DE_JOURNAL (Dharmas Education Journa. http://ejournal. id/index. php/de_journal E-ISSN : 2722-7839. P-ISSN : 2746-7732 Vol. 6 No. , 100-107 Hubungan Media Pembelajaran Digital Dengan Literasi Digital Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Agama Buddha Trina Ristiani1. Kabul Praptiyono2. Budiyanto3 e-mail: 1trinaristiani5@gmail. STIAB Smaratungga. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia Abstrak Studi yang dilakukan memiliki tujuan mengkaji korelasi penggunaan media pembelajaran secara digital dan keterampilan berliterasi digital siswa beragama Buddha pada kegiatan pembelajaran tahun ajaran 2024/2025. Fokus utama penelitian adalah untuk mengetahui bentuk hubungan, arah, serta tingkat keeratan antara kedua variabel tersebut. Fenomena yang diamati pada peserta didik Agama Buddha di SMA Negeri 1 Ampel menunjukkan bahwa meskipun pemanfaatan media digital dalam pembelajaran cukup aktif, kemampuan peserta didik dalam memahami, mengevaluasi, dan mengelola informasi digital belum optimal. Jenis penelitian ini ialah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif korelasional. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang diberikan kepada seluruh populasi berjumlah 18 responden. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa terdapat arah hubungan positif dan tingkat keeratan tergolong kuat dengan kontribusi sebesar 73% atau 0. 73 antara pemakaian media pembelajaran digital dengan literasi digital. Hal ini menunjukkan meningkatnya penggunaan media pembelajaran digital, maka literasi digital peserta didik juga akan meningkat. Sementara itu, 27% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel yang diteliti. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa integrasi media digital yang tepat dapat memperkuat literasi digital dalam konteks pembelajaran berbasis nilai-nilai Buddhis. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembangkan model intervensi digital berbasis etika dan spiritualitas dalam konteks pendidikan keagamaan. Kata Kunci: Media Pembelajaran Digital. Literasi Digital. Peserta Didik Beragama Buddha Abstract The study aims to examine the correlation between the use of digital learning media and the digital literacy skills of Buddhist students in learning activities in the 2024/2025 academic year. The main focus of the study is to determine the form of relationship, direction, and level of closeness between the two variables. The phenomenon observed in Buddhist students at SMA Negeri 1 Ampel shows that although the use of digital media in learning is quite active, students' abilities in understanding, evaluating, and managing digital information are not optimal. The approach used in this study is the correlational quantitative method. Meanwhile, the data was obtained by distributing questionnaires to all samples totaling 18 respondents. The results of the hypothesis test showed that there was a positive and significant relationship with a contribution of 73% between the use of digital learning media and digital literacy. This shows that the increasing use of digital learning media will also increase students' digital literacy. Meanwhile, the remaining 27% is influenced by other factors outside the variables This study provides implications that the integration of appropriate digital media can strengthen digital literacy in the context of learning based on Buddhist values. Keywords: Digital Learning Media. Digital Literacy. Buddhist Students Info Artikel : Diterima Mei 2025 | Disetujui Juni 2025 | Dipublikasikan Juni 2025 Trina Ristiani, dkk | Hubungan Media Pembelajaran Digital Dengan Literasi Digital Peserta Didik Beragama Buddha Pendahuluan Kemampuan literasi adalah kompetensi dasar yang diperlukan bagi individu untuk bermanuver secara efektif melalui tantangan beragam masyarakat abad ke-21(Amelia et al, 2023:6. Literasi dalam ranah pendidikan ialah sebagai