JOURNAL OF EDUCATIONAL REVIEW AND RESEARCH Vol. 8 No. December 2025. Page: 152 Ae 163 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Kemampuan Literasi Membaca dan Keaktifan Belajar Siswa Muhammad Irsyad Abidin 1. Gunawan*2. Nova Abadul Fahmi 3 Universitas Muhammadiyah Purwokerto1,2,3 achmatdirsyad@gmail. com1, gun. oge@gmail. com*2, badulpesek88@gmail. Keywords : Problem Based Learning. keaktifan belajar. IPAS. sekolah dasar ABSTRACT Literasi membaca dan keaktifan belajar merupakan kompetensi fundamental yang perlu dikembangkan sejak jenjang sekolah dasar guna mendukung pembelajaran abad ke-21. Namun, hasil observasi awal di kelas i A SD Negeri 3 Linggasari menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa masih belum optimal dan keaktifan belajar cenderung rendah. Kondisi ini ditandai dengan rendahnya hasil pretest literasi membaca, perilaku pasif siswa selama pembelajaran, serta minimnya partisipasi dalam diskusi dan tanya jawab. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi membaca dan keaktifan belajar siswa melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran IPAS. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam tiga siklus, masing-masing meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian terdiri atas 25 siswa kelas i A SD Negeri 3 Linggasari tahun ajaran 2024/2025. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes tertulis dan lembar observasi, sedangkan analisis data menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model PBL dapat meningkatkan kualitas membaca, serta keaktifan belajar siswa secara signifikan. Persentase ketuntasan kemampuan literasi membaca meningkat dari 62,5% pada Siklus I menjadi 76,0% pada Siklus II dan 80,0% pada Siklus i. Sementara itu, persentase keaktifan belajar siswa meningkat dari 60,0% pada Siklus I menjadi 76,0% pada Siklus II dan mencapai 84,0% pada Siklus i. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model Problem Based Learning efektif digunakan untuk meningkatkan literasi membaca dan keaktifan belajar siswa sekolah dasar. PENDAHULUAN Seiring dengan perubahan dinamika sosial dan kemajuan teknologi, literasi merupakan komponen kognitif yang krusial dan harus dikembangkan pada era abad 21. Konsep ini tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2015, yang membahas pengembangan karakter dan menekankan pentingnya pendidikan literasi berbasis pendidikan. Dalam peraturan tersebut, literasi didefinisikan sebagai kemampuan untuk membentuk karakter siswa melalui penguasaan keterampilan membaca, menulis, berpikir kritis, dan pengolahan informasi. Literasi sangat penting dalam membantu anak-anak mengembangkan kecerdasan sosial dan emosional serta karakter mereka, keselarasan ini ditemukan dalam Peraturan Nomor 20 Tahun 2018, yang mana mengatur dan menjelaskan mengenai penguatan pada pendidikan karakter yang di dukung juga oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kedua peraturan tersebut menyatakan bahwa pengajaran membaca dan menulis merupakan bagian penting dari program pendidikan nasional Indonesia, yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan siswa di berbagai bidang. Literasi, menurut etimologinya, mencakup lebih dari sekadar membaca dan menulis, tetapi juga meliputi kesanggupan dalam memahami, memanfaatkan dan menganalisis segala bentuk informasi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks sekolah dasar, literasi dapat diartikan sebagai kemampuan siswa atau individu untuk memahami, membaca, serta memproses informasi dari aktivitas membaca dan menulis (Fahrianur dkk. , 2023, hlm. Untuk menegaskan temuan awal di lapangan, peneliti melakukan diskusi dan wawancara bersama guru kelas i A SD Negeri 3 Linggasari. Hasil diskusi tersebut memperjelas bahwa sejumlah siswa masih menghadapi kendala pada saat membaca dan cenderung menunjukkan perilaku pasif selama sesi Hal ini tentu menjadi perhatian bagi peneliti, mengingat membaca merupakan keterampilan dasar yang krusial untuk pengembangan kemampuan literasi. Hal tersebut diperkuat dengan hasil pretest kemampuan literasi dengan menggunakan tes tertulis di kelas i A, yang menunjukkan hasil capaian yang belum optimal. Persentase ketuntasan kemampuan literasi berada pada angka 44% . dari 