Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 29 - 36 Available Online at jurnal. id/focus KEPUASAN PENGUNJUNG TERHADAP PENGELOLAAN WISATA KONSERVASI PENYU DI KAMPUNG GAG. KABUPATEN RAJA AMPAT Naufaldy Azzura Herdiana1*. Sahadi Humaedi2 1,2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Padjadjaran Article history Received : 03 Maret 2024 Revised : 30 Juni 2024 Accepted : 06 Juli 2024 *Corresponding author Email : naufaldy20002@mail. No. doi: 10. 24198/focus. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepuasan masyarakat terhadap pengelolaan wisata konservasi penyu di Kampung Gag. Kabupaten Raja Ampat. Penelitian pengembangan masyarakat menggunakan instrumen indeks kepuasan masyarakat. Kompetensi pengelola program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat wisata konservasi penyu dinilai melalui empat indikator, yaitu kemampuan menyampaikan informasi secara jelas dan mudah dimengerti, inovasi/kebaruan yang dilakukan pengelola, kejelasan identitas pengelola, serta pemahaman pengunjung terhadap fungsi pengelola. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Hasilnya adalah masyarakat memiliki persepsi positif terhadap kompetensi pengelola program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat wisata konservasi penyu. Kata pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, evaluasi program pengembangan masyarakat, indeks kepuasan ABSTRACT This study aims to determine public perception of the competence of turtle conservation tourism community development and empowerment program managers. This research is an evaluation of community development programs using the community satisfaction index instrument. The competence of turtle conservation tourism community development and empowerment program managers is assessed through four indicators, namely the ability to convey information clearly and easily understood, innovation/novelty carried out by the manager, clarity of the manager's identity, visitor's understanding of the manager's function. The research method used is a descriptive method with a quantitative The result is that the community has a positive perception of the competence of turtle conservation tourism community development and empowerment program managers. Keywords: development and empowerment program, community Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 29 - 36 Available Online at jurnal. id/focus satisfaction index. PENDAHULUAN Program pemberdayaan masyarakat (PPM) wisata konservasi penyu merupakan salah satu program yang diselenggarakan oleh PT Gag Nikel sebagai perusahaan di bidang tambang dan batu bara. Program PPM diimplementasikan di zona wilayah ring-1 PT Gag Nikel, yaitu Kampung Gag. Distrik Waegeo Barat Kepulauan. Kabupaten Raja Ampat. Provinsi Papua Barat Daya. Program PPM wisata konservasi penyu beroperasi di bidang pariwisata dan lingkungan yang dilaksanakan sejak tahun Program PPM wisata konservasi penyu dikelola oleh kelompok Menyenfen yang dibentuk sejak tahun 2018. Kelompok Menyenfen konservasi penyu di Kampung Gag. Kabupaten Raja Ampat. Program PPM wisata konservasi penyu memiliki tujuan untuk mengubah paradigma masyarakat Pulau Gag melalui edukasi konservasi penyu sisik. Hal ini disebabkan masyarakat Pulau Gag memiliki budaya memburu serta mengonsumsi telur penyu dan penyu untuk perayaan-perayaan tertentu. Kelompok Menyenfen mengubah budaya tersebut. Hal tersebut dilakukan melalui pemberian kesempatan kepada masyarakat Pulau Gag untuk turut serta mengelola lingkungan yaitu dengan konservasi penyu. Program PPM adalah implementasi tanggung jawab sosial dan lingkungan untuk perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan mineral dan batubara. Program PPM diatur dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1824 tahun 