Jurnal INTISABI Vol. No. Maret 2024, pp. E- ISSN: 3024-935X, https://doi. org/10. 61580/itsb. ANALISIS PEMBELAJARAN STEAM TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS (HOTS) ANAK USIA 5-6 TAHUN Siti Salamah1. Rahmat Hidayat2. Ani Herniawati3 STAI Putra Galuh Ciamis *Alamat email: sitishalamah6@gmail. ABSTRAK Model pembelajaran Science Technology Engineering Art and Mathematic (STEAM) merupakan model pembelajaran yang memadukan berbagai disiplin ilmu untuk mengembangkan keterampilan abad ke-21 pada peserta didik, salah satunya yakni kemampuan berpikir kritis (HOTS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana efektivitas pembelajaran STEAM terhadap keterampilan berpikir kritis (HOTS) pada anak usia dini. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran STEAM secara signifikan dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis pada anak usia 5-6 tahun, di antaranya: . anak mampu mengidentifikasi media yang disiapkan guru, . anak mampu mendeskripsikan dan menjelaskan hasil eksperimen, . anak mampu mengenali perubahan, proses bereksperimen, dan membandingkan hasil eksperimen, . anak mampu memecahkan masalah sederhana, dan . anak mampu mengekspresikan opini terkait eksperimen yang Selain itu, metode pembelajaran STEAM memberikan dampak terhadap aspek nilai agama dan moral. aspek fisik motorik. dan aspek sosial emosional. Kesimpulannya, metode pembelajaran STEAM memberikan dampak positif dan signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis anak usia 5-6 tahun, selain terhadap aspek nilai agama dan moral, aspek fisik motorik, serta aspek sosial emosional. Kata Kunci: STEAM. HOTS. keterampilan abad ke-2. anak usia 5-6 tahun ABSTRACT The Science Technology Engineering Art and Mathematic (STEAM) learning model is a learning model that combines various disciplines to develop 21 st century skills in students, one of the abilities is to think critically (HOTS). This study aims to determine how effective STEAM learning on critical thinking skills (HOTS) in early childhood. The method used in this study is a qualitative method under a descriptive approach. The results of the study show that STEAM learning model can significantly improve critical thinking skills in early childhood aged 5-6 years, including: . early childhoods are able to identify media prepared by teachers, . early childhoods are able to describe and explain experimental results, . early childhoods are able to recognize changes, experimental processes, and compare experimental results, . early childhoods are able to solve simple problems, and . early childhood are able to express opinions related to the experiments conducted. In addition, the STEAM learning model has an effect on the aspects of religious and moral values. physical motor aspects. and the social In conclusion, the STEAM learning model has a positive and significant effect on improving the critical thinking skills of early childhood aged 5-6 years, in addition to aspects of religious and moral values, physical motor aspects, and social emotional. Keywords: STEAM. HOTS. 21st century skills. early childhood aged 5-6 years old This is an open access article under the CC BY-SA license. Jurnal INTISABI. Vol. No. Maret 2024 E-ISSN: 3024-935X (Siti Salamah1. Rahmat Hidayat2, & Ani Herniawati. PENDAHULUAN Abad ke-21 merupakan periode yang ditandai oleh kemajuan di bidang pengetahuan dan teknologi. Kemajuan tersebut berdampak pada semua aspek kehidupan termasuk bidang pendidikan, khususnya Pendidikan Anak Usia Dini. Di dalam Pendidikan Anak Usia Dini terdapat proses pembelajaran yang mana hal ini mengalami perubahan secara dinamis. Perubahan ini perlu diatasi oleh berbagai pihak