25 siswa mencapai nilai KKTP Ou. Selain itu, pada kegiatan observasi pada hari Rabu, 19 Februari 2025, diperoleh informasi bahwa sebagian besar siswa menunjukkan sikap pasif selama kegiatan belajar mengajar, jarang berpartisipasi dalam diskusi, dan enggan mengajukan pertanyaan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kemampuan literasi dan keaktifan belajar siswa perlu ditingkatkan. Mengingat bahwa proses pembelajaran secara fundamental memengaruhi hasil belajar, minat, motivasi, dan keaktifan siswa, perbaikan terhadap masalah-masalah menjadi sesuatu yang penting untuk dilakukan. Sebagai hasilnya, peneliti perlu menerapkan strategi atau model pembelajaran yang lebih efektif guna meningkatkan literasi siswa, terutama kemampuan mereka dalam memahami teks informatif, serta mendorong mereka lebih aktif dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Dalam bidang ilmu pengetahuan, model Problem Based Learning (PBL) menawarkan alternatif bagi peningkatan mutu pembelajaran yang cukup menjanjikan. Konsep dari model ini diharapkan dapat membuat siswa terdorong agar terlibat secara lebih aktif dalam menyelesaikan masalah-masalah nyata. diskusi kolaboratif, dan eksplorasi konsep baik secara individual maupun kelompok. Efektivitas PBL dalam meningkatkan keaktifan siswa telah didukung oleh berbagai penelitian. Sebagai contoh, studi oleh Yunitasari dan Hardini . menunjukkan peningkatan signifikan dari segi keaktifan siswa kelas IV SD dalam pembelajaran daring setelah implementasi model PBL, dengan rata-rata keaktifan belajar meningkat dari 90,16 pada siklus I menjadi 118,57 pada siklus II. Berdasarkan kondisi permasalahan yang dijabarkan di atas, peneliti menyusun rumusan masalah penelitian sebagai berikut: . Bagaimana penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat digunakan untuk meningkatkan literasi membaca dan keaktifan belajar siswa kelas i A di SD Negeri 3 Linggasari tahun ajaran 2024/2025? . apakah implementasi model PBL dapat meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa kelas i SD Negeri 3 Linggasari tahun ajaran 2024/2025? . Apakah siswa kelas i SD Negeri 3 Linggasari mengalami peningkatan keaktifan belajar sebagai hasil dari penerapan model PBL? Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 152 Ae 163 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Tujuan adanya Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah guna mencapai hal-hal sebagai berikut: . mendeskripsikan proses penerapan model Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan literasi membaca dan keaktifan belajar siswa kelas i SD Negeri 3 Linggasari pada tahun ajaran 2024/2025. mendorong peningkatan kemampuan literasi membaca siswa kelas 3 SD Negeri 3 Linggasari tahun ajaran 2024/2025, dan . meningkatkan keaktifan belajar pada siswa kelas 3 SD Negeri 3 Linggasari tahun ajaran 2024/2025. METODE Dalam pelaksanaan PTK atau penelitian tindakan kelas, peneliti berperan menjadi guru model. Peneliti dibantu rekan sejawat yang berperan menjadi observer . , dengan pelaksanaan melalui satu sesi pembelajaran dalam tiga siklus. Sebanyak dua puluh lima siswa kelas i A SD Negeri 3 Linggasari, dengan jumlah tiga belas perempuan dan dua belas laki-laki berusia sekitar 9-10 tahun, terlibat sebagai subjek dalam penelitian ini. Metodologi penelitian mengikuti empat langkah menurut Kemmis dan Mc Taggart (Arikunto dkk. , 2. , di antaranya yang pertama adalah perencanaan, dilanjut dengan pelaksanaan, pengamatan, dan terakhir yaitu refleksi dengan fokus utama kepada siswa kelas i A SD Negeri 3 Linggasari. Data dikumpulkan melalui tes tertulis dan lembar observasi, kemudian divalidasi dengan triangulasi sumber dan teknik, serta dianalisis menggunakan metode milik Miles dan Huberman (Sugiyono, 2. yang mencakup reduksi, penyajian, serta penarikan akan kesimpulan data. Evaluasi dalam penelitian ini mencakup penerapan model Problem Based Learning (PBL) serta dampaknya terhadap kemampuan literasi membaca dan keaktifan belajar siswa dengan capaian yang diharapkan akan keberhasilan penelitian sejumlah 75%. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) terhadap Guru dan Siswa Dalam penelitian ini, terdapat lima langkah yang telah dilaksanakan dalam Penerapan model Problem Based Learning (PBL), yaitu: . orientasi siswa terhadap masalah. pengorganisasian siswa untuk belajar. membimbing penyelidikan individu dan juga kelompok. menyajikan dan mengembangkan hasil karya, . mengevaluasi dan menganalisis proses pemecahan masalah. Adapun hasil observasi diterapkannya langkah-langkah pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning (PBL) dari siklus I sampai i sebagai berikut. Tabel 1. Perbandingan Antarsiklus Hasil Observasi Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) terhadap Guru dan Siswa Siklus I Siklus II Siklus i Guru Siswa Guru Siswa Guru Siswa Langkah-Langkah Orientasi Siswa terhadap Masalah Pengorganisasian Siswa untuk Belajar Membimbing Penyelidikan Individu dan Kelompok Menyajikan dan mengembangkan Hasil Karya Menganalisi Proses Pemecahan Masalah Rata-rata Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 152 Ae 163 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Tabel 1 menunjukkan adanya kenaikan yang cukup signifikan sepanjang kegiatan pembelajaran, dimulai dari siklus I sampai dengan siklus i. Mengikut data dalam tabel di atas, dari siklus I ke siklus II terlihat adanya peningkatan pada kinerja guru sebanyak 8,3%, begitupun siklus II ke siklus i terindikasi adanya peningkatan sebesar 6,3%. Data mengenai partisipasi siswa menunjukkan peningkatan yang konsisten, dengan meningkatnya persentase sebanyak 8,3% antara siklus I dan siklus II, serta peningkatan sejumlah 6,8% antara siklus II dan juga siklus i. Pada sintak orientasi peserta didik terhadap masalah, hasil observasi terhadap guru dan siswa mencapai 75,0% terlihat pada Siklus I, kemudian mengalami peningkatan cukup tinggi sebesar 83,3% pada Siklus II, dan tetap stabil di 83,3% pada Siklus i. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan guru dalam menyajikan masalah dan pemahaman siswa terhadap masalah telah Selanjutnya, pada tahap pengorganisasian siswa untuk belajar, terdapat peningkatan signifikan pada setiap siklus. Tingkat partisipasi guru dan siswa mengalami peningkatan dari yang awalnya 75,0% pada Siklus I menjadi 83,3% pada Siklus II, dan mencapai 91,7% pada Siklus i. Peningkatan ini merupakan hasil dari kemampuan siswa yang semakin baik dalam melaksanakan belajar secara mandiri maupun kolaboratif, serta peningkatan kapasitas guru dalam membimbing kelompok belajar. Pada tahapan membimbing penyelidikan individu dan kelompok, persentase guru dan siswa juga mengalami peningkatan dari awalnya 66,7% di Siklus I menjadi sebanyak 83,3% di Siklus II dan tetap stabil di 83,3% pada Siklus i. Pertumbuhan ini adalah cerminan langsung dari keberhasilan guru dalam memfasilitasi penyelidikan siswa dan meningkatkan kemampuan siswa dalam memperoleh serta memproses informasi. Sementara itu, pada fase menyajikan dan mengembangkan hasil karya, hasil observasi menunjukkan 83,3% untuk guru dan siswa di Siklus I. Meskipun persentase guru dalam menerapkan langkah menurun menjadi 75,0% di Siklus II, persentase siswa tetap 83,3%. Angka ini kemudian meningkat menjadi 91,7% untuk guru di Siklus i, sementara siswa tetap 83,3%. Hal ini menunjukkan bahwa guru semakin mahir dalam membantu siswa menampilkan hasil pekerjaan mereka. Terakhir, pada tahap menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah, terdapat kemajuan yang signifikan. Pada Siklus I, proporsi guru dan siswa masing-masing sebesar 58,3%. Angka ini meningkat menjadi 83,3% untuk guru dan 66,7% untuk siswa di Siklus II, lalu mencapai 91,7% untuk keduanya di Siklus i. Data ini menunjukkan peningkatan yang jelas dalam kemampuan siswa dan guru untuk berpikir kritis serta mengevaluasi solusi permasalahan yang telah dipelajari. Secara keseluruhan, hasil rata-rata observasi implementasi model PBL menunjukkan peningkatan pada setiap siklus. Peningkatan Ae peningkatan yang signifikan ini membuktikan bahwa penerapan dari model Problem Based Learning, atau dapat disingkat PBL, telah dilaksanakan dengan baik, yang hasilnya dapat membantu meningkatkan keterlibatan siswa dan juga guru selama proses Peningkatan Kemampuan Literasi Membaca Siswa Kemampuan akan literasi membaca yang peneliti gunakan sebagai acuan penelitian diperoleh dari buku Framework Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dengan indikator berikut. Tabel 2. Indikator Kemampuan Literasi Membaca Aspek Indikator Kemampuan Menemukan informasi tersurat atau eksplisit yang dan relevan dengan tujuan bacaan. mengambil informasi Kemampuan Menginterpretasikan serta membuat simpulan informasi yang terkandung dalam teks membuat simpulan Kemampuan evaluasi Mengevaluasi dan merefleksi isi dan struktur bacaan dan refleksi isi teks dalam konteks kehidupan sehari-hari. Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 152 Ae 163 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Kemampuan literasi membaca diukur dengan memberi tes tertulis di setiap siklus pada siswa kelas i A yang tersaji dalam tabel sebagai berikut. Tabel 3. Perbandingan Hasil Kemampuan Literasi Membaca Siklus I. II dan i Persentase Ketuntasan Siswa Rata-rata Siklus Belum Tuntas Nilai Tuntas (%) (%) i Kemampuan membaca dan menulis siswa meningkat antara siklus I. II, dan i, hal ini merujuk pada tabel yang tertera di atas. Lebih lanjut, persentase hasil kemampuan literasi membaca siswa dapat diamati pada gambar diagram berikut. Gambar 1. Peningkatan Hasil Kemampuan Literasi Membaca Siklus I. II dan i Pada fase awal penelitian ini, khususnya pada Siklus I, ditemukan bahwa kemampuan literasi membaca siswa kelas i A SD Negeri 3 Linggasari masih menunjukkan hasil yang belum Kondisi ini diperkuat oleh data rapor Pendidikan dan pretest yang menunjukkan hasil yang rendah serta wawancara awal dengan guru kelas yang mengindikasikan bahwa beberapa siswa masih belum dapat atau lancar dalam membaca. Hal ini tentu menjadi perhatian, mengingat kemampuan membaca merupakan keterampilan dasar yang penting untuk pengembangan kemampuan literasi. Menyadari tantangan tersebut, peneliti sebagai guru model, dibantu oleh rekan sejawat sebagai observer, melakukan perbaikan dan penyesuaian berkelanjutan pada setiap siklus penerapan model Problem Based Learning (PBL). Mengikut data perbandingan hasil kemampuan literasi membaca yang tercantum pada tabel 3 dan gambar 1 setiap siklus, kemampuan literasi membaca siswa dalam pembelajaran IPAS meningkat. Persentase ketuntasan literasi membaca siswa mengalami kenaikan yang substansial dari sejumlah 62,5% pada Siklus I, meningkat 76,0% pada Siklus II, dan mencapai 80,0% di Siklus i. Angka pada Siklus II dan i Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 152 Ae 163 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 ini melampaui target keberhasilan penelitian sebesar 75%. Kemampuan literasi membaca siswa dalam mata Pelajaran IPAS menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan setelah diterapkannya model Problem-Based Learning (PBL). Hasil ini selaras terhadap temuan Nugroho dan Lestari . , yang merujuk pada model Problem Based Learning mampu membuat kemampuan literasi membaca siswa meningkat secara signifikan. Kemampuan membaca siswa meningkat secara tidak langsung ketika mereka terlibat dalam segala aktivitas yang terdapat dalam model Problem Based Learning (PBL), di antaranya mereka terdorong dan mempunyai kemampuan dalam mengidentifikasi masalah, menggali informasi dari berbagai sumber, mengevaluasi data, dan juga menganalisis solusi. Efektivitas model PBL dalam meningkatkan pemahaman konseptual dan kemampuan pemecahan masalah dalam pembelajaran IPAS, juga di dukung kuat oleh penelitian yang telah dilakukan Sari dan Wijaya . Jadi, dapat disimpulkan bahwa model PBL efektif untuk membuat siswa lebih mahir membaca dan memahami teks bacaan. Dengan menerapkan model Problem-Based Learning (PBL) ini, pemahaman konseptual pada anak cenderung meningkat, kemampuan berpikir menjadi lebih kritis, serta terciptanya kemandirian belajar dan juga minat membaca pada siswa, yang mana hal tersebut yang mendukung upaya dari penelitian ini. Peningkatan Keaktifan Belajar Siswa Tingkat aktivitas belajar siswa dievaluasi oleh para peneliti menggunakan adaptasi dari pandangan Paul D. Dierich (Sadirman, 2. Pendapat ini mengidentifikasi enam indikator utama, yaitu aktivitas visual, lisan, tertulis, mendengarkan, mental, dan emosional. Berikut adalah tabel yang membandingkan hasil rata-rata pengamatan aktivitas belajar antar-siklus. Tabel 4. Perbandingan Keaktifan Belajar Siklus I. II dan i Berdasarkan