2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Peraturan ini meregulasi perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) dan izin usaha pertambangan khusus (IUPK) masyarakat, di dalamnya mengatur agenda kerja, draft cetak biru, pertimbangan teknis, dan rencana induk program PPM. Program PPM bertujuan untuk memajukan aspek lingkungan, dan sosial budaya di wilayah operasional perusahaan tambang (Permen ESDM. Nomor 41 Tahun 2. Program PPM wisata konservasi penyu merupakan satu dari sejumlah program PPM lainnya yang diselenggarakan oleh PT Gag Nikel. Penerima manfaat program PPM PT Gag Nikel dibagi menjadi tiga zona wilayah yang disebut dengan ring-1, ring-2, dan Zona ring-1 adalah wilayah yang berada di perkampungan di Pulau Gag, tempat kegiatan operasional perusahaan tambang berlangsung. Masyarakat yang berada di zona ini terdampak langsung oleh aktivitas pertambangan. Intensitas interaksi masyarakat dan perusahaan di zona ring-1 berlangsung setiap hari jika dibandingkan dengan wilayah lainnya. Zona ring-2 adalah wilayah yang menjadi lokasi fasilitas utama Wilayah ini terkena dampak lingkungan secara langsung dari kegiatan operasional pertambangan. Wilayah yang termasuk zona ring-2 adalah pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Gag, di antaranya adalah Pulau Fam dan Pulau Saukabu. Zona ring-3 tidak terdampak langsung oleh kegiatan operasional perusahaan dan Interaksi masyarakat dan perusahaan di zona ring-3 lebih rendah dibandingkan zona lainnya. Zona ring-3 Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 29 - 36 Available Online at jurnal. id/focus meliputi Kota dan Kabupaten Waisai sebagai ibukota Kabupaten Raja Ampat serta Kota Sorong sebagai pusat ekonomi masyarakat Kabupaten Raja Ampat. Pengembangan merujuk pada serangkaian kegiatan yang meibatkan sekelompok orang dengan kesamaan wilayah untuk mencapai tujuan Pengembangan meliputi perancangan kegiatan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat (Robinson dan Green, 2. Masyarakat berperan sebagai subjek utama sekaligus penentu arah dalam proses pengembangan masyarakat (Ife dan Tesoriero, 2. Masyarakat dituntut untuk mampu berswadaya, dan dapat mengarahkan dirinya dalam proses pengembangan masyarakat (Ife & Tesoriero, 2. Pemberdayaan kelompok atau komunitas agar dapat berubah ke arah yang lebih baik melalui diimplementasikan oleh komunitas bekerja sama dengan korporasi atau organisasi eksternal untuk mencapai tujuannya (Ismail, 2. Pemberdayaan masyarakat merupakan konsep pembangunan ekonomi berkelanjutan yang berkonsentrasi pada kontribusi masyarakat dan berfokus pada kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka (Chambers, 2. Dalam mencapai tujuan pemberdayaan masyarakat, perlu ada dukungan dari nilai lokal dan sumber daya yang berasal dari masyarakat (Chambers, 2. Penilaian kompetensi pengelola konservasi penyu ini dilakukan melalui evaluasi program PPM. Evaluasi program memungkinkan pengelola untuk mengukur sejauh mana tujuan dan sasaran program telah tercapai (Zastrow, 1. Evaluasi dilakukan untuk mengawasi program agar pelaksanaan program dapat memenuhi tujuan dan kebutuhan penerima manfaat (Weil et al, 2. Oleh karena itu, masyarakat penerima manfaat harus terlibat dalam proses evaluasi program pengembangan masyarakat (Weil et al. Tahap efektivitas dan efisiensi program (Weil et al. Sheafor et al, 1. Efektivitas program merupakan keadaan ketika suatu program dapat menghasilkan outcome yang penerima manfaat (Sugiana, 2. Analisis mendalam terhadap penggunaan sumber daya, hasil, dan dampak program PPM melalui evaluasi dapat memberikan informasi kepada pemangku kepentingan seperti pelaksana program, penerima manfaat, dan masyarakat umum. Instrumen yang digunakan untuk melakukan evaluasi program PPM adalah indeks kepuasan masyarakat (IKM). Masyarakat sebagai penerima manfaat