termasuk pemerintah, pihak sekolah, dan guru. Sebagai ujung tombak dalam proses pembelajaran, guru perlu mencari solusi dan stategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan abad 21 guna mempersiapkan generasi unggul, tangguh, dan siap menghadapi tuntutan masa depan. Pemilihan pendekatan pembelajaran yang menarik dan inovatif untuk anak usia dini dilakukan sebagai upaya untuk menghadapi tantangan tersebut serta menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, sehingga diharapkan dapat menstimulasi perkembangan anak secara menyeluruh, salah satunya dengan menggunakan pembeIajaran Science Technology Engineering Art and Mathematic (STEAM). Menurut (Yusri, 2021, p. pendekatan STEAM pada anak usia dini bukanlah untuk menyiapkan karir mereka di masa depan, tetapi lebih kepada membangun kemampuan berpikir STEAM yang nantinya akan membawa anak memiliki kemampuan keterampilan abad 21. Kemudian. Catterall . dalam (Purnama et al. , 2022, p. menjelaskan bahwa metode pembelajaran STEAM merupakan metode yang mendorong anak untuk kreatif dalam problem solving, berpikir logis, dan berpikir simbolik. Selanjutnya, model pembelajaran STEAM bertujuan untuk menumbuhkan minat, kreatifitas, berpikir kritis, dan komunikasi siswa terutama di bidang ilmu sains dan matematika dengan cara yang lebih menarik dan menyenangkan melalui penggunaan teknologi, teknik dan seni (Azizah et al. , 2022, p. Namun demikian, penerapan STEAM dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis (HOTS) anak usia 5-6 tahun yang ditemukan di lapangan belumlah optimal, kurangnya edukasi terkait pembelajaran STEAM berbasis HOTS pada guru yang berdampak pada minimnya pengetahuan guru terhadap pembelajaran STEAM berbasis HOTS, menjadi salah satu penyebab utamanya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Reswari . 1, p. yang menyatakan bahwa permasalahan yang terjadi di lapangan terkait minimnya kompentensi guru terhadap pendekatan pembelajaran STEAM berbasis HOTS menjadikan aktivitas guru dalam mengajar hanya sebatas ceramah atau bercerita. Padahal anak usia dini juga perlu diajak untuk aktif berpikir, bertanya, dan mengeksplorasi setiap topik yang disajikan dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini selaras dengan pendapat Sukmawati & Rakhmawati . 3, p. yang menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran STEAM berbasis HOTS sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru bertanya kepada anak yang mana keterampilan guru ini perlu dilatih agar mampu menstimulasi daya pikir anak untuk senantiasa terus berkembang. Oleh karena itu. Wulandani et al. , . dalam Permata et al. , . 3, p. menegaskan bahwa berbagai kompetensi yang diperIukan guru dalam proses berpikir kritis dan kreativitas anak usia dini dianggap harus ditangani dengan optimal. Jurnal INTISABI. Vol. No. Maret 2024 E- ISSN: 3024-935X (Siti Salamah1. Rahmat Hidayat2. Ani Herniawati. Selanjutnya, penelitian ini didukung oleh tiga penelitian terdahulu. Penelitian terdahulu pertama dilakukan oleh Reswari . berjudul: AuEfektivitas Pembelajaran Berbasis STEAM Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis (HOTS) Anak Usia 5-6 TahunAy. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas pembelajaran berbasis STEAM terhadap kemampuan berpikir kritis (HOTS) pada anak usia 5-6 tahun di Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan Quasi Eksperimen menggunakan Nonequivalent Control Group Design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . nilai yaEa ycnycycycuyci sebesar 361,182 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, sehingga hipotesis pembelajaran berbasis STEAM terhadap kemampuan berpikir kritis (HOTS) anak dapat diterima. Adapun penelitian terdahulu kedua dilakukan oleh Azizah et al. , . AuImplementasi Pembelajaran Berbasis STEAM dalam Menumbuhkan Keterampilan Berpikir Kritis Anak Usia 5-6 Tahun di TK IT Harapan Bunda SemarangAy. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil implementasi pembelajaran STEAM dapat mendorong anak berpikir kritis, berpikir kreatif, memecahkan masalah dan membuat keputusan. Sedangkan penelitian terdahulu terakhir dilakukan oleh Permata et al. , . berjudul: AuPengaruh Pembelajaran STEAM Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatifitas Anak Usia 5-6 Tahun di RA Fathimaturridha MedanAy. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui . pengaruh pembeIajaran STEAM terhadap kemampuan berpikir kritis anak usia dini, . pengaruh pembeIajaran STEAM terhadap kemampuan kreativitas anak usia dini. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis ex-post facto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran STEAM berpengaruh terhadap berpikir kritis anak dan kreativitas anak dapat dibuktikan dari perhitungan thitung > t-tabel. Ketiga penelitian terdahulu di atas digunakan oleh penulis untuk mendukung penelitian sekarang, yang mana ketiga penelitian terdahulu memiliki persamaan dengan penelitian sekarang, yaitu sama-sama menganalisis model pembelajaran STEAM terhadap kemampuan berpikir kritis anak usia dini. Namun perbedaannya terdapat pada subjek penelitian . yang dijadikan sampel dalam penelitian, yakni pada penelitian terdahulu pertama oleh Reswari . dilakukan pengambilan sampel secara acak . andom samplin. melibatkan anak-anak kelas B di RA Diponegoro dan TK Bhayangkari. Adapun sampel penelitian terdahulu kedua oleh Azizah et al. , . dengan melibatkan seluruh peserta didik di TK IT Harapan Bunda Semarang, sedangkan sampel penelitian terdahulu terakhir oleh Permata et al. , . dengan melibatkan 2 orang guru dan 41 anak di keIas Semangka dan keIas Rambutan di RA Fathimaturridha Medan. Meskipun demikian, ketiga penelitian terdahulu ini digunakan oleh peneliti sebagai bahan rujukan dan perbandingan dalam penelitian sekarang. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, peneliti mengajukan dua rumusan masalah. Kedua rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut: . Bagaimana pembelajaran STEAM berdampak terhadap kemampuan Jurnal INTISABI. Vol. No. Maret 2024 E-ISSN: 3024-935X (Siti Salamah1. Rahmat Hidayat2, & Ani Herniawati. berpikir kritis (HOTS) Anak Usia 5-6 Tahun? . Faktor apa yang dapat mempengaruhi efektivitas pembelajaran STEAM dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis pada anak usia 5-6 tahun? Berdasarkan kedua rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini adalah: . untuk mengetahui pembelajaran STEAM berdampak terhadap kemampuan berpikir kritis (HOTS) Anak Usia 5-6 Tahun, . untuk mengetahui faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas pembelajaran STEAM dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis pada anak usia 5-6 tahun. Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dipaparkan oleh peneliti di atas, peneliti mencoba meneliti tentang dampak pembelajaran STEAM pada anak usia 5-6 tahun. Penelitian ini dilakukan pada siswa/siswi kelompok B di Kober Al Mujahid 2. Dusun Loasari. Kec. Pamarican Kab. Ciamis. Selanjutnya, penelitian ini diberi judul AuAnalisis Pembelajaran STEAM Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis (HOTS) Anak Usia 5-6 TahunAy. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjawab permasalahan terkait model pembelajaran STEAM sebagai sarana membangun keterampilan berpikir kritis (HOTS) pada anak usia dini. II. KAJIAN PUSTAKA Pada bagian kajian pustaka ini, peneliti membahas 2 . sub pembahasan. Kedua sub pembahasan tersebut meliputi: . Science Technology Engineering Art and Mathematic (STEAM) di PAUD, dan . Higher Order Thinking Skills (HOTS) di PAUD. Kedua sub pembahasan tersebut diuraikan sebagai berikut. 