FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIANKETUBAN PECAH DINI DI
RSUD BERKAH PANDEGLANG
FACTORS RELATED TO THE INCIDENT OF PREMIUM RUPTURE OF AMNITIS IN
BERKAH PANDEGLANG HOSPITAL
Maria MagdalenaK.
Hanifah.
Yuseva Gita Ari Astuti Dosen Prodi D3 Kebidanan.
Akademi Kebidanan Bina Husada Serang Email PenulisK: akbidbinhus@yahoo.
ABSTRAK
Menurut World Health Organization (WHO),Angka kematian ibu adalah 462 per 100.
000 kelahiran hidup dan 11 per 100.
000 hidup di negara-negara berpenghasilan tinggi 2,4 juta bayi baru lahir meninggal pada tahun 2020.
Dan pada tahun 2020 .
%) kematian balita terjadi pada masa neonatus .
hari pertama kehidupa.
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Ketuban Pecah Dini di RSUD Berkah Pandeglang Tahun 2023.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survel analitik dengan rancangan Cross Sectional Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu bersalin yang tercatat pada tahun 2023 di RSUD Berkah Pandeglang yang berjumlah 1.
689, dengan jumlah sampel sebanyak 327 ibu dan teknik pengambilan sampel dengan menggunakan random sampling.
Pengumpulan data menggunakan data sekunder yaitu diambil dari buku register.
Kemudian data di analisis secara univariat dan bivariat.
Berdasarkan hasil penelitian analisis univariat dapat diketahui bahwa dari 329 ibu bersalin mayoritas pada umur ibu tidak berisiko sebanyak 235 .
1%).
mayoritas pada paritas tidak berisiko sebanyak 167 ibu bersalin .
1%) mayoritaspada usia kehamilan berisiko sebanyak 200 ibu bersalin .
Hasil analisis bivariat menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian Ketuban Pecah Dini dengan nilai .
value=0,.
, tidak ada hubungan antara paritas dengan kejadian Ketuban Pecah Dini dengan nilai .
value=0.
bahwa ada hubungan antara Usia kehamilan dengan kejadian Ketuban Pecah Dini dengan nilai .
value= 0.
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman pribadi, kemudian sebagai bahan mahasiswa dalam meningkatkan pembelajaran dan sebagai sumber referensi untuk melakukan penelitian selanjutnya tentang ketuban pecah dini.
Kata kunci : Ketuban Pecah Dini.
Umur Ibu.
Paritas.
Usia Kehamilan Abstract According to the World Health Organization (WHO), the maternal mortality rate is 462 per 100,000 live births and 11 per 100,000 live births in high-income countries.
4 million newborns died in 2020.
And in 2020 .
%) under-five deaths occurs during the neonatal period .
irst 28 days of lif.
The general aim of this research is to determine the factors associated with the incidence of premature rupture of membranes at Berkah Pandeglang Regional Hospital in 2023.
The method used in this research is the analytical survey method with a cross sectional design.
The population in this research is all mothers who gave birth in 2023 at the Berkah Pandeglang Regional Hospital, totaling 1,689, with a total sample of 327 mothers and the sampling technique used random sampling.
Data collection uses secondary data, namely taken from the register book.
Then the data was analyzed univariately and bivariately.
Based on the results of the univariate analysis research, it can be seen that of the 329 mothers who gave birth, the majority were not at risk at the age of 235 .
1%).
majority at parity were not at risk as many as 167 mothers gave birth .
1%) the majority at gestational age at risk were as many as 200 mothers gave birth Journal Of Nursing Update.
Volume 5 Nomor 2.
Desember 2023 .
The results of the bivariate analysis stated that there was no relationship between maternal age and the incidence of premature rupture of membranes with a value .
value=0.
, there was no relationship between parity and the incidence of premature rupture of membranes with a value of .
value=0.
that there is a relationship between gestational age and the incidence of premature rupture of membranes with a value .
value = 0.
