Jurnal Al Azhar Indonesia Seri Ilmu Sosial Vol. Nomor 01. February 2026. Hal. DOI http://dx. org/10. 36722/jaiss. e-ISSN: 2745-5920 p-ISSN: 2745-5939 Kesalehan Digital: Studi Mahasiswa Islam dalam Menilai Keberagamaan melalui Media Sosial Nadia Karimah Hasanah1. Nazwa Nasyilla Ikhwan1. Maghfirotul Chisab Al-Jannah1. Anisa Maulida Zulfa1. Ahmad Abrori1 Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Jalan Kertamukti No. Cirendeu. Kota Tangerang Selatan. Banten, 15412 Penulis untuk Korespondensi/E-mail: nadiahasan2211@gmail. Abstract The development of social media has changed the way Muslim students express and evaluate their Religious content spread in digital spaces is often used as a reference in assessing piety, although the sincerity of its meaning is not always clear. This study aims to analyze Muslim students' assessments of piety based on religious content on social media and their perceptions of religious representation on digital platforms. This study used a quantitative approach with a survey method of 89 Muslim students selected through a purposive sampling technique. Data were analyzed using a Pearson correlation test to examine the relationship between the intensity of exposure to religious content and assessments of digital piety. The results showed no significant relationship between the two variables . > This finding indicates that religious activity on social media is not a primary factor in determining religiosity assessments among students. The novelty of this study lies in measuring perceptions of digital piety from the perspective of a student audience, which adds to the empirical evidence in the study of religiosity in the digital space. Keyword: Digital Piety. Diversity. Religious Content. Religious Representation. Social Media Abstrak Perkembangan media sosial telah mengubah cara mahasiswa Islam mengekspresikan dan menilai Konten keagamaan yang tersebar di ruang digital kerap dijadikan rujukan dalam menilai kesalehan, meskipun ketulusan maknanya tidak selalu jelas. Penelitian ini bertujuan menganalisis penilaian mahasiswa Islam terhadap kesalehan berdasarkan konten keagamaan di media sosial serta persepsi mereka terhadap representasi agama di platform digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 89 mahasiswa Muslim yang dipilih melalui teknik purposive Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson untuk menguji hubungan antara intensitas keterpaparan konten keagamaan dan penilaian kesalehan digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel tersebut . > 0,. Temuan ini mengindikasikan bahwa aktivitas keagamaan di media sosial bukan faktor utama dalam menentukan penilaian religiusitas di kalangan mahasiswa. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengukuran persepsi kesalehan digital dari perspektif audiens mahasiswa, yang menambah bukti empiris dalam studi keberagamaan di ruang digital. Kata kunci: Keberagamaan. Kesalehan Digital. Konten Keagamaan. Media Sosial. Representasi Keagamaan Kesalehan Digital: Studi Mahasiswa Islam dalam Menilai Keberagamaan melalui Media Sosial PENDAHULUAN ketulusan spiritual, atau justru menjadi sarana pencarian pengakuan sosial? Perkembangan teknologi yang semakin maju melahirkan era yang dikenal dengan sebutan era Era digital merupakan era yang ditandai dengan akses informasi yang begitu cepat dan mudah (Saptarianto dkk. , 2. Era dimana hampir semua hal bisa dilakukan atau diakses secara digital. Digitalisasi melahirkan beragam media berbasis internet yang memungkinkan masyarakat mengakses, memproduksi, dan menyebarkan informasi secara luas, salah satunya melalui media sosial. Media sosial merupakan media online di mana pengguna dapat dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan membuat konten, termasuk blog, jejaring sosial, wiki, forum, dan dunia virtual. Sejumlah kajian menunjukkan bahwa media sosial berperan dalam memperluas penyebaran konten keagamaan dan membentuk komunitas berbasis keyakinan (Campbell, 2020. Lengauer. Namun, penelitian lain menyoroti munculnya kesalehan yang bersifat performatif, sehingga memunculkan keraguan terhadap ketulusan motivasi religius di ruang publik digital (Husein, 2. Meskipun demikian, sebagian besar studi masih berfokus pada perilaku pembuat konten, sementara perspektif audiens, representasi kesalehan digital masih relattif Perkembangan teknologi digital telah mengubah praktik keagamaan, termasuk cara mahasiswa Muslim Media sosial kini menjadi ruang penting bagi mereka untuk menampilkan identitas keagamaan, berbagi pengetahuan Islam, dan berpartisipasi dalam diskursus keagamaan. Praktik religiusitas yang terjadi melalui platform digital ini dikenal sebagai Aukesalehan digitalAy, yaitu kesalehan yang dimediasi oleh aktivitas dan interaksi keagamaan di ruang media sosial (Syahputra, 2. Dengan demikian, terdapat kesenjangan penelitian