1 Science Technology Engineering Art and Mathematic (STEAM) di PAUD STEAM merupakan kepanjangan dari Science Technology Engineering Art and Mathematic, yang memadukan lima disiplin ilmu. Hal ini sejalan dengan pendapat Sukmawati & Rakhmawati . 3, p. bahwa STEAM sendiri merupakan sebuah model pembelajaran multidisipliner pembelajaran dengan memadukan lima disiplin ilmu secara harmonis yang mana diperlukan untuk meningkatkan keterampilan abad 21. Adapun menurut Saparuddin . 2, p. STEAM dikenal di Indonesia dengan Science sebagai ilmu pengetahuan alam (IPA). Technology sebagai ilmu teknologi. Engineering sebagai ilmu teknik. Art sebagai ilmu seni, seperti Seni Musik. Seni Lukis, dan Seni Kriya, serta Mathematic sebagai ilmu Matematika. Selanjutnya. Sit & Rakhmawati . 2, p. menyatakan bahwa STEAM di lembaga pendidikan anak usia dini dimaksudkan untuk menghubungkan lima mata pelajaran, mengembangkan literasi STEAM anak-anak dan secara fleksibel memecahkan masalah praktis melalui terintegrasi pengajaran. Berdasarkan pendapat para ahli berkenaan dengan pengertian STEAM, peneliti mengelaborasi bahwa STEAM merupakan sebuah model pembelajaran multidisipliner pembelajaran dengan memadukan lima disiplin ilmu seperti. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Ilmu Teknologi. Ilmu Teknik. Ilmu Seni, serta Ilmu Matematika guna membantu anak-anak untuk memecahkan masalah praktis melalui terintegrasi pengajaran. Melalui pendekatan STEAM, anak diharapkan akan mendapatkan wawasan berharga melalui perpaduan lima disiplin ilmu secara harmonis, sebagai bekal menghadapi tantangan Jurnal INTISABI. Vol. No. Maret 2024 E- ISSN: 3024-935X (Siti Salamah1. Rahmat Hidayat2. Ani Herniawati. abad ke-21 di masa depan (Saparuddin, 2022. Sit & Rakhmawati, 2022. Sukmawati & Rakhmawati, 2. Selanjutnya, implementasi STEAM dalam konteks pendidikan anak usia dini, khususnya pada anak usia 5-6 tahun memerlukan pendekatan kreatif dan Menurut Yuliati . dalam Azizah et al. , . 2, p. implementasi STEAM di PAUD perlu memperhatikan prinsip-prinsip seperti: . belajar melalui bermain . lay based learnin. , . berbasis kehidupan nyata anak, . berbasis pembelajaran inkuiri . nquiry based Learnin. , . melekat pada kurikulum yang responsif terhadap kebutuhan dan minat anak . esponsive curriculu. , . memadukan 5 bidang, yaitu: Sains. Teknologi. Engineering. Arts dan Matematika pada aktivitas keseharian anak, . adanya komunikasi guru dan anak guna mengaktifkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order of Thinking Skill. anak, dan . anak dilatih dan dibimbing untuk menemukan solusi. Dari hasil elaborasi di atas, dapat disimpulkan bahwa STEAM merupakan model pembelajaran inovatif abad ke-21 yang memadukan lima disiplin ilmu. Kelima disiplin ilmu tersebut yakni. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Ilmu Teknologi. Ilmu Teknik. Ilmu Seni, serta Ilmu Matematika. STEAM dalam konteks PAUD, khususnya pada anak usia 5-6 tahun memerlukan pendekatan yang kreatif dan menyenangkan serta memperhatikan 7 . prinsip penerapannya. Higher Order Thinking Skills (HOTS) di PAUD Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang familiar disebut dengan kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu aspek perkembangan kognitif. Menurut Santrock . dalam Sukmawati & Rakhmawati . 3, p. HOTS merupakan konsep berpikir tingkat tinggi meliputi mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Selanjutnya. Thomas & Thorne dalam Tiwery . 