It is hoped that the results of this scientific paper can increase personal knowledge and experience, then serve as material for students to improve their learning and as a reference source for conducting further research on premature rupture of membranes.
Keywords: Premature rupture of membranes, maternal age, parity, gestational age
PENDAHULUAN
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun dan ke dalam jalan Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan .
-42 mingg.
, lahir spontan dengan presentase belakang kepala, tanpa komplikasi baik ibu maupun janin .
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan/ sebelum inpartu, pada pembukaan < 4 cm .
ase late.
Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan ataupun jauh sebelum waktu melahirkan.
KPD adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu.
KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi 12 Jam sebelum waktunya melahirkan .
Ketuban pecah dini termasuk dalam kehamilan beresiko tinggi.
Kesalahan dalam mengelola ketuban pecah dini akan membawa akibat meningkatnya angka kematian .
ibu maupun bayinya KPD merupakan komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan kurang bulan dan mempunyai kontribusi yang besar pada angka kematian perinatal pada bayi yang kurang bulan .
Menurut World Health Organization .
Angka kematian ibu di beberapa wilayah di dunia mencerminkan ketidaksetaraan dalam akses ke layanan kesehatan yang berkualitas dan menyoroti kesenjangan antara kaya dan miskin.
AKI di negara-negara berpenghasilan rendah pada tahun 2017 adalah 462 per100.
000 kelahiran hidup dan 11 per 100.
000 hidup di negara-negara berpenghasilan tinggi .
Menurut World Health Organization bahwa pada bulan pertama kehidupan adalah dimana periode paling rentan untuk kelangsungan hidup anak, dengan 2,4 juta bayi baru lahir meninggal pada tahun Dan pada tahun 2020 .
%) hampir separuh dari seluruh kematian balita terjadi pada masa neonatus .
hari pertama kehidupa.
, meningkat dari tahun 1990 .
%), karena tingkat kematian balita secara global menurun lebih cepat dibandingkan kematian neonatus.
Afrika Sub-Sahara memiliki angka kematian neonatal tertinggi di dunia .
kematian per 1000 kelahiran hidu.
dengan 43% kematian bayi baru lahir global, langsung diikuti oleh Asia tengah dan selatan .
kematian per 1000 kelahiran hidu.
, dengan 36% kematian bayi baru lahir global .
Indonesia masih memiliki angka kematian tertinggi dari jumlah kematian ibu yang dihimpun dari pencatatan program kesehatan keluargadi Kementerian Kesehatan pada tahun 2020 menunjukkan 627 kematian di Indonesia.
Dan jumlah ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun 2019 Berdasarkan penyebabnya, sebagian besar Journal Of Nursing Update.
Volume 5 Nomor 2.
Desember 2023 kematian ibu pada tahun 2020 disebabkan oleh perdarahan sebanyak 1.
330 kasus, hipertensi dalam kehamilan sebanyak 1.
110 kasus, dan gangguan sistem peredaran darah sebanyak 230 kasus .
Menurut KEMENKES RI Tahun 2021 dari seluruh kematian neonatal yang dilaporkan, sebagian besar diantaranya .
,1%) terjadi pada usia 0-6 hari, sedangkan kematian pada usia 7-28 hari sebesar 20,9%.
Sementara itu, kematian pada masa post neonatal .
sia 29 hari-11 bula.
sebesar 18,5% .
102 kematia.
dan kematian anak balita .
sia 2-59 bula.
sebesar 8,4% .
310 kematia.
Berdasarkan data Profil Kesehatan Banten tahun 2021.
Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Banten pada tahun 2017 sebanyak 226 kasus.
Tahun 2018 sebanyak 135 Kasus dan Tahun di 2019 sebanyak 215 kasus.
Berdasarkan data Profil Kesehatan Provinsi Banten.