terkait bagaimana mahasiswa Muslim menafsirkan representasi agama di media sosial dan bagaimana hal itu mempengaruhi penilaian mereka terhadap kesalehan seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut melalui pendekatan kuantitatif dengan fokus pada dua isu utama: . bagaimana mahasiswa Islam menilai kesalehan melalui aktivitas keagamaan yang terekspos di media sosial, dan . bagaimana mereka memandang otentisitas representasi keagamaan dalam ruang digital. Penelitian ini menawarkan kebaruan konseptual melalui penggunaan kerangka kesalehan digital dalam memahami persepsi mahasiswa terhadap keberagaman dan religiusitas di era media sosial. Berdasarkan latar belakang dan gap analisis di atas, penelitian ini merumuskan permasalahan sebagai berikut: . bagaimana mahasiswa Islam menilai kesalehan seseorang berdasarkan unggahan keagamaan di media sosial? . bagaimana persepsi mahasiswa Islam terhadap representasi agama di media sosial? . sejauh mana korelasi antara frekuensi postingan bernuansa religius dengan persepsi kesalehan menurut mahasiswa Islam? Dalam konteks mahasiswa, maraknya konten bertema Islam di platform seperti TikTok. Instagram, dan YouTube menjadi rujukan baru dalam memperoleh pemahaman keagamaan. Tingginya intensitas penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa memengaruhi cara mereka memahami dan menilai nilai-nilai keberagaman dalam Islam (Setiani et al. , 2. Fenomena ini memunculkan dinamika baru dalam proses penilaian kesalehan seseorang, di mana aktivitas keagamaan yang ditampilkan di media sosial kerap menjadi dasar dalam menilai tingkat religiusitas seseorang. Namun, sulit untuk memastikan apakah ekspresi tersebut didorong oleh ketulusan spiritual atau lebih berorientasi pada pencitraan dan pengakuan sosial. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai keaslian keagamaan di media sosial merefleksikan Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk: . menganalisis cara mahasiswa Islam menilai kesalehan seseorang berdasarkan postingan media sosial, . mengetahui persepsi mahasiswa Islam terhadap representasi agama di media sosial, . mengukur korelasi antara frekuensi Nadia Karimah Hasanah. Nazwa Nasyilla Ikhwan. Maghfirotul Chisab Al-Jannah. Anisa Maulida Zulfa. Ahmad Abrori postingan bernuansa religius dengan persepsi kesalehan menurut mahasiswa Islam. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan konsep kesalehan digital dan memberikan implikasi praktis bagi pengembangan literasi digital keagamaan di kalangan mahasiswa Muslim. Istilah "digital" merujuk pada teknologi yang menggunakan sistem komputasi dan jaringan internet untuk memproses, menyimpan, dan mendistribusikan informasi. Dalam konteks media sosial, digital mengacu pada ekosistem memungkinkan pengguna untuk berpartisipasi, berbagi konten, dan berinteraksi secara daring melalui berbagai platform. Media sosial memungkinkan pengguna merepresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerja sama, berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lain dan membentuk ikatan sosial secara virtual (Nasrullah, 2. Karakteristik utama dari ruang digital adalah aksesibilitas global, kecepatan distribusi informasi, serta kemampuan untuk menciptakan dan memodifikasi konten secara Ruang digital juga memiliki sifat permanen, di mana jejak digital . igital footprin. yang ditinggalkan pengguna dapat tersimpan dalam jangka waktu yang panjang dan sulit dihapus sepenuhnya. Kesalehan Digital Era digital membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam praktik dan ekspresi keagamaan. Media sosial sebagai produk utama revolusi digital kini menjadi ruang baru bagi umat beragama untuk merepresentasikan identitas religius. Dalam konteks masyarakat Muslim kontemporer, fenomena ini melahirkan konsep kesalehan digital . igital piet. , yaitu praktik keberagamaan yang dimediasi dan diekspresikan melalui platform digital. Media sosial merupakan media daring yang memungkinkan pengguna untuk berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan konten, seperti blog, jejaring sosial, wiki, forum, dan dunia virtual (Cahyono, 2. Platform seperti Instagram. Facebook. Twitter, dan TikTok tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi interpersonal, tetapi juga menjadi arena penting dalam pembentukan dan penilaian identitas religius, khususnya di kalangan generasi muda Muslim. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, kesalehan digital dapat dipahami sebagai praktik ketaatan dan kesungguhan dalam menjalankan ajaran agama yang diekspresikan, dimediasi, dan dinilai melalui platform-platform digital dan media sosial. Kesalehan digital mencakup berbagai bentuk aktivitas keagamaan di ruang maya, seperti berbagi ayat suci, hadis, dan nasihat keagamaan, mengunggah dokumentasi ibadah, menyebarkan ceramah dan kajian keislaman, serta penggunaan simbol religius sebagai bagian dari konstruksi identitas diri (Syaifuddin & Muhid, 2. Kesalehan digital tidak sekadar mereplikasi praktik keagamaan konvensional ke dalam format digital, tetapi juga menghadirkan pola dan dinamika baru dalam beragama, di mana nilai-nilai keagamaan diproduksi, dikonsumsi, dan dinegosiasikan dalam ruang publik digital. Secara etimologis, kata saleh atau shalih dalam bahasa Arab berarti terhindar dari kerusakan atau Dalam kesalehan merujuk pada ketaatan dalam menjalankan ibadah dan kesungguhan dalam mengamalkan ajaran agama yang tercermin dalam sikap hidup seseorang. Kesalehan tidak hanya mencakup dimensi ritual yang bersifat vertikal antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga dimensi horizontal yang berkaitan dengan perilaku, kepribadian, perkataan, sikap, serta pikiran dan perasaan yang membawa manfaat bagi lingkungan sosial. Dengan demikian, individu yang saleh adalah mereka yang perilaku dan kepribadiannya terhindar dari hal-hal yang merusak sekaligus mampu menjadi teladan bagi komunitasnya (Ihsani & Febriyanti, 2. Meskipun mengandung kompleksitas dan ambiguitas yang perlu dikaji secara kritis. Media sosial dapat membantu mahasiswa meningkatkan refleksi keagamaan, kepatuhan beragama, dan kesadaran Namun pada saat yang sama juga berpotensi menimbulkan kebingungan dalam memahami konsep agama tertentu. Hal ini Kesalehan Digital: Studi Mahasiswa Islam dalam Menilai Keberagamaan melalui Media Sosial memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana representasi kesalehan di media sosial mencerminkan kesalehan yang autentik, serta bagaimana individu menilai religiusitas orang lain berdasarkan tampilan di ruang digital. Dalam konteks ini, kesalehan digital berpotensi menjadi arena performativitas, di mana penampilan kesalehan . ious appearanc. bisa jadi lebih diutamakan dibandingkan pendalaman spiritual. Oleh karena itu, etika komunikasi menjadi keberagamaan di ruang digital agar tetap selaras dengan norma sosial dan nilai keagamaan yang dapat diterima dalam kehidupan masyarakat (Ihsani & Febriyanti, 2. Di sisi lain, kesalehan digital juga membuka peluang memperluas akses terhadap sumber-sumber keislaman yang sebelumnya terbatas pada kalangan tertentu saja. lebih menekankan aspek pencitraan religius dibandingkan pendalaman nilai dan makna Dalam konteks mahasiswa Islam, konten keagamaan digital turut membentuk cara pandang terhadap keberagamaan dan toleransi. Media sosial memungkinkan mahasiswa mengakses beragam perspektif keislaman yang mencerminkan perbedaan otoritas, interpretasi, dan praktik sosial. Interaksi dengan konten keagamaan ini tidak hanya memperluas wawasan keislaman, tetapi juga memengaruhi cara mahasiswa menilai kesalehan dan memaknai keberagamaan di era digital (Rahmah et al. Dengan demikian, konten keagamaan berfungsi sebagai medium penting dalam memahami dinamika kesalehan digital. Ia menjadi ruang di nilai-nilai dinegosiasikan, dan dievaluasi secara terbuka, sehingga relevan untuk mengkaji bagaimana mahasiswa menilai dan merepresentasikan keberagamaan di ruang publik virtual. Konten Keagamaan Konten keagamaan merupakan segala bentuk pesan, informasi, dan simbol bernuansa religius yang disebarluaskan melalui berbagai media, baik dalam bentuk teks, gambar, audio, maupun Konten ini menjadi sarana penting dalam membangun kesadaran dan pemahaman keagamaan di tengah masyarakat modern, terutama di kalangan generasi muda yang aktif menggunakan media sosial. Konten keagamaan di media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana dakwah, tetapi juga sebagai ruang refleksi kesalehan digital, terutama di kalangan Penyebaran nilai-nilai keislaman melalui konten digital memungkinkan pesan keagamaan menjangkau audiens yang luas secara cepat dan lintas batas geografis (Barri et al. Media Sosial Media sosial merupakan platform komunikasi berbasis internet yang memungkinkan individu berinteraksi, berbagi informasi, serta membangun makna sosial melalui berbagai bentuk konten digital, seperti teks, gambar, dan video. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai ruang produksi makna dan pembentukan identitas sosial yang bersifat dinamis. Cahyono . menjelaskan bahwa media sosial memungkinkan pengguna untuk berpartisipasi secara aktif dalam menciptakan dan mendistribusikan konten, sehingga menjadikannya ruang sosial yang interaktif dan terbuka. Namun demikian, tidak semua konten keagamaan memiliki dasar keilmuan dan kredibilitas yang kuat sehingga berpotensi menghadirkan pemahaman agama yang parsial, provokatif, atau Agusta keagamaan agar pengguna mampu memilah, memahami, dan mengkritisi pesan keagamaan yang beredar di media sosial. Tanpa kemampuan tersebut, konsumsi konten keagamaan berisiko Dalam konteks keberagamaan, media sosial membawa perubahan signifikan terhadap cara masyarakat Muslim, khususnya mahasiswa