9, p. mendefinisikan istilah HOTS sebagai cara berpikir pada tingkat yang lebih tinggi dari pada menghafal, atau menceritakan kembali sesuatu yang diceritakan orang lain. Sedangkan Yus & Sari . 0, p. menjelaskan berdasarkan konsep Bloom yang direvisi, bahwa HOTS berkaitan dengan kemampuan kognitif analisis, mengevaluasi, dan mengkreasi. Berdasarkan pendapat para ahli berkenaan dengan pengertian HOTS, peneliti mengelaborasi bahwa HOTS merupakan konsep berpikir tingkat tinggi yang mana dalam implementasinya terdiri dari proses menghafal, menceritakan kembali sesuatu yang diceritakan orang lain. Selain itu. HOTS juga berkaitan erat dengan kemampuan kognitif dalam berkreasi, menganalisis, dan mengevaluasi setiap hal yang berhubungan dengan proses belajar dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (Sukmawati & Rakhmawati, 2023. Tiwery, 2019. Yus & Sari, 2. Selanjutnya, dalam konteks PAUD khususnya anak usia 5-6 tahun. HOTS diterapkan melalui aktivitas pembelajaran yang dirancang khusus dengan memperhatikan teknik bertanya pada enam tingkat. Keenam tingkatan tersebut, yaitu: proses mengingat . nak dipandu untuk mampu mengidentifikasi, memberi nama, menghitung, mengulang, menyebutkan kembal. , . proses memahami . nak dipandu Jurnal INTISABI. Vol. No. Maret 2024 E-ISSN: 3024-935X (Siti Salamah1. Rahmat Hidayat2, & Ani Herniawati. untuk mampu mendeskripsikan dan menjelaska. , . proses menerapkan . nak dipandu untuk mampu menjelaskan mengapa dan mengidentifikas. , . proses menganalisa . nak dipandu untuk mampu mengenali perubahan, bereksperimen, dan membandingka. , . proses mengevaluasi . nak dipandu untuk mampu mengekspresikan opini dan memutuska. , . proses merancang . nak dipandu untuk mampu membuat, merancang, dan merencanaka. (Reswari, 2021, p. Dari hasil elaborasi di atas, dapat disimpulkan bahwa HOTS konsep berpikir tingkat tinggi yang mana dalam implementasinya terdiri dari proses menghafal, menceritakan kembali sesuatu yang diceritakan orang lain, berkreasi, menganalisis, dan dalam konteks PAUD khususnya anak usia 5-6 tahun. HOTS diterapkan melalui aktivitas pembelajaran yang dirancang khusus dengan memperhatikan teknik bertanya pada enam tingkat, yaitu: . proses mengingat, . proses memahami, . proses menerapkan, . proses menganalisa, . proses mengevaluasi, dan . proses i. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Menurut Fraenkel. Wallen, & Hyun . dalam Hidayat & Nurlatifah . 3, p. deskriptif kualitatif adalah suatu pendekatan dalam metode kualitatif yang digunakan oleh peneliti dalam menggambarkan fenomena dengan sehati-hati mungkin. Adapun data yang diperoleh diuraikan secara deskriptif. Selain itu, menurut Wragg . dalam Hidayat et al. , . 3, p. penelitian deskriptif merujuk pada suatu desain penelitian di mana peneliti secara teliti mengobservasi rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh siswa atau siswa dan guru selama proses belajar mengajar berlangsung di dalam kelas. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 5 hari, yakni pada 30 Oktober- 3 November 2023. Selanjutnya, penelitian ini dilaksanakan di Kober Al Mujahid 2. Dusun Loasari RT. RW. Desa Bangunsari. Kabupaten Ciamis. Target/Subjek Penelitian Populasi pada penelitian adalah anak usia 5-6 tahun sebanyak 15 siswa yang terdiri dari 4 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Kesemua siswa tersebut adalah siswa kelompok B di Kober Al Mujahid 2 yang berlokasi di Loasari RT. RW. Bangunsari. Pamarican. Kabupaten Ciamis. Prosedur Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai guru dan juga sebagai observer . articipant observe. yang mengamati kegiatan anak pada saat proses belajar mengajar