Kabupaten/kota kasus kematian ibu tertinggi tahun 2020 adalah Kabupaten Serang yaitu 64 kasus.
Kabupaten Lebak dengan 43 kasus dan Kabupaten Pandeglang 42 kasus.
Jumlah kasus kematian ibu bersalin menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Banten Tahun 2020 yaitu Kabupaten Pandeglang.
Kabupaten Lebak.
Kabupaten Tangerang.
Kabupaten Serang.
Kota Cilegon.
Kota Tangerang Selatan.
Kota Tangerang, dan Kota Serang .
Angka Kematian Neonatal dengan Jumlah Kematian Neonatal tertinggi adalah Kabupaten Lebak yaitu 279 neonatal, diikuti Kabupaten Tangerang 228 dan Kabupaten Serang 210.
Sedangkan Kabupaten / Kota dengan jumlah kematian neonatal terendah adalah Kota Tangerang Selatan 17 neonatal.
Kota Cilegon 18 neonatal dan Kota Serang 25 neonatal .
Penyebab terjadinya ketuban pecah dini belum diketahui.
Faktor predisposisi ketuban pecah dini ialah infeksi genetalia, serviks inkompeten, gemelli, hidramnion, kehamilan preterm, disproporsi sefalopelvik (Incesmi dkk, 2.
Tetapi ada faktor resiko dari KPD diantaranya seperti Inkompetensi serviks.
eher rahi.
, polihidramnion .
airan ketuban berlebi.
, riwayat KPD sebelumnya, kelainan atau kerusakan selaput ketuban, kehamilan kembar, trauma, serviks .
eher rahi.
yang pendek (<25 m.
pada usia kehamilan 23 minggu, daninfeksi pada kehamilan seperti bakterial vaginosis .
Akibat preeklampsi yang utama adalah vasokontriksi arterial yang menyebabkan kenaikan tekanan darah dan menurunnya pasokan darah yang efektif pada banyak organ serta jaringan tubuh, termasuk Plasenta dapat mengalami infark sehingga membatasi jumlah oksigen dan nutrien yang tersedia bagi bayi.
Retardasi pertumbuhan intrauteri dapat terjadi dan keadaan hipoksia membuat janin tidak mampu untuk menahan stres persalinan yang normal yang dapat menyebabkan KPD .
Dampak terjadinya pada persalinan dengan ketuban pecah dini dapat menimbulkan beberapa masalah seperti komplikasi yang paling sering terjadi pada KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu adalah sindrom distress pernapasan (RDS= Respiratory Distress Syndrom.
, yang terjadi pada 1040% bayi baru lahir.
Resiko infeksi meningkat pada kejadian KPD.
Dan untuk semua ibu hamil dengan KPD prematur sebaiknya di evaluasi untuk kemungkinan terjadinya korioamnionitis .
adang pada korion dan amnio.
, selain itu kejadian prolaps atau keluarnya tali pusar dapat terjadi pada KPD.
Resiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada KPD preterm.
Dan hipoplasia paru merupakan komplikasi fatal yang terjadi pada KPD preterm.
Kejadiannya mencapai hampir 100% apabila KPD preterm ini terjadi pada usia kehamilan kurang dari 23 minggu .
Journal Of Nursing Update.
Volume 5 Nomor 2.
Desember 2023 Berdasarkan penelitian Rina, dkk tahun .
Dengan judul Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Ketuban Pecah Dini.
Hasil penelitian menunjukkan dan diperoleh nilai p Value=0,002 dan pada penelitian ini digunakan nilai alpha () 0,05.
Artinya ada hubungan antara umur dengan kejadian Ketuban Pecah Dini (KPD).
Hasil uji keeratan menunjukan nilai OR = 5,519 artinya ibu yang berumur <20 dan >35 memiliki peluang 5,519 kali untuk mengalami Ketuban Pecah Dini (KPD) .
Berdasarkan penelitian Tria, dkk Tahun .