Islam, mengakses dan memaknai nilai-nilai Media sosial dimanfaatkan sebagai sarana dakwah, pembelajaran agama, serta pembentukan jejaring keagamaan digital. Penelitian Rahmawati et al. menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dapat Nadia Karimah Hasanah. Nazwa Nasyilla Ikhwan. Maghfirotul Chisab Al-Jannah. Anisa Maulida Zulfa. Ahmad Abrori memperluas wawasan keagamaan mahasiswa dan mendorong keterlibatan mereka dalam praktik religius di ruang digital. Namun, perkembangan ini juga menghadirkan tantangan, terutama terkait beragamnya kualitas dan kredibilitas konten keagamaan yang beredar, yang berpotensi memengaruhi pemahaman terhadap ajaran Islam Dalam penelitian ini, media sosial dipahami sebagai ruang yang tidak hanya memfasilitasi penyebaran nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menjadi arena sosial tempat kesalehan dinilai dan Oleh karena itu, media sosial berperan penting dalam membentuk konstruksi kesalehan digital, di mana praktik keagamaan dan nilai keberagamaan dipresentasikan, diinterpretasikan, dan dievaluasi secara terbuka oleh penggunanya. Analisis ini berdasarkan hipotesis penelitian, yaitu: H0: Tidak ada pengaruh signifikan representasi kesalehan terhadap keberagamaan di media sosial dan H1: Terdapat pengaruh signifikan representasi kesalehan terhadap keberagamaan di media sosial. Prosedur penelitian dimulai dengan merumuskan tujuan penelitian dan menyusun kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan terkait persepsi kesalehan berdasarkan konten media sosial. Instrumen penelitian dikembangkan dalam bentuk kuesioner terstruktur. Selain informasi demografis, pertanyaan juga mencakup tentang penggunaan media sosial dan postingan responden tentang konten keagamaan. Contoh pertanyaan yang ada di dalam kuesioner adalah AuSaya cenderung menilai seseorang saleh jika mereka sering membagikan konten keagamaan di media sosialAy dengan skala Likert 1 . angat tidak setuj. hingga 5 . angat setuj. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur yang disebarkan kepada mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan karakteristik responden dan pola penilaian kesalehan, serta analisis korelasi untuk menguji hubungan antar variabel. Pendekatan ini dipilih untuk mendapatkan gambaran yang objektif dan dapat digeneralisasi tentang fenomena penilaian kesalehan digital di kalangan mahasiswa Muslim. Kuesioner ini dirancang untuk mengukur variabel-variabel yang relevan, seperti nilai-nilai agama, interaksi di media sosial, dan penilaian Setelah kuesioner disusun, dilakukan uji coba untuk memastikan validitas dan reliabilitas instrumen. Uji validitas empiris menggunakan Pearson Product Moment, di mana item dianggap valid jika nilai r hitung lebih besar dari r tabel pada tingkat signifikansi 0,05. Reliabilitas instrumen diuji menggunakan CronbachAos Alpha, dengan standar minimal 0,60. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa seluruh item memiliki r hitung di atas batas minimal dan nilai reliabilitas setiap variabel berada dalam kategori dapat diterima, sehingga instrumen layak untuk digunakan pada tahap pengumpulan Variabel penelitian yang diteliti meliputi informasi responden berupa karakteristik demografis mahasiswa . enis kelamin, usia, program studi, angkatan, dan media sosial apa yang paling sering digunakan untuk melihat konten keagamaa. Variabel independen berupa representasi keberagamaan di media sosial dengan dimensi frekuensi posting konten religius, jenis konten religius, dan gaya penyajian Variabel dependen berupa penilaian kesalehan dengan dimensi persepsi tingkat kesalehan, kepercayaan terhadap representasi digital, dan skeptisme terhadap kesalehan digital. Desain penelitian ini memungkinkan peneliti untuk menganalisis pola hubungan antara variabel-variabel tersebut secara statistik. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Muslim Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, angkatan tahun 2023 dan 2024 yang aktif menggunakan media sosial. Mengingat besarnya populasi dan keterbatasan waktu serta sumber daya, penelitian ini menggunakan teknik sampling non-probabilitas dengan metode purposive sampling. Kriteria inklusi sampel meliputi: . mahasiswa aktif program sarjana (S. Fakultas Ilmu Sosial dan Kesalehan Digital: Studi Mahasiswa Islam dalam Menilai Keberagamaan melalui Media Sosial Ilmu Politik angkatan tahun 2023-2024 yang beragama Islam, . memiliki dan aktif menggunakan minimal dua platform media sosial (Instagram. TikTok. Facebook. Twitter/X. YouTube, atau lainny. , . berusia rentangan antara < 20 tahun > . bersedia berpartisipasi dalam penelitian dengan mengisi kuesioner secara lengkap. Jumlah responden adalah 89 menunjukkan variasi yang cukup beragam dalam pola penggunaan media sosial dan persepsi terhadap representasi keagamaan di platform Hasil data yang diperoleh dari 89 responden