Vol. No. November 2024 Hal. 182 Ae 193 Perbedaan Health Belief Model Berdasarkan Gender pada Mahasiswa Kedokteran Rahmiyati1. Jehan Safitri2. Firdha Yuserina3 Magister Psikologi. Universitas Gadjah Mada Program Studi Psikologi. Fakultas Kedokteran. Universitas Lambung Mangkurat rahmi@gmail. ABSTRACT Gender difference in individual health beliefs have been reported in many studies, however there were inconsistent studies resulted regarding the presence or absence of gender Medical students as future doctors considered as role models in community. The lifestyle of a doctor not only affects themselves but also has a significant influence on their surrounding environment. The aim of this study was to determine the health belief model (HBM) difference based on gender among medical students. This study employed a quantitative cross-sectional research design. The subjects were medical students, consisting of 54 males and 57 females. Stratified random sampling was used for sampling. The measurement employed the Health Belief Model (HBM) scale developed by the researchers based on the six dimensions of HBM from Champion dan Skinner . Data were analyzed using independent t-test. The results of this study indicated that there was no significant HBM difference based on gender. Both groups had good level of HBM. Based on the resulted, it can be concluded that there was no HBM difference based on gender among medical students. Keywords: health belief model (HBM). Gender. Medical student ABSTRAK Perbedaan gender pada health belief individu telah banyak dilaporkan dalam penelitian, namun terdapat hasil yang tidak konsisten mengenai ada atau tidak adanya perbedaan Mahasiswa kedokteran sebagai dokter masa depan dianggap teladan di masyarakat. Gaya hidup dokter tidak hanya berdampak pada diri sendiri, namun memiliki pengaruh besar pada lingkungan sekitarnya. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui perbedaan health belief model (HBM) berdasarkan gender pada mahasiswa kedokteran. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif cross-sectional. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa kedokteran yang terdiri dari 54 laki-laki dan 57 perempuan. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling. Skala dalam penelitian ini menggunakan skala Health Belief Model (HBM) yang dikembangkan oleh peneliti berdasarkan enam dimensi HBM dari Champion dan Skinner . Data dianalisis menggunakan uji independent ttest. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan HBM berdasarkan gender. Kedua kelompok memiliki tingkat HBM yang baik. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan HBM berdasarkan gender pada mahasiswa kedokteran. Kata kunci : Health belief model (HBM). Gender. Mahasiswa kedokteran A Copyright Authors Perbedaan Health Belief Model Berdasarkan Gender pada Mahasiswa Kedokteran ARTICLE INFO Article history Received : 04-07-2023 Revised : 27-05-2024 Accepted : 02-11-2024 Pendahuluan Indonesia sedang mengalami transisi epidemiologi pada bidang kesehatan, tren penyakit menular yang belum teratasi sepenuhnya mulai tergantikan dengan tren penyakit tidak menular (PTM) yang cenderung meningkat (Pranita 2019. Kemenkes, 2. Faktor utama penyebab PTM adalah gaya hidup seperti pola makan dengan gizi tidak seimbang, aktivitas fisik yang kurang, dan merokok (Pranita, 2019. Kemenkes, 2. Kemenkes . mengemukakan bahwa pencegahan dan pengendalian PTM yang paling efektif adalah kembali pada penerapan gaya hidup sehat. Gaya hidup sehat