Dengan judul Faktor-faktor yang berhubungan dengan Kejadian Ketuban Pecah Dini.
Hasil penelitian diperoleh P value Ou ( P Value = 0,013 ) maka dapat disimpulkanbahwa ada hubungan antara Paritas dengan kejadian KPD pada ibu hamil.
Hal ini berarti ibu hamil dengan paritas beresiko mempunyai peluang untuk terjadinya KPD PROM (Premature Rupture Of Membran.
3,665 kali lebih besar dibanding dengan paritas yang mengalami KPD PPROM (Preterm Premature Rupture Of Membran.
Berdasarkan penelitian Ikrawanty, dkk Tahun .
Dengan judul Faktor yang berhubungan terhadap Kejadian Ketuban Pecah Dini.
Hasil penelitian diperoleh nilai p .
> .
, maka dapat diambil kesimpulan bahwa ada hubungan antara Usia Kehamilan dengan Kejadian Ketuban Pecah Dini.
Berdasarkan hasil survey awal data dengan menggunakan data sekunder registrasi diruang Bersalin (V.
RSUD Berkah Pandeglang yang di lakukan peneliti, diperoleh bahwa pada tahun 2022 terdapat 793 ibu bersalin dan kasus ketuban pecah dini sebanyak 439 kasus .
%).
Sedangkan pada tahun 2023 terdapat 1.
693 ibu bersalin dan kasus ketuban pecah dini sebanyak 392 kasus .
%).
Oleh karena itu penting diamati, tentang hubungan ketuban pecah dini dengan umur ibu, paritas, dan usia
METODE
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey analitik yaitu melakukan analisis dinamika korelasi antara fenomena atau antara faktor resiko dengan faktor efek, penelitian ini menggunakan rancangan penelitian Cross sectional.
Penelitian cross sectional suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat .
oint time approac.
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2.
Pada penelitian ini populasinya yaitu adalah seluruh ibu bersalin di RSUD Berkah Pandeglang berjumlah 1.
693 ibu dengan sampel berjumlah 327 ibu bersalin menggunakan teknik pengambilan simple random Analisa data dalam penelitian ini menggunakan data kuantitatif, yakni data yang berhubungan dengan angka-angka, baik yang diperoleh dari hasil perhitungan maupun pengukuran.
Menggunakan analisis univariat dan bivariat.
Journal Of Nursing Update.
Volume 5 Nomor 2.
Desember 2023
HASIL
Analisis Univariat Kejadian Ketuban Pecah Dini Tabel .
Distribusi Frekuensi Kejadian Ketuban Pecah Dini di RSUD Berkah Pandeglang Ketuban pecah Dini Tidak Total Berdasarkan tabel 1 distribusi frekuensi kejadian Ketuban Pecah Dini dari 327 ibu bersalin, mayoritas tidak mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 253 ibu bersalin .
,4%) dan minoritas mengalami KPD sebanyak 82 ibu bersalin .
,5%).
Umur ibu Tabel 2 Distribusi Frekuensi Umur ibu di RSUD Berkah Pandeglang Umur ibu Berisiko Tidak Berisiko Total Berdasarkan Tabel 2 distribusi frekuensi umur ibu dari 327 ibu bersalin mayoritas ibu bersalin berada pada umur ibu tidak berisiko sebanyak 235 .
,1%) ibu bersalin dan minoritas ibu bersalin berada pada usia ibu berisiko sebanyak 88 ibu bersalin .
9%).
Paritas ibu Tabel 3 Distribusi Frekuensi Paritas Ibu di RSUD Berkah Pandeglang Paritas Berisiko Tidak Beresiko Total Berdasarkan Tabel 3 distribusi frekuensi paritas ibu bersalin, dari 327 ibu bersalin mayoritas ibu berada pada paritas tidak berisiko sebanyak 167 .
1%) ibu bersalin dan minoritas ibu bersalin berada pada usia ibu berisiko sebanyak 160 ibu bersalin .