berlangsung dengan menggunakan metode pembelajaran STEAM berbasis HOTS. Selanjutnya, seluruh kegiatan proses belajar mengajar dicatat dalam catatan lapangan Jurnal INTISABI. Vol. No. Maret 2024 E- ISSN: 3024-935X (Siti Salamah1. Rahmat Hidayat2. Ani Herniawati. ield not. dalam rangka dokumentasi untuk melihat sejauh mana capaian pembelajaran anak usia 5-6 tahun yang belajar di kelompok B mengikuti proses belajar mengajar dengan menggunakan metode pembelajaran STEAM. Data. Intrumen, dan Teknik Pengumpulan Data Adapun instrumen yang digunakan berupa lembar observasi . ield not. Seluruh kegiatan proses belajar mengajar dicatat dalam field note dalam rangka dokumentasi untuk melihat sejauh mana capaian pembelajaran anak dengan menggunakan model pembelajaran STEAM. Tahapan pembelajaran STEAM terhadap kemampuan berpikir kritis (HOTS) anak usia 5-6 tahun, di antaranya: . Tahap Pengamatan, yaitu proses mengumpulkan informasi melalui indra, . Tahap Ide Baru, yaitu proses menemukan sesuatu yang berbeda dalam satu kegiatan, . Tahap Inovasi, yaitu proses mendapatkan ide baru melalui diskusi kelompok, . Tahap Kreasi, yaitu proses membuat atau menghasilkan suatu kreativitas saat kegiatan pembelajaran, dan . Tahap Evaluasi, yaitu proses penilaian melalui kegiatan menceritakan kembali hasil kreativitas yang telah dilaksanakan (Y. Hidayat. Nurhayati, et al. , 2023. Novitasari & Zaida, 2. Teknik Analisis Data Selanjutnya, data yang diperoleh dan dicatat dalam field note kemudian dianalisis secara kualitatif dengan tahapan sebagai berikut: . Pengumpulan Data, yaitu proses mengumpulkan data melalui catatan lapangan . ield not. , . Reduksi Data, yaitu memilih dan merangkum hal-hal yang pokok, yang mana difokuskan pada tema yang penting, serta membuang hal-hal yang tidak diperlukan, . Display Data, yaitu menyajikan data-data yang telah direduksi ke dalam laporan secara sistematis, dan . Penarikan Kesimpulan, yaitu menyimpulkan data-data yang telah ditulis dalam display data sebelumnya (Y. Hidayat. Susanti, et al. , 2023, p. IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian dilakukan pada siswa usia 5-6 tahun yang termasuk ke dalam kelompok B di Kober Al Mujahid 2. Dusun Loasari RT. RW. Desa Bangunsari Kecamatan Pamarican Kabupaten Ciamis dengan jumlah 15 siswa. Penelitian dilakukan selama 5 hari, yaitu tanggal 30 Oktober Ae 3 November 2023. Adapun salah satu proses belajar mengajar terkait dengan penggunaan metode pembelajaran STEAM berbasis HOTS dapat dilihat pada dokumen sebagai berikut. Jurnal INTISABI. Vol. No. Maret 2024 E-ISSN: 3024-935X (Siti Salamah1. Rahmat Hidayat2, & Ani Herniawati. Tingkat Partisipasi (%) Siklus 1 Siklus 2 Kegiatan Persiapan Kegiatan Pelaksanaan Penyelesaian kegiatan Pengkomunikasian Hasil Tahapan Kegiatan Gambar 1: Kegiatan pembelajaran STEAM berbasis HOTS melalui percobaan sains sederhana Berdasarkan keseluruhan proses belajar mengajar yang berkaitan dengan STEAM HOTS, mendokumentasikan dan menginventarisirkan hasil observasi dalam catatan lapangan . ield not. Catatan lapangan . ield not. hasil observasi tersebut disajikan dalam tabel Tabel 1: Observasi penggunaan metode steam berbasis HOTS anak usia 5-6 tahun di Kober Al Mujahid 2 Desa Bangunsari No. Kode Responden 1R, 2K, 3N, 4O, 5D, 6F, 7H, 8H, 9M, 10A, 11S, 12A, 13A, 14Q, 15H. Indikator Kegiatan Catatan Anak aktivitas yang eksploratif dan Anak mengamati objek melalui indra dan mampu menyebutkan benda berdasarkan: nama, bentuk, warna, dan Anak dapat Anak mengenal sebab-akibat . ir dapat menyebabkan sesuatu menjadi Pada hari pertama, peneliti mengikuti dan mengamati kegiatan proses belajar dengan kebiasaan di Kober Al Mujahid 2. Kemudian, dan memulai kegiatan