yang diterapkan oleh masing-masing individu merupakan investasi bangsa. Hal ini berkaitan dengan status Indonesia yang sedang mengalami bonus demografi. Farradika et al. mengemukakan bahwa kondisi sehat bagi usia produktif menjadi prasyarat untuk memanfaatkan bonus demografi. Oleh karena itu, gaya hidup sehat menjadi kebutuhan bagi penduduk produktif agar bisa memaksimalkan potensinya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Azizah dan Indartono . bahwa keluarga sehat dengan gizi yang baik berfungsi sebagai fondasi bagi pencapaian tujuan-tujuan pembangunan negara lainnya. Salah satu golongan umur produktif adalah mahasiswa, namun mahasiswa juga menjadi salah satu golongan yang banyak mengabaikan gaya hidup sehat (Chahyati, 2. Pada mahasiswa kesehatan seperti pendidikan dokter yang berperan sebagai promotor kesehatan, diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat dengan menerapkan gaya hidup sehat. Mahasiswa pendidikan dokter harus memiliki gaya hidup sehat terlebih dahulu sebelum melayani masyarakat di sekitarnya (Yadav et al. , 2. Namun beberapa penelitian yang dilakukan pada mahasiswa kedokteran menunjukkan hasil yang berbeda. Mahasiswa kedokteran memiliki prevalensi hipertensi dan faktor risiko penyakit kardiovaskular yang tinggi (Nyombi et al. , 2. , kebiasaan makan yang kurang baik dan olahraga yang rendah (Asghar et al. , 2019. Yousif et al. , 2. , konsumsi buah dan sayur yang rendah (Borlu et al. , hingga masih adanya konsumsi tembakau . dan kesenjangan dalam kesadaran bahaya merokok (Vankhuma et al. , 2. Permasalahan ini memerlukan intervensi mengingat peran mahasiswa kedokteran yang cukup strategis di masa depan. Page | 183 Rahmiyati et al. Perbedaan Health Belief Model Berdasarkan Gender A Volume 15. No. November 2024 Upaya intervensi penerapan gaya hidup sehat dapat dimulai dari memahami penyebab individu berperilaku sehat. Salah satu faktor yang memengaruhi individu berperilaku adalah Keyakinan . merupakan penghubung antara sosialisasi pengetahuan dan perilaku yang menjadi karakteristik individu dan bisa dimodifikasi melalui proses sosialisasi (Abraham & Sheeran, 2. Semakin kuat keyakinan individu terhadap dampak perilakunya, semakin tinggi peluang individu tersebut untuk melakukan perubahan perilaku (Langford et , 2. Teori psikologi yang berkaitan dengan keyakinan pada kesehatan adalah teori health belief model (HBM). Priyoto . mengemukakan bahwa HBM merupakan suatu model psikologis yang berkaitan dengan perubahan perilaku kesehatan dengan memperhatikan pada persepsi dan keyakinan individu terkait suatu penyakit. Dimensi HBM menurut Champion dan Skinner . terdiri dari perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefit, perceived barrier, cues to action, dan self-efficacy. Jika ingin berhasil merubah perilaku, maka individu harus merasakan ancaman dari pola perilaku saat ini . erceived susceptibility dan perceived severit. , percaya bahwa perubahan perilaku yang dilakukan akan menghasilkan manfaat . erceived benefi. , dan juga harus merasa bahwa mereka mampu atau kompeten . mengatasi hambatan yang dirasakan . erceived barrier. untuk mengambil tindakan berupa gaya hidup sehat. Faktor-faktor yang memengaruhi HBM individu adalah faktor demografi seperti gender, umur, ras, etnis. faktor sosiopsikologis seperti kepribadian, kelas sosial, serta tekanan dan pengetahuan kelompok sebaya. faktor sosioekonomi. faktor lainnya seperti pengetahuan tentang penyakit dan riwayat terhadap penyakit (Champion & Skinner, 