9%).
Journal Of Nursing Update.
Volume 5 Nomor 2.
Desember 2023 Usia Kehamilan Tabel 4 Distribusi Usia Kehamilan di RSUD Berkah Pandeglang Usia Kehamilan Risiko Tidak Berisiko Total Berdasarkan Tabel 4 distribusi frekuensi usia kehamilan dari 327 ibu bersalin mayoritas ibu berada pada usia kehamilan Berisiko (<37 minggu dan >40 mingg.
sebanyak 200 ibu bersalin .
2%) dan minoritas ibu berada pada usia kehamilan tidak berisiko ( 37 minggu Ae 40 minggu ) sebanyak 127 ibu bersalin .
8%).
Analisis Bivariat
Hubungan umur ibu dengan kejadian Ketuban Pecah Dini Tabel 5
Hubungan Umur Ibu dengan Kejadian Ketuban Pecah Dini di RSUD Berkah Pandeglang
Ketuban Pecah Dini Umur
Tidak Total
Berisik
Tidak Total
0,47
Berdasarkan table 5 menunjukkan hasil analisis hubungan antara umur ibu dengan kejadian Ketuban Pecah Dini diperoleh bahwa dari jumlah responden usia ibu yang berisiko (< 20 dan> 35 tahu.
sebanyak 88 ibu bersalin dengan mayoritas tidak mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 71 ibu bersalin .
%) dan minoritas mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 17 ibu bersalin .
,3%).
Sedangkan, dari jumlah responden usia ibu tidak berisiko .
-35 tahu.
sebanyak 239 ibu bersalin dengan mayoritas tidak mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 182 ibu bersalin .
,2%) dan minoritas mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 57 ibu bersalin .
,8%).
Hasil uji statistik diperoleh p value = 0,472 .
0,.
Maka.
Ha ditolak dan dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian ketuban pecah dini.
Hubungan paritas ibu dengan kejadian Ketuban Pecah Dini Tabel 6 Journal Of Nursing Update.
Volume 5 Nomor 2.
Desember 2023 Hubungan Paritas dengan Kejadian Ketuban Pecah Dini di RSUD Berkah Pandeglang Ketuban Pecah Dini Paritas Risiko Tidak Total Tidak .
alue Total
% F
0,384
Berdasarkan tabel 6 menunjukkan hasil analisis hubungan antara paritas dengan kejadian Ketuban Pecah Dini diperoleh bahwa dari jumlah responden paritas yang berisiko .
dan >.
sebanyak 160 ibu bersalin dengan mayoritas tidak mengalami Ketuban Pecah Dini 120 ibu bersalin .
,0%) dan minoritas mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 40 ibu bersalin .
,5%).
Sedangakan, jumlah responden paritas tidak berisiko .
sebanyak 167 ibu bersalin dengan mayoritas tidak mengalami KetubanPecah Dini sebanyak 133 ibu bersalin .
,6%) dan minoritas mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 34 ibu bersalin .
,4%).
Hasil uji statistic diperoleh p value=0,192 .
40 mingg.
sebanyak 200 ibu bersalin dengan mayoritas tidak mengalami Ketuban Pecah Dini 167 ibu bersalin .
,5%) dan minoritas mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 38 ibu bersalin .
,5%).
Sedangkan jumlah responden usia kehamilan aterm .
-40 mingg.
tidak berisiko sebanyak 127 ibu bersalin dengan mayoritas tidak mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 86 ibu bersalin .
,7%) dan minoritas mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 41 ibu bersalin .
,3%).
Hasil uji statistik diperoleh p value = 0,01 .
35 tahu.
sebanyak 88 ibu bersalin dengan mayoritas tidak mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 71 ibu bersalin .
%) dan minoritas mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 17 ibu bersalin .
,3%).
Sedangkan, dari jumlah responden usia ibu tidak berisiko .