Indikator yang Diamati Siklus 1 Aspek Visual Oral Writing Listening Mental Emotional Total Rerata Skor 3,08 Tinggi Rerata Skor 3,24 2,96 Sedang 2,84 2,68 Siklus 2 Nilai Kategori Tinggi Rerata Skor 3,28 3,12 Tinggi Sedang 3,04 Sedang 2,96 2,92 Sedang 2,76 17,24 71,83 Nilai Kategori Sikus 3 Nilai Kategori Tinggi 3,16 Tinggi Tinggi 3,08 Tinggi Sedang 3,00 Tinggi 3,08 Tinggi 3,16 Tinggi Sedang 2,88 Sedang 2,84 Sedang Sedang 18,32 76,33 Tinggi 18,52 77,16 Tinggi Keaktifan belajar siswa diukur dengan menggunakan lembar observasi di setiap siklus pada siswa kelas i A yang tersaji dalam tabel berikut. Siklus i Tabel 5. Perbandingan Keaktifan Belajar Siswa Siklus I. II dan i Persentase Keaktifan Siswa Rata-rata Nilai Aktif (%) Tidak Aktif (%) 71,83 76,33 77,16 Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 152 Ae 163 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Data dalam tabel menunjukkan bahwa di antara siklus I. II, dan i, membuktikan adanya kenaikan aktivitas belajar siswa. Lebih lanjut, persentase hasil keaktifan belajar aktivitas belajar siswa dapat diamati pada gambar diagram sebagai berikut. Gambar 2. Peningkatan Hasil Kekatifan Belajar Siklus I. II dan i Pada awal penelitian, observasi menunjukkan bahwa adanya kecenderungan perilaku pasif pada sebagian besar peserta didik selama pembelajaran, jarang berpartisipasi dalam diskusi, dan enggan mengajukan pertanyaan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa keaktifan belajar peserta didik perlu Mengingat bahwa proses pembelajaran secara fundamental memengaruhi minat, motivasi, dan keaktifan peserta didik, perbaikan terhadap isu-isu yang ada menjadi sangat esensial. Menanggapi hal tersebut, peneliti sebagai guru melakukan upaya perbaikan yang berkelanjutan dalam setiap siklus penerapan model Problem-Based Learning (PBL). Perbaikan ini diarahkan pada optimalisasi langkah-langkah PBL untuk menstimulasi partisipasi aktif siswa, seperti mendorong diskusi kolaboratif dan eksplorasi konsep baik secara individual maupun kelompok. Sebagai hasilnya, peningkatan yang terlihat jelas pada keaktifan peserta didik dalam belajar selama diterapkannya model Problem-Based Learning (PBL) dalam penelitian ini membuktikan bahwa pendekatan ini mampu mengubah suasana kelas menjadi lebih partisipatif. Sebagaimana disajikan pada Tabel 5, persentase keaktifan belajar siswa mengalami peningkatan yang cukup signifikan, bergerak naik dengan awal 60,0% pada Siklus I, kemudian 76,0% pada Siklus II, dan mencapai puncaknya di 84,0% yang tertera di Siklus i. Angka pada Siklus II dan Siklus i ini telah memenuhi tingkat ketercapaian penelitian sebesar 75% atau lebih. Berbagai indikator keaktifan, mulai dari aktivitas visual, lisan, tertulis, mendengarkan, mental, hingga emosional . ebagaimana detail pada Tabel 4, semuanya menunjukkan peningkatan yang positif di setiap Pembahasan Berdasarkan data pada Tabel 1, terlihat adanya peningkatan yang konsisten dan signifikan pada kinerja guru serta partisipasi siswa dari Siklus I hingga Siklus i. Peningkatan kinerja guru sebesar 8,3% dari Siklus I ke Siklus II dan 6,3% dari Siklus II ke Siklus i menunjukkan bahwa guru semakin mampu mengimplementasikan langkah-langkah pembelajaran secara efektif. Hal ini sejalan dengan pendapat Arends . yang menyatakan bahwa keberhasilan penerapan PBL sangat dipengaruhi oleh Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 152 Ae 163 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 kemampuan guru dalam memfasilitasi proses belajar berbasis masalah secara berkelanjutan melalui refleksi dan perbaikan praktik pembelajaran. Peningkatan partisipasi siswa yang juga konsisten pada setiap siklus menunjukkan bahwa PBL mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih aktif dan bermakna. Hmelo-Silver . menegaskan bahwa PBL mendorong keterlibatan aktif siswa melalui aktivitas penyelidikan, diskusi, dan pemecahan masalah autentik sehingga siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga pembangun pengetahuan. Pada tahap orientasi peserta didik terhadap masalah, peningkatan dari 75,0% pada Siklus I menjadi 83,3% pada Siklus II dan stabil pada Siklus i menunjukkan bahwa siswa semakin memahami konteks permasalahan yang disajikan guru. Hal