2008. Abraham & Sheeran, 2005. Rosenstock, 1. Gender menjadi salah satu faktor yang memengaruhi HBM. Jika ingin mencapai kesejahteraan dan kesehatan yang baik, maka kebijakan dan praktisi kesehatan harus memiliki pemahaman gender bahwa laki-laki dan perempuan memiliki keunikan tersendiri . e Visser, 2019. Magar, 2. Gender merupakan suatu sifat yang menjadi acuan untuk membedakan laki-laki dan perempuan dengan tidak hanya melihat pada aspek biologis namun yang utama pada kondisi sosial budaya, nilai dan perilaku, dan kejiwaan. Sifat ini disimpulkan oleh masyarakat tempat individu dilahirkan dan dibesarkan serta dapat dimiliki oleh laki-laki dan/atau perempuan karena perubahan waktu dan tempat yang dialami oleh masing-masing individu (Rokhmansyah, 2016. Fakih, 2013. Sudarma, 2. Penelitian terdahulu menunjukkan terdapat hasil yang berbeda atau tidak konsisten mengenai perbedaan HBM berdasarkan gender. Penelitian Hamasha et al. pada pasien yang datang ke klinik rawat jalan di King Abdulaziz Medical City menunjukkan tidak ada perbedaan health belief terkait kesehatan mulut. Adapun penelitian Zhang et al. yang Page | 184 Perbedaan Health Belief Model Berdasarkan Gender pada Mahasiswa Kedokteran dilakukan pada komunitas Cina non-akademis menunjukkan terdapat perbedaan gender pada health belief terkait kesehatan tulang, khususnya pada persepsi keseriusan, hambatan, dan Selanjutnya penelitian Riskiafianti dan Rozali . pada remaja menunjukkan adanya perbedaan health belief antara laki-laki dan Perempuan dalam memaknai vape. Hasil penelitian Noviyanto dan Wijaya . selanjutnya juga menunjukkan terdapat perbedaan gender pada health belief dimana mahasiswi memiliki health belief yang lebih baik daripada mahasiswa laki-laki. Adapun hasil penelitian Seftiana et al. dengan subyek pasien rumah sakit menyebutkan bahwa health belief laki-laki lebih baik daripada perempuan. Hasil penelitian yang belum konsisten ini memperkuat diperlukannya penelitian terbaru tentang perbedaan HBM berdasarkan gender dengan analisa yang lebih dalam. Oleh karena itu peneliti ingin mengetahui perbedaan HBM berdasarkan gender pada mahasiswa kedokteran dengan hipotesis ada perbedaan HBM berdasarkan gender pada mahasiswa kedokteran. Metode Penelitian ini merupakan studi komparatif antara laki-laki dan perempuan yang dilakukan pada mahasiswa aktif pra-klinik Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat. Jumlah populasi pada kelompok laki-laki adalah 148 orang dan pada kelompok perempuan 314 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik stratified random sampling dan disproportional random sampling. Subyek dalam penelitian ini adalah mahasiswa kedokteran. Jumlah sampel akhir yang masuk dalam proses analisis hipotesis adalah 54 orang laki-laki dan 57 orang Perempuan. Kuesioner penelitian terdiri dari informasi demografi dan skala likert berdasarkan teori HBM (Champion & Skinner, 2. Skala HBM yang digunakan merupakan pengembangan sendiri oleh peneliti berdasarkan penjabaran dari enam dimensi HBM . erceived susceptibility, perceived severity, perceived benefit, perceived barrier, cues to action, dan self-efficac. Skala HBM menggunakan empat opsi respon dengan rentang nilai 1 . angat tidak sesua. hingga 4 . angat sesua. pada aitem positif . dan terjadi sebaliknya pada aitem unfavorable. Namun pada dimensi perceived barrier terdapat perbedaan proses penilaian yang merupakan kebalikan dari dimensi lainnya. Hal ini sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Wong et