program PPM dapat menilai pemenuhan kebutuhan dan harapan masyarakat melalui program PPM. Indeks kepuasan masyarakat dapat menjadi tolok ukur dalam menilai keberhasilan program bagi penerima manfaat (Widodo, 2. Hasil evaluasi program PPM menggunakan instrumen IKM dapat menjadi patokan bagi pemangku kepentingan dan penyelenggara program untuk meningkatkan mutu program (Rizkia, 2. Indeks merupakan alat pengukuran untuk mengevaluasi kinerja dan kualitas program pelayanan publik (Sutami, et. , 2. Pengambilan data dan evaluasi program PPM menggunakan indeks kepuasan masyarakat mengacu pada Permenpan RB Nomor 14 Tahun 2017 yang mengatur Pedoman Penyusunan Survey Kepuasan Masyarakat Unit Penyelenggara Pelayanan Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 29 - 36 Available Online at jurnal. id/focus Publik. Indeks kepuasan masyarakat dimaksudkan untuk memastikan bahwa pelaksanaan program pelayanan publik selalu memiliki kualitas, nilai guna, dan masyarakat umum (Widodo, et. , 2. Terdapat sembilan dimensi pengukuran IKM menurut Permenpan RB Nomor 14 Tahun 2017, yaitu: Persyaratan: merupakan ketentuan mendapatkan layanan, persyaratan dapat bersifat teknis maupun Sistem Mekanisme dan Prosedur: dimensi ini merujuk pada aturan pelaksanaan layanan untuk pemberi dan penerima layanan. Ketepatan Waktu Penyelesaian: mengacu pada jangka waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan seluruh layanan progam. Biaya/Tarif: kepada penerima layanan untuk mendapatkan layanan program. Produk Spesifikasi Jenis Layanan: hasil layanan yang diterima sesuai dengan ketentuan program. Produk layanan adalah outcome dari implementasi setiap jenis layanan. Kompetensi Pengelola: mencakup kemampuan pengelola program keahlian, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan. Perilaku Pengelola: sikap pengelola Penanganan Pengaduan Saran dan Masukan: proses pengelolaan dan peninjauan saran dan masukan yang Sarana dan Prasarana: sarana merujuk pada segala hal yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan, sarana merupakan objek bergerak. Prasarana merujuk pada penunjang utama dalam pelaksanaan suatu proses, prasarana merupakan objek tidak bergerak. Penelitian ini berfokus pada unsur kompetensi pengelola program PPM wisata menggunakan instrument indeks kepuasan masyarakat (IKM). Kompetensi pengelola program PPM wisata konservasi penyu dinilai melalui empat indikator, yaitu kemampuan pengelola program PPM konservasi penyu secara jelas dan mudah inovasi/kebaruan dilakukan oleh pengelola tempat wisata konservasi penyu, kejelasan identitas pengelola wisata konservasi penyu, serta pengetahuan dan pemahaman pengunjung konservasi penyu. METODE Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penggunaan metode deskriptif bertujuan mengidentifikasi fenomena dalam populasi atau sampel (Zellatifanny dan Mudjiyanto. Penelitian deskriptif berfokus pada pengamatan, pengukuran, dan penjelasan tentang fenomena tanpa melakukan (Koentjaraningrat. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk melakukan penelitian pada populasi atau (Sugiyono. Pengambilan data dilakukan menggunakan menggeneralisasi populasi melalui sampel yang sudah ditentukan (Babbie, 1. Pada penelitian ini, objek yang menjadi fokus PPM konservasi penyu. Sementara itu, subjek pada penelitian ini adalah penerima manfaat program, yaitu masyarakat yang pernah berkunjung ke tempat wisata Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 29 - 36 Available Online at jurnal. id/focus konservasi penyu. Pulau Gag. Kabupaten Raja Ampat. Provinsi Papua Barat Daya. Penentuan jumlah sampel dilakukan berdasarkan jumah populasi penduduk Pulau Gag yaitu 265 kepala keluarga (Distrik Waigeo Barat Kepulauan Dalam Angka, 2. Namun, tidak diketahui berapa jumlah pasti masyarakat yang pernah berkunjung ke tempat