Anak terlihat kurang antusias terhadap diberikan oleh guru. Di hari kedua, peneliti STEAM berbasis HOTS untuk mengenalkan konsep Matematika menggunakan media balok berbagai warna, bentuk dan Dalam pertemuan ini, anak terlihat sangat antusias dalam mengikuti Antusiasme beberapa anak seperti: 3N. Jurnal INTISABI. Vol. No. Maret 2024 E- ISSN: 3024-935X (Siti Salamah1. Rahmat Hidayat2. Ani Herniawati. Anak dapat konsep-konsep sains sederhana. Anak dapat mengenal ukuran Anak dapat mengenal pola Jurnal INTISABI. Vol. No. Maret 2024 4O, 11S, 15H bertanya terkait media dan kegiatan apa yang akan di lakukan pada hari itu. Bahkan Anak 13A, 8H dan 1R dapat menyebutkan secara fasih warna dan ukuran media Anak 2K dan 5D memainkan media balok lalu menyusunnya seperti warna pelangi. Anak mencoba Pada hari ketiga, anak menceritakan apa bersemangat menyambut yang terjadi jika: proses belajar mengajar. warna dicampur Dalam pertemuan ketiga ini, peneliti melakukan dengan air, percobaan sains sederhana warna dicampur menggunakan media air, dengan warna pewarna makanan, susu, dan gelas takar. Anak warna jika dipandu untuk mampu dicampur susu. Ketika berlangsung, anak 4O mengatakan jika warna warna oranye. Adapun anak 12A mengatakan jika warna merah dan ungu warna seperti baju yang Selanjutnya, mengatakan media warna yang ia gunakan memiliki aroma harum seperti buah Anak menyebutkan Di hari keempat, peneliti mengajak seluruh peserta berdasarkan ukuran didik mengamati bunga di Aulebih dariAy. Aukurang halaman sekolah. Dalam dariAy, dan pertemuan keempat ini. Aupaling/terAy. komunikasi aktif dengan peserta didik. Anak 6F dan 14Q mengatakan, bunga yang di petiknya basah karena hujan. Anak memperkirakan Pada pertemuan terakhir, urutan berikutnya STEAM E-ISSN: 3024-935X (Siti Salamah1. Rahmat Hidayat2, & Ani Herniawati. urutan warna. setelah melihat bentuk atau warna 2 pola yang berurutan dijadikan salah satu metode keterampilan berpikir kritis (HOTS) pada anak, serta metode STEAM, kegiatan belajar mengajar menjadi menyenangkan dan tidak Pada proses pertemuan terakhir ini, peneliti menemukan bahwa STEAM, selain munculnya STEAM memunculkan kemampuan perkembangan lain yang juga berkembang dengan baik, seperti: . aspek nilai agama dan moral, . aspek fisik motorik, dan . aspek sosial emosional. Sumber: (Purnamasari & Nurhayati, 2018, pp. 128Ae. Pembahasan Berdasarkan data yang dikumpulkan dari hasil pengamatan di atas, penggunaan metode pembelajaran STEAM terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis (HOTS) anak usia 5-6 tahun. Berdasarkan data yang telah diuraikan pada catatan lapangan . di atas, peneliti menemukan bahwasannya metode pembelajaran STEAM berdampak pada kemampuan berpikir kritis anak usia 5-6 tahun, seperti: . anak mampu mengidentifikasi media yang disiapkan guru, . anak mampu mendeskripsikan dan menjelaskan hasil eksperimen, . anak mampu mengenali perubahan, proses bereksperimen, dan membandingkan hasil eksperimen, . anak mampu memecahkan masalah sederhana, dan . anak mampu mengekspresikan opini terkait eksperimen yang dilakukan. Selain itu, metode STEAM berbasis HOTS berdampak pula pada aspek lainnya, seperti: . aspek nilai agama dan moral, yang mana mengajarkan anak-anak untuk mencintai alam dan menghargai alam sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, . aspek fisik motorik, yang mana hal ini dapat menstimulasi motorik saat anak mencoba mengeksplorasi media pembelajaran, dan . aspek sosial emosional, yang mana anak saling bekerja sama dan berkolaborasi dengan teman saat proses eksperimen. Selanjutnya, peneliti menjawab dua rumusan masalah . esearch problem. yang telah diajukan pada bagian pendahuluan. Rumusan