al. dan Yang et al. Skor perceived barrier yang tinggi menunjukkan individu memiliki hambatan . yang kecil (Yang, et al. , 2. Skala HBM menjalani tahap uji coba . ield tes. pada 30 orang laki-laki dan 30 orang perempuan mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) ULM. Page | 185 Rahmiyati et al. Perbedaan Health Belief Model Berdasarkan Gender A Volume 15. No. November 2024 Validasi isi skala dilakukan oleh dua orang ahli psikologi klinis. Adapun nilai reliabilitas skala adalah 0,758. Sehingga untuk pengujian deskriptif statistik dan uji perbedaan rata-rata akan menggunakan satu skor dari total skor semua dimensi HBM, sebagaimana yang dilakukan oleh Eo dan Kim . dalam menjelaskan deskripsi skor rata-rata dan deviasi standar dari HBM. Teknik analisis data pada penelitian dilakukan dengan program SPSS yaitu melalui uji independent t-test. Teknik ini dipilih untuk mengetahui perbedaan HBM berdasarkan gender pada mahasiswa kedokteran di PSPD ULM. Hasil Hasil analisis deskriptif pada Tabel 1 menampilkan perbandingan skor hipotetik dan skor empirik data penelitian. Berdasarkan data yang diperoleh dapat diketahui bahwa mean empirik laki-laki dan perempuan lebih tinggi dibandingkan mean hipotetik . ,96 > 50. 57,96 > . Oleh karena itu dapat diartikan bahwa subjek penelitian cenderung memiliki HBM dalam kategori yang tinggi, karena angka rata-rata yang diperoleh subjek penelitian di lapangan lebih tinggi daripada angka rata-rata secara teoritis. Adapun deviasi menunjukkan bahwa standar deviasi hipotetik lebih besar daripada standar deviasi empirik . ,67 > 5,103. 6,67 > 5,. Hal ini dapat diartikan bahwa skor subjek penelitian memiliki variasi yang rendah atau dapat dikatakan bahwa skor para subjek tidak jauh berbeda, cenderung mirip, atau seragam. Tabel 1 Perbandingan Skor Hipotetik dan Skor Empirik HBM Subjek Gender Laki-laki Perempuan X-min Skor Hipotetik X-max Mean 6,67 X-min Skor Empirik X-max Mean 55,96 57,96 5,103 5,574 Setelah mengetahui perbandingan hipotetik dan empirik, maka selanjutnya dilakukan penggolongan atau kategorisasi data. Kategorisasi subjek menggunakan norma skor hipotetik. Adapun hasil kategorisasi data dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Kategorisasi Subjek Variabel Rentang Nilai Kategori HBM X < 43,33 43,33 O X < 56,67 56,67 O X Rendah Sedang Tinggi Frekuensi Laki-laki Perempuan Persentase Laki-laki Perempuan 46,30% 42,10% 53,70% 57,90% Page | 186 Perbedaan Health Belief Model Berdasarkan Gender pada Mahasiswa Kedokteran Berdasarkan hasil kategorisasi, pada kelompok laki-laki terlihat bahwa tidak ada subjek yang memiliki HBM kategori rendah, 25 subjek . ,30%) memiliki HBM kategori sedang, dan 29 subjek . ,70%) memiliki HBM kategori tinggi. Adapun pada kelompok perempuan didapatkan hasil bahwa tidak ada subjek yang yang memiliki HBM kategori rendah, 24 subjek . ,10%) memiliki HBM kategori sedang, dan 33 subjek . ,90%) memiliki HBM kategori Pengujian hipotesis diawali dengan uji asumsi berupa uji normalitas dan homogenitas. Berdasarkan hasil Kolmogorov-Smirnov didapatkan hasil signifikansi lebih dari 0,05 dimana pada laki-laki sebesar 0,06 dan perempuan 0,08. Oleh karena itu disimpulkan bahwa kedua kelompok berdistribusi normal. Adapun nilai signifikansi homogenitas adalah 0,542 . > 0,. Hal ini menunjukkan varian kedua kelompok adalah sama atau homogen. Dengan demikian hasil uji hipotesis dapat dilihat pada Equal Variance Assumed yang menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok . = -1,970, p = 0,. dengan perbedaan rata-rata atau gain score antara laki-laki dan perempuan sebesar 2,002. Pembahasan Hasil pengujian hipotesis menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada HBM mahasiswa kedokteran antara gender laki-laki dan perempuan. Hasil ini sesuai dengan penelitian Hamasha et al. Zhang et al. , dan Davis et al. Hasil temuan ini tidak sejalan dengan penelitian Seftiana et al. Riskiafianti dan Rozali . Noviyanto dan Wijaya . , dan Saeidi et al. Tidak adanya perbedaan HBM yang signifikan pada penelitian ini dimungkinkan karena latar belakang pendidikan kelompok laki-laki dan perempuan yang menempuh perkuliahan di bidang kesehatan, yaitu pendidikan dokter. Pada mahasiswa akademisi kedokteran yang di masa depannya menjadi teladan kesehatan, maka proses pembelajaran akan berkaitan dengan pengetahuan kesehatan. Hal ini dimungkinkan menjadi penyebab HBM kedua kelompok tidak jauh berbeda. Sebagaimana yang terjadi pada penelitian Hamasha et al . ketika lebih dari 90% subjek memiliki pengetahuan tentang kebersihan mulut, maka didapatkan hasil bahwa tidak ada perbedaan gender yang signifikan mengenai health belief kebersihan mulut. Pengaruh latar belakang pendidikan dan menjalani proses perkuliahan yang sama terhadap HBM kedua kelompok juga diperkuat dari hasil kategorisasi data dan perbandingan mean hipotetik dan empirik subjek penelitian. Berdasarkan hasil tersebut dapat dilihat bahwa Page | 187 Rahmiyati et al. Perbedaan Health Belief Model Berdasarkan Gender A Volume 15. No. November 2024 proporsi kedua kelompok hampir sama, dimana urutan kategori subjek dari yang terbanyak secara berturut-turut adalah kategori tinggi, sedang, dan tidak ada yang berada di kategori Adapun dari hasil perbandingan mean hipotetik dan empirik dapat dikatakan bahwa kedua kelompok subjek penelitian memiliki kecenderungan HBM pada kategori tinggi karena angka rata-rata yang diperoleh di lapangan lebih tinggi daripada angka rata-rata secara teoritis. Hal ini menunjukkan bahwa kedua kelompok subjek penelitian memiliki HBM yang cukup Champion dan Skinner . mengatakan bahwa pengetahuan menjadi salah satu komponen yang memengaruhi HBM. Oleh karena itu, proses pembelajaran di perkuliahan yang dijalani subjek sebagai mahasiswa kedokteran telah mendukung terbentuknya HBM yang baik pada subjek penelitian. Sebagaimana pernyataan Yadav et al. bahwa mahasiswa kedokteran dikenal memiliki pengetahuan tentang gaya hidup sehat yang lebih baik dibanding mahasiswa bidang studi lainnya. Yousif et al. juga menambahkan bahwa mahasiswa kedokteran menyadari pentingnya gaya hidup sehat. Adapun mengenai masih adanya subjek yang berada di kategori sedang, maka hal ini dimungkinkan karena pengaruh lingkungan khususnya interaksi dengan senior. Berdasarkan hasil studi kualitatif Cresswell dan Monrouxe . ditemukan bahwa perilaku hidup bersih mahasiswa kedokteran dipengaruhi oleh perkataan dan perilaku yang terlihat dari senior. Seperti yang dikemukakan oleh Afifah et al. bahwa beban perkuliahan yang lebih tinggi pada mahasiswa kedokteran tahun kelima dapat menyebabkan pola makan sehat yang tidak Perilaku gaya hidup tidak sehat yang dicontohkan oleh sebagian senior, di samping ada senior lain yang memberikan contoh yang baik, dimungkinkan memengaruhi adanya subjek penelitian yang tidak sepenuhnya memiliki HBM yang tinggi atau dengan kata lain berada di kategori sedang. Sebagaimana yang dikemukakan Priyoto . bahwa adanya dorongan dalam lingkungan individu menjadi salah satu faktor esensial