-35 tahu.
sebanyak 239 ibu bersalin dengan mayoritas tidak mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 182 ibu bersalin .
,2%) dan minoritas mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 57 ibu bersalin .
,8%).
Hasil uji statistik diperoleh p value = 0,472 .
0,.
Maka.
Ha ditolak dan dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian ketuban pecah dini.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Tria, dkk .
yang berjudul Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ketuban pecah dini di RSIA Kenari Graha Medika Cileungsi Bogor Tahun 2018 didapatkan dengan nilai p value1,000.
Diperkuat dengan penelitian Ikrawanty,dkk .
dengan judul Faktor yang berhubungan terhadap kejadian ketuban pecah dini di RSIA Sitti Khadijah Makassar Tahun 2019 dengan nilai p value 0.
Usia ibu tidak ada hubungannya dengan kejadian ketuban pecah dini, pada usia ibu yang kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun termasuk dalam kategori risiko tinggi akann tetapi tidak ada hubungannya dengan kejadian ketuban pecah dini.
Selain dari status kesehatan ibu sendiri dipengaruhi juga oleh plasenta, karena plasenta adalah penghubung antara ibu dengan janin baik secara fungsional maupun mekanik.
Penurunan fungsi plasenta dulihat dari pematangan dan pelapisan dari plasenta berangsur- angsur terjadi pada umur kehamilan 34-36 minggu kehamilan .
Hubungan antara Paritas dengan Kejadian Ketuban Pecah dini Hasil peneliti menunjukkan hasil analisis hubungan antara paritas dengan kejadian Ketuban Pecah Dini diperoleh bahwa dari jumlah responden paritas yang berisiko .
dan > .
sebanyak 160 ibu bersalin dengan mayoritas tidak mengalami Ketuban Pecah Dini 120 ibu bersalin .
,0%) dan minoritas mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 40 ibu bersalin .
,5%).
Sedangakan, jumlah responden paritas tidak berisiko .
sebanyak 167 ibu bersalin dengan mayoritas tidak mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 133 ibu bersalin .
,6%) dan minoritas mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 34 ibu bersalin .
,4%).
Hasil uji statistik diperoleh p value =0,384 .
0.
maka Ha ditolak dan dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara paritas dengan kejadian ketuban pecah dini.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Kiki, dkk .
yang berjudul Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ketuban pecah dini pada ibu bersalin di BPM Sri Puspa Kencana Bogor Tahun 2021 didapatkan nilai p value 0,41.
Dan diperkuat dengan penelitian Tutik Iswanti .
yang berjudul Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ketuban pecah dini Journal Of Nursing Update.
Volume 5 Nomor 2.
Desember 2023 pada ibu bersalin Tahun 2017 didapatkan nilai p value 0,976 .
Paritas ibu tidak ada hubungannya dengan kejadian ketuban pecah dini, karena wanita yang telah melahirkan beberapa kali maka akan lebih berisiko tinggi, dan wanita yang pernah mengalami KPD pada kehamilan sebelumnya serta jarak kelahiran yang terlalu dekat akan lebih berisiko mengalami KPD pada kehamilan berikutnya .
Pada primipara seharusnya tidak rentan terhadap kejadian KPD sebab la belum pernah mengalami proses melahirkan atau mengalami peregangan pada uterusnya dan juga vaskularisasi serta jaringan ikat pada selaput ketuban juga masih kuat, hal ini disebabkan kondisi psikologis ibu yaitu emosi dan kecemasan dalam kehamilan.
Penyebab KPD yaitu multiparitas.
Multipara lebih besar kemungkinan terjadinya karena proses pembukaan serviks lebih cepat daripada nulipara, sehingga dapat terjadi pecahnya ketuban lebih dini.