masalah pertama: AuBagaimana pembelajaran STEAM berdampak terhadap kemampuan berpikir kritis (HOTS) Anak Usia 5-6 Tahun?Ay Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil observasi ketiga yang dilaksanakan pada tanggal 1 November 2023 sebagaimana yang telah dicatat pada fieldnote, dampak metode pembelajaran STEAM terhadap kemampuan berpikir kritis Jurnal INTISABI. Vol. No. Maret 2024 E- ISSN: 3024-935X (Siti Salamah1. Rahmat Hidayat2. Ani Herniawati. (HOTS) anak usia 5-6 tahun, di antaranya: . mampu mengenali perubahan pada proses eksperimen . anak mampu bereksperimen, . anak mampu membandingkan hasil eksperimen, dan . anak mampu mengekspresikan opini terkait eksperimen yang Adapun rumusan masalah . esearch problem. yang kedua: AuFaktor apa yang dapat mempengaruhi efektivitas pembelajaran STEAM dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis pada anak usia 5-6 tahun?Ay Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil observasi pertama yang dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober 2023 sebagaimana yang telah dicatat pada fieldnote, faktor tersebut meliputi: penggunaan metode ceramah yang mana guru menjadi satu-satunya sumber belajar bagi anak. Hal ini menyebabkan kejenuhan pada anak karena anak hanya mendengarkan penjelasan dari guru. Berdasarkan jawaban dari kedua rumusan masalah . esearch problem. di atas, data tersebut sekaligus menjadi hasil penelitian sekarang. Hasil penelitian sekarang selaras dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Reswari . Azizah et , . Permata et al. , . , yakni metode pembelajaran STEAM berdampak terhadap kemampuan berpikir kritis (HOTS). Akan tetapi dalam penelitian sekarang ditemukan juga bahwa metode pembelajaran STEAM dapat menstimulasi aspek nilai agama dan moral, yang mana mengajarkan anak-anak untuk mencintai alam dan menghargai alam sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, aspek fisik motorik, yang mana hal ini dapat menstimulasi motorik saat anak mencoba mengeksplorasi media pembelajaran, dan aspek sosial emosional, yang mana anak saling bekerja sama dan berkolaborasi dengan teman saat proses eksperimen. Perbedaan temuan ini selanjutnya menjadi keterbaruan . dari hasil penelitian sekarang. Keterbaruan . penelitian ini juga didukung oleh penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Hidayat. Nurhayati, et al. , 2. , selain itu juga selaras dengan penelitian terdahulu yang lain yang dilakukan oleh Hidayat . dan Herniawati . SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat ditarik kesimpulan bahwasanya metode pembelajaran STEAM memberikan dampak yang signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis (HOTS) anak usia 5-6 tahun, di antaranya: . anak mampu mengidentifikasi media yang disiapkan guru, . anak mampu mendeskripsikan dan menjelaskan hasil eksperimen . anak mampu mengenali perubahan, proses bereksperimen, dan membandingkan hasil eksperimen, . anak mampu memecahkan masalah sederhana, dan . anak mampu mengekspresikan opini terkait eksperimen yang dilakukan. Selain itu, metode pembelajaran STEAM memberikan dampak lain terhadap kemampuan berpikir kritis (HOTS) anak usia 5-6 tahun, di antaranya: . aspek nilai agama dan moral, yang mana mengajarkan anakanak untuk mencintai alam dan menghargai alam sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, . aspek fisik motorik, yang mana hal ini dapat menstimulasi motorik saat anak mencoba mengeksplorasi media pembelajaran, dan . aspek sosial emosional, yang mana anak saling bekerja sama dan berkolaborasi dengan teman saat proses eksperimen. Jurnal INTISABI. Vol. No. Maret 2024 E-ISSN: 3024-935X (Siti Salamah1. Rahmat Hidayat2, & Ani Herniawati. REFERENSI