ini mengindikasikan bahwa penyajian masalah yang kontekstual dan relevan mampu meningkatkan fokus serta kesiapan belajar siswa, sebagaimana dikemukakan oleh Amir . bahwa masalah dalam PBL harus mampu menantang dan merangsang rasa ingin tahu peserta didik. Tahap pengorganisasian siswa untuk belajar menunjukkan peningkatan paling signifikan hingga mencapai 91,7% pada Siklus i. Temuan ini menunjukkan bahwa siswa semakin terbiasa belajar secara mandiri dan kolaboratif, sementara guru semakin terampil dalam membimbing kerja kelompok. Kondisi ini sejalan dengan pendapat Savery . yang menyatakan bahwa PBL secara efektif mengembangkan kemampuan kerja sama dan tanggung jawab belajar siswa. Pada tahap membimbing penyelidikan individu dan kelompok, peningkatan dari 66,7% menjadi 83,3% menunjukkan keberhasilan guru dalam memfasilitasi proses penyelidikan serta kemampuan siswa dalam mengumpulkan dan mengolah informasi. Menurut Barrows . , fase ini merupakan inti dari PBL karena mendorong pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan pemecahan masalah secara sistematis. Selanjutnya, pada tahap menyajikan dan mengembangkan hasil karya, meskipun terjadi penurunan sementara pada kinerja guru di Siklus II, peningkatan kembali pada Siklus i hingga 91,7% menunjukkan adanya perbaikan strategi pembimbingan. Hal ini menunjukkan bahwa refleksi antar siklus berperan penting dalam meningkatkan kualitas implementasi pembelajaran. Sementara itu, konsistensi partisipasi siswa menandakan bahwa siswa telah memiliki kepercayaan diri dalam mengomunikasikan hasil belajar, sebagaimana diungkapkan oleh Tan . bahwa PBL mendukung pengembangan kemampuan komunikasi dan presentasi siswa. Tahap menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah menunjukkan peningkatan paling signifikan, terutama pada Siklus i. Peningkatan ini menandakan berkembangnya kemampuan berpikir kritis siswa dan guru dalam melakukan evaluasi terhadap solusi yang dihasilkan. Facione . menyatakan bahwa aktivitas reflektif dan evaluatif dalam PBL sangat efektif dalam melatih keterampilan berpikir kritis dan metakognitif peserta didik. Secara keseluruhan, peningkatan rata-rata observasi implementasi PBL pada setiap siklus membuktikan bahwa model Problem Based Learning dapat diterapkan dengan baik dan mampu meningkatkan keterlibatan serta kualitas interaksi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Temuan ini memperkuat hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa PBL efektif dalam meningkatkan partisipasi aktif, kinerja guru, dan kemampuan berpikir kritis siswa (Hmelo-Silver, 2004. Savery, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa kelas i A SD Negeri 3 Linggasari pada awalnya berada pada kategori belum optimal. Kondisi ini diperkuat oleh data rapor pendidikan, hasil pretest, serta temuan wawancara awal dengan guru kelas yang mengindikasikan masih adanya siswa yang belum mampu membaca dengan lancar. Temuan ini sejalan dengan pendapat Abidin . yang menyatakan bahwa kemampuan membaca permulaan pada jenjang sekolah dasar merupakan fondasi utama bagi perkembangan literasi lanjutan dan pemahaman terhadap berbagai mata pelajaran. Rendahnya kemampuan literasi membaca menjadi perhatian serius karena membaca merupakan keterampilan dasar yang berperan penting dalam mendukung proses berpikir, pemahaman konsep, serta keberhasilan belajar siswa secara menyeluruh (OECD, 2. Tanpa kemampuan Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 152 Ae 163 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 membaca yang memadai, siswa akan mengalami kesulitan dalam memahami teks, instruksi pembelajaran, maupun permasalahan kontekstual yang disajikan dalam pembelajaran IPAS. Upaya perbaikan dilakukan melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL) secara bertahap dalam beberapa siklus. Penerapan PBL mendorong siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran melalui penyajian masalah kontekstual yang menuntut siswa membaca, memahami informasi, serta mendiskusikan solusi bersama teman sebaya. Hal ini sejalan dengan pendapat Arends . yang menyatakan bahwa PBL efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir dan kemampuan memahami informasi melalui aktivitas pemecahan masalah