HBM. Meskipun tidak ada perbedaan yang signifikan, terdapat selisih rata-rata atau gain score yang dimiliki kedua kelompok penelitian, dimana rata-rata skor HBM pada kelompok laki-laki lebih kecil daripada rata-rata kelompok perempuan. Rata-rata skor HBM yang lebih tinggi pada kelompok perempuan menandakan bahwa perempuan cenderung memiliki keyakinan dan berpotensi menerapkan perilaku sehat yang lebih besar dibandingkan laki-laki. Pada taraf tertentu pria meyakini tentang pentingnya makan sehat, namun hal ini tidak sekuat keyakinan yang dimiliki perempuan (Wardle et al. , 2. Hasil penelitian Wardle dan tim peneliti menjelaskan bahwa sejak kecil perempuan cenderung ikut terlibat dalam persiapan makan keluarga sehingga bisa berlanjut mempersiapkan makan yang sehat ketika dewasa. Pengalaman di keluarga dapat memengaruhi perempuan untuk menjalankan gaya hidup sehat (Alidu & Page | 188 Perbedaan Health Belief Model Berdasarkan Gender pada Mahasiswa Kedokteran Grunfeld, 2. Lebih lanjut Alidu dan Grunfeld . juga mengemukakan bahwa pada laki-laki tidak secara sadar memikirkan kesehatan mereka dan hal ini berbeda dengan perempuan yang menganggap penting untuk menyeleksi dan merencanakan makanan yang akan dikonsumsi. Perempuan dilaporkan cenderung lebih sehat dan memiliki nutrisi yang seimbang (White et al. , dalam de Visser, 2. Ketika hasil penelitian ini memperlihatkan tidak ada perbedaan gender yang signifikan pada HBM, namun analisis lebih lanjut pada penelitian Hamasha et al. dan Zhang et e . menemukan bahwa perbedaan gender yang signifikan justru terlihat pada pengukuran perilaku tampak yang dilakukan oleh subjek. Penelitian Hamasha et al. menunjukkan adanya perbedaan gender yang signifikan pada perilaku kebersihan mulut. Terdapat perbedaan 12-45% antara individu yang memiliki keyakinan perilaku kebersihan mulut dengan individu yang sungguh-sungguh menerapkan perilaku tersebut. Adapun penelitian Zhang et al. menunjukkan adanya perbedaan gender yang signifikan pada perilaku merokok, konsumsi alkohol, kedelai, dan daging atau telur. Berdasarkan adanya perbedaan antara keyakinan dan perilaku tersebut maka dapat disimpulkan bahwa keyakinan kesehatan atau health belief bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi gaya hidup sehat. Terdapat faktor-faktor lainnya yang belum dipelajari dalam penelitian ini dan dapat menjadi pertimbangan bagi penelitian selanjutnya. Conner dan Norman . menyebutkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi individu berperilaku sehat adalah ketersediaan akses ke perawatan kesehatan, persepsi akan bahaya penyakit, pengetahuan tentang penyakit, karakteristik jaringan sosial, demografi, dan keyakinan tentang kualitas dan manfaat dari perilaku sehat. Selain itu, perbedaan gender yang signifikan baru terlihat pada analisis dimensi. Penelitian Zhang et al. menunjukkan terdapat perbedaan gender yang signifikan pada dimensi perceived seriousness, perceived barriers, dan perceived motivation yang berkaitan dengan health belief perilaku pencegahan osteoporosis. Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan hasil pengukuran antara keyakinan yang dimiliki . ealth belie. dan perilaku yang dilakukan individu serta terdapat perbedaan hasil antara analisis variabel . dan analisis dimensi . Oleh karena itu, pengukuran dengan berbagai pendekatan dan lebih spesifik dapat menjadi pertimbangan bagi penelitian selanjutnya untuk memperoleh gambaran yang lebih baik mengenai perbedaan gender sehingga mendukung intervensi yang lebih tepat. Ada atau tidak adanya perbedaan gender mengenai kesehatan merupakan hal yang Gender merupakan suatu sifat yang dijadikan acuan untuk membedakan laki-laki dan perempuan dari segi kondisi sosial budaya, nilai dan perilaku, dan kejiwaan, serta faktor-faktor Page | 189 Rahmiyati et al. Perbedaan Health Belief Model Berdasarkan Gender A Volume 15. No. November 2024 nonbiologis lainnya (Rokhmansyah, 2. Menurut Magar . dengan mengetahui perbedaan pengalaman antara laki-laki dan perempuan, gender dapat dipahami sebagai hal yang dinamis dan berlapis dengan beragam faktor sosial yang saling bersilangan dan kemudian berdampak pada kesehatan. Hyde . menambahkan melalui pandangan interseksionalitas yang menyatakan bahwa efek gender tidak pernah dapat dipahami secara terpisah dan harus selalu dikaji dalam konteks etnisitas dan identitas sosial lainnya. Berdasarkan hal tersebut, perubahan gaya hidup sehat pada laki-laki dan perempuan memerlukan pendekatan Glanz et al. mengungkapkan bahwa agar intervensi perubahan gaya hidup sehat berjalan efektif, harus ada rancangan strategi berdasarkan pemahaman tentang objek kesehatan, konteks budaya, dan karakteristik sosial. serta keyakinan, sikap, nilai, keterampilan, dan pengalaman masa lalu. Pada hasil penelitian ini terdapat beberapa kekurangan atau keterbatasan yang perlu Pertama, adanya kemungkinan pengaruh pengetahuan yang dimiliki subjek selaku mahasiswa kedokteran . rior knowledg. terhadap jawaban yang diberikan pada skala HBM. Kedua, sampel penelitian hanya berasal dari satu wilayah yaitu mahasiswa kedokteran PSPD ULM. Oleh karena itu perlu kehati-hatian untuk mengeneralisasikan hasil penelitian ini pada kelompok yang lebih luas seperti mahasiswa kedokteran di seluruh Indonesia atau pada populasi yang berbeda seperti mahasiswa ilmu sosial. Kesimpulan Penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan HBM berdasarkan gender pada mahasiswa kedokteran. Kedua kelompok secara bersamaan memiliki HBM yang cukup baik. Meskipun demikian, terdapat selisih yang tidak signifikan pada kedua kelompok, di mana perempuan cenderung memiliki keyakinan dan berpotensi menerapkan perilaku sehat yang lebih besar dibandingkan laki-laki. Nilai HBM yang cukup baik pada subjek penelitian diharapkan dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagi dengan tetap aktif memahami ilmu kedokteran yang didapat dalam proses perkuliahan dan bersifat selektif dalam mencontoh perilaku orang-orang di sekitar. Adapun harapan bagi institusi khususnya kampus kedokteran adalah adanya pemberian kebijakan yang dapat mendorong terbentuknya perilaku hidup sehat secara langsung dan tidak berfokus pada Page | 190 Perbedaan Health Belief Model Berdasarkan Gender pada Mahasiswa Kedokteran peningkatan pengetahuan atau intervensi. Selain itu, institusi dapat memberikan ketegasan tentang kewajiban setiap individu agar bisa menjadi teladan bagi sekitarnya. Beberapa kekurangan dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi peneliti selanjutnya. Peneliti dapat melakukan pengukuran HBM, tingkat pengetahuan, dan perilaku sehat yang sudah diterapkan secara bersamaan. Selain melakukan analisa pada variabel, peneliti dapat menambahkan analisa per dimensi. Selain itu, hasil penelitian yang tidak dapat digeneralisasikan secara luas di luar mahasiswa kedokteran PSPD ULM, maka diperlukan penelitian dengan jangkauan wilayah yang lebih besar untuk memperoleh gambaran perbedaan HBM berdasarkan gender pada populasi tersebut. Referensi