indikator mendasar terkait kualitas sumber daya masyarakat pada ranah pendidikan suatu negara, tak terkecuali Indonesia (Hanafi et al. Inisiatif pemerintah untuk meningkatkan literasi dibuktikan dengan pelaksanaan progam Gerakan Literasi Sekolah atau GLS dimulai pada bulan Maret tahun 2016 yang mencakup kemampuan literasi sebagai berikut, numerasi, finansial, sains, kewargaan, budaya, baca tulis, dan Wacana literasi digital muncul sebagai topik yang menarik untuk dikaji, terutama mengingat kemajuan pesat dalam teknologi. Literasi digital ialah keterampilan dalam memahami, mengakse, serta memanfaatkan penjelasan yang tersaji di berbagai format dan beragam sumber melalui perangkat berbasis komputer (Gilster, 1997:. Sehingga literasi digital mencakup kompetensi teknis dan kognitif yang diperlukan untuk pemanfaatan, pemahaman, dan penerapan informasi yang berasal dari berbagai format digital, sehingga memfasilitasi kegiatan dan upaya pemecahan masalah di era digital kontemporer. Dalam konteks pendidikan Buddhis, kemahiran ini memungkinkan peserta didik untuk menganalisis ajaran dengan rasionalitas, terlibat dalam dialog yang bermakna dengan rekan-rekan mereka, dan mewujudkan prinsip-prinsip etika dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sebagaimana diartikulasikan dalam Paritta DhammAnussati dengan frasa AuehipassikoAy yang menandakan tindakan datang dan membuktikan, hubungan antara literasi digital dan pendidikan agama terletak pada premis bahwa memiliki keterampilan literasi digital memungkinkan peserta didik untuk terlibat dalam pemikiran kritis untuk memvalidasi informasi yang diperoleh melalui teknologi digital. Badan-badan pemerintah telah melakukan berbagai inisiatif. namun, seperti yang ditunjukkan oleh Indeks Daya Saing 2020. Indonesia menempati posisi ke-56 di antara 63 negara (Januar et al, 2022:. Menurut Direktorat Jenderal Aptika, nilai literasi pada bidang digital Indonesia pada tahun 2022 juga masih berada pada kategori sedang, yaitu 3,54 dari skala 5 (Zahra, 2023:. Ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi belum sepenuhnya diimbangi dengan kemampuan kritis dan etis dalam menggunakan informasi digital. Berbagai penelitian sebelumnya telah mengungkap bahwa penggunaan media digital dalam pembelajaran dapat meningkatkan literasi Rizqiya dan Pebri Setiani . menunjukkan bahwa integrasi sumber belajar digital mampu memperkuat literasi digital peserta didik. Demikian pula Januar et al. melaporkan bahwa media pembelajaran digital berkontribusi signifikan terhadap peningkatan keterampilan digital siswa. Namun, sebagian besar studi tersebut berfokus pada mata pelajaran umum seperti IPS dan PAI, serta tidak secara khusus mengkaji hubungan media pembelajaran digital dengan literasi digital dalam konteks pendidikan agama Buddha. Inilah celah penelitian yang berusaha diisi oleh studi ini. Realitas yang diamati di SMA Negeri 1 Ampel menunjukkan bahwa meskipun peserta didik menunjukkan antusiasme tinggi terhadap penggunaan media digitalAiseperti Wordwall. Quizizz. Canva, dan YouTubeAikemampuan mereka dalam mengevaluasi dan mengelola informasi digital masih terbatas. Temuan lapangan menunjukkan kecenderungan siswa hanya mengandalkan satu sumber informasi, tanpa mempertimbangkan keakuratan dan keberagaman referensi, yang menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk memahami ajaran Buddha secara kritis dan Di sisi lain, media pembelajaran digital memiliki potensi besar dalam mendukung pembelajaran agama Buddha secara lebih fleksibel, interaktif, dan bermakna. Media ini, apabila dimanfaatkan secara bijaksana, dapat menjadi sarana untuk memperdalam nilai-nilai spiritual dan etika, sebagaimana ditegaskan dalam syair Dhammapada Magga Vagga :"Setelah mengetahui kenyataan ini, maka orang berbudi dan bijaksana tak akan menunda waktu dalam menempuh jalan menuju NibbanaAy (Dhp. Sehingga dapat diartikan