wisata konservasi penyu sehingga penentuan jumlah sampel dilakukan menggunakan pertimbangan teori limit sentral dan aturan penentuan sampel yang dikemukakan oleh Gay. Mills, dan Airasian . Teori limit sentral menyatakan bahwa distribusi dari statistik rata-rata akan mendekati distribusi normal apabila ukuran populasi mendekati tak terhingga dengan rentang sampel 30 hingga 500 responden (Alwi, 2. Merujuk pada teori limit sental dan teori pengambilan sampel yang dikemukakan oleh Gay. Mills, dan Airasian . , dan mempertimbangkan kondisi lapangan, peneliti memutuskan bahwa jumlah sampel yang ditarik pada penelitian ini sebanyak 30 penduduk Kampung Gag yang sudah pernah mengunjungi tempat wisata konservasi penyu. Analisis data pada penelitian ini Distribusi frekuensi adalah pengurutan data berdasarkan kuantitasnya (Junaedi. Penelitian ini menggunakan skala Likert untuk membagi nilai yang diperoleh menjadi empat kluster dengan nilai tertinggi adalah 4 dan nilai terendah adalah Penggunaan skala Likert bertujuan untuk mengukur persepsi responden mengenai fenomena sosial (Sugiyono, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Kompetensi pengelola program keberlangsungan program. Kompetensi pengelola program dinilai penting ketika pengelola menjalankan tugasnya dan memberikan pelayanan kepada penerima Kompetensi berpengaruh terhadap kualitas pelayanan yang diberikan kepada penerima manfaat. Unsur kompetensi pengelola program PPM wisata konservasi penyu mencakup empat indikator, yaitu kemampuan pengelola dalam menyampaikan informasi secara jelas dan dapat dengan mudah dipahami, inovasi atau kebaruan dalam proses program berlangsung, identitas pengelola yang jelas, serta fungsi dari pengelola. Tanggapan kompetensi pengelola program PPM wisata konservasi penyu dijelaskan sebagai Persepsi Responden Mengenai Kemampuan Pengelola Wisata Konservasi Penyu Menyampaikan Informasi Konservasi Penyu yang Jelas dan Mudah Dipahami Gambar 1. 1 Grafik Persepsi Responden Mengenai Kemampuan Pengelola Wisata Konservasi Menyampaikan Informasi Konservasi Penyu yang Jelas dan Mudah Dipahami Berdasarkan hasil survei, mayoritas responden sebanyak 16 orang . dari 30 responden memberikan kemampuan pengelola wisata konservasi penyu dalam menyampaikan informasi yang jelas dan mudah dipahami, 11 orang . 6% responde. memberikan tanggapan setuju, dan 3 orang . % responde. Mayoritas responden yang memberikan tanggapan positif menunjukkan bahwa pengelola tempat wisata konservasi penyu berhasil menyampaikan informasi terkait Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 29 - 36 Available Online at jurnal. id/focus konservasi penyu secara jelas dan mudah Persepsi Responden Mengenai Pengelola Melakukan Berbagai Inovasi/Kebaruan Selama Mengelola Tempat Wisata Konservasi Penyu Berdasarkan responden yang menjawab tidak setuju, perubahan di tempat wisata konservasi penyu dirasa belum terlalu signifikan. Akan tetapi, tanggapan positif dari mayoritas responden ini menunjukkan bahwa upaya perubahan atau inovasi yang dibawa oleh Persepsi Responden Mengenai Kejelasan Identitas Pengelola Wisata Konservasi Penyu Gambar 1. 2 Grafik Persepsi Responden Mengenai Pengelola Wisata Konservasi yang Melakukan Berbagai Inovasi/Kebaruan Selama Proses Konservasi Penyu Berdasarkan hasil survei, sebanyak 13 orang . 3% responde. dari 30 responden memberikan tanggapan sangat setuju terhadap inovasi/kebaruan yang dilakukan oleh pengelola program wisata konservasi penyu, 11 orang . memberikan tanggapan setuju, serta 6 orang . % responde. memberikan tanggapan tidak setuju. Untuk menjawab pertanyaan indikator ini, responden membandingkan perubahan apa saja yang mereka lihat atau rasakan ketika pertama kali berkunjung dengan keadaan ketika terakhir kali berkunjung. Mayoritas responden berpendapat bahwa terdapat membandingkan saat kunjungan pertama kali dengan kunjungan terakhir kali. Sejumlah responden menuturkan adanya perubahan positif berupa penambahan fasilitas pendukung seperti gazebo, kursi, pendopo, meja, dan hiasan pemanis lokasi Namun, sejumlah responden sebesar . %) memberikan tanggapan tidak inovasi/kebaruan yang dilakukan oleh pengelola wisata konservasi penyu. Hal ini disebabkan adanya harapan atau preferensi yang berbeda dari sudut pandang sejumlah Gambar 1. 