Pada kasus infeksi tersebut dapat menyebabkan terjadinya proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk memudahkan proteolitik ketuban pecah.
sehingga Pada multipara, karena adanya riwayat persalinan yang lalu maka keadaan jaringan ikatnya lebih longgar dari pada Pada multipara jaringan ikat yang menyangga membran ketuban makin berkurang sehingga multipara lebih berisiko terjadi ketuban pecah dini dibandingkan nulipara.
Berdasarkan asumsi peneliti, konsistensi serviks pada persalinan sangat memengaruhi terjadinya ketuban pecah Pada multipara dengan konsistensi serviks yang tipis, kemungkinan terjadinya ketuban pecah dini lebih besardengan adanya tekanan intrauterin pada saat persalinan .
Hubungan antara Usia Kehamilan dengan Kejadian Ketuban Pecah Dini Hasil peneliti menunjukkan hasil analisis hubungan antara usia kehamilan dengan kejadian Ketuban Pecah Dini diperoleh bahwa dari jumlah responden usia kehamilan preterm (<37 dan >40 mingg.
sebanyak 200 ibu bersalin dengan mayoritas tidak mengalami Ketuban Pecah Dini 167 ibu bersalin .
,5%) dan minoritas mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 38 ibu bersalin .
,5%).
Sedangkan, jumlah responden usia kehamilan aterm .
-40 mingg.
sebanyak 127 ibu bersalin dengan mayoritas tidak mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 86 ibu bersalin .
,7%) dan minoritas mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 41 ibu bersalin .
,3%).
Hasil uji statistik diperoleh p value = 0,001 .
42 minggu .
reterm dan postter.
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan, hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan.
Ketuban pecah dini preterm adalah pecahnya ketuban sebelum usia ke- hamilan 37 minggu.
Usia kehamilan preterm adalah 28-36 minggu .
pada trimester ketiga selaput ketuban mudah pecah, melemahnya kekuatan selaput ketuban ada hubungannya dengan pembesaran uterus,kontrak si rahim dan gerakan janin.
Hal Journal Of Nursing Update.
Volume 5 Nomor 2.
Desember 2023 ini dikarenakan pecahnya selaput ketuban berkaitan dengan perubahan proses biokimia yan terjadi dalam kolagen matriks ekstraseluler amnion, korion, dan apotosis membrane janin.
Membran dan desidua bereaksi terhadap stimuli seperti infeksi dan peranan selaput ketuban dengan memproduksi mediator seperti prostaglandin, sitokinin, dan protein hormone yang merangsang aktivitas KPD pada kehamilan premature disebabkan oleh adanya faktor-faktor eksternal misalnya infeksi yang menjalar dari vagina, polihidramnion inkompeten serviks solusio plasenta .
KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan hasil penelitian tentang AuFaktor-Faktor yang berhubungan dengan kejadian ketuban pecah dini di RSUD Berkah Pandeglang Ay maka peneliti memperoleh kesimpulan sebagai berikut :Ibu bersalin yang mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 74 .
,6%) dan yang tidak mengalami Ketuban Pecah Dini sebanyak 253 .
,4%).
Umur ibu yang beresiko sebanyak 88 .
,9%) dan yang tidak beresiko sebanyak 235 .
,1%).
Paritas yang beresiko sebanyak 160 .
,9%) dan yang tidak beresiko sebanyak 167 .
,1%).
Usia kehamilan yang beresiko sebanyak 200 .
,2%) dan yang tidak beresiko sebanyak 127 .
,8%).
Tidak ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian ketuban pecah dini dengan p value 0,472.
Tidak ada hubungan antara paritas dengan kejadian ketuban pecah dini dengan p value0.
Ada hubungan antara usia kehamilan dengan kejadian ketuban pecah dini dengan p value 0,01 UCAPAN TERIMAKASIH Terimakasuh kepada Bapak/Ibu Direktur RSUD Berkah Pandeglang telah memberikan ijin untuk meneliti di lingkungan RS.
DAFTAR PUSTAKA