bahwa media pembelajaran digital adalah media penyebaran ajaran agama, apabila dimanfaatkan secara bijaksana, berpotensi menjadi sarana yang efektif dalam proses pembelajaran dan berbagi informasi. Trina Ristiani, dkk | Hubungan Media Pembelajaran Digital Dengan Literasi Digital Peserta Didik Beragama Buddha Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pemanfaatan media pembelajaran digital dengan literasi digital peserta didik dalam pembelajaran Agama Buddha. Fokus kajian diarahkan pada bentuk, arah, dan tingkat keeratan hubungan antarvariabel, guna memberikan kontribusi teoretis dan praktis dalam pengembangan pembelajaran berbasis nilai dan teknologi. Metode Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif korelasional. Kajian ini bertujuan guna mendeskripsikan bentuk korelasi, arah, serta mengukur level keeratan korelasi penerapan alat pembelajaran secara digital dan keterampilan berliterasi dibidang digital peserta didik beragama Buddha saat kegiatan belajar dikelas. Teknik sampling dari kajian ini ialah teknik sampling jenuh karena sampel terdiri dari 18 peserta didik beragama Buddha. Metode untuk mengumpulkan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur dengan skala Likert. Data utama penelitian diperoleh dari seluruh siswa beragama Buddha SMA Negeri 1 Ampel tahun ajaran 2024/2025. Teknik korelasi Pearson Product Moment digunakan peneliti dengan memenuhi asumsi linearitas dan distribusi Temuan data disajikan dalam bentuk tabel yang dibuat dengan menggunakan SPSS 21 dan Microsoft Excel. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Setelah data dikumpulkan dengan kuesioner, selanjutnya dilakukan analisis untuk memastikan validitas dan reliabilitasnya, dan kemudian direkap berdasarkan setiap variabel yang Berikut disajikan tabel rekapitulasi variabel literasi digital yang meliputi delapan sub variabel, yaitu kepatuhan keamanan digital, keterampilan teknis, kesadaran terhadap hak cipta, evaluasi kredibilitas informasi, pembuatan konten digital, komunikasi digital, kesadaran etika digital, dan kolaborasi digital. Tabel 1. Hasil Rekapitulasi Variabel Literasi Digital Sub Variabel Rata-Rata Skor Persentase% Kategori Keterampilan teknis Evaluasi kredibilitas 3 Komunikasi digital 4 Kolaborasi digital 5 Kesadaran terhadap hak 6 Kesadaran etika digital 7 Pembuatan konten 8 Kepatuhan keamanan Rata-rata Sumber: Diolah oleh peneliti Cukup Cukup Tinggi Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Melalui Tabel 1. dapat dideskripsikan rekapitulasi mengenai variabel kemampuan literasi digital . dari hasil penyebaran kuesioner yaitu responden berada pada kategori tinggi pada subvariabel komunikasi digital dan kategori cukup dalam subvariabel lainnya Berdasarkan subvariabel yang dianalisis, rata-rata kemampuan literasi digital peserta didik tergolong dalam tingkat cukup. Trina Ristiani, dkk | Hubungan Media Pembelajaran Digital Dengan Literasi Digital Peserta Didik Beragama Buddha Pada Tabel 2. dipaparkan hasil perolehan data pemanfaatan media pembelajaran digital yang terdiri dari lima sub variabel yaitu frekunsi penggunaan, ketersediaan materi pembelajaran, fleksibel dan berbasis internet Tabel 2. Hasil Rekapitulasi Variabel Pemanfaatan Media Pembelajaran Digital Sub Variabel Rata-Rata Skor Persentase% Kategori Cukup Cukup Cukup Cukup Tinggi Cukup Frekuensi penggunaan Ketertarikan 3 Ketersediaan materi 4 Fleksibel 5 Berbasis internet Rata-rata Sumber: Diolah oleh peneliti Hasil rekapitulasi variabel pemanfaatan media pembelajaran digital . di atas menunjukkan rekapitulasi penggunaan media pembelajaran secara digital menurut hasil penyebaran kuesioner memperlihatkan semua subvariabel berada dalam kategori cukup kecuali subvariabel berbasis internet yang masuk kategori tinggi. Sehingga, rerata tingkat pemanfaatan media pembelajaran digital tergolong pada tingkatkan cukup. Sebelum uji hipotesis dilanjutkan, peneliti melakukan uji normalitas pada data yang Uji normalitas yang digunakan adalah Shapiro-Wilk, yang biasanya diterapkan untuk sampel dengan jumlah kurang dari 50 (Ramadhani & Bina, 2021:. Kriteria sebagai penentu normal atau tidaknya data dalam uji Shapiro Wilk yaitu: Jika nilai p lebih besar dari 5% . , maka data yang terkumpul terdistribusi secara normal. Jika nilai p kurang dari 5% . , maka data yang terkumpul terdistribusi secara tidak normal. Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Statistic Sig. Literasi Digital Media Pembelajaran Digital Sumber: Data Output SPSS Statistik 21 Dilihat dari tabel hasil uji normalitas pada tabel 3. menunjukkan bahwa variabel literasi digital . sebagai variabel terikat dan variabel media pemeblajaran digital . sebagai variabel bebas berdistribusi normal karena memiliki nilai signifikansi > 0,05. Selanjutnya untuk memenuhi uji prasayarat uji korelasi Pearson, maka dilakukan uji linieritas untuk menelaah korelasi antara variabel bebas dan variabel terikat dapat bersifat linear atau non-linear. Hubungan linear mengacu pada keterkaitan yang berbentuk garis lurus antara kedua variabel tersebut. Kriteria yang akan diterapkan yaitu : Apabila nilai Signifikansi (Sig. ) kurang dari 0,05, maka data yang diperoleh menunjukkan adanya hubungan linier. Apabila nilai Signifikansi (Sig. ) lebih dari 0,05, maka data yang diperoleh tidak menunjukkan adanya hubungan linier. Trina Ristiani, dkk | Hubungan Media Pembelajaran Digital Dengan Literasi Digital Peserta Didik Beragama Buddha Tabel 4. Hasil Uji Linieritas Sig. Literasi (Combine. Digital* Linearity Media Pembelajaran Deviation from Linearity Digital Sumber : Data Output SPSS Statistik 21 Melalui tabel 4. tingkat signifikansi lineartity (Sig. ) menunjukkan nilai yang lebih dari alpha . , hasil tersebut menunjukkan daya yang diambil memiliki hubungan yang linier, sehingga memenuhi kriteria prasyarat untuk melakukan uji korelasi Pearson. Konsep dasar dalam analisis korelasi ialah memahami apakah variavel-variabel yang diteliti memiliki hubungan, serta tingkat korelasi tersebut (Sitorus, 2024:. Uji korelasi Pearson digunakan untuk yang memberikan gambaran tentang arah dan kekuatan hubungan antara variabel-variabel Berikut ini kriteria penafsiran korelasi : Tabel 5. Kriteria Penafsiran Korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan Sangat Lemah Lemah Sedang Kuat 0,000 Ae 0. 0,200 Ae 0. 0,400 Ae 0. 0,600 Ae 0. 0,800 Ae 0. Sumber: Astuti, 2016:146 Media Pembelajaran Digital Literasi Digital Sangat Kuat Tabel 6. Hasil Uji Korelasi Media Pembelajaran Digital Pearson Correlation Sig. -taile. Pearson Correlation Sig. -taile. Literasi Digital Hasil uji korelasi bivariat diperoleh informasi nilai Sig. < . , sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak. Mengacu data pada Tabel 5, tingkat kekuatan korelasi berliterasi digital dengan media pembelajaran secara digital tergolong kuat. Bagian nilai Pearson Correlation . arah hubungan menandakan korelasi yang positif dengan tidak adanya tanda negatif. Sehingga, pemanfaatan media pembelajaran digital terbukti memiliki hubungan signifikan dengan literasi digital siswa pada pelajaran agama Buddha di SMA Negeri 1 Ampel tahun ajaran 2024/2025. Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media pembelajaran digital memberikan kontribusi yang besar terhadap literasi digital peserta didik. Berdasarkan analisis korelasi Pearson Product Moment, diperoleh nilai koefisien sebesar 0,73, yang mengindikasikan hubungan yang kuat dan positif Trina Ristiani, dkk | Hubungan Media Pembelajaran Digital Dengan Literasi Digital Peserta Didik Beragama Buddha antara pemanfaatan media pembelajaran digital dan literasi digital peserta didik pada mata pelajaran Agama Buddha di SMA Negeri 1 Ampel. Arah hubungan positif ini mengandung makna bahwa semakin tinggi frekuensi, kualitas, dan keberagaman