berbasis konteks nyata. Berdasarkan data perbandingan pada Tabel 3 dan Gambar 1, terjadi peningkatan kemampuan literasi membaca siswa pada setiap siklus. Persentase ketuntasan literasi membaca meningkat dari 62,5% pada Siklus I menjadi 76,0% pada Siklus II, dan mencapai 80,0% pada Siklus i. Peningkatan ini menunjukkan bahwa perbaikan pembelajaran yang dilakukan secara reflektif dan berkelanjutan berdampak positif terhadap kemampuan literasi membaca siswa. Hasil ini mendukung temuan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa PBL dapat meningkatkan kemampuan literasi membaca melalui aktivitas membaca bermakna dan diskusi kolaboratif (Hmelo-Silver, 2. Keberhasilan pencapaian target ketuntasan pada Siklus II dan i yang melampaui indikator keberhasilan penelitian sebesar 75% menunjukkan bahwa PBL mampu menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna dan berpusat pada siswa. Siswa tidak hanya berlatih membaca secara mekanis, tetapi juga memahami isi bacaan untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Hal ini sejalan dengan pendapat Trianto . yang menegaskan bahwa PBL membantu siswa mengintegrasikan kemampuan membaca, berpikir kritis, dan pemecahan masalah dalam satu proses pembelajaran. Dengan demikian, penerapan model Problem Based Learning (PBL) terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa pada mata pelajaran IPAS. Peningkatan yang terjadi tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga menunjukkan perubahan kualitas keterlibatan siswa dalam proses membaca dan memahami teks. Temuan ini memperkuat bahwa PBL merupakan salah satu alternatif model pembelajaran yang relevan untuk mengembangkan literasi membaca di sekolah Hasil observasi awal penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik memperlihatkan perilaku belajar yang pasif, ditandai dengan rendahnya partisipasi dalam diskusi, minimnya keberanian mengajukan pertanyaan, serta keterlibatan yang terbatas dalam proses pembelajaran. Kondisi ini sejalan dengan temuan sebelumnya yang menyatakan bahwa pembelajaran yang berpusat pada guru cenderung menempatkan peserta didik sebagai penerima informasi pasif sehingga berdampak pada rendahnya keaktifan dan motivasi belajar (Sardiman, 2018. Slavin, 2. Keaktifan belajar merupakan aspek penting karena berhubungan langsung dengan proses konstruksi pengetahuan dan keterlibatan kognitif peserta didik dalam pembelajaran (Dewey, 1. Menanggapi permasalahan tersebut, peneliti melakukan upaya perbaikan secara berkelanjutan melalui penerapan model Problem-Based Learning (PBL) pada setiap siklus pembelajaran. PBL dirancang untuk menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif pembelajaran dengan menghadapkan mereka pada permasalahan kontekstual yang menuntut eksplorasi, diskusi, dan pemecahan masalah secara kolaboratif (Hmelo-Silver, 2. Optimalisasi langkah-langkah PBL, seperti penyajian masalah autentik, diskusi kelompok, dan presentasi hasil, terbukti mampu menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dan partisipatif. Peningkatan keaktifan belajar peserta didik terlihat secara kuantitatif pada setiap siklus. Persentase keaktifan belajar meningkat dari 60,0% pada Siklus I menjadi 76,0% pada Siklus II, dan mencapai 84,0% pada Siklus i. Capaian ini menunjukkan bahwa penerapan PBL secara konsisten dan reflektif dapat mendorong keterlibatan peserta didik secara bertahap hingga melampaui indikator keberhasilan penelitian sebesar 75%. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa PBL efektif Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 152 Ae 163 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 dalam meningkatkan keaktifan, keterampilan berpikir kritis, serta keterlibatan sosial peserta didik dalam pembelajaran (Gunter & Alpat, 2017. Amir, 2. Selain itu, peningkatan keaktifan juga tercermin pada seluruh indikator keaktifan belajar, meliputi aktivitas visual, lisan, tertulis, mendengarkan, mental, dan emosional. Hal ini mengindikasikan bahwa PBL tidak hanya mendorong partisipasi fisik, tetapi juga keterlibatan kognitif dan afektif peserta didik. Menurut Bonwell dan Eison . , pembelajaran aktif menuntut peserta didik untuk berpikir, berdiskusi, dan merefleksikan