 dan skor rata-rata 89,3 pada siklus 3, dengan nilai ketuntasan pada siklus 1 yaitu dengan nilai presentase 40% menjadi 60% pada siklus 2 dan meningkat menjadi 95% pada siklus 3. Model PBL dapat diterapkan oleh guru pada mata pelajaran atau kompetensi lain untuk meningkatkan keaktifan belajar peserta didik. Guru dapat mengembangkan model pembelajaran PBL ini agar tercipta proses pembelajaran yang aktif dan tidak berpusat pada guru, agar peserta didik dapat lebih aktif serta dapat memahami materi ajar yang disampaikan oleh guru. Contain statements answering issues in the previous section and future work of the research. REFERENCES