mahasiswa mengenai kesalehan di era digital dengan sebagian besar responden 76,4% adalah perempuan dan 23,6% lainnya adalah lakilaki. Selain itu, responden didominasi oleh usia yang kurang dari 20 tahun dengan besar responden adalah 82 orang . ,1%). Dalam pemilihan media sosial, responden menunjukan bahwa media sosial yang paling banyak digunakan adalah TikTok . ,7%) dan Instagram . ,3%), sementara YouTube dan Twitter/X memiliki persentase yang jauh lebih kecil. Hasil ini mengindikasikan bahwa platform seperti Instagram dan TikTok lebih dipilih dalam hal berbagi konten keagamaan. Hal ini disebabkan karena kemudahan dalam mengkonsumsi dan menyebarkan pesan melalui gambar atau video Banyak pengguna merasakan keseruan dalam menonton video pendek, dikarenakan video pendek mempunyai durasi video yang pendek serta sudah di edit sesuai dengan tren sekarang berbeda dengan video yang durasinya masih panjang. Ini berkaitan dari pilihan responden yang banyak memilih indikator keagamaan yang paling sering mereka lihat di media sosial adalah ceramah atau dakwah berupa video pendek, kemudian diikuti dengan kutipan ayat atau hadis. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang disebarkan secara online melalui platform Google Forms. Kuesioner disusun dalam bahasa Indonesia dengan kalimat yang sederhana dan mudah dipahami untuk menghindari bias interpretasi. Kuesioner terdiri dari beberapa bagian, termasuk demografi responden, pertanyaan tentang penggunaan media sosial, checkbox pemilihan konten keagamaan yang sering dilihat, dan skala likert untuk menilai persepsi kesalehan. Pengembangan instrumen dilakukan dengan merujuk pada literatur yang relevan untuk memastikan bahwa pertanyaan yang diajukan dapat mengukur variabel yang dimaksud dengan Sebelum disebarkan, kuesioner diuji coba kepada sekelompok kecil mahasiswa untuk mendapatkan umpan balik dan melakukan perbaikan jika diperlukan. Penelitian ini juga menerapkan prinsip etika akademik seperti anonimitas, dimana data responden dienkripsi tanpa mencantumkan identitas pribadi, dan konfidensialitas, dimana data hanya digunakan untuk kepentingan penelitian. Analisis data dilakukan secara bertahap menggunakan software Statistical Package for Social Sciences (SPSS) versi 20. Analisis deskriptif akan dilakukan untuk menggambarkan karakteristik responden dan distribusi data. Selanjutnya uji korelasi atau chi-square digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antara konten media sosial dan persepsi Gambar 1. Jenis konten yang paling sering dilihat Berdasarkan gambar 1, data survei menunjukkan mahasiswa mengonsumsi beragam jenis konten kecenderungan yang sangat jelas pada jenis-jenis konten tertentu. Gambar 1 menunjukkan bahwa format konten yang paling sering diakses responden adalah ceramah atau dakwah dalam bentuk video pendek, yang dipilih oleh 78,7% Temuan ini sejalan dengan karakteristik media sosial berbasis visual seperti TikTok dan Instagram, yang menjadi platform HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini melibatkan 89 mahasiswa Muslim dengan distribusi data yang lengkap . % valid, 0% missing dat. Data yang diperoleh Nadia Karimah Hasanah. Nazwa Nasyilla Ikhwan. Maghfirotul Chisab Al-Jannah. Anisa Maulida Zulfa. Ahmad Abrori dominan dalam konsumsi konten keagamaan bagi sebagian besar mahasiswa. Video pendek menawarkan durasi yang singkat serta penyampaian pesan yang padat, sehingga sesuai dengan preferensi pengguna muda yang cenderung menginginkan konten yang cepat, langsung, dan mudah dipahami. Hubungan antara Representasi Keagamaan di Media Sosial dengan Penilaian Kesalehan Mahasiswa Islam Tabel 1. Hubungan Frekuensi Melihat Konten Keagamaan dan Penilaian Kesalehan Jenis konten lain yang banyak diakses adalah kutipan ayat atau hadis, dipilih oleh 60,7% Konten jenis ini biasanya diproduksi dalam bentuk poster digital atau teks singkat yang mudah dibagikan, sehingga memiliki daya sebarnya tersendiri dalam ekosistem media Selain itu, konten doa dan zikir . ,3%) serta cerita inspiratif atau kisah hijrah . ,4%) juga cukup populer. Konten inspiratif ini cenderung menampilkan pengalaman personal atau narasi motivasional yang berkaitan dengan perjalanan spiritual seseorang, sehingga memberikan dimensi reflektif bagi mahasiswa yang mengonsumsinya. Sebaliknya, beberapa jenis konten keagamaan hanya muncul dalam jumlah yang sangat kecil. Konten seperti Audawuh kiaiAy, gaya berpakaian islami, dukungan untuk isu kemanusiaan tertentu, dan kategori lain yang jarang diidentifikasi hanya dipilih oleh 1,1% responden. Minimnya konsumsi pada kategori tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa lebih banyak berinteraksi dengan konten yang bersifat praktis, populer, dan memiliki format yang mudah diadaptasi dalam logika penggunaan media sosial arus utama. Tabel 2. Chi-Square Tests Hubungan Frekuensi Melihat Konten