penggunaan media digital dalam pembelajaran, maka semakin tinggi pula kemampuan peserta didik dalam mengakses, memahami, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi digital secara bijaksana. Adapun kontribusi pemanfaatan media pembelajaran digital terhadap peningkatan literasi digital mencapai 73%, sementara 27% sisanya dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti akses perangkat di rumah, motivasi belajar, dan dukungan lingkungan. Sejalan dengan teori Uses and Gratifications, yang dikemukakan oleh Katz. Blumler, dan Gurevitch . menjelaskan penggunaan media sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan, seperti informasi dan komunikasi. Carmi dan Yates . Media dan sistem digital merupakan keseluruhan perangkat, platform, serta konten digital yang dijumpai oleh masyarakat. Penelitian ini juga mengonfirmasi temuan dari berbagai studi terdahulu. Rizqiya & Pebri Setiani . menyimpulkan bahwa penggunaan sumber belajar digital mampu meningkatkan keterampilan literasi digital secara Keterangan tersebut diperkuat oleh hasil analisis Januar et al. yang menunjukkan penggunaan Aplikasi AKSI berkontribusi terhadap peningkatan literasi digital peserta didik sebanyak 72,4%, sedangkan 27,6% sisanya terpengaruh oleh aspek-aspek lain. Penelitian lain oleh Putri dan Ahmadi . menunjukkan bahwa melalui hasil analisis dengan uji statistik, video pembelajaran yang berperan sebagai media pembelajaran digital mempunyai berpengaruh yang signifikan terhadap kemampuan literasi digital peserta didik. Besar signifikansi yang dimaksud adalah 0,000 atau < 0,05. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak hanya mendukung temuan sebelumnya, tetapi juga menegaskan bahwa kontribusi media digital terhadap literasi digital bersifat konsisten dan lintas konteks mata pelajaran, termasuk dalam pendidikan agama. Tingginya kontribusi media digital terhadap literasi digital dalam konteks ini dapat dijelaskan melalui beberapa faktor kunci. Pertama, kemudahan akses dan fleksibilitas media digital memungkinkan peserta didik untuk belajar di luar jam pelajaran, mengulang materi, serta mengeksplorasi sumber ajaran Buddha dari berbagai format . eks, audio, video, animas. Kedua, internet sebagai jaringan utama pembelajaran digital menyediakan ruang luas bagi siswa untuk menemukan dan mengevaluasi berbagai informasi Dhamma, baik dari situs keagamaan, e-book, maupun kanal pembelajaran daring. Ketiga, frekuensi penggunaan media seperti Wordwall. Canva. YouTube, dan Quizizz dalam pembelajaran agama telah menciptakan pengalaman belajar yang berulang dan terstruktur, yang berdampak pada penguatan keterampilan digital siswa. Selain itu, ketertarikan siswa terhadap media digital menjadi faktor pendorong penting. Media interaktif dan visual lebih mudah dicerna dan memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam proses belajar. Ketersediaan materi pembelajaran dalam format digital yang relevan dengan konteks keagamaan juga membuat proses pembelajaran menjadi lebih hidup dan bermakna. Dalam konteks pendidikan Agama Buddha, media digital digunakan sebagai sarana penyebaran ajaran yang efektif dan sesuai dengan semangat ehipassikoAimengajak untuk datang, menyelidiki, dan membuktikan ajaran secara langsung. Penggunaan media digital dalam pembelajaran agama Buddha juga selaras dengan pemanfaatannya dalam praktik penyebaran ajaran Dhamma. Pradana et al . mengemukakan bahwa media telah lama digunakan sebagai sarana penyampaian nilai-nilai Buddhis, sedangkan Mukti . 0: . penggunaan media sesuai dengan perkembangan zaman berperan dalam mendukung kehidupan beragama Buddha. Misalnya melalui pemanfaatan media audio-visual sebagai sarana penyebaran ajaran keagamaan. Dalam konteks pendidikan agama Buddha, media pembelajaran digital mendukung peserta didik untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan yang dibutuhkan di era UNESCO atau Organisasi Pendidikan. Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan BangsaBangsa mengidentifikasi literasi digital sebagai fondasi penting dalam pemahaman perangkat teknologi, informasi, dan komunikasi (Nasrullah et al. , 2017:. Pada buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah, literasi dibidang digital dimaknakan keterampilan dan wawasan dalam menggunakan media secara digital, peralatan interaksi, sistem yang dapat memanfaatkan, menciptakan, mengakses, dan menilai data Trina Ristiani, dkk | Hubungan Media Pembelajaran Digital Dengan Literasi Digital Peserta Didik Beragama Buddha dengan cerdas, bijaksana, benar, teliti, serta sesuai dengan peraturan hukum (Hartati, et al. , 2020:. Dalam formulasi yang berbeda, literasi digital terdiri dari kompetensi yang mencakup tidak hanya penerapan sumber daya teknologi yang mahir tetapi juga komando dimensi etis, inovatif, dan strategis yang terkait dengan penggunaan teknologi untuk memfasilitasi tugas dan mengatasi tantangan dalam era digital kontemporer. Pada perspektif pendidikan Buddhis, literasi digital dipahami sebagai kompetensi transformatif yang memungkinkan individu untuk terlibat dengan teknologi digital dan informasi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Gagasan ini didasarkan pada penggabungan literasi digital menyeluruh dengan nilai-nilai etika dan ajaran yang intrinsik Buddhisme, yang mencakup prinsipprinsip seperti komunikasi etis dan kebijaksanaan. Konsep literasi digital yang bijaksana ini sesuai dengan prinsip pemahaman yang benar . ammA-dih. dan usaha yang benar . ammA-vAyAm. Pengertian atau pemahaman benar mencakup pemahaman tentang asal-mula derita, jalan untuk melenyapkan derita, derita, dan lenyapnya derita (Mukti, 2020:. Sang Buddha menggarisbawahi urgensi untuk memahami esensi derita dan jalan menuju pembebasan (SN. Prinsip ini sejalan dengan literasi digital, di mana peserta dididik dididik untuk membedakan informasi yang didasarkan secara empiris dan menghindari data yang tidak memiliki dasar faktual. (Ulfah, 2020:. Literasi digital juga dapat diartikan sebagai usaha untuk memahami informasi yang diterima. Selaras dengan ajaran pentingnya upaya yang tepat dalam memahami penderitaan dan jalan menuju lenyapnya penderitaan sebagaimana dijelaskan oleh Buddha yang disampaikan oleh Sang Buddha (SN. usaha ini mencakup empat bentuk yang berbeda (An II. , khususnya: . SanvarappadhAna, yang mengacu pada upaya untuk mencegah munculnya kondisi buruk dalam diri sendiri, . PahAnappadhAna, yang berkaitan dengan upaya untuk memberantas keadaan negatif yang telah terwujud, . BhAvanAppadhAna, menunjukkan upaya untuk memelihara keadaan positif secara internal, dan . Anurakkhappadhana, yang menandakan upaya untuk melestarikan keadaan menguntungkan yang sudah ada sebelumnya dari kerusakan. Empat bentuk usaha tersebut selaras dengan praktik literasi digital yang etis, di mana siswa harus mampu memahami dalam mengakses informasi, dan juga memiliki kesadaran etika di lingkungan digital. Dengan memahami pentingnya kemampuan literasi peserta didik maka penelitian ini penting untuk dilakukan. Temuan penelitian ini memperkuat bahwa media pembelajaran digital memiliki kontribusi besar dan bermakna terhadap penguatan literasi digital peserta didik. Tidak hanya dari segi kemampuan teknis, tetapi juga dalam pengembangan sikap, etika, dan pemikiran reflektif yang sesuai dengan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran Agama Buddha. Simpulan Setelah penelitian dilakukan, tingkat media pembelajaran secara digital maupun keterampilan berliterasi digital siswa tergolong pada tingkat cukup. Simpulan yang merujuk pada hasil uji hipotesis, yaitu terdapat korelasi signifikan dengan kontribusi sebesar 73% dan tingkat keeratan yang kuat serta arah yang positif. Sementara itu, 27% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Daftar Pustaka