ide, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Dengan demikian, hasil penelitian ini memperkuat pandangan bahwa PBL merupakan model pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan keaktifan belajar peserta didik secara menyeluruh. Dengan demikian, selama proses pembelajaran mata pelajaran IPAS mengalami peningkatan signifikan dalam tingkat keterlibatan siswa setelah diterapkannya model Problem-Based Learning. Temuan tersebut linier pada penelitian Putra dan Indah . , yang mengemukakan terkait model Problem Based Learning (PBL), yang mana mampu membuat peningkatan akan partisipasi siswa meningkat secara signifikan. Hal ini dipicu dari penerapan model Problem Based Learning yang memfasilitasi siswa agar dapat bekerja sama, berbagi ide, serta mencari jawaban atas masalah yang dihadapi, yang pada gilirannya meningkatkan tingkat keterlibatan aktif mereka. Konsisten dengan ini, studi Lestari dan Wijoyo . juga membuktikan terkait PBL atau model Problem-Based Learning (PBL), bahwa model PBL telah berhasil mendorong siswa agar mampu mengambil inisiatif dan juga belajar dengan mandiri dalam kerangka IPAS. Hasil temuan pada penelitian ini mendukung gagasan bahwa diterapkannya model Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran IPAS memiliki pengaruh yang positif dalam hal keterlibatan . dan partisipasi aktif siswa. Keterlibatan siswa yang lebih tinggi dalam diskusi kelas, kesediaan untuk mengambil inisiatif dalam mengajukan pertanyaan, kemampuan untuk menyelesaikan masalah secara mandiri, dan antusiasme terhadap pembelajaran merupakan indikator pencapaian ini. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Merujuk pada tujuan penelitian dan temuan terkait kemampuan literasi membaca, serta keaktifan belajar siswa kelas i A SD Negeri 3 Linggasari, diperoleh beberapa kesimpulan pokok. Pertama, upaya meningkatkan kompetensi literasi membaca dan keaktifan belajar siswa melalui implementasi model Problem Based Learning (PBL) telah terlaksana secara sistematis. Prosedur ini mencakup tahapan-tahapan: . orientasi siswa terhadap masalah. pengorganisasian siswa untuk belajar. pembimbingan penyelidikan individu dan kelompok. penyajian dan pengembangan hasil karya. analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah. Penerapan model Problem Based Learning (PBL) terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi membaca pada peserta didik kelas i A SD Negeri 3 Linggasari tahun ajaran 2024/2025. Hal ini ditunjukkan oleh peningkatan progresif persentase rata-rata kemampuan literasi membaca: 62,5% pada Siklus I, 76,0% pada Siklus II, dan 80,0% pada Siklus i. Sejalan dengan itu, model Problem Based Learning (PBL) juga efektif dalam mendorong keaktifan belajar peserta didik kelas i A SD Negeri 3 Linggasari pada tahun ajaran 2024/2025. Indikasi ini terlihat dari peningkatan persentase rata-rata keaktifan belajar: 60,0% pada Siklus I, 76,0% pada Siklus II, dan 84,0% pada Siklus i. Saran Peneliti menyadari adanya kekurangan dan keterbatasan dalam penelitian ini. Adapun dilaksanakannya Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, merupakan wujud dari peneliti sebagai guru dalam mewujudkan suasana pembelajaran yang inklusif serta sebagai referensi bagi guru dalam menyelenggarakan pembelajaran yang inklusif dan berkualias. Oleh karena itu, dengan adanya penelitian ini, guru diharapkan mampu terus melakukan penelitian guna menumbuhkan kemampuan problem solving, meningkatkan profesionalisme dan kemandirian guru. Bagi sekolah, penelitian ini membuktikan bahwa inovasi pembelajaran mampu membawa dampak positif. Oleh karena itu, sekolah diupayakan mampu memberikan dorongan penuh kepada guru untuk mengimplementasikan model Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 152 Ae 163 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 pembelajaran inovatif seperti PBL. Dukungan ini dapat berupa penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, mengadakan pelatihan rutin tentang model pembelajaran terkini, dan mendorong kolaborasi antar guru. Dengan adanya dukungan kolaboratif, permasalahan-permasalahan yang mungkin muncul saat penerapan model pembelajaran baru dapat diatasi bersama, sehingga kualitas pendidikan di sekolah dapat terus meningkat. DAFTAR PUSTAKA