3 Grafik Persepsi Responden Mengenai Kejelasan Identitas Pengelola Wisata Konservasi Penyu Berdasarkan hasil survei, mayoritas responden sebanyak 21 orang . % responde. dari 30 responden memberikan kejelasan identitas pengelola wisata konservasi penyu, 8 orang . memberikan pernyataan setuju, dan 1 orang . 3% responde. memberikan pernyataan tidak setuju. Kejelasan identitas pengelola merupakan bentuk transparansi struktur pengelolaan program sebagai salah satu indikator dalam kompetensi pengelola Akuntabilitas program dapat meningkat apabila program memiliki kejelasan identitas pengelola. Kejelasan identitas juga dapat mempermudah evaluasi program yang dilakukan oleh pihak luar, salah satunya adalah penerima Kredibilitas dapat meningkat Hal ini berasal dari kepercayaan pengunjung, masyarakat, dan pihak-pihak yang terlibat dalam operasional program. Mayoritas responden setuju mengenai Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial ISSN: 2620-3367 (Onlin. Vol. 7 No. 1 Juli 2024 Hal : 29 - 36 Available Online at jurnal. id/focus kejelasan identitas pengelola konservasi penyu dapat menunjukkan bahwa identitas pengelola jelas atau transparan. Persepsi Responden Mengenai Pengetahuan dan Pemahaman Fungsi Pengelola Wisata Konservasi Gambar 1. 4 Grafik Persepsi Responden Mengenai Pengetahuan dan Pemahaman Fungsi Pengelola Wisata Konservasi Penyu Berdasarkan hasil survei, mayoritas responden sebanyak 16 orang . dari 30 responden memberikan pengetahuan dan pemahaman fungsi pengelola program PPM wisata konservasi penyu dan 14 orang responden . dari 30 responden memberikan Tidak responden yang memberikan tanggapan responden mengetahui dan memahami fungsi pengelola wisata konservasi penyu, pelestarian penyu sisik serta pemberi menghentikan budaya memburu dan mengonsumsi penyu sisik. SIMPULAN Persepsi kemampuan pengelola wisata konservasi penyu menyampaikan informasi yang jelas dan mudah dipahami didasarkan pada penilaian responden kepada pengelola Mayoritas responden memberikan tanggapan positif terhadap pernyataan ini. Hal ini didukung oleh fakta bahwa pengelola wisata konservasi penyu sudah memahami bagaimana tata cara konservasi penyu. Penyampaian informasi dengan jelas didukung oleh kesamaan bahasa yang digunakan oleh pengelola wisata dan pengunjung pengunjung yang berasal dari Pulau Gag. Persepsi pengelola wisata konservasi penyu yang melakukan berbagai inovasi/kebaruan selama mengelola program PPM wisata konservasi penyu. Pengunjung menilai adanya kebaruan yang dilakukan oleh membandingkan kondisi tempat wisata konservasi penyu ketika pengunjung pertama kali datang dan terakhir kali Mayoritas menuturkan bahwa kebaruan yang ada berupa pengadaan fasilitas penunjang bagi pengunjung seperti tempat duduk, gazebo, dan tempat sampah. Persepsi responden berdasarkan kejelasan identitas pengelola program PPM Seluruh responden memberikan tanggapan positif terhadap pernyataan ini dikarenakan pengelola tempat wisata konservasi penyu adalah kelompok Menyenfen yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Pulau Gag sebagai pegiat konservasi penyu sisik. Persepsi responden berdasarkan pengetahuan dan pemahaman fungsi Pengunjung menilai memahami fungsi dari pengelola program wisata konservasi penyu dikarenakan adanya keterbukaan informasi dari pengelola terhadap pengunjung wisata konservasi. DAFTAR PUSTAKA