Keagamaan dan Penilaian Kesalehan Disini bisa terlihat pola konsumsi konten keagamaan mahasiswa memperlihatkan bahwa konten visual pendek dan kutipan teks religius merupakan dua bentuk representasi keagamaan yang paling dominan dalam ruang digital mereka. Tingginya paparan terhadap kedua jenis konten ini memberikan konteks penting bagi analisis berikutnya mengenai bagaimana mahasiswa membentuk persepsi terhadap kesalehan digital. Namun demikian, pada tahap ini narasi hanya bersifat deskriptif untuk menggambarkan menyimpulkan adanya pengaruh terhadap penilaian kesalehan. Hasil analisis pada Tabel 1 dan 2 menunjukkan distribusi responden berdasarkan frekuensi melihat konten keagamaan di media sosial sebagai berikut: cukup sering . ,6%), jarang . ,3%), sering . ,9%), sangat sering . ,4%), dan sangat jarang . ,9%). Sementara itu, distribusi penilaian kesalehan menunjukkan mayoritas responden bersikap netral . ,0%), diikuti oleh yang tidak setuju dan sangat tidak setuju masing-masing sebesar 27,0%. Analisis crosstab mengungkapkan bahwa responden yang Aocukup seringAo melihat konten keagamaan memiliki kecenderungan terbesar pada posisi netral . ,8%) dan tidak setuju Kesalehan Digital: Studi Mahasiswa Islam dalam Menilai Keberagamaan melalui Media Sosial . ,0%). Responden yang AojarangAo melihat konten keagamaan menunjukkan sikap yang lebih skeptis dengan mayoritas menyatakan sangat tidak setuju . ,6%) dan tidak setuju . ,6%). Tabel 4. Chi-Square Tests Hubungan Frekuensi Memosting Konten Keagamaan dan Padandang terhadap Kesalehan Temuan ini mengisyaratkan bahwa frekuensi terpapar konten religius tidak secara linier memengaruhi penilaian kesalehan. Kemudian, dominannya jawaban AuNetralAy . % total responde. menggambarkan bahwa generasi muda cenderung kritis terhadap performativitas Dan ketidaksignifikanan hasil mungkin disebabkan oleh variabel moderator seperti tingkat religiusitas individu atau jenis konten yang Nilai p-value sebesar 0,928 (> 0,. menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara frekuensi melihat konten keagamaan di media sosial dengan kecenderungan menilai kesalehan seseorang berdasarkan postingan keagamaan Temuan ini menunjukkan bahwa seberapa sering seseorang melihat konten keagamaan di media sosial tidak secara otomatis mempengaruhi cara mereka menilai kesalehan orang lain berdasarkan postingan keagamaan. Hal ini mengindikasikan bahwa penilaian kesalehan mungkin dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang ada di dunia nyata, bukan di media sosial. 9 cells . 2%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 47. Hasil analisis dari Tabel 3 dan 4 menggambarkan distribusi responden berdasarkan frekuensi memposting konten keagamaan menunjukkan: ,8%), kadang-kadang . ,1%), tidak pernah . ,7%), dan sering . ,4%). Untuk pengaruh unggahan terhadap pandangan kesalehan, mayoritas responden bersikap netral . ,8%), diikuti tidak setuju . ,5%), setuju . ,0%), dan sangat tidak setuju . ,7%). Mayoritas responden . 8% tota. memilih 'Netral', menunjukkan ambivalensi dalam menilai cenderung kritis terhadap konten religius di media sosial. Kemudian Responden yang 'Sering' memposting konten . elompok minorita. lebih mungkin setuju bahwa unggahan memengaruhi penilaian kesalehan, sedangkan pengguna pasif (Tidak Perna. cenderung skeptis. Ini bisa saja mencerminkan adanya bias self-selection. Nilai p-value sebesar 0,320 (> 0,. menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara frekuensi memposting konten keagamaan di media sosial dengan memengaruhi pandangan terhadap kesalehan Temuan ini mengindikasikan bahwa perilaku posting konten keagamaan seseorang tidak secara langsung berkorelasi dengan pandangan mereka tentang bagaimana unggahan keagamaan memengaruhi penilaian kesalehan. Hal ini menunjukkan bahwa konsistensi perilaku dan persepsi tidak selalu sejalan dimana seseorang yang aktif memposting belum tentu menganggap unggahan keagamaan sebagai Tabel 3. Hubungan Frekuensi Memposting Konten Keagamaan dan Pandangan terhadap Kesalehan Nadia Karimah Hasanah. Nazwa Nasyilla Ikhwan. Maghfirotul Chisab Al-Jannah. Anisa Maulida Zulfa. Ahmad Abrori indikator kesalehan, sikap netral yang dominan menunjukkan bahwa responden cenderung tidak memiliki pandangan yang kuat tentang pengaruh unggahan keagamaan terhadap penilaian kesalehan, dan kompleksitas penilaian kesalehan dimana faktor-faktor lain selain aktivitas posting mungkin lebih berpengaruh dalam membentuk persepsi kesalehan seperti perilaku di dunia seseorang tidak dapat dinilai semata-mata dari aktivitas digital mereka. Secara teoretis, studi ini memperkaya pemahaman mengenai kesalehan digital dalam konteks keislaman di Indonesia. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa interpretasi terhadap kesalehan di era digital tidak bersifat sederhana atau satu arah, melainkan terbentuk melalui proses negosiasi yang kompleks antara tampilan religius di media sosial dan pemahaman spiritual yang lebih mendalam. Dominannya sikap netral kematangan kognitif dalam menyikapi ekspresi Mahasiswa Muslim memperlihatkan kemampuan untuk memilah antara ekspresi keagamaan yang bersifat performatif di ranah daring dan kesalehan yang berakar pada praktik kehidupan nyata yang Temuan ini selaras dengan (Hilalludin. ) yang menyatakan bahwa generasi muda muslim cenderung kritis terhadap representasi kesalehan di media sosial. Hasil yang tidak signifikan sejalan dengan hipotesis awal bahwa mahasiswa tidak menganggap media sosial sebagai parameter utama kesalehan. Hasil penelitian ini juga memiliki kesesuaian dengan studi (Campbell, 2. tentang digital religion yang menunjukkan bahwa pengguna media sosial menginterpretasi konten keagamaan online. Kesalehan Digital dan Sikap Kritis Mahasiswa terhadap Representasi Keagamaan Online Temuan penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Muslim tidak secara otomatis mengaitkan representasi keberagamaan di media sosial dengan tingkat kesalehan seseorang. Pola respons yang didominasi kategori netral dan hasil uji statistik yang sebagian besar tidak signifikan . > 0,. menunjukkan bahwa paparan dan aktivitas keagamaan digital tidak menjadi dasar utama bagi mahasiswa dalam menilai kesalehan. Temuan ini sejalan dengan karakteristik kesalehan digital sebagaimana dipahami dalam literatur, yakni bahwa praktik keagamaan di media sosial lebih sering muncul sebagai bentuk performativitas identitas yang belum tentu diterjemahkan sebagai kesalehan autentik (Amir. Campbell, 2. Data menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa Islam memiliki sikap netral terhadap berbagai aspek representasi keagamaan di media sosial. Pola ini konsisten terlihat dalam berbagai dimensi penilaian, mulai dari persepsi kesalehan berdasarkan postingan hingga pengaruh unggahan keagamaan terhadap pandangan Temuan kompleksitas dalam hubungan antara representasi keagamaan di media sosial dengan penilaian Meskipun terdapat pengaruh antara representasi keagamaan di media sosial dengan penilaian kesalehan mahasiswa Islam, namun pengaruh tersebut tidak signifikan secara Hal ini mengindikasikan bahwa hipotesis awal tentang adanya hubungan kuat antara aktivitas media sosial keagamaan dengan persepsi kesalehan perlu direvisi. Dalam kerangka digital piety, praktik religius di ruang digital tidak hanya sekadar ekspresi pribadi, tetapi merupakan bentuk praktik yang dibentuk dan dibentuk kembali oleh media digital, sehingga perilaku religius di media sosial merupakan ruang negosiasi antara identitas religius, teknologi, dan konteks sosialnya (Campbell . Kerangka ini menunjukkan bahwa representasi kesalehan di media sosial merefleksikan kualitas spiritual secara langsung. Sikap netral yang dominan dalam berbagai mahasiswa Islam cenderung tidak memiliki pandangan yang ekstrem terhadap representasi keagamaan di media sosial. Ini mencerminkan pemahaman yang lebih matang bahwa kesalehan Kesalehan Digital: Studi Mahasiswa Islam dalam Menilai Keberagamaan melalui Media Sosial Sejalan dengan pemahaman tersebut, hasil dari penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa menolak untuk mengambil representasi religius di media sosial sebagai indikator langsung dari kualitas kesalehan seseorang. Hal ini terlihat dari pernyataan bahwa aktivitas religius di media sosial mencerminkan kesalehan nyata, serta tingginya proporsi jawaban netral. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa pengguna media sosial, terutama generasi muda, semakin mampu membedakan antara performativitas digital dan praktik religius yang bersifat substantif. tetapi juga dapat menunjukkan sikap kehatihatian epistemik. Generasi muda Muslim sering digambarkan sebagai kelompok yang lebih selektif dalam menerima otoritas keagamaan, terutama dalam konteks informasi digital yang Mereka tidak menolak kesalehan digital, namun juga tidak menerimanya secara penuh sebagai penentu kesalehan. Dengan demikian, posisi netral dapat mencerminkan pendekatan evaluatif yang lebih matang dalam menghadapi ambiguitas representasi religius di media sosial. Temuan penelitian ini memperkuat gagasan bahwa kesalehan digital adalah praktik yang dinegosiasikan, bukan diterima secara apa Meskipun mahasiswa terpapar intens pada berbagai bentuk konten keagamaan, mereka tidak serta-merta menganggapnya relevan dalam menilai kesalehan orang lain. Kesalehan digital tetap berperan sebagai medium ekspresi identitas, tetapi bukan sebagai sumber legitimasi religius. Pemisahan ini menunjukkan bahwa generasi muda Muslim di lingkungan kampus memiliki kemampuan kritis yang tinggi dalam membaca ekspresi religius di ruang digital, sekaligus menegaskan bahwa kesalehan bagi mereka masih dipahami sebagai kualitas moral dan spiritual yang melekat pada tindakan nyata, bukan semata pada representasi yang dapat dikonstruksi secara Sikap kritis responden terhadap ketulusan konten religius juga konsisten dengan diskusi teoretis mengenai ambivalensi kesalehan digital. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa media sosial menghadirkan ruang ambivalen di mana konten keagamaan dapat dimaknai sebagai dakwah, motivasi, maupun ajang riyAAo atau pencitraan religius (Husein, 2. Sebagian besar responden dalam penelitian ini menyatakan bahwa mereka ragu atas ketulusan sebagian konten keagamaan, bahkan ketika konten tersebut dibagikan secara rutin. Sikap skeptis ini menunjukkan bahwa mahasiswa menyadari adanya potensi performativitas dalam unggahan keagamaan dan tidak menganggapnya sebagai refleksi dari kesalehan batin. Lebih lanjut, ketidaksignifikanan hubungan antara frekuensi memposting maupun melihat konten keagamaan dengan penilaian kesalehan mengindikasikan bahwa kesalehan digital belum memiliki otoritas simbolik yang kuat dalam membentuk persepsi mahasiswa. Hal ini sejalan dengan argumen bahwa dalam era digital, indikator kesalehan bergeser tetapi tidak pernah sepenuhnya dilepaskan dari konteks praktik offline yang mencakup ritualitas, etika keseharian, dan konsistensi moral tetap dipandang lebih penting daripada sekadar representasi visual (Vitullo & Campbell, 2. Mahasiswa dalam penelitian ini tampaknya mempertahankan pola evaluasi kesalehan yang lebih holistik, sehingga representasi digital tidak langsung diterima sebagai bukti kesalehan. KESIMPULAN Penelitian ini menemukan bahwa mahasiswa Islam di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menunjukkan sikap yang kritis dan reflektif dalam menilai kesalehan melalui media sosial. Meskipun mereka aktif mengakses konten keagamaan di platform seperti Instagram dan TikTokAi terutama ceramah singkat serta kutipan ayat atau hadisAimayoritas responden tidak serta-merta mengaitkan aktivitas tersebut dengan tingkat kesalehan seseorang. Sikap netral dan skeptis yang dominan menunjukkan bahwa mereka tidak menilai kesalehan hanya dari frekuensi unggahan keagamaan, melainkan mempertimbangkannya dalam konteks kehidupan nyata dan praktik keagamaan yang lebih mendalam. Penting juga mencatat bahwa dominasi jawaban netral tidak sekadar menunjukkan ketidakpastian. Nadia Karimah Hasanah. Nazwa Nasyilla Ikhwan. Maghfirotul Chisab Al-Jannah. Anisa Maulida Zulfa. Ahmad Abrori in digital religion studies. Church. Communication and Culture, 1. , 73Ae89. https://doi. org/10. 1080/23753234. Hilalludin. Anak Muda. Media Sosial. Dan Agama Yang Cair: Fenomenologi Hijrah Digital Di Indonesia. AL-BAYAN: JURNAL HUKUM DAN EKONOMI ISLAM, 5. , 40Ae Husein. , & Slama. Online piety and its discontent: revisiting Islamic anxieties on Indonesian social media. Indonesia and the Malay World, 46. , 80Ae93. https://doi. org/10. 1080/13639811. Ihsani. , & Febriyanti. Etika komunikasi sebagai kontrol kesalehan virtual dalam perilaku bermedia masyarakat di era Jurnal Al Azhar Indonesia Seri Ilmu Sosial, 2. , 442713. Lengauer. Sharing semangat taqwa: social media and digital Islamic socialities in Bandung. Indonesia and the Malay World, 46. , 5Ae23. https://doi. org/10. 1080/13639811. Nasrullah. Teori dan riset media siber . Prenada Media. Rahmah. Handayani. Hutasuhut. & Romandiah. Navigasi Spiritual di Era Digital: Analisis Konten Cyberreligion dalam Media Sosial. Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah FDIK IAIN Padangsidimpuan, 6. , 177Ae192. https://doi. org/10. 24952/tadbir. Julia Rizqi Rahmawati. Dela Ayu Puspita. Muhammad Zikri Azis, & Abdul Fadhil. Dampak Media Sosial terhadap Religiusitas Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta. Hikmah : Jurnal Studi Pendidikan Agama Islam, 2. , 168Ae182. https://doi. org/10. 61132/hikmah. Harry Saptarianto. Shelvi Deviani. Syamas Isti Anah, & Indah Noviyanti. Menghadapi Tantangan Era Digital. Strategi Integrasi Media Sosial. Literasi Digital dan Inovasi Bisnis. Jurnal Manuhara : Pusat Penelitian Ilmu Manajemen Dan Bisnis, 2. , 128Ae139. https://doi. org/10. 61132/manuhara. Secara konseptual, temuan ini memperkaya pemahaman tentang kesalehan digital dalam konteks Islam Indonesia, terutama dari sudut pandang generasi muda Muslim yang terbiasa hidup di tengah arus informasi digital. Mahasiswa menunjukkan kemampuan untuk memilah antara ekspresi religius yang autentik dan yang bersifat performatif. Implikasi praktis dari penelitian ini menekankan pentingnya literasi media keagamaan yang tidak hanya mendorong produksi konten, tetapi juga menginterpretasi dan mengevaluasi makna konten religius di ruang digital. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar cakupan sampel diperluas dan dimasukkan variabel lain seperti latar pendidikan agama atau intensitas ibadah untuk memperoleh pemahaman yang lebih utuh tentang kesalehan di era digital. REFERENSI